Konsep:Syaqiq al-Balkhi
| Sahabat Imam Shadiq as dan Imam Baqir as | |
| Nama lengkap | Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi |
|---|---|
| Kunyah | Abu Ali |
| Gelar | Al-Balkhi, Zahid, Sufi |
| Tempat lahir | Balkh |
| Wafat | 194/809-10 |
| Tempat dikuburkan | Transoxiana (Ma wara' al-nahr) |
| Mazhab | Diperselisihkan |
| Perawi dari Ma'shum | Imam Baqir as, Imam Shadiq as, dan Imam Kazhim as |
| Guru-guru | Ibrahim bin Adham, 'Abbad bin Katsir, Abu Hanifah |
| Karya | Siraj al-Ma'rifah wa Minhaj al-Thariqah, Mishbah al-Syari'ah wa Miftah al-Haqiqah |
| Terkenal dengan | Tokoh Sufi |
Syaqiq al-Balkhi atau Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi (w. 194/809-10) merupakan salah seorang ulama dan tokoh zuhud terkemuka dari Khurasan Besar pada abad ke-2/ke-8. Ia diakui sebagai sosok pakar yang menguasai beragam disiplin ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman.
Menurut sejumlah catatan sejarah, ia pernah berjumpa dengan Imam Baqir as serta berguru kepada Imam Shadiq as dan Imam Kazhim as, sekaligus meriwayatkan hadis dari mereka. Ia juga diriwayatkan telah menyusun sebuah kitab yang memuat hadis-hadis dari Imam Shadiq as. Dialognya dengan Imam Shadiq as mengenai konsep futuwwah, pertemuannya dengan Imam Kazhim as saat menunaikan ibadah haji, serta riwayatnya tentang mukjizat Imam as telah didokumentasikan dalam berbagai sumber. Kedekatannya dengan Imam Kazhim as bahkan membuat sejumlah tarekat Irfan Islam merunutkan silsilah spiritual mereka melalui Syaqiq hingga bermuara pada Imam ketujuh tersebut.
Sebagai salah satu figur sentral dalam dunia tasawuf, Syaqiq digelari "Imam al-Zahid" berkat laku kezuhudan dan riyadhah (latihan spiritual) yang sangat intensif. Ia tercatat sebagai perintis kajian sufisme di Khurasan sekaligus pelopor penyebaran tasawuf di kawasan tersebut. Selain itu, ia juga melahirkan berbagai pandangan orisinal terkait konsep tawakkul.
Kecenderungannya terhadap jalan tasawuf dilatarbelakangi oleh berbagai riwayat. Kisah yang paling masyhur bermula dari dialognya dengan seorang penjaga kuil berhala ketika ia melakukan perjalanan niaga ke negeri Turki. Saat Syaqiq menyeru pria penyembah berhala tersebut untuk menyembah Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki, sang penjaga justru membalas dengan menasihati Syaqiq agar membuktikan keyakinannya itu dengan meninggalkan urusan perniagaannya dan bertawakal sepenuhnya.
Penulis kitab Raudhat al-Jannat membuka kemungkinan bahwa Syaqiq adalah penganut Syiah berdasarkan tingginya derajat makrifat dan irfan yang dimilikinya, meskipun kalangan lain lebih menilainya sebagai seorang Ahlussunnah yang moderat. Di kalangan ulama Ahlussunnah, kendati ia tidak divonis sebagai perawi yang lemah, riwayat-riwayatnya kerap tidak dijadikan sandaran utama karena ditemukannya beberapa hadis berstatus munkar (tidak dikenal), terutama yang berkaitan dengan topik kezuhudan.
Dalam perjalanan keilmuannya, Syaqiq menimba ilmu dari Ibrahim bin Adham, Abu Hanifah, dan 'Abbad bin Katsir, serta berhasil mendidik banyak murid. Ia juga dikenal luas gemar mengembara ke berbagai negeri. Sejumlah sumber sejarah mencatat perjumpaannya dengan khalifah Harun atau Al-Ma'mun untuk menyampaikan berbagai petuah agama. Syaqiq tercatat berkali-kali terjun ke medan jihad melawan orang-orang kafir di garis perbatasan wilayah Islam, yang pada akhirnya membawa sebagian sejarawan pada kesimpulan bahwa ia gugur syahid dalam salah satu pertempuran tersebut.
