Konsep:Keaslian Al-Qur'an
| Ma'rifatullah | |
|---|---|
| Tauhid | Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah |
| Furu' | Tawasul • Syafa'at • Tabarruk • |
| Keadilan Ilahi | |
| Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amrun bainal Amrain • | |
| Kenabian | |
| Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran | |
| Imamah | |
| Keyakinan-keyakinan | Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah |
| Para Imam | |
| Ma'ad | |
| Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirath • Tathayur al-Kutub • Mizan • Akhirat | |
| Permasalahan Terkemuka | |
| Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja' Taklid | |
Keaslian Al-Qur'an merupakan salah satu keyakinan bersama umat Muslim, yang bermakna bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan secara langsung kepada Nabi Islam (saw) dan isinya tidak diambil dari buku, tulisan, atau karya lain apa pun. Berdasarkan hal ini, Al-Qur'an saat ini adalah teks yang sama persis dengan yang diturunkan pada masa Nabi (saw) dan tidak mengalami pengurangan maupun penambahan sedikit pun.
Al-Qur'an merupakan sumber utama agama Islam, dan karakteristik inilah yang menjadikan urgensi pengkajian serta verifikasi keasliannya semakin penting. Untuk membuktikan keaslian Al-Qur'an, dikemukakan beberapa alasan seperti ke-ummi-an Nabi (saw), tahaddi Al-Qur'an, koherensi dan keselarasan internal Al-Qur'an, serta kabar gembira dari para nabi terdahulu. Dalam riwayat-riwayat yang dinukil dari para Imam Syiah, ditekankan mengenai karakteristik Ilahi dan sifat wahyu dari Al-Qur'an. Selain itu, para Imam juga telah memberikan jawaban atas keberatan-keberatan terkait Al-Qur'an dan perbedaan-perbedaannya.
Para penentang keaslian Al-Qur'an yang mayoritasnya adalah orientalis non-muslim, bersandar pada beberapa alasan seperti kejeniusan Nabi (saw), kesamaan Al-Qur'an dengan kitab-kitab agama terdahulu, pengaruh lingkungan budaya dan sosial zaman Nabi (saw) terhadap Al-Qur'an, perbedaan dan kontradiksi internal Al-Qur'an, serta perbedaan Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan manusia untuk membuktikan klaim mereka.
Para ilmuwan Muslim, khususnya Syiah, telah menyusun banyak karya dalam menanggapi klaim para orientalis mengenai sifat non-Ilahi dan sifat kutipan (adaptasi) Al-Qur'an, yang di antaranya yang paling penting adalah buku Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim karya Mohammad Hadi Ma'rifat.
Urgensi dan Kedudukan
Menurut para peneliti, urgensi pengkajian keaslian Al-Qur'an menjadi penting karena sebagian pihak mengingkari sifat Ilahi Al-Qur'an dan menganggapnya sebagai buatan manusia. [1] Oleh karena itu, jika keterjagaan Al-Qur'an dari distorsi tidak terbukti, maka argumentasi berdasarkan ayat-ayatnya akan diragukan, karena ada kemungkinan makna yang dimaksudkan oleh Allah telah berubah. [2] Al-Qur'an sebagai sumber utama agama, iman, dan pemikiran umat Muslim, menjadikan pengenalannya sebagai suatu keniscayaan. [3]
Umat Muslim meyakini bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini adalah firman Allah yang sama yang diturunkan kepada Nabi Islam (saw) selama masa kenabian dan kerasulannya serta tidak mengalami perubahan apa pun. [4] Keyakinan ini bersandar pada tiga prinsip: [5]
- Tiadanya Distorsi: Al-Qur'an saat ini adalah Al-Qur'an yang sama yang diturunkan kepada Nabi (saw) dan tidak terjadi perubahan dalam lafal-lafalnya. [6] Ulama Syiah berkeyakinan bahwa tidak ada yang ditambahkan ke dalam Al-Qur'an dan masalah ini merupakan hasil ijmak. [7] Bahkan sebagian meyakini bahwa terjaganya Al-Qur'an dari distorsi telah disepakati oleh seluruh umat Muslim dan bahkan para ilmuwan non-muslim. [8] Tentu saja, terdapat perbedaan pendapat mengenai rincian seperti perubahan harakat atau beberapa kata. [9]
