Lompat ke isi

Konsep:Martabat Manusia

Dari wikishia

Martabat Manusia (Karamah Insaniyah) berarti kemuliaan, nilai, dan kehormatan yang dimiliki oleh semua manusia. Menurut Allamah Thabathabai, berbagai ayat Al-Qur'an seperti ayat 70 Surah Al-Isra' dan ayat 13 Surah Al-Hujurat merujuk pada martabat manusia. Imam Ali as juga menekankan penghormatan dan penjagaan martabat non-muslim dalam suratnya kepada Malik al-Asytar.

Para mufasir berbeda pendapat mengenai apakah martabat manusia bersifat hakiki (dzati) atau perolehan (iktisabi); sebagian seperti Allamah Thabathabai dan Sayid Muhammad Husain Fadhlullah meyakini adanya martabat hakiki bagi semua manusia. Sebaliknya, mufasir seperti Syaikh Thusi dan Zamakhsyari meyakini martabat perolehan yang mencakup potensi-potensi manusia seperti Takwa, Iman, dan amal salehnya.

Subjek martabat manusia juga disebutkan dalam Konstitusi Republik Islam Iran dan banyak konvensi internasional seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Terminologi

Martabat manusia berarti kehormatan dan nilai hakiki manusia yang ada pada setiap individu.[1] Immanuel Kant dalam teori "otonomi moral"-nya meyakini bahwa martabat manusia disebabkan oleh kemandirian hakiki dan kemampuan moral yang dimiliki secara setara oleh semua manusia.[2] Secara etimologi, karamah berarti kemuliaan,[3] kehormatan,[4] dan jauh dari kehinaan.[5] Abdullah Jawadi Amoli, mufasir Syiah, juga meyakini bahwa kata karamah dalam bahasa Arab memiliki konsep khusus yang tidak memiliki padanan tepat dalam bahasa Persia dan memerlukan beberapa kata untuk menyampaikan maknanya.[6] Meskipun martabat manusia sangat penting dalam hukum internasional, tidak ada satupun dari hukum-hukum tersebut yang memberikan definisi mengenainya.[7]

Kedudukan dan Urgensi

Ayat Karomah: "Walaqad karramna bani adama wa hamalnahum fil barri wal bahri wa razaqnahum minath thayyibati wa fadhdhalnahum 'ala katsirin mimman khalaqna tafdhila." (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan).[8]

Ayat 70 Surah Al-Isra' secara eksplisit merujuk pada subjek martabat manusia.[9] Menurut Allamah Thabathabai, mufasir Syiah, dalam berbagai ayat seperti ayat 30 Surah Al-Baqarah[10] dan ayat 13 Surah Al-Hujurat[11] juga dibicarakan tentang martabat manusia. Dalam ayat 70 Surah Al-Isra', disebutkan tentang pemuliaan manusia dan kedudukan manusia dalam penciptaan serta keistimewaannya atas makhluk lain.[12] Menurut pendapat Muhammad Taqi Ja'fari, martabat manusia adalah salah satu prinsip fundamental dan tetap bagi hak-hak manusia sepanjang sejarah.[13] Jawadi Amoli, mufasir Syiah, menganggap tujuan para nabi adalah untuk membawa manusia mencapai martabat dan menjauhkan mereka dari kehinaan serta kekikiran.[14]

Dalam riwayat-riwayat Maksumin, ditekankan penjagaan martabat manusia dan penghormatan terhadap individu masyarakat,[15] seperti berdirinya Nabi Muhammad saw untuk menghormati jenazah seorang Yahudi[16] dan wasiat Imam Ali as kepada Malik al-Asytar untuk menjaga kehormatan non-muslim.[17]

Konsep ini juga dikemukakan dalam pasal kedua Konstitusi Iran[18] dan banyak konvensi internasional, termasuk dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948 yang menekankan hak-hak manusia tanpa memandang ras, agama, dan ciri lainnya.[19] Dalam mukadimah Deklarasi Islam tentang Hak Asasi Manusia 1990, martabat ini diakui sebagai anugerah dari Allah swt.[20]

