Prioritas: aa, Kualitas: c

Imam Ali al-Ridha as

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Imam Ridha As)
Lompat ke: navigasi, cari
Ali bin Musa al-Ridha as
Imam kedelapan Syiah
'
ضریح امام رضا.jpg

Makam Imam Ridha as
Lahir 11 Dzulkaidah 148 H
Tempat lahir Madinah
Imamah 20 tahun 83-203 H
Penguasa Kontemporer Makmun Abbasi
Waktu syahid Akhir Shafar 203 H di Thus
Tempat dimakamkan Masyhad Iran
Imam sebelumnya Imam Musa al-Kazhim as
Imam setelahnya Imam Jawad as
Ayah Imam Musa al-Kazhim as
Ibu Taktam (Ummul Banin)
Saudari Sayidah Fatimah Maksumah sa
Pasangan Sabikah • Ummu Habibah
Putra Muhammad • Ja'far • Abu Muhammad Hasan • Ibrahim
Putri Aisyah • Fatimah
Lakab Ridha • Shabir • Wafi • Radhi
Imam-Imam Syiah
Ali, al-Hasan, al-Husain, al-Sajjad, al-Baqir, al-Shadiq, al-Kazhim, al-Ridha, al-Jawad, al-Hadi, al-Askari, al-Mahdi

Abu al-Hasan, Ali bin Musa al-Ridha (Bahasa Arab:أبوالحسن علي بن موسى الرضا ) adalah Imam Kedelapan mazhab Syiah Dua Belas Imam (148-203 H). Gelar yang paling populer yang melekat pada dirinya adalah Ridha sehingga beliau lebih dikenal sebagai Imam Ridha. Julukannya adalah Abul Hasan. Tempat kelahirannya adalah kota Madinah kemudian dipanggil secara paksa oleh Makmun Abbasi ke Khurasan dan dijadikan sebagai wali ahd (baca: putra mahkota) atas desakan Makmun Abbasi. Imam Ridha As dalam perjalanannya menuju Khurasan dari kota Madinah menyampaikan hadis yang terkenal yaitu silsilah al-dzahab (mata rantai emas) di kota Naisyabur. Di samping itu, dalam lembar sejarah tercatat dan masyhur bahwa Makmun menyelenggarakan beberapa acara debat antara Imam Ridha As dan pembesar agama dan mazhab lainnya. Masa imamah Imam Ridha As berlangsung selama 20 tahun dan wafat di Thus. Makmun dinilai sebagai orang yang bertanggung jawab atas meninggalnya Imam Ridha As. Pusaranya terletak di Masyhad dan menjadi tempat ziarah jutaan kaum Muslimin dari pelbagai penjuru dunia.

Biografi

Nama lengkapnya Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kuniyahnya adalah Abu al-Hasan dan laqabnya yang populer adalah Ridha. Menurut sebagian riwayat, laqab Ridha diberikan oleh Ma’mun [1]namun riwayat dari Imam Jawad As disebutkan laqab tersebut diberikan Allah Swt kepada ayahnya. [2]Shabir, Radhi dan Wafa adalah laqabnya yang lain. [3]

Kelahiran dan Wafat

Diriwayatkan bahwa Imam Ridha as lahir pada hari Kamis atau Jumat, tepatnya Dzulhijjah atau Dzulkaidah atau Rabi' al-Awwal tahun 148 H atau 153 H. [4]Kulaini mengutip bahwa tahun kelahiran Imam Ridha As jatuh pada tahun 148 H. [5] Pendapat kebanyakan ulama dan sejarawan juga demikian. [6]Syahidnya diberitakan pada hari Jumat atau Senin akhir bulan Shafar yaitu 17, atau 21 Ramadhan atau 18 Jumadi al-Ula atau 23 Dzul Qaidah atau akhirnya pada tahun 202 atau 203 atau 206 H[7]Kulaini menyebutkan hari wafat Imam Ridha pada bulan Shafar tahun 203 H ketika menginjak usia 55 tahun. [8]Sesuai dengan pendapat kebanyakan ulama dan sejarawan tahun syahidnya Imam Ridha adalah pada tahun 203 H. [9]

Thabarsi mengutip bahwa hari wafat Imam Ridha As jatuh pada akhir bulan Shafar. [10] Terkait dengan usia Imam Ridha, mengingat terdapat perbedaan tahun kelahiran dan wafatnya, sehingga disebutkan usianya berjarak antara usia 47 sampai 57 tahun. [11]Sesuai dengan pendapat mayoritas ulama yang disebutkan terkait dengan hari kelahiran dan wafatnya, usia Imam Ridha As adalah 55 tahun.

Ibu

Ibu Imam Ridha As, adalah seorang budak wanita yang bernama Taktam. Nama ini disematkan padanya tatkala Imam Musa Kazhim As menjadi tuannya. [12] Tatkala Imam Ridha As lahir, Imam Musa Kazhim menamai Taktam dengan nama Thahirah. [13]

Syaikh Shaduq mencatat, "Sebagian orang meriwayatkan bahwa nama ibunda Imam Ridha As adalah Sakan Nubiyah demikian juga dinamai dengan Arwi, Najmah, Samanah. Julukannya adalah Ummul Banin." [14] Dalam riwayat disebutkan, "Ibunda (Imam Ridha As) adalah seorang budak saleha dan bertakwa bernama Najmah yang dibeli oleh Hamidah ibunda Imam Musa Kazhim dan menghadiahkannya kepada putranya (Imam Musa). Setelah kelahiran Imam Ridha, Najmah diberi nama sebagai Thahirah." [15]Disebutkan bahwa ibunda Imam Ridha merupakan warga kota Nubah. [16]

Istri-istri

Imam Ridha memiliki istri bernama Sabikah[17]yang disebut wanita yang memiliki keturunan dari Mariah istri Rasulullah Saw. [18]

