Lompat ke isi

Konsep:Ayat Tijarah

Dari wikishia
Ayat Tijarah
Informasi Ayat
NamaAyat Tijarah
SurahAn-Nisa'
Ayat29
Juz5
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangHaramnya transaksi keuangan non-syariah
DeskripsiLarangan Bunuh Diri


Ayat Tijarah (Ayat Perdagangan) adalah ayat ke-29 dari Surah An-Nisa yang menjelaskan tentang haramnya menguasai harta orang lain secara tidak sah. Ayat ini menegaskan bahwa umat manusia dilarang memakan atau mengambil alih harta sesamanya melalui jalan yang batil, kecuali jika hal tersebut dilakukan melalui skema perniagaan yang didasari oleh prinsip kerelaan (suka sama suka) dan selaras dengan ketentuan-ketentuan syariat.

Konsep "memakan harta secara batil" mencakup segala bentuk penguasaan harta pihak lain yang tidak dibenarkan oleh syariat, seperti Ghasab, praktik pencurian, Riba, dan perjudian. Pada hakikatnya, ayat ini menginstruksikan umat manusia untuk menjauhi segala bentuk transaksi yang diharamkan dan menyimpang, mengingat perbuatan-perbuatan tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan dan kehancuran tatanan sosial-ekonomi.

Dalam menafsirkan ayat ini, para mufasir berpandangan bahwa terma "batil" merujuk pada segala sesuatu yang diperoleh melalui jalur ilegal atau bertentangan dengan syariat Islam. Lebih jauh, di dalam ayat ini juga terdapat isyarat pelarangan terhadap tindakan pembunuhan dan Bunuh Diri. Korelasi ini secara implisit menunjukkan bahwa kerusakan ekonomi serta praktik transaksi yang zalim dapat memicu eskalasi konflik dan berbagai patologi sosial. Rentetan larangan ini sejatinya bersumber dari rahmat dan belas kasih Allah terhadap orang-orang yang beriman, yang bertujuan untuk memelihara harkat kemanusiaan sekaligus menegakkan pilar-pilar keadilan universal.

Pengenalan dan Teks Ayat

Ayat 29 Surah An-Nisa' secara tegas mengharamkan segala praktik transaksi yang batil.[1] Frasa "memakan harta secara batil" dikonseptualisasikan sebagai tindakan menguasai harta haram, terlepas dari apakah harta tersebut benar-benar dikonsumsi secara harfiah atau tidak.[2] Oleh karena itu, Ayat Tijarah kerap direferensikan sebagai landasan teologis (dalil) di dalam berbagai literatur fikih.[3] Sebagian mufasir memandang ayat ini sangat komprehensif dan mendudukkannya sebagai wasiat agung untuk memelihara kesucian jiwa dan kepemilikan harta, mengingat harta berfungsi sebagai instrumen penopang kehidupan manusia. Melalui dua kutub larangan ini, Allah menghendaki tercapainya kesempurnaan serta kelangsungan keutamaan moralitas manusia. Ketentuan ini merupakan manifestasi kasih sayang Allah terhadap kaum mukminin, sebagaimana yang dieksplisitkan pada pengujung ayat: "Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu." (إِنَّ اللَّهَ كانَ بِكُمْ رَحِيمًا)[4]

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan (gunakan) harta-harta kamu sesama kamu dengan jalan yang salah (tipu, judi dan sebagainya), kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan secara suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu.


Makna Memakan dan Harta

Dalam leksikon karya Raghib al-Isfahani, lema "memakan" (akl) secara harfiah diartikan sebagai tindakan mengonsumsi makanan.[5] Namun demikian, Tafsir al-Mizan memaknai terminologi ini secara lebih luas sebagai representasi dari bentuk penguasaan dan pemanfaatan atas segala sesuatu.[6] Sejalan dengan pandangan tersebut, yurisprudensi Islam (fikih) secara umum mengaplikasikan terma "akl" pada setiap jenis penguasaan, pemanfaatan, maupun konsumsi suatu barang, sehingga tidak menyempit pada aktivitas makan secara fisikal semata.[7]

Terkait definisi "harta" (mal), Thabrasi mengemukakan bahwa istilah ini tidak memerlukan pendefinisian khusus lantaran makna esensialnya telah dipahami secara universal.[8] Di sisi lain, Imam Khomeini merumuskan harta sebagai segala entitas yang diminati oleh manusia sehingga mereka bersedia mengorbankan nilai tukar atau harga demi memperolehnya.[9] Lebih komprehensif lagi, Sayid Hasan Bojnurdi mengategorikan segala sesuatu yang fungsional untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, atau entitas yang berpotensi dimanfaatkan untuk tujuan pemenuhan tersebut, sebagai manifestasi dari harta.[10]