Kedudukan Martabat Manusia dalam Fikih

Penerimaan terhadap martabat manusia memiliki pengaruh besar dalam pengambilan hukum (istinbath) fikih. Muhammad Hadi Ma'rifat, pakar fikih dan Al-Qur'an, menunjukkan bahwa banyak fatwa telah dijelaskan dengan memperhatikan masalah martabat manusia, seperti hukum mengenai orang yang sedang koma dan dokter telah putus asa, yang berdasarkan martabat manusia, ia tidak boleh dibunuh.[21] Nashir Makarem Syirazi juga berpendapat bahwa martabat manusia dapat digunakan sebagai kaidah untuk menyelesaikan persoalan fikih baru.[22] Demikian pula Yusuf Sane'i, dengan menerima martabat hakiki manusia, menekankan kesetaraan diyat dan Qishash antara muslim dan non-muslim, serta keharaman menggunjing non-muslim.[23]

Jenis-Jenis Martabat Manusia

Barat dan Deklarasi Hak Asasi Manusia Murtadha Muthahhari: Bagi Barat, perlu pertama-tama melakukan peninjauan kembali terhadap penafsirannya mengenai manusia, kemudian mengeluarkan deklarasi-deklarasi luhur di bidang hak-hak suci dan fitrah manusia, serta nilai, kedudukan, martabat, kehormatan hakiki, dan hak-hak suci manusia yang tidak dapat dipindahkan, lalu mengundang seluruh umat manusia untuk mengimani deklarasi luhur ini... Deklarasi hak asasi manusia harus dikeluarkan oleh seseorang yang melihat manusia pada tingkatan yang lebih tinggi daripada sekadar komposisi materi mesin, tidak membatasi motif dan penggerak manusia hanya pada perkara hewani dan pribadi, serta mengakui adanya hati nurani kemanusiaan bagi manusia. Deklarasi hak asasi manusia harus dikeluarkan oleh Timur yang mengimani prinsip "Inni ja'ilun fil ardhi khalifah" (Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi) dan melihat dalam diri manusia sebuah contoh dari manifestasi ketuhanan. Seseorang yang harus berbicara tentang hak asasi manusia adalah mereka yang meyakini adanya melodi perjalanan manusia menuju tujuan akhir "Ya ayyuhal insanu innaka kadihun ila rabbika kadhan famulaqihi" (Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya). Deklarasi hak asasi manusia layak bagi sistem-sistem filsafat yang berdasarkan hukum "Wa nafsin wa ma sawwaha fa-alhamaha fujuraha wa taqwaha" (Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya) meyakini adanya kecenderungan kepada kebaikan dalam fitrah manusia. Deklarasi hak asasi manusia harus dikeluarkan oleh seseorang yang optimis terhadap fitrah manusia dan berdasarkan hukum "Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim" (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya) menganggapnya sebagai fitrah yang paling seimbang dan sempurna.[24]

Di kalangan ilmuwan muslim terdapat dua pandangan mengenai martabat manusia: sebagian menganggap martabat bersifat hakiki (dzati) dan sebagian bersifat perolehan (iktisabi).