Di samping Sabikah, dalam sebagian literatur sejarah, disebutkan beberapa istri lain Imam Ridha As. Makmun melamar Imam Ridha As untuk putrinya Ummu Habib dan Imam Ridha As menerima pinangan itu. Thabari menyebut pernikahan ini pada peristiwa-peristiwa tahun 202 H. [19]Disebutkan bahwa tujuan Makmun menikahkan putrinya dengan Imam Ridha As adalah untuk kian mendekat kepada Imam Ridha dan memiliki jalur ke rumahnya guna memperoleh informasi lebih jauh terkait dengan agenda-agenda Imam Ridha As. [20] Yafi'i menilai nama putri Makmun itu sebagai Ummu Habibah dan menikahkannya dengan Imam Ridha As. [21]Suyuthi juga mengutip pernikahan putri Makmun dengan Imam Ridha As tanpa menyebutkan nama putri Makmun itu. [22]

Anak-anak

Terdapat perbedaan pendapat terkait dengan jumlah dan nama anak-anak Imam Ridha As. Sebagian menulis bahwa Imam Ridha As memiliki lima putra dan seorang putri dengan nama-nama Muhammad Qani', Hasan, Ja'far, Ibrahim, Husain dan Aisyah. [23]Sibth bin Jauzi mengutip bahwa Imam Ridha As memiliki empat putra dengan nama-nama, Muhammad (Abu Ja'far Tsani), Ja'far, Abu Muhammad Hasan, Ibrahim, dan seorang putri tanpa menyebutkan nama putri ini. [24] Disebutkan bahwa seorang anak Imam Ridha yang berusia dua tahun atau kurang dari dua tahun dikuburkan di Qazwin yaitu Imam Zadeh Husain yang kini terdapat di kota Qazwin dan Imam Ridha As sendiri pernah mengunjungi kota ini pada tahun 193 H. [25]

Syaikh Mufid hanya mengakui Muhammad bin Ali sebagai anak dari Imam Ridha As. [26]Ibnu Syahr Asyub dan Thabarsi juga berpendapat yang sama. [27]Sebagian lainnya menyebutkan bahwa Imam Ridha As memiliki seorang putri bernama Fatimah. [28]

Sang Penjamin Rusa, karya Mahmud Farsyciyan

Imamah

Masa imamahnya paska ayahandanya berlangsung selama 20 tahun (183-203 H) yang bertepatan dengan masa khilafah Harun al-Rasyid, Muhammad Amin (3 tahun 25 hari), Ibrahim bin Mahdi yang lebih dikenal sebagai Ibnu Syiklah (14 hari), kemudian kembali Muhammad Amin (1 tahun dan 7 bulan), Makmun (20 tahun dimana 5 tahun akhir usia Imam Ridha [198 hingga 203 H] bertepatan dengan pemerintahan Makmun). [29] Sebagian orang yang mengutip hadis-hadis dari Imam Musa bin Ja'far As atas imamah putranya Ali bin Musa al-Ridha adalah: Daud bin Katsir al-Riqqi, Muhammad bin Ishaq bin Ammar, Ali bin Yaqthin, Na'im al-Qabusi, al-Husain bin al-Mukhtar, Ziyad bin Marwan, al-Makhzumi, Daud bin Sulaiman, Nashr bin Qabus, Daud bin Zarbi, Yazid bin Sillith dan Muhammad bin Sanan. [30]

Di samping banyak dalil riwayat, akseptablitas Imam Ridha As di kalangan Syiah dan keunggulan ilmu dan akhlaknya menetapkan bahwa imamah layak untuk disandang olehnya meski masalah imamah pada akhir-akhir hidup Imam Musa bin Ja'far cukup pelik dan sulit namun kebanyakan sahabat Imam Kazhim As menerima bahwa Imam Ridha As adalah pelanjut dan khalifah mereka yang ditunjuk dari sisi Imam Musa Kazhim As. [31]

Perjalanan ke Khurasan

Rute Perjalanan Imam Husain as dari Mekah ke Karbala (Arahkan cursor ke atas gambar untuk memperbesar)
Sarakhs
Naqra
Qariyatayn
Hawsija
Nabaj
Behbahan
Abarkuh
Istakhr
Dehsyir
Kharanaq
Robat-e Posht-e Badam
Damghan
Ahuwan
Semnan
Nain
Arak
Dezful
Kermanshah
Rute terkenal
Rute tidak terkenal
Informasi kurang valid
Qadamgah
(tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh Imam as)

Disebutkan bahwa hijrah Imam Ridha As dari Madinah ke Moro terjadi pada tahun 200 H. [32]Penulis buku Hayāt Fikri wa Siyāsi Imāmān Syiah berkata, "Imam Ridha hingga tahun 201 berada di Madinah dan pada bulan Ramadhan tahun tersebut tiba di Moro." [33]

Dalam Tārikh Ya'qubi tertulis bahwa Makmun membawa Imam Ridha As dari Madinah ke Khurasan. Orang yang ditugasi untuk mengantar Imam Ridha As dari Madinah ke Khurasan adalah Raja bin Abi Dhahak kerabat Fadhl bin Sahal. Mereka membawa Imam Ridha As melalui Bashrah hingga sampai di Moro. [34] Jalur yang dipilih oleh Makmun untuk ditempuh oleh Imam Ridha As sampai di Moro adalah jalur yang telah ditentukan supaya Imam Ridha tidak melewati perkampungan Syiah. Makmun menghindari hal itu terjadi sehingga ia menginstruksikan supaya Imam Ridha tidak dibawa melalui Kufah dan harus lewat Bashrah, Khuzistan, Fars hingga Naisyabur. [35]

Jalur yang dilalui oleh Imam Ridha As sesuai dengan buku Athlās Syiah adalah sebagai berikut: Madinah, Naqrah, Husjah, Nabbaj, Hafr Abu Musa, Basrah, Ahwaz, Bahbahan, Isthkhar, Abrquh, Dahsyir (Farasyah), Yazd, Kharaniq, Ribath Pusytbam, Naisyabur, Qadamgah, Dahsurkh, Thus, Sarkhus, Marw. [36] Syaikh Mufid berkata, "Makmun mengundang sekelompok orang dari keluarga Abu Thalib dari Madinah di antaranya adalah Imam Ridha As." Berbeda dengan Ya'qubi, ia menganggap bahwa utusan Makmun itu adalah Jaludi dan katanya ia membawa Imam Ridha ke hadapan Makmun melalui Basrah. Ia menempatkan mereka di sebuah rumah dan Imam Ridha As di tempat lain dengan penuh penghormatan dan takzim." [37]

