Konsep:Ayat Talak
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Talak |
| Surah | Al-Baqarah |
| Ayat | 229 |
| Juz | 2 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Talak Khul' dan Talak Raj'i |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Penjelasan hukum dan syarat Talak |
Ayat Talak adalah ayat ke-229 Surah Al-Baqarah[1] yang menjelaskan hukum-hukum dan syarat-syarat Talak Raj'i dan Talak Khul'.[2] Berdasarkan Ayat Talak, jumlah rujuk suami kepada istri adalah dua kali, dan pada talak ketiga, suami tidak memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya.[3] Merujuk pada Ayat Talak, rujuk dan kembali kepada istri harus didasari oleh hubungan yang baik (husn al-mu'asyarah), dengan perilaku yang santun, dan dengan maksud untuk memperbaiki hubungan di antara mereka,[4] dan jika suami tidak kembali serta meninggalkan istrinya, maka perpisahan ini harus dilakukan dengan cara yang baik (ihsan), tidak mendatangkan mudarat bagi istri setelah perpisahan, dan seluruh hak-haknya harus dibayarkan.[5] Menurut pandangan Allamah Thabathabai, Allah Swt dengan syarat ini telah mencegah terjadinya kerugian bagi kaum perempuan.[6]
| “ | ٱلطَّلَـٰقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تشریح بِإِحْسَـٰنٍ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا ٱفْتَدَتْ بِه تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُولَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
|
” |
Talak (yang boleh dirujuk kembali itu hanya) dua kali. Sesudah itu bolehlah ia (rujuk dan) dipegang terus (isterinya itu) dengan cara yang sepatutnya atau dilepaskan (diceraikannya) dengan cara yang baik dan tidaklah halal bagi kamu mengambil balik sesuatu dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka (isteri-isteri yang diceraikan itu) kecuali jika keduanya (suami isteri takut tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah. Oleh itu kalau kamu khuatir bahawa kedua-duanya tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah, maka tidaklah berdosa kedua-duanya mengenai bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya (dan mengenai penerimaan suami akan bayaran itu). Itulah aturan-aturan hukum Allah maka janganlah kamu melanggarnya; dan sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Dua syan nuzul telah disebutkan untuk Ayat Talak.[7] Menurut keyakinan para mufasir, ayat ini diturunkan untuk menentang tradisi buruk masa Jahiliah.[8] Pada masa jahiliah, Talak Raj'i tidak memiliki batasan dan seorang laki-laki dapat menceraikan istrinya berkali-kali lalu merujuknya kembali. Selain itu, beberapa orang sengaja menceraikan istri mereka dengan maksud untuk menyakiti dan memberikan tekanan, lalu merujuk kembali sebelum berakhirnya masa iddah.[9] Dengan turunnya Ayat Talak, tradisi jahiliah ini dinyatakan batal, dan pemberian talak dibatasi menjadi tiga kali serta rujuk kepada istri dibatasi menjadi dua kali.[10] Menurut pendapat Thabarsi, mufasir Syiah, syan nuzul penggalan "illā an yakhāfā" adalah mengenai talak khul'.[11] Berdasarkan laporan Majma' al-Bayan, Jamila istri Tsabit bin Qais, berbeda dengan Tsabit, tidak memiliki minat untuk hidup bersama Tsabit dan berniat untuk berpisah. Akhirnya Jamila berpisah darinya atas perintah Nabi saw setelah mengembalikan maharnya.[12]
Ayat Talak dijadikan sandaran oleh para fakih dalam pembahasan Talak.[13] Menurut pernyataan para fakih, talak khul' adalah untuk mencegah kaum perempuan terjerumus ke dalam Dosa; karena di antara syarat perkawinan adalah perilaku yang baik, berbuat kebajikan, dan setia, sedangkan istri dalam kondisi tidak menyukai suami mungkin saja tidak berkomitmen pada syarat-syarat ini.[14] Menurut keyakinan para fakih, dari ungkapan "at-Thalāqu marratān" dipahami bahwa talak harus dilakukan dalam dua majelis secara terpisah, dan menjatuhkan talak tiga dalam satu majelis adalah tidak sah.[15]
Dari sudut pandang Allamah Thabathabai, Ayat Talak merujuk pada hubungan antara hukum-hukum fikih dan prinsip-prinsip moral serta tidak diperbolehkannya pemisahan di antara keduanya.[16] Menurut keyakinan beliau, sekadar mengamalkan hukum-hukum fikih dan kaku (jumud) pada lahiriah agama saja tidaklah cukup; karena hal itu membatalkan maslahat pensyariatan dan melenyapkan tujuan agama; sebab Islam adalah agama amal dan usaha, bukan agama ucapan belaka. Beliau juga menganggap kejatuhan dan kemunduran moral kaum Muslimin merupakan akibat dari tindakan mereka yang mencukupkan diri pada lahiriah hukum serta berpaling dan tidak memperhatikan ruh serta batin agama.[17] Beliau menegaskan bahwa ketidakpedulian terhadap ruh hukum-hukum agama, dalam seluruh urusan dan bidang, pada hakikatnya merupakan bentuk penghinaan serta pengolok-olokan terhadap ayat-ayat Allah sekaligus kezaliman terhadap diri sendiri; karena hal itu merupakan penyimpangan dari Fitrah manusia dan hasilnya adalah terhalang dari kebahagiaan yang hakiki serta kehancuran dan kerusakan masyarakat.[18]
Catatan Kaki
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hal. 108.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 233-236; Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 6, hal. 442 dan 443; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, cet. 2, hal. 166; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, jld. 3, hal. 272.
- ↑ Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 6, hal. 442 dan 443; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 166; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 3, hal. 272.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 234; Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Katsir, 1419 H, jld. 1, hal. 461; Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, 1418 H, jld. 1, hal. 142.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 235; Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Katsir, 1419 H, jld. 1, hal. 461; Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, 1418 H, jld. 1, hal. 142.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 234.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 577.
- ↑ Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 6, hal. 442 dan 443; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 166; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 3, hal. 272.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 166.
- ↑ Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 6, hal. 442 dan 443; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 166; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 3, hal. 272.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 578.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 578.
- ↑ Khwansari, Jami' al-Madarik, 1364 HS, jld. 4, hal. 250; Marwarid, Silsilah al-Yanabi' al-Feqhiyyah, 1410 H, jld. 20, hal. 217; Qumi, Jami' al-Khilaf wa al-Wifaq, 1379 HS, hal. 482.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 578; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 169.
- ↑ Khwansari, Jami' al-Madarik, 1364 HS, jld. 4, hal. 250; Marwarid, Silsilah al-Yanabi' al-Feqhiyyah, 1410 H, jld. 20, hal. 217; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 170.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 235.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 235.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 236-237.
Daftar Pustaka
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Ibn Katsir. Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
- Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad: Astan Qods Razavi, 1408 H.
- Baidhawi, Abdullah Umar. Tafsir al-Baidhawi (Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil). Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, 1418 H.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut: Dar Ihya Turats al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
- Khwansari, Sayid Ahmad. Jami' al-Madarik fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi'. Teheran: Maktabah al-Shaduq, 1364 HS.
- Qumi, Ali bin Muhammad. Jami' al-Khilaf wa al-Wifaq baina al-Imamiyyah wa baina Aimmah al-Hijaz wa al-Iraq. Qom: Zamaneh Sazan-e Zhuhur, 1379 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Nasir Khosrow, 1372 HS.
- Marwarid, Ali Asghar. Silsilah al-Yanabi' al-Feqhiyyah. Beirut: al-Dar al-Islamiyyah, 1410 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.