  • Hakiki (Dzati): Allamah Thabathabai, Sayid Muhammad Husain Fadhlullah, dan Ibnu Asyur menganggap martabat manusia bersifat hakiki dan meyakini bahwa martabat ini disebabkan oleh ciri-ciri seperti akal dan kehendak yang memberikan keunggulan kepada manusia. Mereka membangun pandangan ini berdasarkan ayat 70 Surah Al-Isra' yang merujuk pada martabat semua manusia.[25] Allamah Thabathabai berkeyakinan bahwa martabat ini mencakup semua manusia (Muslim dan non-muslim), karena ayat tersebut merujuk pada manusia secara umum.[26] Dikatakan bahwa dari beberapa ayat Al-Qur'an, martabat hakiki manusia dapat disimpulkan, dan ayat-ayat ini merujuk pada karakteristik yang ada pada semua manusia,[27] seperti penciptaan manusia[28] dan keseimbangan dalam penciptaannya,[29] memiliki ruh ketuhanan,[30] penundukan makhluk lain untuk manusia,[31] kedudukan sebagai khalifah Allah di bumi[32] dan penyediaan sarana hidayah bagi manusia dengan pengutusan para nabi.[33]
  • Perolehan (Iktisabi): Beberapa mufasir seperti Syaikh Thusi dan Zamakhsyari menganggap martabat manusia bersifat perolehan dan berkeyakinan bahwa keunggulan manusia berasal dari karakteristik seperti Takwa dan Iman. Mereka meyakini bahwa manusia mungkin kehilangan martabatnya dengan melakukan perbuatan yang tidak pantas.[34] Muhammad Taqi Ja'fari menyebut martabat ini bersifat opsional dan "martabat nilai",[35] dan berkeyakinan bahwa nilai akhir manusia bergantung pada martabat perolehannya.[36] Selain itu, Abdullah Jawadi Amoli dan Muhammad Taqi Misbah Yazdi juga menganggap martabat manusia bersifat perolehan.[37]

Monograf

Buku Karamat dar Qur'an, karya Abdullah Jawadi Amoli

Beberapa buku telah ditulis mengenai martabat manusia, di antaranya:

  • Buku Karamat dar Qur'an (Martabat dalam Al-Qur'an) karya Abdullah Jawadi Amoli, diterbitkan pada 1989-1990 oleh Pusat Publikasi Budaya Raja'.[38] Asal-usul martabat, hambatan martabat, martabat dalam ucapan Imam Ali as, takwa dan martabat serta tingkatannya, keabadian dan martabat, eksklusivitas martabat dalam Al-Qur'an al-Karim, ilmu thariqi, dan dasar martabat merupakan pembahasan dalam buku ini.[39] Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan pada 2016-2017.[40]
  • Buku Insan-syenasi (Antropologi) ditulis oleh Muhammad Taqi Misbah Yazdi, merupakan jilid ketiga dari seri buku Ma'arif Al-Qur'an di mana penulisnya mengklasifikasikan ayat-ayat Al-Qur'an al-Karim secara tematik. Dalam bagian buku ini, ia membahas ayat-ayat terkait kekhalifahan Ilahi dan martabat manusia. Buku ini diterbitkan pada 2007-2008 oleh Penerbit Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini.[41]
  • Buku Ushul wa Mabani-ye Karamat-e Insan (Prinsip dan Dasar-Dasar Martabat Manusia) merupakan kumpulan artikel yang dipresentasikan dalam "Konferensi Internasional Imam Khomeini dan Ranah Agama", dan bersama artikel lain mengenai subjek martabat, diterbitkan dalam empat belas jilid oleh Penerbit Uruj pada tahun 2007-2008.[42]