Penyampaian Hadis Silsilah al-Dzahab

Peristiwa yang paling penting dan terdokumentasi paling baik dari jalur ini adalah penyampaian hadis makruf Silsilah al-Dzahab (Mata Rantai Emas) oleh Imam Ridha di kota Nasiyabur. [38]

Ishak bin Rahwiyah berkata, “Sewaktu Imam Ridha As dalam perjalanan ke Khurasan dan tiba di Naisyabur, para ahli hadis berkumpul dan berkata, “Wahai Putra Rasulullah anda datang ke kota kami dan anda tidak memanfaatkan itu dengan menjelaskan hadis kepada kami?” Mendengarkan permintaan itu, Imam Ridha As mengeluarkan kepalanya dari tenda dan mengatakan: Aku mendengar dari ayahku Musa bin Ja’far, dia berkata mendengar dari ayahnya, Ja’far bin Muhammad yang berkata mendengar dari ayahnya Muhammad bin Ali yang berkata mendengar dari ayahnya Ali bin al-Husain yang mendengar dari ayahnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As yang berkata mendengar dari Rasulullah Saw yang berkata mendengar dari Jibril As yang berkata, Allah Swt berfirman: Kalimat Laa ilaha illaLlah adalah pagar dan bentengku. Barang siapa yang masuk kedalamnya maka dia akan aman dari azab. Setelah itu Imam Ridha As berkata, “Tapi dengan syarat-syarat, dan aku adalah salah satu dari syarat-syarat itu.” [39]

Serambi Dar al-Hujjah Haram Radhawi

Wilāyah Ahd Makmun

Setelah Imam Ridha As berdiam di Moro, Makmun mengutus seseorang ke kediaman Imam Ridha As dan menyampaikan bahwa dirinya ingin lengser dari khilafah dan menyerahkan urusan khilafah ini kepada Imam Ridha. Imam Ridha As dimintai pendapat tentang hal ini. Imam dengan tegas menolak usulan Makmun. Setelah itu, Makmun meminta supaya wilāyah ahd ini diserahkan kepadanya usai diterima oleh Imam Ridha. Imam Ridha As tetap menolak dengan tegas. Di sini Makmun meminta Imam Ridha As untuk datang ke rumahnya. Imam Ridha As datang ke kediaman Makmun dimana tiada orang selain Makmun, Imam Ridha dan Fadhl bin Shal Dzu al-Riyāsatain (orang yang merangkap dua jabatan militer dan sipil). "Saya ingin menyerahkan urusan kaum Muslimin kepada Anda dan dan melepaskan diriku dari tanggung-jawab dengan menyerahkannya kepada Anda." Ujar Makmun. "Wahai Amiral Mukminin! Demi Allah! Demi Allah! Saya tidak kuasa memikul beban ini dan juga tidak memiliki kemampuan untuk hal itu." Jawab Imam Ridha As. "Saya akan serahkan urusan wilāyah ahd kepada Anda setelahku." Tawar Makmun lagi. "Maafkanlah saya dari urusan ini wahai Amiral Mukminin." Tegas Imam Ridha As. "Umar bin Khattab membuat syura beranggotakan enam orang untuk memilih khalifah. Di antara mereka terdapat datukmu, Amirul Mukminin, 'Ali bin Abi Thalib. Umar mensyaratkan bahwa siapa yang menentang keputusan syura harus dipenggal kepalanya. Jadi, tidak ada jalan lain kecuali menerima apa yang saya tawarkan kepada Anda." Ujar Makmun dengan nada mengancam. "Aku akan setuju dengan apa yang engkau tawarkan kepadaku, dengan syarat bahwa aku tidak memerintah, tidak memberikan komando, tidak membuat keputusan-keputusan hukum, tidak menjadi hakim, tidak menunjuk, tidak memecat, tidak mengganti apa yang kini sudah ada." Pungkas Imam Ridha As. Makmun menerima semua syarat yang diajukan oleh Imam Ridha As. [40]

Dengan demikian, Makmun pada hari Senin, 7 Ramadhan 201 H memberikan baiat kepada putra makhota setelahnya dan memakaikan pakaian hijau kepada masyarakat sebagai ganti pakaian hitam (pakaian yang dikenakan oleh Abu Muslim Khurasani dan pengikutnya yang boleh jadi mengikuti bendera Rasulullah Saw atau sebagai tanda duka cita para syahid Ahlulbait Rasulullah Saw). Makmun menuliskan instruksi ini di seluruh penjuru kota dan meminta warga masyarakat untuk berbaiat kepada Imam Ridha As serta membacakan namanya di mimbar-mimbar khutbah. Di samping itu, Makmun mencetak koin Dinar dan Dirham dengan nama Imam Ridha As. Seluruh masyarakat mengikuti titah ini kecuali seseorang yang enggan mengenakan pakaian hijau yaitu Ismail bin Ja'far bin Sulaiman bin Ali Hasyimi. [41]

Penyelenggaraan Majelis Debat

Setelah membawa Imam Ridha ke Moro, Makmun mengadakan beberapa pertemuan ilmiah dengan menghadirkan ulama dari beberapa mazhab dan agama. Dalam beberapa pertemuan ini, berlangsung perdebatan antara Imam Ridha As dan ulama lainnya yang secara umum berkisar tentang masalah-masalah ideologi dan fikih. Sebagian dari debat ini disebutkan oleh Thabarsi dalam Ihtijāj. [42] Sebagian dari debat (atau ihtijajāj) adalah: [43]

  • Debat tentang masalah Tauhid dan Keadilan
  • Debat tentang masalah Imamah
  • Debat dengan Marwazi
  • Debat dengan Abi Qurah
  • Debat dengan Ahlulkitab (Jatsliq)
  • Debat dengan Ahlulkitab (Ra's al-Jalut)
  • Debat dengan Zoroaster
  • Debat dengan pimpinan Shabaiyyah