- Bukan Merupakan Kutipan: Al-Qur'an adalah karya yang baru dan independen, serta tidak ada materi dari karya-karya sebelumnya di dalamnya. [10]
- Sifat Wahyu: Al-Qur'an adalah firman Allah dan bukan ucapan Nabi Islam (saw). [11]
Hubungan Keaslian dan Mukjizat Al-Qur'an
Mukjizat adalah perkara luar biasa yang muncul dari orang yang mengklaim kenabian atas kehendak Allah swt dan merupakan tanda kejujuran klaimnya. [12] Berdasarkan hal ini, salah satu syarat Al-Qur'an sebagai mukjizat adalah sifat Ilahinya; dalam arti bahwa ia datang dari sisi Allah dan bukan hasil kerja manusia. [13]
Argumen Pembuktian Keaslian Al-Qur'an
Keyakinan pada sifat Ilahi dan wahyu dari Al-Qur'an merupakan keyakinan umum di kalangan umat Muslim. [14] Berdasarkan sebuah riwayat, Imam Shadiq (as) demi membuktikan sifat Ilahi Al-Qur'an merujuk pada Surah Fussilat ayat 42 bahwa kebatilan tidak dapat masuk ke dalam Al-Qur'an dari arah mana pun dan ia diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana. [15] Untuk membuktikan keaslian Al-Qur'an, beberapa argumen telah dikemukakan yang sebagian di antaranya disebutkan di bawah ini:
Ke-ummi-an Nabi (saw)
Status ummi dan tidak pernah belajar dari Nabi (saw) merupakan salah satu alasan dalam mengonfirmasi keaslian Al-Qur'an. [16] Berdasarkan karakteristik ini, Nabi (saw) adalah sosok yang tidak belajar baca-tulis dan tidak tercatat dalam sejarah bahwa beliau pernah belajar kepada siapa pun untuk mempelajari sastra maupun teks ilmiah. [17] Dalam konteks ini dikatakan bahwa sosok seperti itu pada usia empat puluh tahun mulai mengucapkan kata-kata yang para sastrawan Arab pun tidak mampu menandinginya. [18] Dalam banyak ayat Al-Qur'an seperti Surah Al-Ankabut ayat 48, Surah Yunus ayat 16, Surah Al-A'raf ayat 157 dan 158, serta Surah Al-Furqan ayat 5, argumen mengenai sifat Ilahi Al-Qur'an ini telah diisyaratkan. [19]
Tahaddi Al-Qur'an
Templat:Utama Tahaddi Al-Qur'an dinyatakan sebagai salah satu argumen rasional Al-Qur'an untuk membuktikan sifat wahyunya. [20] Tahaddi berarti Al-Qur'an menantang pihak lain untuk menandinginya jika mereka mengklaim bahwa Al-Qur'an bukan dari Allah dan merupakan karya Nabi (saw), maka buatlah yang semisal Al-Qur'an ini. [21] Dalam tiga ayat dari ayat-ayat tahaddi, para pengingkar sifat Ilahi Al-Qur'an diajak untuk mendatangkan yang semisal dengannya, [22] dalam satu ayat diminta untuk mendatangkan sepuluh surah semisal Al-Qur'an [23] dan dalam dua ayat lainnya, ditantang untuk mendatangkan satu surah semisal Al-Qur'an. [24]
Koherensi dan Keselarasan Internal Al-Qur'an
Salah satu alasan sifat Ilahi Al-Qur'an adalah adanya koherensi dan keselarasan dalam ayat-ayat Al-Qur'an. [25] Para pengaju argumen menganggap adanya karakteristik seperti perkembangan, pengaruh dari lingkungan, sifat salah, serta perbedaan bakat pada manusia tidak selaras dengan karakteristik keselarasan dan koherensi dalam penyampaian serta isi ayat-ayat Al-Qur'an, di mana hal ini mengonfirmasi sifat Ilahi Al-Qur'an. [26] Dikatakan bahwa Al-Qur'an juga bersandar pada alasan ini dalam Surah An-Nisa ayat 82. Templat:Catatan [27]
Kabar Gembira Para Nabi Terdahulu atas Turunnya Al-Qur'an
Menurut Mohammad Hadi Ma'rifat, mufasir Syiah, Al-Qur'an demi membuktikan sifat Ilahinya bersandar pada konfirmasi dan kabar gembira dari para nabi serta kitab-kitab samawi sebelumnya mengenai turunnya Al-Qur'an. [28] Ayat-ayat seperti Surah Asy-Syu'ara ayat 196 dan Surah Ash-Shaff ayat 6 mengisyaratkan hal tersebut. [29]
Kesaksian Al-Qur'an atas Sifat Wahyu Dirinya Sendiri
Menurut Mohammad Hadi Ma'rifat, dalam beberapa ayat Al-Qur'an [30] telah ditegaskan mengenai sifat wahyu dan sifat Ilahi Al-Qur'an, dan ini merupakan dalil atas keaslian Al-Qur'an; [31] namun demikian, Mohammad Taqi Misbah Yazdi, dengan mengisyaratkan bahwa bagi para pengingkar sifat Ilahi Al-Qur'an tidak bisa bersandar pada Al-Qur'an itu sendiri, tidak menganggap argumen ini tepat. [32]
