Lompat ke isi

Konsep:Mashqalah bin Hubairah

Dari wikishia
Mashqalah bin Hubairah
Info pribadi
Nama lengkapMashqalah bin Hubairah al-Syaibani
Garis keturunanBani Syaiban
Kerabat termasyhurNu'aim (Saudara), Bistham (Putra)
Tempat TinggalKufah, Ardashir-Khurrah, Syam
Wafat/SyahadahSekitar 60 H
Penyebab Wafat /SyahadahTerbunuh dalam penaklukan Tabaristan
Tempat dimakamkanTabaristan, wilayah Royan
Terkenal untukKhotbah 44 dan Surat 43 Nahjul Balaghah
Informasi Keagamaan
Keikutsertaan dalam GhazwahPenaklukan Tabaristan
Aktivitas lainBekerja sama dengan Muawiyah, Menyerang Tabaristan

Mashqalah bin Hubairah al-Syaibani (bahasa Arab:مُصقَلَة بن هُبَیره شیبانی) adalah gubernur Imam Ali as di wilayah barat daya Iran yang membelot ke pihak Muawiyah bin Abi Sufyan karena masalah keuangan. Ia berperan penting dalam pembunuhan Hujr bin Adi. Berdasarkan isi Surat 43 Nahjul Balaghah, ia dituduh memberikan fai' (harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa perang) kepada kerabatnya; oleh karena itu, ia menulis surat kepada Imam Ali as dan membebaskan dirinya dari tuduhan tersebut. Menurut dokumen sejarah, setelah kekalahan pemberontakan Bani Najiyah pada tahun 38 H, Mashqalah membeli dan membebaskan lima ratus tawanan mereka; namun ia tidak mampu mengembalikan seluruh uang tersebut ke Baitulmal. Setelah itu, karena takut akan tindakan Imam Ali as terhadapnya, ia melarikan diri ke Syam dan istana Muawiyah. Imam Ali as mencela perbuatannya ini dalam Khotbah 44 Nahjul Balaghah. Ia melakukan ekspedisi militer ke Tabaristan atas perintah Muawiyah dan terbunuh di sana sekitar tahun 60 H.

Saudaranya, Nu'aim bin Hubairah, adalah salah satu dari sahabat Imam Ali as dan Bistham, putra Mashqalah, adalah salah satu pejabat Bani Umayyah.

Pengenalan

Mashqalah bin Hubairah bin Syibl al-Syaibani dianggap sebagai salah satu tokoh terkemuka Irak dan sahabat Imam Ali as yang menjadi gubernur Imam di wilayah Ardashir-Khurrah, sebuah wilayah di barat daya Iran; namun karena masalah keuangan, ia bergabung dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.[1] Dalam buku-buku sejarah dan rijal, tidak ada informasi mengenai masa sebelum ia menjadi gubernur.[2]

Ibnu Abi al-Hadid, penyarah Nahjul Balaghah, mengembalikan nasabnya kepada "Nizar bin Adnan", salah satu leluhur Nabi Muhammad saw.[3] Ayahnya, Hubairah bin Syibl, dianggap sebagai salah satu orang yang bersama Nabi saw dalam Fathu Makkah.[4] Bistham, putra Mashqalah, adalah gubernur Mush'ab bin Zubair, Abdul Malik bin Marwan, dan Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi, dan pada tahun 83 H ia memberontak terhadap Hajjaj dan terbunuh.[5] Saudara Mashqalah, Nu'aim bin Hubairah, juga merupakan sahabat Imam Ali as. Nu'aim bergabung dengan Kebangkitan Mukhtar untuk menuntut darah Imam Husain as dan terbunuh pada tahun 66 H di tangan Syabats bin Rab'i dari pasukan Umayyah.[6]

Gubernur Imam Ali as di Ardashir-Khurrah

Ibnu Abbas, gubernur pemerintahan Imam Ali as di Basrah, mengangkat Mashqalah bin Hubairah sebagai gubernur wilayah Ardashir-Khurrah.[7] "Ardashir-Khurrah" adalah wilayah di barat daya Iran yang mencakup kota-kota seperti Kazerun, Firuzabad, dan Pelabuhan Siraf.[8]

