Lompat ke isi

Konsep:Kehamilan

Dari wikishia

Kehamilan atau Mengandung dalam sejumlah ajaran agama dianggap setara dengan berpuasa, qiyamul lail (ibadah malam), dan jihad di jalan Allah. Dalam Al-Qur'an, penderitaan ibu selama masa kehamilan dianggap sebagai salah satu alasan kewajiban berbuat baik kepada orang tua (ihsan). Berdasarkan beberapa riwayat, perilaku wanita hamil berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak; oleh karena itu, rekomendasi agama terpenting bagi wanita hamil adalah menjalankan kewajiban (wajibat) dan meninggalkan perbuatan haram. Selain itu, dalam beberapa hadis disebutkan pengaruh konsumsi makanan tertentu oleh wanita hamil terhadap pembentukan karakteristik fisik dan psikis bayi. Dalam sumber-sumber agama, terdapat juga anjuran untuk masa sebelum kehamilan dan saat melakukan hubungan intim (jima').

Menurut para fakih, pencegahan kehamilan (kontrasepsi) diperbolehkan dengan kerelaan suami dan istri, namun tidak diperbolehkan jika tindakan tersebut menyebabkan kemandulan permanen pada pria maupun wanita. Menurut pandangan mereka, pengguguran kandungan (aborsi) adalah haram dan pelaksanaannya mewajibkan pembayaran diyat, namun jika kelanjutan kehamilan membahayakan nyawa ibu, maka aborsi sebelum peniupan ruh (usia janin empat bulan) tidaklah haram. Selain itu, menurut fatwa para fakih, jika Puasa membahayakan bayi atau sang ibu, maka wanita hamil tidak boleh berpuasa, namun ia wajib melakukan qadha puasa wajib tersebut di kemudian hari dan membayar satu mud makanan (750 gram gandum) kepada orang miskin untuk setiap harinya.

Mayoritas marja taklid, menganggap kehamilan medis (inseminasi buatan) diperbolehkan dengan syarat pemilik sperma dan sel telur adalah suami dan istri yang sah. Selain itu, beberapa marja taklid seperti Sayyid Ali Sistani dan Naser Makarem Shirazi telah mengeluarkan fatwa mengenai legalitas rahim sewaan (surrogacy) (yaitu meletakkan sperma dan sel telur suami-istri ke dalam rahim wanita lain).

Konsep dan Kedudukan

Templat:Kotak kutipan Kehamilan atau mengandung adalah periode membawa dan tumbuhnya janin di dalam rahim ibu. [1] Dalam Al-Qur'an, kehamilan lebih banyak disebut dengan kata "haml" dan turunannya, [2] dan memperkenalkan waktu tersingkat periode ini adalah enam bulan dan terlamanya adalah satu tahun. [3]

Ayat 15 Surah Al-Ahqaf, setelah berpesan untuk berbuat baik kepada orang tua, mengisyaratkan penderitaan ibu pada masa kehamilan dan melahirkan. [4] Dalam ayat-ayat Surah Maryam juga disebutkan mengenai bagaimana kehamilan Sayyidah Maryam (sa) dan persalinannya, [5] dan para mufasir Al-Qur'an menggambarkan kehamilan ini—yang terjadi tanpa campur tangan pria mana pun—sebagai mukjizat besar, perbuatan luar biasa, dan kisah yang menakjubkan. [6] Selain itu, kehamilan [yang merupakan tahapan bagi kelahiran anak] disebut sebagai tanda atas kebenaran hari kebangkitan dan kebangkitan manusia, [7] dan dalam beberapa ayat [8] diisyaratkan mengenai karakteristik dan beberapa hukum fikih yang berkaitan dengan kehamilan. [9]

Dalam hadis-hadis Maksumin (as) juga, masa kehamilan wanita dinilai setara dengan berpuasa, qiyamul lail, dan jihad di jalan Allah, [10] dan menganggap wanita hamil berada di bawah naungan kasih sayang Allah yang mana pada setiap persalinan ia mendapatkan pahala membebaskan seorang budak [11] dan dosa-dosanya akan diampuni. [12] Selain itu, periode kehamilan disebut sebagai tahapan di mana dasar kebahagiaan dan kecelakaan anak ditentukan. [13]

