Lompat ke isi

Konsep:Pengharaman Khamr

Dari wikishia

Pengharaman Khamr merupakan salah satu keniscayaan agama Islam, dan keharaman konsumsi khamr telah diterima oleh seluruh umat Islam tanpa ada perbedaan pendapat sedikit pun. Hukum ini ditekankan dan didasarkan pada berbagai alasan dari ayat-ayat serta riwayat-riwayat otoritatif, namun terdapat dua pandangan berbeda mengenai waktu dan cara pengumuman keharamannya. Perbedaan utama dari kedua pandangan ini merujuk pada status Makkiyah atau Madaniyah-nya ayat-ayat pengharaman khamr.

Dalam kitab-kitab tafsir Ahlussunnah disebutkan bahwa keharaman khamr diumumkan secara bertahap dan hingga sebelum turunnya ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah yang berkaitan dengan hari-hari terakhir turunnya wahyu, konsumsinya masih diperbolehkan.


Sebaliknya, kaum Syiah meyakini bahwa Khamr tidak pernah menjadi Halal dan keharamannya telah diumumkan di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah, melalui ayat 67 Surah An-Nahl dan ayat 33 Surah Al-A'raf. Mereka berpendapat bahwa ayat-ayat Madaniyah turun hanya untuk menekankan hukum sebelumnya; meskipun demikian, sebagian pemikir Syiah meyakini bahwa penyampaian hukum keharaman khamr menempuh jalur bertahap.

Dalam fikih Syiah, jika seseorang menganggap minum khamr itu halal —baik ia seorang Muslim sejak lahir (murtad fitri) maupun keturunan kafir yang kemudian masuk Islam (murtad milli)— maka jika ia tidak melakukan taubat dan pengingkarannya kembali kepada pendustaan terhadap Nabi (saw), ia akan dijatuhi hukuman mati. Penjual khamr juga memiliki hukum yang sama, namun penjual minuman memabukkan lainnya tidak dijatuhi hukuman mati.

Pengharaman Khamr dan Perbedaan Pendapat Mengenai Waktu Pengumumannya

Keharaman khamr dalam Islam diterima tanpa perbedaan pendapat di antara umat Islam dan dianggap sebagai bagian dari keniscayaan agama; sedemikian rupa sehingga jika seseorang meyakini kehalalannya, ia termasuk dalam golongan kaum Kafir.[1]

Beberapa fakih dan mufasir, dengan bersandar pada ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah[2] serta riwayat-riwayat terkait,[3] mengeluarkan hukum mengenai kenajisan khamr. Allamah Hilli (wafat: 726 H) juga menyebutkan adanya Ijmak fukaha atas kenajisan khamr dan menganggap keharamannya bersumber dari kenajisan ini.[4] Selain itu, Allamah Hilli menukil dari Sayid Murtadha (wafat: 436 H) dan Syekh Thusi (wafat: 460 H) bahwa di antara umat Islam tidak ada perbedaan pendapat mengenai kenajisan khamr;[5] meskipun demikian, sekelompok fakih mengajukan teori kesucian (taharah) khamr dan menunjukkan kecenderungan padanya.[6]

Menurut keyakinan mufasir Syiah, Khamr tidak pernah halal dalam mazhab mana pun[7] dan peringatan pertama mengenai pengharaman khamr terjadi di Mekah[8] dengan turunnya ayat وَ مِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَ الْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا.[9] Ayat-ayat selanjutnya dalam hal ini adalah Ayat Sukr, ayat يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ dan akhirnya ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah, yang mana banyak fakih dalam berargumen atas keharaman khamr merujuk pada ayat 219 Surah Al-Baqarah.[10] Dalam kitab-kitab Ahlussunnah disebutkan bahwa pengharaman khamr dilakukan secara bertahap, yang mana berdasarkan hal ini hingga sebelum turunnya ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah yang berkaitan dengan masa-masa terakhir turunnya wahyu,[11] orang-orang diperbolehkan meminum khamr[12] dan hanya ketika ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah turun, larangan pasti atas keharaman meminum khamr ditetapkan.[13]

Alasan Para Pendukung Pengharaman Sekaligus: Dari Ayat-Ayat Makkiyah Hingga Bukti Sejarah

Para pendukung teori keharaman sekaligus (def'i) Khamr, dengan bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an, riwayat-riwayat Islam, Dalil Akal dan bukti sejarah, berkeyakinan bahwa khamr diharamkan secara sekaligus di Mekah.