Penerima Surat Imam Ali as Atas Tuduhan Korupsi Keuangan

Menurut nukilan Tarikh al-Ya'qubi, Imam Ali as menerima laporan bahwa Mashqalah memberikan fai' (harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa perang) kepada kerabatnya sendiri. Imam menulis surat kepadanya bahwa jika laporan ini benar, ia harus mengubah perilakunya.[9] Tulisan Imam ini juga terdapat dalam Surat 43 Nahjul Balaghah.[10] Menurut Ya'qubi, Mashqalah menulis jawaban bahwa laporan tersebut tidak benar; namun jika Imam berpikir demikian, lebih baik beliau memberhentikannya dari jabatannya; karena pemecatan lebih mudah baginya daripada tuduhan. Imam Ali as pun menerima perkataannya dan ia tetap dipertahankan dalam jabatannya.[11]

Membebaskan Tawanan Bani Najiyah

Khotbah Imam Ali as tentang Mashqalah

"Semoga Allah memburukkan wajah Mashqalah! Perbuatannya seperti para pembesar; namun ia lari seperti budak dan berkhianat seperti para penjahat. Maka sebelum pemujinya berbicara, ia telah membungkamnya dan sebelum orang yang menyifatinya membenarkannya, ia telah memaksanya untuk mencelanya. Jika ia tetap tinggal, kami akan mengambil darinya apa yang ia mampu, dan kami akan memberinya tangguh untuk sisanya sampai ia mampu."[12]

Pada tahun 38 H, Mashqalah membeli dan membebaskan 500 orang Kristen Bani Najiyah yang ditawan dalam pemberontakan Khawarij melawan Pemerintahan Imam Ali as. Menurut nukilan para sejarawan, Khirrit bin Rasyid, salah satu pemimpin Khawarij, memberontak terhadap Imam Ali as dan Bani Najiyah bergabung dengannya, dan sebagian dari mereka menjadi Murtad. Ma'qil bin Qais menumpas pemberontakan tersebut dan menawan sejumlah pemberontak. Atas perintah Imam,[13] tawanan Muslim dibebaskan; dan kepada orang-orang Kristen Bani Najiyah juga ditawarkan jika mereka masuk Islam mereka akan dibebaskan; namun 500 orang dari mereka tidak masuk Islam. Para tawanan, dalam perjalanan pemindahan ke Kufah, melewati Ardashir-Khurrah. Mashqalah, atas permintaan para tawanan, membeli dan membebaskan mereka seharga lima ratus ribu dirham. Imam Ali as memuji tindakannya ini; namun Mashqalah menunda-nunda pembayaran tebusan (Fidyah) tawanan ke Baitulmal kaum Muslim. Imam Ali as mengirim surat kepadanya dan Mashqalah pergi ke Basrah, memberikan dua ratus ribu dirham kepada Abdullah bin Abbas dan menyatakan bahwa ia tidak mampu membayar sisanya.[14][catatan 1]

Bergabungnya Mashqalah dengan Muawiyah

Menurut ucapan yang dinukil dari Mashqalah dalam Daneshnameh-ye Amir al-Mu'minin, Muawiyah atau Utsman bin Affan setiap tahun memberikan seratus ribu dirham dari pajak kota-kota kepada gubernur mereka, dan ia mengharapkan Imam Ali as juga melakukan hal yang sama.[15] Imam tidak menerima hal ini.[16] Diriwayatkan bahwa Mashqalah menyembunyikan harta benda di bawah tanah di rumahnya[17] dan melarikan diri ke Syam pada malam yang sama. Atas perintah Imam, rumahnya dihancurkan[18] untuk menemukan harta bendanya.[19] Khotbah 44 Nahjul Balaghah berisi celaan terhadap perilaku Mashqalah.[20][catatan 2]

Menurut laporan Daneshnameh-ye Amir al-Mu'minin as, Mashqalah bin Hubairah, setelah melarikan diri ke Syam, berpartisipasi dalam urusan pemerintahan Muawiyah.[21] Menurut nukilan Tarikh al-Thabari (disusun 303 H), Mashqalah menulis surat dari Syam kepada saudaranya, Nu'aim bin Hubairah, yang merupakan seorang Syiah dan penasihat Imam Ali as, dan menjanjikan jabatan pemerintahan kepadanya; namun Nu'aim menolaknya.[22]

