Lompat ke isi

Konsep:Teologi

Dari wikishia
Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
TauhidTauhid DzatiTauhid SifatTauhid Af'alTauhid Ibadah
Furu'TawasulSyafa'atTabarruk
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukanBada'Amrun bainal Amrain
Kenabian
KeterjagaanPenutup KenabianNabi Muhammad SawIlmu GaibMukjizatTiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinanKemestian Pelantikan ImamIsmah Para ImamWilayah TakwiniIlmu Gaib Para ImamKegaiban Imam Zaman asGhaibah SughraGhaibah KubraPenantian Imam MahdiKemunculan Imam Mahdi asRaj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam BarzahMa'ad JasmaniKebangkitanShirathTathayur al-KutubMizanAkhirat
Permasalahan Terkemuka
AhlulbaitEmpat Belas Manusia SuciTaqiyyahMarja' Taklid


Teologi (bahasa Arab: خداشناسی) bermakna mengenal dan mengidentifikasi Tuhan sebagai Pencipta alam yang mencakup tiga bidang utama: pembuktian keberadaan, nama dan sifat, serta perbuatan-perbuatan Ilahi. Para teolog Muslim, dengan menyandarkan pada urgensi mencegah kerugian yang mungkin terjadi dan kewajiban bersyukur kepada Pemberi Nikmat, menganggap teologi sebagai sebuah keniscayaan.

Menurut pandangan mayoritas filsuf Muslim dan teolog Imamiyah, mengenal zat Ilahi adalah hal yang tidak mungkin; namun banyak dari mereka menganggap akal manusia mampu memahami sifat dan perbuatan Ilahi. Beberapa teolog juga membatasi pengenalan Tuhan hanya melalui metode salbi (negatif/apofatik).

Terdapat berbagai jalan untuk teologi yang mencakup metode Qur'ani, kalam, akli (rasional), dan irfani (mistis). Para filsuf menekankan argumen-argumen akli untuk membuktikan Tuhan, sementara kaum urafa menekankan pada penyingkapan batin (syuhud). Muhammad Taqi Mesbah Yazdi menganggap jalan terbaik untuk mengenal Tuhan adalah melalui Al-Qur'an.

Banyak nama yang disebutkan untuk Tuhan; dalam Al-Qur'an terdapat 132 nama dan dalam beberapa riwayat disebutkan 99 nama. Dikatakan bahwa setiap konsep yang menunjukkan kesempurnaan dan tidak meniscayakan kekurangan atau keterbatasan, dapat digunakan untuk Tuhan (sifat tsubutiyah). Sebaliknya, setiap konsep yang menunjukkan kekurangan atau keterbatasan ditiadakan dari Tuhan (sifat salbiyah). Tauhid yang bermakna keyakinan pada keesaan Tuhan, merupakan salah satu pembahasan terpenting dalam teologi yang dianggap sebagai ajaran Islam paling dasar serta tujuan dari agama dan Al-Qur'an.

Pendekatan sekte-sekte Islam terhadap teologi dilaporkan berbeda-beda: Syiah memiliki metode moderat antara akal-sentris dan nas-sentris. Dalam teologi Syiah, tidak ada tanda-tanda tasybih (antropomorfisme) maupun ta'thil (agnostisisme fungsional); Muktazilah bersifat rasionalis, sementara Asy'ariyah, Ashabul Hadis, dan Salafiyah dengan mengingkari kemungkinan pengenalan Tuhan secara akli, cukup membatasi diri pada makna lahiriah teks-teks agama. Tuhan kaum Salafiyah dideskripsikan memiliki wajah, tangan, kaki, telinga, mata, serta bertempat. Teologi Salafiyah dihidupkan kembali dan dipromosikan oleh Wahabisme pada abad ke-12 Hijriah.

Dikatakan bahwa meskipun pengingkaran terhadap Tuhan telah ada di setiap periode; namun hal itu selalu menjadi minoritas dan tidak ada tokoh terkemuka di Dunia Islam yang mengingkari Tuhan di periode mana pun.

Dasar dan Fondasi Agama

Teologi merupakan dasar dan fondasi agama serta rukun-rukun lainnya, dan agama tanpa teologi tidak akan bermakna serta akan kehilangan strukturnya.[1] Inti dan dasar dakwah para nabi pun disebut sebagai makrifat (pengenalan) kepada Tuhan.[2]

Berdasarkan hadis-hadis, teologi diperkenalkan sebagai pengetahuan yang paling utama dan tertinggi. Di antaranya dalam sebuah riwayat, Nabi Islam (saw) menyatakan bahwa puncak ilmu dan makrifat adalah mengenal Tuhan.[3] Imam Ali (as) juga menganggap teologi sebagai awal dan dasar agama[4] dan pengetahuan yang paling utama.[5] Dinukil dari Imam Shadiq (as) bahwa mengenal Tuhan dan mengakui penghambaan kepada-Nya adalah kewajiban paling utama bagi manusia.[6] Dalam sebuah hadis, tujuan penciptaan hamba adalah untuk mengenal Tuhan agar setelah mengenal-Nya, mereka menyembah-Nya.[7] Dalam hadis lain disebutkan bahwa barang siapa yang tidak mengenal Tuhan, maka ia akan tersesat dalam menyembah Tuhan.[8]

Allamah Hilli, teolog Syiah pada abad ke-8 Hijriah, menganggap Tuhan sebagai maujud yang paling mulia dan ilmu tentang-Nya sebagai ilmu yang paling tinggi.[9]

Urgensi Teologi

Para teolog Muslim menganggap mengenal Tuhan sebagai kewajiban berdasarkan hukum akal.[10]Templat:Yad Kewajiban teologi dianggap sebagai kesepakatan para ulama Muslim.[11] Para teolog menyebutkan alasan-alasan berikut untuk membuktikan urgensi dan kewajiban teologi:

  • Urgensi mencegah kerugian yang mungkin terjadi: Sepanjang sejarah, banyak nabi yang berbicara tentang keberadaan Tuhan dan mengajak manusia untuk beriman kepada-Nya. Jika dari perkataan dan perilaku mereka tidak diperoleh keyakinan akan keberadaan Tuhan, setidaknya probabilitas keberadaan-Nya menjadi kuat. Jika probabilitas tersebut benar, maka mengabaikannya akan membawa kerugian besar. Berdasarkan hukum akal dan untuk mencegah kerugian besar tersebut, seseorang harus melakukan penelitian dan pengkajian tentang Tuhan.[12]

Templat:Kotak Kutipan

  • Urgensi bersyukur kepada Pemberi Nikmat: Bersyukur kepada seseorang yang memberikan nikmat adalah sebuah kewajiban atas pemberian nikmat-nikmatnya. Untuk bersyukur dan mengapresiasi pemberi nikmat, seseorang harus mengenalnya; sebab tanpa mengenalnya, bersyukur kepadanya tidaklah mungkin. Maka, mengenal Pemberi Nikmat (Tuhan) adalah sebuah keniscayaan.[13]
  • Kecenderungan fitrah untuk mengenal Tuhan: Teologi dan kecenderungan untuk membahas serta berdialog tentang Tuhan dianggap sebagai bagian dari hal-hal fitrah manusia.[14]

Dampak Teologi dan Keyakinan kepada Tuhan

Di antara dampak dan manfaat teologi serta keyakinan kepada Tuhan adalah ketenangan jiwa dan ruh,[15] pemberian identitas dan makna bagi manusia dan kehidupannya,[16] menunjukkan jalur kehidupan yang benar untuk mencapai kebahagiaan,[17] pandangan positif terhadap eksistensi dan kehidupan, penyediaan dukungan teoritis bagi pengetahuan dan kecenderungan spiritual, penguatan akhlak dan penyucian jiwa,[18] dukungan bagi keutamaan moral, jaminan pelaksanaan ketaatan pada hukum, keadilan, dan hak individu[19] serta kepatuhan pada perintah agama.[20]

Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq (as) disebutkan bahwa jika orang-orang mengetahui nilai mengenal Tuhan, mereka tidak akan melirik kelezatan dan keuntungan duniawi, dan dunia di mata mereka akan menjadi lebih tidak berharga daripada tanah di bawah kaki mereka; layaknya seseorang yang berada dalam kenikmatan abadi di taman-taman surga, ia menikmati nikmat makrifat Tuhan. Kelanjutan riwayat menyebutkan bahwa teologi adalah teman bagi setiap ketakutan, pendamping bagi setiap kesendirian, cahaya bagi setiap kegelapan, kekuatan bagi setiap kelemahan, dan penyembuh bagi setiap penyakit.[21]

Muhammad Taqi Mesbah Yazdi, filsuf Syiah abad ke-14 Hijriah Syamsi, meyakini bahwa kesempurnaan sejati manusia tidak mungkin tercapai tanpa mengenal Tuhan; sebab kesempurnaan manusia terwujud dengan kedekatan (qurb) Ilahi dan pendekatan diri kepada Tuhan pun tidak mungkin terjadi tanpa mengenal Tuhan.[22]

