Rasm Al-Qur'an (Penulisan Al-Qur'an) (bahasa Arab:كتابة القرآن) adalah mengisyaratkan pada penulisan dan pengumpulan Al-Qur'an. Penulisan Al-Qur'an dalam rangka menjaga Al-Qur'an dari pemalsuan, dimana hal itu telah ditekankan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau menugaskan beberapa sahabat seperti, Imam Ali as dan Zaid bin Tsabit untuk menulis Al-Qur'an. Mushaf-mushaf pertama ditulis oleh orang-orang seperti, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas'ud dan Ubay bin Ka'ab. Tetapi, keberagaman dan perbedaan naskah Al-Qur'an menyebabkan perbedaan di antara masyarakat. Oleh karena itu, Utsman bin Affan membentuk dewan untuk menyeragamkan Al-Qur'an dan menyajikan satu naskah standar Al-Qur'an. Kumpulan Al-Qur'an ini kemudian diakui oleh para Imam-imam Syiah.

Pada permulaan Islam, penulisan Al-Qur'an dilakukan dengan tulisan yang masih sederhana, tanpa tanda baca dan titik, sehingga menyebabkan masyarakat mengalami kesalahan dalam membacanya. Oleh karena itu, Abu al-Aswad al-Du'ali, Nashr bin Ashim dan Khalil bin Ahmad Farahidi memberi tanda baca dan harakat pada Al-Qur'an serta menggunakan tanda-tanda tertentu untuk mempermudah pembacaan Al-Qur'an.

Penulisan Al-Qur'an telah diwujudkan dalam berbagai seni, seperti kaligrafi, naskah beriluminasi, tata letak dan penjilidan, karena umat Islam berusaha memanfaatkan segala sesuatu yang berpengaruh pada keindahan penulisan Al-Qur'an. Oleh karena itu, mereka menciptakan gaya tulisan tertentu, di antaranya adalah khat Tsuluts, Naskh, Raihan dan Nastaliq. Khat Naskh menjadi penting dalam penulisan Al-Qur'an karena kejelasan bentuknya dan diperkenalkan sebagai gaya tulisan yang sesuai untuk penulisan Al-Qur'an.

Urgensi Pembahasan

Penulisan Al-Qur'an merupakan salah satu pembahasan dalam ulumul Qur'an[1] dan di dalamnya dibahas sejarah dan cara penulisan serta pengumpulan Al-Qur'an.[2] Penulisan Al-Qur'an adalah salah satu faktor terjaganya Al-Qur'an dari tahrif dan oleh karena itu, Nabi Muhammad saw menekankan akan hal itu.[3] Cara penulisan Al-Qur'an dianggap berpengaruh dalam memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an; Bahkan dikatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan adanya beberapa kemungkinan makna dalam ayat-ayat Al-Qur'an adalah ketidak sempurnaan penulisan pada masa permulaan Islam.[4]

Menurut para penelaah, penulisan di dunia Islam dimulai dengan penulisan Al-Qur'an, hal itu karena adanya keterikatan antara tulisan dan penulisan Al-Qur'an, maka tulisan menjadi penting di dunia Islam.[5] Dengan munculnya Islam dan diturunkannya Al-Qur'an, tulisan dan penulisan mendapatkan perhatian, sebab Al-Qur'an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw dan bacaan dan penulisannya dianggap sebagai kewajiban suci.[6]

Sejarah Penulisan Al-Qur'an

Pada saat kemunculan Islam, tulisan dan penulisan belum lazim di kalangan orang-orang Arab Hijaz, hanya kurang dari dua puluh orang yang terbiasa dengan tulisan dan penulisan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw mempekerjakan mereka untuk menuliskan wahyu dan memotifasi umat Islam untuk mempelajari tulisan dan penulisan.[7] Selain menghafal Al-Qur'an, Nabi juga menaruh perhatian pada penulisannya dan menugaskan orang-orang seperti, Ali bin Abi Thalib as dan Zaid bin Tsabit untuk menulis Al-Qur'an.[8] Mereka menuliskan Al-Qur'an di atas kulit hewan, daun pohon kurma, tulang-tulang lebar dan kertas.[9]

