Konsep:Pembuktian Eksistensi Tuhan'
| Ma'rifatullah | |
|---|---|
| Tauhid | Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah |
| Furu' | Tawasul • Syafa'at • Tabarruk • |
| Keadilan Ilahi | |
| Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amrun bainal Amrain • | |
| Kenabian | |
| Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran | |
| Imamah | |
| Keyakinan-keyakinan | Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah |
| Para Imam | |
| Ma'ad | |
| Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirath • Tathayur al-Kutub • Mizan • Akhirat | |
| Permasalahan Terkemuka | |
| Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja' Taklid | |
Pembuktian Eksistensi Tuhan merupakan salah satu topik dalam teologi yang bermakna menetapkan keberadaan Allah swt. Iman kepada eksistensi Tuhan dianggap sebagai salah satu keyakinan dasar agama. Sebagian orang menganggap kecenderungan dan hasrat kepada Tuhan sebagai perkara yang fitri, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan akal dari sisi menolak mudarat besar yang mungkin terjadi atau kewajiban mensyukuri Pemberi Nikmat.
Mengenai pembuktian eksistensi Tuhan dalam Al-Qur'an al-Karim, sebagian orang berpandangan bahwa Al-Qur'an menganggap eksistensi Tuhan sebagai sesuatu yang sudah pasti (aksiomatik) dan diandaikan (presuposisi), sehingga tidak ada pembicaraan khusus untuk membuktikan Tuhan. Namun di sisi lain, Al-Qur'an dianggap telah melakukan pembuktian Tuhan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam riwayat-riwayat yang dinukil dari para Imam Syiah, terdapat argumentasi-argumentasi untuk membuktikan Tuhan. Karena secara logis penerimaan ayat dan riwayat berada setelah pembuktian Tuhan, maka tinjauan terhadap dalil-dalil naqli dilakukan dari sisi pemahaman argumentasi akalnya, bukan penerimaan secara ta'abbudi (doktriner).
Para penganut teisme (orang yang percaya Tuhan) meyakini eksistensi Tuhan dapat dibuktikan. Mereka membuktikan Tuhan melalui jalan fitrah, intuisi (syuhudi) dan mistisisme praktis, akal dan argumentasi filosofis, moral, serta ilmiah. Sebaliknya, para ateis (orang yang tidak percaya Tuhan) menganggap Tuhan tidak dapat dibuktikan dan bersandar pada alasan-alasan seperti keniscayaan logis, pembatasan pembuktian hanya pada dalil-dalil empiris, serta adanya kontradiksi dalam sifat-sifat yang dinisbatkan kepada Tuhan.
Telah banyak karya yang ditulis mengenai pembuktian eksistensi Tuhan, di antaranya adalah buku Tabyin Barahin Isbat Khuda (Penjelasan Argumen-argumen Pembuktian Tuhan) karya Abdullah Javadi Amoli, seorang filsuf dan marja taklid Syiah.
Urgensi dan Keniscayaan
Iman kepada Tuhan dianggap sebagai keyakinan manusia yang paling esensial, yang dari sudut pandang individu memberikan ketenangan bagi jiwa dan raga serta menjadi sandaran bagi keutamaan moral. Dari sudut pandang sosial, ia menjadi penjamin bagi tegaknya keadilan dan hukum serta tercapainya hak-hak setiap individu. [1] Munculnya keberatan-keberatan mendasar dari pihak ateis di masa sekarang yang mempertanyakan prinsip eksistensi Tuhan dianggap sebagai salah satu alasan mendesaknya pendalaman teologi. [2]
Berpikir dan merenung terkait Tuhan dianggap sebagai perkara fitri yang dicenderungi oleh manusia karena memiliki kecenderungan fitrah dan kekuatan akal. [3] Manusia secara fitri cenderung mencari sebab dari fenomena-fenomena, dan dalam konteks ini, ia mencari penyebab yang dapat menjelaskan kemunculan alam semesta. [4]
Selain itu, para teolog Syiah mengemukakan alasan lain mengenai urgensi pembahasan eksistensi Tuhan:
- Menolak mudarat yang mungkin terjadi: Jika Tuhan itu ada dan kita tidak mencari makrifat tentang-Nya, maka terdapat kemungkinan bahaya besar. Sebab jika Tuhan itu ada dan Dia memerintahkan untuk mengenal-Nya serta memberikan kewajiban-kewajiban, kita akan tertimpa azab jika melalaikan perintah tersebut. [5]
- Kewajiban mensyukuri Pemberi Nikmat: Jika Tuhan itu ada dan Dia adalah sumber eksistensi kita serta seluruh makhluk, maka secara akal, kita wajib bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, pembuktian dan pengenalan terhadap Tuhan adalah hal yang mendesak. [6]
Pembuktian Eksistensi Tuhan dalam Sumber-Sumber Nukli
Menurut Mohammad Hasan Qadardan Qaramaleki, terdapat tiga teori mengenai pembuktian Tuhan dalam Al-Qur'an:
- Pengandaian Eksistensi Tuhan dan Tiadanya Argumentasi: Berdasarkan pandangan ini, karena audiens awal Al-Qur'an—sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ankabut ayat 61—sudah meyakini Tuhan dan asal mula penciptaan, maka Al-Qur'an menganggap eksistensi Tuhan sebagai sesuatu yang sudah pasti dan hanya membahas tentang keesaan (tauhid) serta penafian syirik. [7]
- Argumentasi Eksplisit dan Independen: Berdasarkan teori ini, Al-Qur'an berbicara secara eksplisit mengenai pembuktian Tuhan dan mengemukakan alasan-alasannya dalam bentuk yang sederhana dan sesuai dengan pemahaman audiens. [8] Para pendukung teori ini bersandar pada Surah Ibrahim ayat 9 hingga 11, Surah At-Tur ayat 35, 36, dan 43, Surah Fussilat ayat 53, serta Surah Al-An'am ayat 76. [9]
