Sayid Ali Husaini Khamenei

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: b
Sayid Ali Husaini Khameneihttp://en.wikishia.net
Sayyid Ali Khamenei.jpg
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Sayid Ali Husaini Khameneh
Lahir 28 Shafar 1358 H/19 April 1939
Tempat lahir Masyhad, Iran
Informasi ilmiah
Guru-guru Sayid Jawad Husaini Khamenei • Mirza Muhammad Mudaris Yazdi • Syaikh Hasyim Qazweini • Syaikh Muhammad Hadi Milani • Haj Ahga Husain Burujerdi • Imam Khomeini • Husain Ali Muntazeri •Murtadho Hairi Yazdi • Sayid Muhammad Muhaqiq Damad • Allamah Thabathabai
Karya-karya Tarh-i kulli-yi andishi-yi Islami (Sistem Pemikiran Universal Islam dalam Al-Quran) • Az zharfa-yi namaz (Dari Kedalaman Salat) • Chahar kitab-i asli-yi ilm-i rijal (Empat Buku Utama Ilmu Rijal) • Pishwa-yi Sadiq (Pemimpin Sejati) • ...
Kegiatan Sosial dan Politik
Politik: Pemimpin Agung Revolusi Islam Iran setelah Imam Khomeini
Tanda Tangan: امضای آیت الله خامنه‌ای.jpg
Situs resmi: Khamenei.ir

Sayid Ali Huseini Khamenei (bahasa Persia: سید علی حسینی خامنه ای) (lahir 1939 M) merupakan salah seorang Marja' Taqlid mazhab Syiah dan pemimpin (rahbar) kedua dari negara Republik Islam Iran. Sebelum terpilih sebagai rahbar pada tahun 1989, ia pernah menjabat sebagai presiden selama dua periode serta pernah duduk di parlemen. Selain itu, ia juga pernah menjadi Imam Jumat kota Teheran secara resmi. Setelah revolusi Islam Iran, ia merupakan salah seorang ulama yang paling berpengaruh di kota Masyhad.

Pemikiran-pemikiran Ayatullah Khamenei terangkum dalam sebuah karya yang komprehensif dengan judul "Hadits Wilayah." Beberapa buku secara tematis disusun dan diterbitkan berasal dari ceramah-ceramah dan pesan-pesannya. Selain itu, beberapa karya tulis yang mencakup tulisan dan terjemahannya juga telah diterbitkan. Tulisan yang paling rinci dan luas adalah berkenaan tentang sistem pemikiran universal Islam dalam Al-Quran. Terjemahannya yang paling masyhur adalah berkenaan dengan Arbitrasi atau Perdamaian Imam Hasan As.

Kritikan yang tegas terhadap Qameh Zani (melukai bagian tubuh dengan benda tajam) dalam acara memperingati kesyahidan Imam Husein As dan sebagian bentuk duka dan takziah (penyelenggaraan duka dan kesedihan atas kesyahidan Imam Husain As). Di samping itu, ia juga mengeluarkan fatwa keharaman menghina hal-hal yang dianggap suci dan sakral oleh mazhab Ahlussunnah. Kedua fatwa ini terhitung sebagai fatwa-fatwa yang terkenal dan berpengaruh di dunia Islam. Istilah-istilah; invasi budaya dan kebangkitan Islam, merupakan konsep-konsep yang selalu ada dalam setiap ceramah dan pidato yang sudah masuk ke dalam kamus politik dan sosial Iran.

Ayatullah Khamenei memiliki latar belakang sastra dan banyak mengenal genre-genre sastra yang ada. Sehubungan dangan syair, ia juga menggubah dan membacanya. Mengkaji buku-buku sejarah yang valid (muktabar), merupakan salah satu program kajian rutinnya, sehingga ia sangat menguasai kajian-kajian dan tema-tema sejarah kontemporer. [1]

Kelahiran dan Keturunan

Ayatullah Khamenei lahir pada tanggal 19 April 1939 atau bertepatan pada tanggal 19 April 1939 M dari keluarga ruhaniawan di kota Masyhad.

Ayah dan Ibu

Ayah Ayatullah Khamenei yang bernama Sayid Jawad Khamenei (w. 1986) juga merupakan salah satu ulama dan mujtahid di zamannya yang lahir di kota Najaf dan di masa kecil, ia ikut bersama keluarganya berhijrah ke kota Tabriz. Sekitar tahun 1336 H, ia pindah ke kota Masyhad. Setelah beberapa tahun tinggal di Najaf dan setelah menyelesaikan pelajarannya pada sebagian ulama besar seperti Mirza Muhammad Husein Naini, Sayyid Abdul Hasan Isfahani dan Agha Dhiyauddin Iraqi. Usai menggondol gelar mujtahid, [2] ia kembali ke Iran dan menetap di kota Masyhad. Selain aktif mengajar, ia juga menjadi Imam Masjid Shiddiqi pasar Masyhad (masjid suku Azarbaijan). [3] Ia juga termasuk kepada salah satu imam dari Masjid Jami' Ghouharshad. [4]

Ibu Mirdamadi (w. 1986) yang merupakan ibunda Ayatullah Khamenei merupakan seorang wanita yang zuhud, komitmen dengan hukum-hukum syariat dan tindakan amar makruf dan nahi munkar serta menguasai Al-Quran, hadis, sejarah dan sastra.

Nenek Moyang

Datuk besar Ayatullah Khamenei yang bernama Sayid Muhammad Huseini Tafreshi, nasab dan keturunannya sampai kepada para Sayid Afthasi. Silsilah keturunan para datuknya sampai kepada Sultan al-Ulama Ahmad yang terkenal dengan Sultan Sayid Ahmad, yang melalui lima generasi sampai kepada Imam Sajjad As.

Kakek beliau adalah Sayid Husein Khamenei (sekitar 1259 – 20 Rabiul Awwal 1325 H.) termasuk ulama di zaman konstitusi yang pernah berguru kepada Sayid Husein Kuhkamari, Fadhil Irwani, Mirza Baqir Syakki dan Mirza Muhammad Hasan Syirazi. [5] Sepulang dari Najaf ke Tabriz, beliau langsung menjadi tenaga pengajar di madrasah Thalibiyah dan menjadi imam jamaah di masjid jami' kota tersebut. [6] Syekh Muhammad Khiyabani yang termasuk ruhaniawan pejuang dan mujahid di masa Konstitusi (Masyrutha) adalah menantu dan murid dari Sayid Husein Khamenei . [7]

Sayid Muhammad Khamenei (Sya'ban 1353 H) masyhur dengan nama Peighambar, [8] yang merupakan paman dari Ayatullah Khamenei adalah murid dari Akhund Khurasani dan Syariat Isfahani yang juga termasuk sebagai pendukung konstitusi. [9]

