Prioritas: c, Kualitas: b

Abdul Karim Hairi Yazdi

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Abdul Karim Hairi Yazdihttp://en.wikishia.net
شیخ عبدالکریم حائری 2.jpg
Informasi Pribadi
Terkenal dengan Ayatullah-e Muassis dan Haji Syaikh
Lakab Hairi
Lahir tahun 1276 H/1860
Tempat lahir Meibud (sebuah kota di provinsi Yazd Iran)
Tempat tinggal Yazd • KarbalaNajafSamara • Arak • Qom
Wafat/Syahadah Pada tanggal 17 Dzulkaidah 1355 H/1936
Tempat dimakamkan Qom
Informasi ilmiah
Guru-guru Fadhlullah Nuri • Sayid Muhammad Fisyarki • Mirza Muhammad Taqi Syirazi • Mirza Muhammad Hasan Syirazi • Akhund Khurasani • Mirza Mahdi Syirazi • Fadhl Ardakani • Sayid Muhammad Kazhim Thabathabai
Murid-murid Sayid Shadr al-Din Shadr • Mirza Hasyim Amili • Muhammad Ali Araki • Sayid Ahmad Husaini Zanjani • Sayid Ruhulullah Musawi Khomeini • Sayid Ahmad Khansari • Sayid Muhammad Taqi Khansari • Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafi
Karya-karya Durar al-FawaidKitab al-NikahKitab al-Ridha'Kitab al-MawaritsKitab al-Shalah
Kegiatan Sosial dan Politik
Politik Melakukan protes dan penolakan terhadap kasus pelarangan jilbab tahun 1314 HS
Sosial Mengelola Hauzah Ilmiah di Arak • Mendirikan Hauzah Ilmiah Qom • Mendirikan rumah sakit Sahamiah di Qom • Mendukung pembangunan rumah sakit Fatimih Qom

Abdul Karim Hairi Yazdi(bahasa Arab: الشيخ عبد الكريم الحائري اليزدي), dikenal dengan nama Ayatullah-e Muassis dan Haji Syaikh, salah seorang ulama marja taklid Syiah, mendirikan Hauzah Ilmiah Qom yang sekaligus berada di bawah kepemimpinannya dari tahun 1923 sampai 1937.

Dalam waktu yang lama, ia belajar di Hauzah Ilmiah Karbala, Samara dan Najaf. Pada tahun 1333 H/1914, ia kembali ke Iran dan mengawali perkhidmatannya dengan mengelola Hauzah Ilmiah di Arak. Atas ajakan ulama-ulam Qom, Ayatullah Hairi hijrah ke Qom dan mendirikan Hauzah Ilmiah Qom dan menjadi pimpinan hauzah sampai akhir hayatnya.

Dimasa kepemimpinannya, Ayatullah Hairi menjalankan program-program terorganisir untuk menjadikan hauzah mengalami kemajuan dan mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan. Seperti misalnya, ia melakukan perubahan metode pembelajaran di hauzah, melakukan klasifikasi dan pengkhususan bab-bab fikih, memperluas cakupan pengetahuan santri hauzah termasuk diwajibkan kepada para santri untuk mempelajari bahasa asing. Singkatnya, program-program Ayatullah Hairi adalah mencetak santri hauzah untuk menjadi peneliti (muhaqqiq) dan mujtahid.

Ayatullah Hairi sendiri menghindar untuk menjadi ulama marja. Setelah Sayid Muhammad Kazhim Yazdi (1337 H/1919) meninggal dunia, ulama-ulama Irak mengajaknya ke Irak dan menerima posisi marja taklid Syiah, namun ajakan itu ia tolak, dan menganggap kewajibannya adalah tetap menetap di Iran. Meski berada di Qom, reputasinya banyak dikenal dan banyak dari warga muslim Syiah Iran yang menjadikannya marja taklid termasuk umat Syiah dari negara-negara lain.

Berkenaan dengan isu-isu politik, Ayatullah Hairi enggan untuk berpartisipasi, bahkan dalam perselisihan mengenai revolusi konstitusional Iran ia tidak memberikan keberpihakan. Namun karena status sosialnya sebagai ulama marja, pada akhir-akhir hidupnya ia terpaksa memberikan perannya dalam urusan politik. Seperti misalnya pada kasus pelarangan jilbab tahun 1314 S, ia melakukan protes dan penolakan yang mengakibatkan terjadi ketegangan hubungan antara ia dengan Reza Syah sampai akhirnya hayatnya.