Rekomendasi Sebelum Kehamilan

Menurut pernyataan sejumlah peneliti ilmu agama, orang tua demi kesucian spiritual anak, perlu untuk berupaya menjaga kesucian diri dan meningkatkan kesiapan spiritual beberapa waktu sebelum dimulainya kehamilan dan pembuahan (nuthfah) dengan hal-hal seperti membaca Al-Qur'an, memohon ampunan, bersedekah, menjauhi perbuatan haram, dan berdoa agar dikaruniai anak. [14] Dalam sejumlah riwayat juga terdapat rekomendasi untuk memperbaiki karakteristik fisik janin, termasuk mengonsumsi beberapa makanan. [15] Selain itu berdasarkan beberapa riwayat, [16] pikiran dan kondisi psikis ayah dan ibu saat melakukan jima' berpengaruh pada jiwa anak; [17] oleh karena itu orang tua dipesan agar saat berhubungan dalam kondisi memiliki Wudu dan senantiasa mengingat Allah. [18] Dikatakan juga bahwa keinginan dan hasrat seksual yang kuat dari pasangan berpengaruh pada kecantikan janin dan kecerdasannya, sebaliknya rasa takut dan kecemasan orang tua saat berhubungan akan berdampak buruk pada anak. [19] Para peneliti meyakini bahwa pengaruh kelelahan yang luar biasa pada janin sangat nyata dan dapat membuatnya menjadi lemah serta penyakitan; [20] menjauhi jima' pada malam sebelum perjalanan atau saat kembali dari perjalanan [21] dengan perut yang kenyang [22] serta pada saat Qamar dar 'Aqrab (Bulan di rasi Kalajengking) termasuk rekomendasi sebelum kehamilan lainnya dalam teks-teks agama. [23]

Rekomendasi Selama Kehamilan

Periode kehamilan dan bagaimana kondisi wanita hamil dianggap berpengaruh dalam pembentukan kepribadian masa depan anak. [24] Menurut para peneliti, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, dan sejenisnya pada wanita hamil memiliki pengaruh nyata pada janin, dan perawatan fisik, ruhani, moral, serta menjauhi Dosa selama masa kehamilan adalah hal yang penting; [25] oleh karena itu dikatakan bahwa Islam memiliki rekomendasi untuk masa kehamilan. [26] Di antara rekomendasi agama untuk masa ini adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram, dan di samping itu perhatian pada salat awal waktu, memiliki program teratur untuk membaca Al-Qur'an, Ziarah, dan bertawasul kepada para Maksum (as) serta menjauhi makanan haram juga ditekankan dalam pertumbuhan dan pendidikan spiritual anak. [27] Selain itu dalam beberapa hadis disebutkan bahwa mengonsumsi beberapa makanan oleh wanita hamil berpengaruh pada kecantikan wajah, karakteristik psikis, dan bahkan meningkatkan tingkat kecerdasan bayi. [28] Di antaranya mengonsumsi buah Pir (bihi) dan melon dapat menyebabkan kecantikan dan kebaikan akhlak bayi, [29] serta meminum susu dianggap menambah kecerdasan, keberanian, dan kekuatan fisiknya. [30]

Pencegahan Kehamilan

Beberapa sumber hadis dan fikih mengisyaratkan ketidaksukaan (karahah) pada pencegahan kehamilan. [31] Beberapa riwayat juga, dalam kasus-kasus seperti buruknya akhlak istri, usia yang sudah lanjut, atau tidak mau menyusui anak, menganggap tindakan ini tidak bermasalah. [32] Namun dalam riwayat lainnya secara mutlak menegaskan legalitas pencegahan kehamilan. [33] Salah satu hak suami-istri adalah memiliki anak. [34] Sebagian orang menganggap hak ini khusus bagi suami dan tidak mengizinkan pencegahan kehamilan tanpa kerelaannya; [35] oleh karena itu dikatakan bahwa pria dan wanita tidak memiliki hukum yang sama dalam masalah ini dan terhadap cara serta alat pencegahan kehamilan pun hukum syariat mereka berbeda. [36]