Ayatullah Sayid Hasyimi Najaf Abadi Mirdamadi (1924-2001 M) adalah kakek dari pihak ibu Ayatullah Khamenei (termasuk keluarga dari Mirdamad Filsuf terkenal di masa Safawiyah) termasuk murid dari Akhund Khurasani dan Mirza Muhammad Husein Naini yang terkenal sebagai ulama dalam bidang tafsir Al-Quran dan merupakan imam jamaah Masjid Gauharsad. [10] Ia juga termasuk ulama yang sangat perhatian terhadap tindakan amar maruf dan nahi munkar, karena disebabkan oleh kritikannya terhadap pembunuhan masyarakat di Masjid Gouharsad pada masa Reza Shah, diapun diasingkan ke kota Semnan. [11] Dari jalur ibu, Ayatullah Khamenei sampai ke Muhammad Dibaj putra dari Imam al-Shadiq as. [12]

Latar Belakang Pendidikan

Belajar

Sayid Ali Khamenei memulai proses belajarnya pada umur empat tahun di Maktab Khaneh dengan mempelajari Al-Quran. Berbarengan dengan masa sekolah menengah pertamanya, ia juga mulai mempelajari qir'aah dan tajwid dari para qori di kota Masyhad. [13] Di akhir-akhir masa sekolah menengah pertama, ia sudah mulai memasuki masa mukadimah hauzah. Kemudian melanjutkan pendidikan ilmu-ilmu Islam di Madrasah Salman Khan setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama. [14]

Pada tahun 1955, ia sudah mulai belajar Bahstul Kharijbersama Ayatullah Sayid Muhammad Hadi Milani. Pada tahun 1957. ia bersama keluarga berangkat menuju kota Najaf dan mengikuti pelajaran-pelajaran para guru besar di Hauzah Ilmiyah Najaf, akan tetapi disebabkan sang ayah tidak mau berlama-lama di kota tersebut, ia pun mengikuti sang ayah kembali ke kota Masyhad. [15] Kemudian ia melanjutkan belajarnya kepada Ayatullah Milani untuk jangka waktu satu tahun. Pada tahun 1958, ia berangkat ke kota Qom untuk melanjutkan pendidikannya. [16] Ayatullah Khamenei pada tahun 1964 disebabkan sakit penglihatan yang diderita oleh sang ayah, meninggalkan kota Qom dan kembali ke Masyhad agar bisa membantu ayahnya dan kembali mengikuti pelajaran Ayatullah Milani sampai tahun 1970.

Mengajar

Semenjak pertama tinggal di kota Masyhad, ia sudah mulai sibuk mengajar tingkatan tinggi (sutuhe ‘ali) fiqih dan ushul fiqih (kitab Rasail, Makasib dan Kifayah) dan mengadakan kajian-kajian tafsir untuk masyarakat umum. Pada tahun 1968. ia mulai mengajar pelajaran khusus tafsir bagi para pelajar (thalabah) ilmu-ilmu agama. Pelajaran tafsir ini berlanjut sampai tahun 1977 sebelum akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke kota Iranshahr.[17]

Kajian-kajian tafsirnya kembali berjalan di masa-masa menjabat presiden dan terus berlanjut terus pasca jabatan kepresidenan. Setelah menduduki jabatan Pemimpin Tertinggi Islam (Rahbar) pun, mulai tahun 1990 ia mulai mengajar Bahstul Kharij fiqih sampai sekarang dan telah memasuki bab-bab jihad, qishosh makasib muharromah.

Guru-guru

  • Sayid Jalil Huseini Sistani, kitab Ma'alim al-Ushul.
  • Sayid Jawad Khamenei , kitab-kitab; Syarh Lum'ah, Rasail, Makasib dan Kifayah.
  • Mirza Muhammad Mudarris Yazd, kitab Syarh Lum'ah.
  • Ayatullah Hajj Syekh Hasyim Qazwini, kitab-kitab; Rasail, Makasib dan Kifayah.
  • Ayatullah Sayid Muhammad Hadi Milani.
  • Ayatullah Hajj Aqha Husein Burujerdi.
  • Imam Khumeini ra.
  • Ayatullah Hajj Syekh Murtadha Hairi Yazdi.
  • Ayatullah Sayid Muhammad Muhaqqiq Damad.
  • Allamah Thabathabai.
  • Ayatullah Husein Ali Muntadzeri. [18]

Karya Ilmiyah

Ayatullah Khamenei memulai kajian dan menyusun karya ilmiyah sejak masa-masa menjadi pelajar agama (thalabah) dan menulis penjelasan (taqriraat) pelajaran-pelajaran para gurunya. [19] Pemikirannya dikumpulkan dalam sebuah karya yang rinci dan luas dengan nama Hadis Wilayah. Beberapa buku juga sudah diterbitkan dalam bentuk tematis dari ceramah-ceramah dan pesan-pesan tertulis darinya. Selain itu, ada beberapa karyanya yang sudah diterbitkan yang mencakup tulisan dan terjemahan.

Karya Tulis

  1. Empat Buku Utama Ilmu Rijal (Chahar Kitab Asli Ilmu Rijal)
  2. Sistem Pemikiran Universal (Tarh-e Kulli Andisheh Islami dar Quran)
  3. Pemimpin Sejati (Pishwa-e Sadeq)
  4. Dari Kedalaman Salat (Az Zerafat-e Namaz)
  5. Kesabaran (Sabr)
  6. Ruh Tauhid meniadakan pengabdian Selain Allah (Ruh Tauhid Nafiy Ubudiyat Ghair Khudَ)
  7. Laporan dari Latar Belakang Sejarah dan Situasi kekinian Hauzah Ilmiyah masyhad (Guzaresh az Sabeqeh Tarekh wa Auzho Kununi Hauzeh Ilmiyah Masyhad)

Terjemahan

  1. Masa Depan dalam Ruang Lingkup Islam (Ayandeh dar Qalamru Islami), karya Sayid Qutub.
  2. Perdamaian Imam Hasan As, paling tingginya kelembutan pahlawan sejarah(Shulh Imam Hasan As: Por Shukuhtarin Narmesh Qahremananeh Tarikh), karya Syekh Razi Aali Yasin.
  3. Terjemahan Tafsir Fi Zhilali al-Quran (Tafsir fii Zilalil Quran), karya Sayid Qutub.
  4. Kaum Muslimin dalam Kebangkitan Pembebasan India (Musalmanan dar Nehzat-e Azadi Hindustan), karya Abdul Mun'im Al-Namar.
  5. Dakwaan Terhadap Peradaban Barat (Eddea Nameh Alaihi Tamaddun Garb)

Aktifitas Sosial Politik

Titik awal masuknya Rahbar pada aktifitas politik dan perlawanan terhadap sistem kerajaan Pahlevi adalah pertemuan beliau dengan Sayid Mujtaba Nawwab (Mirluhi) di kota Masyhad pada bulan Februari 1963 (Bahman 1341). Juga tahun 1964 yang ketika itu dia bertugas sebagai penyambung pesan Imam Khomeini kepada Ayatullah Milani. [20]