  • Riwayat-riwayat: Dalam beberapa riwayat Islam, waktu pengumuman keharaman minum khamr disebutkan pada awal bi'tsah Nabi (saw).[18] Selain itu, dalam riwayat-riwayat ini khamr diperkenalkan sebagai sumber kerusakan[19] dan dalam tafsir riwayat atas ayat 32 Surah An-Najm dan ayat 37 Surah Asy-Syura, khamr disebut bukan hanya sebagai contoh sempurna dari dosa (ithm), melainkan sebagai salah satu dosa besar yang paling agung dalam ayat-ayat Makkiyah.[20]
  • Bukti Sejarah: Para pendukung pengharaman sekaligus meyakini beberapa laporan sejarah, seperti kisah A'sya bin Qais[27] (penyair masyhur jahiliah),Templat:Catatan serta bukti sejarah lainnya[28] menunjukkan bahwa keharaman khamr telah diumumkan sebelum hijrah.

Alasan Para Pendukung Pengharaman Bertahap

Ahlussunnah meyakini bahwa khamr (minuman keras) adalah Halal pada awal Islam dan pengumuman keharamannya ditunda hingga masa Madinah. Atas dasar ini, mereka berpendapat pada teori "Pengharaman Khamr Secara Bertahap"[29] dan mengemukakan alasan mereka dalam beberapa poin:

  • Pemahaman dari ayat-ayat Al-Qur'an: Dari sudut pandang Ahlussunnah, ayat 219 Surah Al-Baqarah dan ayat 43 Surah An-Nisa diturunkan sebelum turunnya ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah, dan kedua ayat ini tidak memberikan larangan eksplisit atas minum khamr, melainkan hanya merujuk pada bahaya dan beberapa pembatasan terkait dengannya. Berdasarkan hal ini, Ahlussunnah berkeyakinan bahwa hingga waktu turunnya ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah, meminum khamr bersifat mubah.[30] Selain itu, asbabun nuzul ayat 43 Surah An-Nisa dianggap sebagai dalil yang menunjukkan bahwa ayat 219 Surah Al-Baqarah tidak memiliki konotasi pengharaman.[31]
  • Menjaga martabat Sahabat: Beberapa ulama Ahlussunnah menganggap kemubahan khamr di awal Islam bertujuan untuk mencegah penisbatan fasik kepada sebagian sahabat yang mengonsumsi khamr di awal masa Islam.[32]
  • Toleransi dalam Pensyariatan Hukum: Ahlussunnah meyakini bahwa Allah—karena kebiasaan orang-orang meminum khamr dan sulitnya meninggalkannya—telah melakukan pengharaman khamr secara bertahap dan dengan kelembutan (rifq). Oleh karena itu, penetapan hukum akhir keharaman khamr dilakukan setelah melewati berbagai tahapan agar masyarakat secara bertahap siap untuk menerima hukum keharaman tersebut.[33]
  • Taqrir Nabi (saw) dan keyakinan akan adanya nasakh pada sebagian ayat: Ahlussunnah bersandar pada diamnya Nabi (saw) di hadapan pertanyaan sebagian sahabat mengenai keharaman khamr dan menganggapnya sebagai tanda ketiadaan pengharaman segera.[34] Selain itu, mereka berkeyakinan bahwa ayat 219 Surah Al-Baqarah dan 43 Surah An-Nisa telah dinasakh dengan turunnya ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah, dan hukum pasti keharaman khamr baru final di tahapan ini.[35]

Allamah Thabathaba'i juga dari kombinasi ayat 33 Surah Al-A'raf yang turun di Mekah dengan ayat 219 Surah Al-Baqarah dan ayat 43 Surah An-Nisa yang turun di Madinah, menyimpulkan bahwa Al-Qur'an secara eksplisit telah mengharamkan khamr di Mekah, meskipun maslahatnya adalah agar hukum ini diumumkan secara bertahap.[36] Beberapa pemikir Syiah juga menerima sifat bertahap dalam penyampaian hukum, khususnya mengenai khamr, dan menganggapnya sebagai hikmah Ilahi dalam pensyariatan hukum.[37]

