Lompat ke isi

Konsep:Hadis-hadis Buniya al-Islam

Dari wikishia
Hadis-hadis Buniya al-Islam
Nama lainFondasi-fondasi Islam
TemaFondasi-fondasi Islam
Diriwayatkan dariNabi Muhammad saw, Imam Baqir as dan Imam Shadiq as
Periwayat lainAbu Hamzah al-Tsumali, Fudhail bin Yasar, Zurarah bin A'yan, Mufadhdhal bin Umar dan Abdullah bin Umar
Validitas hadisShahih
Sumber SyiahAl-Kafi, Al-Amali (Syeikh Saduq), Al-Khishal dan Al-Amali (Syeikh Thusi)
Sumber AhlusunahShahih Bukhari dan Shahih Muslim

Hadis-hadis Buniya al-Islam atau Fondasi-fondasi Islam atau Rukun-rukun Islam merujuk pada lima fondasi Islam yaitu Salat, Zakat, Haji, Puasa, dan Wilayah. Hadis-hadis ini berasal dari Nabi Muhammad saw dan para Imam Syiah as, yang terdapat dalam sumber-sumber Syiah dan Ahlusunah. Dalam beberapa riwayat, sebagai pengganti wilayah, disebutkan Syahadatain, dan dalam beberapa riwayat lainnya keduanya disebutkan secara bersamaan.

Dalam riwayat-riwayat Syiah, ditekankan pada urgensi wilayah dan dianggap lebih utama daripada rukun-rukun Islam lainnya. Nashir Makarem Syirazi berpendapat bahwa peletakan rukun-rukun Islam yang lima secara berdampingan adalah karena adanya keterkaitan di antara mereka dan menjelaskan bahwa setiap rukun memiliki hubungan khusus dengan manusia dan Allah atau orang lain: salat adalah hubungan makhluk dengan Khalik, zakat adalah hubungan makhluk dengan makhluk, puasa adalah hubungan manusia dengan dirinya sendiri, haji adalah hubungan sesama Muslim, dan wilayah adalah penjelas hukum-hukum dari rukun-rukun ini serta penjamin pelaksanaan yang benar dari rukun-rukun tersebut.

Riwayat-riwayat ini dinukil dari para perawi seperti Abu Hamzah al-Tsumali, Fudhail bin Yasar, Zurarah bin A'yan, Mufadhdhal bin Umar, dan Abdullah bin Umar, serta banyak di antaranya yang menurut pandangan ulama Syiah dan Ahlusunah berstatus shahih.

Perawi dan Teks Hadis

Riwayat-riwayat Buniya al-Islam dinukil dari para perawi seperti Abu Hamzah al-Tsumali,[1] Fudhail bin Yasar,[2] Zurarah bin A'yan,[3] dan Abdullah bin Ajlan dari Imam Baqir as,[4] serta Isa bin al-Sari,[5] dan Mufadhdhal bin Umar dari Imam Shadiq as,[6] serta Abdullah bin Umar dari Nabi Muhammad saw.[7]

Allamah Majlisi menganggap Sanad beberapa riwayat Buniya al-Islam seperti riwayat Isa bin al-Sari, Zurarah, dan Fudhail bin Yasar sebagai shahih dan beberapa lainnya sebagai dhaif.[8] Di antara ulama Ahlusunah, riwayat Abdullah bin Umar selain terdapat dalam Shahih Bukhari[9] dan Shahih Muslim,[10] beberapa orang seperti Turmudzi, Nasa'i, dan Nawawi telah menegaskan kesahihannya.[11]

  • Imam Baqir as: "Buniya al-Islamu 'ala khamsin: 'alal shalati waz zakati wal hajji was saumi wal wilayah" (Islam dibangun di atas lima perkara: Salat, Zakat, Haji, Puasa, dan Wilayah).[12] Dalam sebuah riwayat, wilayah disebutkan sebagai rukun pertama.[13]
  • "... Bana al-Islama 'ala khamsin syahadati an la ilaha illallahu wa anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu wa iqamish shalati wa ita'iz zakati wa hijjil baiti wa siyam syahri Ramadhan..." (Allah membangun Islam di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya, menegakkan salat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadan). Riwayat ini dalam sumber-sumber Ahlusunah dinukil dari Nabi Muhammad saw[14] dan dalam sumber-sumber Syiah dinukil dari Imam Baqir as.[15]
  • Imam Shadiq as dalam menjawab Isa bin al-Sari yang bertanya tentang rukun-rukun Islam, bersabda: "Syahadatu an la ilaha illallahu wa anna Muhammadan rasulullahi saw wal iqraru bima ja'a bihi min 'indillahi wa haqqun fil amwali minaz zakati wal wilayatu allati amarallahu 'azza wa jalla biha wilayatu Ali Muhammadin saw" (Bersaksi atas keesaan Allah dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah, dan mengakui apa yang ia bawa dari sisi Allah, dan adanya hak berupa zakat pada harta benda, serta wilayah yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, yaitu wilayah Keluarga Muhammad saw).[16]
  • Imam Shadiq as: "Atsafiyul Islami tsalatsatun al-shalatu waz zakatu wal wilayah la tashihhu wahidatun minhunna illa bi shahibatiha" (Fondasi Islam itu ada tiga: salat, zakat, dan wilayah. Tidak sah salah satu darinya kecuali dengan kebersamaan dua lainnya).[17]