Terminologi

Teologi, yang setara dengan Theology,[23] mencakup pengenalan Tuhan sebagai Pencipta alam dalam tiga bidang utama: pembuktian keberadaan Tuhan, pengenalan nama dan sifat-Nya, serta pemahaman atas perbuatan-Nya terhadap alam dan manusia.[24] Ahlulbait (as) telah menentukan batasan makrifat ini dengan menyebutkan sifat-sifat Ilahi; sebagai contoh, Nabi saw menganggap pengenalan yang paling layak adalah keesaan, tiadanya tandingan, serta tidak adanya lahir dan batin yang terpisah satu sama lain bagi Tuhan.[25] Imam Sajjad (as) menekankan pengenalan sifat-sifat seperti wahdaniat (keesaan), kasih sayang, kekuatan, ilmu, dan tidak tertembusnya penglihatan terhadap-Nya.[26] Dan Imam Shadiq (as) menyebutkan batasan makrifat adalah mengenal sifat-sifat seperti qadim (dahulu), tiadanya tandingan, serta Maha Mendengar dan Maha Melihat-Nya Dia.[27] Dalam pandangan Imam Baqir (as), makrifat mencakup membenarkan Tuhan dan Rasul-Nya, serta berwilayah kepada Imam Ali (as) dan para Imam (as) setelah beliau.[28]

Nasir Makarem Syirazi membedakan antara teologi (khodasyenasi), pencarian Tuhan (khodaju'i), dan penemuan Tuhan (khodayabi). Ia menghubungkan teologi dengan pembahasan sifat-sifat Ilahi, pencarian Tuhan dengan motivasi makrifat Tuhan, dan penemuan Tuhan dengan masalah pembuktian keberadaan Tuhan.[29] Menurut pandangan sebagian peneliti kalam, berbagai tingkatan dan level teologi adalah: mengenal zat Tuhan, mengenal keberadaan Tuhan, serta mengenal sifat dan perbuatan Tuhan.[30] Dikatakan bahwa perbedaan terbesar para teolog dalam bab mengenal Tuhan adalah perbedaan mengenai sifat-sifat Ilahi.[31]

Konsep Tuhan

Kata Persia "Khoda" dianggap setara dengan kata Arab "Allah"[32] yang dalam bentuk tunggal, secara eksklusif ditujukan kepada zat Tuhan; namun dalam kombinasi dengan kata lain, ia memiliki penggunaan yang lebih umum dan digunakan juga untuk selain Tuhan (seperti Kadkhoda).[33] Sebaliknya, "Allah" adalah nama khusus dan komprehensif bagi seluruh sifat kesempurnaan Ilahi.[34]

Menurut sebagian peneliti, konsep yang dipahami masyarakat umum dari "Tuhan" adalah Pencipta alam; namun para filsuf demi ketelitian yang lebih tinggi, memilih konsep Wajib al-Wujud, karena konsep ini merujuk pada keniscayaan zat dan menghindari abstraksi semata dari perbuatan Ilahi.[35] Akar etimologi "Khoda" bermakna pemilik, penguasa, dan pembesar rumah.[36] Beberapa orang lainnya menganggapnya sebagai kependekan dari "Khoda" (Datang Sendiri) atau "Khodayandeh", bermakna maujud yang ada dengan sendirinya.[37]

Asmaul Husna dalam khat istimewa oleh Seçkin Durdu, kaligrafer Turki.

Jalan dan Jenis Teologi

Teologi berdasarkan cara memperoleh makrifat, dibagi menjadi dua kategori utama:[38]

  1. Teologi Hushuli: Pengenalan yang diperoleh melalui perantara konsep-konsep mental. Jenis pengenalan ini diperoleh melalui argumen-argumen akli[39] atau penggunaan ungkapan-ungkapan Qur'ani.[40]
  2. Teologi Hudluri: Pengenalan langsung dan tanpa memerlukan perantara konsep-konsep mental. Ayat-ayat fitrah, mitsaq, dan ayat-ayat yang menunjukkan ru'yat (penglihatan) kalbu, menunjukkan jenis pengenalan ini dalam Al-Qur'an.[41]

Juga, jalan-jalan memperoleh makrifat Ilahi diklasifikasikan menjadi tiga cara:[42]

  • Jalan Akal (Teologi Akli): Penggunaan perangkat akal dan argumen-argumen pembuktian.
  • Jalan Hati (Kasyaf dan Syuhud): Menemukan Tuhan melalui sisi dalam dan batin sendiri; mencakup teologi fitrah dan irfani.
  • Jalan Pengalaman: Mengenal Tuhan melalui pengamatan alam semesta dan fenomena-fenomenanya.[43]

Selain itu, teologi di kalangan Muslim terkadang dibagi menjadi tiga pendekatan: kalam, filsafat, dan irfan.[44]

Teologi Fitrah

Salah satu jalan teologi disebut sebagai teologi fitrah atau mengenal Tuhan melalui jalan fitrah.[45] Maksud dari teologi fitrah adalah manusia berdasarkan jenis penciptaan dan struktur jiwanya, mengenal Tuhan dan dalam mengenal Tuhan tidak membutuhkan pembelajaran ilmu pendahuluan maupun argumen.[46] Teologi, pencarian Tuhan, penginginan Tuhan, dan penyembahan Tuhan dianggap sebagai bagian dari urusan fitrah manusia.[47] Ayat-ayat seperti Surah Ar-Rum ayat 30 yang dikenal sebagai Ayat Fitrah menunjukkan adanya teologi fitrah.[48]

Muhammad Taqi Mesbah Yazdi membagi teologi fitrah menjadi teologi fitrah hushuli dan teologi fitrah hudluri. Maksud teologi fitrah hushuli adalah manusia dengan akal fitrah dan pemberian Tuhan menyadari keberadaan Tuhan dan mengenal-Nya. Teologi fitrah hudluri adalah manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga di lubuk hatinya memiliki hubungan mendalam dengan Tuhan, dan ketika ia memperhatikan kedalaman hatinya, ia akan menemukan hubungan tersebut dan akan menyaksikan (syuhud) Tuhan.[49]

Teologi Qur'ani

Templat:Utama Menurut pandangan Mesbah Yazdi, jalan terbaik untuk mengenal Tuhan adalah merujuk pada Al-Qur'an dan mengenal-Nya melalui ajaran-ajaran Al-Qur'an.[50] Nama khusus Tuhan dalam Al-Qur'an adalah Allah.[51] Dikatakan bahwa dalam teologi Qur'ani, keberadaan Tuhan diasumsikan pasti dan pembuktian keberadaan-Nya tidak dikemukakan; dalam Al-Qur'an berbagai perbuatan Tuhan lebih ditekankan, Tuhan tidak dideskripsikan dan sifat-sifat-Nya tidak dibicarakan secara abstrak.[52] Lebih dari tiga perempat Al-Qur'an adalah tentang perbuatan Tuhan; apa yang telah Tuhan lakukan dan apa yang sedang dilakukan, atau apa yang telah dikatakan dan akan dikatakan. Nama-nama Ilahi yang disebutkan dalam Al-Qur'an pun merujuk pada perbuatan Tuhan, bukan pada deskripsi-Nya.[53] Beberapa peneliti berpendapat bahwa dalam Al-Qur'an lebih banyak ditekankan pada tauhid dan keunggulan Tuhan atas maujud lainnya.[54] Menurut keyakinan Murtadha Mutahhari, Al-Qur'an memperkenalkan pembelajaran tentang ciptaan dan makhluk sebagai salah satu jalan mengenal Tuhan dan menjadikannya sebagai penguat bagi jalan fitrah dan hati.[55] Berbagai sifat Tuhan dalam Al-Qur'an diklasifikasikan di bawah tiga sifat utama: kekuasaan, ilmu, dan kebaikan mutlak.[56]

Teologi Kalam

Templat:Utama Beberapa teolog Muslim menganggap Tuhan dan sifat-sifat-Nya sebagai subjek dan poros ilmu kalam dan mendefinisikan ilmu kalam sebagai ilmu yang membahas zat dan sifat-sifat Ilahi.[57] Pembahasan yang dikemukakan dalam ilmu kalam Islam tentang Tuhan diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: pembuktian keberadaan Tuhan, keesaan Tuhan, dan sifat-sifat Tuhan. Pembahasan seperti ru'yatullah, penciptaan Al-Qur'an, determinasi dan kebebasan memilih, Masalah Kejahatan, dan luthfullah dibahas di bawah tema sifat-sifat Tuhan.[58]

