Lompat ke isi

Konsep:Ayat 7 Surah Asy-Syarh

Dari wikishia
Ayat 7 Surah Asy-Syarh
Informasi Ayat
SurahSurah al-Insyirah
Ayat7
Juz30
Informasi Konten
Tempat
Turun
Makkah atau Madinah
TentangBerusaha lebih keras dalam pekerjaan lain setelah selesai dari suatu pekerjaan berat
Ayat-ayat terkaitAyat 1 sampai 6 Surah Asy-Syarh • Ayat 8 Surah al-Insyirah


Ayat 7 Surah Asy-Syarh (bahasa Arab:آیة ۷ سورة الشرح) meminta kepada Nabi saw, "Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)." Berdasarkan ayat berikutnya dari surah ini, usaha ini harus disertai dengan keinginan menuju Allah.

Para mufasir mengemukakan berbagai pendapat mengenai dari apa diminta untuk selesai dan pekerjaan apa yang disarankan untuk dilakukan dalam ayat 7 Surah Asy-Syarh: Di antaranya adalah ketika selesai dari salat wajib, berdoalah; atau ketika engkau telah selesai dari kewajiban-kewajiban, berusahalah dalam melakukan hal-hal sunnah. Hal-hal ini dianggap sebagai misdak (contoh nyata) yang terbatas untuk makna luas ayat tersebut.

Dalam sebagian tafsir Syiah, berdasarkan beberapa riwayat, misdak ayat 7 Surah Asy-Syarh dianggap sebagai perintah kepada Nabi saw untuk melantik Imam Ali as pada peristiwa Ghadir sebagai Khalifah. Sebagian mufasir Syiah menganggap konsekuensi dari tafsir ini adalah bahwa frasa "fanshab" (فانصَب) dibaca dengan kasrah pada huruf shad (fanshib) agar bermakna "lantiklah". Hal ini dikritik oleh sebagian mufasir Ahlusunah. Menanggapi kritik ini, dikatakan bahwa dengan bersandar pada bacaan (qiraat) yang masyhur dari ayat ini dengan fathah pada huruf shad, perintah untuk melantik Imam Ali as sebagai pemimpin di Ghadir juga bisa menjadi misdak bagi makna umum ayat tersebut; karena usaha Nabi saw untuk mengumumkan wilayah Imam Ali as adalah misdak dari melakukan pekerjaan berat setelah pekerjaan berat risalah.

Apabila Engkau Telah Selesai, Tetaplah Bekerja Keras!

Menurut para mufasir, dalam ayat 7 Surah Asy-Syarh, Nabi saw diminta agar ketika beliau telah selesai dari suatu pekerjaan, beliau berusaha lebih keras dalam pekerjaan lain.[1] Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, mufasir Syiah, menganggap mukhatab (lawan bicara) ayat ini adalah Nabi saw.[2] Syekh Thusi meyakini bahwa lawan bicara dari firman ini adalah Nabi saw, namun mencakup seluruh mukalaf dari umat beliau juga.[3]

Menurut Thabathaba'i, konteks makna ayat ini adalah ayat-ayat sebelumnya dari Surah al-Insyirah: Dalam ayat-ayat tersebut dibicarakan tentang beratnya beban risalah dan anugerah Allah kepada Nabi-Nya karena memikul beban ini;[4] anugerah berupa kelapangan dada (ayat 1), meringankan beban risalah (ayat 2), dan meninggikan sebutan Nabi (ayat 4), yang semuanya dianggap sebagai bagian dari "kemudahan setelah kesulitan" (ayat 5).[5]

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bersungguh-sungguh (dalam urusan yang lain)." (QS. al-Insyirah: 7)

Selesai dari Apa? Berusaha untuk Apa?

Menurut laporan Nashir Makarim Syirazi, mufasir Syiah, para mufasir mengemukakan berbagai pendapat mengenai dari apa yang dimaksud dengan selesai dan pekerjaan apa yang disarankan untuk dilakukan dalam ayat 7 Surah Asy-Syarh;[6] di antaranya:

  • Ketika engkau telah selesai dari salat wajib, berdoalah.[7]
  • Setiap kali engkau telah selesai dari Jihad melawan musuh, beribadahlah kepada Allah.[8]
  • Ketika engkau telah selesai dari urusan dunia, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah kepada Tuhanmu.[9]
  • Setiap kali engkau telah selesai dari salat wajib, lakukanlah salat sunnah malam.[10]
  • Ketika engkau telah selesai dari kewajiban-kewajiban, berusahalah dalam melakukan hal-hal sunnah.[11]
  • Setiap kali engkau telah selesai dari jihad melawan musuh, lakukanlah jihad melawan hawa nafsu.[12]
  • Setiap kali engkau telah selesai dari menunaikan risalah, berusahalah dalam memohon Syafaat.[13]

Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait as juga terdapat hal-hal mengenai topik selesai dan berusaha; di antaranya Syekh Thabarsi, mufasir Syiah abad ke-5 dan ke-6 H, menukil dari Imam Baqir as dan Imam Shadiq as bahwa ketika engkau telah selesai dari salat wajib, bangkitlah dan berdoalah.[14]

Sebagian mufasir menganggap beberapa hal ini sebagai misdak terbatas untuk makna luas ayat tersebut[15] dan sebagian lain melemahkan beberapa hal ini.[16] Menurut Makarim Syirazi, ayat ini memiliki konsep luas yang mencakup selesai dari setiap pekerjaan penting dan beralih ke pekerjaan penting lainnya.[17] Menurut Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi, mufasir Syiah, makna ayat ini adalah: Ketika engkau telah selesai dari suatu pekerjaan berat, lakukanlah pekerjaan yang lebih berat;[18] pekerjaan yang, berdasarkan ayat berikutnya (ayat 8), disertai dengan kerinduan menuju Allah.[19] Mudarrisi menganggap konsekuensi dari kerinduan ini adalah sejenis daya tarik cinta kepada Allah; daya tarik yang membuat manusia, setelah melakukan pekerjaan berat untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan penuh kerinduan beralih ke pekerjaan yang lebih berat.[20] Hasil dari jenis pekerjaan ini, menurut Allamah Thabathaba'i, adalah anugerah Allah kepada hamba dan membawanya pada kemudahan setelah kesulitan.[21]

Makarim Syirazi meyakini bahwa karena dalam ayat ini topik selesai dan berusaha keras setelah selesai tidak ditentukan secara spesifik, maka ayat ini menjelaskan sebuah prinsip umum yang konstruktif dan komprehensif bagi kemenangan dan penyempurnaan manusia: Bahwa istirahat total adalah sumber kelelahan, kemalasan, keusangan, dan dalam banyak kasus merupakan sumber kerusakan dan kehancuran.[22]

Perintah untuk Melantik Imam Ali as sebagai Khalifah di Ghadir

Dalam sebagian tafsir Syiah, berdasarkan beberapa riwayat, misdak ayat 7 Surah Asy-Syarh dianggap sebagai perintah kepada Nabi saw untuk melantik Imam Ali as pada peristiwa Ghadir sebagai Khalifah;[23] contoh dari riwayat-riwayat ini:

  • Imam Shadiq as: Ketika engkau telah selesai dari Haji Wada', lantiklah Amirul Mukminin as.[24]
  • Imam Shadiq as dari Imam Baqir as: Ketika engkau telah selesai dari mendirikan kewajiban-kewajiban, lantiklah Ali as.[25]
  • Imam Shadiq as: Ketika engkau telah selesai dari menyempurnakan syariat, lantiklah Ali as sebagai pemimpin bagi kaum Muslim.[26]
  • Imam Shadiq as: Ketika engkau telah selesai dari kenabianmu, lantiklah Ali as.[27]
  • Imam Baqir as: Ketika engkau telah selesai dari kenabian, lantiklah Ali as untuk sesudahmu.[28]
  • Imam Shadiq as: Ketika engkau telah selesai dari kenabian, lantiklah Ali as sebagai wasi-mu.[29]

Tantangan Akidah atas Bacaan Satu Frasa: Fanshab atau Fanshib

Sebagian mufasir Syiah menganggap konsekuensi dari ayat 7 Surah Asy-Syarh sebagai perintah untuk melantik Imam Ali as menjadi khalifah adalah bahwa frasa "fanshab" dibaca dengan kasrah pada huruf shad (fanshib) agar bermakna "lantiklah".[30] Sebuah riwayat juga dinukil dalam sumber-sumber Syiah dari Imam Baqir as yang menegaskan bahwa frasa ini dibaca "fanshib".[31] Dalam sebagian sumber Ahlusunah juga ditekankan bahwa bacaan ini adalah pendapat sebagian Syiah.[32]

Zamakhsyari (wafat: 538 H), mufasir Sunni bermazhab Mu'tazilah, menentang pendapat ini dan menganggap bacaan ini sebagai bid'ah dari sebagian "Rafidhah";[33] menurutnya, jika bacaan ini dibolehkan, maka kaum Nashibi juga dapat membacanya demikian dan menganggapnya sebagai perintah untuk membenci (nashb) Imam Ali as.[34] Makarim Syirazi menganggap ucapan Zamakhsyari ini kasar, tidak senonoh, dan hasil dari fanatisme mazhab;[35] karena menurutnya ungkapan ini adalah penghinaan kepada seseorang yang dianggap oleh Ahlusunah sebagai khalifah keempat Nabi saw.[36]

Sebagian mufasir Ahlusunah lainnya berusaha melemahkan bacaan ini: Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Ma'afiri Isybili Maliki (wafat: 543 H), yang dikenal sebagai Ibnu al-Arabi, mengatakan tentang bacaan ini: Makna frasa ini dengan kasrah adalah lantiklah seorang imam yang menjadi penggantimu; ini batil baik dari segi qiraat maupun makna, karena Nabi saw tidak melantik siapa pun sebagai khalifahnya.[37] Juga, Alusi (wafat: 1270 H) menganggap Makkiyah-nya ayat ini sebagai alasan bahwa ayat ini tidak berkaitan dengan pelantikan Imam Ali as di Ghadir.[38]