Dengan memperhatikan banyaknya metode untuk mencegah kehamilan, [37] sekelompok fakih, seperti Ayatullah Khoe'i, [38] Tabrizi [39] dan Makarem Shirazi [40] mengharamkan pencegahan kehamilan melalui metode-metode yang menyebabkan kemandulan permanen pada pria maupun wanita—seperti pengikatan saluran reproduksi dan rahim—kecuali jika menurut diagnosis ahli terdapat kebutuhan (darurat) personal maupun sosial. [41] Shahib al-Jawahir, salah satu fakih Syiah abad ke-13, menganggap pencegahan kehamilan dengan metode azl (senggama terputus) adalah Makruh [dalam kondisi suami rela namun istri tidak] dan jika istri rela, berdasarkan beberapa riwayat, menganggap perbuatan ini boleh. [42] Beliau juga menganggap tindakan ini dalam pernikahan kontrak (mut'ah) diperbolehkan dan mengklaim adanya Ijmak dalam hal tersebut. [43]

Aborsi

Templat:Utama Menurut pandangan para fukaha Syiah, pengguguran kandungan (aborsi) wanita hamil secara sengaja adalah Haram, [44] dan dalam hukum ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fukaha. [45] Dikatakan bahwa dalam keharaman aborsi, tidak ada perbedaan apakah janin tersebut tercipta melalui jalan yang sah maupun melalui jalan Zina atau wathi' bi syubhah; [46] melainkan waladuz zina pun dianggap sebagai anak. [47]

Selain itu berdasarkan Ijmak fukaha mengenai keharaman aborsi, tidak ada perbedaan di antara berbagai tahapan pertumbuhan janin [48] dan melakukan tindakan ini, baik sebelum peniupan ruh ke dalam janin maupun setelahnya, serta baik dengan kerelaan orang tua maupun tanpa kerelaan mereka, dalam seluruh kondisi ini hukumnya haram. [49] Tentu saja para fakih meyakini bahwa jika kelanjutan kehamilan membahayakan nyawa sang ibu, maka aborsi sebelum peniupan ruh (janin empat bulan) tidak menjadi masalah. [50] Namun mengenai kondisi setelah peniupan ruh terdapat perbedaan pendapat; beberapa orang seperti Ayatullah Makarem [51] dan Bahjat [52] meyakini kebolehan aborsi bahkan setelah peniupan ruh dalam kondisi tersebut.

Menurut pernyataan para fukaha, dengan terjadinya aborsi maka Diyat menjadi wajib dan pembayarannya menjadi tanggung jawab orang yang melakukan pengguguran tersebut. [53] Diyat janin berbeda-beda sesuai dengan tahapan pertumbuhannya. [54] Selain itu jika tindakan ini dilakukan setelah ruh ditiupkan ke dalam janin, dikarenakan istilah pembunuhan (qatl) berlaku atasnya, maka Kaffarah menjadi wajib. [55]

Hukum-hukum bagi Wanita Hamil

Dalam sumber fikih terdapat beberapa hukum yang berkaitan dengan wanita hamil, di antaranya:

  • Puasa wanita hamil: Puasa bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap mukalaf, [56] namun wanita hamil atau menyusui yang asinya sedikit dan Puasa membahayakan anak atau dirinya sendiri tidak boleh berpuasa; tentu saja ia harus memberikan satu mud makanan (750 gram gandum atau sejenisnya) kepada orang miskin untuk setiap harinya dan meng-qadha puasanya di kemudian hari. [57]
  • Hubungan intim dengan wanita hamil: Jima' suami dengan istrinya yang sedang hamil adalah diperbolehkan, [58] namun disarankan agar wanita dalam kondisi ini memiliki wudu. [59]
  • Menceraikan wanita hamil: Seorang pria yang telah melakukan jima' dengan istrinya, jika ia ingin menceraikannya maka harus menunggu hingga sang istri menstruasi dan suci kembali, namun jika istrinya hamil ia dapat langsung menceraikannya. [60] Tentu saja dalam kondisi ini, pria berkewajiban untuk menyediakan tempat tinggal bagi wanita hingga saat melahirkan dan membayar nafkahnya. [61] Masa iddah wanita hamil adalah hingga saat melahirkan dan hingga waktu tersebut ia tidak memiliki hak untuk menikah dengan pria lain. [62]
  • Pelaksanaan had dan Qishash: Wanita pelaku kejahatan yang dijatuhi hukuman had syariat [seperti cambuk] atau qishash, jika ia hamil, maka hingga saat ia melahirkan dan telah suci dari darah nifas, hukuman had tidak dilaksanakan kepadanya dan tidak dikenakan qishash. [63]