Beliau banyak melakukan ceramah anti keputusan-keputusan pemerintah zaman itu [21] ketika beliau berkunjung ke kota Birjan. Oleh karena itulah pada tanggal 2 Juni 1962 (12 Khurdad 1342 S) atau bertepatan pada tanggal 7 Muharram tahun 1383 H beliau ditangkap dan dipenjara di salah satu penjara Masyhad. [22] Ketika dia sudah bebas dari penjara, Ayatullah Muhammad Hadi Milani pun datang untuk mengunjunginya. [23] Dia adalah salah seorang diantara para rohaniawan yang pada tanggal 2 Januari 1964 (12 Dey 1342 S) mengirim telegram kepada Ayatullah Sayid Mahmud Thaliqani, Mahdi Bazarghan dan Yadullah Sahabi yang dipenjarakan karena pembelaan mereka terhadap Imam Khomeini. [24]

Pada masa itu juga, berkat pengarahan darinya, para pelajar kota Khurasan yang belajar di hauzah ilmiyah Qom menulis dan menyebarkan surat kepada Hasan Ali Mansur sebagai sebuah protes atas berlanjutnya tekanan terhadap Imam Khomeini. Di antara para pelajar tersebut adalah Rahbar, Abul Qasim Khuz Ali dan Muhammad Ebai Khurasani. [25]

Ayatullah Khamenei pada bulan Februari 1964 (Bahman 1342 S) bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 1380 H berangkat ke kota Zahedan untuk melakukan tabligh dan penjelasan seputar masalah-masalah kebangkitan Islam. [26] Karena ceramah-ceramahnya di masjid-masjid kota Zahedan, iapun ditangkap dan dipindahkan ke penjara Qazl Qel'eh. [27] Pada tanggal 4 Maret 1964 (14 Esfand 1342 S) ia keluar dari penjara [28] dan pada musim gugur tahun 1965 ia pulang dari kota Qom ke Masyhad. [29]

Ayatullah Khamenei adalah salah seorang dari anggota “Kelompok Dua Belas” bersama tokoh-tokoh seperti; Abdurrahim Rabbani Syirazi, Muhammad Huseini Beheshti, Ali Faiz Mishkini, Ahmad Azari Qummi, Ali Qudusi, Akbar Hashemi Rafsanjani, Sayid Muhammad Khamenei dan Muhammad Taqi Misbah Yazdi, [30] dimana kelompok ini dibentuk dalam rangka memperkuat pembenahan hauzah ilmiyah Qom dalam rangka perlawanan terhadap rezim Pahlevi.

Untuk beberapa waktu dia juga menjabat sebagai imam jamaah di masjid Amirul Mukminin kota Teheran. Ketika terjadi penangkapan dan pengasingan terhadap Ayatullah Sayid Hasan Qummi pada bulan April 1967 (Farwardin 1346) disebabkan ceramah anti rezim pemerintah yang disampaikannya di Masjid Gouharshad, Ayatullah Khamenei pun meminta kepada Ayatullah Milani untuk melakukan protes. [31]

Pada tanggal 3 April 1967 (14 Farwardin 1346 S) dalam upacara pengusungan jenazah Ayatullah Syekh Mujtaba Qazwini, ia kembali ditangkap [32] dan pada tanggal 17 Juli (26 Tir) pada tahun yang sama dia dibebaskan. [33] Dalam beberapa kesempatan, ia juga pergi mengunjungi para tahanan politik di kota Teheran. [34]

Ketika terjadi gempa bumi dan kehancuran di timur kota Khurasan pada tanggal 31 Agustus 1978 (9 Shahriwar 1357 S), para rohaniawan kota Khurasan di bawah pimpinan Ayatullah Khamenei pergi ke kota Firdaus dalam rangka memberikan bantuan dan renovasi korban gempa bumi. Kesempatan ini ia gunakan untuk melakukan aktifitas politiknya dalam majelis-majelis dan mimbar-mimbar serta dalam acara-acara keagamaan. Aktifitas inilah yang mengakibatkan ia diberhentikan dari aktifitas ini dan keluar dari kota Firdaus. [35]

Walaupun dengan berbagai macam tekanan, ia selalu melakukan korespondensi dengan sebagian rohaniawan pejuang seperti Sayid Mahmud Thaliqani, Sayid Muhammad Reza Saidi, Muhammad Jawad Bahonar, Muhammad reza Mahdawi Kani, Murtadha Muthahari, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Fadhlullah Mahallati di kota Masyhad dan Teheran dan sering menghadiri banyak pertemuan para ulama dan rohaniawan pejuang Teheran ketika dia tinggal di kota Masyhad. [36]

Pada tahun 1969 (1348 S) ia diundang ke kota Teheran dalam rangka menjelaskan kajian-kajian yang berpengaruh dalam perjalanan-perjuangan dengan mengkritisi ceramah-ceramah sebagian aktifis politik Islam di kota Teheran seperti di Huseiniyah Irsyad dan masjid Al-Jawad Teheran. [37]

Dengan wafatnya Ayatullah Sayid Muhsin Hakim pada bulan Khurdad tahun 1970 (1349 S), Ayatullah Khamenei melakukan usaha lebih untuk memperkuat ke-Marja'-an Imam Khomeini sebagai Marja' Taqlid A'lam (yang paling alim). Pada tanggal 24 September 1970 (2 Mehr 1349 S) ia ditangkap dan dikurung di penjara Laskar Khurasan. [38] Pada bulan Murdad tahun 1971 (1350 S) ia dipanggil oleh Savak (Lembaga Intelejen Pemerintah Iran Rezim Syah) Masyhad dan untuk beberapa waktu ditahan di penjara Laskar Khurasan sehingga ia tidak bisa aktif dalam acara ulang tahun ke dua ribu lima ratus. Acara pesta ke dua ribu lima ratus ini telah diharamkan oleh Imam Khomeini ra. [39] Setelah bebas dari tahanan, di tahun itu juga ia ditahan sebanyak dua kali, dimana pada penahanan yang kedua ia dituduh melakukan aktifitas subversif dalam negeri dan divonis tiga bulan penjara. [40]

Setelah bebas dari tahanan ia mulai memperluas aktifitas-aktifitas politik dan sosialnya serta melanjutkan kegiatan mengajar dan kajian tafsir beliau di Madrasah Mirza Ja'far, Masjid Imam Hasan As, Masjid Qiblat dan juga di rumahnya.

