Konsep:Shalat Istighatsah
Shalat Istighatsah adalah termasuk shalat-shalat sunnah yang didirikan untuk terlepas dari kesulitan dan terkabulnya hajat di masa-masa sulit.[1] Alasan penamaannya adalah karena pelaksanaannya yang dilakukan dengan keadaan meratap dan tunduk untuk memohon pertolongan Tuhan[2] dan dianggap sangat mujarab untuk terkabulnya doa.[3]
Sebagian orang, karena menganggap istighatsah sebagai jenis ibadah, maka menganggap shalat istighatsah kepada selain Allah sebagai bentuk Syirik kepada Allah dan melarangnya.[4] Dalam menjawab syubhat ini, dikatakan bahwa ibadah adalah jenis perilaku dan ucapan yang bersumber dari keyakinan terhadap uluhiyyah (ketuhanan); oleh karena itu, tidak bisa menyamakan istighatsah yang merupakan jenis pencarian bantuan (istimdad) dengan ibadah.[5] Selain itu, dalam kitab-kitab riwayat Ahli Sunah juga telah dinukil adanya istighatsah dari sirah Nabi Muhammad saw.[6]
Dalam kitab-kitab doa, telah dianjurkan beberapa jenis shalat istighatsah, seperti:
- Shalat Istighatsah kepada Allah: Sebagaimana dinukil dari Imam al-Shadiq (as), setiap kali seseorang memiliki permohonan bantuan (istighatsah) ke haribaan Tuhan, hendaknya ia mendirikan shalat dua rakaat kemudian meletakkan kepala pada posisi Sujud dan berucap: "Ya Muhammad Ya Rasulullah Ya Ali Ya Sayyid al-Mu'minin wa al-Mu'minat, bikuma astaghitsu ilallahi Ta'ala, Ya Muhammad Ya Ali astaghitsu bikuma, Ya Ghautsahu billahi wa bi-Muhammadin wa 'Aliyyin wa Fatimah" dan menyebutkan nama-nama para Imam, lalu berucap: "Atawassalu ilallahi Ta'ala".[7] Dalam kumpulan riwayat, shalat lain juga dinukil dengan nama shalat istighatsah kepada Allah dengan tata cara yang berbeda.[8]
- Shalat Istighatsah kepada Sayyidah Fatimah (sa): Diriwayatkan bahwa setiap kali muncul sebuah hajat dan dada terasa sesak karenanya, hendaknya mendirikan shalat dua rakaat. Setelah salam shalat, ucapkan takbir tiga puluh kali, kemudian lakukan Tasbih Sayyidah Zahra (sa). Pergilah ke posisi Sujud dan ucapkan seratus kali: "Ya Maulatana Ya Fatimah Aghitsini" (Wahai pelindungku wahai Fatimah, tolonglah aku). Kemudian letakkan pipi kanan ke atas tanah dan ulangi zikir yang sama seratus kali. Setelah itu, letakkan pipi kiri ke atas tanah dan ulangi kembali seratus kali. Kembali lagi ke posisi sujud dan ucapkan seratus sepuluh kali, kemudian sebutkan hajat Anda. Sesungguhnya Allah akan mengabulkannya.[9]
- Istighatsah kepada para Ma'shum (as): Imam al-Shadiq (as) bersabda bahwa setiap kali Anda memiliki hajat dan ingin memohon bantuan dari Allah, dirikanlah shalat dua rakaat. Setelah shalat, dalam sujud ucapkanlah: "Ya Muhammad Ya Ali; Wahai pemimpin mukmin laki-laki dan perempuan, kepada kalian aku beristighatsah menuju Allah, wahai Muhammad wahai Ali, aku beristighatsah kepada kalian, aku beristighatsah kepada Allah dan aku beristighatsah kepada Muhammad, Ali, Fatimah dan [sebutkan para Imam (as) lainnya], kepada kalian aku bertawakal menuju Allah. Jika Anda melakukan amalan ini, Insya Allah pada saat itu juga bantuan akan sampai kepada Anda.[10]
- Istighatsah kepada Imam Zaman (afj): "Ghauts" adalah salah satu gelar Imam Zaman (afj)[11] dan telah digunakan dalam beberapa doa seperti Doa Faraj dan Ziarat Ali Yasin.