Argumen Penafian Keaslian Al-Qur'an
Keraguan terhadap sifat Ilahi Al-Qur'an telah ada sejak masa penurunannya. [33] Dalam banyak ayat Al-Qur'an, disebutkan bahwa para pengingkar Nabi menyebut beliau sebagai penyair, pendusta, dan orang gila, [34] serta dalam beberapa ayat, diisyaratkan mengenai Nabi (saw) yang dipanggil sebagai tukang sihir. [35]
Dalam ayat-ayat Al-Qur'an lainnya, tuduhan perdukunan terhadap Nabi (saw) ditolak, [36] yang mana hal itu bermakna hubungan dengan jin untuk mendapatkan berita gaib. [37] Selain itu, Al-Qur'an disebut sebagai ucapan manusia yang disampaikan Nabi (saw) dengan bantuan orang lain dan dongeng-dongeng orang terdahulu. [38]
Disebutkan bahwa mayoritas penentang keaslian Al-Qur'an yang mempermasalahkan sifat non-wahyu dan non-Ilahinya adalah para orientalis non-muslim. [39] Untuk membuktikan ketiadaan keaslian Al-Qur'an, mereka bersandar pada beberapa alasan yang di antaranya sebagai berikut:
Kejeniusan Nabi (saw)
Berdasarkan argumen ini, para nabi termasuk dalam jajaran orang jenius sosial dan dalam rangka reformasi sosial mereka melakukan penyajian sebuah mekanisme dengan nama agama. [40] Murtadha Mutahhari menisbatkan pandangan ini kepada Syekh Ahmad Khan Hindi (w. 1898 M), seorang pembaru agama. [41] Syekh Ahmad Khan menganggap hakikat wahyu adalah ungkapan internal dari hakikat yang dirasakan Nabi dalam hubungannya dengan Allah. [42] Berdasarkan keyakinannya, Nabi tidak memiliki perbedaan dengan orang lain, melainkan memiliki kekuatan akal yang lebih tinggi sehingga mampu menyingkap hakikat-hakikat tersebut. [43] Berdasarkan pandangan ini, malaikat wahyu adalah nurani Nabi itu sendiri yang merasakan hakikat. [44]
Sayid Mohammad Husain Thabathaba'i dalam mengkritik pandangan ini, menganggap teori tersebut bertentangan dengan hakikat kenabian dan keniscayaan rasionalnya. [45] Selain itu, para nabi sendiri secara eksplisit menegaskan sifat wahyu dan sumber Ilahi dari ajaran-ajaran ini, dan beberapa kasus mengenainya juga terdapat dalam Al-Qur'an. [46]
Kesamaan Al-Qur'an dan Kitab-Kitab Sebelumnya
Sejumlah pakar Islam non-muslim (orientalis) demi membuktikan bahwa Al-Qur'an diambil dari kitab-kitab dan teks-teks sebelumnya, bersandar pada elemen-elemen yang sama antara Al-Qur'an dan kitab-kitab terdahulu. [47] Sebagai contoh, Ignaz Goldziher (w. 1921 M), pakar Islam Yahudi, dengan melakukan kajian komparatif antara hukum serta akidah Islam dan Yahudi, Kristen, serta Zoroaster, menganggap Al-Qur'an sebagai sebuah kumpulan yang diambil dari ajaran agama-agama tersebut. [48] Theodor Nöldeke (w. 1930 M), orientalis Jerman, meyakini bahwa Muhammad (saw) mengambil mayoritas ajarannya dari orang-orang Kristen yang berkarakter Yahudi. [49] William Tisdall (w. 1928 M) juga dengan menyebutkan kemiripan dalam ritual Islam dan Shabi'un, seperti Salat dan Puasa, menganggap ajaran mereka sebagai salah satu sumber Al-Qur'an. [50] Banyak buku dan penelitian telah disusun oleh para orientalis pada abad-abad terakhir untuk membuktikan klaim ini. [51]
Dalam mengkritik teori ini, Mohammad Hadi Ma'rifat dengan melakukan kajian komparatif terhadap isi dan aspek lahiriah Al-Qur'an dengan kitab-kitab terdahulu, menjelaskan bahwa kitab-kitab tersebut tidak mungkin menjadi sumber Al-Qur'an. [52] Perbandingan ini dilakukan dalam kajian komparatif antara Al-Qur'an dengan Taurat dan Injil dalam pembahasan sifat-sifat Allah, kedudukan manusia serta kehormatan dan martabat para nabi, serta kisah-kisah yang berkaitan dengan para nabi. [53]
Terpengaruhnya Al-Qur'an oleh Karakteristik Budaya dan Sosial Zaman