Inseminasi Buatan dan Rahim Sewaan

Templat:Utama Inseminasi buatan bermakna kehamilan tanpa hubungan seksual dan dengan menggunakan alat bantu medis. [64] Terdapat berbagai bentuk inseminasi buatan yang telah digambarkan yang mana hukum fikihnya berbeda-beda. [65]

Menurut pernyataan para peneliti, jika pemilik sperma dan sel telur adalah suami dan istri yang sah; mayoritas marja taklid seperti Imam Khomeini [66] dan Sayyid Mohammad Sadiq Rouhani menganggap jenis inseminasi ini diperbolehkan. [67] Namun jika pemilik sperma atau sel telur adalah pria atau wanita asing, sekelompok fakih mengeluarkan fatwa mengenai keharaman kehamilan dengan metode semacam itu. [68]

Selain itu jika sperma dan sel telur suami-istri yang sah dibuahi di luar rahim dan karena ketidakmampuan sang istri untuk hamil lalu janin tersebut dikembangkan di rahim wanita lain (rahim sewaan), [69] menurut pernyataan peneliti, sejumlah marja taklid seperti Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Ali Sistani dan Naser Makarem Shirazi telah menghukumi legalitasnya. [70] Sebaliknya, marja seperti Imam Khomeini dan Sayyid Abul Qasim al-Khu'i berkeyakinan atas keharaman tindakan ini. [71]