Catatan Kaki

  1. Foroughiniya dkk, Negaresyi be Mafhum-e Karamat-e Insani dar Partaw-e Andisyeh-haye Feqhi-ye Islami (Tinjauan Konsep Martabat Manusia dalam Terang Pemikiran Fikih Islam), hlm. 135.
  2. Habibzadeh, Rahiminejad, Karamat-e Insani dar Qanun-e Asasi-ye Jomhuri-ye Islami-ye Iran (Martabat Manusia dalam Konstitusi Republik Islam Iran), hlm. 55-56.
  3. Dehkhoda, Loghat-nameh, di bawah entri Karamat.
  4. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, jil. 12, hlm. 510.
  5. Qurasyi, Qamus Qur'an, 1412 H, jil. 6, hlm. 103.
  6. Ayatollah al-Uzhma Jawadi Amoli: Khoday-e Akram dar Awwalin Surah-ye Qur'an Dars-e Karamat mi-dahad (Tuhan yang Maha Mulia Memberikan Pelajaran Martabat dalam Surah Pertama Al-Qur'an), Kantor Berita IBNA.
  7. Habibzadeh, Rahiminejad, Karamat-e Insani dar Qanun-e Asasi-ye Jomhuri-ye Islami-ye Iran (Martabat Manusia dalam Konstitusi Republik Islam Iran), hlm. 55.
  8. Surah Al-Isra', ayat 70.
  9. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jil. 13, hlm. 155.
  10. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jil. 1, hlm. 114.
  11. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jil. 18, hlm. 326-327.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 12, hlm. 196; Soltani, Karamat-e Insan az Negah-e Qur'an (Martabat Manusia dari Perspektif Al-Qur'an), hlm. 30.
  13. Ja'fari, Takapu-ye Andisyeh-ha (Dinamika Pemikiran), 1378 HS, hlm. 391.
  14. Jawadi Amoli, Karamat dar Qur'an (Martabat dalam Al-Qur'an), 1369 HS, hlm. 130.
  15. Ja'fari, Payam-e Kherad (Pesan Kebijaksanaan), 1377 HS, hlm. 119-123.
  16. Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jil. 2, hlm. 85.
  17. Nahj al-Balaghah, ed. Subhi Shalih, Surat 53, hlm. 427.
  18. Matn-e Qanun-e Asasi (Teks Konstitusi), 1388 HS, Pasal 2, hlm. 25.
  19. Salimi, Dars-nameh-ye Hoquq-e Basyar az Didgah-e Islam (Buku Pelajaran HAM dari Perspektif Islam), 1394 HS, hlm. 42.
  20. Salimi, Dars-nameh-ye Hoquq-e Basyar az Didgah-e Islam (Buku Pelajaran HAM dari Perspektif Islam), 1394 HS, hlm. 258.
  21. Foroughiniya dkk, Negaresyi be Mafhum-e Karamat-e Insani dar Partaw-e Andisyeh-haye Feqhi-ye Islami (Tinjauan Konsep Martabat Manusia dalam Terang Pemikiran Fikih Islam), hlm. 132.
  22. مصاحبه با آیت‌الله العظمی مکارم شیرازی (Wawancara dengan Ayatollah al-Uzhma Makarem Syirazi), Portal Imam Khomeini.
  23. Ruykardi be Hoquq-e Zanan (Pendekatan terhadap Hak-Hak Perempuan), 1397 HS, hlm. 212.
  24. Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1390 HS, jil. 19, hlm. 151.
  25. Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jil. 14, hlm. 179-180; Ibnu Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jil. 14, hlm. 130-131; Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jil. 13, hlm. 155-156.
  26. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jil. 13, hlm. 155.
  27. Salimi Zare, Qazizadeh, Karamat-e Insani dar Partaw-e Qur'an wa Riwayat (Martabat Manusia dalam Terang Al-Qur'an dan Riwayat), 1386 HS, hlm. 72-79.
  28. Surah Ar-Rahman, ayat 1-3.
  29. Surah At-Tin, ayat 4.
  30. Surah Al-Hijr, ayat 29.
  31. Surah Al-Jatsiyah, ayat 12-13.
  32. Surah Al-An'am, ayat 165.
  33. Surah Ali Imran, ayat 164.
  34. Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jil. 6, hlm. 503; Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jil. 6, hlm. 273; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jil. 2, hlm. 681.
  35. Ja'fari, Payam-e Kherad (Pesan Kebijaksanaan), 1377 HS, hlm. 107-108.
  36. Ja'fari, Payam-e Kherad (Pesan Kebijaksanaan), 1377 HS, hlm. 107.
  37. Jawadi Amoli, Sirat-e Elahi-ye Insan dar Qur'an (Citra Ilahi Manusia dalam Al-Qur'an), 1395 HS, hlm. 336; Misbah Yazdi, Insan-syenasi (Antropologi), 1393 HS, hlm. 365-366.
