Lompat ke isi

Konsep:Tahdis

Dari wikishia

Tahdis merujuk pada mendengar suara malaikat dengan telinga batin, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga; dan muhaddats adalah orang yang mendengar suara ini tanpa harus melihat rupa malaikat tersebut, meskipun dalam beberapa kasus seperti Maryam dan Sarah, melihat rupa malaikat juga terjadi. Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Shadiq (as), tahdis dapat mencakup pembisikan ke dalam hati, ucapan langsung malaikat, melihat Ruh al-Qudus, atau mendengar suara yang mirip dengan jatuhnya rantai ke dalam baskom. Kaum Syiah dan Sunni meyakini bahwa dengan berakhirnya kenabian (khatamiyat), hubungan dengan para muhaddats tidaklah terputus; dalam sumber-sumber Syiah, Imam Ali (as), Fatimah (sa), para Imam lainnya, dan Salman al-Farisi adalah muhaddats, sementara dalam sumber-sumber Ahlusunnah disebutkan nama Umar bin Khattab.

Ulama Syiah menekankan bahwa muhaddats bukanlah seorang nabi maupun rasul, dan tidak diturunkan wahyu kepadanya, karena Imam tidak mendengar wahyu Allah secara langsung melainkan seorang malaikat diutus kepadanya untuk membisikkan ke telinganya; dikatakan bahwa Abul Khattab, karena melalaikan perbedaan ini, menganggap kedudukan muhaddats para Imam sebagai dalil atas kenabian mereka.

Dalam perbandingan antara tahdis dengan ilham, mayoritas mutakallim menganggap tahdis sebagai makna yang lebih umum di mana ilham adalah salah satu contohnya; namun sebagian membedakan bahwa dalam tahdis terdapat pendengaran suara malaikat, sementara dalam ilham semata-mata sebuah materi disuguhkan ke dalam hati. Untuk membedakan antara tahdis malaikat dengan tipu daya setan, mereka menyebutkan kriteria sakinah (ketenangan), wibawa, dan keyakinan; suara malaikat disertai dengan sifat-sifat ini, namun suara setan dibarengi dengan kecemasan, keragu-raguan, dan ketergesa-gesaan.

Terminologi

Mendengar suara malaikat dengan hati dan telinga batin—baik saat tidur maupun terjaga—disebut sebagai "tahdis";[1] oleh karena itu, dikatakan bahwa muhaddats adalah orang yang mendengar suara malaikat tanpa melihat rupanya.[2]

Menurut pernyataan sebagian peneliti, terkadang seorang muhaddats mungkin juga melihat rupa malaikat; sebagaimana Maryam[3] dan Sarah[4] yang mendengar suara malaikat sekaligus melihat rupa malaikat tersebut.[5] Selain itu, beberapa peneliti dalam menghimpun riwayat-riwayat tahdis menyatakan bahwa muhaddats tidak melihat rupa malakuti malaikat namun dapat melihat rupa tamats-tsul (perwujudan)-nya dan mendengar suaranya.[6]Templat:Catatan Dikatakan bahwa karena tahdis didengar dengan telinga batin, maka orang yang bukan muhaddats tidak akan mendengarnya, meskipun ia hadir di tempat tersebut.[7]

Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq (as) juga dinukil bahwa tahdis terjadi dengan berbagai cara: pembisikan ke dalam hati, pembicaraan malaikat dengannya, melihat Ruh al-Qudus, atau mendengar suara yang mirip dengan suara jatuhnya rantai ke dalam baskom.[8]

Muhaddats dalam Umat Islam

Syiah dan Sunni bersepakat bahwa dengan adanya khatamiyat (berakhirnya kenabian)[9] hubungan para malaikat dengan manusia-manusia pilihan (muhaddats) tidaklah terputus.[10] Beberapa dari riwayat ini telah dikumpulkan dalam kitab al-Ghadir.[11]

Dalam sumber-sumber Syiah, Imam Ali (as) dan para Imam Syiah lainnya disebut sebagai muhaddats dalam arti bahwa tanpa menjadi seorang nabi, para malaikat membisikkan ke telinga mereka dan memberikan ilham ke dalam hati mereka.[12] Dalam sumber-sumber riwayat, Fatimah (sa) juga dianggap sebagai muhaddatsah karena para malaikat berbicara dengannya tanpa beliau menjadi seorang nabi.[13] Dinukil dari Imam Ja'far Shadiq (as) bahwa Salman juga merupakan seorang muhaddats.[14] Dalam sumber-sumber Ahlusunnah, Umar bin Khattab disebut sebagai seorang muhaddats.[15] Ulama Ahlusunnah memberikan berbagai penjelasan dalam mensyarah status muhaddats Umar bin Khattab.[16]

Perbedaan Muhaddats dengan Nabi dan Rasul

Diriwayatkan dari Imam Shadiq (as) bahwa Imam dan Rasulullah (saw) berbeda dalam cara memperoleh ilmu, yakni bahwa Imam tidak mendengar wahyu dari sisi Allah dan ia tidak melihat apa yang dilihat oleh Rasulullah (saw);[17] melainkan Imam adalah muhaddats dalam arti bahwa Allah mengutus seorang malaikat kepadanya agar suara tersebut terngiang di telinganya.[18] Ulama Syiah juga menekankan poin ini bahwa meskipun muhaddats berhubungan dengan malaikat, namun ia bukanlah nabi maupun rasul dan tidak diturunkan wahyu tasyri'i kepadanya.[19]