Menurut penuturan Mohammad Mojtahed Syabestari, peneliti kalam dan intelektual religius, para teolog Muslim dalam pembahasan teologi mereka tidak mengikuti metode Al-Qur'an; meskipun mereka berbicara tentang subjek yang sama dengan yang ada di Al-Qur'an.[59] Menurut Syabestari, para teolog tidak bermaksud untuk menjelaskan Tuhan versi Al-Qur'an; melainkan mereka karena terpengaruh oleh pemikiran filsafat-agama di zaman mereka, bermaksud untuk menjawab keraguan dan pertanyaan yang diajukan tentang Tuhan oleh para pengikut agama lain atau para filsuf.[60] Dalam ilmu kalam Islam dilakukan pembuktian keberadaan Tuhan dan alih-alih membahas perbuatan Tuhan, justru dibahas tentang zat dan sifat-sifat Tuhan.[61] Para teolog menggunakan ungkapan-ungkapan tentang Tuhan yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an.[62]

Teologi Filosofis

Templat:Utama Tuhan selalu menjadi salah satu konsep terpenting dalam sejarah filsafat[63] dan teologi menempati bagian besar dari pembahasan para filsuf Muslim.[64] Dalam teologi filosofis, selain pembuktian keberadaan Tuhan dengan dalil filsafat dan akal, sifat-sifat Tuhan dan masalah lain terkait Tuhan juga dibuktikan dengan akal.[65] Poros teologi dalam Filsafat Islam adalah konsep Wajib al-Wujud[66] dan para filsuf Muslim menggunakan sebutan Wajib al-Wujud alih-alih kata Tuhan atau Allah.[67]Templat:Yad

Murtadha Mutahhari menganggap teologi melalui jalan akal dan filsafat sebagai salah satu jalan teologi yang paling sulit sekaligus paling sempurna.[68] Ia berkeyakinan bahwa teologi dan masalah-masalah di sekitarnya hanya melalui jalan akal dan filsafatlah ia dapat menjadi sebuah ilmu yang efisien yang mampu menjawab seluruh persoalan yang dibutuhkan manusia tentang Tuhan.[69] Beberapa orang juga berpendapat bahwa teologi dan pembahasan tentang Tuhan pada dasarnya adalah masalah dan pembahasan filosofis.[70]

Dikatakan bahwa dalam tradisi filsafat Islam, Ya'qub bin Ishaq al-Kindi, filsuf Muslim abad ke-3 Hijriah, untuk pertama kalinya mendefinisikan filsafat sebagai ilmu tentang sebab pertama (Tuhan) dan menempatkan pembahasan filsafat lainnya di bawah pengenalan Tuhan.[71] Ibnu Sina juga menganggap tujuan filsafat adalah mengenal Tuhan.[72] Muhammad Taqi Mesbah Yazdi, filsuf Syiah abad ke-14 Hijriah Syamsi, menganggap teologi sebagai ilmu filsafat yang paling berharga dan utama.[73] Dalam buku-buku filsafat Islam, terdapat bagian yang dikhususkan untuk teologi yang disebut "Ilahiyat bil Ma'na al-Akhas".[74]

Teologi Irfani

Templat:Utama Tuhan dalam irfan religius merupakan konsep sentral hingga tahap dikatakan bahwa irfan dalam agama-agama samawi tidak lain adalah upaya untuk mengenal Tuhan dan sampai kepada-Nya.[75] Teologi irfani dianggap berbasis pada teori kesatuan personal wujud (wahdah syakhshiyah al-wujud).[76] Teori ini dianggap sebagai karakteristik utama teologi irfani.[77] Menurut teori ini, satu keberadaan tak terhingga telah memenuhi seluruh eksistensi dan realitas di seluruh level dan tingkatan, serta tidak menyisakan ruang bagi yang lain. Keberadaan tak terhingga tersebut adalah Tuhan sendiri.[78] Teologi irfani bergantung pada penyucian dan penjernihan hati serta kasyf dan syuhud, dan kaum arif dalam mengenal Tuhan tidak berurusan dengan akal, argumen, maupun pemikiran.[79] Oleh karena itu, teologi irfani dianggap bersifat personal (privat) yang tidak dapat dipindahtangankan serta tidak dapat diajarkan dan dipelajari oleh orang lain.[80] Menurut pandangan ahli irfan, Tuhan berada di luar pemikiran dan akal manusia, dan pengenalan Tuhan secara kalam maupun filsafat adalah pengenalan permukaan serta tingkat yang lebih rendah dibandingkan pengenalan irfani.[81]

Beberapa kritikus filsafat dan irfan menganggap teologi filosofis dan irfani bertentangan dengan teologi religius dan wahyu, serta menganggap Tuhan dalam filsafat dan irfan berbeda dengan Tuhan dalam agama.[82] Gholam Reza Fayyazi, salah seorang pengajar filsafat Islam di Qom, menganggap perkataan ini tidak berdasar dan meyakini bahwa Tuhan dalam filsafat dan filsuf adalah Tuhan yang sama yang oleh Islam, Al-Qur'an, dan riwayat disebut sebagai Allah. Filsuf sedang mencari untuk mengenal Tuhan dalam Al-Qur'an dan riwayat.[83] Abdul Rasul Obudiyat, pengajar filsafat Islam di Qom, meyakini bahwa dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik yang dijelaskan dalam teks-teks agama dan filsafat untuk Tuhan, Tuhan dalam filsafat persis seperti Tuhan dalam agama (Allah).[84]

Apakah Mengenal Tuhan itu Mungkin?

Dikatakan bahwa secara umum para filsuf Muslim dan teolog Imamiyah,Templat:Yad menganggap mengenal zat dan hakikat Tuhan itu tidak mungkin.[85] Dalam banyak hadis pun ditekankan akan tidak mungkinkannya mengenal zat Tuhan.[86] Alasan ketidakmungkinan mengenal zat Tuhan adalah karena zat Tuhan tidak terhingga dan tidak memiliki konsep, perumpamaan, maupun tandingan.[87] Di sisi lain, makrifat (pengenalan) meniscayakan semacam pelingkupan ilmu atas yang diketahui. Karena maujud yang terbatas (manusia) tidak dapat melingkupi maujud yang tidak terbatas (Tuhan), maka mengenal zat Tuhan itu tidak mungkin.[88] Meskipun demikian, mayoritas filsuf dan teolog Muslim menganggap akal manusia mampu mengenal nama, sifat, dan perbuatan Ilahi;[89] meskipun para pendukung teori ta'thil al-sifat, meyakini akal manusia tidak memiliki jalan untuk mengenal Tuhan serta sifat dan perbuatan Ilahi. Oleh karena itu, seseorang harus mengakui dan beriman pada sifat-sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan riwayat tanpa mengetahui makna hakikinya.[90] Beberapa teolog juga meyakini Teologi Salbi (apofatik) dan berpandangan bahwa hanya dengan cara salbi (negatif) seseorang dapat berbicara tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya; sebab Tuhan tidak menyerupai satu pun makhluk.[91] Masyhur Muktazilah,[92] Mulla Rajab Ali Tabrizi dan muridnya Qadhi Said Qummi, kaum arif Syiah abad ke-12 Hijriah, dihitung sebagai pendukung teologi salbi.[93]

Menurut perkataan Mesbah Yazdi, keberadaan jumlah yang sangat banyak dari ayat-ayat Al-Qur'an seputar sifat-sifat Tuhan serta dorongan Al-Qur'an untuk berpikir dan bertadabur dalam ayat-ayat Al-Qur'an, tidak menyisakan keraguan bahwa manusia harus memiliki kemampuan pemahaman dan penangkapan sifat-sifat Ilahi; jika tidak demikian, maka banyak ayat Al-Qur'an akan menjadi sia-sia.[94]

Mengenai kemungkinan mengenal Tuhan melalui akal, terdapat dua pandangan umum: kaum rasionalis seperti filsuf Muslim dan teolog Imamiyah serta Muktazilah, menganggap mengenal Tuhan itu mungkin, sementara kaum tekstualis lahiriah seperti Hanabilah, Ashabul Hadis, serta Akhbari Syiah seperti Muhammad Amin al-Astarabadi, dan kaum penganut sensasionalisme seperti Muhammad Iqbal Lahori dan Mehdi Bazargan, menganggap akal manusia tidak mampu memperoleh makrifat Tuhan.[95] Berbagai kritik diajukan terhadap pandangan kedua dan dikatakan bahwa mengenal Tuhan itu mungkin dan manusia dapat mengenal Tuhan dengan akal dan pemikiran akli; meskipun pengenalan manusia kepada Tuhan terbatas dan mengenal hakikat Tuhan berada di luar kemampuan akal manusia.[96] Kaum urafa Muslim juga terkadang menentang pengenalan Tuhan secara akli dan terkadang merendahkannya.[97]