Catatan Kaki

  1. Martin, Farhang-e Towshifi-ye Wazheh-ha-ye Pezesyki (Kamus Deskriptif Istilah Medis), 1375 HS, hlm. 655.
  2. Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an, Dairat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim, 1382 HS, jld. 5, hlm. 250.
  3. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 145.
  4. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 17, hlm. 40.
  5. Surah Maryam, ayat 19-23.
  6. Jafari, Tafsir Kawsar, 1376 HS, jld. 2, hlm. 125; Zuhaili, Tafsir al-Wasith, 1422 H, jld. 2, hlm. 1468.
  7. Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an, Dairat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim, 1382 HS, jld. 5, hlm. 250.
  8. Di antaranya: Surah Al-A'raf, ayat 189; Surah Ar-Ra'd, ayat 8; Surah Luqman, ayat 14; Surah Al-Ahqaf, ayat 15; Surah Ath-Thalaq, ayat 4 dan 6.
  9. Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an, Dairat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim, 1382 HS, jld. 5, hlm. 250.
  10. Syekh Saduq, al-Amali, 1376 HS, hlm. 411-412.
  11. Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 14, hlm. 245.
  12. Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Amali, 1414 H, hlm. 618.
  13. Kufi Ahwazi, al-Zuhd, 1402 H, hlm. 14.
  14. "Ahkam wa Adab-e Baccheh-dar Syodan az Manzhar-e Eslam", Situs Hadana; Mikhabar, Reyhaneh-ye Behesyti, 1392 HS, hlm. 37 dan 38.
  15. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 22, hadis 2; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 62, hlm. 215.
  16. Faidh Kasyani, Tafsir al-Syafi, 1415 H, jld. 4, hlm. 88.
  17. Mikhabar, Reyhaneh-ye Behesyti, 1392 HS, hlm. 40 dan 41.
  18. Mikhabar, Reyhaneh-ye Behesyti, 1392 HS, hlm. 40 dan 41.
  19. Mikhabar, Reyhaneh-ye Behesyti, 1392 HS, hlm. 41.
  20. Mikhabar, Reyhaneh-ye Behesyti, 1392 HS, hlm. 42.
  21. Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 14, hlm. 299-300, hadis 1.
  22. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 366, hadis 2; Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 14, hlm. 300.
  23. Allamah Majlisi, Hilyat al-Muttaqin, 1369 HS, hlm. 124 dan 125.
  24. Ansari, Ahkam wa Hoquq-e Kudakan dar Eslam, jld. 1, hlm. 194.
  25. Mohammadiyan, Negah-i Digar be Hoquq-e Farzandan az Didgah-e Eslam, 1390 HS, hlm. 31-33.
  26. Ansari, Ahkam wa Hoquq-e Kudakan dar Eslam, jld. 1, hlm. 194.
  27. "Adab-e Ma'nawi-ye Bardari", Situs Teb-e Syiah.
  28. Ansari, Ahkam wa Hoquq-e Kudakan dar Eslam, jld. 1, hlm. 194.
  29. Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 15, hlm. 135, hadis 2 dan 3; Mustaghfiri, Thibb al-Nabi (saw), 1385 H, hlm. 29; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 59, hlm. 299.
  30. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hlm. 23, hadis 6; Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 15, hlm. 137, hadis 1; Syaikh Hurr Amuli, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 21, hlm. 405, hadis 2.
  31. Tabataba'i Boroujerdi, Manabi'-e Fiqh-e Syiah, 1386 HS, jld. 25, hlm. 466, hadis 674; Golpayegani, Majma' al-Masail, 1409 H, jld. 2, hlm. 173.
  32. Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 7, hlm. 491.
  33. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 504, hadis 1; Syekh Saduq, Man La Yahdzhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 3, hlm. 432, hadis 4495.
  34. Nouri Hamedani, "Kontrol Jami'at", hlm. 43.
  35. Mo'men Qomi, Kalimat Sadidah fi Masa'il Jadidah, 1415 H, hlm. 85; Nouri Hamedani, "Kontrol Jami'at", hlm. 43.
  36. Gorji dan Taremi, "Bardari wa Baru-vari dar Qur'an", hlm. 145.
  37. "Anwa'-e Ravesy-ha-ye Pisygiri az Bardari", Situs Madarsho.