Kesaksian Melawan Hujr bin Adi

Mashqalah juga bekerja sama dengan Umayyah dalam pembunuhan Hujr bin Adi, salah satu sahabat Nabi dan sahabat Imam Ali as. Ziyad bin Abih menangkap Hujr bin Adi dan mengumpulkan kesaksian melawannya. Mashqalah dianggap sebagai salah satu orang yang bersaksi melawannya. Menyusul kesaksian ini, Muawiyah mengeluarkan perintah pembunuhan Hujr.[23]

Ekspedisi ke Tabaristan dan Kematian

Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu dan cara kematian Mashqalah. Menurut beberapa nukilan, Dhahhak bin Qais yang merupakan gubernur Bani Umayyah di Kufah pada tahun 54 H mengirim Mashqalah untuk berperang di Tabaristan; namun ia berdamai dengan para penguasa Tabaristan dengan mengambil lima ratus ribu dirham dari mereka.[24] Menurut nukilan lain, Muawiyah mengirimnya untuk memerintah Tabaristan; namun ia terbunuh saat melakukan ekspedisi militer ke Tabaristan,[25] atau ia sedang melakukan ekspedisi ke Khurasan dan terbunuh di Royan, salah satu kota di Tabaristan.[26] Thabari menyebutkan kematian Mashqalah di bawah peristiwa tahun 89 H; namun beberapa orang lain, dengan alasan bahwa serangannya terjadi pada masa hidup Muawiyah (wafat 60 H) dan Gil Gavbareh penguasa Tabaristan (wafat 62 H), menganggap kematiannya terjadi sebelum tanggal ini.[27]

Menurut Ibnu Isfandiyar dalam Tarikh Thabaristan, orang-orang karena ketidaktahuan menganggap Mashqalah sebagai sahabat Nabi saw dan pergi menziarahi kuburannya.[28] Zirikli dalam Al-A'lam juga menyebutkan ekspedisi Mashqalah ke Tabaristan dan tidak kembalinya dia sebagai peribahasa dalam bahasa Arab, dan menulis bahwa orang yang bermaksud tidak melakukan suatu pekerjaan akan berkata "La yakunu hadza hatta yarji'a Mashqalah min Thabaristan" (Ini tidak akan terjadi sampai Mashqalah kembali dari Tabaristan).[29]

Catatan

  1. Menurut laporan beberapa sumber, Mashqalah membeli dan membebaskan tawanan seharga seratus ribu dirham dan mengirimkan lima puluh ribu dirham kepada Imam as. (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 58, hlm. 270.)
  2. Khotbah ini dalam Syarh Ibnu Maitsam bernomor 43 dan dalam Naskah Mulla Fathullah bernomor 46 (Ibnu Maitsam, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 2, hlm. 115; Nahj al-Balaghah, Tahkik Fathullah Kasyani, Khotbah 43, jld. 1, hlm. 236.)

Catatan Kaki

  1. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 58, hlm. 269.
  2. Sebagai contoh lihat: Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 5, hlm. 113–129; Khoi, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1372 HS, jld. 19, hlm. 193–194.
  3. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 3, hlm. 127.
  4. Ibnu Makula, Al-Ikmal fi al-Irtiyab, 1993 M, jld. 5, hlm. 25.
  5. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 6, hlm. 375–383.
  6. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 6, hlm. 25.
  7. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 58, hlm. 269.
  8. Neyestani, Javad, Ardashir Khurreh, hlm. 494; Ibnu Khurdadbih, Masalik wa Mamalik, 1371 HS, hlm. 64.
  9. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Shadir, jld. 2, hlm. 201–202.
  10. Nahj al-Balaghah, riset: Subhi Shalih, Surat 43, hlm. 415.
  11. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Shadir, jld. 2, hlm. 201–202.
  12. Nahj al-Balaghah, riset: Subhi Shalih, Khotbah 44, hlm. 85.
  13. Tsaqafi, Al-Gharat, 1395 HS, hlm. 358.
  14. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 5, hlm. 113–129.
  15. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 5, hlm. 130; Makarim Syirazi, Payam-e Amir al-Mu'minin as, 1386 HS, jld. 2, hlm. 494–497.
  16. Muhammadi Reysyahri, Daneshnameh-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 6, hlm. 587.
  17. Muhammadi Reysyahri, Daneshnameh-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 6, hlm. 587.
  18. Nuri, Mustadrak al-Wasail, Beirut, jld. 17, hlm. 404; Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut, jld. 33, hlm. 405.
  19. Muhammadi Reysyahri, Daneshnameh-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 6, hlm. 587.
  20. Nahj al-Balaghah, Tahkik Subhi Shalih, Khotbah 44, hlm. 85.
  21. Muhammadi Reysyahri, Daneshnameh-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 13, hlm. 561.
  22. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 5, hlm. 130–131.
  23. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 5, hlm. 253–256.
  24. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 58, hlm. 275; Ibnu Taghri Bardi, Al-Nujum al-Zahirah, 1392 H, jld. 1, hlm. 145.
  25. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 58, hlm. 273 dan 276.
  26. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 58, hlm. 277.
  27. A'zhami Sangsari, "Gil, Farsyuwadzgar Syah...", hlm. 51–52.
  28. Ibnu Isfandiyar, Tarikh Thabaristan, 1366 HS, hlm. 157.
  29. Zirikli, Al-A'lam, 1980 M, jld. 7, hlm. 249.