Makna Batil

Menurut Ibnu Manzhur, batil didefinisikan sebagai antitesis dari hak (sesuatu yang tidak benar).[11] Dengan kata lain, segala sesuatu yang berlawanan dengan esensi kebenaran diklasifikasikan sebagai kebatilan. Raghib al-Isfahani menafsirkan batil sebagai sesuatu yang apabila dikaji dan diuji secara mendalam, terbukti tidak memiliki substansi maupun eksistensi yang permanen.[12] Sementara itu, Thabrasi memandang batil sebagai sesuatu yang akan fana dan musnah seiring berjalannya waktu.[13] Sejalan dengan paradigma ini, Allamah Thabathaba'i memosisikan batil sebagai dikotomi mutlak dari hak, di mana hak secara inheren memiliki sifat ketetapan dan keberwujudan yang riil.[14]

Di kalangan ahli fikih dan pakar tafsir, berkembang dua konseptualisasi utama mengenai makna batil:

  • Berdasarkan pandangan Thabrasi, batil ditinjau secara syariat merujuk pada segala sesuatu yang diperoleh melalui jalur yang tidak sah atau dihabiskan untuk tujuan yang diharamkan. Praktik ini secara langsung mencakup Riba, perjudian, tindakan penipuan terhadap konsumen, serta berbagai wujud kezaliman finansial.[15]
  • Berdasarkan pandangan Hasan Bashri, batil dimaknai secara urfi (konvensi sosial),[16] yakni mencakup segala praktik yang dalam konstruksi nalar publik dipandang ilegal atau cacat secara moral.[17] Merujuk pada asas pemahaman ini, apabila masyarakat saling mengonsumsi harta pihak lain tanpa alas hak yang sah atau tanpa melalui prosedur transaksi yang valid, maka hal tersebut dikonstruksikan sebagai kebatilan.[18] Hasan Bashri juga menuturkan bahwa pascaturunnya ayat ini, masyarakat menahan diri secara ketat dari memakan harta sesamanya hingga berlakunya hukum tersebut pada akhirnya di-nasakh oleh Ayat 61 Surah An-Nur.[19]

Maksud Batil dalam "Akl Mal bi al-Bathil"

  • Berdasarkan rumusan analitis yang dikemukakan oleh Syekh Anshari dan Imam Khomeini, lema "batil" di dalam konteks ayat-ayat mulia tersebut memiliki jangkauan semantik yang mengakomodasi batil secara urfi dan tidak tersubordinasi secara eksklusif pada batil secara syar'i.[20]
  • Di sisi lain, penulis kitab Misbah al-Faqahah berafiliasi pada pandangan bahwa batil hanya merujuk pada tinjauan syar'i semata.[21] Komplementer dengan hal ini, penulis kitab Kanz al-'Irfan menguraikan dalam penafsirannya mengenai Ayat Tijarah bahwa ruang lingkup batil memayungi segala perbuatan yang tidak diizinkan oleh syariat, di antaranya: ghasab, pencurian, pengkhianatan amanah, hingga berbagai skema akad transaksi yang tergolong rusak (fasid).[22]

Harta Batil

Syekh Thusi menyimpulkan bahwa mekanisme penguasaan yang melanggar hukum, seperti pencurian, ghasab, dan perjudian, merepresentasikan manifestasi empiris dari "memakan harta secara batil".[23] Sejumlah pakar tafsir turut mengidentifikasi bahwa harta batil menaungi akumulasi dari hasil transaksi non-syariah, tindakan agresi finansial, dan penipuan.[24] Bersandar pada sanad yang bersumber dari Imam Baqir as, Thabrasi meriwayatkan bahwa aktivitas judi, riba, kecurangan dalam berniaga, dan segala bentuk kezaliman secara inherent terhimpun di dalam kategori "harta batil".[25] Naser Makarem Syirazi pun mengafirmasi poin-poin krusial tersebut sebagai substansi dari eksistensi harta haram.[26] Sebagian pandangan lain mensintesiskan "harta batil" sebagai sirkulasi kapital atau pemanfaatan modal pada saluran yang menyimpang dari moral dan hukum.[27] Allamah Thabathaba'i memberikan pandangan paripurna dengan mendefinisikan harta batil sebagai instrumen transaksi apa pun yang berdampak destruktif dan memicu kerugian kolektif, sebagaimana halnya pada praktik perjudian dan riba.[28]