  38. Golpayegani, Majma' al-Masail, 1409 H, jld. 4, hlm. 363, pertanyaan 975.
  39. Tabrizi, Istifta'at-e Jadid, Kantor Beliau, jld. 1, hlm. 475, pertanyaan 2090.
  40. Makarem Shirazi, Istifta'at-e Jadid, 1427 H, jld. 1, hlm. 460, pertanyaan 1515.
  41. Makarem Shirazi, Ahkam-e Pezesyki, 1429 H, hlm. 67, pertanyaan 166.
  42. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 29, hlm. 113.
  43. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 29, hlm. 114.
  44. Sebagai contoh lihat: Sistani, Minhaj al-Shalihin, 1414 H, jld. 3, hlm. 115; Bani Hashemi, Taudhih al-Masail-e Maraji', 1424 H, jld. 2, hlm. 946.
  45. Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, 1423 H, jld. 5, hlm. 394.
  46. Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, 1413 H, jld. 25, hlm. 253; Fazel Lankarani, Risalah Taudhih al-Masail, 1426 H, masalah 1937.
  47. Makarem Shirazi, Kitab al-Nikah, 1424 H, jld. 4, hlm. 43.
  48. Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, 1413 H, jld. 25, hlm. 251.
  49. Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, 1423 H, jld. 5, hlm. 394.
  50. Sebagai contoh lihat: Bani Hashemi, Taudhih al-Masail-e Maraji', 1424 H, jld. 2, hlm. 946; Montazeri, Ahkam-e Pezesyki, 1427 H, hlm. 103.
  51. Makarem Shirazi, Ahkam-e Pezesyki, 1429 H, hlm. 90, pertanyaan 226.
  52. Bahjat, Istifta'at, 1428 H, jld. 4, hlm. 73-74, pertanyaan 4830.
  53. Sebagai contoh lihat: Khoe'i, Masa'il-e Pezesyki, 1432 H, jld. 1, hlm. 230; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1390 HS, jld. 2, hlm. 598; Makarem Shirazi, Bahuts Fiqhiyyah Hammah, 1380 HS, jld. 1, hlm. 299.
  54. Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Farhang-e Fiqh-e Farsi, 1387 HS, jld. 4, hlm. 489.
  55. Khoe'i, Mabani Takmilah al-Minhaj, Muasasah Ihya Atsar al-Imam al-Khoe'i, jld. 2, hlm. 409.
  56. Yazdi, al-Urwah al-Wutsqa (Muhasya), 1421 H, jld. 3, hlm. 521; Bani Hashemi, Taudhih al-Masail-e Maraji', 1424 H, jld. 1, hlm. 880.
  57. Bani Hashemi, Taudhih al-Masail-e Maraji', 1424 H, jld. 1, hlm. 957-958, masalah 1728 dan 1729.
  58. Montazeri, Risalah Istifta'at, cet. 1, jld. 2, hlm. 398.
  59. Mikhabar, Reyhaneh-ye Behesyti, 1392 HS, hlm. 51.
  60. Bani Hashemi, Taudhih al-Masail-e Maraji', 1424 H, jld. 2, hlm. 521.
  61. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 31, hlm. 320.
  62. Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 6, hlm. 62; Makarem Shirazi, Ahkam-e Banuvan, 1428 H, hlm. 223, masalah 829.
  63. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 41, hlm. 337.
  64. Hosayni-Nik, "Barresi-ye Tatsis-e Hoquqi-ye Madar-e Janesyin dar Talqih-e Mashnu'i", hlm. 41; Abdulkhani, Mousawi, "Talqih-e Mashnu'i az Manzhar-e Fiqh wa Hoquq", hlm. 31; Haidari, "Tahlil-e Fiqhi wa Hoquqi-ye Atsar-e Talqih-e Mashnu'i be Wasile-ye Ejareh-ye Rahm", hlm. 282.
  65. Fazel Lankarani, Barresi-ye Fiqhi Hoquqi-ye Talqih-e Mashnu'i, 1387 HS, hlm. 14-17.
  66. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1390 HS, jld. 2, hlm. 621.
  67. Mortazawi, Talqih-e Mashnu'i dar Ayine-ye Fiqh, 1399 HS, hlm. 130-133.
  68. Khoe'i, Minhaj al-Shalihin, 1410 H, jld. 1, hlm. 427; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1390 HS, jld. 2, hlm. 621; Montazeri, Ahkam-e Pezesyki, 1427 H, hlm. 88; Nazhem-zadeh, Talqih-e Mashnu'i az Negah-e Fiqh, 1401 HS, hlm. 90.
  69. Abdulkhani, Mousawi, "Talqih-e Mashnu'i az Manzhar-e Fiqh wa Hoquq", hlm. 38.
  70. Mortazawi, Talqih-e Mashnu'i dar Ayine-ye Fiqh, 1399 HS, hlm. 145-147.
  71. Mortazawi, Talqih-e Mashnu'i dar Ayine-ye Fiqh, 1399 HS, hlm. 148-149.