Beberapa muridnya, seperti Sayid Ruhullah Khomeini, Muhammad Ali Araki, Ghulpaighani, Sayid Kazhim Syari'atmadari dan Khansari pada tahun-tahun selanjutnya menjadi ulama marja taklid. Ayatullah Hairi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia selalu memikirkan dan berbuat untuk memberikan manfaat bagi pelayanan publik, seperti mendirikan rumah sakit Sahamiah di Qom dan mendukung pembangunan rumah sakit Fatimih Qom.

Biografi

Abdul Karim Hairi lahir ditengah-tengah keluarga yang religius di Meibad (sebuah kota di provinsi Yazd Iran) tepatnya disebuah desa yang bernama Mihrjird pada tahun 1276 H/1860. [1] Ayahnya bernama Muhammad Jakfar, seseorang yang dikenal sebagai muslim religius dan saleh. [2]

Hairi memiliki lima anak. Dua putra yang bernama Murtadha dan Mahdi dan tiga putri yang masing-masing menikah dengan Muhammad Tuisarkani, Ahmad Hamadani dan Sayid Muhammad Muhaqqiq Damad. [3]

Pada 17 Dzulkaidah 1355 H/1936, setelah kira-kira 15 tahun menetap di Qom, Ayatullah Hairi meninggal dunia. Meski mendapatkan pembatasan dari rezim, prosesi pemakaman Ayatullah Hairi tetap berlangsung dengan penyelenggaraan salat jenazah yang diimami oleh Ayatullah Sayid Shadiq Qummi. Ayatullah Hairi dimakamkan di sisi makam Sayidah Maksumah sa di Qom. [4]

Pendidikan

Di Iran

Suami bibinya, Mir Abu Jakfar menemukan Abdul Karim sangat berbakat dan membawanya ke kampung halamannya di Ardakan untuk disekolahkan di sekolah agama tradisional. Tidak lama, ayah Abdul Karim meninggal dunia, yang membuatnya untuk sementara waktu menetap bersama ibunya di Mihrjird. [5]

Setelah beberapa lama, ia berhijrah ke Yazd dan menuntut ilmu di Madrasah Muhammad Taqi Khan, yang dikenal dengan nama Madrasah Khan. Ia memulai pendidikan formal dengan mempelajari sastra (adabiat) Arab di bawah bimbingan sejumlah ulama seperti Sayid Husain Wamiq dan Sayid Yahya Buzurg yang dikenal sebagai Mujtahid Yazdi. [6]

Di Irak

Untuk melanjutkan pendidikannya, pada tahun 1298 H/1881 ia bersama ibunya pindah ke Irak. Awalnya ia ke Karbala dan menetap dua tahun di kota tersebut. Ia belajar fikih dan ushul di bawah bimbingan Fadhil Ardakani. [7] Kemudian, untuk lebih meningkatkan ilmunya, ia meninggalkan Karbala dan pindah ke Samara. Di Samara ia mendapatkan bimbingan dari Mirza Muhammad Hasan Syirazi. [8]

Masa pendidikan Hairi di Samara berlangsung selama 12 tahun dari tahun 1300 H/1883 sampai 1312 H/1895. Ia menghabiskan 2 sampai 3 tahun pertamanya untuk menyelesaikan studi fikih tingkat tinggi dan ushul di bawah bimbingan Syaikh Fadhlullah Nuri, Mirza Ibrahim Mahallati Syirazi dan Mirza Mahdi Syirazi. Setelah selesai, ia bergabung dalam kelas fikih dan ushul beberapa ulama terkemuka di masa itu, seperti Sayid Muhammad Fisyaraki Isfahani dan Mirza Muhammad Taqi Syirazi, serta dalam beberapa waktu hadir di kelas Mirza Muhammad Hasan Syirazi. [9] Setelah menempuh semua jenjang pendidikan tersebut, ia mendapatkan ijazah dari Mirza Husain Nuri. [10]

Sayid Muhammad Fisyaraki dan Abdul Karim Hairi setelah beberapa bulan pasca meninggalnya Mirza Buzurg (1312 H/1895) pindah ke kota Najaf. [11] Di kota Najaf, Ayatullah Hairi menghadiri kelas Fisyaraki dan Akhund Khurasani [12]. Dibulan-bulan terakhir usia Fisyaraki, Hairi merawat gurunya itu. [13]

Kembali ke Iran

Sepeninggal Ayatullah Fisyaraki pada tahun 1316 H/1898, Hairi kembali ke Iran dan menetap di Sultan Abad (sekarang Arak) untuk mengelola Hauzah dan memberikan pelajaran. [14]

