Lompat ke isi

Konsep:Libas Syu'rah

Dari wikishia

Templat:Hukum Templat:Artikel Deskriptif Fikih Libas Syu'rah (Pakaian Syu'rah) adalah pakaian yang pemakaiannya menyebabkan seseorang menjadi pusat perhatian atau mencolok di tengah masyarakat. Menurut sekelompok fakih, mengenakan Libas Syu'rah adalah Haram, sementara menurut sebagian lainnya adalah Makruh. Dengan asumsi bahwa mengenakan Libas Syu'rah adalah haram atau kemungkinan adanya keharaman dalam kondisi normal, mayoritas fakih menganggap melakukan salat dengannya adalah sah (valid), sedangkan sebagian lainnya menganggapnya batal.

Mengenai tercelanya mengenakan Libas Syu'rah, telah diriwayatkan banyak hadis dari Ahlulbait (as); di antaranya menurut hadis dari Imam Husain (as), barangsiapa yang mengenakan Libas Syu'rah di dunia, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya di hari kiamat.

Dikatakan bahwa pada pertengahan abad ke-5 Hijriah, Libas Syu'rah dan kemakruhannya lebih banyak menarik perhatian para ulama dari berbagai mazhab termasuk Imamiyah, Hambali, dan Syafi'i di wilayah Khurasan dan Irak.

Kedudukan dan Sejarah

Mengenakan Libas Syu'rah dikecam dalam sumber-sumber hadis, tafsir, dan fikih. Thabrasi dalam kitab Jawami' al-Jami' dan Banu Amin dalam kitab Makhzan al-Irfan, dalam menafsirkan frasa "wa-ttaba'u al-syahawat" dari Ayat 59 Surah Maryam, menganggap pengikut syahwat adalah kelompok yang salah satu tindakannya adalah mengenakan Libas Syu'rah.[1] Kecaman terhadap pemakaian Libas Syu'rah juga terdapat dalam riwayat-riwayat mustafidh dari Ahlulbait (as) yang dijadikan sandaran oleh para fakih dalam menjelaskan hukum-hukum Libas Syu'rah.[2] Berdasarkan hadis dari Imam Husain (as), barangsiapa mengenakan Libas Syu'rah di dunia, Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya di hari kiamat[3] dan menurut riwayat dari Imam Shadiq (as), Allah membenci kemasyhuran (syu'rah) yang timbul dari pakaian.[4]

Menurut laporan Ahmad Pakatchi dalam Ensiklopedi Islam Terkemuka, pada pertengahan abad ke-5 Hijriah, Libas Syu'rah dan kemakruhannya mulai diperhatikan oleh para fakih, dan perhatian serentak dari para ulama berbagai mazhab mulai dari Imamiyah, Hambali, hingga Syafi'i di wilayah Khurasan dan Irak menunjukkan bahwa masalah ini menjadi akut pada masa itu.[5] Menurutnya, dari abad ke-6 hingga ke-9 Hijriah, kemakruhan Libas Syu'rah jarang disebutkan dan hanya muncul di beberapa buku akhlak seperti Makarem al-Akhlaq karya Hasan bin Fadhl Thabrasi. Pertama kali Ibnu Raslan, seorang fakih Syafi'i, dalam syarah bab "Libas Syu'rah" dari kitab Sunan Abu Dawud dengan bersandar pada hadis-hadis, menghukumi haramnya mengenakan Libas Syu'rah.[6] Beberapa ulama pada abad ke-11 dan 12 Hijriah mengangkat tema Libas Syu'rah dan hukum makruh-nya dalam karya-karya fikih dan hadis; namun dalam seabad terakhir, perhatian terhadap hal ini semakin meningkat.[7]

