Konsep:Khasyat
Khasyat adalah ketakutan yang disertai dengan kesadaran akan keagungan Allah dan pengakuan atas kekurangan serta kelalaian diri di hadapan-Nya. Khasyat diperkenalkan sebagai salah satu konsep paling dasar dalam suluk dan penghambaan, serta ditekankan dalam ayat-ayat dan riwayat-riwayat.
Ulama akhlak dalam membedakan khasyat dan khauf mengatakan bahwa khasyat adalah ketakutan yang disertai dengan kesadaran akan keagungan Allah, sedangkan khauf merujuk pada ketakutan terhadap hal yang makruh atau azab ilahi. Sebagian mufasir menganggap khasyat sebagai ketakutan akan jatuhnya dari kedudukan dekat dengan Allah, dan khauf sebagai ketakutan akan azab.
Khasyat disebutkan sebanyak 48 kali dalam Al-Qur'an dan biasanya merujuk pada ketakutan kepada Allah, kecuali dalam kasus-kasus tertentu di mana ia merujuk pada ketakutan akan kemiskinan, kelesuan perdagangan, atau masalah lainnya. Dalam hadis-hadis, khasyat juga diperkenalkan sebagai sifat penting untuk keselamatan, takwa, ilmu, dan amal yang benar. Nabi Muhammad (saw) dan Para Imam (as) telah menekankan pentingnya khasyat dalam kehidupan individu dan sosial.
Berdasarkan ajaran agama, jalan-jalan untuk mencapai khasyat meliputi ilmu dan makrifat kepada Allah, zikir yang benar, khusyuk di hadapan keagungan ilahi, dan tazkiyatun nafs. Faktor-faktor ini menyebabkan manusia mencapai khasyat. Di sisi lain, hambatan untuk mencapai khasyat adalah hati yang keras, lalai dari mengingat Allah, dan melakukan dosa, di mana dosa dan pembangkangan menyebabkan hilangnya cahaya hati dan menghalangi pencapaian khasyat ilahi.
Terminologi
Khasyat berarti ketakutan yang disertai dengan kesadaran manusia akan keagungan Allah serta pemahaman tentang kekurangannya sendiri dan kelalaiannya dalam tugas-tugas penghambaan, dan digunakan dalam kasus-kasus yang berkaitan dengan Allah dan urusan-urusan ilahi.[1] Kata ini secara etimologis berarti mutlak khauf dan ketakutan.[2] Khauf yang disertai dengan pengagungan,[3] ketakutan yang sangat[4] dan kehati-hatian yang disertai dengan ketakutan adalah makna lain yang disebutkan untuk kata ini.[5]
Beberapa kata lain memiliki makna yang mirip dengan khasyat; khauf, wajal, dan rahbat adalah di antara kata-kata ini yang sebagian penerjemah mengartikan semua kata ini sebagai ketakutan. Namun menurut sebagian peneliti, fungsi kata-kata ini tidak sama.[6]
Perbedaan dengan Khauf
Mufasir dan peneliti Al-Qur'an berselisih pendapat mengenai perbedaan antara kata khauf dan khasyat dalam menafsirkan ayat Innama yakhsya Allaha min 'ibadihi al-'ulama'. Sebagian seperti Abu Hilal Askari meyakini bahwa khauf adalah ketakutan akan hal yang makruh, sedangkan khasyat adalah ketakutan kepada yang menurunkannya.[7] Abdullah Jawadi Amuli juga menggunakan khauf untuk kedua kasus (hal yang makruh dan yang menurunkannya), tetapi mengkhususkan khasyat untuk ketakutan kepada yang menurunkannya.[8] Alusi menukil dari Ibnu Atha' bahwa khasyat adalah ketakutan akan jatuhnya dari kedudukan dekat dengan Allah dan khauf adalah ketakutan akan azab ilahi.[9] Muhammad Husain Thabathaba'i menganggap khasyat sebagai pengaruh batin dari keburukan dan khauf sebagai tindakan praktis dalam menghadapinya, dan menunjukkan bahwa dalam Al-Qur'an, khauf kepada selain Allah dinisbatkan kepada para nabi, tetapi khasyat kepada selain Allah tidak dinisbatkan kepada mereka.[10] Raghib Isfahani juga menganggap khauf lebih umum dari khasyat dan meyakini bahwa khasyat adalah ketakutan yang timbul dari pengagungan terhadap sesuatu dan disertai dengan ilmu serta makrifat.[11]
Perbedaan dengan Rahbat
Menurut pandangan sebagian mufasir, rahbat adalah sejenis khauf yang menyebabkan pelarian atau penghindaran seseorang, sedangkan khasyat adalah ketakutan yang mengendalikan pembangkangan dan pemberontakan individu.[12] Raghib Isfahani juga mendefinisikan rahbat sebagai ketakutan yang disertai dengan kehati-hatian dan kecemasan.[13]
Penggunaan