Pembuktian Keberadaan Tuhan

Templat:Utama Mengenai apakah dalam Al-Qur'an disebutkan argumen untuk membuktikan Tuhan atau tidak, terdapat perbedaan pendapat. Menurut pandangan Allamah Thabathaba'i, Al-Qur'an menganggap prinsip keberadaan Tuhan sebagai hal yang aksiomatik (badihi) dan pasti, serta tidak melihat perlunya argumen maupun penalaran untuk menerima keberadaan-Nya. Ia meyakini bahwa dalam Al-Qur'an, setiap kali Tuhan dibicarakan, hal itu berkaitan dengan sifat-sifat-Nya seperti tauhid, bukan pembuktian keberadaan-Nya.[98] Nasir Makarem Syirazi, mufasir Al-Qur'an, juga berkeyakinan berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an bahwa risalah utama para nabi adalah menghapus jejak syirik dan penyembahan berhala, bukan membuktikan keberadaan Tuhan; sebab keberadaan Tuhan telah tertanam dalam fitrah setiap orang;[99] namun menurut perkataan Muhammad Taqi Mesbah Yazdi, banyak mufasir menganggap berbagai ayat mengarah pada pembuktian keberadaan Tuhan dan merangkum isinya dalam bentuk argumen-argumen yang mayoritasnya kembali kepada argumen keteraturan (nadzam).[100] Menurut pandangan Mesbah Yazdi, meskipun Al-Qur'an menganggap keberadaan Tuhan tidak membutuhkan argumen dan tidak bermaksud membuktikan keberadaan Tuhan; namun seseorang dapat memperoleh argumen-argumen untuk membuktikan Tuhan dari ayat-ayat Al-Qur'an.[101]

Mengenai dapat dibuktikan atau tidaknya keberadaan Tuhan, berbagai pandangan telah dikemukakan. Sebagian secara umum menganggap keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dan telah terbukti. Sekelompok orang seperti kaum urafa, menolak pembuktian keberadaan Tuhan melalui jalan akal dan meyakini Tuhan harus dikenal melalui jalan hati dan syuhud, bukan melalui akal. Kaum ateis juga menganggap keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara akal.[102]

Beberapa filsuf menganggap keberadaan Tuhan sebagai hal yang aksiomatik (badihi) dan tidak membutuhkan pembuktian.[103] Sebagai contoh Allamah Thabathaba'i dengan menganggap keberadaan Tuhan itu badihi, menganggap argumen-argumen pembuktian Tuhan sebagai pengingat dan penyadar atas perkara yang badihi tersebut.[104] Ayat "Apakah dalam Allah itu ada keraguan, Pencipta langit-langit dan bumi?" (Surah Ibrahim, ayat 10) dianggap sebagai isyarat atas aksiomatiknya keberadaan Tuhan.[105] Menurut pendapat Mesbah Yazdi, seluruh filsuf dan teolog Muslim meyakini bahwa ilmu hushuli kepada Tuhan melalui argumen akli dan filosofis itu mungkin dan telah memberikan berbagai argumen untuk hal tersebut.[106] Beberapa argumen pembuktian Tuhan yang diperhatikan dalam tradisi kalam dan filsafat Islam adalah: Argumen Kemungkinan dan Keniscayaan (imkan wa wujub), Argumen Shiddiqin, Argumen Keteraturan (nadzam), Argumen Kausalitas, Argumen Mukjizat, Argumen Kebaharuan (huduts), Argumen Gerak, dan Argumen Pembatalan Tekad (faskh al-aza'im).[107] Ibnu Sina menganggap argumen kemungkinan dan keniscayaan[108] dan Mulla Shadra menganggap argumen shiddiqin[109] sebagai argumen terbaik dan paling meyakinkan.

Nama-nama Tuhan

Templat:Utama Nama-nama Allah dalam Al-Qur'an dihitung berjumlah 132 nama.[110] Dalam beberapa riwayat, nama-nama Allah disebutkan sebanyak 99 nama.[111] Dalam Doa Jausyan Kabir, disebutkan seribu nama bagi Allah.[112] Nama Tuhan yang paling umum dalam Al-Qur'an disebut sebagai Allah, Ilah, dan Rabb.[113]

Menurut perkataan Ali-Akbar Dehkhoda dalam Lughatnameh-ye Dehkhoda, dalam literatur keagamaan Persia juga banyak kata dan nama yang digunakan untuk Tuhan, beberapa di antaranya adalah: Afaridgar, Afarinandeh, Bara-elah, Bar-parvardgar, Bari Ta'ala, Bari, Elah, Allah, Jahan-ara, Jahan-afarin, Parvardgar, Jahan-davar, Hazrat-e Ahadiyat, Pak-dad, Jan-afarin, Hazrat-e Kibriya'i, Hazrat-e 'Izzat, Chareh-saz, Jahan-ban, Izad-e Muta'al, Giti-aray, Yazdan, Dadafarin, Dadavar, Dadgar, Dadar, Davar, Sabab-saz.[114]

Menurut perkataan Ja'far Subhani, teolog Syiah, banyak teolog dan mufasir Muslim menganggap nama-nama Tuhan itu tauqifi; artinya mereka meyakini manusia tidak diizinkan untuk menisbatkan nama atau sifat lain kepada Tuhan selain asma dan sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan riwayat.[115]

Menghormati asma Ilahi dianggap wajib dan menyentuh nama-nama Tuhan tanpa kesucian (taharah) dianggap haram.[116]

Sifat dan Perbuatan Tuhan

Templat:Utama Dikatakan bahwa dengan memperhatikan kesempurnaan tak terhingga Tuhan, setiap konsep yang menunjukkan kesempurnaan dan tidak meniscayakan kekurangan atau keterbatasan, dapat diterapkan dan dibenarkan untuk Tuhan.[117] Sebaliknya, setiap konsep yang menunjukkan kekurangan atau keterbatasan, ditiadakan dari Tuhan.[118] Sifat Tuhan dari berbagai sisi disebutkan dalam berbagai bentuk klasifikasi. Di antara klasifikasi yang umum adalah:

  • Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah: Sifat tsubutiyah, ditujukan bagi sifat-sifat yang menetapkan satu dari berbagai kesempurnaan bagi Allah. Sebaliknya, sifat salbiyah adalah sifat-sifat yang menunjukkan peniadaan dan penafian kekurangan serta keterbatasan dari zat Allah.[119] Sifat tsubutiyah juga disebut sebagai sifat jamaliyah dan sifat salbiyah disebut sebagai sifat jalaliyah.[120] Menurut perkataan Ja'far Subhani, para teolog Muslim membatasi sifat tsubutiyah atau jamaliyah pada delapan sifat: Hayat (Hidup), Ilmu, Kuasa (qudrah), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), Iradah (Kehendak), Takalum (Berfirman), dan Ghani (Maha Kaya/Tidak Butuh). Sifat salbiyah juga dibatasi pada tujuh sifat: peniadaan kejasmanian (jismaniyat), peniadaan sebagai substansi (jauhar), peniadaan sebagai aksiden (aradh), tidak terlihat, tidak bertempat, tidak bertempat di dalam yang lain (hall fi al-ghayr), dan tidak bersatunya dengan sesuatu.[121]
  • Sifat Zat dan Perbuatan: Sifat zat, adalah sifat-sifat yang dalam mendeskripsikan zat Ilahi dengannya, cukup dengan membayangkan zat tersebut.[122] Sifat-sifat ini diabstraksikan dari zat Ilahi. Hayat, ilmu, dan kuasa dihitung sebagai sifat zat yang paling penting.[123] Sifat yang diabstraksikan dari semacam hubungan antara Tuhan dan makhluk-Nya disebut sebagai sifat perbuatan; seperti Khalikiyat (Menciptakan), Raziqiyat (Memberi Rezeki), Rububiyah, dan Uluhiyah.[124]

Menurut keyakinan Mesbah Yazdi, seluruh perbuatan Allah seperti penciptaan alam dan manusia, rezeki, dan petunjuk dirangkum dalam penciptaan (khalq) dan pengaturan (tadbir), dan keduanya adalah konsep paling umum yang berlaku bagi perbuatan-perbuatan Ilahi.[125] Berdasarkan tauhid dalam penciptaan, Allah telah menciptakan seluruh maujud di alam semesta, dan sesuai konsekuensi tauhid dalam rububiyah, Allah adalah Pengatur alam semesta dan seluruh maujud.[126] Asy'ariyah menganggap Allah sebagai pencipta seluruh perbuatan manusia; namun Muktazilah meyakini Allah menyerahkan perbuatan manusia kepada mereka sendiri dan manusia adalah pencipta perbuatannya sendiri.[127] Syiah dan para filsuf berpandangan bahwa manusia adalah pelaku perbuatannya; namun ia tidak independen.[128]

Keasaan dan Ketunggalan Tuhan

Templat:Utama Tauhid bermakna keyakinan akan keesaan Tuhan,[129] dianggap sebagai ajaran Islam yang paling dasar dan akar seluruh makrifat Islam,[130] serta tujuan bersama seluruh nabi.[131] Tujuan agama[132] dan tujuan utama Al-Qur'an[133] juga dianggap sebagai pembuktian tauhid. Allamah Thabathaba'i meyakini dari sudut pandang Al-Qur'an, agama dan seluruh makrifat agama bertumpu pada tauhid. Tauhid adalah akar dan makrifat agama lainnya adalah cabang serta dahan-dahannya.[134]

Kaligrafi slogan tauhid "Lailahaillallah", karya Muhammad Özçay, kaligrafer Turki.