Terminologi

Libas Syu'rah didefinisikan sebagai penutup (pakaian) yang mencolok yang menyebabkan seseorang terpisah dari orang lain dan menarik perhatian mereka.[8] Sekelompok fakih memperkenalkan pakaian yang pemakaiannya dikarenakan jenis kain, warna, atau jahitannya sehingga menyebabkan ketenaran, menjadi pusat perhatian, dan membedakan orang tersebut dari orang lain di tengah masyarakat sebagai Libas Syu'rah.[9]

Beberapa marja taklid Syiah seperti Sayyid Abdul Hadi Syirazi, Sayyid Abu al-Qasim Khui, dan Sistani juga mengaitkan hukum keharaman pakaian ini dengan penghinaan dan kehinaan pemakainya.[10] Menurut pandangan Makarem Syirazi, pakaian ini adalah pakaian yang memiliki aspek riya (pamer) di mana seseorang ingin menjadi masyhur dalam hal kezuhudan dan kesalehan seperti para peniru zuhud dan kaum Sufi.[11]

Dalam beberapa riwayat, selain Libas Syu'rah, juga diisyaratkan mengenai kendaraan yang penunggangannya menyebabkan ketenaran (syu'rah) dan dianggap sebagai sumber kehinaan (khizy - kehinaan dan kerendahan manusia).[12] Dari beberapa ungkapan para fakih dapat dipahami bahwa instansi Libas Syu'rah bersifat relatif, artinya ada jenis pakaian yang pada suatu waktu bukan saja bukan syu'rah melainkan sunah, namun pada waktu lain dianggap sebagai instansi Libas Syu'rah; seperti "Tahannuk" (meletakkan sebagian imamah di bawah dagu) di mana dari riwayat dipahami kesunahannya dalam setiap keadaan baik dalam salat maupun di luar salat, namun saat ini karena telah ditinggalkan, maka melakukannya merupakan instansi syu'rah (mencolok).[13] Shahibul Jawahir setelah menukil ungkapan Faidh Kasyani dalam Mafatih al-Syarayi' berkata bahwa perbuatan yang tadinya sunah tersebut menjadi haram karena telah menjadi instansi Libas Syu'rah.[14] Mengenakan pakaian militer oleh seorang rohaniwan dan sebaliknya juga termasuk instansi Libas Syu'rah,[15] yang hukumnya berubah pada waktu yang berbeda. Imam Khomeini pada masa Perang Iran-Irak menganggap perkataan bahwa pakaian tentara adalah haram dan Libas Syu'rah sebagai salah satu instansi dari penyimpangan.[16]

Hukum-Hukum

Buku Mode dan Libas Syu'rah

Dalam fikih Islam, telah dibahas mengenai hukum mengenakan Libas Syu'rah dan melakukan salat dengannya;

Hukum Mengenakan Libas Syu'rah

Hasan bin Fadhl Thabrasi, Muhammad Taqi Majlisi, dan Shahibul Wasail menganggap mengenakan Libas Syu'rah adalah Makruh.[17] Dari sudut pandang sekelompok fakih seperti Sayyid Abu al-Qasim Khui, Sayyid Muhammad Ridha Gulpaigani, Sayyid Ali Sistani, dan Jawad Tabrizi, mengenakan Libas Syu'rah adalah Haram.[18] Menurut pandangan para fakih seperti Imam Khomeini, Fadhil Lankarani, Nuri Hamadani, dan Makarem Syirazi, berdasarkan ikhtiyat wajib seseorang harus menahan diri dari mengenakan Libas Syu'rah.[19]

Salat dengan Libas Syu'rah

Dengan asumsi haramnya mengenakan Libas Syu'rah atau kemungkinan haramnya dalam kondisi normal, terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum melakukan salat dengannya. Mayoritas fakih seperti Imam Khomeini, Sistani, dan Makarem Syirazi menganggap salat dengan Libas Syu'rah adalah sah,[20] sementara sebagian lainnya menganggap salat dengannya tidak sah.[21] Beberapa orang seperti Abu al-Qasim Khui dan Tabrizi mengatakan bahwa jika hal itu menyebabkan penghinaan dan bagian tubuh yang wajib ditutup dalam salat hanya tertutup dengan pakaian seperti itu, maka salat dengannya batal.[22]