Daftar Pustaka

  • A'zhami Sangsari, Cheraghali. "Gil, Farsyuwadzgar Syah wa Gavbaregan-e Dabuyahi (Espahbadan-e Buzurg-e Tabaristan)". Barresi-haye Tarikhi, No. 71, 1356 HS.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Shadir, 1385–1386 H.
  • Ibnu Isfandiyar, Muhammad bin Hasan. Tarikh Thabaristan. Disusun oleh Abbas Iqbal Asytiani. Teheran, Padideh Khavar, 1366 HS.
  • Ibnu Khurdadbih, Ubaidullah. Masalik wa Mamalik. Tanpa Tempat, Muassasah Muthala'at wa Intisharat-e Tarikhi, 1371 HS.
  • Ibnu Maitsam, Maitsam bin Ali. Syarh Nahj al-Balaghah. Teheran: Daftar-e Nasyr-e al-Kitab, 1404 H.
  • Ibnu Makula, Amir al-Hafizh. Al-Ikmal fi Raf' al-Irtiyab 'an al-Mu'talif wa al-Mukhtalif fi al-Asma. Jld. 5. Kairo: Dar al-Kutub al-Islami, 1993 M.
  • Ibnu Taghri Bardi, Yusuf. Al-Nujum al-Zahirah fi Muluk Mishr wa al-Qahirah. Kairo: Wizarah al-Tsaqafah wa al-Irsyad al-Qaumi, 1392 H/1972 M.
  • Khui, Sayid Abul Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits wa Tafshil Thabaqat al-Ruwat. Tanpa penerbit, tanpa tempat, 1372 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403–1413 H/1983–1992 M.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Payam-e Amir al-Mu'minin as. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1386 HS.
  • Muhammadi Reysyahri, Muhammad. Danesynameh-ye Amir al-Mu'minin Ali 'Alaihi Salam bar Payeh-ye Qur'an, Hadits wa Tarikh (Ensiklopedia Amirul Mukminin Ali as Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis, dan Sejarah). Qom: Dar al-Hadits, 1389 HS.
  • Nahj al-Balaghah. Tahkik Fathullah Kasyani (Tanbih al-Ghafilin wa Tadzkirah al-Arifin). Teheran: Payam-e Haq, 1378 HS.
  • Neyestani, Javad. "Ardashir Khurreh". Dalam Da'irah al-Ma'arif-e Buzurg-e Eslami (Ensiklopedia Besar Islam), Jilid 7, 1377 HS.
  • Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasail. Beirut: Muassasah Alu al-Bait 'Alaihimussalam li Ihya al-Turats, 1408–1429 H/1987–2008 M.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (Subhi Shalih). Qom: Nasyr-e Hejrat, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari (Tarikh al-Umam wa al-Muluk). Beirut: Tanpa penerbit, tanpa tahun.
  • Tsaqafi, Ibrahim bin Muhammad. Al-Gharat. Teheran: Anjuman-e Atsar-e Melli, 1395 HS.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Ishaq. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Zirikli, Khairuddin. Al-A'lam: Qamus Tarajim li Asyhar al-Rijal wa al-Nisa min al-Arab wa al-Musta'ribin wa al-Mustasyriqin. Beirut: Dar al-Ilm lil-Malayin, 1980 M.