Dalam banyak ayat Al-Qur'an dan dengan berbagai ungkapan dibicarakan tentang tauhid,[135] di antaranya: "La ilaha illallah",[136] "La ilaha illa Huwa",[137] "Ilahukum Ilahun Wahid"[138] dan "Ma min Ilahin illallah"[139] serta "Qul Huwallahu Ahad".[140]

Untuk tauhid dijelaskan berbagai tingkatan dan jenis, beberapa di antaranya adalah: tauhid dalam zat, tauhid dalam sifat, tauhid dalam perbuatan (Tauhid dalam Penciptaan, Tauhid dalam Rububiyah), tauhid dalam penyembahan.[141] Beberapa pemikir Muslim membagi tauhid ke dalam dua bagian: nazhari (teoritis/berkaitan dengan alam makrifat) dan amali (praktis/berkaitan dengan bidang perbuatan).[142]

Berbeda dengan kaum monoteis (muwahhid), kaum dualis (tsanawiyun) menganggap alam semesta memiliki dua permulaan dan dua tuhan: tuhan kebaikan (Yazdan) dan tuhan keburukan (Ahriman).[143] Menurut perkataan Abdullah Javadi Amuli, mereka berdasarkan prinsip kesesuaian dan keharmonisan sebab dan akibat, meyakini di alam semesta terdapat maujud yang kontradiktif seperti cahaya dan kegelapan serta kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, pencipta masing-masing harus sesuai dengan mereka. Maka dari itu alam semesta memiliki dua tuhan: tuhan kebaikan dan tuhan keburukan.[144]

Teologi Perbandingan Mazhab-mazhab Islam

Teologi sekte-sekte kalam Islam dilaporkan beragam sesuai dengan metode kalam mereka. Metode Syiah dalam teologi disebut sebagai metode menengah dan moderat; artinya penjelasan dan argumentasi berbasis pada akal dan wahyu secara berdampingan. Mereka meskipun menerima prinsi pialitas dan kredibilitas akal, namun juga menerima keterbatasannya.[145] Oleh karena itu, dikatakan bahwa dalam teologi Syiah tidak ada tanda-tanda tasybih (antropomorfisme) maupun ta'thil (agnostisisme fungsional).[146] Karakteristik ini disebut sebagai keunggulan Syiah dibandingkan mazhab lainnya.[147] Syiah Imamiyah menganggap Tuhan maha esa dan tiada tandingan serta tidak menerima jenis komposisi (tarkib) maupun multiplisitas (katsrat) apa pun dalam zat-Nya. Oleh karena itu, mereka meyakini seluruh tingkatan tauhid.[148] Tauhid sifat Syiah dianggap berbeda dengan Muktazilah; sebab Muktazilah menganggap zat Tuhan kosong dari segala bentuk sifat; berbeda dengan Syiah yang meyakini keidentikan (ainiyat) sifat dengan zat Ilahi. Tauhid perbuatan Syiah juga dianggap berbeda dengan tauhid perbuatan Asy'ariyah; sebab berdasarkan tauhid perbuatan Asy'ariyah, seluruh perbuatan manusia langsung dari pihak Tuhan dan maujud di alam semesta bukan pencipta perbuatan mereka sendiri; namun sesuai tauhid perbuatan Syiah, perbuatan bebas manusia berada dalam jalur perbuatan Allah dan dinisbatkan baik kepada Allah maupun kepada manusia.[149]

Ashabul Hadis yang menentang argumen akli serta bersifat nas-sentris dan lahiriah, berpandangan bahwa dalam pembahasan teologi, seseorang harus beriman pada apa pun yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis tanpa takwil maupun tafsir, termasuk bersemayamnya Tuhan di atas Arsy.[150] Ashabul Hadis meskipun tidak menganggap Tuhan bersifat jasmani dan bertempat, namun mereka menganggap Tuhan dapat dilihat di hari Kiamat.[151] Beberapa sekte kalam Ahlusunah wal Jama'ah seperti Mujassimah dan Karramiyah, mendeskripsikan Tuhan bersifat jasmani dan bertempat serta meyakini melihat Tuhan di dunia dan Akhirat itu mungkin.[152]

Teolog Muktazilah dengan metode akal-sentris,[153] tidak menganggap Tuhan sebagai jasad maupun aksiden; melainkan mendeskripsikan-Nya sebagai pencipta substansi dan aksiden yang tidak dapat ditangkap oleh indra lahiriah apa pun, tidak memiliki tempat, dan tidak dapat disaksikan di dunia maupun akhirat. Mereka mengingkari ke-qadim-an sifat-sifat zat serta tambahan sifat atas zat.[154] Tauhid sifat dianggap sebagai karakteristik mazhab Muktazilah.[155]

Asy'ariyah juga tidak menganggap Tuhan bersifat jasmani dan bertempat; namun meyakini Tuhan di Akhirat akan dilihat dengan mata kepala.[156] Menurut pandangan teolog Asy'ari, zat Allah memiliki sifat seperti bersemayam di atas Arsy, memiliki tangan, wajah, dan mata; namun bagaimana sifat-sifat ini bagi kita tidaklah jelas dan sifat-sifat Ilahi pada dasarnya berbeda dengan sifat manusia.[157] Mereka menganggap sifat zat bersifat qadim sebagaimana zat Tuhan. Oleh karena itu, mereka meyakini adanya delapan yang qadim (qudama al-tsamaniyah).[158] Karakteristik mazhab Asy'ariyah dianggap adalah tauhid perbuatan.[159]

Salafiyah, menganggap pengenalan Tuhan secara akli dan sifat-sifat-Nya itu tidak mungkin dan dalam mengenal Tuhan cukup membatasi diri pada makna lahiriah Al-Qur'an dan Sunnah serta pendapat kaum salaf.[160] Para pengikut Salafiyah meyakini mengenal Tuhan di dunia itu tidak mungkin; namun di akhirat Tuhan dapat dikenal melalui zat-Nya; sebab Tuhan di akhirat dapat disaksikan.[161] Meskipun demikian, mereka menganggap pembuktian Tuhan itu mungkin dan membuktikannya melalui jalan seperti perenungan pada ciptaan dan argumen seperti fitrah dan argumen kebaharuan (huduts).[162] Tuhan kaum Salafiyah dideskripsikan memiliki wajah, tangan, kaki, telinga, mata, serta bertempat; Tuhan mereka ada di langit.[163] Keyakinan Salafiyah dihidupkan kembali dan dipromosikan oleh Wahabisme pada Abad ke-12 Hijriah.[164] Kaum Wahabi dalam pembahasan teologi lebih banyak menekankan pada Tauhid Ibadah dan dengan interpretasi khusus darinya, mereka mengafirkan para pengikut mazhab lain (takfir).[165]

Pengingkaran Tuhan

Templat:Utama Kaum materialis yang menganggap eksistensi setara dengan materi, mengingkari keberadaan Tuhan sebagai maujud non-materi dan supranatural.[166] Klaim ini dianggap berlebihan dan tanpa dalil, serta dikatakan bahwa pengalaman indrawi dan material di luar wilayahnya sendiri (yakni di luar alam materi) tidak dapat membuktikan atau menafikan sesuatu.[167] Muhammad Taqi Mesbah Yazdi menganggap argumen-argumen pembuktian Tuhan sudah cukup untuk membatalkan kesetaraan eksistensi dengan materi.[168] Juga dengan memperhatikan kemungkinan zat dari keberadaan Tuhan, dikatakan bahwa pengingkar Tuhan harus menolak seluruh argumen pembuktian Tuhan kemudian mengemukakan dalil untuk pengingkaran-Nya.[169]

Menurut pandangan Murtadha Mutahhari, pemikiran materialisme dan pengingkaran Tuhan telah ada di setiap periode dan sebelum Islam pada masa jahiliah pun telah ada. Sejak Abad ke-2 Hijriah, kaum materialis secara bebas mengungkapkan dan mempromosikan pemikiran mereka dan bahkan berdialog serta berdiskusi di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Meskipun demikian, di periode mana pun di Dunia Islam, tidak ada tokoh terkemuka yang menjadi pengingkar Tuhan dan pendukung materialisme. Menurut keyakinannya, pada abad ke-20 dengan diterjemahkannya buku-buku kaum materialis, pemikiran ini mendapatkan napas baru di dunia Islam dan memperoleh pengikut; namun segera ketidakmampuannya menjadi nyata dan diketahui bahwa para pengingkar Tuhan di dunia Islam tidak memiliki jawaban di hadapan kaum beriman selain mengulang materi yang itu-itu saja.[170] Menurut perkataan Mutahhari[171] dan Ja'far Subhani,[172] materialisme menyusul renaisans ilmiah dan abad pencerahan, mulai marak di Eropa pada abad ke-18 dan ke-19 Masehi; namun pada abad ke-20 mulai memudar. Pengingkaran Tuhan dianggap sebagai keyakinan yang selalu menjadi minoritas dan keyakinan kepada Tuhan dianggap sebagai pemikiran yang marak di antara berbagai suku dan bangsa.[173]

Hal-hal seperti ketidakcukupan konsep gereja tentang Tuhan dan kekerasan mereka terhadap ilmuwan,[174] ketidakcukupan konsep filsafat Barat tentang Tuhan,[175] ketidakcukupan beberapa konsep sosial dan politik,[176] pemberian opini oleh non-pakar tentang Tuhan,[177] dan pengenalan Tuhan yang salah,[178] sikap zuhud palsu dan pengajaran yang bertentangan dengan kebenaran oleh beberapa mubalig agama,[179] Teori Evolusi,[180] penggantian empirisme alih-alih rasionalisme,[181] dan ketidaktepatan lingkungan sosial serta moral[182] disebutkan sebagai di antara faktor dan penyebab kecenderungan kepada materialisme serta pengingkaran Tuhan.