- Argumentasi Tidak Langsung: Sebagian berpendapat bahwa karena prinsip eksistensi Tuhan sudah dianggap pasti, Al-Qur'an tidak berargumentasi secara langsung. Namun secara implisit dan tidak langsung, beberapa ayat Al-Qur'an meniscayakan pembuktian Tuhan. [10]
Dalam riwayat-riwayat para Imam Syiah juga dikemukakan argumen-argumen bagi eksistensi Tuhan. Sebagai contoh, dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq (as) bersandar pada fakta bahwa kita tidak bisa menjadi pencipta bagi diri kita sendiri, sehingga kita memiliki pencipta selain diri kita, dan Dialah Tuhan. [11] Dalam riwayat lain yang dinukil dari Imam Ridha (as), beliau menyatakan bahwa engkau tadinya tidak ada dan engkau tidak menciptakan dirimu sendiri, maka sosok yang menciptakanmu tidak mungkin sepertimu (sebagai akibat/ma'lul dan butuh kepada sebab). [12]
Mohammad Mohammadi Reysyahri dalam menanggapi keberatan bahwa mengenal Tuhan dari sumber nukli (naqli) bergantung pada pembuktian Tuhan itu sendiri, menyatakan bahwa dalam kelompok ayat dan riwayat ini, yang dimaksud bukanlah penerimaan isi secara ta'abbudi, melainkan penekanan pada perhatian dan ketajaman akal terhadap isi ayat serta riwayat tersebut sebagai sebuah argumentasi intelektual. [13]
Ketersediaan atau Ketidaktersediaan Pembuktian Eksistensi Tuhan
Salah satu pembahasan yang dikemukakan terkait pembuktian Tuhan adalah kemungkinan membuktikan eksistensi Tuhan itu sendiri. [14] Pendapat para pemikir mengenai ketersediaan pembuktian eksistensi Tuhan berbeda-beda. [15] Sebagian menganggap eksistensi Tuhan secara umum dapat dibuktikan dan telah terbukti. [16] Sebagian tidak menafikan ketersediaan pembuktian Tuhan, namun mereka tidak menerima argumen-argumen pembuktian eksistensi Tuhan yang ada dan mengkritiknya. [17] Sebagian secara umum menganggap Tuhan tidak dapat dibuktikan dan berupaya mengemukakan argumen untuk menafikan eksistensi Tuhan. [18]
Ketersediaan Pembuktian Eksistensi Tuhan
"Isbat" (Pembuktian) dimaknai sebagai menetapkan dan memantapkan sesuatu. [19] Menurut John Hick, filsuf agama, ketika berbicara tentang pembuktian, yang dimaksud bukanlah pembuktian logis dan keniscayaannya, melainkan penghilangan landasan keraguan yang masuk akal, dalam arti bahwa bukti-bukti yang ada mencapai tingkat di mana keraguan yang masuk akal tidak lagi mungkin terjadi. [20] Di sisi lain, dinyatakan bahwa keyakinan psikologis terbentuk di bawah pengaruh subjektivitas dan kebiasaan etnis sehingga tidak dapat dipercayai sepenuhnya. [21]
Abdul Husain Khosropanah menganggap penjelasan konsep dalam pembuktian Tuhan sebagai perkara penting. [22] Harus jelas apakah yang sedang dibahas pembuktian atau penafiannya adalah Tuhan menurut Islam, Tuhan menurut Kristen, atau konsep-konsep lain yang ada sebagai konsep Tuhan. [23]
Terkait ketersediaan pembuktian Tuhan, diklaim bahwa konsep Tuhan sebagai wujud yang memiliki segala kesempurnaan dan merupakan Wajib al-Wujud tidak mengandung kemustahilan logis. [24] Dari sisi ini, pengingkar eksistensi Tuhan pertama-tama harus menolak semua alasan eksistensi Tuhan kemudian memberikan alasan atas ketiadaan Tuhan, namun hal semacam itu belum pernah terjadi hingga saat ini dan eksistensi Tuhan secara logis dapat dibuktikan. [25]
Ketidaktersediaan Pembuktian Eksistensi Tuhan
Beberapa argumen menganggap Tuhan secara umum tidak dapat dibuktikan, dan beberapa argumen lainnya menganggap pembuktian Tuhan dalam ranah tertentu adalah mustahil. [26] Kelompok ini menyebutkan beberapa alasan untuk memperkuat klaim mereka:
- Menukil dari David Hume, filsuf Inggris, sebagaimana eksistensi Tuhan itu mungkin, maka ketiadaan-Nya pun mungkin. [27] Dengan kata lain, tidak ditemukan wujud apa pun yang ketiadaannya mengandung kontradiksi, maka Tuhan tidak dapat dibuktikan. [28] Dalam kritik terhadap argumen ini dinyatakan bahwa wujud "mungkin" (kontingen) yang ketiadaannya tidak mengakibatkan kemustahilan adalah mungkin dalam makna khusus yang tidak memiliki keniscayaan eksistensi maupun ketiadaan. [29] Jika akal dapat membuktikan Wajib al-Wujud—yang eksistensinya adalah niscaya—maka ketiadaan wujud semacam itu adalah mustahil. [30]
- Para empiris meyakini bahwa Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui indra, dan segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan dengan indra maka tidak dapat dibuktikan sama sekali. [31] Argumentasi ini dikritik dengan membuktikan kesalahan sensasionalisme serta batilnya pembatasan makrifat manusia hanya pada indra dan pengalaman empiris. [32]
- Para evidensialis berpandangan bahwa karena tidak ada bukti (evidensi) yang cukup untuk menerima Tuhan, maka meyakini Tuhan adalah tidak masuk akal, tidak bertanggung jawab, dan tidak sesuai dengan kriteria epistemologis. [33]