Kerelaan

Di dalam domain operasional Ayat Tijarah, suatu transaksi dijustifikasi keabsahannya apabila didirikan di atas asas kerelaan kedua belah pihak dan selaras secara syar'i.[29] Allamah Thabathaba'i mengelaborasi bahwa konstruksi kalimat "kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka" (إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ) berfungsi secara leksikal sebagai istitsna' munqathi' (pengecualian yang terputus). Frasa ini mengisyaratkan bahwa dinamika perdagangan yang disokong oleh rasa rida antara subjek transaksi sama sekali tidak berafiliasi dengan konotasi "memakan harta secara batil".[30] Sebagian ulama berpandangan bahwa realisasi kerelaan timbal balik ini tercapai pada momentum di mana transaksi dieksekusi melalui format akad jual beli yang mengikat. Di sudut lain, sebagian mufasir dari spektrum ulama Syiah maupun Ahlusunah menitikberatkan manifestasi kerelaan transaksional pada momen berpisahnya kedua pihak dari ruang perniagaan (majelis akad) atau pada saat dilakukannya manuver hukum pengguguran hak khiyar (opsi pembatalan).[31]

Pembunuhan

Pada penggalan lain dari Ayat Tijarah, dideklarasikan prohibisi tegas terhadap tindakan bunuh diri maupun perbuatan menumpahkan darah sesama umat manusia.[32] Para pakar tafsir menjembatani relasi kausal antara segmen ayat ini dengan larangan perampasan aset properti secara sepihak. Mereka berargumen bahwa dominasi praktik ekonomi ekstraktif (non-syar'i) yang mencederai prinsip keadilan akan memicu letupan kebencian dan derita eksistensial, baik terhadap individu pelaku maupun entitas lain yang terimbas kemudaratannya.[33] Mohsen Qara'ati menyusun presmis teologis bahwa ditempatkannya pelarangan pembunuhan secara kontinu pascalarangan memakan harta haram merepresentasikan tesis sosiologis: disfungsi arsitektur perekonomian niscaya memantik pergerakan akar rumput kaum terpinggirkan sehingga mencetuskan distorsi dan polarisasi konflik.[34] Hal senada ditegaskan oleh Thabrasi yang mengemukakan dalil bahwa pelarangan bunuh diri berakar dari tendensi luhur untuk mencegah terjerumusnya umat dari dosa transaksi amoral, yang lazimnya menjadi hulu pemicu dendam dan perselisihan sosial.[35] Imam Baqir as turut menyumbangkan tilikan filosofis yang menyamakan fenomena bunuh diri dengan keputusan impulsif menerjang konfrontasi fatalistik melawan musuh yang terlampau digdaya.[36] Interpretasi alegoris ini kelak diamini secara komprehensif oleh Allamah Thabathaba'i sebagai varian partikular dari fenomena perampasan nyawa secara swadaya (bunuh diri).[37] Lebih jauh melintasi demarkasi lahiriah, berkembang wacana sufistik dan teologis yang mendalilkan bahwa praktik banal "memakan harta secara batil" sejatinya tidak ubahnya merupakan racun yang membunuh integritas dan nurani secara perlahan, laksana ritual bunuh diri berdimensi sosio-spiritual dan individual.[38]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 322; Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 3, hlm. 59.
  2. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 318.
  3. Imam Khomeini, Kitab al-Bai', 1410 H, jld. 1, hlm. 64; Anshari, Kitab al-Makasib, 1420 H, jld. 1, hlm. 111, 130, 152; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1367 HS, jld. 22, hlm. 437; Syahid Awal, Al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1411 H, jld. 7, hlm. 341; Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, 1416 H, jld. 32, hlm. 223; Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Penerbit Dar al-Kutub al-Arabi, jld. 4, hlm. 302; Ibnu Hazm, Al-Ihkam, Penerbit Dar al-Afaq al-Jadidah, jld. 5, hlm. 730.
  4. Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, Penerbit Miqat, jld. 2, hlm. 439.
  5. Raghib Isfahani, Al-Mufradat, di bawah kata akl.
  6. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 2, hlm. 51.
  7. Hamadsyararah, Ahkam al-Ghasab fi al-Fiqh al-Islami, 1395 H, hlm. 82.
  8. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 H, jld. 1, hlm. 238.
  9. Khomeini, Kitab al-Bai', 1368 HS, jld. 1, hlm. 15.
  10. Bojnurdi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, 1419 H, jld. 2, hlm. 30.
  11. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1405 H, jld. 11, hlm. 56.
  12. Raghib Isfahani, Al-Mufradat, 1404 H, hlm. 50.
  13. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 H, jld. 2, hlm. 24.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 2, hlm. 52.
  15. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 5, hlm. 115.
  16. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 5, hlm. 115.