Pada masa awal Islam, para pengingkar Tuhan disebut sebagai Dahri, Zindik, atau Mulhid;[183] sebagaimana ateisme juga digunakan dalam pembahasan teologi baru untuk ketidakpercayaan kepada Tuhan.[184]

Buku Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya karya Ja'far Subhani

Bibliografi

Banyak buku yang telah ditulis dan diterbitkan seputar teologi, beberapa di antaranya adalah:

  • Rah-e Khodasyenasi wa Syenakht-e Sifat-e Ou (Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya) karya Ja'far Subhani. Buku ini bermaksud menjelaskan prinsip dasar teologi dengan bentuk ilmiah dan logis serta ditulis dengan tujuan menyajikan keyakinan agama secara benar dan mutakhir, diterbitkan oleh Penerbit Maktab-e Eslam.[185]
  • Teologi (Kumpulan Buku Pendidikan Ma'arif Qur'an), Muhammad Taqi Mesbah Yazdi. Buku ini yang merupakan materi pelajaran Mesbah Yazdi, merupakan jilid pertama dari seri Ma'arif Qur'ani yang membahas pengenalan Tuhan, tauhid, serta sifat dan perbuatan-Nya.[186] Buku ini pertama kali dicetak pada tahun 1389 HS oleh Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini.

Teologi karya Abdul Rasul Obudiyat dan Mujtaba Mesbah, Dar-amadi bar Khodasyenasi-ye Falsafi (Pengantar Teologi Filosofis) karya Mohsen Javadi, Teologi (Jawaban atas Keraguan Kalam) karya Mohammad Hasan Ghardan Qaramaleki, Khoda dar Hikmat wa Syari'at (Tuhan dalam Hikmah dan Syariat) karya Mohammad Hasan Ghardan Qaramaleki, Khoda dar Andisheh-ye Ensan (Tuhan dalam Pemikiran Manusia) berupa lima pidato Murtadha Mutahhari, Khoda dar Andisheh-ye Basyar (Tuhan dalam Pemikiran Manusia) karya Abdullah Nasri, dan Falsafah-ye Ilahiyat bil Ma'na al-Akhas; Dar-amadi bar Khodasyenasi-ye Falsafi karya Mehdi Abdullahi adalah buku-buku lain yang diterbitkan seputar teologi.