Theodor Nöldeke menganggap budaya yang mendominasi masyarakat Arab merupakan salah satu hal yang berpengaruh pada ajaran Nabi Muhammad (saw); termasuk kepercayaan pada Jin, ritual haji, dan beberapa kisah. [54] Diklaim bahwa saat ini jika seorang nabi muncul di tengah masyarakat, ia tidak akan mengucapkan satu pun perkataan yang diucapkan para nabi terdahulu mengenai penciptaan dan eksistensi, melainkan akan berbicara berdasarkan temuan ilmiah saat ini. [55] Beberapa orientalis seperti William Tisdall, Louis Cheikho (1859-1927 M), dan Aloys Sprenger (1813-1893 M) menganggap Al-Qur'an diambil dari karya puisi Arab karena adanya rima dan sajak. [56]
Mohammad Hadi Ma'rifat dengan meneliti kasus-kasus yang dikemukakan sebagai pengaruh lingkungan dan masyarakat dalam Al-Qur'an, menjelaskan bahwa Al-Qur'an berlawanan dengan klaim tersebut, justru menghapuskan banyak tradisi jahiliah yang salah pada saat penurunannya dan dalam berbagai masalah ia mengemukakan perintah serta hukum yang bertentangan dengan budaya yang lazim pada masa itu. [57]
Perbedaan dan Kontradiksi dalam Teks Al-Qur'an
Salah satu argumen yang dikemukakan melawan sifat Ilahi Al-Qur'an adalah klaim adanya kontradiksi dalam ayat-ayatnya yang disimpulkan oleh sebagian orang melalui perbandingan lahiriah berbagai ayat. [58] Dalam menjawab klaim ini, para pakar ilmu Al-Qur'an seperti Badruddin al-Zarkasyi menyebutkan lima sumber utama bagi ilusi kontradiksi ini: [59] 1. Perbedaan keadaan dan perubahan pada sesuatu yang dikabarkan, seperti berbagai tahapan penciptaan Adam. [60] 2. Perbedaan subjek, seperti tidak bicaranya Allah dengan orang kafir karena kasih sayang namun berbicara karena pertanyaan dan pertanggungjawaban. [61] 3. Perbedaan dalam sisi dan aspek yang berbeda dari suatu perbuatan, seperti menisbatkan perbuatan kepada manusia dari satu sisi dan menafikannya dari manusia dari sisi lain. [62] 4. Perbedaan dalam hakikat dan majas, seperti menisbatkan dan menafikan kemabukan pada manusia di hari kiamat. [63] 5. Perbedaan dalam aspek dan kredibilitas, seperti ketenangan hati kaum mukmin karena mengingat Allah serta kegelisahan dan rasa takut mereka saat mengingat Allah karena rasa takut (khasyyah) dan ketakwaan. [64] Mohammad Hadi Ma'rifat juga telah menjawab syubhat-syubhat ini dengan meneliti kasus-kasus yang diklaim. [65] Selain itu, dalam beberapa riwayat yang dinukil dari para Imam Syiah, beberapa perbedaan yang diklaim ini juga telah dikaji:
- Syekh Saduq menukil sebuah riwayat bahwa seorang pria karena melihat ayat-ayat yang secara lahiriah kontradiktif dalam Al-Qur'an, pergi menemui Imam Ali (as) dan menyampaikan keraguannya. [66] Sayyidina Ali (as) dengan menjelaskan secara detail setiap ayat serta menyebutkan sisi dan kredibilitas penurunannya, menunjukkan bahwa tidak ada kontradiksi dalam Al-Qur'an dan setiap ayat merujuk pada konteks serta maksud tertentu. [67] Ahmad bin Ali al-Thabarsi dalam al-Ihtijaj menukil sebuah riwayat bahwa sekelompok zenadiqe mendatangi Imam Ali (as) dan menjadikan penghapusan kontradiksi lahiriah Al-Qur'an sebagai syarat keislaman mereka. [68] Mereka memeluk Islam setelah mendengar jawaban-jawaban dari Sayyidina Ali (as). [69]
- Ibnu Syahrasyub dalam kitab al-Manaqib menukil bahwa Abu Ishaq al-Kindi, filsuf Islam yang sezaman dengan Imam Hasan al-Askari (as), sedang menyusun buku mengenai kontradiksi-kontradiksi Al-Qur'an. [70] Imam kesebelas Syiah tersebut, melalui salah satu muridnya menyadarkan al-Kindi bahwa pemahamannya terhadap ayat-ayat Al-Qur'an mungkin tidak tepat dan apa yang ia sangka sebagai kontradiksi bersumber dari pemahamannya yang kurang memadai. [71] Al-Kindi karena terpengaruh oleh beliau, membatalkan niatnya untuk melanjutkan penulisan buku tersebut dan membakar tulisan-tulisannya sebelumnya. [72]
Perbedaan Al-Qur'an dengan Ilmu, Sejarah, dan Sastra
