Lompat ke isi

Konsep:Ulul Albab

Dari wikishia

Ulul Albab (bahasa Arab:اُولوا الاَلباب) adalah istilah dalam Al-Qur'an yang berarti pemilik akal dan pikiran (orang-orang yang berakal), yang mana orang-orang beriman yang terkemuka dan istimewa disifati dengan istilah ini. Menepati janji Ilahi, takut kepada Allah dan azab akhirat, Sabar dan Istiqamah dalam ketaatan, mendirikan Salat, dan menunaikan infak adalah beberapa karakteristik Ulul Albab dalam Al-Qur'an.

Dalam sejumlah ayat, pemahaman terhadap beberapa masalah yang disebutkan seperti tadabur ayat-ayat Al-Qur'an, disebutkan sebagai kekhususan Ulul Albab, dan dalam ayat-ayat lain mereka diajak untuk bertakwa kepada Allah (Takwa Ilahi). Para mufasir menyebutkan contoh-contoh seperti Syiah, ulama, pencari kebenaran, dan akal yang suci dengan kemampuan memahami hukum-hukum Ilahi sebagai Ulul Albab. Dikatakan bahwa penyebutan contoh-contoh Ulul Albab oleh para mufasir tidak menafikan keumuman konsep ayat tersebut, dan ayat itu mencakup semua manusia yang memenuhi syarat.

Semantik

Ulul Albab adalah istilah Al-Qur'an yang digunakan untuk menggambarkan hamba-hamba dan orang-orang mukmin yang terkemuka dan istimewa.[1] Istilah ini dianggap sebagai ungkapan khusus dalam sistem epistemologi dan etika Al-Qur'an.[2]

Para ahli bahasa menganggap "al-Albab" sebagai bentuk jamak dari "al-Lubb" yang berarti akal.[3] Juga, "Lubb" dikatakan sebagai sesuatu yang murni dan telah dibersihkan dari segala sesuatu[4] atau bagian dalam dari segala sesuatu;[5] oleh karena itu, sebagian orang menganggap Ulul Albab bermakna sama dengan Ulul Uqul[6] atau Dzawil Uqul (pemilik akal).[7]

Sebagian mufasir menafsirkan Ulul Albab dengan makna leksikalnya, yaitu pemilik akal.[8] Namun, sebagian lainnya menafsirkannya dengan makna yang lebih luas dari makna leksikal, seperti pemilik akal dari kalangan mukmin,[9] pemilik akal yang sempurna,[10] dan pemilik akal yang sehat dan bersih dari kotoran dan ilusi.[11]

Perbedaan Antara Akal dan Lubb

Sebagian ahli bahasa membedakan antara kata 'Aql dan Lubb, dan menganggap Lubb sebagai akal yang bersih dari ketidakmurnian, serta meyakini bahwa setiap Lubb adalah akal, tetapi tidak setiap akal dianggap sebagai Lubb.[12] Dikatakan bahwa perbedaan terpenting antara Lubb dan 'Aql adalah bahwa Lubb merupakan tahap akal yang telah sempurna dan membimbing manusia menuju Tauhid dan makrifat; sedangkan akal pada tingkat yang lebih dasar menunjukkan jalan kebaikan dan keburukan.[13]

Menurut keyakinan sebagian peneliti, menafsirkan "Ulul Albab" sebagai orang-orang bijak berarti mengabaikan seluruh dimensi kepribadian mereka; orang-orang seperti itu memiliki akal yang sempurna dari segi pendekatan teoretis dan juga telah mencapai puncak kematangan akal praktis dalam tindakan dan perilaku.[14]

Ruang Lingkup Penggunaan dalam Al-Qur'an

Istilah Ulul Albab diulang sebanyak 16 kali dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat tersebut adalah: ayat 179, 197, dan 269 Surah Al-Baqarah; ayat 7 dan 190 Surah Ali 'Imran; Ayat 100 Surah Al-Ma'idah; Ayat 111 Surah Yusuf; Ayat 19 Surah Ar-Ra'd; Ayat 52 Surah Ibrahim; ayat 29 dan 43 Surah Shad; ayat 9, 18, dan 21 Surah Az-Zumar; Ayat 54 Surah Ghafir; dan Ayat 10 Surah Ath-Thalaq.