Mushaf-mushaf Pertama

 
Al-Qur'an tulisan tangan yang dinisbatkan kepada Imam Ali as

Ibnu Nadim, seorang bibliograf pada abad keempat Hijriah, dalam kitab Al-Fihrist menyebutkan bahwa Mushaf Imam Ali as adalah mushaf lengkap Al-Qur'an yang pertama.[10] Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, Imam Ali as mengumpulkan Al-Qur'an berdasarkan urutan turunnya di satu mushaf di dalam rumahnya dan menunjukkannya kepada masyarakat dan para sahabat.[11] Tetapi, beberapa sahabat tidak menerima mushaf ini. Oleh karena itu, Imam Ali as menariknya kembali dari publik.[12]

Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dan mushaf Imam Ali as tidak diterima, selain Zaid bin Tsabit, beberapa sahabat lain, seperti Abdullah bin Mas'ud, Ubay bin Ka'b, Miqdad bin Aswad, Salim budak Abi Hudzaifah, Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa Asy'ari turut mengumpulkan Al-Qur'an.[13]

Penseragaman Mushaf-mushaf

 
Gambar teks Al-Qur'an di Mesir yang diklaim sebagai salah satu mushaf Utsmani

Para sahabat telah menulis mushaf-mushaf yang berbeda-beda, di mana setiap masing-masing berbeda dengan yang lain. Perbedaan dalam mushaf-mushaf dan bacaan ini menyebabkan perpecahan di antara masyarakat.[14] Oleh karena itu, Utsman, khalifah ketiga, memutuskan untuk menyeragamkan mushaf-mushaf tersebut.[15] Untuk pekerjaan itu, dua belas orang sahabat, termasuk Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas, di bawah pimpinan Ubay bin Ka'b mengumpulkan Al-Qur'an.[16] Al-Qur'an yang telah dikumpulkan ini mendapat persetujuan dari Imam Ali as dan setelah menjadi khalifah, beliau juga berpegang kepada Al-Qur'an ini.[17] Setelah Imam Ali as, para Imam selanjutnya juga menyetujui dan menekankan penjagaan terhadap Al-Qur'an Utsmani.[18]

Penyebaran Kitab Al-Qur'an

Pada masa Dinasti Safawi di Iran dan Dinasti Utsmani di Turki, penulisan Al-Qur'an mendapat perhatian yang sangat besar.[19] Al-Qur'an ditulis secara lengkap atau dalam bentuk empat, lima belas, tiga puluh dan enam puluh jilid, tetapi, secara bertahap semua Al-Qur'an ditulis secara lengkap.[20] Dengan berkembangnya industri percetakan, Al-Qur'an cetak menjadi populer dan tradisi penulisan Al-Qur'an mulai menurun.[21]

Rasm al-Mushaf

Rasm al-Mushaf merujuk pada gaya penulisan khusus Mushaf Utsmani. Dalam mushaf ini, kata-kata Al-Qur'an ditulis berbeda dari kaidah penulisan pada umumnya;[22] Seperti penulisan[23] «الصلوٰة» sebagai ganti «الصلاة» dan[24] «ابرٰهــٖم» sebagai ganti[25] «ابراهیم». Rasm al-mushaf, memiliki enam kaidah penghapusan, penambahan, hamzah, pergantian, penggabungan dan pemisahan, di mana kesemuanya tidak sesuai dengan aturan penulisan pada umumnya.[26] Dalam pandangan beberapa penelaah Al-Qur'an, rasm al-khath Utsmani menjadi begitu penting sehingga jika suatu bacaan bertentangan dengannya, maka harus diperbaiki.[27] Menurut para penelaah, kesalahan para penulis wahyu, tulisan yang masih sederhana pada permulaan Islam dan pengaruh rasm al-khath Al-Qur'an dari perbedaan bacaan adalah faktor-faktor yang menyebabkan rasm al-mushaf tidak sesuai dengan aturan penulisan.[28] Sebaliknya, sebagian Ahlusunah menganggap rasm al-khath Al-Qur'an sebagai tauqifi, artinya mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw mengajarkan cara penulisan kata-kata kepada para penulis Al-Qur'an melalui perantara wahyu.[29]