- Beberapa alasan lain mengenai ketidaktersediaan pembuktian Tuhan bersandar pada adanya ketidakselarasan di antara sifat-sifat Tuhan. [34] Sebagai contoh, sebagian menganggap sifat "tak terbatas" pada Tuhan—karena perangkat makrifat manusia terbatas—menyebabkan pembuktiannya menjadi mustahil. [35] Dalam kritik terhadap argumen ini dinyatakan bahwa yang mustahil adalah mengetahui hakikat esensi Tuhan secara mendalam, dalam arti manusia memiliki penguasaan ilmu terhadap esensi Zat Tuhan, namun pembuktian eksistensi Tuhan itu sendiri tidaklah mustahil. [36]
- Dalam argumen lainnya, ilmu mutlak Tuhan dianggap bertentangan dengan kebebasan berkehendak (ikhtiar), dalam arti jika Tuhan memiliki ilmu, maka saya tidak memiliki ikhtiar; karena Tuhan tahu persis apa yang akan saya lakukan. Namun karena kita pasti memiliki ikhtiar, maka Tuhan yang semacam itu tidak mungkin ada. [37] Dalam menjawab argumen ini dinyatakan bahwa ilmu mutlak Tuhan tidak bertentangan dengan ikhtiar kita, dan Tuhan juga memiliki ilmu terhadap kehendak kita serta mengetahui apa yang akan kita lakukan dengan kehendak kita sendiri. [38]
- Demikian pula, eksistensi Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan Maha Baik dianggap tidak selaras dengan keberadaan kejahatan (syurur) di alam. [39] Dalam arti jika Tuhan tidak tahu, tidak mampu, atau tidak mau agar kejahatan ini tidak ada, maka Tuhan dengan sifat ilmu, kuasa, dan kebaikan mutlak tidaklah ada. [40] Berbagai jawaban telah dikemukakan terhadap ketidakselarasan kejahatan dengan eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Di antaranya dikatakan bahwa keberadaan sebagian kejahatan (kejahatan moral) bersumber dari ikhtiar manusia, dan sebagian lainnya (kejahatan alam) merupakan konsekuensi yang tak terpisahkan dari dunia materi ini, atau sifat kejahatannya bersifat relatif dan dibandingkan dengan hal-hal lain. Oleh karena itu, kejahatan tidak bertentangan dengan ilmu, kuasa, dan kebaikan murni Tuhan. [41]
Jalan-Jalan Pembuktian Eksistensi Tuhan
Templat:Utama Pihak-pihak yang menganggap Tuhan dapat dibuktikan mengemukakan beberapa jalan:
Pembuktian Fitri Tuhan
Fitrah dipahami sebagai karakteristik khusus ciptaan manusia yang membedakannya dari makhluk lainnya. [42] Menurut Mulla Sadra, manusia dalam kesulitan dan masalah akan berpaling kepada Penyebab dari segala sebab (Musabbib al-Asbab) dan sosok yang memiliki kekuatan untuk menyelesaikan masalah, dan ini menunjukkan eksistensi Tuhan. [43] Menurut pandangan Imam Khomeini, cinta kepada kesempurnaan mutlak ada dalam diri semua manusia, dan cinta fitri ini menunjukkan eksistensi Kesempurnaan Mutlak atau Tuhan itu sendiri. [44]
John Locke, filsuf Inggris abad ke-17 M, menyatakan bahwa makrifat kepada Tuhan tidak bisa bersifat fitri, sebab jika demikian, semua manusia dalam segala kondisi harus memiliki kecenderungan teologi, padahal kenyataannya tidaklah demikian. [45] Murtadha Mutahhari dalam jawabannya mengatakan bahwa tidak ada satu pun kecenderungan fitri manusia yang membuatnya terus-menerus sibuk dengannya dalam semua keadaan. Selain itu, perkara-perkara yang dicenderungi manusia sangatlah beragam, dan kesibukan pada sebagian darinya akan mengurangi intensitas pada yang lain. [46]
Pembuktian Syuhudi Tuhan
Syuhud (intuisi) dan pengalaman langsung terhadap Tuhan dianggap sebagai salah satu jalan pembuktian Tuhan. [47] Dalam jalan ini, individu menempuh jalur makrifat Tuhan dengan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan penjernihan batin, sehingga ia dapat merasakan hakikat eksistensi dan Tuhan. [48] Jalan ini dianggap sebagai penguatan dari hasrat fitri kepada Allah swt. [49] Meskipun jalan ini dianggap sangat bernilai untuk mengenal Tuhan, namun pembuktian akal terhadap Tuhan dianggap lebih didahulukan darinya. [50] Beberapa penganut mistisisme dan syuhud menganggap jalan akal tidak cukup untuk mengenal Tuhan dan menekankan pada penjernihan batin serta intuisi hakikat untuk merasakan Tuhan. [51] Ain al-Qudhat Hamadani meskipun tidak mengingkari bahwa akal diciptakan untuk memahami perkara-perkara rumit, namun ia menganggap batasnya terbatas dan tidak boleh melampauinya. [52] Menurut pandangan Abdullah Javadi Amoli, jika jalan makrifat Tuhan hanya dibatasi pada syuhud, maka secara tidak sadar kita telah merusak fondasi tauhid, karena kita tidak menyisakan jalan apa pun untuk pembuktian rasional bagi tauhid. [53] Selain itu, klaim syuhudi harus diukur dengan standar rasional, jika tidak, bisa saja seseorang mengklaim memiliki syuhud atas kesyirikan. [54]
Abdurrazzaq Lahiji, salah seorang teolog Syiah, dengan menjelaskan jalan batin dan internal di samping jalan lahiriah dan akal untuk makrifat Tuhan, menganggap jalan argumentatif lebih didahulukan daripada jalan batin; sebab sebelum menempuh jalan dan sampai ke tempat tujuan, keberadaannya harus sudah terbukti terlebih dahulu. [55] Ia juga menganggap klaim tasawuf dan irfan sebelum kokohnya ilmu hikmah dan kalam sebagai sebuah pembodohan publik. [56]
