Lompat ke isi

Konsep:Ayat 24 Surah Abasa

Dari wikishia
Ayat 24 Surah Abasa
Informasi Ayat
NamaAyat 24 Surah Abasa
SurahSurah Abasa
Ayat24
Juz30
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekah
TentangMelihat dan merenungkan makanan manusia


Ayat 24 Surah 'Abasa mengajak manusia untuk memperhatikan makanannya sendiri. Menurut para mufasir, yang dimaksud dengan memperhatikan adalah memikirkan tentang makanan. Berdasarkan ayat ini, bahan makanan dianggap sebagai tanda dan pelajaran bagi manusia. Merenungkan unsur-unsur pembentuk makanan dan bagaimana Tuhan memberikan kemampuan kepada manusia untuk memanfaatkannya adalah beberapa pandangan mufasir dalam hal ini.

Cakupan "manusia" dalam ayat tersebut dipahami meliputi seluruh manusia, baik yang Mukmin maupun Kafir. Disebutkan bahwa makanan terbagi menjadi dua jenis: lahiriah dan spiritual (maknawi), dan memikirkan makanan spiritual untuk roh manusia memiliki kepentingan yang lebih besar. Kedekatan dan kebersamaan makanan dengan manusia sepanjang waktu disebut sebagai alasan dipilihnya makanan sebagai objek untuk dipikirkan.

Mengenal Allah, tauhid zat dan tauhid af'al, serta pembuktian hari kebangkitan (ma'ad), di samping membangkitkan rasa syukur, dianggap sebagai beberapa hasil dari merenungkan bahan makanan.

Poin-poin Umum

Ayat 24 Surah 'Abasa melalui perintah[1] yang jelas[2] mengajak manusia untuk memperhatikan makanannya sendiri[3] yang dengannya ia mendapatkan kekuatan dan menjamin kelangsungan hidupnya.[4] Para mufasir dengan merujuk pada ayat ini, memperkenalkan bahan makanan dan proses penciptaannya sebagai tanda[5] dan pelajaran[6] bagi manusia. Beberapa pihak berpendapat bahwa alasan dipilihnya makanan manusia sebagai objek untuk diperhatikan adalah karena bahan makanan merupakan benda eksternal yang paling dekat dengan manusia setelah penciptaannya[7] dan selalu bersamanya[8] serta memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk struktur wujud manusia dan mencegahnya dari kebinasaan.[9]

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.


Beberapa mufasir dengan bersandar pada kata kerja perintah (fi'il amr), menganggap memperhatikan makanan sebagai sesuatu yang wajib[10] dan merupakan kewajiban syar'i (taklif syar'i);[11] namun, sebagian lain menganggapnya sebagai perintah bimbingan (amr irsyadi) dan meyakini bahwa tidak ada alasan yang menunjukkan kewajiban (wujub) atau kesunahannya (istihbab).[12] Kitab-kitab tafsir dengan pendekatan tafsir riwayat telah merujuk pada sejumlah hadis tafsir dalam hal ini.[13]

Kaitan dengan Ayat-ayat Sebelum dan Sesudahnya

Ayat 24 Surah 'Abasa dianggap memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya.[14] Dikatakan bahwa Allah menyebutkan makanan sebagai nikmat eksternal bagi manusia setelah menyebutkan nikmat-nikmat internal (terkait diri manusia) pada ayat-ayat sebelumnya.[15] Pada ayat-ayat sebelumnya, dibahas tentang penciptaan, fase-fase kehidupan, dan kematian manusia.[16] Pada ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya, disinggung sebagian dari alam semesta yang menjadi tumpuan bagi pemenuhan kebutuhan hidup dan kelangsungan manusia,[17] serta menjelaskan secara rinci tentang bahan makanan dan sumber-sumbernya[18] dan juga proses terciptanya makanan[19] dari awal hingga akhir secara ringkas.[20] Sebagian ulama menganggap ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya berdiri sendiri dari ayat-ayat sebelumnya dan menganggap ayat ini sebagai permulaan penyebutan jumlah nikmat bagi manusia.[21]

Maksud dari Manusia dan Makanan

Yang dimaksud dengan manusia dalam ayat ini dipahami mencakup seluruh manusia, baik yang Mukmin maupun Kafir, agar orang-orang yang beriman bertambah keimanannya dan orang-orang yang tidak beriman menemukan jalan yang benar.[22] Sejumlah mufasir, dengan memperhatikan sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat 17 dari surah ini yang menyebut manusia penentang tauhid adalah Utbah bin Abi Lahab,[23] meyakini bahwa yang dimaksud dengan manusia yang disebutkan dalam ayat ini adalah Utbah itu sendiri.[24] Beberapa ulama menolak pandangan ini.[25] Dikatakan bahwa manusia dalam ayat ini lebih luas dari sekadar satu individu dan mencakup seluruh umat manusia. Alasannya adalah pengulangan kata "manusia" dalam ayat ini; jika tidak demikian, pengulangan tersebut tidak diperlukan.[26]

