Lompat ke isi

Konsep:Ayat 55 Surah At-Taubah

Dari wikishia
Ayat 55 Surah At-Taubah
Informasi Ayat
SurahSurah At-Taubah
Ayat55
Juz10
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangLarangan kagum terhadap banyaknya harta dan anak orang-orang Munafik
Ayat-ayat terkaitAyat 131 Surah Thaha, Ayat 85 Surah At-Taubah


Ayat 55 Surah At-Taubah (bahasa Arab:آیة ۵۵ سورة توبة) melarang Nabi saw kagum terhadap harta dan anak-anak orang munafik, serta menganggap nikmat-nikmat ini sebagai sarana kesengsaraan dan azab bagi mereka.[1] Juga dinyatakan bahwa mereka akan meninggal dalam keadaan kafir.[2] Ketidakberkahan harta dan anak-anak yang tidak saleh juga diperkenalkan sebagai azab bagi orang-orang munafik di dunia.[3]

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (Q.S. At-Taubah: 85)

Menurut para Mufasir Syiah, meskipun ayat ini ditujukan kepada Nabi saw,[4] namun pada hakikatnya ditujukan kepada seluruh orang beriman dan merupakan nasihat bagi umat Islam serta ancaman tersirat bagi orang-orang munafik.[5] Abdullah Jawadi Amuli berpendapat bahwa ayat 55 Surah At-Taubah menunjukkan bahwa harta orang-orang Munafik tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, bahkan jika diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan; karena amal mereka dilakukan tanpa keyakinan kepada Allah.[6] Menurutnya, mendahulukan harta daripada anak dalam ayat ini menunjukkan betapa kuatnya kecintaan manusia terhadap harta, sedemikian rupa sehingga terkadang demi menjaga kekayaan dan karena takut miskin, mereka bahkan membunuh anak-anak mereka sendiri.[7]

Ulama Akhlak menggunakan ayat 55 Surah At-Taubah untuk menekankan Qanaah dan menghindari penimbunan harta.[8] Kulaini juga menukil sebuah riwayat di mana Imam Shadiq as, dengan merujuk pada ayat ini, mencegah salah satu sahabatnya dari rasa iri dan berangan-angan terhadap orang-orang yang memiliki kedudukan finansial lebih tinggi.[9]

Para Mutakallim[10] dan mufasir[11] juga merujuk pada ayat ini dalam beberapa pembahasan teologi (kalam). Mulla Shalih Mazandarani, Muhaddits Syiah, dengan merujuk pada riwayat dari Imam Shadiq as,[12] menyimpulkan konsep Istidraj (membiarkan orang berdosa terlena dengan nikmat) dari ayat 55 Surah At-Taubah.

Ayat 55 Surah At-Taubah secara lafaz sangat mirip dengan Ayat 85 Surah At-Taubah dan tergolong ayat-ayat yang berulang.[13] Selain itu, menurut para mufasir, ayat 55 Surah At-Taubah memiliki kemiripan dengan Ayat 131 Surah Thaha dalam hal ketidakpedulian terhadap dunia.[14]

Catatan Kaki

  1. ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 9, hlm. 308.
  2. ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 9, hlm. 308.
  3. ↑ Rezai Isfahani, Tafsir Quran Mehr, 1387 HS, jld. 8, hlm. 225.
  4. ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 5, hlm. 60.
  5. ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1393 HS, jld. 34, hlm. 240.
  6. ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1393 HS, jld. 34, hlm. 242.
  7. ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1393 HS, jld. 34, hlm. 244.
  8. ↑ Naraqi, Jami' al-Sa'adat, Beirut, jld. 2, hlm. 105; Izadi, Akhlaq-e Izadi: Bist Goftar-e Akhlaqi - Erfani, hlm. 197.
  9. ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 168.
  10. ↑ Amidi, Abkar al-Afkar fi Ushul al-Din, jld. 2, hlm. 186; Akbari, Masyiat-e Elahi dar Sabab Sazi va Sabab Suzi, hlm. 152.
  11. ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 2, hlm. 349; Qummi Masyhadi, Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib, 1368 HS, jld. 5, hlm. 474.
  12. ↑ Mazandarani, Syarh al-Kafi - Al-Ushul wa al-Raudhah, 1382 HS, jld. 12, hlm. 38.
  13. ↑ Khazin, Tafsir al-Khazin, 1415 H, jld. 2, hlm. 393.
  14. ↑ Abu Hayyan, Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, 1420 H, jld. 5, hlm. 435; Maturidi, Tafsir al-Maturidi, 1426 H, jld. 7, hlm. 321.

Daftar Pustaka

  • Amidi, Saifuddin, Abkar al-Afkar fi Ushul al-Din, Tahqiq: Ahmad Muhammad Mahdi, Kairo, Dar al-Kutub, 1423 H.
  • Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf, Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, Shidqi Muhammad Jamil, Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan pertama, 1420 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Peneliti: Syamsuddin, Muhammad Husain, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan pertama, 1419 H.
  • Izadi, Abbas, Akhlaq-e Izadi: Bist Goftar-e Akhlaqi - Erfani, Qom, Ajar, 1384 HS.
  • Akbari, Mahmoud, Masyiat-e Elahi dar Sabab Sazi va Sabab Suzi, Qom, Fatian, 1389 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah, Tafsir Tasnim, Qom, Isra', Cetakan pertama, 1393 HS.
  • Khazin, Ali bin Muhammad, Tafsir al-Khazin al-Musamma bi Lubab al-Ta'wil fi Ma'ani al-Tanzil, Tashih: Muhammad Ali Syahin Abdussalam, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan pertama, 1415 H.
  • Rezai Isfahani, Muhammad Ali, Tafsir Quran Mehr, Qom, Pazhuhesh-haye Tafsir va Ulum Quran, Cetakan pertama, 1387 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, Cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Tashih: Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i dan Hasyim Rasuli, Teheran, Naser Khosrow, Cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Tafsir al-Shafi, Tashih: Husain A'lami, Teheran, Maktabah al-Shadr, Cetakan kedua, 1415 H.
  • Qummi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Reza, Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib, Peneliti: Husain Dargahi, Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, Organisasi Percetakan dan Penerbitan, Cetakan pertama, 1368 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, Tashih: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keempat, 1407 H.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad, Syarh al-Kafi - Al-Ushul wa al-Raudhah, Tashih: Sya'rani, Abul Hasan, Teheran, Al-Maktabah al-Islamiyyah, Cetakan pertama, 1382 HS.
  • Maturidi, Muhammad bin Muhammad, Ta'wilat Ahl al-Sunnah (Tafsir al-Maturidi), Peneliti: Majdi Baslum, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan pertama, 1426 H.
  • Naraqi, Mahdi bin Abi Dzar, Jami' al-Sa'adat, Tashih: Muhammad Kalantar, Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, Tanpa Tahun.