Konsep:Ayat Nafr
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Nafr |
| Surah | At-Taubah |
| Ayat | 122 |
| Juz | 11 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Para pelanggar Perang Tabuk |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Menuntut ilmu dan dakwah agama |
Ayat Nafr adalah ayat ke-122 Ayat Surah At-Taubah yang menjelaskan tentang diangkatnya kewajiban berangkat berjihad bagi para penuntut ilmu agama (thullab).[1] Ayat ini menunjukkan urgensi perjalanan untuk tafaqquh (mendalami) urusan agama dan dijadikan sandaran atas kebolehan bertaklid kepada mujtahid.[2] Menurut pernyataan Allamah Thabathabai, penulis Tafsir al-Mizan, maksud dari tafaqquh dalam agama adalah memahami seluruh makrifat keagamaan (prinsip dan cabang agama), bukan hanya hukum-hukum amaliyah saja.[3]
| “ | وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَآفَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَة لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
|
” |
Dan tidaklah (betul dan elok) orang-orang yang beriman keluar semuanya (pergi berperang); oleh itu, hendaklah keluar sebahagian sahaja dari tiap-tiap puak di antara mereka, supaya orang-orang (yang tinggal) itu mempelajari secara mendalam ilmu yang dituntut di dalam agama, dan supaya mereka dapat mengajar kaumnya (yang keluar berjuang) apabila orang-orang itu kembali kepada mereka; mudah-mudahan mereka dapat berjaga-jaga (dari melakukan larangan Allah).
Dalam syan nuzul ayat ini disebutkan bahwa ketika Nabi saw bergerak menuju medan jihad, seluruh kaum Muslimin kecuali kaum munafik dan orang-orang yang memiliki uzur ikut serta bersama beliau. Setelah turun ayat-ayat yang mencela kaum munafik dan mengecam para pelanggar Perang Tabuk, kaum mukminin menjadi lebih serius untuk hadir di medan jihad, bahkan mereka pergi berjihad dalam peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi saw. Kemudian ayat ini turun dan menyatakan bahwa dalam kondisi tidak mendesak, tidak selayaknya seluruh kaum Muslimin pergi ke medan perang; melainkan hendaknya sebagian menetap di Madinah untuk mempelajari makrifat dan hukum Islam dari Nabi saw, serta mengajarkannya kepada para mujahid setelah mereka kembali.[4]
Menurut keyakinan Abdullah Jawadi Amuli, tujuan hijrahnya para penuntut ilmu ke lembaga-lembaga pendidikan agama (hauzah) semata-mata bukan hanya untuk mendalami agama, melainkan tujuan akhirnya adalah kembalinya mereka setelah mendalami agama kepada kaumnya untuk memberikan peringatan dan rasa takut (inzar) kepada mereka.[butuh rujukan]
Beberapa pihak juga dengan bersandar pada Ayat Nafr mencoba membuktikan kehujjahan khabar wahid.[5] Sebagian lainnya membuktikan kewajiban menerima perkataan para penyampai masalah keagamaan.[6]
Catatan Kaki
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390/1970-71, jld. 9, hal. 404.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 8, hal. 193; Gharawi Tabrizi, al-Tanqih fi Syarh al-'Urwat al-Wutsqa, 1418/1997-98, jld. 1, hal. 64.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390/1970-71, jld. 9, hal. 404.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 8, hal. 189.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 8, hal. 194; Hashemi Rafsanjani, Tafsir Rahnama, 1371 HS, jld. 7, hal. 275.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 8, hal. 194.
Daftar Pustaka
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Penerbit al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390/1970-71.
- Gharawi Tabrizi, Ali. al-Tanqih fi Syarh al-'Urwat al-Wutsqa. Dikte pelajaran Ayatullah Khoei. Qom, 1418/1997-98.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1380 HS.
- Hashemi Rafsanjani, Akbar. Tafsir Rahnama. Qom: Daftar Tablighat Eslami Hauzah Ilmiah Qom, 1371 HS.