Lompat ke isi

Konsep:Syajarah Thayyibah

Dari wikishia
Karpet permadani Syajarah Thayyibah yang dihiasi dengan Ayat Tathir, Ayat Tabligh, dan Ayat Ikmal yang disimpan di Museum Astan Quds Razawi.

Syajarah Thayyibah (Pohon yang Baik) adalah pohon yang suci dan penuh berkah di mana Kalimah Thayyibah (kalimat yang baik) diumpamakan kepadanya dalam ayat 24 dan 25 Surah Ibrahim. Syajarah Thayyibah digambarkan memiliki beberapa ciri, antara lain: tumbuh dan berkembang, kokoh, berbuah, dan suci. Dalam kitab-kitab tafsir, jawami' al-riwayah, dan buku-buku irfan, disebutkan beberapa misdak (contoh penerapan) dari syajarah thayyibah ini, seperti eksistensi Tuhan Yang Maha Benar (Al-Haqq), Ahlulbait as, makrifat, manusia paripurna (insan kamil), dan beberapa jenis pohon tertentu.

Terminologi dan Kedudukan

Syajarah thayyibah adalah pohon yang suci dan penuh berkah, di mana kalimat thayyibah diumpamakan kepadanya dalam ayat 24 dan 25 Surah Ibrahim.[1]

Templat:Kutipan Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i dalam Tafsir Al-Mizan mengatakan bahwa hasil renungan terhadap ayat-ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan "kalimah thayyibah" yang diumpamakan sebagai "syajarah thayyibah" adalah keyakinan yang benar (keyakinan terhadap tauhid dan keteguhan di atasnya) yang tetap dan terjaga dari segala bentuk perubahan, kebinasaan, dan kehancuran. Dan orang-orang mukmin, di dunia dan akhirat, akan menikmati efek dan berkah dari iman dan keteguhan ini.[2] Dalam Tafsir Nemuneh, dengan bersandar pada kata-kata yang terdapat dalam ayat tersebut, disebutkan beberapa ciri dari syajarah thayyibah:

  • Makhluk yang tumbuh dan berkembang, bukan benda mati yang tak bergerak; (Syajarah)
  • Pohon ini suci dari segi buah, penampilan, aroma, dan bunganya; (Thayyibah)
  • Memiliki sistem yang teratur dan penuh perhitungan, di mana setiap akar, batang, dan daunnya memiliki misi dan fungsinya masing-masing; (Ashluha wa Far'uha)
  • Akar dan pangkalnya tetap dan kokoh; (Ashluha tsabit)
  • Cabang-cabangnya tidak berada di lingkungan yang rendah dan terbatas, melainkan menjulang ke langit; (Far'uha fi al-Sama')
  • Sangat berbuah dan produktif, serta memberikan buahnya kepada semua orang; (Tu'ti ukulaha)
  • Pemanfaatan buahnya di setiap saat; (Kulla hin)
  • Pemberian buahnya tidak tak terbatas dan tunduk pada hukum-hukum penciptaan serta sunatullah. (Bi idzni rabbiha)[3]

Misdak (Contoh)

Dalam kitab-kitab tafsir, jawami' al-riwayah, dan buku-buku irfan, disebutkan berbagai misdak untuk kata syajarah thayyibah, antara lain eksistensi Tuhan Yang Maha Benar, Ahlulbait as, makhluk-makhluk, hakikat Muhammadiyah, manusia, manusia paripurna (insan kamil), cinta dan kasih sayang, makrifat, iman, tauhid, agama Islam, alam cahaya, dan beberapa jenis pohon.[4] Imam Khomeini juga menganggap Basij sebagai tentara ikhlas Allah yang buku formasinya telah ditandatangani oleh semua mujahid dari yang pertama hingga yang terakhir, dan mengumpamakannya sebagai syajarah thayyibah dan pohon yang rindang serta penuh buah, di mana bunganya memancarkan aroma musim semi perjumpaan (dengan Tuhan) serta kesegaran keyakinan dan kisah cinta, dan para lulusannya mendapatkan nama serta identitas dalam anonimitas dan ketidaktahuan.[5]