Filosofi Pengharaman Meminum Khamr

Templat:Utama Para fakih dengan bersandar pada riwayat-riwayat,[38] menganggap konsumsi minuman beralkohol atau zat memabukkan apa pun sebagai haram dan meyakini bahwa konsumsi semacam itu mewajibkan pelaksanaan had syariat,[39] bahkan jika tidak berujung pada kemabukan.[40] Terdapat pula banyak riwayat dari Nabi saw dan para Imam Syiah dalam mengonfirmasi keharaman khamr pada agama-agama terdahulu.[41]

Alasan utama pengharaman minum khamr dianggap adalah dampak merugikan secara fisik, psikis, moral, dan sosial. Al-Qur'anul Karim dalam berbagai ayat seperti ayat 90 dan 91 Surah Al-Ma'idah, ayat 219 Surah Al-Baqarah dan ayat 67 Surah An-Nahl, memperkenalkan khamr sebagai faktor penyebab lupa akan zikir kepada Allah, menciptakan permusuhan di antara manusia, dan menghalangi dari perbuatan baik. Dalam ayat-ayat ini, khamr dianggap sebagai perkara yang buruk dan setan dikarenakan konsekuensi negatif individu dan sosialnya, serta pengharamannya sangat ditekankan.

Dalam riwayat-riwayat Islam juga dijelaskan alasan pengharaman meminum khamr yang terutama menekankan pada penolakan kerugian fisik, spiritual, dan sosial. Nabi saw dalam sebuah riwayat telah menjatuhkan Laknat kepada sepuluh kelompok terkait dengan khamr.[42] Selain itu, Imam Shadiq (as) dalam menjawab pertanyaan mengenai alasan pengharaman khamr, menganggapnya sebagai sarana munculnya kerugian dan kerusakan.[43]

Di antara konsekuensi meminum khamr yang disebutkan dalam riwayat dapat merujuk pada poin-poin berikut: hilangnya cahaya hati dan sifat ksatria (muru'ah), menderita tremor tubuh, keberanian untuk melakukan kemungkaran, kecenderungan pada pertumpahan darah dan zina, hilangnya akal dan kecerdasan, serta kelalaian dari zikir kepada Allah.[44]

Hukum Menganggap Halal Meminum dan Memperjualbelikan Khamr

Seseorang yang berstatus Muslim dan menganggap meminum khamr itu halal, pertama-tama akan diajak untuk bertaubat. Jika ia tidak bertaubat dan pengingkarannya didasarkan pada pendustaan terhadap Nabi (saw), maka ia akan dijatuhi hukuman mati, baik ia Muslim sejak lahir (murtad fitri) maupun seseorang yang asalnya kafir (murtad milli) kemudian masuk Islam.[45]

Penjual khamr juga senantiasa diajak untuk bertaubat. Jika penjual khamr bertaubat, maka transaksinya diterima, namun jika ia tidak bertaubat dan pengingkarannya kembali kepada pendustaan terhadap Nabi (saw), ia akan dijatuhi hukuman mati.[46] Penjual minuman memabukkan lainnya tidak dijatuhi hukuman mati, meskipun ia menjualnya secara terang-terangan dan tidak bertaubat.[47]

