Konsep:Ayat 33 Surah Ali Imran
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Ali Imran |
| Ayat | 33 |
| Juz | 3 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Memperkenalkan orang-orang terpilih yang wajib diikuti. |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 32 Surah Ali Imran • Ayat 34 Surah Ali Imran |
Ayat 33 Surah Ali Imran (bahasa Arab:آیة ۳۳ سورة الآلعمران) adalah permulaan untuk menjelaskan kisah Isa bin Maryam[1] dan mengisyaratkan kepada kedudukan nenek moyangnya.[2] Dalam ayat ini, selain Adam as, seluruh Nabi Ulul Azmi juga disebutkan dan risalah mereka diperkenalkan bersifat semesta (universal).[3]
Nama Nuh as disebutkan secara eksplisit dan Al-Ibrahim mencakup dirinya, Musa as, Isa as, dan Nabi Akram saw.[4] Penyebutan Al-Imran juga merupakan isyarat kembali kepada Maryam dan Isa yang menjadi pendahuluan untuk penjelasan keadaan mereka pada ayat-ayat berikutnya. Mengingat dalam Ayat 32 Surah Ali Imran perintah untuk menaati Rasul telah diberikan, ayat ini menjelaskan alasannya, yaitu bahwa terpilihnya para nabi ini adalah karena ilmu, iman, dan kemaksuman mereka.[5]
"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)." (QS. Ali 'Imran: 33)
Diriwayatkan dari Imam Baqir as yang mengisyaratkan pada ayat 33 Surah Ali Imran, beliau berkata: "Kami adalah orang-orang terpilih itu dan sisa dari Itrah tersebut."[6] Selain itu, berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai dari Ahlulbait, ayat ini dijadikan dalil bagi kemaksuman para nabi dan para Imam; sebab Allah tidak akan pernah memilih orang-orang yang berdosa dan terkotori oleh kekafiran dan kefasikan.[7]
Menurut Allamah Thabathaba'i, kata Ishthafa (memilih), dengan memperhatikan ungkapan ala al-alamin (di atas semesta alam) di akhir ayat, bermakna pemilihan dan pengutamaan mereka atas orang lain. Menurutnya, di sini maknanya bukan pemurnian dan pembersihan mereka dari hal-hal yang mengotori.[8] Berdasarkan hal ini, Adam sebagai khalifah manusia pertama di muka bumi, orang pertama yang dibukakan pintu tobat baginya, dan orang pertama yang disyariatkan agama untuknya, adalah pilihan Allah atas orang lain.[9] Demikian juga Nuh, nabi pertama dari para nabi Ulul Azmi, termasuk orang-orang yang terpilih atas manusia lainnya.[10]
Al-Ibrahim mengisyaratkan kepada manusia-manusia suci dari keturunan Ibrahim seperti Ishaq, Ismail, Yaqub, Dawud, Sulaiman, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa[11] dan yang paling utama dari mereka Nabi Muhammad saw serta kerabat suci mereka.[12] Sebagian juga mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Ibrahim adalah orang-orang mukmin yang berpegang teguh pada agama Ibrahim, yaitu Islam.[13] Di sisi lain dikatakan bahwa Al-Ibrahim dan Al-Imran tidak menunjukkan kepada seluruh keturunan mereka; karena mungkin saja di antara mereka terdapat orang-orang kafir.[14]
Makarim Syirazi meyakini bahwa dalam ayat ini, Imran mengacu pada ayah Maryam dan bukan ayah Musa, karena di dalam Al-Qur'an di mana pun nama Imran disebutkan, yang dimaksud adalah ayah Maryam.[15] Kata "Al" diambil dari "Ahl", namun perbedaannya adalah "Al" digunakan untuk keturunan orang-orang terkemuka dan mulia, sedangkan "Ahl" dapat mengacu pada manusia, bahkan waktu dan tempat.[16]
Menurut Muhsin Qara'ati, nama Surah Ali Imran diambil dari isi ayat ini dan ayat 35.[17] Mengingat ayat 34 surah ini memiliki hubungan konten yang erat dengan ayat 33, sejumlah mufasir seperti Muhammad Husain Thabathaba'i, Nashir Makarim Syirazi, dan Fadhl bin Hasan Thabarsi menafsirkan kedua ayat tersebut secara bersamaan.[18]
Catatan Kaki
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 3, hlm. 164.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 517.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 1, hlm. 501; Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 517.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 517.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 1, hlm. 461.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 1, hlm. 500.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 520.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 3, hlm. 166.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 3, hlm. 166.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 3, hlm. 166.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 734.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 3, hlm. 166.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 734.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 520.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 520.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 520.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 1, hlm. 461.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 3, hlm. 164; Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1380 HS, jld. 2, hlm. 517; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 734.
Daftar Pustaka
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan ke-41, 1380 HS.
- Qara'ati, Hasan. Tafsir Nur. Teheran: Markaz-e Farhangi-ye Dars-haye az Qur'an, cetakan pertama, 1388 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cetakan kedua, 1408 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, cetakan ketiga, 1393 H.