Hijrah Keduakalinya ke Irak

Pada tahun 1324 H/1906, disebabkan tidak adanya kebebasan dalam menjalankan Hauzah Arak dan suasana politik yang tidak kondusif akibat perselisihan mengenai revolusi konstitusional Iran [15] Syaikh Abdul Karim Hairi meninggalkan Iran dan kembali ke Najaf. [16] Selama di Najaf, ia kembali aktif mengikuti pelajaran Akhund Khurasani dan juga ikut dalam kelas Sayid Muhammad Kazhim Thabathabai Yazdi. Namun tidak lama, ia pindah ke Karbala karena tidak ingin terlibat dan menjauhi perselisihan antara pendukung revolusi konstitusi Iran dengan oposisi. [17]

Hairi kemudian menetap di Karbala kurang lebih 8 tahun dan disaat itulah ia mendapat julukan Hairi yaitu orang-orang karbala yang tinggal di al-Hair al-Husaini. Untuk menjaga netralitasnya, Syaikh Abdul Karim Hairi mengajarkan kitab karya Akhund Khurasani (tokoh pendukung revolusi konstitusi Iran) dan kitab karya Sayid Muhammad Kazhim Yazdi (tokoh anti revolusi konstitusi Iran). [18]

Kembali Keduakalinya ke Iran

Sewaktu berada di Karbala, Ayatullah Hairi mendapatkan banyak permintaan untuk kembali ke Arak. Karena itu, pada tahun 1333 H/1915 [19] ia kembali ke Arak dan menghabiskan 8 tahun untuk mengajarkan fikih dan ushul disela-sela kesibukannya menjalankan hauzah.

Setelah Sayid Muhammad Kazhim Yazdi wafat (1337 H/1919), Syaikh Abdul Karim Hairi mendapatkan surat dari Mirza Muhammad Taqi Syirazi yang memintanya kembali ke Karbala dan mendapatkan posisi sebagai marja tertinggi. Namun ia menolak dan memberikan jawaban pada suratnya bahwa menetap di Iran adalah kewajibannya. Ia menunjukkan keprihatinan dan kekhawatirannya atas kondisi Iran yang mengalami degenarasi intelektual. [20]

Mendirikan Hauzah Ilmiah Qom

Pada tahun 1337 H/1919, dengan maksud menziarahi makam Imam Ridha as, Ayatullah Hairi melakukan perjalanan ke Masyhad dan dalam perjalanan ia singgah beberapa hari di kota Qom. Dipersinggahan tersebut, ia menjadi tahu mengenai kondisi Qom dan perkembangan hauzah ilmiah di kota tersebut. [21]

Pada bulan Rajab 1340 H/1922, atas ajakan beberapa ulama Qom dan juga hendak menziarahi makam Sayidah Maksumah sa, Ayatullah Hairi kembali ke Qom. Setibanya di Qom ia disambut ulama dan warga Qom. Mereka meminta agar Ayatullah Hairi menetap di kota tersebut. Awalnya, ia ragu, namun karena desakan sejumlah ulama diantaranya Muhammad Taqi Bafqi dan setelah melakukan istrikharah, ia pun memutuskan untuk menetap di Qom. Keputusan tersebut menjadi titik awal berdirinya Hauzah Ilmiah Qom, yang kemudian menjadi latar belakang ia dikenal dengan sebutan Ayatullah-e Muassis (Ayatullah pendiri). [22]

Disebabkan Ayatullah Sayid Muhammad Taqi Khansari bersama dengan Ayatullah Hairi berpindah ke Qom, banyak dari murid keduanya seperti Sayid Ahmad Khawansari, Sayid Ruhullah Khomaeni, Sayid Muhammad Reza Ghulpaighani dan Muhammad Ali Araki [23] juga pindah ke Qom.

Kehadiran Sayid Abu al-Hasan Isfahani dan Muhammad Husain Naini di Qom selama 8 bulan karenda dideportasi dari Irak pada tahun 1302 S, memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Hauzah Ilmiah Qom. [24]

Dengan popularitas Hauzah Ilmiah Qom yang semakin meningkat, banyak ulama dan santri dari berbagai hauzah mendatangi Qom sampai santri Hauzah Ilmiah Qom mencapai lebih dari seribu orang. [25]

Dengan pengenalannya terhadap hauzah-hauzah besar Syiah seperti di Samara, Najaf dan Karbala, serta pengetahuan dan pengalamannya dalam mengelola Hauzah sebagaimana yang pernah diterapkannya di Hauzah Arak, Ayatullah Hairi pun menjalankan program-program yang memberikan kemajuan pada pendidikan hauzah.