Akar kata "Khasyiya" dan turunannya telah digunakan sebanyak 48 kali dalam Al-Qur'an al-Karim.[14] Dalam 23 kasus, khasyat kepada Allah (baik berupa Allah, Ar-Rahman, maupun Rabb) telah dibicarakan.[15] Dalam penggunaan Al-Qur'an lainnya, khasyat diterapkan pada hal-hal lain seperti khasyat akan kemiskinan,[16] khasyat dalam ber-infak,[17] khasyat akan kelesuan perdagangan,[18] khasyat akan timbulnya perpecahan[19] dan khasyat dari ujian keburukan[20]. Menurut sebagian peneliti, dalam Al-Qur'an al-Karim, dalam kasus di mana khasyat kepada selain Allah dimaksudkan, hal-hal tersebut disebutkan secara tersurat, dan dalam ayat-ayat di mana khasyat disebutkan secara mutlak dan objeknya tidak disebutkan, maka yang dimaksud adalah khasyat kepada Allah.[21]
Khasyat telah mendapat perhatian dalam hadis-hadis dan ditekankan. Dalam sebuah hadis dari Nabi Muhammad (saw), khasyat kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan diperkenalkan sebagai faktor keselamatan.[22] Imam Ali (as) dalam sebuah khotbah menyarankan kepada kaum muslimin agar menjadikan khasyat sebagai sifat batin mereka.[23] Dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir (as), mata yang menangis karena khasyat kepada Allah dianggap sebagai mata yang tidak akan menangis pada hari Kiamat.[24] Demikian pula dalam riwayat-riwayat dari Imam Shadiq (as), khasyat diperkenalkan sebagai pintu masuk menuju takwa,[25] warisan ilmu[26] dan amal yang paling benar.[27]
Dampak
Menurut sebagian peneliti, khasyat yang hakiki memiliki pengaruh khusus baik pada perilaku manusia maupun pada pemikirannya, serta memunculkan dampak-dampak dalam kehidupan individu dan sosial manusia. Hilangnya hati yang keras, kerendahan hati di hadapan Allah, penciptaan dan penguatan rasa malu, pemantapan iman, penguatan semangat menahan diri, serta penciptaan semangat anti-penindasan dan perlawanan terhadap orang-orang lalim, diperkenalkan sebagai di antara dampak khasyat.[28]
Jalan-jalan Pencapaian
Ilmu dan makrifat, zikir, khusyuk, dan tazkiyatun nafs adalah faktor-faktor pencapaian khasyat.
Ilmu dan Makrifat
Berdasarkan ayat "... Innama yakhsya Allaha min 'ibadihi al-'ulama' ..., di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." ilmu diperkenalkan sebagai salah satu jalan untuk mencapai khasyat dan khasyat dari selain ulama ditiadakan.[29] Makna ini juga tercermin dalam riwayat-riwayat. Di antaranya, Imam Ali (as) dalam sebuah riwayat memperkenalkan ilmu sebagai penyebab khasyat[30] dan Imam Shadiq (as) memperkenalkan ilmu sebagai alasan bagi khasyat.[31] Tentu saja, dalam sebagian riwayat hubungan ini dianggap timbal balik, dan khasyat dianggap sebagai penyebab kesempurnaan ilmu[32] atau bertambahnya ilmu.[33] Allamah Majlisi dalam Mir'at al-'Uqul mengutip dari Muhaqqiq Thusi yang menganggap keadaan khasyat hanya dimiliki oleh orang yang telah mengetahui keagungan kebesaran ilahi dan telah merasakan kelezatan kedekatan dengan-Nya. [34] Templat:Yad
Zikir
Dengan bersandar pada ayat-ayat seperti "Illa tadzkiratan liman yakhsya, Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut."[35] dan "Faqula lahu qaulan layyinan la'allahu yatadzakkaru au yakhsya, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."[36] seseorang dapat menyadari hubungan yang mendalam antara khasyat dan zikir.[37] Zikir yang hakiki, yang merupakan perasaan kehadiran hamba di hadapan Allah swt, mengantarkan manusia kepada khasyat.[38]
Khusyuk
Khusyuk yang hakiki, yang merupakan perasaan hina di hadapan kedudukan Allah yang tinggi, akan diikuti oleh semacam ketakutan dan kegentaran, yang apabila keadaan ini berlanjut, akan memberikan ketenangan yang disertai dengan khasyat kepada manusia.[39]
Tazkiyatun Nafs
Dalam banyak ayat dari Al-Qur'an al-Karim, termasuk ayat-ayat "Faqul hal laka ila an tazakka wa ahdiyaka ila rabbika fatakhsya, dan katakanlah (kepadanya), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan supaya aku menunjukimu kepada Tuhanmu lalu kamu takut?'"[40], tazkiyatun nafs dan kesucian batin diperkenalkan sebagai salah satu jalan untuk mencapai khasyat.[41]
Hambatan-hambatan Pencapaian
Hati yang keras, kelalaian dari mengingat Allah, dan melakukan dosa adalah di antara hambatan untuk mencapai khasyat.