Pada tahun 1973 dia memindahkan tempat salat berjamaah dan pengajaran tafsirnya ke Masjid Karamat. [41] Akan tetapi setelah beberapa waktu menteri keamanan waktu itu melakukan pelarangan mengadakan salat berjamaah di masjid tersebut. [42]

Di tahun 1974, ia menyampaikan ceramahnya di Masjid Jawid Teheran berkat undangan dari Ayatullah Muhammad Mufattih. Pada tahun 1973, ia ditahan dan kali ini ditahan di penjara Komite Bersama Anti Kerusakan di Teheran. [43] Di tahanan ini, ia tidak mendapatkan izin untuk bertemu seorang pun dan mereka tidak memberikan berita kepada keluarganya mengenai kondisi dan tempat penahanan. [44]

Rahbar pada tanggal 24 Agustus 1975 (2 Shahriwar 1354 S) bebas dari tahanan akan tetapi masih tetap dalam pengawasan petugas keamanan dan dilarang untuk melakukan salat berjamaah, ceramah, mengajar dan kajian-kajian tafsirnya, bahkan di rumahnya sendiri.[45] Akan tetapi ia tetap melakukan kajian tafsir dan kegiatan-kegiatannya dengan cara sembunyi-sembunyi. [46]

Ketika Dr. Ali Syariati wafat pada tanggal 18 Juni 1977 (29 Khurdad 1356) Ayatullah Khamenei ikut hadir dalam acara memperingati wafatnya[47] dan juga mengadakan acara untuk wafatnya Ayatullah Sayid Mushtafa putra Imam Khomeini bersama para aktifis lain pada tanggal 27 Oktober (6 Aban) yang diselenggarakan di Masjid Mulla Hasyim. [48]

Ia divonis oleh komisi keamanan masyarakat kota Khurasan untuk diasingkan ke kota Iranshahr selama tiga tahun [49] dimana petugas keamanan pada tanggal 13 Desember 1977 (23 Azar 1356) S.(1976) menggeledah rumahnya dan menangkap serta memindahkannya ke kota Iranshahr.

Setelah Kemenangan Revolusi Islam Iran

Keanggotaan di Dewan Syuro Revolusi

Setelah Imam Khomeini pergi ke Perancis, atas usulan Sayid Ali terbentuklah Syura-e Inqilab (Dewan Revolusi) pada awal-awal bulan November 1978 (Aban 1357 S) dan anggotanya secara bertahap dipilih oleh Imam Khomeini. [50] Anggota-anggota pertama dari lembaga ini adalah Murtadha Muthahari, Sayid Muhammad Husein Beheshti, Sayid Abdul Karim Musawi Ardabili, Muhammad Reza Mahdawi Kani, Sayid Ali Khamenei, Muhammad Jawad Bahonar dan Akbar Hasyemi Rafsanjani. Ayatullah Khamenei di akhir-akhir bulan Dey (Januari 1978) hadir di pertemuan-pertemuan tersebut. [51] Lembaga tersebut dimasa-masa itu memiliki peran mengambil keputusan-keputusan penting berkenaan dengan perlawanan terhadap rezim syah, diantaranya: mengadakan pembicaraan dengan para pejabat pemerintahan Pahlevi serta para pejabat luar negeri, membentuk komite penyambutan Imam Khomeini[52] dan memperkenalkan Mahdi Bazarghan sebagai pemimpin pemerintahan sementara kepada Imam Khomeini. [53]

Sementara tanggung jawab yang diemban oleh lembaga ini setelah terjadi revolusi antara lain adalah: Merumuskan undang-undang dimasa absennya lembaga legistatif, melaksanakan sebagian dari tugas lembaga eksekutif setelah terbentuknya pemerintahan sementara dan Syura-e Inqilab ini pada bulan November 1979 (Tir 1358) melaksanakan seluruh tugas eksekutif setelah pengunduran diri sementara pada tanggal 5 November 1979 (14 Aban 1358 S). [54] Ayatullah Khamenei menjadi anggota tetap sampai akhir masa aktifitas lembaga ini pada tanggal 20 Juli 1980 (29 Tir 1359 S). [55]

Ia berpendapat bahwa lembaga Syura-e Inqilab harus terdiri dari perwakilan seluruh lapisan masyarakat. [56]

Masalah-masalah berkenaan dengan Kurdi, Sistan Balucistan dan daerah-daerah lain di negara Iran serta pentingnya menjaga kesatuan, merupakan tugas-tugas penting lain yang harus jadi prioritas dalam lembaga Syura-e Inqilab. [57]

Hadir di Lembaga-lembaga Pertahanan dan Militer

Di akhir bulan Juli 1979 (Tir 1358 S), Ayatullah Khamenei terpilih sebagai wakil urusan-urusan revolusi menteri pertahanan juga sebagai anggota di komisi para menteri keamanan yang bertugas sebagai penanggung jawab seluruh urusan-urusan militer, kepolisian dan keamanan. [58] Tugas-tugas lain yang beliau emban dari pihak Syura-e Inqilab adalah bertanggung jawab pusat dokumentasi dan ketua Militer Sepah Pasdaran revolusi Islam pada tanggal 24 November 1979 (3 Azar 1358 S). [59] Pada tanggal 24 Februari (5 Isfand) beliau mengundurkan diri dari ketua Militer Sepah Pasdaran karena dia mencalonkan diri dalam pemilu tahap pertama Majelis Syura Islami (DPR Iran). [60]

Pembetukan Partai Jumhuri Islami

Mulai dari masa-masa menjelang kemenangan revolusi Islam dan sampai setelahnya, [61] Ayatullah Khamenei banyak melakukan aktifitas pembentukan komunitas revolusi bersama Sayid Muhammad Huseini Beheshti, Akbar Hashemi Rafsanjani, Sayid Abdul Karim Musawi Ardebili dan Muhammad Jawad Bahonar. [62] Komunitas ini dinamakan dengan partai Jumhuri Islami yang secara resmi dideklarasikan pada tanggal 18 Februari 1979 (29 Bahman 1357 S). Adapun latar belakang pembentukannya dimulai dari pertemuan-pertemuan di Masyhad pada musim panas 1978 (1356 S). [63]

Ia termasuk orang yang merumuskan anggaran dasar partai dan dalam pembagian devisi, ia bertanggung jawab dalam bidang dakwah partai. [64] Ayatullah Khamenei menduduki anggota dewan pendiri dan anggota dewan syuro pusat partai, secara keseluruhan di masa-masa pendirian partai, ia banyak berperan sebagai pemberi arahan dan menjelaskan posisi partai dalam bentuk lisan ke seluruh hauzah. Ia juga berperan dalam pembentukan cabang partai di kota Masyhad dan meresmikan kantor cabang tersebut pada tanggal 17 Maret 1979 (26 Isfand 1357 S).