  17. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 5, hlm. 115.
  18. Thabathaba'i Qomi, Dirasatuna min al-Fiqh al-Ja'fari, 1400 H, jld. 3, hlm. 158; Ruhani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 4, hlm. 188.
  19. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 5, hlm. 115.
  20. Anshari, Kitab al-Makasib, 1420 H, jld. 5, hlm. 20; Imam Khomeini, Kitab al-Bai', 1410 H, jld. 1, hlm. 64.
  21. Khoei, Misbah al-Faqahah, 1371 HS, jld. 2, hlm. 141.
  22. Fadhil Miqdad, Kanz al-'Irfan, 1373 HS, jld. 2, hlm. 31.
  23. Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 2, hlm. 138.
  24. Thabari, Tafsir al-Thabari, 1412 H, jld. 5, hlm. 20; Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 355.
  25. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 3, hlm. 59.
  26. Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 355.
  27. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 3, hlm. 59.
  28. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 317.
  29. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 317; Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 356; Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 10, hlm. 58.
  30. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 317.
  31. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 3, hlm. 59; Thabari, Tafsir al-Thabari, 1412 H, jld. 5, hlm. 21.
  32. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 322.
  33. Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 357.
  34. Qara'ati, Mohsen, Tafsir-e Nur, di bawah ayat 29 Surah An-Nisa'.
  35. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 3, hlm. 60.
  36. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jld. 3, hlm. 60.
  37. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 322.
  38. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 4, hlm. 320.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Adzim wa al-Sab' al-Matsani. Riset: Ali Abd al-Bari Atiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
  • Anshari, Murtadha. Kitab al-Makasib. Qom: Muassasah Baqiri, 1420 H.
  • Bojnurdi, Sayid Hasan. Al-Qawa'id al-Fiqhiyyah. Riset: Muhammad Husain Dirayati. Qom: Penerbit Al-Hadi, 1419 H.
  • Bahrani, Sayid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Yayasan Bi'tsah, 1416 H.
  • Fadhil Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Kanz al-Irfan fi Fiqh al-Qur'an. Koreksi: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran: Penerbit Murtadhawi, 1373 HS.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Hamadsyararah, Abd al-Jabbar. Ahkam al-Ghasab fi al-Fiqh al-Islami. Beirut: Dar al-Tarbiyah, 1395 H.
  • Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam. Riset: Ahmad Muhammad Syakir. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-Arab. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1405 H.
  • Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abd al-Halim. Majmu' al-Fatawa. Riset: Abd al-Rahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Mujamma' al-Malik Fahd li Thiba'at al-Mushaf al-Syarif, 1416 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Kitab al-Bai'. Qom: Muassasah Isma'iliyan, 1368 HS.
  • Khoei, Abu al-Qasim. Misbah al-Faqahah. Didektekan oleh: Muhammad Ali Tauhidi. Qom: Penerbit Anshariyan, 1371 HS.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir-e Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam. Riset: Syekh Abbas Quchani. Qom: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS.
  • Qadhi Nu'man al-Maghribi, Nu'man bin Muhammad. Da'aim al-Islam. Qom: Muassasah Alu al-Bait as, 1385 HS.
  • Qomi Asy'ari, Ahmad bin Muhammad. Al-Nawadir. Qom: Madrasah Imam Mahdi as, 1408 H.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadz al-Qur'an. Koreksi: Safwan Adnan Dawudi. Beirut: Dar al-Syami'ah, 1404 H.
  • Ruhani, Muhammad Sadiq. Fiqh al-Shadiq. Qom: Ayin-e Danesy, 1412 H.
  • Syahid Awal, Muhammad bin Makki. Al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Riset: Ali Ashghar Morvarid. Beirut: Dar al-Turats, 1411 H.
  • Syarif Murtadha, Ali bin al-Husain. Rasail al-Syarif al-Murtadha. Qom: Dar al-Qur'an al-Karim, 1405 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tafsir al-Thabari (Jami' al-Bayan). Beirut: Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Matbu'at, 1390 HS.
  • Thabathaba'i Qomi, Taqi. Dirasatuna min al-Fiqh al-Ja'fari. Koreksi: Ali Murauji. Qom: Mathba'ah al-Khayyam, 1400 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Rasuli dan Thabathaba'i Yazdi. Teheran: Naser Khusru, 1360 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.