Terkait apakah mengubah rasm al-Mushaf diperbolehkan atau tidak, terdapat beberapa pandangan:

  • Mengingat rasm al-mushaf bersifat tauqifi (ditetapkan Nabi), menulis Al-Qur'an dengan rasm al-khath lain tidaklah diperbolehkan.[30]
  • Meskipun rasm al-khath Al-Qur'an bukan bersifat tauqifi, untuk mencegah intervensi lain terhadap Al-Qur'an, rasm al-mushaf harus tetap dipertahankan seperti semula.[31]
  • Menjaga rasm al-mushaf tidak wajib dan Al-Qur'an dapat ditulis dengan rasm al-khath lain.[32]
  • Karena orang-orang di zaman sekarang tidak terbiasa dengan rasm al-mushaf dan untuk mencegah kesalahan bacaan Al-Qur'an, Al-Qur'an harus ditulis dengan cara yang memudahkan pembacaan yang benar; Oleh karena itu, Al-Qur'an tidak boleh ditulis berdasarkan rasm al-mushaf.[33] Nasir Makarim Syirazi, penulis tafsir Al-Amtsal, menganggap mengubah rasm al-mushaf sebagai suatu tindakan yang perlu untuk dilakukan.[34]

Perkembangan Huruf Al-Qur'an

Pada masa kehidupan Nabi Muhammad saw, Al-Qur'an ditulis dengan huruf Hijazi (mirip dengan huruf Naskhi pada abad kelima).[35] Setelah berdirinya kota Kufah pada tahun 17 H dan berkembangnya huruf Kufi, Al-Qur'an (termasuk Al-Qur'an Imam yang ditulis pada masa Utsman, di mana dijadikan acuan oleh para penulis Al-Qur'an) ditulis dengan huruf Kufi.[36] Mushaf-mushaf pertama yang ditulis tidak memiliki tanda baca titik dan i'rab, sehingga rentan menimbulkan kesalahan.[37]

 
Naskah tulisan tangan Al-Qur'an pada abad pertama Hijriah. dalam gambar tersebut, terlihat ayat 43-56 Surah An-Nisa'Surah

Abu al-Aswad al-Du'ali (W. 69 H), atas bimbingan Imam Ali as, memberikan harakat kepada Al-Qur'an; Tetapi untuk itu, beliau tidak menggunakan harakat panjang, melainkan menggunakan titik.[38] Caranya adalah dengan meletakkan titik di atas huruf untuk tanda fathah, di bawah huruf untuk tanda kasrah dan di depan huruf dengan warna berbeda dari warna tulisan Al-Qur'an untuk tanda dhammah.[39] Setelah Abu al-Aswad, muridnya Nashr bin Ashim (W. 89 H) menggunakan titik untuk membedakan huruf-huruf yang tidak bertitik (seperti huruf, ح, خ dan ج yang tanpa titik yang serupa satu sama lain) dan agar tidak tercampur dengan titik-titik yang digunakan gurunya untuk menandai harakat, beliau menulisnya dengan warna yang sama dengan warna huruf.[40] Setelah beberapa waktu, Khalil bin Ahmad Farahidi (W. 175 H) mengubah titik-titik yang digunakan Abu al-Aswad untuk menandai harakat menjadi harakat ــَـ ــِـ ــُـ, serta menggunakan tanda-tanda tasydid, hamzah dan selainnya untuk mempermudah bacaan Al-Qur'an.[41]