Dalam beberapa riwayat Syiah mengenai Buniya al-Islam, terdapat tambahan yang menekankan pada wilayah; di antaranya:

  • "...wa lam yunada bisyai'in kama nudiya bil wilayah, fa-akhadzan nasu bi-arba'in wa taraku hadzihi ya'nil wilayah" (Dan tidaklah diserukan pada sesuatu sebagaimana diserukan pada wilayah. Namun orang-orang mengambil empat perkara dan meninggalkan yang ini, yakni wilayah),[18]
  • "...Qala Zuraratu faqultu wa ayyu syai'in min dzalika afdhalu. Faqala: Al-wilayatu afdhalu..." (Zurarah berkata: Aku bertanya mana dari rukun yang lima itu yang lebih utama. Beliau bersabda: Wilayah adalah yang paling utama).[19]
  • "Wa lam yunada bisyai'in ma nudiya bil wilayah yaumal Ghadir" (Dan tidaklah diserukan pada sesuatu sebagaimana diserukan pada wilayah pada hari Ghadir).[20]

Dalam beberapa riwayat Buniya al-Islam, secara eksplisit disebutkan Wilayah Imam Ali as dan para Imam as dengan ungkapan "wilayati Amiril Mu'minina wal Aimmah min wuldihi as" (wilayah Amirul Mukminin dan para Imam dari keturunannya as).[21]

Makna dan Maksud Hadis

Berdasarkan beberapa riwayat, rukun-rukun Islam yang lima adalah fondasi dasar agama yang jika lalai dalam mengenal dan mengamalkannya akan menyebabkan kehancuran agama dan tidak diterimanya amal perbuatan.[22] Sebaliknya, mengenal dan mengamalkannya akan menyebabkan diterimanya amal dan kelayakan agama.[23] Rukun-rukun ini diserupakan dengan bangunan Islam yang tegak dengan kekokohan tiang-tiangnya.[24] Lima rukun utama Islam mencakup syahadatain, salat, puasa, zakat, dan haji[25] di mana kewajiban dan kesunnahan lainnya dianggap sebagai pelengkap rukun-rukun tersebut.[26] Allamah Majlisi memberikan kemungkinan bahwa wilayah mungkin juga mencakup syahadatain, dan tidak disebutkannya syahadatain dalam beberapa riwayat adalah karena kejelasannya.[27] Ia dalam menjustifikasi penyebutan wilayah sebagai pengganti rukun lainnya, mengemukakan tiga alasan: kesertaan dengan Ahlusunah, maksud wilayah adalah cinta dan kepatuhan, serta jika seseorang meyakini empat rukun lainnya, maka hal-hal tersebut akan termasuk dalam Ushuluddin dan keharusan mazhab.[28]

Nashir Makarem Syirazi berpendapat bahwa peletakan rukun-rukun Islam yang lima secara berdampingan adalah karena adanya keterkaitan di antara mereka dan menjelaskan bahwa setiap rukun memiliki hubungan khusus dengan manusia dan Allah atau orang lain: salat adalah hubungan makhluk dengan Khalik, zakat adalah hubungan makhluk dengan makhluk, puasa adalah hubungan manusia dengan dirinya sendiri, haji adalah hubungan sesama Muslim, dan wilayah adalah penjelas hukum-hukum dari rukun-rukun ini serta penjamin pelaksanaan yang benar dari rukun-rukun tersebut.[29] Beberapa riwayat menyebutkan urutan rukun yang lima berdasarkan kepentingannya sebagai berikut: wilayah sebagai rukun yang paling utama karena merupakan kunci bagi rukun lainnya, kemudian salat yang merupakan tiang agama, zakat karena penyertaannya dengan salat dalam Al-Qur'an dan kemampuannya menghapus dosa, serta akhirnya haji dan puasa pada tingkatan berikutnya.[30] Keutamaan wilayah adalah dari sisi bahwa wilayah adalah pemberi wujud bagi rukun-rukun lainnya; tanpa wilayah, rukun lainnya hanyalah seperti lukisan di atas kertas dan resep dokter tanpa pengamalan.[31]

