Lompat ke isi

Konsep:Azlam

Dari wikishia

Azlam (bahasa Arab: الأزلام) adalah anak panah kayu bertuliskan yang digunakan sebelum Islam untuk berjudi, mencari tahu kebaikan atau keburukan, dan keperluan lainnya. Al-Qur'an menyebut azlam bersandingan dengan minuman keras (khamar) dan memerintahkan untuk meninggalkannya.

Salah satu jenis azlam yang digunakan dalam perjudian terdiri dari sepuluh anak panah kayu untuk sepuluh orang peserta. Tiga dari anak panah tersebut kosong (tidak memiliki bagian), sementara tujuh anak panah lainnya masing-masing mewakili satu hingga tujuh bagian. Perjudian ini bertujuan untuk mendapatkan daging hewan sembelihan, di mana peserta yang kalah harus membayar harga hewan tersebut.

Orang-orang penyembah berhala juga menggunakan azlam untuk mengetahui kehendak berhala dan dewa-dewa mereka. Pada salah satu anak panah tertulis kata if'al (lakukanlah) dan pada yang lain tertulis la taf'al (jangan lakukan) atau tulisan lain yang bermakna serupa. Dengan mengambil salah satu dari anak panah tersebut, mereka menentukan apakah suatu perbuatan dianggap baik atau buruk menurut dewa-dewa kaum musyrik. Praktik ini dilakukan sebelum mengambil keputusan untuk bepergian, menikah, dan sebagainya.

Mencari tahu kebaikan dan keburukan dengan azlam dianggap sebagai bentuk kesyirikan; karena perbuatan ini dilakukan di hadapan berhala dan dengan menjadikan mereka sebagai perantara. Padahal, dalam budaya Islam, hanya Allah yang dapat menjadi rujukan penentu baik atau buruknya suatu perbuatan, dan oleh karena itu, tidak boleh menyekutukan selain Allah dalam hal ini. Para peneliti menganggap hal inilah yang membedakan azlam dari Istikharah, dan mereka meyakini bahwa istikharah adalah permohonan kepada Allah Yang Maha Esa, yang—berbeda dengan azlam—tidak bertentangan dengan Tauhid.

Terminologi

Azlam adalah anak panah kayu berukuran sama dan memiliki tulisan, yang digunakan oleh bangsa Arab sebelum Islam untuk berjudi, menentukan baik dan buruk, mengundi, dan lain-lain.[1] Salah satu jenis azlam adalah sepuluh potong kayu yang digunakan untuk berjudi.[2] Jenis lainnya adalah anak panah yang digunakan untuk mengetahui baik atau buruknya suatu perbuatan.[3] Azlam ini sering kali disimpan di kuil-kuil dan di dekat berhala-berhala.[4] Di Kakbah, di samping berhala Hubal, juga terdapat azlam.[5]

Templat:Kutipan

Kata azlam disebutkan dua kali dalam Al-Qur'an.[6] Dalam satu ayat, azlam disebutkan bersama dengan khamar, maisir (judi), dan anshab (berhala), serta dinyatakan sebagai perbuatan setan dan diperintahkan untuk dijauhi.[7] Dalam ayat lainnya, "istiqsam bi al-azlam" (mengundi nasib dengan anak panah) dinyatakan sebagai kefasikan.[8] Para mufasir berbeda pendapat dalam menjelaskan makna istiqsam dengan azlam:

  • Rasyiduddin Maibudi, mufasir Syafii abad keenam Hijriah, mengartikan istiqsam dengan azlam sebagai penentuan baik dan buruk menggunakan anak panah (azlam).[9]
  • Sayid Muhammad Taqi al-Modarresi, salah seorang marja' taklid Syiah yang berkedudukan di Karbala, menjelaskan bahwa istiqsam dengan azlam adalah semacam perjudian menggunakan anak panah untuk membagikan daging hewan di antara para pesertanya.[10] Sebagian peneliti menilai tafsir ini lebih tepat dan sesuai dengan konteks umum ayat tersebut; karena ayat ini membahas tentang daging-daging yang haram, dan di kelanjutannya disebutkan istiqsam dengan azlam.[11]

Menurut Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, seorang mufasir Syiah, perjudian pada zaman Arab Jahiliah sebagian besar dilakukan menggunakan azlam. Oleh karena itu, kata "al-maisir" dalam Al-Qur'an[12] yang berarti perjudian, merujuk pada praktik azlam.[13]