Dalam sejumlah ayat ini, disebutkan karakteristik Ulul Albab.[15] Dalam sejumlah ayat lainnya, pemahaman terhadap beberapa masalah yang disebutkan dalam ayat seperti hikmah,[16] ayat-ayat muhkam dan mutasyabih,[17] dan tadabur ayat-ayat Al-Qur'an[18] disebutkan sebagai kekhususan Ulul Albab.[19] Dalam empat ayat, dengan menyeru para pemilik akal, mereka diajak untuk bertakwa kepada Allah (Takwa Ilahi).[20] Hal ini menyebabkan sebagian orang menganggap masalah Lubb bergantung pada takwa dan menganggap orang yang tidak bertakwa berada di luar cakupan Ulul Albab.[21]

Karakteristik

Al-Qur'an menyebutkan karakteristik bagi Ulul Albab, di antaranya: Beriman kepada Allah, mengingat-Nya dalam segala keadaan, memikirkan rahasia penciptaan, memohon ampunan dari Allah,[22] menepati janji Ilahi, takut kepada Allah dan azab akhirat, Sabar dan istiqamah dalam ketaatan, mendirikan Salat, dan berinfak.[23]

Mengambil pelajaran dari Kisah-kisah Al-Qur'an,[24] menerima petunjuk,[25] ahli Ibadah dan Tahajud,[26] kemampuan bertadabur dan mengambil nasihat dari ayat-ayat Al-Qur'an,[27] serta mengikuti perkataan terbaik dan mendapatkan petunjuk dari Allah[28] adalah karakteristik lain dari Ulul Albab dalam Al-Qur'an.

Dikatakan bahwa selain kemampuan membedakan antara yang hak dan batil, mereka memilih jalan terbaik untuk ketaatan Ilahi dan pada saat yang sama adalah ahli zikir, ta'aqqul (berpikir), dan hikmah.[29] Sebagian mufasir dengan bersandar pada Ayat 54 Surah Ghafir, menganggap penerimaan wilayah (wilayah-paziri) sebagai karakteristik Ulul Albab.[30]

Contoh-contoh (Misdaq)

Para mufasir menyebutkan berbagai contoh untuk Ulul Albab, seperti: Orang-orang mukmin,[31] ulama, orang-orang yang bertadabur,[32] orang-orang yang mendalam ilmunya (Rasikhun fi al-'Ilm),[33] pencari kebenaran,[34] dan akal yang suci yang memiliki kemampuan memahami hukum-hukum Ilahi.[35]

Dalam riwayat-riwayat dari Imam Shadiq as, Syiah diperkenalkan sebagai contoh dari Ulul Albab.[36] Oleh karena itu, sebagian orang menyebutkan contoh sempurna Ulul Albab adalah Para Maksum as dan setelah mereka adalah Syiah.[37] Dalam sebab turun Ayat 18 Surah Az-Zumar disebutkan bahwa Zaid bin 'Amr, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi yang pada zaman Jahiliyah mengucapkan La Ilaha Illallah dan Allah memberi petunjuk kepada mereka tanpa nabi dan kitab samawi, adalah termasuk contoh Ulul Albab.[38]

Menurut keyakinan Makarim Syirazi, penulis kitab Tafsir Namuneh, penyebutan berbagai contoh oleh para mufasir tidak menafikan keumuman konsep ayat tersebut.[39] Oleh karena itu, ayat tersebut mencakup semua orang yang dengan menggunakan akal fitrah dan tidak mengotorinya dengan ilusi hawa nafsu serta merenungkan ayat-ayat Ilahi, memperoleh kelayakan untuk mendapatkan hikmah Ilahi;[40] sebagaimana dikatakan bahwa orang-orang yang memahami dan menerima ajaran murni Ilahi pada tingkat tertingginya setelah nabi dan Auliya Ilahi, jauh dari segala ketidakmurnian, waswas, dan ilusi, akan termasuk Ulul Albab.[41]