Melakukan perubahan besar dalam metode pembelajaan di hauzah, mengklasifikasi dan mengkhususkan bab-bab fikih, meningkatkan wawasan dan pengetahuan intelektual santri hauzah termasuk mewajibkan untuk mempelajari bahasa asing, yang intinya adalah untuk mencetak santri hauzah yang muhaqiq dan mujtahid, adalah diantara program-program yang dijalankan Ayatullah Hairi selama menjadi pemegang kebijakan di Hauzah Ilmiah Qom. [26]

Marjaiat

Bukan hanya menunjukkan ketidaktertarikan untuk menjadi marja, namun juga kenyataannya Ayatullah Hairi meninggalkan Irak memang karena menolak untuk menjadi marja taklid. Namun dikarenakan sepeninggal Ayatullah Sayid Muhammad Kazhim Yazdi, Syaikh al-Syari'ah Isfahani dan Mirza Muhammad Taqi Syirazi dalam rentang waktu 1337 HS-1339 HS sewaktu Ayatullah Hairi masih di Arak, banyak masyarakat yang merujuk dan menjadi muqallidnya.

Setelah pindah ke Qom, yang membuat ia semakin populer, jumlah muqallidnya meningkat pesat. Banyak dari masyarakat Iran maupun dari negara lain seperti Irak dan Libanon, yang memilihnya sebagai ulama marja taklid. [27]

Metode Pengajaran

Abdul Karim Hairi, menerapkan metode pengajaran di Hauzah Ilmiah Qom dengan menggunakan pengalaman yang didapat di Hauzah Samara serta terinspirasi dari Mirza Syirazi. Metode tersebut dimulai dari penjelasan masalah, dan setelah penjelasan, tanpa memberikan pandangan pribadi, Ayatullah Hairi terlebih dahulu menyampaikan pendapat-pendapat yang berbeda disertai dengan dalilnya masing-masing. Setelah itu ia meminta pendapat dari setiap murid dan mendiskusikan bersama pendapat-pendapat tersebut. Terkadang ia menyampaikan pendapatnya dan di akhir pelajaran mengizinkan muridnya untuk membahas pendapatnya itu, termasuk menanggapi dan memberikan sanggahan.

Demikian pula, Hairi setiap harinya menyampaikan tema-tema yang akan dibahas pada pelajaran selanjutnya, sehingga murid-muridnya mempersiapkan diri dengan mempelajarinya terlebih dahulu. Untuk pembahasan ushul fikih, menurutnya harus disampaikan dan dijelaskan secara singkat dan praktis. Metode itulah yang diterapkannya saat menulis kitab Durar al-Ushul. Ia juga berhasil mengajarkan pelajaran Ushul secara lengkap hanya dalam waktu 4 tahun. [28]

Para Guru

Syaikh Abdul Karim Hairi sepanjang usianya menimba ilmu dari ulama-ulama masyhur dimasanya. Diantara guru-gurunya adalah sebagai berikut:

  • Fadhlullah Nuri
  • Sayid Muhammad Fisyarki
  • Mirza Muhammad Taqi Syirazi
  • Mirza Muhammad Hasan Syirazi
  • Akhund Khurasani
  • Mirza Mahdi Syirazi
  • Fadhl Ardakani
  • Sayid Muhammad Kazhim Thabathabai [29]

Murid-Murid

Dari kelas pelajaran Ayatullah Hairi, diantara murid-muridnya ada yang menjadi ulama marja taklid dimasanya. Diantaranya muridnya yang dikenal adalah sebagai berikut:

  • Ali Akbar Kasyani
  • Mustafa Kasymiri
  • Ahmad Mazandarani
  • Sayid Shadr al-Din Shadr
  • Mirza Hasyim Amili
  • Muhammad Ali Araki
  • Sayid Ahmad Husaini Zanjani
  • Sayid Ruhulullah Musawi Khomeini
  • Sayid Ahmad Khansari
  • Sayid Muhammad Taqi Khansari
  • Sayid Muhammad Damad
  • Sayid Abul Hasan Rafi'i Qazvini
  • Sayid Kazhim Syari'atmadari
  • Sayid Kazhim Ghulpaighani
  • Sayid Muhammad Ridha Ghulpaighani
  • Mula Ali Ma'shumi Hamadani
  • Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafi [30]
  • Sayid Ridha Musawi Zanjani [31]
  • Muhammad Jawad Anshari Hamadani