Catatan Kaki

  1. Sebagai contoh lihat: Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 36, hlm. 373; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 157.
  2. Syekh Thusi, al-Tibyān, 1417 H, jld. 4, hlm. 15-17; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 370; Syahid Awwal, Dzikra al-Syiah, 1419 H, jld. 1, hlm. 114.
  3. Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1364 HS, jld. 1, hlm. 279; Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 3, hlm. 405; Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 3, hlm. 468-469.
  4. Allamah Hilli, Mukhtalif al-Syiah, 1413 H, jld. 1, hlm. 469.
  5. Allamah Hilli, Mukhtalif al-Syiah, 1413 H, jld. 1, hlm. 469.
  6. Syekh Saduq, al-Muqni', 1415 H, hlm. 453; Muqaddas Ardebili, Majma' al-Faidah wa al-Burhan, 1403 H, jld. 1, hlm. 312.
  7. Sebagai contoh lihat: Abolfotuh Razi, Raudh al-Janan, 1381 HS, jld. 3, hlm. 206; Esykavari, Tafsir-e Syarif-e Lahiji, 1373 HS, jld. 2, hlm. 728.
  8. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 4, hlm. 359-361 dan jld. 6, hlm. 134 dan jld. 18, hlm. 62-63.
  9. Sebagai contoh lihat: Esykavari, Tafsir-e Syarif-e Lahiji, 1373 HS, jld. 2, hlm. 728; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 11, hlm. 318; Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1408 H, jld. 4, hlm. 2181.
  10. Ibn Idris Hilli, al-Sarā'ir, 1410 H, jld. 3, hlm. 472; Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah, 1420 H, jld. 5, hlm. 341; Fadhel Miqdad, al-Tanqih al-Ra'i', 1404 H, jld. 4, hlm. 367; Muqaddas Ardebili, Zubdah al-Bayan, Maktabah al-Murtadhawiyyah, hlm. 629.
  11. Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Qur'an, 1428 H, jld. 1, hlm. 139.
  12. Sebagai contoh lihat: Qurthubi, al-Jāmi' li-Ahkām al-Qur'ān, 1364 HS, jld. 6, hlm. 286.
  13. Sebagai contoh lihat: Qurthubi, al-Jāmi' li-Ahkām al-Qur'ān, 1364 HS, jld. 6, hlm. 286.
  14. Sebagai contoh lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 640; Syekh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 8, hlm. 57; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 155.
  15. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 6, hlm. 131.
  16. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 6, hlm. 135.
  17. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 6, hlm. 135.
  18. Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 25, hlm. 304; Syekh Saduq, al-Amali, 1417 H, hlm. 502.
  19. Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 25, hlm. 317.
  20. Hurr Amuli, Tafshil Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 15, hlm. 320 dan jld. 25, hlm. 304; Majlisi, Raudhah al-Muttaqin, 1406 H, jld. 9, hlm. 260-264.
  21. Maleki Miyanji, Badā'i' al-Kalām, 1400 H, hlm. 29.
  22. al-Syahrasthani, al-Milal wa al-Nihal, 1364 HS, jld. 2, hlm. 592.
  23. al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsūr, Dar al-Fikr, jld. 3, hlm. 159.
  24. al-Samarqandi, Tafsir al-Samarqandi, 1416 H, jld. 1, hlm. 144.
  25. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 6, hlm. 133.
  26. Maleki Miyanji, Badā'i' al-Kalām, 1400 H, hlm. 29.
  27. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 6, hlm. 134.
  28. Sebagai contoh lihat: Ibnu Hibban, Kitab al-Tsiqāt, 1393 H, jld. 1, hlm. 69.
  29. Sebagai contoh lihat: Qurthubi, al-Jāmi' li-Ahkām al-Qur'ān, 1364 HS, jld. 6, hlm. 286.
  30. Sebagai contoh lihat: Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 2, hlm. 210; Ibn Abi Hatim, Tafsir al-Qur'an al-Adzim, 1419 H, jld. 2, hlm. 39; al-Zamakhsyari, al-Kasysyāf, 1407 H, jld. 1, hlm. 259-260.
  31. Sebagai contoh lihat: al-Samarqandi, Tafsir al-Samarqandi, 1416 H, jld. 1, hlm. 144; Fakhr al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 10, hlm. 85; al-Tsa'labi al-Naisyaburi, Tafsir al-Tsa'labi, 1422 H, jld. 3, hlm. 312.
  32. Ibn Abidin, Hāsyiyah Radd al-Muhtār, 1415 H, jld. 4, hlm. 202.
  33. Fakhr al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 6, hlm. 396.