Pada abad pertama Hijriah, umat Islam memberikan perhatian khusus pada penulisan Al-Qur'an dan berupaya memperbaiki gaya penulisannya.[42] Pada abad keempat, gaya penulisan Al-Qur'an menjadi sangat beragam, dengan lebih dari dua puluh gaya penulisan yang muncul di dunia Islam.[43] Keragaman gaya-gaya ini menimbulkan masalah bagi para penulis dan pembaca.[44] Oleh karena itu, Ibnu Muqlah (W. 328 H) berusaha memperbaiki gaya-gaya penulisan tersebut[45] dan menetapkan prinsip-prinsip untuk enam jenis khat (1. Tsuluts, 2. Muhaqqaq, 3. Raihan, 4. Naskh, 5. Tauqi', 6. Ruqa') yang digunakan untuk menulis Al-Qur'an.[46]

Seni dan Penulisan Al-Qur'an

Penulisan Al-Qur'an pada masa Islam, selain dalam bidang kaligrafi dan khat, tercermin dalam seni-seni lain seperti, naskah beriluminasi, tata letak halaman dan penjilidan.[47] Selain kaligrafi, umat Islam memanfaatkan segala hal yang mempengaruhi keindahan penulisan (seperti, naskah beriluminas dan tashif).[48] Menurut para penelaah, seni penulisan Al-Qur'an dalam menyampaikan Kalam Ilahi kepada pembaca dan mengandung makna-makna keagamaan, memdapatkan perhatian yang sangat tinggi di antara seni-seni yang lain.[49] Penulisan Al-Qur'an mencapai puncaknya pada masa Dinasti Ilkhanat (abad ketujuh Hijriah), di mana Al-Qur'an yang ditulis pada masa itu memiliki nilai yang sangat tinggi, baik dari segi kaligrafi, naskah beriluminasi dan kodikologi.[50]

Kaligrafi

 
Surah Al-Fatihah dengan khat Nasta'liq karya Hasani Qazvini

Ibnu Muqlah (W. 328 H) menciptakan jenis-jenis kaligrafi seperti, Tsuluts, Muhaqqaq, Raihani, Naskh, Tauqi' dan Ruqa'.[51] Ia merancang huruf-huruf berdasarkan prinsip-prinsip geometris dan membentuk huruf-huruf berdasarkan prinsip lurus (huruf-huruf lurus seperti alif dan bā') dan lingkaran (huruf-huruf berbentuk lingkaran seperti jīm dan nūn).[52] Setelah Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab pada abad kelima dan kemudian Yaqut Musta'shimi pada abad ketujuh membawa kaligrafi Naskh ke puncak kejayaannya dan memperkenalkan kaligrafi Naskh sebagai kaligrafi yang paling sesuai untuk penulisan Al-Qur'an.[53] Kaligrafi Naskh sendiri berkembang dalam berbagai gaya, di mana gaya terpenting adalah gaya Arab, Turki dan Iran.[54] Pada era Dinasti Timuriyah, banyak sekali inovasi dalam seni kaligrafi.[55] Pada masa ini, dengan menggabungkan dua kaligrafi Ruqa' dan Tauqi', lahirlah kaligrafi Ta'liq dan kemudian dengan menggabungkan kaligrafi Naskh dan Ta'liq, lahirlah kaligrafi Nasta'liq.[56] Umat Islam di India menulis Al-Qur'an dengan kaligrafi Bihari (Bihari) dan di Cina dengan kaligrafi Sini (sejenis kaligrafi Naskh).[57]