Para ilmuwan Syiah menyebutkan dua cara istighatsah kepada Imam Zaman:
- Shalat dan Ziarat Istighatsah: Berdasarkan Misbah Kaf'ami, untuk istighatsah kepada Imam Zaman (afj) hendaknya mendirikan shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah surah al-Fatihah, bacalah surah al-Fath dan pada rakaat kedua bacalah surah al-Nashr. Setelah shalat, bacalah doa yang dimulai dengan ungkapan "Salamullahi al-Kamil al-Tamm al-Syamil al-'Amm..." dan kemudian sampaikan hajat. Kaf'ami menganjurkan agar shalat ini dilakukan di bawah langit (tanpa atap) dan dengan mandi (ghusl) sebelumnya.[12] Syekh Mahmoud Iraqi, penulis kitab Dar al-Salam, telah mempraktikkan amalan ini dan melihat pengaruh ajaib darinya.[13]
- Shalat Istighatsah kepada Sayyid al-Hujjah (afj): Shalat ini terdiri dari dua rakaat dan harus dilakukan di bawah langit, di atas atap, dan dengan kepala terbuka. Setelah shalat, dengan kepala tetap terbuka, panggillah Imam Zaman (afj) dengan ungkapan "Ya Hujjatul Qa'im" sebanyak 595 kali (sesuai angka Abjad). Shalat ini dikemukakan oleh Sadr al-Islam Hamadani dan beliau pun telah mempraktikkannya.[14]
Catatan Kaki
- ↑ Tabarsi, Makarim al-Akhlaq, 1412 H, hlm. 331.
- ↑ Mustafawi, al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, 1368 HS, jld. 7, hlm. 277-279.
- ↑ Tabarsi, Makarim al-Akhlaq, 1412 H, hlm. 330; Kaf'ami, al-Balad al-Amin, 1418 H, hlm. 157.
- ↑ Qaffari, Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiyyah al-Itsna 'Asyariyyah, 1418 H, jld. 2, hlm. 495.
- ↑ Sobhani, A'in-e Vahhabiyat, 1364 HS, hlm. 192.
- ↑ Bukhari, Shahih, 1407 H, jld. 1, hlm. 243.
- ↑ Tabarsi, Makarim al-Akhlaq, 1412 H, hlm. 330-331.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 88, hlm. 356.
- ↑ Qumi, Mafatih al-Jinan, 1388 HS, hlm. 428.
- ↑ Tabarsi, Makarim al-Akhlaq, 1370 HS, hlm. 330.
- ↑ Syekh Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha, 1404 H, jld. 2, hlm. 34.
- ↑ Kaf'ami, al-Balad al-Amin, 1403 H, hlm. 145; Qumi, Mafatih al-Jinan, 1388 HS, hlm. 158.
- ↑ Iraqi, Dar al-Salam, 1429 H, hlm. 193.
- ↑ Hamadani, Takalif al-Anam fi Ghaibat al-Imam, 1361 HS, hlm. 251.
Daftar Pustaka
- Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut, Dar Ibn Katsir, 1407 H.
- Hamadani, Sadr al-Islam. Takalif al-Anam fi Ghaibat al-Imam. Teheran, Entesyarat-e Badr, 1361 HS.
- Iraqi, Mahmoud. Dar al-Salam. 1429 H.
- Kaf'ami, Ibrahim bin Ali. al-Balad al-Amin wa al-Dir' al-Hashin. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1418 H.
- Majlisi, Mohammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Misbah Yazdi, Mohammad Taqi. Amuzesy-e Aqa'id. Teheran, Syerkat-e Cyap va Nasyr-e Beinolmelal, 1384 HS.
- Mustafawi, Hassan. al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Vezarat-e Farhang va Ersyad-e Islami, 1368 HS.
- Qaffari, Nasir bin Abdullah. Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiyyah al-Itsna 'Asyariyyah. Dar al-Ridha, 1415 H.
- Qumi, Syekh Abbas. Mafatih al-Jinan. Terjemahan: Hossein Ansarian. Qom, Dar al-Irfan, 1388 HS.
- Sobhani, Jafar. A'in-e Vahhabiyat. Qom, Entesyarat-e Daftar-e Islami, 1364 HS.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha. Riset dan Koreksi: Mahdi Lajevardi. Teheran, Nasyr-e Jihan, cetakan pertama, 1404 H.
- Tabarsi, Hassan bin Fadhl. Makarim al-Akhlaq. Qom, Syarif Radhi, 1412 H.