Catatan Kaki

  1. Subhani dan Berenjkar, Ma'arif wa 'Aqa'id 3 (Pembelajaran dan Keyakinan 3), 1395 HS, hlm. 84.
  2. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 53.
  3. Syeikh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 284-285.
  4. Nahjul Balaghah, koreksi Subhi Shalih, khotbah 1, hlm. 39.
  5. Tamimi Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 712.
  6. Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 262.
  7. Syeikh Saduq, Ilal al-Syara'i, 1385 HS, jld. 1, hlm. 9.
  8. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 180; Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 116.
  9. Allamah Hilli, Manahij al-Yaqin, 1415 H, hlm. 41.
  10. Untuk contoh lihat: Allamah Hilli, Nahj al-Haq wa Kasyf al-Sidq, 1982 M, hlm. 51; Ibnu Miatsam al-Bahrani, Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam, 1406 H, hlm. 28.
  11. Fazhel Miqdad, Syarh al-Bab al-Hadi Asyar, 1427 H, hlm. 12.
  12. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 1, hlm. 24-25; Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 9-12.
  13. Lihat: Allamah Hilli, Nahj al-Haq wa Kasyf al-Sidq, 1982 M, hlm. 51; Ibnu Miatsam al-Bahrani, Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam, 1406 H, hlm. 28-29.
  14. Thabathaba'i, Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 39-42; Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 2, hlm. 42-43.
  15. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 44.
  16. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 53.
  17. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 53.
  18. Subhani dan Berenjkar, Ma'arif wa 'Aqa'id 3, 1395 HS, hlm. 85-86.
  19. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 44-45.
  20. Subhani dan Berenjkar, Ma'arif wa 'Aqa'id 3, 1395 HS, hlm. 87.
  21. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 247-248.
  22. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1394 HS, jld. 2, hlm. 412.
  23. Rabbani Golpayegani, "Ilahiyat", hlm. 393-398.
  24. Subhani dan Berenjkar, Ma'arif wa 'Aqa'id 3, 1395 HS, hlm. 82.
  25. Syeikh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 284-285.
  26. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 36; Syeikh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 141.
  27. Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 262.
  28. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 180.
  29. Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 4, hlm. 8.
  30. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 27-28.
  31. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 28.
  32. Borhan, Farhang-e Farsi-ye Borhan Qati', 1380 HS, hlm. 327; Nafisi, Farhang-e Nafisi, jld. 2, hlm. 1332.
  33. Dehkhoda, Lughatnameh-ye Dehkhoda, jld. 6, hlm. 9556, di bawah kata Khoda.
  34. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 57-58.
  35. Khosropanah, Masail-e Jadid-e Kalam wa Falsafah-ye Din, 1393 HS, jld. 1, hlm. 55.
  36. Borhan, Farhang-e Farsi-ye Borhan Qati', 1380 HS, hlm. 327; Nafisi, Farhang-e Nafisi, jld. 2, hlm. 1332.
  37. Borhan, Farhang-e Farsi-ye Borhan Qati', 1380 HS, hlm. 327; Nafisi, Farhang-e Nafisi, jld. 2, hlm. 1332.
  38. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 73-74.
  39. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 44.
  40. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 78-79.
  41. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 73-74.
  42. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 29-30.
  43. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 29-30.
  44. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 217.
  45. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 68; Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 45.
  46. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 68.
  47. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 68; Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 45.
  48. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 73.
  49. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 74-75.
  50. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 54.
  51. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 215.
  52. Mojtahed Syabestari, "Khoda dar Kalam-e Eslami", hlm. 75.
  53. Mojtahed Syabestari, "Khoda dar Kalam-e Eslami", hlm. 75-76.
  54. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 216.
  55. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 92-93.
  56. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 216.
  57. Untuk contoh lihat: Allamah Hilli, Manahij al-Yaqin, 1415 H, hlm. 41; Fazhel Miqdad, Irsyad al-Thalibin, 1405 H, hlm. 15; Jorjani, al-Ta'rifat, 1370 HS, hlm. 80.
  58. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 218.
  59. Mojtahed Syabestari, "Khoda dar Kalam-e Eslami", hlm. 75.
  60. Mojtahed Syabestari, "Khoda dar Kalam-e Eslami", hlm. 76-77.
  61. Mojtahed Syabestari, "Khoda dar Kalam-e Eslami", hlm. 77.
  62. Mojtahed Syabestari, "Khoda dar Kalam-e Eslami", hlm. 77.
  63. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 214.
  64. Salawati, "Khoda dar Falsafah-ye Eslami", hlm. 86.
  65. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 92.
  66. Mutahhari, Kulliyat-e Ulum-e Eslami, 1402 HS, jld. 1, hlm. 195.
  67. Untuk contoh lihat: Ibnu Sina, al-Syifa-Ilahiyat, 1404 H, hlm. 37-38, 43 dan 343; Ibnu Sina, al-Ta'liqat, 1404 H, hlm. 158, 175 dan 184; Mulla Shadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 11, 41, 57, 92; Obudiyat, Pembuktian Keberadaan Tuhan dengan Metode Aksioma, 1389 HS, hlm. 17-19.
  68. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 91-92.
  69. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 92-93.
  70. Obudiyat, Pembuktian Keberadaan Tuhan dengan Metode Aksioma, 1389 HS, hlm. 28.
  71. Salawati, "Khoda dar Falsafah-ye Eslami", hlm. 86.
  72. Ibnu Sina, al-Syifa: al-Ilahiyat, 1404 H, jld. 1, hlm. 23.
  73. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1394 HS, jld. 2, hlm. 412.
  74. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1394 HS, jld. 1, hlm. 74.
  75. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 214.
  76. Amininejad, Babaei, dan Kermani, Mabani wa Falsafah-ye Irfan-e Nazhari, 1390 HS, hlm. 213.
  77. Obudiyat, pembuktian keberadaan Tuhan dengan metode aksioma, 1389 HS, hlm. 35.
  78. Amininejad, Babaei, dan Kermani, Mabani wa Falsafah-ye Irfan-e Nazhari, 1390 HS, hlm. 213.
  79. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 70; Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 220.
  80. Mutahhari, catatan kaki Ushul-e Falsafah wa Ravesy-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 91.
  81. Hashemi, "Khoda (2)", hlm. 220-221.
  82. Lihat: Milani, Faratar az Irfan, 1382 HS, hlm. 79, 95-96, 151-152, dan 242-247.
  83. "Teologi Filosofis - Sesi Ketiga", Situs Thaqalain.
  84. Obudiyat, Pembuktian Keberadaan Tuhan dengan Metode Aksioma, 1389 HS, hlm. 29-34.
  85. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 27; Ghardan Qaramaleki, Khoda dar Hikmat wa Syari'at, 1386 HS, hlm. 54 dan 425.
  86. Untuk contoh lihat: Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 135; Syeikh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 70 dan 89.
  87. Mulla Shadra, Asrar al-Ayat, 1360 HS, hlm. 22.
  88. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 27.
  89. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 196-197.
  90. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 1, hlm. 87.
  91. Ali-Khani, "Ilahiyat-e Salbi; Seyr-e Tarikhi wa Barresi-ye Didgah-ha", hlm. 91.
  92. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 132.
  93. Ali-Khani, "Ilahiyat-e Salbi; Seyr-e Tarikhi wa Barresi-ye Didgah-ha", hlm. 100.
  94. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 134.
  95. Rabbani Golpayegani, Aqa'id-e Estedlali 1, 1393 HS, hlm. 19-25; Ghardan Qaramaleki, Khoda dar Hikmat wa Syari'at, 1386 HS, hlm. 57-61.
  96. Lihat: Rabbani Golpayegani, Aqa'id-e Estedlali 1, 1393 HS, hlm. 25-28.
  97. Ghardan Qaramaleki, Khoda dar Hikmat wa Syari'at, 1386 HS, hlm. 60-61.
  98. Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 1, hlm. 395 dan jld. 3, hlm. 247.
  99. Makarem Syirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 2, hlm. 42.
  100. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 33.
  101. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 33-35.
  102. Lihat: Ghardan Qaramaleki, "Naqd-e Nazhariyah-ye Borhan-napazhiri-ye Wujud-e Khoda", hlm. 182-183.
  103. Lihat: Mesbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1394 HS, jld. 2, hlm. 412; Mohammad Rezai, Ilahiyat-e Falsafi, 1391 HS, hlm. 161.
  104. Mulla Shadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 14, catatan kaki 3.
  105. Mohammad Rezai, Ilahiyat-e Falsafi, 1391 HS, hlm. 161.
  106. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1394 HS, jld. 2, hlm. 414-415.
  107. Untuk contoh lihat: Ghardan Qaramaleki, Khoda dar Hikmat wa Syari'at, 1386 HS, hlm. 89-298; Soleimani Behbahani dan Latifi, "Itsbat-e Khoda", hlm. 169-173.
  108. Thusi, Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat, 1375 HS, jld. 3, hlm. 66-67.
  109. Mulla Shadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 13.
  110. Subhani, Mafahim al-Qur'an, 1421 H, jld. 6, hlm. 105.
  111. Untuk contoh lihat: Syeikh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 194, 195 dan 219.
  112. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 91, hlm. 384.
  113. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 58.
  114. Dehkhoda, Lughatnameh-ye Dehkhoda, jld. 6, hlm. 9551-9552, di bawah kata Khoda.
  115. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 150.
  116. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1385 HS, jld. 3, hlm. 436.
  117. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 73.
  118. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 67; Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 109-110.
  119. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 1, hlm. 82-83.
  120. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 1, hlm. 82-83.
  121. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 1, hlm. 83.
  122. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 1, hlm. 84.
  123. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 74.
  124. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 74 dan 81-85.
  125. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 297-298.
  126. Lihat: Rabbani Golpayegani, Aqa'id-e Estedlali 1, 1393 HS, hlm. 77 dan 87.
  127. Lihat: Taftazani, Syarh al-Aqa'id al-Nasafiyyah, 1421 H, hlm. 78-82.
  128. Rabbani Golpayegani, Aqa'id-e Estedlali 1, 1393 HS, hlm. 79.
  129. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 164.
  130. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 166 dan 168.
  131. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 167.
  132. Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, jld. 4, hlm. 116.
  133. Mulla Shadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 4, hlm. 54.
  134. Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 10, hlm. 134-135.
  135. Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 70-71.
  136. Surah Ash-Shaffat, ayat 35; Surah Muhammad, ayat 19.
  137. Surah Al-Baqarah, ayat 163.
  138. Surah Al-Baqarah, ayat 163; Surah Al-Kahf, ayat 110; Surah Al-Anbiya, ayat 108; Surah Fussilat, ayat 6.
  139. Surah Ali Imran, ayat 62; Surah Shad, ayat 65.
  140. Surah Al-Ikhlas, ayat 1.
  141. Lihat: Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 11-105.
  142. Lihat: Mutahhari, Majmu'eh Atsar, 1390 HS, jld. 26, hlm. 97; Javadi Amuli, Tauhid dar Qur'an, 1395 HS, hlm. 201; Sa'idimehr, Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1, 1388 HS, hlm. 67.
  143. Javadi Amuli, Tauhid dar Qur'an, 1395 HS, hlm. 610.
  144. Javadi Amuli, Tauhid dar Qur'an, 1395 HS, hlm. 610.
  145. Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 141-142.
  146. Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 142.
  147. Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 142.
  148. Lihat: Aria, Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami, 1382 HS, hlm. 201-202; Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 138.
  149. Lihat: Aria, Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami, 1382 HS, hlm. 201-202.
  150. Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 169-170.
  151. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 125.
  152. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 125.
  153. Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 255-256.
  154. Lihat: Aria, Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami, 1382 HS, hlm. 171.
  155. Aria, Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami, 1382 HS, hlm. 201.
  156. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 125; Aria, Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami, 1382 HS, hlm. 179.
  157. Dadbeh, Asy'ariyah, hlm. 738.
  158. Subhani, al-Ilahiyat, 1413 H, jld. 2, hlm. 35-37.
  159. Aria, Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami, 1382 HS, hlm. 201.
  160. Allah-Badashti, Khoday-e Salafiyah, 1393 HS, hlm. 155-156.
  161. Allah-Badashti, Khoday-e Salafiyah, 1393 HS, hlm. 284-285.
  162. Allah-Badashti, Khoday-e Salafiyah, 1393 HS, hlm. 159-160.
  163. Allah-Badashti, Khoday-e Salafiyah, 1393 HS, hlm. 294-315.
  164. Lihat: Rabbani Golpayegani, Firaq wa Madzahib-e Kalami, 1377 HS, hlm. 175.
  165. Lihat: Abedi, Tauhid wa Syirk dar Negah-e Syi'eh wa Wahabiyat, Penerbit Mas'yar, hlm. 83.
  166. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 113; Javadi Amuli, Tauhid dar Qur'an, 1395 HS, hlm. 603-606; Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 62.
  167. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 114.
  168. Mesbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqa'id, 1384 HS, hlm. 114.
  169. Soleimani Behbahani dan Latifi, "Itsbat-e Khoda", hlm. 165.
  170. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 18-19.
  171. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 67 dan 69.
  172. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 225-226.
  173. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 224-225; Syakerin, Ilhad-e Jadid, 1403 HS, hlm. 45.
  174. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 71; Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 251-254.
  175. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 89.
  176. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 171.
  177. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 175-177.
  178. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 231-234.
  179. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 179-184.
  180. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 242-246.
  181. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 248-251.
  182. Mutahhari, Illal-e Gerayesy beh Madi-gari, 1402 HS, hlm. 185-192; Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 254-257.
  183. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 224.
  184. Syakerin, Ilhad-e Jadid, 1403 HS, hlm. 43.
  185. Subhani, Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya, 1375 HS, hlm. 5.
  186. Mesbah Yazdi, Teologi, 1389 HS, hlm. 51.