Makmun dengan menyeret Imam Ridha As dalam acara debat bermaksud ingin menghilangkan anggapan dan gambaran masyarakat tentang para imam Ahlulbait sebagai pemilik ilmu khusus misalnya (ilmu ladunni). Syaikh Shaduq dalam hal ini menulis, "Makmun mendudukan ulama level atas dari setiap firkah yang ada untuk berhadap-hadapan (berdebat) dengan Imam Ridha As sehingga dengan demikian ia dapat membuat pamor Imam Ridha As jatuh dengan perantara ulama tersebut. Hal ini dilakukan Makmun karena sifat hasud terhadap imam, kedudukan ilmu dan sosial imam di tengah masyarakat. Namun tiada satu pun dari ulama yang mampu menandingi imam kecuali mengakui keutamaan dan argumen yang disuguhkan Imam Ridha As yang membuat mereka tertegun dan menerimanya." [44] Buntut dari acara debat ini memunculkan banyak persoalan bagi Makmun. Tatkala ia mengetahui akibat buruk dari pengadaan acaara-acara seperti ini maka ia segera mengambil langkah membatasi gerak Imam Ridha As. Diriwayatkan dari Abdus Salam Harawi bahwa ia mengabarkan kepada Makmun, "Imam Ridha As mengadakan pelajaran-pelajaran teologis sehingga membuat orang-orang menjadi kagum kepadanya." Makmun menugaskan Muhammad bin Amru Thusi untuk menghalau masyarakat supaya tidak menghadiri majelis tersebut. Kemudian Imam mengutuk Makmun atas perbuatan ini[45]

Serambi Dar al-Hujjah Haram Radhawi

Salat Id

Imam Ridha As
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah akan seluruh nikmat-Nya yang telah dicurahkan atas kalian. Janganlah kalian menyingkirkan kenikmatan itu dari diri kalian dengan bermaksiat kepada-Nya. Ketahuilah! Setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan pengakuan atas hak-hak para wali Allah dari keluarga Muhammad saw., sesungguhnya kalian semua belum bersyukur kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai daripada menolong saudara-saudaramu seiman dalam urusan dunia mereka. Semua ini adalah jembatan bagi kalian untuk menuju surga-surga Tuhan mereka. Sesungguhnya orang yang telah melakukan demikian termasuk hamba-hamba Allah yang istimewa"
Al-Durr Al-Nazhim, hlm. 215.

Usai dibaiat sebagai calon pengganti khalifah (pada 7 Ramadhan 201). Setelah beberapa hari, tibalah hari pertama dari bulan Syawal, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Satu hari sebelumnya, Makmun meminta Imam Ridha As untuk menjadi imam shalat Id. Namun Imam Ridha As berdasarkan syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya menolak untuk menjadi imam salat Id. Makmun mendesak dan Imam Ridha As mau tak mau menerima dan berkata, "Kalau begitu saya akan menunaikan salat (Id) sebagaimana Rasulullah Saw." Orang-orang menantikan keluarnya Imam Ridha As laksana menantikan para khalifah dengan adab dan perayaan tertentu namun tercengang melihat berjalan dengan kaki telanjang sembari berkata takbir. Para pemimpin lasykar yang mengenakan pakaian resmi dan biasanya perayaan berlaku seperti ini, dengan melihat kondisi yang ada, turun dari kuda-kuda mereka dan melepaskan sepatu-sepatunya mengikuti imam sambil menangis dan membaca takbir. Setiap langkah yang diayunkan oleh Imam Ridha diiringi dengan tiga kali ucapan takbir. Disebutkan bahwa Fadhl berkata kepada Makmun, "Apabila Imam Ridha seperti ini sampai di tempat salat, maka orang-orang akan semakin banyak berkerumun dan mengaguminya. Lebih baik Anda memintanya untuk kembali." Makmun segera mengutus seseorang dan meminta Imam Ridha As untuk kembali. Lalu Imam Ridha As meminta sepatunya kemudian memasangnya lalu menaiki kendaraan dan kembali. [46]

Kesyahidan

Haram Imam Ridha As

Mengenai proses kesyahidan Imam Ridha As, terdapat sejumlah periwayatan yang berbeda dari sumber-sumber yang berbeda.

  • Sebagaimana yang disebutkan dalam Tarikh Ya'qubi, Makmun pada tahun 202 H bertolak ke Irak melalui Moro. Bersamanya ikut wali ahd-nya Imam Ridha As dan perdana menteri Fadhl bin Sahl Dzu al-Riyasatain. [47]Tatkala tiba di Thus, Imam Ridha As wafat di sebuah desa yang bernama Nuqan pada awal tahun 203 H. Penyakit yang dideritanya hanya berlangsung tiga hari akibat dari racun dari buah delima yang diberikan oleh Ali bin Hisyam. Makmun menunjukkan perasaan berduka atas kepergian Imam Ridha As. Ya'qubi melanjutkan, "Diberitakan Abu al-Hasan bin Abi Ibad dan berkata, "Saya melihat Makmun mengenakan jubah putih dan berjalan kaki dan berkata, 'Wahai Abal Hasan! Setelahmu siapa yang saya harus andalkan?'" Makmun tinggal selama tiga hari berada di samping kuburan Imam Ridha As dan setiap harinya orang-orang membawakan sepotong roti dan sedikit garam untuknya. Makanannya hanyalah itu. Kemudian pada hari keempat ia kembali." [48]
  • Syaikh Mufid menukil dari Abdullah bin Basyir bahwa Makmun menugaskan dirinya untuk tidak memotong kuku sehingga lebih panjang dari ukuran rata-rata orang kemudian ia diberikan sesuatu serupa asam India sehingga tercampur bak adonan di tangannya. Kemudian Makmun pergi ke hadapan Imam Ridha As dan memanggil Abdullah lalu memintanya untuk mengambilkan air delima dengan tangannya lalu disajikan untuk Imam Ridha As. Dan hal inilah yang menjadi penyebab wafatnya Imam Ridha As setelah dua hari berselang. [49]
  • Syaikh Shaduq mengutip sebuah riwayat yang kandungannya sama dengan riwayat di atas namun yang disebutkan adalah racun pada anggur dan pada sebagian lainnya disebutkan pada anggur dan juga pada delima. [50]Ja'far Murtadha Husaini menyebutkan enam pendapat terkait dengan penyebab wafatnya Imam Ridha As. [51]
  • Ibnu Hibban salah seorang ahli hadis dan rijal abad keempat Hijriah, di bawah nama Ali bin Musa al-Ridha, menulis, "Ali bin Musa al-Ridha wafat lantaran racun yang diberikan Makmun. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu tahun 203 H." [52]