  38. Karamat dar Qur'an, situs Gisoom.
  39. Tarjomeh-ye Engelisi-ye Ketab-e Karamat dar Qur'an Montasyer Syod (Terjemahan Inggris Buku Martabat dalam Al-Qur'an Telah Diterbitkan), situs IRNA.
  40. Tarjomeh-ye Engelisi-ye Ketab-e Karamat dar Qur'an Montasyer Syod (Terjemahan Inggris Buku Martabat dalam Al-Qur'an Telah Diterbitkan), situs IRNA.
  41. Insan-syenasi (Ma'arif-e Qur'an 3), situs informasi karya Ayatollah Misbah Yazdi.
  42. [http://www.imam-khomeini.ir/fa/c78_64654/ Hamayesy-e Beynolmelali-ye Imam Khomeini (s) wa Qalamraw-e Din (1) Karamat-e Insan; Ushul wa Mabani-ye Karamat-e Insan/1, situs Portal Imam Khomeini.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Adzim wa al-Sab' al-Matsani. Riset oleh Ali Abdul Bari Athiyyah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ayatollah al-Uzhma Jawadi Amoli: Khoday-e Akram dar Awwalin Surah-ye Qur'an Dars-e Karamat mi-dahad. Kantor Berita IBNA, tanggal publikasi: 29 Mehr 1393 HS.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Riset oleh Muhammad Zuhair bin Nashir al-Nashir. Beirut, Dar Thauq al-Najah, cetakan pertama, 1422 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1419 H.
  • Foroughiniya, Hossein dkk. Negaresyi be Mafhum-e Karamat-e Insani dar Partaw-e Andisyeh-haye Feqhi-ye Islami (Tinjauan Konsep Martabat Manusia dalam Terang Pemikiran Fikih Islam). Jurnal Pazhuhesy-haye Hoquqi-ye Qanun-yar, nomor 5, musim semi 1398 HS.
  • Habibzadeh, Muhammad Ja'far dan Esmail Rahiminejad. Karamat-e Insani dar Qanun-e Asasi-ye Jomhuri-ye Islami-ye Iran (Martabat Manusia dalam Konstitusi Republik Islam Iran). Jurnal Modares-e Olum-e Insani, periode 11, nomor 4, musim dingin 1384 HS.
  • Ibnu Asyur, Muhammad Thahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir. Beirut, Muassasah al-Tarikh al-Arabi, 1420 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukram. Lisan al-Arab. Beirut, Dar Shadir, 1414 H.
  • Ja'fari, Muhammad Taqi. Payam-e Kherad (Pesan Kebijaksanaan). Teheran, 1377 HS.
  • Ja'fari, Muhammad Taqi. Takapu-ye Andisyeh-ha (Dinamika Pemikiran). Teheran, 1378 HS.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Karamat dar Qur'an (Martabat dalam Al-Qur'an). Teheran, Pusat Publikasi Budaya Raja', cetakan ketiga, 1369 HS.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Tafsir-e Mawdhu'i-ye Qur'an-e Karim; Sirat-e Elahi-ye Insan dar Qur'an (Citra Ilahi Manusia dalam Al-Qur'an). Qom, Pusat Publikasi Isra', jil. 14, 1395 HS.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyeh, 1371 HS.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Ma'arif-e Qur'an 3; Insan-syenasi (Antropologi). Qom, Penerbit Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1393 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Teheran, Penerbit Sadra, 1390 HS.
  • Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Qamus Qur'an. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyeh, cetakan keenam, 1412 H.
  • Ruykardi be Hoquq-e Zanan (Pendekatan terhadap Hak-Hak Perempuan). Qom, Feqh al-Tsaqalain, 1397 HS.
  • Salimi, Abdul Hakim. Dars-nameh-ye Hoquq-e Basyar az Didgah-e Islam (Buku Pelajaran HAM dari Perspektif Islam). Qom, Pusat Internasional Penerjemahan dan Publikasi Al-Mustafa saw, 1394 HS.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah. Koreksi oleh Subhi Shalih. Qom, Muassasah Dar al-Hijrah, 1414 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, cetakan ketiga, 1393 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, cetakan pertama, 1415 H.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf. Koreksi oleh Mustafa Husain Ahmad. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H.