Pada bulan Syahriwar tahun 1982 (1360 S), Ayatullah Khamenei terpilih sebagai sekjen partai Syura-e Inqilab periode ketiga setelah Ayatullah Behesyti dan Muhammad Jawad Bahonar. [65] Pada bulan Urdibehesh tahun 1984 (1362 S) dalam kongres pertama partai, dia untuk kedua kalinya terpilih sebagai sekjen partai dan juga terpilih sebagai anggota dewan syuro pusat [66] dan sebagai anggota dewan syuro pengadilan partai. [67]

Selama menjabat sebagai presiden beliau selalu mengikuti pertemuan-pertemuan partai Syura-e Inqilab baik di pusat maupun di daerah dan dalam rangka menjelaskan tugas-tugas dan tujuan partai, beliau selalu memberikan jawaban terhadap pertanyan-pertanyaan dari para anggota dan kader partai baik yang ada di pusat maupun di daerah. [68]

Menjadi Imam Jumat Teheran

Pada tanggal 14 Januari 1980 (24 Dei 1358 S), Imam Khomeini mengangkat Ayatullah Khamenei sebagai Imam Jumat kota Teheran dengan melihat trend positifnya di masa lalunya dan juga karena kelayakan baik dalam ilmu maupun dalam amal. [69] Ia mengawali tugasnya sebagai imam salat Jumat pada tanggal 18 Januari 1980 (28 Dey 1358 S). [70]

Salah satu teroboosannya di masa itu adalah mengajukan usulan untuk diselenggarakannya seminar para imam Jumat dengan tujuan agar terwujudnya keserasian di antara para imam Jumat baik di dalam negeri maupun di dunia Islam. Dan setelah mendapat kesepakatan Imam Khomeini, diadakanlah seminar pertama yang diselenggarakan di Madrasah Faidhiyah kota Qom. [71]

Perhatian kepada khotbah dengan menggunakan bahasa Arab pada khotbah kedua merupakan tiplogi khotbah beliau.

Perwakilan Majelis Syura-e Islami

Ayatullah Khamenei terpilih sebagai anggota majlis dalam pemilu pertama periode legislatif Majlis Syuro-e Islami (DPR Iran) pada bulan Februari 1980 (Isfand 1358 S) dengan dukungan Jamaah Ruhaniyun-e Mubarez Teheran, Partai Jumhuri Islami dan beberapa lembaga dan kelompok Islam lainnya. [72] Di majlis ia menduduki anggota dan ketua komisi pertahanan.

Dengan terpilihnya sebagai presiden pada bulan September 1981 (Mehr 1360 S), iapun mengundurkan diri menjadi legislatif.

Terluka Disebabkan Teror

Ayatullah Khamenei mengalami luka pada tanggal 26 Junni 1981 (6 Tir 1360 S) ketika sedang berceramah setelah melakukan shalat Dhuhur di Masjid Abu Dzar yang terletak di salah satu kawasan selatan kota Teheran, disebabkan bom yang dipasang di tape recorder. [73] Disebabkan teror ini dia mengalami luka serius di bagian dada dan tangan kanan serta luka itupun meninggalkan cacat pada dirinya sehingga tangan kanan beliau tidak lagi berfungsi dengan baik. Berdasarkan sebuah laporan, kelompok Mujahidin Khalq bertanggung jawab atas kejadian ini. [74]

Imam Khomeini dalam pesannya yang disampaikan kepada Ayatullah Khamenei, mengutuk teror ini dan memujinya. [75] Pada tanggal 18 Murdad tahun 1360 S. dia keluar dari rumah sakit dan kembali ke ranah sosial politik dan mulai tanggal 8 Agustus 1981 (26 Murdad 1360 S) hadir di pertemuan-pertemuan Majlis Syura-e Islami. [76]

Periode Kepresidenan Republik Islam Iran

Periode Pertama

Setelah Muhammad Ali Rajai (Presiden Kedua Republik Islam Iran) gugur sebagai syahid, DPR Iran, Partai Jumhuri Islami dan juga Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom (Dewan Guru Besar Hauzah) memilih Ayatullah Khamenei sebagai calon presiden. Imam Khomeini kala itu tidak menyetujui jika kedudukan presiden dipegang oleh kalangan ulama. Dengan dicalonkannya Ayatullah Khamenei, diapun berubah pikiran dan menyetujui pencalonan Ayatullah Khamenei . [77] Pemilu yang diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober 1981 (10 Mehr 1360 S) memilih Ayatullah Khamenei sebagai Presiden Republik Islam Iran dengan meraih suara mutlak (95%).[78] Pada tanggal 7 Oktober 1981 (17 Mehr 1360 S) Imam Khomeini melantik Ayatullah Khamenei sebagai presiden [79] dan tanggal 11 Oktober (21 Mehr) ia diambil sumpah sebagai Presiden Ketiga Republik Islam Iran di majlis Syura-e Islami (DPR Iran). [80]

Periode Kedua

Pada periode keempat pemilu Presiden Republik Islam Iran pada tanggal 16 Agustus 1983 (25 Murdad 1362 S). Ayatullah Khamenei kembali terpilih dengan perolehan suara sebanyak dua belas juta dua ratus lima ribu dua belas (12.205.012) suara atau 85 % dari keseluruhan pemilik hak suara yang totalnya berjumlah empat belas juta dua ratus tiga puluh delapan ribu lima ratus delapah puluh tujuh (14.238.587). Pada bulan Juni 1989 (Khurdad 1368 S) diapun terpilih sebagai Rahbar Republik Islam Iran dan sampai bulan Agustus 1989 (Murdad 1368 S) ia merangkap dua jabatan tersebut.

Pada masa itu Imam Khomeini menyepakati terbentuknya ''Majma' Tasykhish Mashlahat Nizham'' (Dewan Penentu Kebijakan Negara) dalam rangka menyelesaikan perbedaan-perbedaan antara Dewan Syuro Islami dan Dewan Garda dalam pengesahan berbagai butir-butir keputusan. [81] Ayatullah Khamenei merupakan orang pertama[82] yang menjabat ketua dari lembaga tersebut dan jabatan ini ia emban sampai berakhirnya masa jabatannya sebagai presiden. [83]

Lawatan ke Luar Negeri

Di periode pertama menjadi presiden mulai tanggal 6-11 September 1984 (15-20 Syahriwar 1363 S), ia mengadakan lawatan ke negara-negara, seperti: Suriah, Libya dan Aljazair, sementara pada periode kedua mulai tanggal 13-23 Januari 1986 (23 Dey-3 Bahman 1364 S) ia mengadakan kunjungan ke negara-negara Asia dan Afrika seperti Pakistan, Tanzania, Zimbabwe, Anggola dan Mozambik. Dalam kunjungan-kunjungan ini ia banyak menyampaikan pidato di berbagai pertemuan dan banyak melakukan dialog dengan para pemimpin negara Non Blok. [84] Dari tanggal 21-25 Februari 1990 (2-6 Isfand 1368 S aia juga mengadakan lawatan ke negara Yugoslavia dan Rumania [85] dan dari tanggal 8-15 Mei 1989 (19-26 Urdibehesht 1368 S) ia mengadakan kunjungan ke Cina dan Korea Utara. [86]

Ayatullah Khamenei pada tanggal 22 September 1987 (31 Shahriwar 1366 S) ikut hadir di pertemuan ke-40 PBB dan dalam pidatonya ia menyampaikan pandangan-pandangan dan posisi Republik Islam Iran di depan para pemimpin negara. Ini merupakan kehadiran pertama Presiden Republik Islam Iran di PBB. [87]

Pembelaan atas Para Pejuang Muslim

Di antara langkah-langkah yang dilakukan oleh Ayutullah Khamenei dalam bidang politik luar negeri adalah beliau mampu membangun hubungan yang konsisten dengan kelompok-kelompok politik Syiah yang ada di Afganistan, Irak dan Lebanon serta menciptakan kesepahaman di antara mereka. Wujud kongkrit dari kesepahaman ini adalah dengan terbentuknya Partai Wahdat Islami dari delapan partai yang ada di Afganistan dan Majlis Tinggi Revolusi Islam Irak.