Daftar Pustaka

  • "Adab-e Bardari wa Baccheh-dar Syodan", Situs Anhar.
  • "Adab-e Ma'nawi-ye Bardari", Situs Teb-e Syiah.
  • "Ahkam wa Adab-e Baccheh-dar Syodan az Manzhar-e Eslam", Situs Hadana, tanggal terbit: 30 Ordibehesht 1402 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Najaf Ashraf, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1390 HS.
  • Ansari, Qodratullah, Ahkam wa Hoquq-e Kudakan dar Eslam, Qom, Pusat Fikih Aimmah al-Athar (as), 1392 HS.
  • "Anwa'-e Ravesy-ha-ye Pisygiri az Bardari", Situs Madarsho, tanggal terbit: 19 Ordibehesht 1402 HS.
  • Bani Hashemi Khomeini, Sayid Mohammad Husain, Taudhih al-Masail-e Maraji', Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan kedelapan, 1424 H.
  • Bahjat, Mohammad Taqi, Istifta'at, Kantor Hazrat Ayatullah Bahjat, Qom, cetakan pertama, 1428 H.
  • Tabrizi, Jawad, Istifta'at-e Jadid, Qom, Kantor Beliau, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Jafari, Ya'qub, Tafsir Kawsar, Qom, Penerbit Hijrat, 1376 HS.
  • Hosayni-Nik, Sayid Hossein, "Barresi-ye Tatsis-e Hoquqi-ye Madar-e Janesyin dar Talqih-e Mashnu'i", dalam Bulanan Kanun, nomor 111, 1398 HS.
  • Haidari, Hasan, "Tahlil-e Fiqhi wa Hoquqi-ye Atsar-e Talqih-e Mashnu'i be Wasile-ye Ejareh-ye Rahm", dalam Jurnal Qanun-yar, nomor 5, 1398 HS.
  • Khoe'i, Sayid Abul Qasim, Ahkam-e Jame'-e Masa'il-e Pezesyki, Qom, Dar al-Shiddiqah al-Syahidah, cetakan pertama, 1432 H.
  • Khoe'i, Sayid Abul Qasim, Mabani Takmilah al-Minhaj, Qom, Muasasah Ihya Atsar al-Imam al-Khoe'i, tanpa tahun.
  • Zuhaili, Wahbah bin Musthafa, Tafsir al-Wasith, Damaskus, Dar al-Fikr, 1422 H.
  • Sabzawari, Abdul A'la, Muhadzdzab al-Ahkam, Qom, Penerbit Dar al-Tafsir, 1413 H.
  • Sistani, Sayid Ali, Minhaj al-Shalihin, Qom, Penerbit Mehr, 1414 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, pensyarah: Kalantar, Sayid Mohammad, Qom, Toko Buku Davari, cetakan pertama, 1410 H.
  • Syaikh Hurr Amuli, Mohammad bin Hasan, Wasail al-Syiah, Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), cetakan pertama, 1409 H.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali, al-Amali, Teheran, Nasyre Ketabchi, cetakan keenam, 1376 HS.
  • Syekh Saduq, Mohammad bin Ali, Man La Yahdzhuruhu al-Faqih, riset dan koreksi: Ali Akbar Ghaffari, Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, Tahdzib al-Ahkam, riset: Hasan Mousawi Kharsan, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Amali, koreksi: Muasasah al-Ba'tsat, Qom, Dar al-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
  • "Sefr ta Sad-e Bardari", Situs Impo.
  • Tabataba'i Boroujerdi, Agha Hosain, Manabi'-e Fiqh-e Syiah (terjemahan Jami' Ahhadits al-Syiah), terjemahan: Hosseiniyan Qomi, Mehdi; Sabouri, Teheran, Penerbit Farhang-e Sabz, cetakan pertama, 1429 H.
  • Tabataba'i Yazdi, Sayid Mohammad Kazim, al-Urwah al-Wutsqa (Muhasya), Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan pertama, 1419 H.
  • Thayyib, Sayid Abdul Hosain, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Penerbit Eslam, cetakan kedua, 1378 HS.
  • Abdulkhani, Sajedeh dan Sayid Ali Mousawi, "Talqih-e Mashnu'i az Manzhar-e Fiqh wa Hoquq", dalam Jurnal Motale'at-e Fiqh-e Eslami wa Mabani-ye Hoquq, nomor 35, 1396 HS.
  • Allamah Majlisi, Mohammad Baqer, Hilyat al-Muttaqin, Qom, Luqman, cetakan kedua, 1369 HS.
  • Fazel Lankarani, Mohammad Javad, Barresi-ye Fiqhi-Hoquqi-ye Talqih-e Mashnu'i, Qom, Pusat Fikih Aimmah al-Athar, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Fazel Lankarani, Mohammad, Risalah Taudhih al-Masail, Qom, cetakan 114, 1426 H.
  • Faidh Kasyani, Mohammad Mohsen, Tafsir al-Syafi, koreksi: Hossein A'lami, Teheran, Maktabah al-Sadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Kulaini, Mohammad bin Ya'qub, al-Kafi, riset dan koreksi: Ali Akbar Ghaffari dan Mohammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Kufi Ahwazi, Hossein bin Saeed, al-Zuhd, riset dan koreksi: Gholamreza Irfaniyan Yazdi, Qom, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1402 H.
