Lompat ke isi

Konsep:Empat Burung Nabi Ibrahim

Dari wikishia

Empat Burung Nabi Ibrahim merujuk pada kisah empat ekor burung yang dibunuh oleh Nabi Ibrahim as dan kemudian beliau menyaksikan burung-burung tersebut dihidupkan kembali. Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Baqarah Ayat 260 dan dianggap sebagai salah satu peristiwa luar biasa (mukjizat) dalam kehidupan Nabi Ibrahim as.

Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim as melewati tepi laut, beliau melihat bagian-bagian bangkai yang tercerai-berai sedang dimakan oleh berbagai hewan. Pemandangan ini membuat beliau berpikir tentang bagaimana orang mati akan dihidupkan kembali, lalu beliau memohon kepada Allah agar menunjukkan kepadanya cara menghidupkan orang mati. Allah memerintahkannya untuk memilih empat jenis burung, memotong-motongnya, meletakkan bagian-bagian tubuh mereka di atas gunung-gunung, kemudian memanggil mereka. Dengan panggilan tersebut, bagian-bagian burung yang tercerai-berai itu pun menyatu kembali dan burung-burung itu hidup kembali. Peristiwa ini memberikan ketenangan hati (ithmi'nan) bagi Nabi Ibrahim as atas kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali orang mati.[1]

Sebagian pihak menganggap kisah ini sebagai sebuah perumpamaan (alegori), namun para mufasir mengkritik pandangan tersebut dan menegaskan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi secara fisik. Di antara tafsir Syiah, buku Tafsir Tasnim telah membahas masalah ini secara mendalam.[2]

Mengenai jenis keempat burung tersebut, terdapat perbedaan pendapat. Berdasarkan riwayat dari Imam Shadiq as, burung-burung tersebut adalah burung merak, ayam jantan, merpati, dan gagak.[3] Dalam sumber-sumber Ahlusunah, burung merak juga disebutkan, namun terdapat perbedaan pendapat mengenai tiga burung lainnya; beberapa menyebutkan burung seperti ayam jantan, merpati, gagak, elang, itik, burung hud-hud, dan burung unta.[4]

Beberapa mufasir menganggap keempat burung ini sebagai simbol dari sifat-sifat moral manusia; di antaranya burung merak sebagai simbol kesombongan, ayam jantan sebagai simbol Syahwat, merpati sebagai simbol hiburan dan kelalaian, serta burung gagak sebagai simbol angan-angan yang jauh.[5]

Catatan Kaki

  1. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 305, h. 472; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 7, hlm. 36, dan jld. 12, hlm. 61.
  2. Jawadi Amuli, Tasnim, 1388 HS, jld. 12, hlm. 296.
  3. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 HS, jld. 1, hlm. 142.
  4. Fakhr al-Razi, Tafsir al-Kabir, 1405 H, jld. 7, hlm. 45.
  5. Makarem, Tafsir-e Nemuneh, 1373 HS, jld. 2, hlm. 353.

Daftar Pustaka

  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Teheran, Cetak Ilmiyah, 1380 HS.
  • Fakhr al-Razi, Muhammad bin Umar. Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tasnim. Qom, Penerbit Isra', 1388 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1373 HS.


Templat:Nabi Ibrahim