Kaligrafi Naskh memiliki nilai lebih dalam penulisan Al-Qur'an karena kejelasan.[58] Dari Musta'shimi terdapat sebuah Al-Qur'an yang ditulis pada tahun 669 H dengan tiga kaligrafi yaitu, Tsuluts, Naskh dan Raihan.[59] Al-Qur'an yang ditulis dengan kaligrafi Ahmad Nayrizi adalah Al-Qur'an masyhur yang ditulis dengan kaligrafi Naskh Iran[60] Khat Nasta'liq banyak digunakan dalam teks-teks sastra, tepai karena harakatnya yang sulit, jarang digunakan untuk menulis seluruh Al-Qur'an.[61] Mir 'Imad al-Hasani al-Qazwini menulis Surah al-Fatihah dengan khat Nasta'līq, yang telah menjadi karya terkenal.[62] Pada masa Shafawi, terjemahan bahasa Persia Al-Qur'an ditulis dalam bentuk pita sempit dengan khat Nasta'līq di bawah ayat-ayatnya.[63]

Naskah Beriluminasi

Seni naskah beriluminasi merujuk pada dekorasi halaman buku atau sampulnya dengan emas dan warna lainnya.[64] Naskah beriluminasi umumnya digunakan untuk menandai surah dan juz-juz Al-Qur'an.[65] Seni ini berkembang bersamaan dengan seni kaligrafi sehingga para penulis Al-Qur'an juga melakukan naskah beriluminasi.[66] Karya seni lukisan dan naskah beriluminasi tertua yang masih ada berasal dari abad ketiga Hijriah dan setelahnya.[67] Al-Qur'an tersebut biasanya dibuat atas perintah penguasa saat itu.[68]Pada akhir abad ke-6 dan awal abad ke-7, kota Tabriz menjadi pusat terpenting bagi seni naskah beriluminasi dan sekolah Tabriz muncul dalam periode ini.[69] Seni naskah beriluminasi berkembang pesat pada masa Dinasti Timuriyah, karena para penguasa mereka memiliki minat terhadap seni.[70]

Kaligrafi Bangunan

 
Kaligrafi bangunan di Haram Imam Ridho as dengan khat Tsults, karya Husaini Muwahhid

Kaligrafi pada bangunan suci (kutaibah) adalah ayat-ayat dan surah-surah dari Al-Qur'an yang ditulis dalam berbagai bentuk pada tempat-tempat suci seperti, mihrab, kubah masjid, serta dinding-dinding tempat ibadah.[71] Kaligrafi ini ditulis dengan gaya kaligrafi seperti, kufi, tsuluts, naskh, nasta'liq dan muallaq dalam bentuk keramik, bata, atau ukiran gipsum.[72] Kaligrafi bangunan populer pada masa Dinasti Timuriyah dan mencapai puncaknya pada masa Dinasti Shafawi.[73]

Penjilidan

Umat Islam menggunakan seni penjilidan untuk melindungi Al-Qur'an dari kerusakan.[74] Seni penjilidan, seperti kaligrafi, berkembang sangat pesat karena kesucian Al-Qur'an bagi umat Islam.[75] Jilid pertama semuanya sederhana; tetapi sejak abad ke-4 Hijriah, motif geometris dalam bentuk lingkaran dan elips ditambahkan di tengah sampul.[76] Setelah beberapa waktu, sampul-sampul tersebut dihias dengan emas dan naskah beriluminasi.[77] Dekorasi sampul kulit pada masa Timuriyah di Iran dan masa Mamluk di Mesir mendapat perhatian khusus[78] dan seni penjilidan mencapai puncaknya pada masa Timuriyah.[79]

Cetakan Pertama Al-Qur'an

Al-Qur'an dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 950 H di kota Bundukiyah, tetapi diperintahkan untuk dimusnahkan oleh otoritas gereja.[80] Setelah itu, pada tahun 1104 H, Abraham Hinckelmann, seorang orientalis Jerman, mencetak Al-Qur'an di Hamburg, Jerman.[81] Cetakan Islam pertama Al-Qur'an dibuat pada tahun 1200 H oleh seseorang bernama Mulla Utsman di St. Petersburg, Rusia.[82] Iran adalah negara Islam pertama yang mencetak Al-Qur'an dalam dua edisi cetak batu, satu pada tahun 1243 H di Teheran dan yang lain pada tahun 1248 H di Tabriz.[83] Setelah Iran, Kerajaan Ottoman Turki pada tahun 1294 H menerbitkan Al-Qur'an dalam berbagai edisi cetak.[84] Pemerintah Mesir pada tahun 1342 H dan Irak pada tahun 1370 H juga menerbitkan cetakan Al-Qur'an yang indah.[85]