Daftar Pustaka

  • Abedi, Ahmad. Tauhid wa Syirk dar Negah-e Syi'eh wa Wahabiyat (Tauhid dan Syirik dalam Pandangan Syiah dan Wahabi). Tehran, Penerbit Mas'yar, tanpa tahun.
  • Ali-Khani, Ismail. "Ilahiyat-e Salbi; Seyr-e Tarikhi wa Barresi-ye Didgah-ha" (Teologi Salbi; Sejarah dan Tinjauan Pandangan). dalam Ma'rifat-e Kalami, nomor 8, Musim Semi dan Musim Panas 1391 HS.
  • Allah-Badashti, Ali. Khoday-e Salafiyah (Tuhan Salafiyah). Qom, Kitab-e Thaha, cetakan pertama, 1393 HS.
  • Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Riset: Sayid Mehdi Rajai. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Amininejad, Ali; Babaei, Mehdi; Kermani, Alireza. Mabani wa Falsafah-ye Irfan-e Nazhari (Dasar dan Filsafat Irfan Teoritis). Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan pertama, 1390 HS.
  • Aria, Gholam-Ali. Tarikh-e Firaq-e Eslami wa Madzahib-e Kalami (Sejarah Sekte Islam dan Mazhab Kalam). Qom, Penerbit Paya, 1382 HS.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Tehran, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1380 H.
  • Borhan, Muhammad Husain bin Khalaf. Farhang-e Farsi-ye Borhan Qati' (Kamus Persia Borhan Qati'). Tehran, Penerbit Nima, 1380 HS.
  • Dadbeh, Asghar. "Asy'ariyah". dalam Daira al-Ma'arif Bozorg-e Eslami, jld. 8. Tehran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, cetakan pertama, 1377 HS.
  • Dehkhoda, Ali-Akbar. Lughatnameh-ye Dehkhoda. Tehran, Universitas Tehran, 1377 HS.
  • Fazhel Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Irsyad al-Thalibin ila Nahj al-Mustarsyidin. Riset: Mehdi Rajai. Qom, Perpustakaan Umum Hazrat Ayatollah al-Mar'asyi al-Najafi, cetakan pertama, 1405 H.
  • Hashemi, Mohammad Mansour. "Khoda (2)". dalam entri "Khoda", Ensiklopedia Dunia Islam (15). Tehran, Yayasan Ensiklopedia Islam, cetakan pertama, 1390 HS.
  • Hilli, Allamah. Manahij al-Yaqin fi Ushul al-Din. Tehran, Dar al-Uswah, cetakan pertama, 1415 H.
  • Hilli, Allamah. Nahj al-Haq wa Kasyf al-Sidq. Beirut, Dar al-Kitab al-Lubnani, cetakan pertama, 1982 M.
  • Ibnu Miatsam al-Bahrani, Miatsam bin Ali. Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam. Qom, Perpustakaan Ayatollah al-Mar'asyi al-Najafi, cetakan kedua, 1406 H.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. al-Syifa: al-Ilahiyat. Qom, Perpustakaan Ayatollah al-Mar'asyi al-Najafi, 1404 H.
  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. al-Ta'liqat. Riset: Abdurrahman Badawi. Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1404 H.
  • Javadi Amuli, Abdullah. Tauhid dar Qur'an (Tauhid dalam Al-Qur'an). Riset dan penyusunan: Haidar-Ali Ayyoubi. Qom, Pusat Penerbitan Isra, cetakan kedelapan, 1395 HS.
  • Jorjani, Mir Sayid Syarif. al-Ta'rifat. Tehran, Nashir Khosrow, cetakan keempat, 1370 HS.
  • Khazzaz Razi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar fi al-Nash 'ala al-A'immah al-Itsna Asyar. Riset: Abdul Lathif Husaini Kohkamari. Qom, Bidar, 1401 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Riset: Ali-Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Payam-e Qur'an (Pesan Al-Qur'an). Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kesembilan, 1386 HS.
  • Mesbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesh-e 'Aqa'id (Pembelajaran Akidah). Tehran, Perusahaan Percetakan dan Penerbitan Internasional, cetakan kedelapan belas, 1384 HS.
  • Mesbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesh-e Falsafah (Pembelajaran Filsafat). Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan keempat, 1394 HS.
  • Mesbah Yazdi, Muhammad Taqi. Teologi (Kumpulan Buku Pendidikan Ma'arif Qur'an). Riset dan peninjauan: Amir-Reza Asyrafi. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan pertama, 1389 HS.
  • Milani, Husain. Faratar az Irfan (Melampaui Irfan). Qom, Penerbit Ahd, 1382 HS.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim. Asrar al-Ayat wa Anwar al-Bayyinat. Tehran, Asosiasi Hikmah dan Filsafat Islam, cetakan pertama, 1360 HS.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim. al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1981 M.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Bidar, cetakan kedua, 1366 HS.
  • Mutahhari, Murtadha. Illal-e Gerayesy beh Madi-gari (Penyebab Kecenderungan pada Materialisme). Tehran, Penerbit Sadra, 1402 HS.
  • Mutahhari, Murtadha. Kulliyat-e Ulum-e Eslami (Kumpulan Ilmu-ilmu Islam). Tehran, Penerbit Sadra, 1402 HS.
  • Mutahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Tehran, Penerbit Sadra, 1390 HS.
  • Nafisi, Ali-Akbar. Farhang-e Nafisi (Kamus Nafisi). Tehran, Penerbit Khayyam, tanpa tahun.
  • Obudiyat, Abdul Rasul. Pembuktian Keberadaan Tuhan dengan Metode Aksioma (Itsbat-e Wujud-e Khoda beh Ravesy-e Asl-e Mauzu'i). Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1389 HS.
  • Qaramaleki, Muhammad Hasan Ghardan. Khoda dar Hikmat wa Syari'at (Tuhan dalam Hikmah dan Syariat). Tehran, Lembaga Penelitian Kebudayaan dan Pemikiran Islam, cetakan pertama, 1386 HS.
  • Rabbani Golpayegani, Ali. "Ilahiyat". dalam Ensiklopedia Kalam Islam, jld. 1. Di bawah pengawasan Ja'far Subhani. Qom, Lembaga Imam Shadiq (as), cetakan pertama, 1387 HS.
  • Rabbani Golpayegani, Ali. Aqa'id-e Estedlali 1 (Akidah Argumentatif 1). Qom, Penerbit Hajar, cetakan keenam, 1393 HS.
  • Rabbani Golpayegani, Ali. Firaq wa Madzahib-e Kalami (Sekte dan Mazhab Kalam). Qom, Pusat Internasional Ilmu Islam, 1377 HS.
  • Sa'idimehr, Muhammad. Amuzesh-e Kalam-e Eslami 1 (Pembelajaran Ilmu Kalam Islam 1). Qom, Kitab-e Thaha, cetakan keenam, 1388 HS.
  • Salawati, Abdullah. "Khoda dar Falsafah-ye Eslami" (Tuhan dalam Filsafat Islam). dalam entri "Khoda", Ensiklopedia Besar Islam, jld. 22. Tehran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, cetakan pertama, 1394 HS.
  • Soleimani Behbahani, Abdul Rahim dan Latifi, Rahim. "Itsbat-e Khoda" (Pembuktikan Tuhan). dalam Ensiklopedia Kalam Islam, jld. 1. Di bawah pengawasan Ja'far Subhani. Qom, Lembaga Imam Shadiq (as), cetakan pertama, 1387 HS.
  • Subhani, Ja'far. Jalan Teologi dan Mengenal Sifat-sifat-Nya (Rah-e Khodasyenasi wa Syenakht-e Sifat-e Ou). Qom, Maktab-e Eslam, 1375 HS.
  • Subhani, Ja'far. Mafahim al-Qur'an. Qom, Lembaga Imam Shadiq (as), 1421 H.
  • Subhani, Ja'far. al-Ilahiyat 'ala Huda al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Aql. Qom, Lembaga Imam Shadiq (as), 1413 H.
  • Subhani, Muhammad Taqi dan Berenjkar, Reza. Ma'arif wa 'Aqa'id 3 (Pembelajaran dan Keyakinan 3). Qom, Pusat Manajemen Hauzah Ilmiah, 1395 HS.
  • Syakerin, Hamid Reza. Ilhad-e Jadid (Ateisme Baru). Tehran, Lembaga Penelitian Kebudayaan dan Pemikiran Islam, 1403 HS.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahjul Balaghah. Koreksi Subhi Shalih. Qom, Hijrat, cetakan pertama, 1414 H.
  • Syeikh Saduq, Muhammad bin Ali. al-Tauhid. Qom, Jami'ah al-Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1398 H.
  • Syeikh Saduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syara'i. Qom, Toko Buku Dawari, cetakan pertama, 1385 HS/1966 M.
  • Taftazani, Mas'ud bin Umar. Syarh al-Aqa'id al-Nasafiyyah. Kairo, al-Maktabah al-Azhariyah li al-Turats, cetakan pertama, 1421 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1390 H.
  • Thusi, Khwaja Nasiruddin. Talkhish al-Muhashshal. Beirut, Dar al-Adhwa, 1405 H/1985 M.
  • Thusi, Khwaja Nasiruddin. Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat. Qom, Penerbit al-Balaghah, cetakan pertama, 1375 HS.