Berdasarkan argumen ini, dalam Al-Qur'an terlihat perbedaan dengan ilmu-ilmu lain termasuk ilmu empiris, sejarah, dan sastra yang menunjukkan sifat non-aslinya Al-Qur'an. [73] Para pengaju argumen menyebutkan beberapa contoh; di antaranya sifat berpasangan pada semua makhluk, langit yang tujuh, pengkajian kasus-kasus sejarah Yahudi, dan penggunaan kata ganti yang tidak tepat. [74]
Perbedaan yang diklaim antara Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan juga telah dikaji dan dikritik. [75]
Bibliografi Keaslian Al-Qur'an

]]
Ilmuwan Muslim telah menyusun berbagai karya dalam menanggapi klaim-klaim ini. [76]
- Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim [77] karya Mohammad Hadi Ma'rifat. [78] Penulis buku ini dengan memilah keberatan-keberatan yang dikemukakan mengenai Al-Qur'an, memberikan jawaban dalam 5 bagian. [79]
- Mostasyriqan wa Qur'an (Para Orientalis dan Al-Qur'an), Mohammad Hasan Zamani. [80]
- Qur'an wa Mostasyriqan (Al-Qur'an dan Para Orientalis), Mohammad Kazim Syakir. [81]
- I'jaz-e Qur'an az Didgah-e Mostasyriqan (Mukjizat Al-Qur'an dari Sudut Pandang Para Orientalis), Rais A'dzam Syahed. [82]
- Qur'an az Soy-e Mostasyriqan: Naqd-e Tahlili-ye Syobahat-e Warede dar Tahrif (Al-Qur'an dari Sisi Para Orientalis: Kritik Analitis Syubhat yang Masuk dalam Distorsi), Farzad Dehqani dan Hesam Emami Danaloo. [83]
- Mostasyriqan wa Qur'an (Naqd-e Mabani-ye Yusef Doreh Haddad Masihi dar Enkar-e Wahyaniyat-e Qur'an Karim) (Para Orientalis dan Al-Qur'an (Kritik Dasar-Dasar Yousef Dorra Haddad Kristen dalam Mengingkari Sifat Wahyu Al-Qur'an Karim)), Alireza Haidari. [84]
- Siyanat-e Qur'an Karim (Naqd-e Syobahat-e Barkhi az Mostasyriqan) (Penjagaan Al-Qur'an Karim (Kritik Syubhat Sebagian Orientalis)), Ali Karim-pur Qaramaleki. [85]
- Mostasyriqan wa Wahy: Naqd-e Didgah-e Mostasyriqan Nesbat be Wahy-e Elahi-ye Qur'ani (Para Orientalis dan Wahyu: Kritik Pandangan Para Orientalis terhadap Wahyu Ilahi Qur'ani), Fatemeh Qanbari Safari Koochi. [86]
- Mostasyriqan wa Tarikh-gozari-ye Qur'an (Para Orientalis dan Penentuan Penanggalan Al-Qur'an), Mohammad Javad Eskandarloo. [87]
- Ara' al-Mustasyriqin hawl al-Qur'an al-Karim wa Tafsiruhu, Umar Ridwan. [88]
- Rasm al-Mushaf al-Utsmani wa Awham al-Mustasyriqin fi Qira'at al-Qur'an al-Karim, Abdul Fattah Ismail Syalabi. [89]
- al-Mustasyriqun wa al-Dirasat al-Qur'aniyyah, Mohammad Husain Ali Shaghir. [90]
- al-Qira'at fi Nadzhar al-Mustasyriqin wa al-Mulhidin, Abdul Fattah Abdul Ghani Qadhi. [91]
- Syobahat hawl al-Qur'an wa Tafniduha, Ghazi Enayah. [92]
Catatan Kaki
- ↑ Enayah, Syobahat hawl al-Qur'an wa Tafniduha, Beirut, hlm. 9-20.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 191.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar-e Ostad Syahid Mutahhari, 1384 HS, jld. 26, hlm. 25-26.
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1378 HS, hlm. 320.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar-e Ostad Syahid Mutahhari, 1384 HS, jld. 26, hlm. 32.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar-e Ostad Syahid Mutahhari, 1384 HS, jld. 26, hlm. 32; Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 192-193.
- ↑ Khoe'i, al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1418 H, hlm. 200.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 193.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 193.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar-e Ostad Syahid Mutahhari, 1384 HS, jld. 26, hlm. 32.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar-e Ostad Syahid Mutahhari, 1384 HS, jld. 26, hlm. 32.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Aqa'id, 1398 HS, hlm. 262.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 123.
- ↑ Rezai Isfahani dan Parvan, "Defa'-e Danesymandan-e Syiah az Qur'an dar Barabar-e Syobhe-ye Eqtebas", hlm. 66.