Kehidupan Pribadi

Kepribadian dan Aktivitas Sosial

Syaikh Abdul Karim Hairi adalah seseorang yang berakhlak mulia, ramah, menyenangkan, adil dan menjauhi kesan pencitraan dan perbuatan-perbuatan riya. Ia sangat berhati-hati dalam menggunakan uang yang diserahkan kepadanya sebagai kewajiban syar'i (seperti khumus dan zakat) dan dalam kehidupannya ia menerapkah hidup yang sederhana dan zuhud. [32]

Ia memiliki perhatian dan kepedulian yang besar pada kondisi santri-santrinya termasuk ringan tangan memberikan bantuan dalam menyelesaikan masalah-masalah mereka. Terkadang, ia secara langsung mengunjungi santri-satri di asrama untuk mengetahui kemajuan mereka dalam pelajaran dan mendorong mereka untuk bersungguh-sunggguh dalam belajar. [33]

Selain itu, Hairi juga memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat dan berperan dalam menyelasaikan persoalan-persoalan kehidupan mereka. Diantara aktivitas sosialnya adalah mendirkan rumah sakit Sahamiyyah Qom dan mendukung pembangunan rumah sakit Fatimi di Qom untuk membantu pelayanan publik. [34]

Ia sangat mencintai Ahlulbait as dan telah terbiasa sejak muda di Samara melafalkan syair-syair dalam majelis-majelis duka Ahlulbait as. Ia menyelenggarakan majelis duka pada hari-hari peringatan kesyahidan Sayidah Fatimah sa (1-3 Jumadil Akhir) di Iran. Untuk mengganti ritual takziah dan Syabih Khani, ia menyelenggarakan majelis Raudhah Khani. Ia juga aktif dan bersungguh-sungguh menjauhkan masyarakat dari penukilan-penukilan riwayat yang tanpa sumber dalam majelis-majelis Ahlulbait dan acara-acara kemazhaban. [35]

Kehidupan Politik

Ada banyak bukti dalam kehidupan Ayatullah Hairi yang menunjukkan ketidak tertarikannya dalam dunia politik. Tampaknya pengunduran dirinya dari ikut campur dalam urusan politik, yang mengherankan bagi sejumlah orang bahkan menimbulkan reaksi keras, [36] muncul bukan hanya dari sudut pandang maslahat namun memang bagian dari kepribadiannya.

Ia tidak terlibat dalam urusan politik sebelum datang ke Qom. Misalnya, ada sejumlah ulama pada bulan Muharram 1330 H/1912 -yang bersamaan dengan kedatangan Hairi di Karbala- meninggalkan Najaf dan Karbala lalu ke Kazimain, menetap selama 3 bulan di kota tersebut untuk memprotes penjajah asing. Sumber sejarah menuliskan diantara ulama tersebut, adalah Mirza Muhammad Taqi Syirazi, Syaikh al-Syari'ah Isfahani, Ayatullah Naini, Sayid Abul Hasan Isfahani, dan Agha Dhiya Iraqi [37] sementara nama Syaikh Hairi tidak tercatat sama sekali. Karena itu, Hairi dikatakan sebagaimana gurunya Fisyaraki, bukan hanya diantara ulama yang tidak menunjukkan partisipasinya dalam urusan politik namun juga memang untuk menghindarkan diri dari kontroversi politik. [38]

Ia baru ikut campur dalam urusan politik di tahun-tahun akhir usianya karena kedudukan dan jabatan sosial yang diembannya. Tantangan terberat Hairi pada tahun-tahun tersebut adalah ketegangan hubungannya dengan rezim Reza Syah (pendiri dinasti Pahlevi). Sewaktu Reza Khan masih brigadir jenderal, hubungan keduanya masih relatif positif. [39] Setelah Reza dinobatkan menjadi raja, hubungan keduanya tidak baik dan tidak pula buruk namun, [40] namun berubah menjadi memburuk disaat Reza memulai kebijakan kontroversial mengenai aturan jilbab pada tahun 1935 sampai 1937. Pada 11 Tir 1314 HS, Ayatullah Hairi mengirimkan telegram kepada Reza Syah yang berisi protes dan penentangannya terhadap aturan pelarangan berjilbab. [41] Sejak itu hubungan keduaya menjadi tegang dan berlanjut sampai Hairi meninggal dunia. [42]