Salah satu sebab mengapa Makmun memutuskan untuk membunuh Imam Ridha As disebutkan karena kemenangan Imam Ridha As atas berbagai ulama dalam pelbagai majelis debat. [53]Sebab lainnya disebutkan karena kepergian Imam Ridha As untuk menjadi imam pada salat Id. Karena sambutan hangat kerumunan orang banyak atas kedatangan Imam Ridha pada acara pelaksanaan salat Id sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Makmun merasakan adanya bahaya atas peristiwa ini dan kemudian ia berpikir bahwa keberadaan Imam Ridha As tidak hanya menyembuhkan lukanya bahkan semakin menyudutkan dan menyulitkan Makmun karena dapat memprovokasi masyarakat untuk melawannya. Karena itu ia memasang mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik Imam Ridha As jangan sampai menyusun agenda untuk melawan Makmun. [54]

Imam Ridha As sama sekali tidak takut kepada Makmun dan acapkali jawaban-jawaban yang diberikan Imam Ridha As membuat Makmun gundah dan sedih. Kondisi ini telah membuat Makmun murka dan semakin besar kusumatnya kepada Imam Ridha meski tidak ditampakkan. [55]Diriwayatkan bahwa Makmun bergembira pada salah satu penaklukan militer, Imam Ridha As berkata kepadanya, "Wahai Amiral Mukminin! Takutlah kepada Allah akan umat Muhamad Saw dan apa yang diamanahkan Allah Swt kepadamu. Engkau telah menyia-nyiakan urusan kaum Muslimin..." [56]

Makam Imam Ridha As

Setelah syahidnya Imam Ridha As, Makmun mengebumikannya di rumah Hamid bin Qahthabah Thai (Buq'ah Haruniyah) di desa Sanabad. [57]Dewasa ini desa itu menjadi Haram Radhawi di Iran dan tepatnya di kota Masyhad Muqaddas yang setiap tahunnya dikunjungi banyak peziarah dari berbagai negara. [58]

Sirah Imam Ridha As

Ibadah

Dikisahkan, suatu ketika Imam Ali Ridha As sedang melakukan dialog ilmiah dengan para pemuka agama dan ulama dari berbagai madzhab. Terdengarlah suara azan tanda masuk waktu salat. Saat itu juga Ia segera meninggalkan tempat. Yang lainnya berusaha mencegahnya supaya menunda salatnya dan melanjutkan dialog terlebih dahulu. Imam Ali Ridha As menjawab, “Aku salat dulu, nanti aku akan kembali.” [59] Ada pula kisah menarik mengenai ibadah malam beliau. [60] Dikisahkan, ketika Imam Ali Ridha As menghadiahkan bajunya kepada Di’bil bin al-Kuza’i, Ia berpesan, “Jagalah baju ini, aku telah memakainya untuk ibadah seribu malam. Permalamnya aku salat seribu rakaat. Aku juga telah mengkhatamkan Al-Qur’an seribu kali dengan memakai baju ini.” [61]Disebutkan pula, Imam Ali Ridha As senang melakukan sujud berlama-lama. [62]

Akhlak

Banyak riwayat yang menyebutkan tentang bagaimana prilaku dan akhlak Imam Ali Ridha As di masyarakat. Ia selalu bersikap lembut dan akrab dengan para budak dan kalangan bawah. Bahkan setelah menjadi Putra Mahkota, [63]Ia tetap tidak berubah. Ibnu Syahr Asyub meriwayatkan, suatu hari Imam Ali Ridha As pergi ke pemandian umum. Di sana ada seseorang yang tidak mengenalnya. Orang tersebut meminta Imam untuk membersihkan dan memijat badannya. Ia menuruti permintaannya. Melihat hal itu, orang-orang yang mengenal Imam segera memberitahu pada orang tadi tentang siapa yang sedang memijatnya. Ia mengetahuinya, orang tersebut sangat merasa malu dan memohon maaf pada Imam. Namun ternyata Imam malah menenangkannya dan melanjutkan yang sedang dilakukannya tadi. [64]

Pendidikan

Salah satu yang sangat ditekankan dalam ajaran Imam Ali Ridha As adalah hal mendidik anak dalam keluarga. Di antara pesan yang Ia sampaikan pada umatnya adalah supaya menikah dengan pasangan yang saleh atau salehah, [65]menaruh perhatian serius selama masa kehamilan, [66]memberikan nama yang baik pada anak, [67]menyayangi dan memuliakan anak kecil, [68] dan lain sebagainya. Disebutkan, Imam Ali Ridha As selalu berusaha menjalin keakraban dengan sanak saudara dan orang-orang di sekitarnya. Tiap kali memiliki waktu luang, Ia selalu mengumpulkan para saudara dan orang-rang sekitarnya, baik yang tua maupun muda untuk mengobrol dan bercengkrama. [69]

Ilmu

Ketika berada di Madinah, tidak jarang para ulama bertanya pada Imam Ali Ridha As tentang persoalan yang tidak mereka ketahui jawabannya. [70]Saat sedang di Kota Moro Ia juga banyak didatangi orang untuk melakukan dialog menyangkut berbagai tema sehingga banyak persoalan dapat terjawab dan terselesaikan. Selain itu, di rumah dan di Masjid Moro Ia membuka majelis ilmu. Namun begitu majlis tersebut makin berkembang, Makmun memerintahkan supaya majelis itu ditutup. [71]

Medis Imam Ridha As

Banyak riwayat dari Imam Ali Ridha As yang menerangkan tentang pentingnya masalah kesehatan dan kedokteran. Imam banyak menjelaskan hal-hal terkait makanan sehat, kebersihan, kesehatan, pencegahan dan pengobatan penyakit. Kitab yang berjudul Tibbu al-Ridha (terkenal dengan nama Risalah Dzahabiah) adalah kitab yang diambil dari ajaran Imam Ali Ridha As. Di dalamnya termuat pesan-pesan Imam terkait masalah medis.