Hati yang Keras
Templat:Utama Hati yang keras menghilangkan bakat untuk khasyat; karena menurut sebagian peneliti, seseorang yang memiliki hati yang keras, tidak ada cahaya petunjuk di dalam hatinya untuk memahami kebenaran. Hati yang di dalamnya tidak terdapat cahaya kebenaran, tidak akan memiliki kesadaran dan makrifat, dan tanpa makrifat dan kesadaran, ia tidak akan memiliki bakat untuk khasyat ilahi.[42]
Kelalaian dari Mengingat Allah
Sebagaimana zikir dan mengingat-Nya adalah faktor penting untuk mencapai khasyat ilahi, melupakan ingatan kepada Allah juga diperkenalkan sebagai hambatan untuk memperoleh khasyat. Berdasarkan ajaran-ajaran agama, pada dasarnya hati-hati yang lalai dari mengingat Allah dianggap rentan terhadap segala bentuk penyimpangan.[43]
Melakukan Maksiat
Berdasarkan sebagian dokumen, melakukan maksiat, yang merupakan pembangkangan terhadap Allah dan utusan-Nya, mengakibatkan dijauhkannya dari khasyat.[44] Dosa-dosa menghilangkan kesucian dan kemurnian hati, dan menurut sebagian riwayat, tidak ada sesuatu pun yang dapat merusak hati seperti halnya dosa.[45]
Catatan Kaki
- ↑ Asyiyan, Khasyat, jld. 15, hlm. 538.
- ↑ Farahidi, Kitab al-'Ain, 1409 H, di bawah kata "Khasyat".
- ↑ Raghib Isfahani, Mufradat Alfazh al-Qur'an, di bawah kata "Khasyat".
- ↑ Qurasyi Bunabi, Qamus Qur'an, di bawah kata "Khasyat".
- ↑ Musthafawi, At-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, di bawah kata "Khasyat".
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 37.
- ↑ Askari, Mu'jam al-Furuq al-Lughawiyyah, 1412 H, hlm. 241.
- ↑ Jawadi Amuli, Maqam Khasyat, 1369 HS, hlm. 13.
- ↑ Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld. 13, hlm. 177.
- ↑ Sebagai contoh lihat Surah Thaha, 67 dan Surah Al-Anfal, ayat 58.
- ↑ Raghib Isfahani, Mufradat Alfazh al-Qur'an, di bawah kata "Khasyat".
- ↑ Qusyairi, Latha'if al-Isyarat, 1382 HS, jld. 3, hlm. 202.
- ↑ Raghib Isfahani, Mufradat Alfazh al-Qur'an, di bawah kata "Rahb".
- ↑ Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur'an al-Karim, di bawah Khasyiya.
- ↑ Thayyib Husaini, Pazhuhesyi dar Ma'naye Wazheye Qur'ani Khasyat wa Tafawut-e An ba Khauf, hlm. 14.
- ↑ Surah Al-Isra, ayat 31.
- ↑ Surah Al-Isra, ayat 100.
- ↑ Surah At-Taubah, ayat 24.
- ↑ Surah Thaha, ayat 24.
- ↑ Surah Al-Ma'idah, ayat 52.