  34. Ibn Abi Hatim, Tafsir al-Qur'an al-Adzim, 1419 H, jld. 2, hlm. 39.
  35. Abu Hayyān, al-Bahr al-Muhīth, 1420 H, jld. 2, hlm. 403; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 5, hlm. 62; Ibn al-Jauzi, Zād al-Masīr, 1422 H, jld. 1, hlm. 408.
  36. Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1374 HS, jld. 6, hlm. 117.
  37. Subhani, Mashadir al-Fiqh al-Islami wa Manabi'uhu, 1419 H, hlm. 16; Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hlm. 328.
  38. Sebagai contoh lihat: Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 408; Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 25, hlm. 332.
  39. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 41, hlm. 456-464; Syekh Thusi, al-Khilāf, Muasasah al-Nasyr al-Islami, jld. 5, hlm. 497.
  40. Sebagai contoh lihat: Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 41, hlm. 450.
  41. Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1365 HS, jld. 9, hlm. 102; Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 395.
  42. Syekh Saduq, Tsawāb al-A'māl wa 'Iqāb al-A'māl, 1382 HS, hlm. 479.
  43. Syekh Saduq, Ilal al-Syarā'i', 1385 H, jld. 2, hlm. 476.
  44. Syekh Saduq, Ilal al-Syarā'i', 1385 H, jld. 2, hlm. 476.
  45. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 456.
  46. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 456.
  47. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 456.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Abolfotuh Razi, Hossein bin Ali, Raudh al-Janan wa Ruh al-Janan fi Tafsir al-Qur'an, koreksi: Mohammad Mahdi Naseh, Masyhad, Astan-e Quds-e Razavi, 1371 HS.
  • Abu Hayyān, Mohammad bin Yusuf, al-Bahr al-Muhīth fi al-Tafsir, Beirut, Dar al-Fikr, 1420 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyah, riset dan koreksi Ibrahim Bahadori, Qom, Muasasah Imam Shadiq (as), cetakan pertama, 1420 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Mukhtalif al-Syiah, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami berafiliasi dengan Jami'ah al-Modarresin, cetakan kedua, 1413 H.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayyid Mohammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Qom, Kantor Penerbitan Islami, 1374 HS.
  • Esykavari, Mohammad bin Ali, Tafsir-e Syarif-e Lahiji, Teheran, Daftar-e Nasyr-e Dad, 1373 HS.
  • Fadhel Miqdad, Miqdad bin Abdullah, al-Tanqih al-Ra'i' li-Mukhtashar al-Syarā'i', riset: Sayyid Abdullatif Hosayni Koh-kamari, Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
  • Fakhr al-Razi, Mohammad bin Umar, al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Hurr Amuli, Mohammad bin Hasan, Tafshil Wasail al-Syiah ila Tahshil Masa'il al-Syari'ah, riset dan koreksi Kelompok Riset Muasasah Alu al-Bait (as), Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), cetakan pertama, 1409 H.
  • Ibn Abi Hatim, Abdurrahman bin Mohammad, Tafsir al-Qur'an al-Adzim, Riyadh, Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, 1419 H.
  • Ibn al-Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Zād al-Masīr fi 'Ilm al-Tafsir, riset: Abdulrazzaq Mahdi, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1422 H.
  • Ibn Hisyam, Abdul Malik bin Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, koreksi: Ibrahim Abyari, Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Ibn Hibban, Mohammad, Kitab al-Tsiqāt, Hyderabad, Nasyre Majlis Dairat al-Ma'arif al-Utsmaniyah, 1393 H.
  • Ibn Idris Hilli, Mohammad bin Ahmad, al-Sarā'ir al-Hāwi li-Tahrīr al-Fatāwi, Qom, Jami'ah al-Modarresin fi al-Hauzah al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1410 H.
  • Ibn Abidin, Mohammad Amin, Hāsyiyah Radd al-Muhtār 'ala al-Durr al-Mukhtār Syarh Tanvīr al-Abshār fi Fiqh Madzhab al-Imām Abī Hanīfah al-Nu'mān, Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Teheran, Lembaga Penyusunan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini (ra), 1392 HS.
  • al-Dinawari, Ibn Qutaibah, al-Syi'r wa al-Syu'ara, Kairo, Nasyre Dar al-Hadits, 1423 H.