Pada periode ini, dukungan Iran terhadap para pejuang Islam yang ada di Lebanon, Palestina, Irak dan Afganistan semakin bertambah dan pembelaan Iran terhadap partai-partai serta kelompok-kelompok Islam di negara-negara tersebut, di kawasan serta di dunia semakin meningkat.

Periode Kepemimpinan Republik Islam Iran

Ketika Imam Khomeini ra wafat pada tanggal 3 Juni 1989 (14 Khurdad 1368 S) Dewan Ahli sore hari itu juga mengadakan pertemuan. Setelah mengadakan diskusi tentang kedudukan pemimpin, apakah akan di pegang oleh dewan syuro (presidium) ataukah individu, dan setelah munculnya nama Ayatullah Khamenei sebagai bakal calon, sebagian anggota mendapat informasi tentang dukungan Imam Khomeini terhadap Ayatullah Khamenei disebabkan kelayakannya untuk dapat mengemban kedudukan ini. Dari hasil pemilihan, Ayatullah Khamenei terpilih sebagai pemegang kedudukan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran dengan suara mayoritas. [88]

Setelah kajian evaluasi ulang undang-undang dasar dan referendum, Dewan Ahli berdasarkan undang-undang dasar baru, kembali mengadakan pemilihan baru dan beliau kembali terpilih dengan suara mayoritas.

Telah dinukil tentang Sayid Ahmad Khomeini yang merupakan putra serta orang yang paling dekat dengan Imam Khomeini, beliau pernah berkata: "Sebenarnya dia (Ayatullah Khamenei) memiliki kelayakan untuk menduduki jabatan pemimpin. [89] Zahra Mustafawi yang merupakan putri dari Imam Khomeini juga menyatakan bahwa Imam Khomeini pernah menyebut nama Ayatullah Khamenei untuk menjadi Rahbar dan juga menyetujui ijtihadnya. [90]

Akbar Hashemi Rafsanjani yang merupakan salah satu tokoh yang memiliki keputusan penting di Republik Islam Iran, telah menyatakan bahwa Imam Khomeini telah menyebut nama Ayatullah Khamenei untuk menduduki posisi Rahbari. Dia juga pernah menyatakan bahwa Imam Khomeini dalam sebuah pertemuan yang khusus membahas kedudukan pemimpin yang akan datang, telah memberikan isyarat kepada Ayatullah Khamenei dengan mengatakan: “Kalian tidak akan mengalami kebuntuan, karena ada seseorang yang memiliki kapasitas yang demikian layak di antara kalian”. [91]

Setelah pemilihan ini, para pejabat tinggi Republik Islam Iran, keluarga Imam Khomeini, para marja' Taklid, para ulama, para cendikiawan, tokoh-tokoh hauzah dan universitas, keluarga para syahid dan seluruh lapisan masyarakat menerima hasil pemilu ini dan melakukan baiat kepada pemimpin (rahbar). Lembaga-lembaga penting negara menyatakan dukungannya kepada Ayatullah Khamenei, dengan terpilihnya dia sebagai rahbar dan mengumumkan kesiapan mereka untuk taat kepadanya. [92] Haji Sayid Ahmad Khomeini, beberapa saat setelah terpilihnya Ayatullah Khamenei sebagai rahbar, beliau mengirim ucapan selamat atas terpilihnya Ayatullah Khamenei dan meyakini bahwa seluruh perintah dari wali faqih adalah wajib ditaati. [93]

Baiat masyarakat secara langsung, mengikuti konvoi bersama, menerbitkan pengumuman dan ucapan selamat, mengumpulkan tanda tangan untuk dukungan kepadanya, merupakan hal- hal yang dilakukan oleh masyarakat setelah terpilihnya Ayatullah Khamenei. [94] Konvoi-konvoi kesetiaan terhadap Imam Khomeini dan baiat kepada Rahbar dilakuan berbarengan dengan empat puluh hari wafatnya Imam Khomeini di seluruh negeri. Selain itu diadakan pula [95] “manuver-manuver baiat dengan rahbar” di sebagian lokasi perbatasan dan strategis dari negara [96] dan juga diselenggarakannya “seminar-seminar perjanjian dengan Imam Khomeini dan baiat kepada rahbar”. [97]

Marjaiyah

Pada tahun 1373 S/ 1993 M setelah wafatnya Ayatullah Muhammad Ali Araki, Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum dan Jamiah Ruhaniat Mubarez Teheran memperkenalkan Ayatullah Khamenei sebagai salah seorang yang memiliki kelayakan untuk diikuti (marja'). Dalam sebuah ceramahnya, Ayatullah Khamenei dengan berpegangan pada ketidakbutuhan negara Iran atas kemarja'annya, dia mengumumkan bahwa permohonan kaum Syiah di luar negeri juga harus diterima, dia juga menekankan bahwa di masa yang akan datang jika ada seseorang yang bisa mengemban tugas ini, beliau akan siap mengundurkan diri. [98]

Kumpulan pertama dari fatwanya yang telah diterbitkan adalah sebuah buku yang bernama “Ajwibah Al-Istifta'at” yang mencakup jawaban-jawaban dia atas fatwa-fatwanya untuk kaum Syiah.

Pandangan-pandangan

Persatuan Islam

Ayatullah Khamenei memiliki pemikiran taqribi yaitu sebuah pemikiran yang dapat mendekatan antar madzhab dan kelompok. Beliau berkeyakinan bahwa jalan kemenangan kaum muslimin adalah persatuan diantara mereka, sementara kehancuran terletak kepada perpecahan. Dalam rangka mewujudkan hal ini diapun membentuk sebuah komunitas yang dinamakan dengan Majma' Jahani Taqrib Baina Madzahib Islami (Forum Internasional Persatuan antar Mazhab-mazhab Islam). Dalam masa jabatannya sebagai rahbar, ia banyak mengumpulkan para tokoh berpengaruh dunia dalam berbagai macam bentuk pertemuan.