Catatan Kaki

  1. Saduq, al-Khishal, 1362 HS, jil. 1, hlm. 278, hadis 21; Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 124.
  2. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18, hadis 3.
  3. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18, hadis 5.
  4. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 21, hadis 7.
  5. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 19, hadis 6, hlm. 19 dan 21, hadis 6 dan 9.
  6. Saduq, al-Amali, 1376 HS, hlm. 268.
  7. Bukhari, Shahih Bukhari, 1422 H, jil. 1, hlm. 11, hadis 8 dan jil. 6, hlm. 26; Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jil. 1, hlm. 45.
  8. Majlisi, Mir'ah al-'Uqul, 1404 H, jil. 7, hlm. 100-113.
  9. Bukhari, Shahih Bukhari, 1422 H, jil. 1, hlm. 11, hadis 8 dan jil. 6, hlm. 26.
  10. Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jil. 1, hlm. 45.
  11. Turmudzi, Sunan Turmudzi, 1395 H, jil. 5, hlm. 5; Nasa'i, Sunan Nasa'i, 1406 H, jil. 8, hlm. 107; Nawawi, Syarh Matn al-Arba'in al-Nawawiyyah fil Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyyah, 1404 H, hlm. 25, hadis 3.
  12. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18, hadis 1, 3, dan 5 serta hlm. 21, hadis 8; Saduq, al-Khishal, 1362 HS, jil. 1, hlm. 278, hadis 21; Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 124.
  13. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 21, hadis 7.
  14. Bukhari, Shahih Bukhari, 1422 H, jil. 1, hlm. 11, hadis 8 dan jil. 6, hlm. 26; Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jil. 1, hlm. 45; Turmudzi, Sunan Turmudzi, 1395 H, jil. 5, hlm. 5.
  15. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 31, hadis 1.
  16. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 19-21, hadis 6 dan 9; Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 518, hadis 41.
  17. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18, hadis 4.
  18. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18, hadis 1 dan 3.
  19. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18, hadis 5.
  20. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 21, hadis 8.
  21. Saduq, al-Amali, 1376 HS, hlm. 268, hadis 14.
  22. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 19 dan 20, hadis 6.
  23. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 19 dan 20, hadis 6.
  24. Bukhari, Shahih Bukhari, 1422 H, jil. 1, hlm. 11; Nawawi, Syarh Matn al-Arba'in al-Nawawiyyah fil Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyyah, 1404 H, hlm. 25.
  25. Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 H, jil. 8, hlm. 57; Nawawi, Syarh Matn al-Arba'in al-Nawawiyyah fil Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyyah, 1404 H, hlm. 26.
  26. Nawawi, Syarh Matn al-Arba'in al-Nawawiyyah fil Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyyah, 1404 H, hlm. 26.
  27. Majlisi, Mir'ah al-'Uqul, 1404 H, jil. 7, hlm. 100.
  28. Majlisi, Mir'ah al-'Uqul, 1404 H, jil. 7, hlm. 100.
  29. Makarem Syirazi, Ayat-e Welayat dar Quran, 1386 HS, hlm. 70.
  30. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 2, hlm. 18 dan 19, hadis 5; Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 H, jil. 8, hlm. 59-61.
  31. Makarem Syirazi, Ayat-e Welayat dar Quran, 1386 HS, hlm. 71.

Daftar Pustaka

  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Bukhari. Riset: Muhammad Zuhair bin Nashir al-Nashir. Dar Tuq al-Najah, Cetakan Pertama, 1422 H.
  • Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah. Qom, Muassasah Alu al-Bait, Cetakan Pertama, 1409 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'ah al-'Uqul fi Syarh Alu al-Rasul(as). Riset dan Koreksi: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Kedua, 1404 H.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Ayat-e Welayat dar Quran (Ayat-ayat Wilayah dalam Al-Qur'an). Disusun oleh: Abul Qasim Alian-nejadi. Qom, Nasl-e Javan, 1386 HS.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad. Syarh al-Kafi (Ushul wa Furu'). Riset dan Koreksi: Abul Hasan Sya'rani. Teheran, Maktabah al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1382 H.
  • Muslim, Muslim bin Hajjaj al-Nisyaburi. Shahih Muslim. Riset: Muhammad Fuad Abdul Baqi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Nasa'i, Ahmad bin Syu'aib. Sunan Nasa'i. Riset: Abdulfattah Abu Ghuddah. Aleppo, Maktab al-Mathbu'at al-Islamiyyah, Cetakan Kedua, 1406 H.
  • Nawawi, Yahya bin Syarafuddin. Syarh Matn al-Arba'in al-Nawawiyyah fil Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyyah. Damaskus, Penerbit Maktabah Dar al-Fath, Cetakan Keempat, 1404 H-1984 M.
  • Saduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. al-Amali. Teheran, Kitabchi, Cetakan Keenam, 1376 HS.
  • Saduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. al-Khishal. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Jami'ah al-Mudarrisin, Cetakan Pertama, 1362 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Amali. Qom, Dar al-Tsaqafah, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Turmudzi, Muhammad bin Isa. Sunan Turmudzi. Riset: Ahmad Muhammad Syakir, Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Ibrahim Atwah. Mesir, Mushthafa al-Babi al-Halabi, Cetakan Kedua, 1395 H-1975 M.