Pembuktian Intelektual Tuhan
Jalan akal merupakan salah satu jalan pembuktian dan pengenalan Tuhan yang memiliki keutamaan dibandingkan jalan-jalan lainnya; karena akal dimiliki bersama oleh semua manusia dan eksistensi Tuhan dapat dirujuk tanpa prasyarat apa pun. [57] Meskipun tulisan-tulisan kalam yang luas dalam Kalam Imamiyah yang berkaitan dengan paruh kedua abad keempat dan paruh pertama abad kelima Hijriah dinisbatkan kepada para teolog Baghdad seperti Syekh Mufid dan Sayid Murtadha, namun penelusuran dalam warisan hadis Syiah dan risalah-risalah singkat para teolog sebelum Madrasah Kalam Baghdad memberikan bukti penggunaan dalil-dalil akal untuk membuktikan Tuhan. [58]
Argumen-argumen Pembuktian Eksistensi Tuhan dibagi menjadi berbagai macam, yang oleh Mohammad Taqi Misbah Yazdi dikelompokkan ke dalam tiga kategori umum:
- Argumen-argumen yang dikemukakan melalui jalan observasi terhadap jejak dan tanda-tanda Ilahi di alam semesta, seperti Argumen Desain (Burhan Nazm) yang di dalamnya melalui keselarasan, proporsionalitas fenomena, serta adanya rancangan, tujuan, dan pengaturan yang bijaksana, dibuktikan adanya Desainer yang Bijaksana dan Pengatur yang Maha Mengetahui bagi alam semesta. [59] Menurut keyakinannya, alasan-alasan ini meskipun menyenangkan dan dalam beberapa kasus meyakinkan, namun sebenarnya tidak menjawab semua pertanyaan dan lebih berperan dalam membangkitkan fitrah. [60]
- Alasan-alasan yang membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Kaya (tidak butuh) melalui jalan kebutuhan alam semesta, seperti Argumen Kebaruan (Burhan Huduts) dan Argumen Gerak (Burhan Harakat) yang melalui jalan didahuluinya fenomena oleh ketiadaan atau kebutuhan gerak kepada Penggerak, membuktikan kebutuhan esensial mereka dan membuktikan Tuhan Yang Maha Kaya serta Penggerak Yang Tak Tergerak. [61] Alasan-alasan ini membutuhkan premis-premis indrawi dan empiris untuk membuktikan Tuhan. [62]
- Argumentasi-argumentasi yang terdiri dari premis-premis akal murni, seperti Argumen Kemungkinan dan Keniscayaan (Burhan Imkan wa Wujub) dan Argumen ash-Shiddiqin (Burhan Siddiqin). [63] Argumen-argumen ini tidak membutuhkan premis-premis indrawi dan empiris. [64]
Kaum tekstualis (Zhahiriyah) dan di antaranya Ibnu Taimiyah dengan bersandar pada aspek lahiriah ayat dan riwayat, menganggap argumentasi intelektual terhadap eksistensi Tuhan sebagai perkara yang salah dan tidak terpuji. Mereka menyatakan bahwa metode ini tidak disetujui oleh Tuhan dalam Al-Qur'an, dan para nabi Allah menekankan eksistensi Tuhan dengan bersandar pada faktor-faktor alamiah. [65]
Beberapa Muslim seperti Muhammad Iqbal Lahori dan Mehdi Bazargan menganggap jalan intelektual yang abstrak untuk membuktikan Tuhan sebagai hal yang salah dan berkeyakinan bahwa Tuhan dapat dikenal lebih baik melalui jalan-jalan empiris. [66]
Para filsuf dengan menafikan batasan dan esensi (mahiyah) bagi Tuhan, berkeyakinan bahwa Tuhan tidak dapat diberikan argumen (demonstrasi). [67] Pertentangan ucapan para filsuf ini dengan argumentasi yang mereka kemukakan untuk membuktikan Tuhan dijelaskan dengan alasan bahwa maksud mereka adalah mustahilnya pembuktian dengan Demonstrasi Propter Quid (Burhan Lammi) yang di dalamnya bergerak dari sebab ke akibat, atau maksud mereka adalah tidak adanya pembuktian Tuhan secara personal (individu); sebab dalam argumentasi intelektual yang terbukti adalah konsep-konsep universal, dan makrifat terhadap Tuhan secara personal tidak mungkin terjadi kecuali melalui ilmu hudhuri. [68] Alasan lain juga dikemukakan bahwa dalam argumen-argumen pembuktian Tuhan, pada hakikatnya karakteristik bagi makhluklah yang dibuktikan. [69] Seperti kebutuhan untuk memiliki sebab, kebutuhan untuk memiliki penggerak, dan sebagainya, yang darinya eksistensi Tuhan merupakan konsekuensinya dan terbukti secara tidak langsung. [70]
Alvin Plantinga, filsuf agama Amerika, juga tidak menerima argumen-argumen pembuktian Tuhan dengan penjelasan epistemologisnya. Ia berkeyakinan bahwa eksistensi Tuhan adalah sebuah keyakinan dasar (basic belief) yang menjadi bagian dari fondasi epistemologis manusia dan tidak dapat dibuktikan berdasarkan pengetahuan lainnya. [71]
Pembuktian Tuhan melalui Akhlak dan Akal Praktis
Sebagian orang berupaya membuktikan Tuhan melalui moral dan hukum-hukum moral, yang dikenal dengan Argumen Moral. [72] Sejarah jenis pembuktian Tuhan semacam ini dianggap berasal dari masa Immanuel Kant, filsuf Jerman, yang menganggap akal teoretis tidak mampu membuktikan Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan dapat dicapai melalui moral dan akal praktis. [73] Argumen moral Kant dijelaskan sedemikian rupa bahwa manusia memiliki hasrat batin menuju kebahagiaan, dan harus terdapat hubungan objektif serta niscaya antara kebahagiaan dengan kebajikan—yaitu perbuatan yang benar secara moral—artinya manusia mencapai kebahagiaan dengan memperoleh keutamaan moral. [74] Bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan keutamaan moral tidak mungkin berakar pada manusia, karena manusia bukan pencipta alam, maka harus ada Tuhan Sang Pencipta yang menciptakan keniscayaan ini. [75]