Monograf

Buku Mod wa Libas-e Syuhrat az Manzhar-e Fiqh (Mode dan Pakaian Syu'rah dari Perspektif Fikih) karya Sayyid Mushthafa Sajjadi telah diterbitkan pada tahun 1398 HS. Buku ini terdiri dari empat bagian dalam 160 halaman yang membahas penelitian fikih mengenai Libas Syu'rah.[23]

Catatan Kaki

  1. Thabrasi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 2, hlm. 401; Banu Amin, Makhzan al-Irfan, 1361 HS, jld. 8, hlm. 132.
  2. Huseini Amili, Miftah al-Karamah, 1419 H, jld. 12, hlm. 198; Majlisi, Raudhah al-Muttaqin, 1406 H, jld. 2, hlm. 163.
  3. Kulaini, Al-Kafi, 1429 H, jld. 13, hlm. 25.
  4. Kulaini, Al-Kafi, 1429 H, jld. 13, hlm. 24.
  5. Pakatchi, "Pakaian dalam Ajaran Agama Islam", hlm. 45.
  6. Pakatchi, "Pakaian dalam Ajaran Agama Islam", hlm. 46.
  7. Pakatchi, "Pakaian dalam Ajaran Agama Islam", hlm. 46.
  8. Rahbar, "Libas Syu'rah", hlm. 197.
  9. Majlisi, Raudhah al-Muttaqin, 1406 H, jld. 2, hlm. 163; Khomeini, Taudhih al-Masail (Mahasya), 1424 H, jld. 1, hlm. 466-467.
  10. Thabathabai Yazdi, Urwah al-Wutsqa (Mahasya), 1419 H, jld. 2, hlm. 351; Khomeini, Taudhih al-Masail (Mahasya), 1424 H, jld. 1, hlm. 467; Sistani, Taudhih al-Masail, 1415 H, bagian Pakaian Orang yang Salat, masalah 853.
  11. Thabathabai Yazdi, Al-Urwah al-Wutsqa ma'a al-Ta'liqat, 1428 H, jld. 1, hlm. 467; Makarem Syirazi, Taudhih al-Masail, 1429 H, bagian Syarat Pakaian Orang yang Salat, masalah 770.
  12. Amili, Wasail al-Syiah, Penerbit Muassasah Alulbait as li-Ihya al-Turats Qom, jld. 3, hlm. 354.
  13. Al-Faidh al-Kasyani, Mafatih al-Syarayi', jld. 1, hlm. 111.
  14. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 8, hlm. 253.
  15. Yazdi Thabathabai, Al-Urwah al-Wutsqa, 1419 H, jld. 2, hlm. 351.
  16. Shahifeh Nur, jld. 20, hlm. 117.
  17. Thabrasi, Makarem al-Akhlaq, 1370 HS, hlm. 116; Majlisi, Raudhah al-Muttaqin, 1406 H, jld. 2, hlm. 163; Syaikh Hurr al-Amili, Al-Fushul al-Muhimmah, 1376 HS, jld. 3, hlm. 309.
  18. Gulpaigani, Taudhih al-Masail, 1413 H, bagian Pakaian Orang yang Salat, masalah 853; Khomeini, Taudhih al-Masail (Mahasya), 1424 H, jld. 1, hlm. 467; Sistani, Taudhih al-Masail, 1415 H, bagian Pakaian Orang yang Salat, masalah 853.
  19. Khomeini, Taudhih al-Masail (Mahasya), 1424 H, jld. 1, hlm. 466-467; Fadhil Lankarani, Taudhih al-Masail, 1426 H, bagian Pakaian Orang yang Salat, masalah 213; Makarem Syirazi, Taudhih al-Masail, 1429 H, bagian Syarat Pakaian Orang yang Salat, masalah 770.
  20. Thabathabai Yazdi, Urwah al-Wutsqa (Mahasya), 1419 H, jld. 2, hlm. 351-352; Khomeini, Taudhih al-Masail (Mahasya), 1424 H, jld. 1, hlm. 466-467; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 8, hlm. 147.
  21. Kasyif al-Ghitha, Kasyf al-Ghitha, 1422 H, jld. 3, hlm. 27.
  22. Khomeini, Taudhih al-Masail (Mahasya), 1424 H, jld. 1, hlm. 467.
  23. Sajjadi, Mod wa Libas Syuhrat az Manzhar Fiqh, "Halaman awal buku dari situs Khaneh Ketab".