Kata "tha'am" (makanan) dalam ayat tersebut memiliki makna yang luas dan komprehensif.[27] Sejumlah mufasir menafsirkannya dengan makna umum rezeki[28] atau seluruh makanan dan minuman.[29] Sebagian lainnya membagi makanan menjadi dua bagian: lahiriah dan maknawi (spiritual),[30] yaitu makanan untuk roh manusia dan makanan untuk tubuh manusia,[31] dan bahkan menganggap makanan roh lebih penting (wajib),[32] sehingga ketelitian dalam hal itu juga diperlukan.[33] Muhammad Hadi Ma'rifat, salah seorang pakar ilmu Al-Qur'an, dengan bersandar pada sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, menafsirkan makna batiniah dari "tha'am" sebagai "ilmu", dan menekankan bahwa terdapat hubungan yang erat antara makna lahiriah (tha'am/makanan) dan makna batiniah (ilmu). Ia menyimpulkan bahwa dalam memperoleh ilmu ini dari sumber-sumber yang otentik dan hakiki, seseorang harus mengerahkan ketelitian dan kehati-hatian yang maksimal, terutama jika ilmu tersebut berkaitan dengan agama, hukum-hukum syariat suci, dan ajaran tauhid, yang dalam mempelajarinya harus dijaga kewaspadaan yang sempurna.[34]

Memperhatikan Disertai Pemikiran

Menurut para mufasir, yang dimaksud dengan melihat makanan bukanlah sekadar pandangan lahiriah; melainkan bermakna merenungkan, memikirkan, dan mengambil pelajaran.[35] Sayid Mahmud Thaleghani, penulis kitab tafsir Partowi az Qur'an, meyakini bahwa surah-surah pendek seperti ayat ini, yang turun pada awal wahyu di Mekah, bertujuan untuk mengajak perenungan pada penciptaan agar dapat membangkitkan orang-orang yang bodoh dan musyrik, serta menyiapkan landasan bagi keimanan kepada Allah dan kekuasaan-Nya.[36] Sebagian ulama menganggap maksud ayat ini adalah pandangan lahiriah terhadap makanan, yang dapat menstimulasi kelenjar air liur di mulut dan kemudian melancarkan pencernaan makanan.[37] Makarem Syirazi, penulis kitab Tafsir Nemuneh, menolak klaim ini dengan memperhatikan konteks (qarinah) yang terdapat pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, dan menganggap pandangan semacam ini hanya khusus bagi ilmuwan yang memandang Al-Qur'an dari sudut pandang yang terbatas pada masalah-masalah pribadi semata.[38]

Cara Berpikir

Maksud dari memikirkan makanan dipahami sebagai memperhatikan bagaimana makanan itu diciptakan.[39] Menurut Makarem Syirazi, bahan makanan memiliki dunia yang menakjubkan di mana seseorang dapat mempelajarinya dalam waktu yang lama dan mengambil pelajaran darinya.[40] Dikatakan bahwa sejumlah mufasir memandang ayat ini dari sudut pandang akhlak dan tasyri' (pensyariatan)[41] dan dengan berpegang pada riwayat-riwayat dari para Maksum as,[42] mereka memaknai ayat ini sebagai ajakan untuk memperhatikan cara-cara memperoleh makanan dan memperhatikan apakah makanan tersebut halal dan sah ataukah haram dan tidak sah.[43] Para mufasir telah menyebutkan berbagai pandangan tentang bagaimana cara berpikir yang dimaksud, beberapa di antaranya adalah:

  • Memikirkan tentang siapa yang telah memudahkan penyediaan makanan ini untuknya[44] dan bagaimana Dia melakukannya?[45]
  • Merenungkan dengan sarana dan penyebab apa bahan makanan itu disediakan[46] dan sejauh mana faktor-faktor alam digunakan dalam menyediakannya dan membuatnya tersedia baginya?[47]
  • Bertadabur (merenungkan) unsur-unsur pembentuk bahan makanan[48] dan komponen-komponen yang memberi kehidupan serta dampaknya yang besar pada eksistensi manusia.[49]
  • Memikirkan bagaimana Allah memberikan kekuatan (kemampuan) kepadanya untuk memanfaatkan makanan tersebut?[50]