  • Gorji, Abolghasem dan Hasan Taremi, "Bardari wa Baru-vari dar Qur'an", dalam Danisy-nameh-ye Jahan-e Eslami, jilid pertama, Teheran, Bonyad-e Dairat al-Ma'arif-e Eslami, 1375 HS.
  • Golpayegani, Sayid Mohammad Reza, Majma' al-Masail, riset dan koreksi: Ali Karimi Jahromi dkk, Qom, Dar al-Qur'an al-Karim, cetakan kedua, 1409 H.
  • Martin, Elizabeth, Farhang-e Towshifi-ye Wazheh-ha-ye Pezesyki, terjemahan: Ziba Maher-bana'i dkk, Teheran, Nasyre Kandu, cetakan pertama, 1375 HS.
  • Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, Qom, Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1423 H.
  • Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, Farhang-e Fiqh-e Farsi, Qom, Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami, 1387 HS.
  • Mo'men Qomi, Mohammad, Kalimat Sadidah fi Masa'il Jadidah, Qom, Kantor Penerbitan Islami berafiliasi dengan Jami'ah-ye Modarresin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1415 H.
  • Majlisi, Mohammad Baqer, Bihar al-Anwar, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Muhaddits Nuri, Hossein, Mustadrak al-Wasail wa Mustanbat al-Masail, Qom, Muasasah Alu al-Bait (as), cetakan pertama, 1408 H.
  • Mohammadiyan, Bahram, Negah-i Digar be Hoquq-e Farzandan az Didgah-e Eslam, Teheran, Asosiasi Orang Tua dan Guru, cetakan keempat, 1390 HS.
  • Mortazawi, Sayid Mohsen, Talqih-e Mashnu'i dar Ayine-ye Fiqh, Qom, Bustan-e Ketab, cetakan kedua, 1399 HS.
  • Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an, Dairat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim, Qom, Penerbit Bustan-e Ketab, sejak tahun 1382 HS.
  • Mustaghfiri, Jafar bin Mohammad, Thibb al-Nabi (saw), riset: Ali Akbar Ilahi Khorasani, Najaf, Maktabah al-Haidariyah, cetakan pertama, 1385 H.
  • Makarem Shirazi, Naser, Ahkam-e Banuvan, riset dan koreksi: Aliyan-nejadi, Abolghasem, Penerbit Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), cetakan kesebelas, 1428 H.
  • Makarem Shirazi, Naser, Ahkam-e Pezesyki, disusun oleh: Aliyan-nejadi, Abolghasem, Qom, Penerbit Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), cetakan pertama, 1429 H.
  • Makarem Shirazi, Naser, Istifta'at-e Jadid, riset dan koreksi: Abolghasem Aliyan-nejadi, Qom, Penerbit Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), cetakan kedua, 1427 H.
  • Makarem Shirazi, Naser, Bahuts Fiqhiyyah Hammah, Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), cetakan pertama, 1380 HS.
  • Makarem Shirazi, Naser, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Makarem Shirazi, Naser, Kitab al-Nikah, Mohammad Reza Hamedi dan Mas'ud Makarem, Qom, Penerbit Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), cetakan pertama, 1424 H.
  • Montazeri, Hossein-Ali, Risalah Istifta'at, Qom, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Montazeri, Hossein-Ali, Ahkam-e Pezesyki, Qom, Nasyre Sayeh, cetakan ketiga, 1427 H.
  • Mikhabar, Sima, Reyhaneh-ye Behesyti, Qom, Penerbit Nur al-Zahra, cetakan ke-115, 1392 HS.
  • Nazhem-zadeh, Sayid Asghar, Talqih-e Mashnu'i az Negah-e Fiqh, Qom, Bustan-e Ketab, cetakan pertama, 1401 HS.
  • Najafi, Mohammad Hasan, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam, riset dan koreksi: Abbas Quchani dan Ali Akhundi, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Nouri Hamedani, Hossein, "Kontrol Jami'at", dalam Jurnal Fiqh-e Ahl-e Bait (as), jld. 33, Qom, Muasasah Dairat al-Ma'arif al-Fiqh al-Islami thibqan li Madzhab Ahl al-Bait (as), cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Vahid Khorasani, "Boridan-e Ozv-i az A'za-ye Badan-e Zendeh baraye Peyvand", Situs Resmi Kantor Ayatullah Vahid Khorasani.