Pengenalan
Syaqiq bin Ibrahim bin Ali al-Balkhi atau Syaqiq al-Balkhi[1] merupakan tokoh zuhud terkemuka dari Timur[2] sekaligus figur penting di Khurasan[3] pada abad ke-2/ke-8.[4] Selain dikenal luas atas keluhuran laku kezuhudannya, ia juga dipuji karena kedalaman ilmunya[5] dan pencapaiannya yang paripurna dalam berbagai disiplin keilmuan.[6] Syaqiq diklasifikasikan sebagai pakar ilmu-ilmu keislaman, termasuk di bidang Tafsir Al-Qur'an.[7] Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ia telah mendedikasikan waktu dua puluh tahun dalam hidupnya secara khusus untuk mengkaji Al-Qur'an.[8]
Kendati julukannya yang paling masyhur adalah al-Balkhi,[9] ia juga sering disapa dengan sebutan al-Azdi,[10] Zahid,[11] maupun Sufi.[12] Mayoritas sumber kesejarahan mencatat bahwa Syaqiq memiliki kunyah Abu Ali;[13] di samping kunyah lain yang turut dinisbatkan kepadanya, seperti Abu Ishaq[14] dan Abu Musa.[15]
Dua risalah yang berjudul Siraj al-Ma'rifah wa Minhaj al-Thariqah serta Mishbah al-Syari'ah wa Miftah al-Haqiqah[16] diyakini sebagai karyanya. Meskipun demikian, sejumlah kalangan memandang bahwa ia sebenarnya memiliki karya tulis yang jauh lebih melimpah[17] di pelbagai bidang,[18] yang kesemuanya sarat akan manfaat akademis dan spiritual.[19]
Literatur sejarah tidak memuat tanggal lahir Syaqiq secara definitif, tetapi ia diyakini lahir di kota Balkh[20] dan tumbuh besar sebagai penduduk tetap di wilayah tersebut.[21] Berbagai literatur lazim menyepakati tahun wafatnya pada 194/809-10.[22] Namun demikian, tahun 153/770,[23] 174/790-91,[24] 184/800-01,[25] serta 190/805-06[26] turut disebutkan sebagai alternatif. Tempat peristirahatannya yang terakhir diindikasikan berada di kawasan Transoxiana (Ma wara' al-nahr),[27] Jaylan,[28] atau Wasyjard.[29]
Di balik karakternya yang kental dengan kezuhudan, Syaqiq al-Balkhi sejatinya juga dipandang sebagai sosok kombatan tangguh.[30] Ia tercatat kerap turun ke medan laga dalam kampanye jihad melawan orang-orang kafir.[31] Beberapa historiografi menegaskan bahwa ia gugur syahid di palagan Kumalan[32] atau Kulan,[33] suatu teritori di Turki[34] yang pada era modern diidentifikasi sebagai wilayah Tartai.[35] Ketenangan mentalnya yang luar biasa saat di tengah kecamuk perang menjadi perbincangan luas di banyak catatan historis.[36] Di sisi lain, pendapat alternatif menyatakan bahwa ia wafat terbunuh di kawasan Khuttalan[37] lalu dimakamkan di sana.[38] Menurut kesaksian sejumlah riwayat, bertahun-tahun pascakematiannya, masyarakat masih mendatangi baju besi dan pedangnya untuk bertabaruk (mengharap berkah).[39]
Perawi Hadis dan Hubungan dengan Para Imam as
Syaqiq al-Balkhi berada pada silsilah transmisi (sanad riwayat) yang berujung kepada Nabi Muhammad saw[40] serta Imam Ali as.[41] Ia juga memegang jalur sanad secara mursal yang merujuk kepada Nabi Muhammad saw,[42] Imam Sajjad as,[43] Imam Baqir as,[44] beserta sejumlah sahabat Nabi.[45]
Disebutkan bahwa Syaqiq pernah berjumpa langsung dengan Imam Baqir as.[46] Berbagai riwayat lain mengafirmasi ikatan persahabatannya dengan Imam Shadiq as[47] dan posisinya sebagai pembelajar di hadapan Imam as.[48] Konon, ia memformulasikan sebuah kitab kompilasi hadis khusus dari Imam Shadiq as,[49] di mana di dalamnya ia menyematkan gelar "Muftaridh al-Tha'ah" (Sosok yang Wajib Ditaati) untuk sang Imam as.[50] Selain mentransmisikan hadis melalui perantara dari Imam Shadiq as,[51] Syaqiq juga terlibat dalam wacana diskursif dengan Imam as mengenai substansi ontologis Futuwwah.Kesalahan pengutipan: Tag <ref> harus ditutup oleh </ref></ref>