Menurut pernyataan Imam Baqir (as), Abul Khattab—salah satu tokoh ghulat ternama dan pendiri sekte Khaththabiyyah—karena melalaikan perbedaan antara muhaddats dan nabi, menyimpulkan status kenabian dari kedudukan muhaddats para Imam.[20] [21]

Perbedaan Tahdis dengan Ilham

Mayoritas mutakallim Muslim menganggap tahdis sebagai makna yang umum di mana ilham merupakan salah satu contohnya;[22] namun sebagian peneliti mengenai perbedaan tahdis dan ilham menyatakan: dalam tahdis, seseorang mendengar suara malaikat (baik melihat rupa tamats-tsul-nya maupun tidak); namun dalam ilham, sebuah materi disuguhkan ke dalam hati seseorang tanpa terdengar suara maupun terlihat sebuah gambar.[23]

Faidh Kasyani dalam kitab al-Wafi setelah menghitung kesamaan-kesamaan antara ilham dan tahdis dalam cara menerima ilmu gaib, menganggap perbedaan keduanya hanya terletak pada cara pengangkatan hijab dari alam gaib.[24]

Perbedaan Tahdis Malaikat dan Tipu Daya Setan

Imam Shadiq (as) dalam menjawab pertanyaan mengenai bagaimana seorang muhaddats mendiagnosis bahwa ia sedang mendengar suara malaikat, merujuk pada kriteria ini bahwa tahdis malaikat disertai dengan sakinah (ketenangan) dan wibawa, dan muhaddats melalui jalan ini memahami bahwa suara yang didengarnya adalah suara malaikat.[25]

Allamah Thabathaba'i juga dengan bersandar pada sumber-sumber agama, mengenai perbedaan tahdis malaikat dan tipu daya setan merujuk pada poin ini bahwa suara malaikat adalah benar (haq) dan mendengarnya disertai dengan sakinah, keyakinan, dan wibawa, serta muhaddats melalui penguatan dan cahaya Ilahi menjadi yakin bahwa ini adalah suara malaikat. Namun suara setan terkadang bercampur dengan kebatilan dan terkadang nampak sebagai kebenaran namun mendengarnya disertai dengan kecemasan, kekhawatiran, keragu-raguan, ketergesa-gesaan, dan kehinaan.[26]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 3, hlm. 220; Raghib al-Isfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an, 1412 H, hlm. 222.
  2. Javadi Amoli, Tafsir Tasnim, 1390 HS, jld. 14, hlm. 225.
  3. Surah Maryam, ayat 17-19.
  4. Surah Hud, ayat 71-73.
  5. Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 3, hlm. 221.
  6. Hashemi, Mahiyyat-e Ilm-e Imam, 1396 HS, hlm. 249.
  7. Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 3, hlm. 220-221.
  8. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 19.
  9. Surah Al-Ahzab, ayat 40.
  10. Amini, al-Ghadir, 1416 H, jld. 5, hlm. 67.
  11. Amini, al-Ghadir, 1416 H, jld. 5, hlm. 67-80.
  12. Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 270-271; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 71 dan jld. 14, hlm. 236.
  13. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 14, hlm. 236.
  14. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 67; Saffar al-Qomi, Bashair al-Darajat, 1404 H, hlm. 342.
  15. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jld. 5, hlm. 12.
  16. Amini, al-Ghadir, 1416 H, jld. 5, hlm. 67-74.
  17. Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 243.
  18. Saffar al-Qomi, Bashair al-Darajat, 1404 H, hlm. 343.
  19. Amini, al-Ghadir, 1416 H, jld. 5, hlm. 67; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 11, hlm. 54; Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 270-271.
  20. Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 270-271.
  21. Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 270.
  22. Mohammadzadeh dan Niroumand, " رابطه الهام و تحديث در علم امامان شيعه" (Hubungan Ilham dan Tahdis dalam Ilmu Para Imam Syiah), hlm. 55-74.
  23. Hashemi, Mahiyyat-e Ilm-e Imam, 1396 HS, hlm. 255.
  24. Faidh Kasyani, al-Wafi, 1406 H, jld. 2, hlm. 77-78.
  25. Kulaini, al-Kafi, 1362 HS, jld. 1, hlm. 271; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 26, hlm. 68.
  26. Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 3, hlm. 221.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Al-Qur'an.
  • Amini, Abdul Husain, al-Ghadir, Penerbit Markaz al-Ghadir, 1416 H.
  • al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhari, Dar Thuq al-Najah, 1422 H.
  • Javadi Amoli, Abdullah, Tafsir Tasnim, Pusat Penerbitan Isra, 1390 HS.
  • Raghib al-Isfahani, Husain bin Muhammad, al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an, Dar al-Qalam, 1412 H.
  • Saffar al-Qomi, Muhammad bin Hasan, Bashair al-Darajat al-Kubra fi Fadha'il Alu Muhammad, Penerbit Muasasah al-A'lami, 1404 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Mohammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Kantor Penerbitan Islami, 1417 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kafi, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1362 HS.
  • Majlisi, Mohammad Baqer, Bihar al-Anwar, Penerbit Muasasah al-Wafa', 1403 H.
  • Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarem Shirazi