Daftar Pustaka

  • Amili, Muhammad bin Hasan bin Hurr. Wasail al-Syiah. Qom, Penerbit Muassasah Alulbait as li-Ihya al-Turats.
  • Banu Amin, Sayyidah Nusrat. Makhzan al-Irfan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nahdhat-e Zanan-e Mosalman, 1361 HS.
  • Gulpaigani, Sayyid Muhammad Ridha. Taudhih al-Masail. Qom, Penerbit Dar al-Qur'an al-Karim, cetakan ketujuh puluh tiga, 1413 H.
  • Huseini Amili, Sayyid Jawad bin Muhammad. Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-Allamah. Peneliti: Muhammad Baqir Khalisi. Qom, Kantor Publikasi Islam, 1419 H.
  • Kasyif al-Ghitha, Ja'far bin Khidhir Maliki. Kasyf al-Ghitha 'an Mubhamat al-Syari'ah al-Gharra. Qom, Penerbit Kantor Dakwah Islam, cetakan pertama, 1422 H.
  • Khomeini, Sayyid Ruhullah. Taudhih al-Masail (Mahasya). Peneliti: Sayyid Muhammad Husain Bani Hashemi. Qom, Kantor Publikasi Islam, cetakan kedelapan, 1424 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Qom, Penerbit Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1429 H.
  • Majlisi, Muhammad Taqi. Raudhah al-Muttaqin fi Syarh Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Peneliti: Husain Musawi Kirmani dan Ali Panah Esytehardi. Qom, Lembaga Kushanpur, 1406 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Taudhih al-Masail. Qom, Penerbit Madrasah Ali bin Abi Thalib (as), cetakan kelima puluh dua, 1429 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam. Peneliti: Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1404 H.
  • Pakatchi, "Pakaian dalam Ajaran Agama Islam", dalam Dairatul Ma'arif Buzurg Islami, jld. 14. Pusat Ensiklopedia Islam Terkemuka, Teheran, 1385 HS.
  • Rahbar, Mahdi. "Libas Syu'rah", dalam triwulanan Rahnamun, tahun ketujuh, nomor satu dan dua, musim dingin dan musim semi 1387-88 HS.
  • Sajjadi, Sayyid Mushthafa. Mod wa Libas Syuhrat az Manzhar Fiqh, "Halaman awal buku dari situs Khaneh Ketab", tanggal akses: 24 Tir 1402 HS.
  • Sistani, Sayyid Ali. Taudhih al-Masail. Qom, Penerbit Mehr, 1415 H.
  • Syaikh Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah. Peneliti: Muhammad Qa'ini. Qom, Lembaga Pengetahuan Islam Imam Ridha (as), 1376 HS.
  • Thabathabai Yazdi, Sayyid Muhammad Kazim. Al-Urwah al-Wutsqa ma'a al-Ta'liqat. Qom, Penerbit Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1428 H.
  • Thabathabai Yazdi, Sayyid Muhammad Kazim. Urwah al-Wutsqa (Mahasya). Peneliti: Ahmad Mohseni Sabzevari. Qom, Kantor Publikasi Islam, cetakan pertama, 1419 H.
  • Thabrasi, Hasan bin Fadhl. Makarem al-Akhlaq. Qom, Syarif Radhi, 1370 HS.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Teheran, Penerbit Universitas Teheran, cetakan pertama, 1377 HS.