Terhadap argumentasi ini dikemukakan beberapa keberatan, di antaranya adalah bahwa argumentasi ini tidak dapat mengambil kesimpulan mengenai "ada" dari premis-premis yang mengandung proposisi "seharusnya". [76]
Pembuktian Ilmiah Tuhan
Sebagian berpandangan bahwa perhatian terhadap hukum-hukum ilmiah membuktikan eksistensi Tuhan. [77] Dari Lord Kelvin, matematikawan dan fisikawan Irlandia-Skotlandia, dinukil bahwa jika Anda berpikir dengan baik dalam sains, ia akan memaksa Anda untuk beriman kepada Tuhan. [78] Diklaim bahwa jika para ilmuwan ilmu alam mempelajari alasan-alasan ilmiah untuk membuktikan Tuhan dengan cara yang sama seperti mereka mempelajarinya untuk mengambil kesimpulan ilmiah, mereka pasti akan mengakui eksistensi Tuhan. [79] Dinyatakan juga bahwa dengan tinjauan ilmiah terhadap alam semesta dan hukum-hukum yang berlaku di alam, harus diakui bahwa di balik hukum-hukum yang presisi ini, terdapat kekuatan intelektual yang menciptakan alam ini dengan hikmah-Nya. [80] Prinsip-prinsip dasar sains juga dianggap menunjukkan eksistensi Tuhan; [81] sedemikian rupa sehingga jika seseorang menerima adanya hukum-hukum tetap ilmiah yang dapat diprediksi namun mengingkari eksistensi Tuhan, ia akan terjebak dalam kontradiksi terbesar. [82]
Menurut pandangan sebagian orang, sains semata tidak dapat membuktikan eksistensi Tuhan; namun dengan ditambahkannya kaidah-kaidah akal seperti keniscayaan sebab efisien bagi setiap fenomena serta pembatalan daur (sirkular) dan tasalsul (regresi tak terbatas), klaim kaum materialis dan ateis yang menyatakan bahwa alam semesta terjadi karena kebetulan akan tertolak. [83]
Sayid Muhammad Baqir al-Sadr, berdasarkan metode ilmiah induktif yang berpijak pada kalkulasi probabilitas, mengemukakan sebuah argumentasi untuk membuktikan Tuhan. [84] Beliau mengemukakan argumentasi ini dalam lima langkah:
- Dengan observasi indrawi, kita melihat berbagai karakteristik alam semesta, termasuk galaksi, matahari, karakteristik tubuh manusia, dan keselarasan di antara mereka. [85]
- Dengan observasi karakteristik dan keselarasan ini, muncul kemungkinan kuat bahwa keselarasan di antara wujud-wujud alam semesta ini bersumber dari Pencipta Yang Bijaksana yang menciptakan mereka dengan suatu tujuan. [86]
- Kemungkinan lainnya adalah keselarasan yang ada di alam semesta ini bersumber dari sebuah kebetulan dan tidak ada tujuan apa pun dalam sistem makhluk ini. [87] Dengan penelitian lebih lanjut terhadap kemungkinan ini dan perhatian terhadap keselarasan yang ada di antara makhluk, kemungkinan ini menjadi melemah. [88]
- Dengan meneliti probabilitas-probabilitas yang dikemukakan, teori eksistensi Pencipta Yang Bijaksana menjadi lebih unggul. [89]
- Dengan menghubungkan keunggulan ini pada kemungkinan yang dikemukakan pada langkah ketiga, kebenaran kemungkinan tersebut semakin menurun hingga mencapai tingkat di mana kita sampai pada keyakinan pasti bahwa kemungkinan yang dikemukakan pada langkah ketiga tertolak, dan alam semesta ini pasti diciptakan oleh Pencipta Yang Bijaksana. [90]
Bibliografi Pembuktian Eksistensi Tuhan
Banyak buku telah ditulis terkait pembuktian eksistensi Tuhan, di antaranya adalah:
- Tabyin Barahin Isbat Khuda karya Abdullah Javadi Amoli. Mengenai karakteristik yang disebutkan untuk buku ini, selain kedalaman filosofisnya, disebutkan juga mengenai kebebasan berpikir penulis dan penyampaian yang tidak fanatik dalam menjelaskan argumentasi pembuktian Tuhan. [91] Dalam buku yang terdiri dari satu pendahuluan dan 12 bab ini, sepuluh argumentasi untuk membuktikan Tuhan dijelaskan dan dikaji. [92]
- Isbat Khuda (Pembuktian Tuhan) karya Sayid Muhammad Baqir al-Sadr. [93]
- Tauhid-e Nab: Barresi-ye Adelle-ye Isbat-e Wujud-e Khuda (Tauhid Murni: Kajian Dalil-dalil Pembuktian Eksistensi Tuhan), Hossein Syams. [94]
- Isbat-e Wujud-e Khuda be Ravesy-e Ashl-e Mauzhu'i (Pembuktian Eksistensi Tuhan dengan Metode Aksiomatik), Abdurrasul Ubudiyat. [95]
- Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda (Kritik terhadap Ketidaktersediaan Pembuktian Eksistensi Tuhan), Askari Sulaimani Amiri. [96]
Khuda ra Chegoune Mitawanim Isbat Konim? (Bagaimana Kita Bisa Membuktikan Tuhan?) karya Hasan Mobini, [97] Isbat al-Wajib Ta'ala (Pembuktian Wajib al-Wujud) karya Ahmad bin Ibrahim al-Husaini, [98] Tauhid-e Ilmi: Wujud-e Isbat-e Khuda (Tauhid Ilmiah: Eksistensi Pembuktian Tuhan) disusun oleh Ali Wafapour, [99] dan Isbat-e Wujud-e Khuda (Pembuktian Eksistensi Tuhan) dari Sayid Amir Abbas Ehterami [100] adalah buku-buku lain mengenai topik ini.