Beberapa pengamat percaya, usaha Syaikh Hairi untuk tidak terlibat dalam urusan politik dan berkonfrontasi dengan rezim Iran adalah dalam rangka melindungi hauzah. Dalam pandangan mereka, Hairi secara sadar dan bijak tidak ikut campur dalam urusan pemerintahan, karena menurutnya bertentangan dengan keputusan Reza Syah Pahlevi bisa berakibat pembubaran dan penutupan hauzah oleh rezim. Oleh karena itu, dengan pandangannya kedepan, kebijaksanaan dan kesabarannya, bukan hanya berhasil melindungi hauzah, namun juga melindungi agama dan mazhab di Iran. [43]

Karya-Karya

Karya terpenting dari Ayatullah Hairi adalah Durar al-Fawaid, yang disebut juga Durar al-Ushul. Kitab ini dari satu sisi banyak terinspirasi dari kitab Ushul Fisyaraki dan pada sisi yang lain, dibagian ushul fikih bannyak mengambil pendapat penting dari Akhund Khurasani. Sesuai dengan pengakuannya, jilid pertama dari kitab tersebut banyak merujuk pada pendapat Fisyaraki dan pada jilid dua banyak merujuk pada pendapat Akhund Khurasani. [44]

Sebagian dari muridnya diantara Mirza Mahmud Asytiyani, Mirza Muhammad Tsaqafi, Muhammad Ali Araki dan Sayid Muhammad Ridha Ghulpaighani menuliskan catatan atas kitab Durar al-Fawaid, dan sebagiannya telah diterbitkan. [45]

Disebabkan aktivitas dan kesibukan yang padat dalam mengelola hauzah di Qom, ia tidak banyak menghasilkan karya tulis. Namun ada beberapa karya berharga darinya yang dapat diklasifikasi menjadi lima kategori:

  • Kitab: Ia menulis lima kitab, yaitu: Durar al-Fawaid, Kitab al-Nikah, Kitab al-Ridha', Kitab al-Mawarits dan Kitab al-Shalah. [46]
  • Komentar atas kitab-kitab fikih: komentars atas 'Urwah al-Wutsqa karya Sayid Muhammad Kazhim Yazdi dan komentar atas Anisu al-Tujjar karya Mulla Mahdi Naraqi. [47]
  • Menulis pelajaran guru-gurunya, diantaranya catatan pelajaran ushul fikih dari Sayid Muhammad Fisyaraki. [48]
  • Catatan dari pelajaran-pelajarannya, yang ditulis oleh sejumlah muridnya, seperti Risalah al-Ijtihad wa al-Taqlid, Kitab al-Bai' wa Kitab al-Tijarah. Ketika kitab ini disusun oleh Muhammad Ali Araki. Sementara catatan-catatan ceramahnya ditulis oleh Sayid Muhammad Ridha Ghulpaighani dan Mirza Mahmud Asytiyani. [49]
  • Risalah ilmiah dan fatwa-fatwa, seperti Dzakhirah al-Ma'ad, Majma' al-Ahkam, Majma' al-Masail, Muntakhab al-Rasail, Wasilah al-Najah dan Manasik Haj, yang ditulis secara terpisah dan sendiri-sendiri.[50]

Keturunan

Ayatullah Hairi memiliki lima anak; dua anak laki-laki bernama Murtada dan Mahdi dan tiga anak perempuan yang dinikahi oleh Muhammad Tuysirkani, Ahmad Hamadani dan Sayyid Muhammad Muhaqiq Damad.[51]

Wafat

Ayatullah Hairi meninggal dunia pada 17 Dzulkaidah 1355 H (29 Januari 1937) setelah 15 tahun menetap di Qom. Masyarakat secara luas menghadiri pemakamannhya meski ada pembatasan dari rezim. Ayatullah Shadiq Qummi mengimami salat jenazah untuk kemudian dimakamkan di Masjid Balasar di dalam kompleks Haram Sayidah Maksumah sa Qom. [52]