Pada lawatannya di tahun 2009/ 1388 S ke Provinsi Kurdistan, dia juga menekankan tentang pendekatan antar mazhab-mazhab dan menyampaikan pidatonya di hadapan para penganut mazhab yang berbeda-beda, dalam pidatonya dia mengkritik orang-orang yang menentang persatuan.

Menentang Qame Zani dan Sebagian Bentuk Azadari

Pada bulan Mei 1994 (Khurdad 1373 S) dalam sebuah pidato di hadapan sekelompok dari para rohaniawan, Ayatullah Khamenei mengkritik dengan keras sebagian bentuk azadari (acara peringatan syahadah Imam Husain as.) terutama Qameh Zani (melukai diri dalam acara memperingati syahadah Imam Husain as) serta beliau menganggap bahwa hal itu termasuk perkara bid'ah. Pada tahun 1997/1376 S, ia juga dalam pidatonya di kota Masyhad memaparkan bahwa Qameh Zani merupakan hal yang dikembangkan oleh para pemerintahan komunis serta beliau menilai bahwa hal ini merupakan sebuah penyimpangan.

Istri Mendapatkan Seluruh Harta Warisan Suami

Pada bulan Juni 2007 (Tir 1386 S), Ayatullah Khamenei di hadapan sekelompok wanita menjelaskan pandangannya berkenaan dengan warisan seorang istri dari harta suami yang Ghairo Manqul (harta tak bergerak). Dalam masalah ini ia berkata bahwa menurut pendapatnya seorang istri mendapatkan warisan dari harta yang Ghairo Manqul. Pendapat ini berbeda dengan pendapat para fuqaha lain yang berpendapat bahwa seorang istri hanya mendapat harta warisan suami yang Manqul (harta bergerak).

Invasi Budaya

Pada awal-awal tahun tujuh puluhan (1370 S/1991) Ayatullah Khamenei dengan memperkenalkan istilah-istilah seperti perang budaya, [99] berusaha untuk menarik perhatian para pemikir dan cendekiawan di bidang budaya atas terjadinya perubahan-perubahan budaya di masyarakat. Dalam pandangannya, invasi budaya berbeda dengan pergantian budaya [100] dan dengan serangan secara sadar dari kaum imperialisme dalam rangka menghancurkan budaya negara lain dan menguasainya. [101]

Pengharaman Menghina Kesucian Ahlussunnah

Ayatullah Khamenei tidak memperbolehkan untuk melakukan penghinaan kepada hal-hal yang dianggap suci oleh selain Syiah. Ia juga dalam pidato-pidatonya tidak pernah menyerang hal-hal yang disucikan oleh madzhab yang lain. Pada tahun setelah menyebarnya ucapan Yasir Al-Habib yang menyerang Aisyah istri Nabi saw, Ayatullah Khamenei mengeluarkan fatwa haram menghina kepada hal-hal yang disucikan atau diagungkan oleh mazhab-mazhab yang lain termasuk menyerang (menghina) istri-istri Nabi saw. [102]

Kebangkitan Islam

Setelah terjadi gerakan-gerakan revolusi dan pemberontakan-pemberontakan terhadap beberapa pemerintahan arab dan di beberapa negara seperti Tunis, Mesir, Bahrain, Libya dan Yaman yang menyebabkan runtuhnya sebagian penguasa negara-negara tersebut, Ayatullah Khamenei menyebut gerakan ini dengan “Kebangkitan Islam.” [103] Dan dalam media-media Arab gerakan-gerakan ini dinamakan “Musim Semi Arab”.

Lembaga-lembaga yang Terbentuk

Dalam rangka meraih tujuan-tujuan agama dan juga pembenahan-pembenahan yang diharapkan dalam berbagai bidang baik pemikiran ataupun budaya, Ayatullah Khamenei membentuk beberapa komunitas atau lembaga. Lembaga-lembaga tersebut lebih banyak melakukan aktifitas dalam bidang budaya, diantara lembaga-lembaga tersebut adalah:

  1. Majma' Jahani Taqrib Baina Madzahib Islami (Forum Internasional Persatuan antar Madzhab-madzhab Islam)
  2. Majma' Jahani Ahlulbait As (Forum InternasionalAhlulbait As)
  3. Jami'ah Al-Mushtafa Al-‘Alamiyah (Lembaga Pendidikan al-Musthafa al-Alamiyah)
  4. Markaz Tahqiqaat Kamputeri ‘Ulume Islami (Pusat Penelitian Softwere Ilmu-ilmu Islam)
  5. Markaz Khadamaat Hauzeha-e Ilmiyah (Pusat Pelayanan Hauzah Ilmiyah)

Aktifitas-aktifitas Internasional

Pesan Untuk Dunia Arab

Pada tahun 2015 (1393 S) setelah terjadinya sebuah peristiwa teroris di Perancis oleh kelompok-kelompok Muslim, Ayatullah Khamenei menulis surat yang ditujukan kepada para pemuda Eropa dan Amerika. Dalam pesannya ini ia meminta kepada pada pemuda untuk mengenal Islam lewat literatur asli yaitu Al-Quran dan biografi Nabi Islam Muhammad saw. [104]

Pesan ini pun disebarkan dan dalam beberapa bahasa dan diunggah di berbagai macam media sosial dan sepertinya pesan seperti ini belum pernah dilakukan oleh ulama Syiah sebelumnya. [105]