Imam Tidak Bertaqiyyah dalam Persoalan Imamah

Selama menjadi imam, Imam Ali Ridha As sedapat mungkin tidak mempraktikkan konsep taqiyyah, khususnya menyangkut masalah imamah. Sebab waktu itu terjadi peristiwa-peristiwa yang mengancam keutuhan akidah imamiah, di antaranya adalah peristiwa yang menyangkut gerakan Waqifah. Terlebih, sisa-sisa pengikut kelompok Fathahiah masih terlihat aktif. Ia justru makin banyak menyampaikan hal-hal yang menyangkut imamah. Misal, dalam pembahasan tentang wajibnya ketaatan pada imam. Sebenarnya hal itu telah dipaparkan sejak masa Imam Ja’far Shadiq As, namun para imam menyampaikannya dengan cara taqiyyah. Sedangkan Imam Ali Ridha As, secara gamblang dan tanpa khawatir sedikitpun, menyampaikan bahwa ia adalah imam yang harus ditaati. [72]

Dengan sikapnya itu, kepada para pengikutnya Imam ingin menyampaikan, “Bertakwalah dengan baik, jangan menyampaikan perkataan dan ajaran kami kepada sembarang orang.” [73]Suatu ketika Makmun mengirim surat kepada Imam Ali Ridha As. Isinya, dia meminta pada imam supaya menjelaskan apa saja pokok-pokok Islam yang asli. Dalam jawabannya Imam menulis, pokok-pokok Islam yang asli adalah: Tauhid, kenabian Nabi Muhammad Saw, imamah Imam Ali As sebagai penerus dan penjaga risalah Nabi saw dan sebelas imam setelahnya. Dalam penjelasannya itu Ia menggunakan istilah “ القائم بامر المسلمین ” (orang yang memegang tanggung jawab urusan kaum muslimin). [74]

Karya-karya Yang Disandarkan kepada Imam Ridha As

Kitab Uyun Akhbar al-Ridha As

Sebagian penulis selain mengutip hadis-hadis dan riwayat-riwayat dari Imam Ridha As atau jawaban yang diterima oleh orang-orang yang merujuk pada Imam Ridha As untuk memahami persoalan-persoalan kelimuan dan ajaran Islam (misalnya buku 'Uyūn Akhbār al-Ridhā yang banyak mengutip masalah-masalah seperti ini), juga menyebutkan beberapa karya yang validitas penyandaran ini memerlukan dalil-dalil yang memadai dan penyandaran-penyandaran sebagian dari karya-karya itu kepada Imam Ridha As belum dapat dibuktikan. Di antara karya itu dalah buku al-Fiqh al-Radhawi namun sejumlah periset dari kalangan ulama menolak bahwa buku ini ditulis oleh Imam Ridha As. [75]

Karya lainnya yang disandarkan kepada Imam Ridha As adalah Risalah Dzahabiyyah dalam masalah kedokteran. Disebutkan bahwa Imam Ridha As mengirimkan risalah ini kurang lebih pada tahun 201 H untuk Makmun dan Makmun untuk menunjukkan betapa pentingnya resep-resep itu ia menulisnya dengan tinta emas dan kemudian disimpan di perpustakaan Darul Hikmah sehingga dengan demikian risalah tersebut dinamai sebagai Risalah Dzahabiyah. Banyak ulama yang telah menulis syarah dan memberikan ulasan atas buku ini. [76] Karya lainnya yang disandarkan kepada Imam Ridha As adalah buku Shahifah al-Ridha dalam masalah Fikih yang belum lagi dapat dibuktikan penyandarannya menurut ulama. [77]Buku lainnya yang disandarkan kepada Imam Ridah As adalah Mahdh al-Islām wa Syarā'i al-Din namun nampaknya tidak dapat diyakini bahwa buku ini adalah karya Imam Ridha As. [78]

Para Sahabat

Sebagian penulis menyebutkan bahwa terdapat 367 orang dalam senarai sahabat dan perawi hadis Imam Ridha As. [79] Sebagian sahabat Imam Ridha As adalah sebagai berikut:

  • Yunus bin Abdurrahman
  • Muwaffaq (pelayan Imam Ridha)
  • Ali bin Mahziyar
  • Shafwan bin Yahya
  • Muhammad bin Sanan
  • Zakariyah bin Adam
  • Rayyan bin Shalt
  • Da'bal bin Ali

Tuturan Pembesar Sunni Ihwal Imam Ridha As

Dar al-Huffazh, Haram Radhawi

Ibnu Hajar: "Ridha memiliki keturunan mulia dan merupakan seorang ahli ilmu dan keutamaan." [80] Disebutkan Abu Bakar bin Khazimah (Imam Ahli Hadis) dan Abu Ali Tsaqafi beserta ulama besar Ahlusunnah lainnya pernah menziarahi makam Imam Ridha As. Perawi menyampaikannya kepada Ibnu Hajar dengan mengatakan, “Abu Bakar bin Khazimah sangat memuliakan makam tersebut (makam Imam Ridha As) dengan menujukkan sikap rendah hati dan ia mengeluh di sisi makam, yang membuat kami bingung.” [81]

Yafi'i: "Imam Ridha dipandang besar dan berasal keturunan pembesar nan mulia. Abul Hasan Ali bin Musa al-Kazhim in Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainul Abidin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang imam dari dua belas imam. Ia banyak memiliki keutamaan dan para pengikut mazhab Imamiyah disandarkan kepadanya." [82]