Catatan Kaki

  1. Rukni, ĀSyenai ba Ulum-e Qurani, hlm. 4.
  2. Ja'fari, Rasm al-Khat Mushaf (bagian pendahuluan), hlm. 5.
  3. Thahiri, Darshai az Ulum-e Qurani, jld. 1, hlm. 329.
  4. Mathlab, Ta'sir-e Ketabat dar Payamresani-e Quran, hlm. 69-72.
  5. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 55.
  6. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 22.
  7. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 170.
  8. Mazlumi, Pazuheshi-e Piramun-e Ākharin Ketabat-e Ilahi, jld. 1, hlm. 38.
  9. Subhi Shalihi, Mabahits fi Ulum al-Quran, hlm. 69-70.
  10. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, hlm. 45.
  11. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 122.
  12. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 122.
  13. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 125.
  14. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 133.
  15. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 136.
  16. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 137.
  17. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 138.
  18. Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 139.
  19. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 65.
  20. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 64.
  21. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 66.
  22. Sarsyar, Rasm al-Khat, hlm. 793.
  23. QS. Al-Baqarah : 164.
  24. QS. Al-Baqarah : 125.
  25. Silakan lihat ke: Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 166-169.
  26. Sarsyar, Rasm al-Khat, hlm. 793.
  27. Sarsyar, Rasm al-Khat, hlm. 795.
  28. Rajabi, Rasm al-Mushaf; Vizegiha va Didgaha, glm. 22-31.
  29. Ma'arif, Darāmadi bar Tarikh-e Quran, hlm. 187.
  30. Ma'arif, Darāmadi bar Tarikh-e Quran, hlm. 187.
  31. Khomeini, Tafsir al-Quran al-Karim, hlm. 187.
  32. Subhi Shalihi, Mabahits fi Ulum al-Quran, hlm. 187.
  33. Subhi Shalihi, Mabahits fi Ulum al-Quran, hlm. 187.
  34. Makarim Syirazi, Istiftaat, jld. 4, hlm. 490.
  35. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 23.
  36. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 23.
  37. Mir Muhammadi Zarandi, Tarikh wa Ulum-e Quran, hlm. 160.
  38. Mir Muhammadi Zarandi, Tarikh wa Ulum-e Quran, hlm. 161-163.
  39. Ramyar, Tarikh Quran, hlm. 534.
  40. Mir Muhammadi Zarandi, Tarikh wa Ulum-e Quran, hlm. 163-165.
  41. Mir Muhammadi Zarandi, Tarikh wa Ulum-e Quran, hlm. 165.
  42. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 50.
  43. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 50.
  44. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 50.
  45. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 50.
  46. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 23.