Catatan Kaki

  1. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 121-122.
  2. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 121-122.
  3. Al-Farahidi, Kitab al-'Ain, Qom, jld. 8, hlm. 317; Al-Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 2, hlm. 65.
  4. Ibnu Duraid, Jamharah al-Lughah, Beirut, jld. 1, hlm. 76; Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, Qom, jld. 5, hlm. 200; Al-Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 2, hlm. 165.
  5. Shahib bin Abbad, Al-Muhith fi al-Lughah, Beirut, jld. 10, hlm. 310; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 1, hlm. 729.
  6. Al-Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 2, hlm. 164.
  7. Al-Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hlm. 481, jld. 2, hlm. 325.
  8. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 1, hlm. 216; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 18, hlm. 173.
  9. Al-Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 767.
  10. Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 2, hlm. 230; Al-Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 1, hlm. 122.
  11. Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 12, hlm. 330.
  12. Al-Raghib al-Isfahani, Mufradat, 1374 HS, hlm. 733.
  13. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 128 (mengutip dari Rakhsyad, hlm. 366-367).
  14. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 121.
  15. Surah Az-Zumar, ayat 18.
  16. Surah Al-Baqarah, ayat 269.
  17. Surah Ali 'Imran, ayat 7.
  18. Surah Shad, ayat 29.
  19. Surah Ali 'Imran, ayat 190; Surah Ar-Ra'd, ayat 19; Surah Yusuf, ayat 111; Surah Ibrahim, ayat 52; Surah Az-Zumar, ayat 9, 21; Surah Ghafir, ayat 54.
  20. Surah Al-Baqarah, ayat 179, 197; Surah Al-Ma'idah, ayat 100; Surah Ath-Thalaq, ayat 10.
  21. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 244.
  22. Surah Al-Baqarah, ayat 190-194.
  23. Surah Ar-Ra'd, ayat 19-22.
  24. Surah Yusuf, ayat 111.
  25. Surah Ghafir, ayat 54.
  26. Surah Az-Zumar, ayat 9.
  27. Surah Shad, ayat 29.
  28. Surah Az-Zumar, ayat 18.
  29. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 121.
  30. Gonabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 2, hlm. 382.
  31. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 19, hlm. 324-325.
  32. Nowruzi, "Ulul Albab az Manzar-e Qur'an-e Karim", hlm. 166-167.
  33. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 337-338; Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 7, hlm. 146.
  34. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 128.
  35. Al-Raghib al-Isfahani, Mufradat, 1374 HS, hlm. 733.
  36. Al-Barqi, Al-Mahasin, 1371 H, jld. 1, hlm. 169; Al-Shaffar, Bashair al-Darajat, 1404 H, jld. 1, hlm. 55; Furat al-Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 365; Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 3, hlm. 473.
  37. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 139.
  38. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 23, hlm. 132.
  39. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 19, hlm. 397.
  40. Nowruzi, "Ulul Albab az Manzar-e Qur'an-e Karim", hlm. 166-167.
  41. Mir Ahmadi dan Shadiqi, "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an", hlm. 121.

Daftar Pustaka

  • Al-Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riset oleh Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Al-Azhari, Muhammad bin Ahmad. Tahdzib al-Lughah. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, Tanpa tahun.
  • Al-Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Al-Barqi, Ahmad bin Muhammad bin Khalid. Al-Mahasin. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan kedua, 1371 H.
  • Al-Farahidi, Khalil bin Ahmad. Kitab al-'Ain. Qom, Nasyr-e Hijrat, Cetakan kedua, Tanpa tahun.
  • Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosro, 1364 HS.
  • Al-Raghib al-Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfazh al-Qur'an. Teheran, Murtadhawi, Cetakan kedua, 1374 HS.
  • Al-Shaffar, Muhammad bin Hasan. Bashair al-Darajat fi Fadhail Aal Muhammad shallallahu 'alaihim. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, Cetakan kedua, 1404 H.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Al-Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosro, Cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Al-Tharihi, Fakhruddin bin Muhammad. Majma' al-Bahrain. Teheran, Murtadhawi, Cetakan ketiga, 1375 HS.
  • Al-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, Cetakan ketiga, 1407 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Shafi. Teheran, Maktabah al-Shadr, Cetakan kedua, 1415 H.
  • Fakhrurazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, Cetakan ketiga, 1420 H.
  • Furat al-Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Riset oleh Muhammad Kazim Mahmudi, Teheran, Sazman-e Chap va Intisharat-e Wizarat-e Irsyad-e Eslami, 1410 H.
  • Gonabadi, Sulthan Muhammad. Bayan al-Sa'adah. Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1408 H.
  • Ibnu Duraid, Muhammad bin Hasan. Jamharah al-Lughah. Beirut, Dar al-Ilm lil Malayin, Tanpa tahun.
  • Ibnu Faris, Ahmad bin Faris. Mu'jam Maqayis al-Lughah. Qom, Maktabah al-A'lam al-Islamiyyah, Tanpa tahun.
  • Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athhar 'alaihimus salam. Qom, Jami'ah Mudarrisin, 1409 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Beirut, Dar al-Fikr lil Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi', 1414 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Mir Ahmadi, Abdullah; Thahereh Shadiqi. "Mafhum Syenasi va Vijegi-haye Ulul Albab bar Asas-e Baft-e Ayat-e Qur'an" (Semantik dan Karakteristik Ulul Albab Berdasarkan Konteks Ayat-ayat Al-Qur'an). Jurnal Misykat, Vol. 38, No. 1, Khordad 1398 HS.
  • Nowruzi, Ali. "Ulul Albab az Manzar-e Qur'an-e Karim" (Ulul Albab dalam Pandangan Al-Qur'an). Qur'ani Kautsar, No. 50, Paruh kedua musim panas dan paruh pertama musim gugur 1393 HS.
  • Qumi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib. Teheran, Wazarat-e Farhangk va Ershad-e Eslami, 1368 HS.
  • Shahib bin Abbad, Ismail bin Abbad. Al-Muhith fi al-Lughah. Beirut, 'Alam al-Kutub, Tanpa tahun.