- ↑ Ibnu Babawayh, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 224.
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1378 HS, hlm. 131; Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 159.
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1378 HS, hlm. 131-133.
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1378 HS, hlm. 131-133.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 159-163.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 109.
- ↑ Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Qur'an, 1388 HS, jld. 4, hlm. 30.
- ↑ Surah At-Tur, ayat 34; Surah Al-Qashash, ayat 49; Surah Al-Isra', ayat 88.
- ↑ Surah Hud, ayat 13.
- ↑ Surah Al-Baqarah, ayat 23; Surah Yunus, ayat 38.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 139.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 248-249; Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 142-145.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 139.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 14-16; Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 171.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 172-178.
- ↑ Surah An-Nisa, ayat 163-166; Surah Al-An'am, ayat 19.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 14.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an-syenasi, 1380 HS, hlm. 184.
- ↑ Syakir dan Fayyadh, "Seir-e Tahawwol-e Didgah-ha-ye Khavar-syenasani dar-bare-ye Mashader-e Qur'an", hlm. 120-121.
- ↑ Syakir dan Fayyadh, "Seir-e Tahawwol-e Didgah-ha-ye Khavar-syenasani dar-bare-ye Mashader-e Qur'an", hlm. 120-121.
- ↑ Surah Al-An'am, ayat 7; Surah Hud, ayat 7; Surah Al-Anbiya, ayat 3; Surah Ash-Shaffat, ayat 15; Surah Al-Ahqaf, ayat 7; Surah Al-Muddatstsir, ayat 24; Surah Yunus, ayat 2; Surah Shad, ayat 4; Surah Adz-Dzariyat, ayat 52.
- ↑ Surah Al-Haqqah, ayat 42; Surah At-Tur, ayat 29.
- ↑ Raghib al-Isfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an, Beirut, hlm. 442.
- ↑ Surah Al-Muddatstsir, ayat 25; Surah Al-Furqan, ayat 4 dan 5.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 6.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 2, hlm. 152-153; Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1384 HS, jld. 4, hlm. 294-295.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1384 HS, jld. 4, hlm. 294.
- ↑ Hindi, Tafsir al-Qur'an wa huwa al-Huda wa al-Furqan, 1332 HS, jld. 1, hlm. 32.
- ↑ Hindi, Tafsir al-Qur'an wa huwa al-Huda wa al-Furqan, 1332 HS, jld. 1, hlm. 34-36.
- ↑ Mutahhari, Majmu'e Atsar, 1384 HS, jld. 4, hlm. 294.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 2, hlm. 153.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 2, hlm. 154.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 11.
- ↑ Goldziher, al-Aqidah wa al-Syari'ah fi al-Islam, 1946 M, hlm. 17-20.
- ↑ Nöldeke, Tarikh al-Qur'an, 2008 M, jld. 1, hlm. 11 dan 16.
- ↑ Ridwan, Ara' al-Mustasyriqin hawl al-Qur'an al-Karim wa Tafsiruhu, 1413 H, jld. 1, hlm. 273-274.
- ↑ Syakir dan Fayyadh, "Seir-e Tahawwol-e Didgah-ha-ye Khavar-syenasani dar-bare-ye Mashader-e Qur'an", hlm. 121-132; Rezai Isfahani dan Parvan, "Defa'-e Danesymandan-e Syiah az Qur'an dar Barabar-e Syobhe-ye Eqtebas", hlm. 67-68.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 16.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 16-109; Rezai Isfahani dan Parvan, "Defa'-e Danesymandan-e Syiah az Qur'an dar Barabar-e Syobhe-ye Eqtebas", hlm. 76-80.
- ↑ Nöldeke, Tarikh al-Qur'an, 2008 M, jld. 1, hlm. 18.
- ↑ Wasmaghi, Masir-e Payambari (Jalur Kenabian), 1400 HS, hlm. 144.
- ↑ Ridwan, Ara' al-Mustasyriqin hawl al-Qur'an al-Karim wa Tafsiruhu, 1413 H, jld. 1, hlm. 255.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 115.
- ↑ Dr. Soha, Naqd-e Qur'an (Kritik Al-Qur'an), 1393 HS, hlm. 783-815; Wasmaghi, Masir-e Payambari, 1400 HS, hlm. 117-123.
- ↑ Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, jld. 2, hlm. 183-192; Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 249.
- ↑ Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, jld. 2, hlm. 183-184.
- ↑ Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, jld. 2, hlm. 184.
- ↑ Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, jld. 2, hlm. 188.
- ↑ Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, jld. 2, hlm. 189.
- ↑ Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, jld. 2, hlm. 189-190.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 252-310.
- ↑ Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 254-269.
- ↑ Ibnu Babawayh, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 254-269; Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 244-245.