  47. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 47.
  48. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 52.
  49. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 47.
  50. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 57.
  51. Tim penulis, Nameh Dansyvaran-e Nashiri, jld. 5, hlm. 73-74.
  52. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 50.
  53. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 23.
  54. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 24.
  55. Abbas Zadeh dan Mandali, Naqsy-e Hakiman-e Timuri dar Thavul-e Khusynevisi Eslami, hlm. 126.
  56. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 23-24
  57. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 62-63.
  58. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 56.
  59. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 23.
  60. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 24.
  61. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 64.
  62. Haj Sayid Jawadi, Seir-e Ketabat-e Quran, hlm. 24.
  63. Syirazi dan Sahragard, Seir-e Tahavul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam, hlm. 64.
  64. Najapur Jabari, Mafahim-e TAzhibha-e Qurani dar Ashr-e Shafawi, hlm. 35.
  65. Kazhimi, Seir-e Thavul-e Ketabat-e Quran ta Sade-e Hasytum-e Hijri (Dure-e Ilhani), hlm. 52.
  66. Barzin, Negahi be Tarikhce Tazhib-e Quran, hlm. 36.
  67. Barzin, Negahi be Tarikhce Tazhib-e Quran, hlm. 36.
  68. Barzin, Negahi be Tarikhce Tazhib-e Quran, hlm. 36.
  69. Barzin, Negahi be Tarikhce Tazhib-e Quran, hlm. 37.
  70. Syayestehfar, Ketabat va Tazhib-e Quranha-e Timuri dar Majmueha-e Dakhili va Kharij, hlm. 100.
  71. Mazanggi, Ismailpur, Ketabat va Katbiyeh Negari dar Khusynevisi Eslami, hlm. 12.
  72. Mazanggi, Ismailpur, Ketabat va Katbiyeh Negari dar Khusynevisi Eslami, hlm. 14.
  73. Husaini dan Thawusi, Tahavul-e Hunar-e Katibeh Negari Ashr-e Shafavi ba Tavajuh be Katibeha-e Shafavi Majmu-e Haram-e Mutahar-e Emam Reza as, hlm. 60.
  74. Thalibpur dan Yazdani, Muthale-e Tathbiqi Jildha-e Carmi-e Quran-e karim dar Rur-e Timuri ba Jildha-e Carmi-e Quran-e Karim dar Dure-e Mamluki Meshr, hlm. 5.
  75. Hasyimi, Hunar-e Jildsazi, hlm. 313.
  76. Atiqi, Jildsazi-e Quran dar Iran, hlm. 92.
  77. Atiqi, Jildsazi-e Quran dar Iran, hlm. 92.
  78. Thalibpur dan Yazdani, Mjuthale-e Tathbiqi Jildha-e Carmi-e Quran-e karim dar Rur-e Timuri ba Jildha-e Carmi-e Quran-e Karim dar Dure-e Mamluki Meshr, hlm. 5.
  79. Atiqi, Jildsazi-e Quran dar Iran, hlm. 92.
  80. Ma'rifat, al-Tamhid, jld. 1, hlm. 405.
  81. Ma'rifat, al-Tamhid, jld. 1, hlm. 405.
  82. Ma'rifat, al-Tamhid, jld. 1, hlm. 405.
  83. Ma'rifat, al-Tamhid, jld. 1, hlm. 406.
  84. Ma'rifat, al-Tamhid, jld. 1, hlm. 406.
  85. Ma'rifat, al-Tamhid, jld. 1, hlm. 406.