Ibnu Hibban menulis: "Kuburannya (kuburan Imam Ridha As) di Sanabad di luar Nuqan di samping kuburan Harun Rasyid menjadi tempat ziarah dan saya berulang kali telah berziarah ke kuburannya. Ketika saya di Thus dan setiap kali menghadapi persoalan saya berziarah ke pusara Ali bin Musa al-Ridha dan memohon kepada Allah Swt supaya menghilangkan persoalan itu untukku maka Allah Swt mengabulkan doaku dan persoalan yang saya hadapi selesai. Hal ini berulang kali telah saya alami. Semoga Allah Swt mematikan kita dengan kecintaan kepada Mustafa dan Ahlulbaitnya As." [83]

Ibnu Najjar Baghdadi berkata, "Ia memiliki kedudukan dalam bidang ilmu dan agama sehingga pada usia dua puluhan tahun memberikan fatwa di masjid Rasulullah Saw." [84]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Mufid, al-Irsyād (1413 H), jld. 2, hlm. 261; Manāqib Ibnu Syahr Asyub, jld. 4, hlm. 363.
  2. Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridhā (1378 H), jld. 1, hlm. 13.
  3. Al-Amin, al-Sayid Muhsin, A’yān al-Syiah, jld. 2, Beirut: Dar al-Ta’āruf al-Mathbu’āt, 1418 H – 1998 M, hlm. 545.
  4. Fadhlullah, 1377 S, hlm. 43.
  5. Al-Kulaini, 1363 S, hlm. 486.
  6. Al-'Amili, hlm. 168, 1430 H.
  7. Fadhlullah, hlm. 43, 1377 S.
  8. Al-Kulaini, jld. 1, hlm. 486, 1363 S.
  9. Al-'Amili, hlm. 169, 1430 H.
  10. Al-Thabarsi, hlm. 41, 1417 H.
  11. Silahkan lihat, al-Qarasyi, jld. 2, hlm. 503-504.
  12. Shaduq, jld. 1, 1373 S, hlm. 26.
  13. Shaduq, jld. 1, 1373 S, hlm. 27.
  14. Shaduq, jld. 1, 1373 S, hlm. 27.
  15. Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridha, jld. 2, hlm. 24.
  16. Ja’fariyan, 1381 S, hlm. 425.
  17. Al-Thabarsi, hlm. 91, 1417 H.
  18. Al-Kulaini, Al-Kafi, Editor Muhammad Akhundi, jld. 1, hlm. 492, tanpa tahun.
  19. Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, al-Tārikh, jld. 7, hlm. 149, Muassasah Al-A'lami lil Mathbu'at, Beirut, Tanpa Tahun (Software Maktabah Ahlulbait, Edisi 2).
  20. Al-Qarasyi, jld. 2, hlm. 408, 1429 H.
  21. Yafi'i, jld. 2, hlm. 10, 1417 H.
  22. Al-Suyuthi, hlm. 307, Tanpa Tahun.
  23. Fadhlullah, Muhammad Jawad, Op cit, hlm. 44.
  24. Al-Jauzi, hlm. 123, tanpa tahun.
  25. Ja'fariyan, hlm. 426, 1381 S.
  26. Al-Mufid, Op cit, hlm. 464.
  27. Fadhlullah, Muhammad Jawad, Op cit, hlm. 44.
  28. Qummi, 1725-1726, 1379 S.
  29. Al-Thabarsi, jld. 2, hlm. 41-42, 1417 H.
  30. Al-Mufid, hlm. 448.
  31. Ja’fariyan, 1381 S, hlm. 427.
  32. ‘Irfan Manesy, 1374 S, hlm. 18.
  33. Ja’fariyan, 1381 S, hlm. 426.
  34. Ya'qubi, jld. 2, hlm. 465, 1378 S.
  35. Ya'qubi, jld. 2, hlm. 465, 1378 S.
  36. Ja'fariyan, hlm. 95, 1387 S.
  37. Al-Mufid, Op cit, hlm. 455.
  38. Fadhlullah, hlm. 133, 1377 S.
  39. Shaduq, Tsawāb al-A’māl wa ‘Iqāb al-A’māl, hlm. 21-22.
  40. Al-Mufid, Op cit, hlm. 455-456,
  41. Ya’qubi, Op cit, hlm. 465.
  42. Ja'fariyan, hlm. 442, 1381 S.
  43. Silakan lihat: al-Tabarsi, jld. 2, 1403 H, hlm. 396 dst.
  44. 'Uyūn Akhbār al-Ridhā, jld. 1, hlm. 152, sesuai nukilan dari Ja'fariyan, hlm. 442.
  45. Ja'fariyan, hlm. 442, 1381 S.
  46. Ja'fariyan, hlm. 443-444, 1381 S.
  47. Ya'qubi, Op cit, hlm. 469.
  48. Ibid, hlm. 471.
  49. Al-Mufid, Op cit, hlm. 464.
  50. Silahkan lihat, Shaduq, jld. 2, hlm-hlm. 592-602.
  51. Silahkan lihat, Husaini, Ja'far Murtadha, hlm-hlm. 202-212.
  52. Ibnu Hibban, jld. 8, hlm. 456-457, 1402 H; Ja'fariyan, hlm. 460, 1376 S.
  53. Ja'fariyan, hlm. 443, 1376 S.
  54. Ibid, hlm. 444.
  55. Ibid, hlm. 444-445.
  56. Al-'Athardi, hlm. 84-85, 1413 H.
  57. Al-Mufid, ibid, hlm. 464.
  58. Dakhil, 1469 H, hlm. 76-77.
  59. Syaikh Shaduq, al-Tauhid, hlm. 435.
  60. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridhā As, jld. 2, hlm. 184.
  61. Rijāl al-Najāsyi, hlm. 277.
  62. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridhā As, jld. 2, hlm. 17.
  63. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridhā As, jld. 2, hlm. 159.
  64. Ibnu Syahr Asyub, al-Manāqib, jld. 4, hlm. 362.
  65. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 327.
  66. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 23.
  67. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 19.
  68. Nuri Tabarsi, Mustadrak al-Wasāil, jld. 3, hlm. 67.
  69. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-RIdha, jld. 2, hlm. 159.
  70. Tabarsi, A’lām al-Wara…, jld. 2, hlm. 64.
  71. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-RIdha, jld. 2, hlm. 172-173.
  72. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 487.
  73. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 224.
  74. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridha, jld. 2, hlm. 122.
  75. Fadhlulllah, 1377 S, hlm. 187.
  76. Fadhlulllah, 1377 S, hlm. 191-196.
  77. Fadhlulllah, 1377 S, hlm. 196.
  78. Fadhlulllah, 1377 S, hlm. 197-198.
  79. Silahkan lihat, al-Qarasyi, 1429 H/2008 M.
  80. 'Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 7, hlm. 389.
  81. 'Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 7, hlm. 388.
  82. Yafi'i, jld. 2, hlm. 10, 1417 H.
  83. Ibnu Hibban, jld. 8, hlm. 457, 1402 H.
  84. Ibnu Najjar, terkait dengan Tārikh Baghdād, jld. 4, hlm. 135.