Catatan Kaki
- ↑ Tabataba'i, Ushul-e Falsafe wa Ravesh-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 44-45.
- ↑ Ubudiyat dan Misbah, Khudashenasi, 1398 HS, hlm. 25.
- ↑ Tabataba'i, Ushul-e Falsafe wa Ravesh-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 42.
- ↑ Tabataba'i, Ushul-e Falsafe wa Ravesh-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 40.
- ↑ Ibnu Maitsam Bahrani, Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam, 1406 H, hlm. 28.
- ↑ Ibnu Maitsam Bahrani, Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam, 1406 H, hlm. 28.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Isbat Khuda dar Qur'an Karim", hlm. 60.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Isbat Khuda dar Qur'an Karim", hlm. 61-65.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Isbat Khuda dar Qur'an Karim", hlm. 61-65.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Isbat Khuda dar Qur'an Karim", hlm. 65.
- ↑ Syekh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 290.
- ↑ Syekh Saduq, al-Tauhid, 1398 H, hlm. 293.
- ↑ Mohammadi Reysyahri, Danisy-nameh-ye Aqa'id-e Eslami, 1386 HS, hlm. 11-12.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80; Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 161.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80; Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 162.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80; Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 162.
- ↑ "Makna Isbat", Kamus Dehkhoda.
- ↑ Hick, "Isbat-pazhiri-ye Gozare-ha-ye Dini", hlm. 102-103.
- ↑ Javadi Amoli, Tabyin Barahin Isbat Khuda, 1386 HS, hlm. 78.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80.
- ↑ Khosropanah, "Delalat-e Mo'jezat bar Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 80.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 162-163.
- ↑ Conway IVY, "the absoluteness of the certainty of God's existence", hlm. 226.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 176.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 177.
- ↑ Geisler, Falsafe-ye Din, 1375 HS, jld. 1, hlm. 123.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 177.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 178.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 178-198.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 178-198.
- ↑ Plantinga, "Apakah Keyakinan kepada Tuhan Benar-benar Dasar?", hlm. 49.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 233.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 233.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 234.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 249.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 249.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 249.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 249.
- ↑ Sulaimani Amiri, Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, 1388 HS, hlm. 249.
- ↑ Syahid Mutahhari, Majmu'e-ye Atsar, 1374 HS, jld. 3, hlm. 602; Javadi Amoli, "Fitrat dar Ayineh-ye Qur'an", hlm. 7.
- ↑ Sadr al-Din Syirazi, al-Mabda' wa al-Ma'ad, 1354 HS, hlm. 23.
- ↑ Musawi Khomeini, Syarh-e Chehel Hadits, 1380 HS, hlm. 184.
- ↑ Edwards, Khuda dar Falsafe, 1371 HS, hlm. 138.
- ↑ Tabataba'i, Ushul-e Falsafe wa Ravesh-e Realism, 1390 HS, jld. 5, hlm. 41.
- ↑ Sulaimani Amiri, "Syuhud-e Khuda Barhan-e Khuda", hlm. 62.
- ↑ Ubudiyat dan Misbah, Khudashenasi, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Ubudiyat dan Misbah, Khudashenasi, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Ubudiyat dan Misbah, Khudashenasi, 1398 HS, hlm. 32.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Naqd-e Nazariye-ye Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda", hlm. 185-186.
- ↑ Ain al-Qudhat Hamadani, Syakwa al-Gharib an al-Awthan ila Ulama al-Buldan, 1962 M, hlm. 48.
- ↑ Javadi Amoli, Tabyin Barahin Isbat Khuda, 1386 HS, hlm. 115.
- ↑ Javadi Amoli, Tabyin Barahin Isbat Khuda, 1386 HS, hlm. 115.
- ↑ Lahiji, Gohar-e Morad, 1383 HS, hlm. 34.
- ↑ Lahiji, Gohar-e Morad, 1383 HS, hlm. 38.
- ↑ Ubudiyat dan Misbah, Khudashenasi, 1398 HS, hlm. 33.
- ↑ Ata'i Nazhari, "Seir-e Tathawwur-e Barhan-e Huduts wa Qidam dar Kalam-e Imamiyah az Aghaz ta Maktab-e Baghdad-e Mutaqaddim", hlm. 7.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 421.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 421.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 421.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 421.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 421-422.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 422.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Naqd-e Nazariye-ye Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda", hlm. 184.
- ↑ Qadardan Qaramaleki, "Naqd-e Nazariye-ye Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda", hlm. 184-185.
- ↑ Ibnu Sina, al-Ilahiyat min Kitab al-Syifa', 1376 HS, hlm. 371; Sadr al-Din Syirazi, al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, 1368 HS, jld. 1, hlm. 53; Mirdamad, Mushannafat-e Mir Damad, 1381 HS, jld. 1, hlm. 147.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 415; Qadardan Qaramaleki, "Naqd-e Nazariye-ye Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda", hlm. 199-200.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 415.
- ↑ Misbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafe, 1398 HS, jld. 2, hlm. 415.
- ↑ Plantinga, "Apakah Keyakinan kepada Tuhan Masuk Akal?", hlm. 45-46.