Galeri

Catatan Kaki

  1. Bamdad, jld. 2, hlm. 275
  2. Karimi Jahrumi, hlm. 13-14
  3. Fayyadhi, hlm. 114-115
  4. Husaini Zanjani, jld. 1, hlm. 107; Amini, Marwari, hlm. 20, 36-37
  5. Karimi Jahrumi, hlm. 20-21
  6. Hasan Mursilvand, jld. 3, hlm. 59
  7. Karimi Jahrumi, hlm. 23-24
  8. Hairi Yazdi, Murtadha, hlm. 80-82
  9. Hairi Yazdi, Murtadha, hlm. 87-88 dan 93-94
  10. Habib Abadi, jld. 6, hlm. 2118
  11. Syarif Razi, jld. 1, hlm. 283-284
  12. Ostadi, hlm. 51
  13. Hairi Yazdi, Murtadha, hlm. 39 dan 87-88
  14. Ostadi, hlm. 44-51
  15. Muhaqiq Damad, Mushthafa, hlm. 43-44; Shadrai Khui, hlm. 17; Nikubarsy, hlm. 46-47
  16. Bamdad, jld. 2, hlm. 275
  17. Karimi Jahrumi, hlm. 55
  18. Karimi Jahrumi, hlm. 55-56
  19. Shufut Tabrizi, hlm. 73
  20. Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat, bag. 3, hlm. 1164; Karimi Jahrumi, 56; Shadrai Khui, hlm. 17-18
  21. Syarif Razi, jld. 1, hlm. 286; Mursilvand, jld. 3, hlm. 59-60
  22. Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat, bag. 3, hlm. 1159; Faidh Qummi, jld. 1, hlm. 331-334; Karimi Jahrumi, hlm. 58-59
  23. Ostadi, hlm. 54-64
  24. Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat, bag. 3, hlm. 1160-1161; Shufut Tabrizi, hlm. 77
  25. Ostadi, hlm. 77-78
  26. Husaini Zanjani, jld. 1, hlm. 124; Karimi Jahrumi, hlm. 47; Mustafa Muhaqiq Damad, hlm. 67-68, 87-88, 92
  27. Mustaufi, jld. 3, hlm. 601; Hairi Yazdi, Mahdi, hlm. 18 dan 76
  28. Karimi Jahrumi, hlm. 74-75; Muhaqiq Damad, Ali, hlm. 50 dan 55
  29. Hairi Yazdi, hlm. 39, 80, 82-87
  30. Syarif Razi, jld. 1, hlm. 59, 87-88
  31. Ja'far Sa'idi, hlm. 50
  32. Karimi Jahrumi, hlm. 52-54; Muhaqiq Damad, Ali, hlm. 47-48
  33. Muhaqiq Damad, Ali, hlm. 41-42
  34. Ruznameh Ithil'at, 30 dan 31 Farvardin 1310 S
  35. Karimi Jahrumi, hlm. 48-50; Rezavi, hlm. 151-154
  36. Karimi Jahrumi, hlm. 61-62; Hairi, Abdul Husain, hlm. 161-162
  37. Nazham al-Din Zadeh, hlm. 154-155
  38. Syakwari, hlm. 116 dst, Amini, Ihtimam, hlm. 191
  39. Daulat Abadi, jld. 4, hlm. 289
  40. Daulat Abadi, jld. 4, hlm. 289
  41. Hairi Yazdi, Mahdi, hlm. 83
  42. Hairi Yazdi, Mahdi, hlm. 65
  43. Syarif Razi, jld. 1, hlm. 29-30, 53-54; Amini, Ihtimam, hlm. 198
  44. Thabasi, hlm. 63
  45. Karimi Jahrumi, hlm. 103-105
  46. Karimi Jahrumi, hlm. 99-101
  47. Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld. 2, hlm. 253 dan jld. 20, hlm. 15 dan jld. 22, hlm. 405-406 dan jld. 25, hlm. 87
  48. Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld. 4, hlm. 378
  49. Karimi Jahrumi, hlm. 105
  50. Agha Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah, jld. 2, hlm. 453 dan jld. 20, hlm. 15 dan jld. 22, hlm. 405-406 dan jld. 25, hlm. 87
  51. Fayyadhi, hlm. 114-115
  52. Husaini Zanjani, jld. 1, hlm. 107; Amini, hlm. 20, 36-37