- ↑ Thabarsi, al-Ihtijaj 'ala Ahli al-Lujaj, 1403 H, jld. 1, hlm. 240-241.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 245.
- ↑ Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, Penerbit Allamah, jld. 4, hlm. 424.
- ↑ Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, Penerbit Allamah, jld. 4, hlm. 424.
- ↑ Ibnu Syahrasyub, al-Manaqib, Penerbit Allamah, jld. 4, hlm. 424.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 311-416; Dr. Soha, Naqd-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 47-141.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 311-416; Dr. Soha, Naqd-e Qur'an, 1393 HS, hlm. 47-141.
- ↑ Ma'rifat, Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 311-416.
- ↑ Rezai Isfahani dan Parvan, "Defa'-e Danesymandan-e Syiah az Qur'an dar Barabar-e Syobhe-ye Eqtebas", hlm. 68.
- ↑ "Syobahat wa Rodud: hawl al-Qur'an al-Karim", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Rezai Isfahani dan Parvan, "Defa'-e Danesymandan-e Syiah az Qur'an dar Barabar-e Syobhe-ye Eqtebas", hlm. 68.
- ↑ Hakim Bashi, "Mo'arrefi-ye Towsi-fi-ye «Syobahat wa Rodud hawl al-Qur'an al-Karim»", hlm. 2.
- ↑ "Mostasyriqan wa Qur'an", Situs Khaneh Adabiyat wa Ketab-e Iran.
- ↑ "Qur'an wa Mostasyriqan", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "I'jaz-e Qur'an az Didgah-e Mostasyriqan", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Qur'an az Soy-e Mostasyriqan: Naqd-e Tahlili-ye Syobahat-e Warede dar Tahrif", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Mostasyriqan wa Qur'an (Naqd-e Mabani-ye Yusef Doreh Haddad Masihi dar Enkar-e Wahyaniyat-e Qur'an Karim)", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Siyanat-e Qur'an Karim (Naqd-e Syobahat-e Barkhi az Mostasyriqan)", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Mostasyriqan wa Wahy: Naqd-e Didgah-e Mostasyriqan Nesbat be Wahy-e Elahi-ye Qur'ani", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Mostasyriqan wa Tarikh-gozari-ye Qur'an", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Ara' al-Mustasyriqin hawl al-Qur'an al-Karim wa Tafsiruhu", Perpustakaan Digital Noor.
- ↑ "Rasm al-Mushaf al-Utsmani wa Awham al-Mustasyriqin fi Qira'at al-Qur'an al-Karim", Perpustakaan Digital Noor.
- ↑ "al-Mustasyriqun wa al-Dirasat al-Qur'aniyyah", Perpustakaan Digital Noor.
- ↑ "al-Qira'at fi Nadzhar al-Mustasyriqin wa al-Mulhidin", Perpustakaan Digital Noor.
- ↑ packaging-%D9%81%D9%86%DB%8C%D8%AF%D9%87%D8%A7 "Syobahat hawl al-Qur'an wa Tafniduha", Perpustakaan Digital Noor.
Catatan
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an al-Karim.
- "Ara' al-Mustasyriqin hawl al-Qur'an al-Karim wa Tafsiruhu", Perpustakaan Digital Noor, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "I'jaz-e Qur'an az Didgah-e Mostasyriqan", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Dr. Soha. Naqd-e Qur'an. Tanpa tempat, edisi kedua, 1393 HS.
- Enayah, Ghazi. Syobahat hawl al-Qur'an wa Tafniduha. Beirut, Dar wa Maktabah al-Hilal, tanpa tahun.
- Goldziher, Ignaz. al-Aqidah wa al-Syari'ah fi al-Islam. Dar al-Ra'id al-Arabi, Beirut, 1946 M.
- Hakim Bashi. "Mo'arrefi-ye Towsi-fi-ye «Syobahat wa Rodud hawl al-Qur'an al-Karim»". Jurnal Ilmiah Pezhuhesy-ha-ye Qur'ani, periode 9, nomor 33, Khordad 1382 HS.
- Hakim, Mohammad Baqir. Ulum al-Qur'an. Penerjemah: Mohammad Ali Lisani. Teheran, Penerbit Tebyan, 1378 HS.
- Hindi, Sayid Ahmad Khan. Tafsir al-Qur'an wa huwa al-Huda wa al-Furqan. Terjemahan: Mohammad Taqi Fakhr Da'i Gilani. Teheran, tanpa penerbit, 1332 HS.
- Ibnu Babawayh, Mohammad bin Ali. al-Tauhid. Jami'ah-ye Modarresin Hauzah Ilmiah Qom, Qom, 1398 H.
- Ibnu Syahrasyub, Mohammad bin Ali. al-Manaqib. Penerbit Allamah, Qom, tanpa tahun.