Makarem Syirazi, dengan menunjukkan luasnya makna ayat tersebut, meyakini bahwa semua kemungkinan penafsiran dapat dikompromikan; sebagaimana masalah memperhatikan kehalalan dan keharaman serta sah atau tidaknya makanan dapat disimpulkan dari ayat tersebut melalui dalalah iltizami (konotasi tidak langsung).[51]

Hasil Perenungan

Beberapa ulama meyakini bahwa hasil dari memikirkan makanan adalah pembuktian keberadaan Allah[52] serta tauhid zat dan tauhid af'al-Nya,[53] dan juga keyakinan yang pasti (ilmu yaqin) kepada Allah, Nabi-Nya saw, dan para Imam as.[54] Ajakan untuk memikirkan makanan dianggap sesuai dengan fitrah dan pemahaman manusia, yang melaluinya seseorang dapat mengenal hukum-hukum alam, memahami kekuasaan, kebijaksanaan, dan sifat-sifat Allah, serta menata kehidupan duniawinya dengan lebih baik.[55] Menurut Allamah Thabathaba'i, jika manusia merenungkan nikmat ini, ia akan menyaksikan luasnya pengaturan Ilahi dan akan menyadari kasih sayang (inayah) Allah yang sempurna.[56] Dikatakan bahwa memikirkan bahan makanan, selain untuk mengenal Sang Pemberi Nikmat (Mun'im), juga membangkitkan rasa syukur manusia kepada Allah.[57]

Ayat 24 Surah 'Abasa dan ayat-ayat setelahnya dianggap sebagai dalil untuk membuktikan masalah Hari Kebangkitan[58] serta persiapan untuk menghadapinya.[59] Dikatakan bahwa ayat ini, dengan menjelaskan kekuasaan Allah atas segala sesuatu, membuktikan kemungkinan terjadinya Hari Kebangkitan.[60] dan meletakkan dasar untuk pemahaman yang lebih baik tentang akhir dunia dan umat manusia.[61]