- ↑ Mohammad Rezhai, "Barhan-e Akhlaqi-ye Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 89-90.
- ↑ Mohammad Rezhai, "Barhan-e Akhlaqi-ye Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 90.
- ↑ Mohammad Rezhai, "Barhan-e Akhlaqi-ye Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 94.
- ↑ Mohammad Rezhai, "Barhan-e Akhlaqi-ye Isbat-e Wujud-e Khuda", hlm. 97.
- ↑ Mohammad Rezhai, Ilahiyat-e Falsafi, 1391 HS, hlm. 270.
- ↑ Luther Keisel, "Tashas-sob ra Kenar Gozashte Bi-tarafane Qezawat Konim", hlm. 55.
- ↑ Klond Coitern, "Natije-ye Ejtenab-napazhir", hlm. 39.
- ↑ Luther Keisel, "Tashas-sob ra Kenar Gozashte Bi-tarafane Qezawat Konim", hlm. 56.
- ↑ Luther Keisel, "Tashas-sob ra Kenar Gozashte Bi-tarafane Qezawat Konim", hlm. 57.
- ↑ Oscar Lundberg, "Be Kar Bordan-e Ravesy-ha-ye Ilmi", hlm. 59.
- ↑ Oscar Lundberg, "Be Kar Bordan-e Ravesy-ha-ye Ilmi", hlm. 61.
- ↑ Majdi, Isbat-e Wujud-e Khuda ya Rad-de Aqa'id-e Syesy Gane-ye Materialist-ha, 1400 HS, hlm. 41.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 19.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 31-35.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 35.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 35.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 35.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 36.
- ↑ Sadr, al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam, 1403 H, hlm. 36-37.
- ↑ Ayatullahy, "Barresi-ye Didgah-e Ayatullah Javadi Amoli dar-bare-ye Barahin-e Isbat-e Wujud-e Khodavand", hlm. 5 dan 6.
- ↑ Javadi Amoli, Tabyin Barahin Isbat Khuda, 1386 HS, hlm. 5-10.
- ↑ Isbat Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Tauhid-e Nab: Barresi-ye Adelle-ye Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Isbat-e Wujud-e Khuda be Ravesy-e Ashl-e Mauzhu'i, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Khuda ra Chegoune Mitawanim Isbat Konim?, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Isbat al-Wajib Ta'ala, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Tauhid-e Ilmi: Wujud-e Isbat-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- ↑ Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
Daftar Pustaka
- Aya Khuda Wujud Darad? Goftogou-yi dar-bare-ye Dalayel-e Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Ayatullahy, Hamid Reza. "Barresi-ye Didgah-e Ayatullah Javadi Amoli dar-bare-ye Barahin-e Isbat-e Wujud-e Khodavand", Majalah Hikmat-e Isra, nomor 29, Musim Semi dan Panas 1396 HS.
- Ata'i Nazhari, Hamid. "Seir-e Tathawwur-e Barhan-e Huduts wa Qidam dar Kalam-e Imamiyah az Aghaz ta Maktab-e Baghdad-e Mutaqaddim", Majalah Naqd wa Nazhar, tahun 23, nomor 3, seri 91, Musim Gugur 1397 HS.
- Barahin-e Isbat-e Wujud-e Khuda dar Naqdi bar Syobahat-e John Hospers, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Barhan-ha-ye Isbat-e Wujud-e Khuda (ba Rouikard-e Pasokh be Syobahat), Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Barhan-ha-ye Isbat-e Wujud-e Khuda dar Ilahiyat-e Eslami wa Masihi, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Edwards, Paul. Khuda dar Falsafe. Terjemahan: Bahauddin Khorramshahi. Teheran, Nasyre Mutala'at wa Tahqiqat-e Farhangi, cetakan kedua, 1371 HS.
- Geisler, Norman L. Falsafe-ye Din. Terjemahan: Hamid Reza Ayatullahy. Teheran, Penerbit Hikmat, 1375 HS.
- Haidar, Asad. Al-Imam al-Shadiq wa al-Madzahib al-Arba'ah. Beirut, Dar al-Ta'aruf, 1422 H.
- Hamawi, Yaqut. Mu'jam al-Buldan. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1399 H/1979 M.
- Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, 1402 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Kairo, Mathba'ah al-Salafiyah, 1932 M.
- Ibnu Maitsam Bahrani, Maitsam bin Ali. Qawa'id al-Maram fi Ilm al-Kalam. Maktabah Ayatullah al-Uzhma al-Mar'asyi al-Najafi, Qom, 1406 H.
- Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. Al-Ilahiyat min Kitab al-Syifa'. Riset: Hasanzadeh Amoli. Qom, Kantor Dakwah Islam Hauzah Ilmiah Qom, Pusat Penerbitan, 1376 HS.
- Isbat Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat al-Wajib Ta'ala, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Gisoom, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khodavand, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khuda be Ravesy-e Ashl-e Mauzhu'i, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Isbat-e Wujud-e Khuda ya Rad-de Aqa'id-e Syesy Gane-ye Materialist-ha, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Javadi Amoli, Abdullah. "Fitrat dar Ayineh-ye Qur'an", Jurnal Ensan Pazhuhi-ye Dini, nomor 23, Musim Semi dan Panas 1389 HS.
- Javadi Amoli, Abdullah. Tabyin Barahin Isbat Khuda. Qom, Penerbit Isra, 1386 HS.
- Khuda ra Chegoune Mitawanim Isbat Konim?, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Khudashenasi wa Isbat-e Khuda (Tauhid, Adl, Nobowwat), Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Khuda Wujud Darad, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh-e Chehel Hadits. Qom, Lembaga Penyusunan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini, 1380 HS.
- Khosropanah, Abdul Husain. "Delalat-e Mo'jeze bar Isbat-e Wujud-e Khuda", Jurnal Qabasat, nomor 41, 1385 HS.