Daftar Pustaka

  • Agha Bozorg Tehrani. Adz-Dzarī'ah ilā Tashānīf asy-Syī'ah. Riset Ali Naqi Munzawi dan Ahmad Munzawi. Beirut: 1403 H.
  • Agha Bozorg Tehrani. Thabaqāt A'lām asy-Syī'ah. Riset Ali Naqi Munzawi. Masyhad: 1404 H.
  • Amini. Murūrī bar Zendegī-ye Āyatullah Hājj Syeikh Abdul Karīm Hāirī Yazdī: Bunyanguzār-e Hauze-ye Ilmie-ye Qum be Rewāyat-e Esnād. Majalah Ganjine-ye Esnad. Tahun kelima. No. 3 dan 4.
  • Amini. Yādnāme Ehtemām-e Āyatullah Hājj Syeikh Abdul Karīm Hāirī Yazdī dar Ta’sīs-e Herāsat az Hauze Ilmiyeh Qum. Riset Muhammad Kazhim Syams, Abdul Hadi Asyrafi dan Jawad Ahangar. Qom: Bustan-e Ketab Qom, 1383 HS (2004).
  • Bamdad, Mahdi. Syarh-e Hāl-e Rejāl-e Iran dar Qarn 12, 13 dan 14 Hijrī. Tehran: 1347 HS (1968).
  • Daulat Abadi. Hayāt-e Yahyā. Tehran: 1362 HS (1983).
  • Faidh Qummi. Ketāb Ganjīneh-ye Atsār Qom. Qom:1350 HS (1971).
  • Fayyazi. Zendegī Nāmeh wa Syakhshiyyat-e Ijtima'ī-Siyāsī Ayatullah al-Uzhmā Hajj Syeikh Abdul Karīm Hāirī. Tehran: 1378 HS (1999).
  • Habib Abadi. Makārim al-Ātsār dar Ahwāl-e Rejāl dar Qarn 13 dan 14 Hijrī. Jld. 6. Isfahan: 1364 HS (1985).
  • Hairi Yazdi, Mahdi. Khāterāt-e Duktur Mahdī Hāirī Yazdī. Riset Habib Lajewardi. Tehran: 1381 HS (2002).
  • Hairi Yazdi, Murtadha. Serr-e Delbarān: Erfān wa Tauhīd-e Nāb dar Zemn-e Dāstānhā. Riset Ridha Ustadi. Qom: 1377 HS (1998).
  • Hairi, Abdul Husain. Mushāhebe ba Ustād Abdul Husain Hāirī. Majalah Hauzeh. Tahun kedua puluh satu. No. 5.
  • Husaini Zanjani. Al-Kalām Yajurr al-Kalām. Qom: 1368 HS (1989).
  • Karimi, Jahrami. Ayatullah Muassis Marhūm Aghā Hājj Syeikh Abdul Karīm Hāirī. Qom: 1372 HS (1993).
  • Morslwandn, Hasan. Zendegī Nāmeh Rejāl wa Masyāhir-e Iran. Jld. 3. Tehran: 1373 HS (1994).
  • Muhaqqiq Damad, Musthafa. Mushāhebe ba Hujjatul Islām wa al-Muslimīn Duktur Sayid Musthafā Muhaqqiq Dāmād. Majalah Hauzah. No. 5.
  • Muhaqqiq Damad. Ali. Mushāhebe ba Hazrat-e Ayatullah Hājj Sayid Ali Aghā Muhaqqiq Dāmād. Majalah Hauzah. No 6.
  • Mustaufi, Abdullah. Syarh-e Zendegānī-ye Man, ya, Tārīkh Ijtimā'ī wa Idārī Daure-ye Qājāriyeh. Tehran: 1360 HS (1981).
  • Nikobrasy, Farzaneh. Barresī-ye Amalkard-e Siyāsī-ye Ayatullah Hājj Syeikh Abdul Karīm Hāirī Yazdī az Sāl 1301 ta Sāl 1351 HS. Tehran: 1381 HS (2002).
  • Nizhamuddin Zadeh. Hujūm-e Rūs (Rusia) wa Iqdāmāt-e Ru`asā-ye Din barāye Hefzh-e Iran. Riset Nasrullah Shalihi. Tehran: 1377 HS (1998).
  • Radhawi. Hājj Syeikh Abdul Karīm Hāirī Yazdī wa Sāmān Dādan be Tablīghāt-e Dīnī. Majalah Hauzah. Tahun kedua puluh satu. Nomor 5.
  • Ruznāme Ettela'at. (www.ettelaat.com)
  • Sa'idi (pazum), Ja'far. Yādegārī -ye Mandegār. Tehran: Sayeh, 1386.
  • Shadrai Khui. Ayatullah Arākī: Yek Qarn Wārastegī. Tehran: 1382 HS (2003).
  • Shafwat Tabrizi. Zendegī Nāmeh Ayatullah Hājj Syeikh Abdul Karīm Hāirī. Riset Ali Shadrai Khui. Majalah Hauzah. No.5.
  • Syakuri. Marja' Dūr Andisy wa Shabūr: Ayatullah Hāirī, muassis Hauze Ilmiyye-ye Qom. Majalah Yad. No, 17.
  • Syarif ar-Radhi, Muhammad bin Husain. Ganjīne-ye Dānesymandān. Tehran: 1352-1354 HS (1973-1975).
  • Thabasi. Mushāhebe ba Ayatullah Hājj Syeikh Muhammad Rezā Thabasī . Majalah Hauzah. No.4.
  • Ustadi. Yādnāme Hadhrat-e Āyatullah al-'Uzhma Arākī. Arak: 1375 HS (1996).