- Jafariyan, Rasul. Afsane-ye Tahrif-e Qur'an (Legenda Distorsi Al-Qur'an). Amirkabir, Teheran, 1382 HS.
- Jawaheri, Sayid Mohammad Hasan. I'jaz wa Tahaddi: Pasokh be Syobahat (Mukjizat dan Tahaddi: Menjawab Syubhat). Teheran, Penerbit Research Institute for Islamic Culture and Thought, 1397 HS.
- Khorramshahi, Bahauddin. Danisy-nameh-ye Qur'an wa Qur'an-pazhuhi (Ensiklopedi Al-Qur'an dan Studi Al-Qur'an). Teheran, Nasyre Dustan, 1377 HS.
- Khoe'i, Sayid Abul Qasim. al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Muasasah Ihya Atsar al-Imam al-Khoe'i, 1430 H.
- Ma'rifat, Mohammad Hadi. al-Tamhid fi Ulum al-Qur'an. Nasyre al-Tamhid, Qom, 1388 HS.
- Ma'rifat, Mohammad Hadi. Syubhat wa Rudud hawl al-Qur'an al-Karim. Nasyre al-Tamhid, Qom, 1423 H.
- Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Amuzesy-e Aqa'id (Pembelajaran Akidah). Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini (ra), 1398 HS.
- Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Qur'an-syenasi (Mengenal Al-Qur'an). Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini (ra), 1380 HS.
- "al-Mustasyriqun wa al-Dirasat al-Qur'aniyyah", Perpustakaan Digital Noor, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Mostasyriqan wa Tarikh-gozari-ye Qur'an", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Mostasyriqan wa Qur'an", Situs Khaneh Adabiyat wa Ketab-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Mostasyriqan wa Qur'an (Naqd-e Mabani-ye Yusef Doreh Haddad Masihi dar Enkar-e Wahyaniyat-e Qur'an Karim)", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Mostasyriqan wa Wahy: Naqd-e Didgah-e Mostasyriqan Nesbat be Wahy-e Elahi-ye Qur'ani", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Mutahhari, Murtadha. Majmu'e Atsar (Kumpulan Karya). Teheran, Sadra, 1384 HS.
- Nöldeke, Theodor. Tarikh al-Qur'an. Baghdad, al-Jamal, 2008 M.
- "al-Qira'at fi Nadzhar al-Mustasyriqin wa al-Mulhidin", Perpustakaan Digital Noor, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Qur'an az Soy-e Mostasyriqan: Naqd-e Tahlili-ye Syobahat-e Warede dar Tahrif", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Qur'an wa Mostasyriqan", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Raghib al-Isfahani, Hossein bin Mohammad. al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
- "Rasm al-Mushaf al-Utsmani wa Awham al-Mustasyriqin fi Qira'at al-Qur'an al-Karim", Perpustakaan Digital Noor, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Rezai Isfahani, Mohammad Ali dan Siddiqeh Parvan. "Defa'-e Danesymandan-e Syiah az Qur'an dar Barabar-e Syobhe-ye Eqtebas" (Pembelaan Ilmuwan Syiah terhadap Al-Qur'an di Hadapan Syubhat Eqtebas). Jurnal Qur'an-pazhuhi-ye Khavar-syenasan, nomor 2, Musim Semi dan Panas 1396 HS.
- Ridwan, Umar bin Ibrahim. Ara' al-Mustasyriqin hawl al-Qur'an al-Karim wa Tafsiruhu. Riyadh, Dar Thaibah, 1413 H.
- packaging-%D9%81%D9%86%DB%8C%D8%AF%D9%87%D8%A7 "Syobahat hawl al-Qur'an wa Tafniduha", Perpustakaan Digital Noor, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- "Syobahat wa Rodud: hawl al-Qur'an al-Karim", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Syakir, Mohammad Kazim dan Mohammad Said Fayyadh. "Seir-e Tahawwol-e Didgah-ha-ye Khavar-syenasani dar-bare-ye Mashader-e Qur'an". Jurnal Pezhuhesy-ha-ye Qur'an wa Hadits, nomor 1, tahun ke-43, 1389 HS.
- "Siyanat-e Qur'an Karim (Naqd-e Syobahat-e Barkhi az Mostasyriqan)", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Mohammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muasasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1390 H.
- Thabarsi, Ahmad bin Ali. al-Ihtijaj 'ala Ahli al-Lujaj. Nasyre Murtadha, Masyhad, 1403 H.
- "Makna "Asalat" dalam "Lughat-nameh-ye Dehkhoda"", Situs Lembaga Kamus Dehkhoda, tanggal akses 18 Khordad 1402 HS.
- Wasmaghi, Siddiqeh. Masir-e Payambari. Teheran, tanpa penerbit, 1400 HS.
- Zarkasyi, Mohammad bin Bahadur. al-Burhan fi Ulum al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1410 H.