Catatan Kaki

  1. Darwisy, I'rab al-Qur'an wa Bayanuhu, 1415 H, jld. 10, hlm. 385.
  2. Thaleghani, Partowi az Qur'an, 1362 H, jld. 3, hlm. 151.
  3. Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 704; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 20, hlm. 151.
  4. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 20, hlm. 208; Ibnu Jauzi, Zad al-Masir, 1422 H, jld. 4, hlm. 402.
  5. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 30, hlm. 36.
  6. Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 10, hlm. 133; Husaini, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 14, hlm. 55.
  7. Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 30, hlm. 127.
  8. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 520.
  9. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 144-145.
  10. Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 590.
  11. Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 30, hlm. 127.
  12. Maliki, Manahij al-Bayan, 1414 H, jld. 30, hlm. 173.
  13. Sebagai contoh lihat: Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1414 H, jld. 6, hlm. 316; Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 10, hlm. 133.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 20, hlm. 208.
  15. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 287; Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 5, hlm. 286.
  16. Qarasyi, Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 12, hlm. 90.
  17. Qarasyi, Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 12, hlm. 90.
  18. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 147; Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jld. 30, hlm. 47.
  19. Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 1418 H, jld. 30, hlm. 71; Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 30, hlm. 126.
  20. Fadhlullah, Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 24, hlm. 75.
  21. Darwisy, I'rab al-Qur'an wa Bayanuhu, 1415 H, jld. 10, hlm. 385.
  22. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 146.
  23. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 31, hlm. 57; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 15, hlm. 246.
  24. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 592; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 30, hlm. 36.
  25. Maliki, Manahij al-Bayan, 1414 H, jld. 30, hlm. 173.
  26. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 20, hlm. 209.
  27. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 146.
  28. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 592; Samarqandi, Bahr al-'Ulum, Beirut, jld. 3, hlm. 548.
  29. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 30, hlm. 36.
  30. Sulthan Alisyah, Bayan as-Sa'adah, 1408 H, jld. 4, hlm. 235.
  31. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 13, hlm. 396.
  32. Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jld. 30, hlm. 127.
  33. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 145-146.
  34. Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jld. 1, hlm. 32-29.
  35. Maliki, Manahij al-Bayan, 1414 H, jld. 30, hlm. 173.
  36. Thaleghani, Partowi az Qur'an, 1362 H, jld. 3, hlm. 151.
  37. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 145 mengutip dari yang lain.
  38. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 145.
  39. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 19, hlm. 220; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 20, hlm. 151.
  40. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 146.
  41. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 145.
  42. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 50; Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 578.
  43. Bahrani, Al-Burhan, 1416 H, jld. 5, hlm. 585.
  44. Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, Qom, hlm. 792.
  45. Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 10, hlm. 133; Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz, 1422 H, jld. 5, hlm. 439; Abu as-Su'ud, Irsyad al-'Aql as-Salim, Beirut, jld. 9, hlm. 111.
  46. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 31, hlm. 59; Tsaqafi Tehrani, Rawan Jawid, 1398 H, jld. 5, hlm. 346; Syaukani, Fath al-Qadir, 1414 H, jld. 5, hlm. 465.
  47. Thaleghani, Partowi az Qur'an, 1362 H, jld. 3, hlm. 150.
  48. Fadhlullah, Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 24, hlm. 75.
  49. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 145.
  50. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 10, hlm. 668; Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 590.
  51. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 146.
  52. Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1425 H, jld. 6, hlm. 3832; Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 520.
  53. Maliki, Manahij al-Bayan, 1414 H, jld. 30, hlm. 173.
  54. Sulthan Alisyah, Bayan as-Sa'adah, 1408 H, jld. 4, hlm. 235.
  55. Thaleghani, Partowi az Qur'an, 1362 H, jld. 3, hlm. 151.
  56. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 20, hlm. 208-209.
  57. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 144; Dengan sedikit perbedaan: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1419 H, jld. 8, hlm. 324; Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 1418 H, jld. 30, hlm. 71.
  58. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 144.
  59. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 19, hlm. 220.
  60. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 26, hlm. 144.
  61. Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz, 1422 H, jld. 5, hlm. 439; Abu Hayyan, Al-Bahr al-Muhith, 1420 H, jld. 10, hlm. 410.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, cetakan pertama, 1415 H.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Zad al-Masir fi 'Ilm al-Tafsir. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1422 H.
  • Ibnu Sulaiman, Muqatil. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
  • Ibnu Athiyyah, Abdul Haq bin Ghalib. Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1422 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1419 H.
  • Abu as-Su'ud, Muhammad bin Muhammad. Irsyad al-'Aql as-Salim ila Mazaya al-Qur'an al-Karim. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad: Astan Quds Razavi, cetakan pertama, 1408 H.
  • Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir. Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Bonyad-e Bi'tsat. Qom: Muassasah al-Bi'tsah, 1416 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Tsaqafi Tehrani, Muhammad. Tafsir Rawan Jawid. Teheran: Intisyarat Burhan, cetakan ketiga, 1398 H.
  • Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad. Al-Kasyf wa al-Bayan al-Ma'ruf bi Tafsir ats-Tsa'labi. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan pertama, 1422 H.
  • Husaini Syah Abdula'zhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran: Intisyarat Miqat, 1363 HS.
  • Darwisy, Muhyiddin. I'rab al-Qur'an wa Bayanuhu. Suriah: Dar al-Irsyad, 1415 H.
  • Zuhaili, Wahbah bin Mushthafa. Al-Tafsir al-Munir fi al-'Aqidah wa asy-Syari'ah wa al-Manhaj. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'ashir, 1418 H.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.
  • Sabzawari Najafi, Muhammad. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, 1419 H.
  • Sulthan Alisyah, Muhammad bin Haidar. Bayan as-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, cetakan kedua, 1408 H.
  • Samarqandi, Nashr bin Muhammad. Bahr al-'Ulum. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Syaukani, Muhammad bin Ali. Fath al-Qadir. Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1414 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom: Jami'ah Mudarrisin, 1413 H.
  • Shadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an. Qom: Intisyarat Farhang-e Eslami, cetakan kedua, 1365 HS.
  • Thaleghani, Sayid Mahmud. Partowi az Qur'an. Teheran: Syirkat-e Sahami-e Entesyar, 1362 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Intisyarat Eslam, cetakan kedua, 1369 HS.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahyi al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Safi. Teheran: Maktabah as-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Qarasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran: Bonyad-e Bi'tsat, 1377 HS.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran: Naser Khosrow, 1364 HS.
  • Quthb, Sayyid. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut: Dar asy-Syuruq, cetakan ketiga puluh lima, 1425 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Maraghi, Ahmad bin Mushthafa. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. Tafsir wa Mufassiran. Qom: Muassasah Farhangi al-Tamhid, 1379 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Mubin. Qom: Bonyad-e Bi'tsat, cetakan ketiga, tanpa tahun.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Maliki, Muhammad Baqir. Manahij al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1414 H.