Berjudi Menggunakan Azlam

Salah satu jenis azlam adalah kumpulan anak panah yang digunakan dalam perjudian.[14] Jumlah peserta dalam perjudian ini adalah sepuluh orang.[15] Azlam yang digunakan juga terdiri dari sepuluh potong kayu dengan ukuran dan bentuk yang sama. Tiga dari kayu tersebut kosong, sedangkan tujuh kayu lainnya masing-masing memiliki bagian tertentu yang tertulis di atasnya, mulai dari satu bagian hingga tujuh bagian.[16] Para peserta judi menyembelih seekor hewan dan membagi dagingnya menjadi 28 bagian yang sama rata.[17] Kemudian, satu batang kayu ditarik untuk setiap individu guna menentukan bagiannya.[18] Pada akhirnya, tiga orang yang mendapatkan bagian kosong dianggap sebagai pihak yang kalah dan harus membayar harga hewan yang telah disembelih tersebut.[19] Setiap kayu tersebut memiliki nama khususnya masing-masing.[20] Tafsir Majma' al-Bayan menukil sebuah riwayat dari Imam Shadiq as dan Imam Baqir as yang menjelaskan cara berjudi menggunakan azlam dan hukum keharamannya.[21]

Menentukan Kebaikan dan Keburukan Serta Undian Menggunakan Azlam

Bangsa Arab sebelum Islam menggunakan azlam untuk mengetahui dan menyingkap kehendak berhala dan dewa-dewa mereka.[22] Mereka menulis kata "if'al" (lakukanlah) pada salah satu anak panah dan kata "la taf'al" (jangan lakukan)[23] atau tulisan lain yang bermakna serupa pada anak panah lainnya.[24] Kemudian, dengan mengambil salah satu dari anak panah tersebut, mereka menentukan apakah suatu perbuatan dianggap baik atau buruk menurut kehendak para dewa.[25]

Penggunaan azlam jenis ini diterapkan dalam banyak urusan kehidupan mereka, seperti pergi bepergian, menikah, dan sebagainya.[26] Selain itu, cara menentukan baik dan buruk suatu perbuatan ini memiliki kaitan yang kuat dengan keyakinan agama. Oleh karena itu, ritual ini sering kali memiliki nuansa keagamaan dan dilaksanakan di kuil-kuil serta di dekat berhala.[27]

Penggunaan azlam lainnya adalah untuk pengundian dalam memutus suatu perkara yang membingungkan.[28] Al-Qur'an dalam kisah mengenai penerimaan hak asuh (kafalah) atas Sayidah Maryam sa menggunakan ungkapan "yulquna aqlamahum"[29] yang berarti mengundi dengan anak panah (siham).[30] Selain itu, dalam kisah Nabi Yunus as dan ketika ia dilemparkan ke laut, digunakan ungkapan "sahama"[31] (Fasahama fa kana minal mudh-hadhin — Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian) yang juga mengacu pada pengundian.[32] Dalam kisah Abdul Mutthalib, yang berdasarkan nazarnya harus mengorbankan putranya Abdullah, ia melakukan undian menggunakan azlam antara mengorbankan Abdullah atau seekor unta.[33]

Perbedaan dengan Istikharah

Menentukan kebaikan dan keburukan dari suatu perbuatan dengan menggunakan azlam didasarkan pada menjadikan berhala sebagai perantara dan memohon bantuan dari mereka.[34] Bangsa Arab sebelum Islam, setiap kali menghadapi suatu urusan yang tidak diketahui atau membingungkan, akan pergi ke kuil berhala dan menggunakan azlam untuk berusaha memahami kehendak berhala tersebut.[35] Menurut Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir Al-Mizan, perbuatan mereka ini merupakan bentuk kesyirikan; karena dilakukan di hadapan berhala dan dengan menjadikan mereka sebagai perantara. Padahal, memohon untuk mengetahui kebaikan dan keburukan adalah hak prerogatif Allah, dan dalam hal ini, seseorang tidak boleh menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.[36] Berdasarkan prinsip ini, satu-satunya alasan keharaman memohon kebaikan dan keburukan dengan azlam adalah bersandar pada berhala dan syirik kepada Allah.[37] Namun demikian, umat Islam memohon istikharah kepada Allah Yang Maha Esa, dan hal ini—berbeda dengan azlam—tidak bertentangan dengan Tauhid.[38]