  • al-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar, al-Kasysyāf 'an Haqā'iq Ghawāmidh al-Tanzīl, koreksi: Mohammad Abdussalam Syahin, Beirut, Dar al-Kutub al-Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.
  • Kulaini, Mohammad bin Ya'qub, al-Kafi, riset Ali Akbar Ghaffari dan Mohammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Ma'rifat, Mohammad Hadi, al-Tamhid fi Ulum al-Qur'an, Qom, Muasasah Farhangi Entesyara-ti al-Tamhid, 1428 H.
  • Majlisi, Mohammad Taqi bin Maqshud Ali, Raudhah al-Muttaqin fi Syarh Man La Yahdzhuruhu al-Faqih, riset: Hossein Mousawi Kermani dan Ali-panah Esytehardi, Qom, Muasasah Farhangi Eslami Kushanpur, cetakan kedua, 1406 H.
  • Maleki Miyanji, Mohammad Baqir, Badā'i' al-Kalām fi Tafsir Āyāt al-Ahkām, Beirut, Muasasah al-Wafa', 1400 H.
  • Makarem Shirazi, Naser, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan ke-32, 1374 HS.
  • Mughniyah, Mohammad Javad, al-Tafsir al-Kasyif, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1424 H.
  • Muqaddas Ardebili, Ahmad bin Mohammad, Zubdah al-Bayan fi Ahkam al-Qur'an, riset: Mohammad Baqer Behboudi, Teheran, Maktabah al-Murtadhawiyyah, tanpa tahun.
  • Muqaddas Ardebili, Ahmad bin Mohammad, Majma' al-Faidah wa al-Burhan fi Syarh Irsyād al-Adzhān, Qom, Jami'ah al-Modarresin Hauzah Ilmiah, 1403 H.
  • Najafi, Mohammad Hasan, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam, koreksi: Abbas Quchani dan Ali Akhundi, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Qurthubi, Mohammad bin Ahmad, al-Jāmi' li-Ahkām al-Qur'ān, Teheran, Nasyre Naser Khosrow, 1364 HS.
  • Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, Beirut, Dar al-Syuruq, 1408 H.
  • al-Samarqandi, Nashr bin Mohammad, Tafsir al-Samarqandi: Bahr al-Ulum, riset: Umar Amravi, Beirut, Dar al-Fikr, 1416 H.
  • al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar, al-Durr al-Mantsūr fi al-Tafsir bi al-Ma'tsūr, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • al-Syahrasthani, Mohammad bin Abdul Karim, al-Milal wa al-Nihal, riset: Mohammad Badran, Qom, al-Syarif al-Radhi, cetakan ketiga, 1364 HS.
  • Syahid Awwal, Mohammad bin Makki, Dzikra al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), cetakan pertama, 1419 H.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali bin Babuyeh, al-Amali, Qom, Muasasah al-Ba'tsah, cetakan pertama, 1417 H.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali bin Babuyeh, al-Muqni', Qom, Muasasah Imam Hadi (as), 1415 H.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali bin Babuyeh, Tsawāb al-A'māl wa 'Iqāb al-A'māl, terjemahan Ansari, Qom, Nasyre Nasim-e Kawsar, cetakan pertama, 1382 HS.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali bin Babuyeh, Ilal al-Syarā'i', Qom, Toko Buku Davari, 1385 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Tibyān fi Tafsir al-Qur'an, riset Ahmad Qashir Amuli, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1417 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah, riset: Mohammad Baqer Behboudi, Teheran, al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li-Ihyā al-Ātsār al-Ja'fariyyah, cetakan ketiga, 1387 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, Tahdzib al-Ahkam fi Syarh al-Muqni'ah li-al-Syaikh al-Mufid, koreksi: Mohammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan keempat, 1365 HS.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, Kitab al-Khilāf, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Subhani, Ja'far, Mashādir al-Fiqh al-Islami wa Manabi'uhu, Beirut, Dar al-Adhwa', 1419 H.
  • Thabari, Mohammad bin Jarir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • al-Tsa'labi al-Naisyaburi, Ahmad bin Ibrahim, Tafsir al-Tsa'labi (al-Kasyf wa al-Bayan), riset: Abu Mohammad bin Asyur, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Iran, Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.

Templat:Hukum-hukum Makanan dan Minuman