Catatan Kaki

  1. Tadawum..., 21
  2. Syarif, jld 127, hlm. 7; Arsif Markaz Isnad, no 1225
  3. Behbud, hlm. 15.
  4. Zanganeh, jld 1, hlm. 15.
  5. Agha Buzurg, jld 2, hlm. 640.
  6. Gulshan Abrar, jld 2, hlm. 971.
  7. Kasrawi, hlm. 92.
  8. Behbudi, 12.
  9. Agha Buzurg, 6, Mukodimah, 13.
  10. Agha Buzurg, jld 2, hlm. 559.
  11. Tarikh Ulama..., hlm. 308; Qasem Pour, hlm. 60.
  12. Zanganeh, jld 1, hlm. 458.
  13. Hamudi, 49.
  14. Arsif Markaz Isnad, no 1226.
  15. Ibid, no 1226.
  16. Behbudi, 78.
  17. Khamenei.com.
  18. Ruznameh Jumhuri-e Islami, 29 Dei 1358.
  19. Arsip Markaz-e Isnad, no 1228.
  20. Arsif Markaz Isnad, no 1231.
  21. Behbudi, hlm. 129-134.
  22. Arsif Markaz Isnad, no 614, 1231-1232.
  23. Ibid, no 1233.
  24. Yaran-e Imam..., Thaliqoni, jld 1, hlm. 468.
  25. Imam ..., jld 4, hlm. 392.
  26. Behbudi, hlm. 162-166.
  27. Arsif Markaz Isnad, no 1234.
  28. Behbudi, 187.
  29. Ibid, hlm. 192-195.
  30. Hasyemi, Dauran..., jld 2, hlm. 1566.
  31. Yaran-e Imam, Milani, jld 3, hlm. 5-7.
  32. Arsif Markaz Isnad, no 614.
  33. Ibid, no 574.
  34. Bazargan, 422-423.
  35. Arsif Markas Isnad, no 614.
  36. Yaran Imam, Saidi, 248; Yaran Imam, Thaliqani, 2/497; Yaran Imam, Mahdawi, 14; Yaran Imam, Mahalati, 1/521; Yaran Imam, Bahonar, 355.
  37. Behbudi, 331-332, 470-471.
  38. Taqwim..., 225.
  39. Shahifeh, 358, 373-2.
  40. Arsif Markaz Isnad, no 614.
  41. Ibid, no 614.
  42. Yaran Imam, Muthahari, 455; Arsid Markaz Isnad, no 573.
  43. Arsif Markaz Isnad, no 527, 574, 614.
  44. Ibid, no 575.
  45. Ibid, no 304, 389, 575.
  46. Ibid, no 572, 576.
  47. Ibid, no 389, 572.
  48. Ibid, no 389, 572.
  49. Ibid, no 576.
  50. Shahifeh, jld 5, hlm. 426-428.
  51. Pa be Pae, 20192.
  52. Qasem Pour, 92-94.
  53. Hashemi, Inqilab wa..., 169.
  54. Saili, 11.
  55. Ibid, 49-62.
  56. Kholaseh, jalsah 10/12/1357.
  57. Kholaseh, jalseh 29/12/1357; 4/6/1358; 15/7/1358; 2/9/1358.
  58. Saeli, 117-118.
  59. Kholaseh, jalsah 3/9/1358.
  60. Hashemi, Inqilab wa..., 449.
  61. Ibid, 125.
  62. Ibid, 215-218.
  63. Jasebi, jld 4, hlm.149.
  64. Ibid, jld 4, hlm. 146.
  65. Hashemi, Ubur..., 263.
  66. Khateraat Sayid Murtadha, 168.
  67. Jasebi, jld 4, hlm.300.
  68. Jumhuri..., no 1541, hlm. 15, no 1543, hlm. 2.
  69. Sahifeh, jld 12, hlm. 116.
  70. Dar Maktab..., 1. 2-3.
  71. Farhang wa..., 311.
  72. Razawi, 384.
  73. Hashemi, Inqilab dar..., 176.
  74. Jur'eh niwish..., 217-218.
  75. Sahifeh, jld 14, hlm. 304.
  76. Mashruh, vol. 1, jalsah 199.
  77. Farsi, 543-544.
  78. Jumhuri, no 678, hlm.11.
  79. Sahifeh, jld 15, hlm. 278.
  80. Mashruh, vol. 1, jalsah 224.
  81. Sahifeh, jld 20, hlm. 463-465.
  82. Guftegu ba..., 52.
  83. Ibid, 68-69.
  84. Jumhuri, no 1921, hlm. 12.
  85. Ibid, no. 2826, hlm. 11.
  86. Ibid, no 2886, hlm.12; no 2889, hlm. 2.
  87. Ibid, no 2413, hlm. 10.
  88. Cegunegi..., 18; Hashemi, bazsazi..., 149-151.
  89. Jur'eh Niwish, 265.
  90. Jumhuri, no 5352, hlm. 2.
  91. Marja'iyat..., 70.
  92. Hadis, 1/JM.
  93. Jumhuri, no 2924, hlm. 3.
  94. Kayhan, no 13631.
  95. Jumhuri, no 2929.
  96. Ibid, no 2972.
  97. Ibid, no 2979.
  98. Pidato 23 Azar 1373.
  99. Pidato 22 Tir 1371.
  100. Dag dagehaye Farhangi, hlm. 114.
  101. Untuk pengetahuan lebih jauh tentang tema ini, silahkan rujuk; dag dagehaye Farhangi terbitan “Sabha”.
  102. Siasat Online; Situs Daftar Ayatullah Khamanei.
  103. Khutbah 15 Bahman 1389.
  104. Nameh Baraye To.
  105. Trending Topic di Media Sosial; CNN; BBC


Daftar Pustaka

  • Arsip Markaz Isnad Inqilab Islami.
  • Arsip Markaz Pezuhesh wa Isnad Riyasat Jumhuri, arsip-arsip periode kepresidenan Ayatullah Khamanei.
  • Arsip yayasan Pezuhesh – farhangi inqilabi Islami.
  • Asnai ba Majlis Syuro-e Islami. Atas usaha Humas Majlis Syuro Islami, Tehran, 1386 H.S.
  • Agha Buzurg, Tabaqaat ‘Alaam Al-Syiah, abad 14, Tehran, 1388 H.S.
  • Imam Khomeini dar Ayeneh Isnad be Riwayat-e Savak. Yayasan Tanzim wa Nasyr Atsar Imam Khumanei, Tehran, 1386 H.S.
  • Bazargan, Mahdi, Yaddast-haye Ruzaneh, Tehran, 1376 H.S.
  • Behbudi, Hidayatullah, Shahr Ism, Zendeghi Nameh Ayatullah Sayid Ali Khamanei (1318-1357), Tehran, 1391 H.S.
  • Tarikh Ulama Khurasan, Mirza Abdurrahman, Masyhad, 1341 H.S.
  • Tadawum Aftab, Wizeh Nameh Aghaz Bistumin Sal Rahbari Hazrate Ayatullah Khamanei, koran Jam-e Jam, Murdad 1387 H.S.
  • Jalali, Ghulam Reza, Masyahd dar Bamdad Nehzat Islami, Tehran, 1378 H.S.
  • Zanganeh Qasim Abad, Ibrahim, Mashaher Madfun dar Haram Razawi, Aliman Dini, Masyhad, bunyad Pezuhesh haye Istan Quds Razawi, masyhad, 1382 H.S.
  • Syarif Razi, Muhammad, Ganjineh Daneshmandan, Tehran, 1354 H.S.
  • Qasem Pour, Daud, Dahhe Sharnish saz. Markaz Isnad Inqilab Islami, Tehran.
  • Kesrawi, Ahmad, Qiyam Shekh Muhammad Khiyabani, Tehran, 1376 H.S.
  • Gulsane Abzar, Jam'i az Pezuheshgaran Hauzah Ilmiyah Qom, penerbit Ma'ruf, 1379 H.S.
  • Yaran-e Imam be Riwayat-e Isnad Savak, Tehran, Markaz Barresi Isnad Tarikhi wizarat Ittilaat, Tehran, 1376-1382 H.S.
  • Hashemi Rafsanjani, Akbar, Dauran-e Mubarezah, karya Muhammad Hashimi, penerbit Ma'arif Inqilab, Tehran, 1376 H.S.