  • Wujud: Wujud adalah salah satu istilah penting dalam filsafat dan irfan yang diperkenalkan sebagai salah satu misdak dari syajarah thayyibah.[6] Berdasarkan pandangan ini, wujud hanya terbatas pada eksistensi Tuhan Yang Maha Benar dan Tunggal, dan seluruh makhluk adalah manifestasi (tajalli) dari eksistensi Tuhan Yang Maha Benar.[7] Sebuah teori yang dikenal dengan sebutan Wahdatul Wujud Personal (kesatuan wujud personal).[8]
  • Ahlulbait as: Dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan syajarah thayyibah adalah Ahlulbait as yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.[9] Dalam kitab Al-Kafi, dari Imam Shadiq as dalam tafsir potongan ayat 24 Surah Ibrahim "كشَجَرَةٍ طَیبَةٍ أَصْلُها ثابِتٌ وَ فَرْعُها فِی السَّماءِ" disebutkan bahwa "رَسُولُ اللَّهِ ص أَصْلُهَا وَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ع فَرْعُهَا وَ الْأَئِمَّةُ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا أَغْصَانُهَا وَ عِلْمُ الْأَئِمَّةِ ثَمَرَتُهَا وَ شِيعَتُهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَرَقُهَا...; Rasulullah saw adalah akarnya, Amirul Mukminin adalah cabangnya, dan para Imam dari keturunan keduanya adalah ranting-rantingnya, dan ilmu para Imam adalah buahnya, dan para pengikut mereka yang beriman adalah daun-daunnya..." [10]
  • Beberapa Pohon Tertentu: Banyak mufasir dengan berdasar pada riwayat-riwayat dari para sahabat termasuk Ibnu Abbas memperkenalkan pohon-pohon seperti kurma, delima, zaitun, anggur, atau pohon-pohon berbuah sebagai yang dimaksud dengan syajarah thayyibah.[11]

Catatan Kaki

  1. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 331.
  2. Thabathaba'i, Al-Mizan, Mansyurat Ismailiyan, jld. 12, hlm. 51.
  3. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 333-333.
  4. Dastjerdi dkk., "Negahi be Karbord-e Tamtsil-e Syajarah Thayyibah dar Baznemud-e Isthilahat-e 'Irfan wa Tashawwuf ba Mo'arrefi-ye Mashadiq-e Kalimah Thayyibah", hlm. 352-360.
  5. Imam Khomeini, Shahifeh Imam Khomeini, jld. 21, hlm. 194.
  6. Amuli, Jami' al-Asrar, 1386 HS, hlm. 276.
  7. Sayid Haidar Amuli, Jami' al-Asrar, 1368 HS, hlm. 668.
  8. Zarrinkoub, Arzesh-e Mirats-e Shufiyeh, 1344 HS, hlm. 145-146.
  9. Ayyasyi, Tafsir al-'Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 225; Al-Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 219-220.
  10. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 428.
  11. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 19, hlm. 92.

Daftar Pustaka

  • Amuli, Sayid Haidar. Jami' al-Asrar wa Manba' al-Anwar. Teheran: Intisyarat 'Ilmi Farhangi, 1368 HS.
  • Al-Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Peneliti: Muhammad Kazhim. Teheran: Muassasah Thab' wa Nasyr Wizarat Irsyad, 1410 H.
  • Dastjerdi, Zohreh, dkk. "Negahi be Karbord-e Tamtsil-e Syajarah Thayyibah dar Baznemud-e Isthilahat-e 'Irfan wa Tashawwuf ba Mo'arrefi-ye Mashadiq-e Kalimah Thayyibah". Jurnal Musiman Bahar Adab, Edisi Kedua, 1393 HS.
  • Zarrinkoub, Abdulhussein. Arzesh-e Mirats-e Shufiyeh. Teheran: Intisyarat Aria, 1344 HS.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-'Ayyasyi. Teheran: Al-Maktabah al-'Ilmiyyah al-Islamiyyah, 1380 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1420 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.