Sayid Muhammad Husain Fadhlullah, salah seorang marja' taklid, juga menyebutkan perbedaan-perbedaan lain antara azlam dan istikharah.[39]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Allah Akbari, "Azlam", jld. 2, hlm. 598.
  2. Balaghi, Hujjah al-Tafasir, 1386 H, jld. 2, hlm. 189.
  3. Balaghi, Hujjah al-Tafasir, 1386 H, jld. 2, hlm. 189.
  4. "Azlam", Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 8, hlm. 47.
  5. Awtabi Shahari, Al-Ansab, 1427 H, jld. 2, hlm. 573.
  6. Qarasyi, Qamus Qur'an, 1371 HS, jld. 3, hlm. 176.
  7. Surah Al-Maidah, ayat 90.
  8. Surah Al-Maidah, ayat 3.
  9. Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 3, hlm. 14.
  10. Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 2, hlm. 295.
  11. "Maqsud az (Taqsim ba Azlam) Cist?", Majalah Darshayi az Maktab-e Eslam, hlm. 69.
  12. Surah Al-Maidah, ayat 90.
  13. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hlm. 192.
  14. Musthafawi, Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, 1360 HS, jld. 14, hlm. 246.
  15. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 2, hlm. 192.
  16. Allah Akbari, "Azlam", jld. 2, hlm. 598.
  17. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 2, hlm. 192.
  18. Allah Akbari, "Azlam", jld. 2, hlm. 598.
  19. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 260-261.
  20. Allah Akbari, "Azlam", jld. 2, hlm. 598.
  21. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 245.
  22. "Azlam", Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 8, hlm. 46.
  23. Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 5, catatan kaki hlm. 10.
  24. Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Beirut, hlm. 332.
  25. Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Beirut, hlm. 332.
  26. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 1, hlm. 259.
  27. "Azlam", Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 8, hlm. 47.
  28. Minbari, "Azlam".
  29. Surah Ali 'Imran, ayat 44.
  30. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 57.
  31. Surah Ash-Shaffat, ayat 141.
  32. Faidh Kasyani, Tafsir as-Safi, 1415 H, jld. 4, hlm. 283.
  33. Syekh Shaduq, Al-Khisal, 1362 HS, jld. 1, hlm. 57.
  34. Balaghi, Hujjah al-Tafasir, 1386 H, jld. 2, hlm. 189-190.
  35. Balaghi, Hujjah al-Tafasir, 1386 H, jld. 2, hlm. 189-190.
  36. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 119.
  37. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 119.
  38. "Maqsud az (Taqsim ba Azlam) Cist?", hlm. 69.
  39. Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 42.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Habib. Al-Muhabbar. Riset: Ilse Lichtenstädter. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
  • "Azlam". Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami. Teheran: Markaz Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami, 1377 HS.
  • Isfahani, Abul Faraj. Al-Aghani. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, 1415 H.
  • Allah Akbari, Mohammad. "Azlam". Dairat al-Ma'arif Qur'an Karim. Qom: Bustan-e Ketab, 1382 HS.
  • Balaghi, Sayid Abdul Hujjat. Hujjah al-Tafasir wa Balagh al-Iksir. Qom: Intisyarat Hekmat, 1386 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khisal. Riset dan koreksi: Ali Akbar Ghaffari. Qom: Daftar Intisyarat Eslami, cetakan pertama, 1362 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftar Intisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran: Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Awtabi Shahari, Salamah bin Muslim. Al-Ansab. Koreksi: Muhammad Ihsan Nashsh. Oman: Wizarah al-Turats al-Qaumi wa al-Tsaqafah, cetakan keempat, 1427 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahyi al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir as-Safi. Riset: Husain A'lami. Teheran: Intisyarat as-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Qarasyi, Sayid Ali Akbar. Qamus Qur'an. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keenam, 1371 HS.
  • Modarresi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Musthafawi, Hasan. Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran: Bungah Tarjumeh wa Nasyr Ketab, 1360 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
  • "Maqsud az (Taqsim ba Azlam) Cist?". Majalah Darshayi az Maktab-e Eslam, Tahun 24, Nomor 6, Syahriwar 1363 HS.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Minbari, Farideh. "Azlam". Daneshnameh Hajj wa Haramain Syarifain. Di situs Pajouhesykadeh Hajj wa Ziarat. Tanggal publikasi: 22 Esfand 1392. Tanggal akses: 9 Dey 1398 HS.
  • Maibudi, Ahmad bin Abi Sa'ad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar. Riset: Ali Asghar Hekmat. Teheran: Amir Kabir, cetakan kelima, 1371 HS.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Shadir, cetakan pertama, tanpa tahun.