Daftar Pustaka

  • Ibnu Habban, Al-Tsiqāt, jld. 8, Matbha'at Majlis Dairah al-Ma'arif al-Utsmaniyah bi Haidar Abad, India, 1402 H.
  • Al-Suyuthi, Jalaluddin, Tārikh al-Khulafā, Riset oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, tanpa tempat, tanpa tahun.
  • Al-'Amili, al-Sayid Ja'far Murtadha, al-Hayāt al-Siyāsiyah lil Imām al-Ridhā As: Dirāsah wa Tahlil, Al-Markaz al-Islamiyah lid Dirasah, Beirut, 1430 H.
  • Al-Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man, al-Irsyād fi Ma'rifat Hujajilllah 'ala al-'Ibād, Qum, 1428 H.
  • Dāirah al-Ma'ārif Tasyayyu', jld. 1, Bunyad Islami, Tehran, 1366 S.
  • Dakhil, Ali Muhammad Ali, Aimmatuna: Sirah al-Aimmah al-Itsnā 'Asyar, jld. 2, Muassasah Dar al-Kitab al-Islami, 1429 H/2008 M.
  • 'Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 7, Dar Shadir, Beirut.
  • 'Uyūn Akhbār al-Ridhā As, Terjemahan Ali Akbar Ghaffari, jld. 2, Nasyr Shaduq, Tehran, 1373 S.
  • Al-Thabarsi, al-Fadhl bin Hasan, I'lām al-Warā bi A'lām al-Hudā, jld, 2, Muassasah Alu al-Bait li Ihya al-Turats, Qum, 1417 H.
  • Al-Thabarsi, Abi Manshur Ahmad bin Ali bin Abi Thalib, al-Ihtijāj, Annotasi oleh Al-Sayid Muhammad Baqir al-Musawi al-Khurasan, Sa'id, Masyhad, 1403 H.
  • Fadhlullah, Muhammad Jawad, Tahlili az Zendagāni Imām Ridhā As, Terjemahan Muhammad Shadiq Arif, Bunyad Pazyuhesy-ha Islami, Mashyad, 1377 S.
  • Husaini, Ja'far Murtadha, Zendegi Siyāsi Hasytumin Imām, Terjemahan Sayid Khalil Khaliliyan, Daftar Nasyr Farhang Islami, Tehran, 1381 S.
  • Rasul Ja'fariyan, Athlas Syi'ah, Sāzemān Jegrofiyah Niru-hā Musallah, Tehran, 1387 S.
  • Rasul Ja'fariyan, Hayāt Fikri wa Siyāsi Imāmān Syiah Alaihim al-Salām, Ansariyan, Qum, 1381 S.
  • Al-Jauzi, Yusuf bin Abdullah, Tadzkirah al-Khawwāsh min al-Ummah fi Dzikr Khasāish al-Aimmah, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, Qum, tanpa tahun.
  • Dekhada, Ali Akbar, Lughat Nāme Dekhādā, jld. 8, cetakan 10, Danesygah Tehran, Tehran, 1377 S.
  • Al-Qarasyi, Baqir Syarif, Hayāt al-Imām Ali bin Musā al-Ridhā: Dirasah wa Tahlil, jld. 2, Mehr Deldar, 1429 H/2008 M.
  • Irfan Manesy, Jalil, Jugrafiyah Tārikhi Hijrat Imām Ridhā Alaihi al-Salām az Madinah tā Moro, Astan Quds Radhawi, Bunyad Pazyuhesy Islami, Masyhad, 1374 S.
  • Al-'Atharidi, Musnad al-Imām al-Ridhā, jld. 1, Dar al-Shafwah, Beirut, 1413 H/1993 M.
  • Qummi, Syaikh Abbas, Muntaha al-Āmāl, Riset oleh Nasir Baqiri Bidhindi, Dalil, Qum, 1379 S.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kāfi, jld. 1, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, cetakan kelima, 1363 S.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kāfi, jld. 1, Editor Muhammad Akhundi dan Ali Akbar Ghaffari,, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, tanpa tahun.
  • Muthahhari, Murtadha, Majmu'ah Ātsār, jld. 18, Shadra, Tehran:Qum, 1381 S.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub, Tārikh Ya'qubi, jld. 2, terjemahan Muhammad Ibrahim Ayati, Ilmi wa Farhanggi, Tehran, 1378 S.
  • Yafi'i, Abdullah bin As'ad, Mir'ah al-Jinān wa 'Ibrah al-Yaqdhān fi Ma'rifat ma Yu'tabar min Hawādits al-Zamān, jld. 2, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Beirut, 1417 H.

Pranala Luar

Didahului oleh:
Imam Musa al-Kazhim as
Imam kedelepan Syiah Imamiyah
183 H-203 H
Diteruskan oleh:
Imam Muhammad al-Jawad as