- ↑ Thayyib Husaini, Pazhuhesyi dar Ma'naye Wazheye Qur'ani Khasyat wa Tafawut-e An ba Khauf, hlm. 15.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, jld. 1, hlm. 84.
- ↑ Syarif ar-Radhi, Nahj al-Balaghah, Khotbah 66.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 80.
- ↑ Jailani, Mishbah asy-Syari'ah, 1400 H, hlm. 23.
- ↑ Jailani, Mishbah asy-Syari'ah, 1400 H, hlm. 20; Ibnu Fahd Hilli, Uddat ad-Da'i wa Najah as-Sa'i, 1407 H, hlm. 78.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 16.
- ↑ Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 200 - 202.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 41 dan 42; Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 203 dan 204.
- ↑ Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 396.
- ↑ Jailani, Mishbah asy-Syari'ah, 1400 H, hlm. 23.
- ↑ Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 190.
- ↑ Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 584.
- ↑ Majlisi, Mir'at al-'Uqul, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, jld. 8, hlm. 37.
- ↑ Surah Thaha, ayat 3.
- ↑ Surah Thaha, ayat 314.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 42; Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 205.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 42.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 43.
- ↑ Surah An-Nazi'at, ayat 18 dan 19.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 43; Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 204 dan 205.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 45; Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 207.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 46; Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 207.
- ↑ Aram, Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim, hlm. 46; Ariyan, Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan, hlm. 207.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 268.
Daftar Pustaka
- Aram, Muhammad Ridha. Ma'nasynasi Khasyat dar Qur'an Karim. Dalam Majalah Pazhuhesy-haye I'tiqadi Kalami, nomor 1, musim semi 1390 HS.
- Ariyan, Husain. Khasyat wa Khauf az Didgah Qur'an wa Irfan. Dalam Majalah Adyan wa Irfan, nomor 14, musim dingin 1386 HS.
- Asyiyan, Zahra. Khasyat. Dalam Danesynameh Jahan Islam (Ensiklopedia Dunia Islam), jld. 15. Teheran, Markaz Da'iratul Ma'arif Buzurg Islami, 1389 HS.
- Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, Bita.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1362 HS.
- Ibnu Fahd Hilli, Ahmad bin Muhammad. Uddat ad-Da'i wa Najah as-Sa'i. Beirut, Dar al-Kitab al-Islami, Bita.
- Anshariyan, Husain. Tafsir Hakim. Qom, Dar al-'Irfan, [Bita].
- Jawadi Amuli, Abdullah. Maqam Khasyat. Pasdar Islam, 1369 HS.
- Husaini Syirazi, Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Dar al-'Ulum, 1423 H.
- Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom, Mu'assasah Intisyarat Hijrat, Bita.
- Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfazh al-Qur'an. Beirut, Dar asy-Syamiyyah, Bita.
- Syarif ar-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (li ash-Shubhi Shalih). Qom, Nasyr Hijrat, Cetakan pertama, 1387 H.
- Syaibani, Muhammad bin Hasan. Nahj al-Bayan 'an Kasyf Ma'ani al-Qur'an. Qom, Nasyr al-Hadi, 1413 H.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Intisyarat Islami Jami'ah-ye Mudarrisin, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1415 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Bita.
- Thayyib, Abdul Husain. Atyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Intisyarat Islam, 1378 HS.
- Thayyib Husaini, Sayyid Mahmud. Pazhuhesyi dar Ma'naye Wazheye Qur'ani Khasyat wa Tafawut-e An ba Khauf. Dalam Majalah Kitab Qayyim, nomor 8, musim semi dan panas 1392 HS.
- Amili, Ibrahim. Tafsir Amili. Teheran, Intisyarat Shaduq, 1360 HS.
- Askari, Hasan bin Abdullah. Mu'jam al-Furuq al-Lughawiyyah. Qom, Mu'assasah an-Nasyr al-Islami, 1412 H.
- Qurasyi Bunabi, Ali Akbar. Qamus Qur'an. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
- Jailani, Abdurrazzaq bin Muhammad Hasyim. Mishbah asy-Syari'ah wa Miftah al-Haqiqah (dinisbatkan kepada Imam Ja'far Shadiq (as)). Teheran, Payam Haq, 1377 HS.
- Musthafawi, Hasan. At-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Markaz Nasyr Atsar Allamah Musthafawi, 1385 HS.
- Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Bita.
- Mughniyyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.