Daftar Pustaka

  • Abbaszadeh, Khuda Virda & Amir Mandali. Naqsy-e Hakiman-e Timuri dar Tahawul-e Khusynevisi-e Eslami. Dalam majalah Baharestan-e Sukhan, vol. 28, musim semi dan musim panas, 1394 HS.
  • Atiqi, Mahdi. Jildsazi-e Quran dar Iran. Dalam buku Mah-e Hunar, vol. 118, bulan Tier 1387 HS.
  • Barzin, Parvin. Negahi be Tarikhce Tazhib-e Quran. Dalam majalah Hunar va Mardum, vol. 49, bulan Āban, 1345 HS.
  • Haj Sayid Jawadi, Sayid Kamal. Seir-e Ketabat-e Quran. Dalam sekumpulan makalah Ketab Mah-e Hunar, vol. 12, bulan Syahriwar 1378 HS.
  • Hasyimi, Sayid Abdul Qadir. Hunar-e Jilsazi. Dalam majalah Baharestan, vol. 7 & 8, 1382 HS.
  • Husaini, Sayid Hasyim dan Mahmud Thawus. Thavul-e Hunar-e Katibeh Negari 'Ashr-e Shafawi ba Tawajuh be Katibeha-e Shafawi Majmu-e Haram-e Muataharr-e Emam Reza. Dalam buku Mah-e Hunar, vol. 91 & 92 Farwardin dan Urdibeses 1385 HS.
  • Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq. al-Fihrist. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1417 H.
  • Ja'fari, Ya'qub. Rasm al-Khat Mushaf (bagian pendahuluan). Karya Ghanim Qaduri al-Hamad. Qom: Penerbit Usweh, 1376 HS.
  • Khomeini, Sayid Musthafa. Tafsir al-Quran al-Karim. Teheran: Yayasan Tanzim va Nashr Āsar-e Emam Khomeini, 1418 H.
  • Ma'arif, Majid. Darāmadi bar Tarikh-e Quran. Teheran: Yayasan Naba, 1383 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Istiftaat. Qom: Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib, 1427 HS.
  • Maranggi, Jawad & Samane Ismai Pur. Ketabat va Katibeh Negari dar Khusynevisi-e Eslami. Dalam majalah Muthala'at Ulum-e Ensani, vol. 12, musim dingin 1396 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. al-Tamhid fi Ulum al-Quran. Qom: Kantor penerbit Islami, 1415 H.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. Ulum-e Qurani. Qom: Penerbit al-Tamhid, cet. 4, 1381 HS.
  • Mathlab, Ali Reza. Ta'sir-e Ketabat dar Payamresani-e Quran. Dalam majalah Bayinat, vol. 74, musim panas, 1391 HS.
  • Mazhlumi, Raja Ali. Pzuhesyi-e Piramun-e Ākharin Ketab-e Ilahi. Teheran: Penerbit Āfaq, 1403 HS.
  • Mir Muhammadi Zarandi, Sayid Abu al-Fadhl. Tarikh wa Ulum Quran. Qom: Kantor penerbit Islami, 1377 HS.
  • Najapur Jabari, Shamad. Mafahim-e Tadzhibha-e Qurani dar Ashr-e Shafawi]. Dalam majalah Negareh, vol. 40, musim dingin, 1395 HS.
  • Rajabi, Muhsin. Rasm al-Mushaf; Wizegiha va Didgaha. Dalam majalah Misykat, vol. 104, musim gugur, 1388 HS.
  • Ramyar, Mahmud. Tarikh-e Quran. Amir Kabir, 1369 HS.
  • Rukni, Muhammad Mahdi. ĀSyenai ba Ulum-e Qurani. Teheran: Penerbit Samt, 1379 HS.
  • Sarsyar, Mazgan. Rasm al-Mushaf. Ensiklopedia Jahan-e Eslam, jld. 19. Teheran: Bunyad Dairah al-Ma'arif Islami, 1393 HS.
  • Subhi Shalihi. Mabahits fi Ulum al-Quran. Qom: Penerbit Razhi, 1372 HS.
  • Syayestehfar, Mahnaz. Ketabat va Tahzib-e Quranha-e Timuri dar Majmueha-e Dakhil va Kharij. Dalam majalah Muthala'at-e Hunar-e Eslami, vol. 10, musim semi dan musim panas, 1388 HS.
  • Syirazi, Ali Asghar, Mahdi Sahragar. Seir-e Tahawul-e Khutut-e Qurani dar Jahan-e Eslam. Dalam majalah Tarikh Islam dan Iran, vol. 15, musim gugur 1391 HS.
  • Thahiri, Habibullah. Darshai az Ululm-e Qurani. Qom: Penerbit Usweh, 1377 HS.
  • Thalibpur, farideh dan Nafsiyeh Yazdani. Muthale-e Tathbiqi Jildha-e Carmi-e Quran-e karim dar Rur-e Timuri ba Jildha-e Carmi-e Quran-e Karim dar Dure-e Mamluki Meshr. dalam majalah Negarineh Hunar-e Eslami, vol. 5, musim semi 1394 HS.
  • Tim penulis. Nameh Daneshvaran-e Nashiri. Qom: Dar al-Ilm dan Dar al-Fikr, tanpa tahun.