Konsep:Tasnim
Tasnim (bahasa Arab:تَسنیم) adalah nama sebuah mata air di Surga yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (Al-Muqarrabun).[1] Berdasarkan deskripsi Al-Qur'an, orang-orang beriman duduk di atas dipan-dipan di taman-taman ilahi yang penuh nikmat dan dipuaskan dengan minuman yang disegel bernama Rahiq. Segel minuman ini terbuat dari kasturi dan Al-Qur'an menganggap akses kepadanya layak untuk diperebutkan dan dilombakan oleh orang-orang beriman.[2] Minuman ini dicampur dengan Tasnim.[3]
Menurut Allamah Thabathaba'i, mata air Tasnim lebih unggul daripada minuman Rahiq, karena campurannya dengan Tasnim memberikan kelezatan lebih padanya dan Al-Muqarrabun meminum dari mata air ini. Oleh karena itu, kedudukan mereka lebih tinggi daripada orang-orang baik (Abrar) yang hanya dimabukkan dengan minuman Rahiq. Namun, sekadar percampuran Rahiq dengan Tasnim dan deskripsi Al-Qur'an tentang campuran ini tidak bisa menjadi bukti keunggulan, kecuali jika keunggulan tersebut dibuktikan melalui beberapa riwayat atau dari makna kata Al-Muqarrabun dibandingkan dengan Al-Abrar.[4]
Beberapa sumber mendeskripsikan bahwa Tasnim adalah sungai yang mengalir di udara dan kapan pun penghuni Surga menginginkannya, air itu dituangkan ke dalam wadah mereka.[5] Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa Tasnim adalah nama air yang mengalir dari bawah Arasy dan dianggap sebagai minuman surga terbaik; mata air ini termasuk salah satu contoh dari Ayat 17 Surah As-Sajdah Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang (Fa lā ta'lamu nafsun mā ukhfiya lahum min qurrati a'yun).[6]
Maraghi, penulis kitab tafsir Al-Maraghi, berpendapat bahwa dari ayat-ayat Al-Qur'an dan tulisan sebagian besar mufasir tidak dapat dipastikan apakah isi mata air Tasnim adalah air atau minuman lain; namun, beberapa mufasir dan penerjemah secara tidak sadar menambahkan kata air pada nama Tasnim.[7]
Catatan Kaki
- ↑ Surah Al-Mutaffifin, ayat 27 dan 28.
- ↑ Surah Al-Mutaffifin, ayat 26.
- ↑ Surah Al-Mutaffifin, ayat 27 dan 28.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 20, hlm. 239.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 10, hlm. 693.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 10, hlm. 693; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 10, hlm. 419; Abu al-Futuh al-Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 20, hlm. 191-192.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Maraghi, Tafsir al-Maraghi, 1985 M, jld. 30, hlm. 82.
Daftar Pustaka
- Abu al-Futuh al-Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Investigasi: Muhammad Ja'far Yahaqqi, Muhammad Mahdi Nashih. Masyhad: Bonyad-e Pazhuhesy-haye Eslami-ye Astan Quds Razawi, 1408 H.
- Allamah Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftar-e Entesyarat-e Eslami, 1417 H.
- Azhari, Muhammad bin Ahmad. Tahdzib al-Lughah. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1421 H.
- Maibudi, Ahmad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddah al-Abrar. Atas usaha Ali Asghar Hekmat. Teheran: Amir Kabir, Cetakan Kelima, 1371 HS.
- Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar al-Fikr, 1985 M.
- Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahjul Balaghah (li al-Shubhi Shalih). Qom: Nasyr-e Hejrat, Cetakan Pertama, 1414 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Mu'assasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan Pertama, 1415 H.
Pranala Luar
- Sumber artikel: Ensiklopedia Dunia Islam (Daneshnameh Jahan Eslam)