Sebagai jawaban, Makarim Syirazi mengatakan: Para mufasir ini menyangka bahwa Syiah mengubah bacaan ayat agar dapat berdalil dengannya untuk wilayah; padahal untuk hal ini, bacaan yang masyhur saja sudah cukup.[39] Ia meyakini bahwa tanpa mengubah bacaan ayat dan berdasarkan bahwa wilayah adalah salah satu misdak bagi makna umum ayat, ayat tersebut dapat diartikan demikian: Setelah selesai dari urusan penting seperti risalah, berusahalah untuk urusan penting lainnya seperti wilayah.[40] Makarim Syirazi menganggap usaha gigih Nabi saw untuk memperkenalkan dan mengumumkan wilayah Imam Ali as kepada orang-orang, berdasarkan riwayat-riwayat seperti Hadis Ghadir, sebagai misdak pengamalan beliau terhadap ayat ini.[41] Meskipun ada pendapat Alusi mengenai Makkiyah-nya ayat ini, Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa Surah al-Insyirah bisa jadi Makkiyah maupun Madaniyah; meskipun menurutnya konteks ayat-ayat surah ini lebih sesuai dengan surah-surah Madaniyah.[42]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 128; Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 18, hlm. 193.
  2. Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 316.
  3. Thusi, al-Tibyan, Beirut: jld. 10, hlm. 374.
  4. Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 317.
  5. Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 317.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 129.
  7. Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 742.
  8. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 10, 1408 H, hlm. 773.
  9. Thusi, al-Tibyan, Beirut: jld. 10, hlm. 373.
  10. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 10, 1408 H, hlm. 732–733.
  11. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 10, 1408 H, hlm. 732–733.
  12. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 10, 1408 H, hlm. 733.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 10, 1408 H, hlm. 733.
  14. Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 10, 1408 H, hlm. 772.
  15. Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 317; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 129; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 130; Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 18, hlm. 193.
  16. Sebagai contoh lihat: Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 317.
  17. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 129.
  18. Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 18, hlm. 193.
  19. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 129; Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 18, hlm. 193.
  20. Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 18, hlm. 193.
  21. Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 317.
  22. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 130.
  23. Sebagai contoh lihat: Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 428–429.
  24. Faizh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 5, hlm. 344.
  25. Qadhi Nu'man Maghribi, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 1, hlm. 245.
  26. Ibnu Syahrasyub, Manaqib Alu Abi Thalib, 1379 HS, jld. 3, hlm. 23.
  27. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 429.
  28. Furat Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 574.
  29. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 36, hlm. 135.
  30. Sebagai contoh lihat: Faizh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 5, hlm. 344.
  31. Qadhi Nu'man Maghribi, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 1, hlm. 245.
  32. Zamakhsyari, al-Kasyyaf, 1415 H, jld. 4, hlm. 761; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 15, hlm. 392.
  33. Zamakhsyari, al-Kasyyaf, 1415 H, jld. 4, hlm. 761.
  34. Zamakhsyari, al-Kasyyaf, 1415 H, jld. 4, hlm. 761–762.
  35. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 131–132.
  36. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 131.
  37. Ibnu al-Arabi, Ahkam Al-Qur'an, 1424 H, jld. 4, hlm. 413.
  38. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 15, hlm. 392.
  39. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 131.
  40. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 131.
  41. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 131.
  42. Thabathaba'i, al-Mizan, 1394 H, jld. 20, hlm. 313.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir Al-Qur'an al-Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Riset: Ali Abdul Bari Athiyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H.
  • Faizh Kasyani, Muhammad bin Syah-Murtadha. al-Shafi fi Tafsir Al-Qur'an. Riset: Husain A'lami. Teheran: Maktabah al-Shadr, 1415 H.
  • Furat Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Riset: Muhammad Kazim. Teheran: Wizarat al-Tsaqafah wa al-Irsyad al-Islami (Muassasah al-Thab' wa al-Nasyr), 1410 H.
  • Ibnu al-Arabi, Muhammad bin Abdullah. Ahkam Al-Qur'an. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H.
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Qom: Allamah, 1379 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda Al-Qur'an. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
  • Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Riset: Abdullah Mahmud Syahatah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1423 H.
  • Qadhi Nu'man Maghribi, Nu'man bin Muhammad. Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athhar. Riset: Sayid Muhammad Husaini Jalali. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1409 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Riset: Thayyib Musawi Jazairi. Qom: Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1394 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an. Riset: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati dan Sayid Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Tibyan fi Tafsir Al-Qur'an. Riset: Ahmad Habib al-Amili. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. al-Kasyyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Riset: Muhammad Abdus Salam Syahin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H.