- Klond Coitern, John. "Natije-ye Ejtenab-napazhir", dalam buku Isbat-e Wujud-e Khuda (Kumpulan Penulis). Terjemahan: Aram, Amin, dan Mojtahedi. Tabriz, Toko Buku Haji Muhammad Baqir Ketabchi Haqiqat, 1345 HS.
- Lahiji, Abdurrazzaq bin Ali. Gohar-e Morad. Teheran, Nasyre Sayeh, 1383 HS.
- Luther Keisel, Eduardo. "Tashas-sob ra Kenar Gozashte Bi-tarafane Qezawat Konim", dalam buku Isbat-e Wujud-e Khuda (Kumpulan Penulis). Terjemahan: Aram, Amin, dan Mojtahedi. Tabriz, Toko Buku Haji Muhammad Baqir Ketabchi Haqiqat, 1345 HS.
- Majdi, Sayid Mahmud. Isbat-e Wujud-e Khuda ya Rad-de Aqa'id-e Syesy Gane-ye Materialist-ha. Shiraz, Katibe-ye Nowin, 1400 HS.
- Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesy-e Falsafe. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1398 HS.
- Mohammad Rezhai, Muhammad. "Barhan-e Akhlaqi-ye Isbat-e Wujud-e Khuda", Jurnal Kalam-e Eslami, nomor 77, Musim Semi 1390 HS.
- Mohammad Rezhai, Muhammad. Ilahiyat-e Falsafi. Qom, Bustan-e Ketab, 1391 HS.
- Mohammadi Reysyahri, Mohammad. Danisy-nameh-ye Aqa'id-e Eslami. Qom, Lembaga Ilmiah Budaya Dar al-Hadits, 1386 HS.
- Mirdamad, Muhammad Baqir bin Muhammad. Mushannafat-e Mir Damad. Teheran, Asosiasi Karya dan Kebanggaan Budaya, 1381 HS.
- "Makna Isbat", Kamus Dehkhoda, tanggal akses 18 Tir 1402 HS.
- Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Naqd wa Barresi-ye Dalayel: Isbat-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Oscar Lundberg, Walter. "Be Kar Bordan-e Ravesy-ha-ye Ilmi", dalam buku Isbat-e Wujud-e Khuda (Kumpulan Penulis). Terjemahan: Aram, Amin, dan Mojtahedi. Tabriz, Toko Buku Haji Muhammad Baqir Ketabchi Haqiqat, 1345 HS.
- Plantinga, Alvin. "Apakah Keyakinan kepada Tuhan Masuk Akal?", dalam Kalam-e Falsafi (Kumpulan Artikel). Terjemahan: Ibrahim Soltani dan Ahmad Naraghi. Teheran, Penerbit Sorat, 1396 HS.
- Plantinga, Alvin. "Apakah Keyakinan kepada Tuhan Benar-benar Dasar?", dalam Kalam-e Falsafi (Kumpulan Artikel). Terjemahan: Ibrahim Soltani dan Ahmad Naraghi. Teheran, Penerbit Sorat, 1396 HS.
- Qadardan Qaramaleki, Muhammad Hasan. "Naqd-e Nazariye-ye Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda", Majalah Qabasat, periode 10, nomor 35, Dey 1384 HS.
- Qadardan Qaramaleki, Muhammad Hasan. "Isbat Khuda dar Qur'an Karim", Majalah Qabasat, tahun ke-11, nomor 41, Musim Gugur 1385 HS.
- Sadr, Muhammad Baqir. Al-Fatawa al-Wadhihah wifqan li Madzhab Ahl al-Bait alaihissalam. Beirut, Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, 1403 H.
- Sadr al-Din Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah. Qom, Penerbit al-Mustafawi, 1368 HS.
- Sadr al-Din Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Al-Mabda' wa al-Ma'ad. Teheran, Penerbit Asosiasi Hikmah dan Filsafat Iran, 1354 HS.
- Sulaimani Amiri, Askari. "Syuhud-e Khuda Barhan-e Khuda", Majalah Ma'rifat-e Falsafi, tahun keempat, nomor kedua, Musim Dingin 1385 HS.
- Sulaimani Amiri, Askari. Naqd-e Barhan-napazhiri-ye Wujud-e Khuda. Qom, Bustan-e Ketab, 1388 HS.
- Syekh Saduq, Muhammad bin Ali. Al-Tauhid. Qom, Jami'ah-ye Modarresin, 1398 H.
- Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Ushul-e Falsafe wa Ravesh-e Realism. Sadra, Teheran, 1390 HS.
- Tauhid-e Ilmi: Wujud-e Isbat-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Tauhid-e Nab: Barresi-ye Adelle-ye Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Ubudiyat, Abdurrasul dan Mojtaba Misbah. Khudashenasi. Qom, Lembaga Pendidikan Penelitian Imam Khomeini, 1398 HS.
- Ubudiyat, Abdurrasul. Isbat-e Wujud-e Khuda be Ravesy-e Ashl-e Mauzhu'i, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Ain al-Qudhat Hamadani, Abdullah bin Muhammad bin Ali. Syakwa al-Gharib an al-Awthan ila Ulama al-Buldan. Paris, Dar Biblion, 1962 M.
- Wujud-e Khuda?!, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Hick, John. "Isbat-pazhiri-ye Gozare-ha-ye Dini", dalam Kalam-e Falsafi (Kumpulan Artikel). Terjemahan: Ibrahim Soltani dan Ahmad Naraghi. Teheran, Penerbit Sorat, 1396 HS.
- Dharurat-e Wujud-e Khuda, Isbat-e Wujud-e Khuda, Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran, tanggal akses 13 Tir 1402 HS.
- Conway IVY, Andrew, "the absoluteness of the certainty of God's existence", The Evidence of God in an Expanding Universe, disunting oleh John.
- Clover Monsma, Putnam publishers, New York, 1958.