Berdasarkan beberapa penuturan, Syaqiq mendapatkan kehormatan untuk bersilaturahmi[52] dan menimba ilmu dari Imam Kazhim as[53] serta menukil riwayat langsung darinya.[54] Catatan historiografi menyebutkan pertemuan monumental Syaqiq dengan Imam Kazhim as tatkala Syaqiq berziarah haji pada tahun 149/766-67, di mana momen tersebut merekam berbagai demonstrasi mukjizat Imam as yang ia saksikan langsung.[55] Kisah perjumpaan religius ini bahkan telah diekskavasi oleh para sastrawan menjadi gubahan puisi.[56] Meski Ibnu Taimiyah secara vokal meragukan pertemuan tersebut dengan argumen bahwa Imam Kazhim as tidak pernah bermusafir ke Irak sepanjang masa hidup Syaqiq, argumen sanggahan ini telah dipatahkan oleh kalangan ulama secara ekstensif.[57]
Dalam ranah keilmuan spiritual, sejumlah karya Irfan mencatat bahwa afiliasi tarekat sufi tertentu memetakan genealogi keilmuan mereka dari Imam Kazhim as secara vertikal via Syaqiq.[58] Dalam konsepsi ini, Syaqiq dipercaya menyerap doktrin esoteris dan ajaran fundamental tasawuf langsung dari Imam Kazhim as, yang lantas menginspirasi para penerusnya untuk menyandarkan tradisi pemberian khirqah (jubah inisiasi) serta silsilah tarekat mereka kepada sang Imam yang ketujuh itu.[59]
Pendekatan Sufistik
Syaqiq ditempatkan di jajaran terdepan pilar-pilar agung sufisme[60] dan berstatus sebagai tokoh arkais yang masyhur di peradaban Balkh[61] berkenaan dengan perkembangan ilmu tasawuf.[62] Ia acap kali disejajarkan sebagai figur dari generasi paling awal kalangan sufi.[63] Kemasyhurannya di jagat tasawuf[64] melintasi batas kultural,[65] mengantarkan para penulis literatur irfan untuk memberinya aneka julukan kehormatan tinggi seperti Abid,[66] Ustad,[67] Syekh Zaman,[68] maupun predikat Tokoh Tunggal Zaman.[69]
Konsistensi pendirian Syaqiq dalam melakoni praktik zuhud[70] yang berpadu dengan ketangguhannya memikul riyadhah[71] secara ekstrem termasuk laku riyadhah lahiriah yang rigor,[72] mengelevasinya sebagai prototipe manusia zuhud nan tulen.[73] Menempati kasta tertinggi dalam hierarki ahli zahid,[74] Syaqiq pun acap kali dijuluki dengan sebutan terhormat Imam al-Zahid.[75]
Historiografi Islam mengindentifikasinya sebagai entitas intelektual purdana di zona Khurasan yang mengelaborasi wacana ilmu ahwal (ilmu keadaan rohani)[76] yang bersinonim dengan doktrin sufisme.[77] Ia merestrukturisasi paradigma keberagamaan komunal dengan membumikan pilar-pilar tasawuf.[78] Syaqiq al-Balkhi lazim menginisiasi majelis-majelis mau'idzah (nasihat),[79] di mana karakter dan corak moral yang ia manifestasikan dalam interaksi sosialnya,[80] berhasil memantik ketertarikan warga Khurasan untuk mengadopsi pola kehidupan asetik dan tasawuf.[81]
Sebab Kecenderungan pada Tasawuf
Fase prapengenalan Syaqiq pada tasawuf bertolak belakang dengan kondisi pascanya; pada masa silam ia berstatus konglomerat yang diliputi kekayaan materiil melimpah.[82] Ia secara riil mendominasi kekuasaan agraris atas sedikitnya tiga ratus wilayah pedesaan[83] di distrik geografi Balkh.[84] Sebentuk kalkulasi yang diklaim berakar pada pengakuan personal Syaqiq menegaskan total ekuivalensi hartanya di era prakesufian menyentuh ekuivalensi fantastis senilai tiga ratus ribu dirham.[85] Keseluruhan stabilitas kapital ekonomi[86] yang diekstraksi dari aktivitas transaksi bisnis ekspansifnya ke luar wilayah[87] maupun lewat jejaring operasional riba,[88] musnah atau terdekonstruksi secara ekstrem pasca sebuah anomali spiritual.
Bermula saat berlangsungnya suatu pengembaraan komersial, di mana Syaqiq menyambangi sebuah biara penganut syirik.[89] Begitu ia merasionalisasi penolakan tauhid kepada sang penjaga kuil mengenai kemustahilan eksistensial penyembahan berhala, dengan elegan penjaga itu meruntuhkan logika argumentasi Syaqiq lewat statemen tajam yang menyerang paradoks keyakinan Syaqiq itu sendiri. Ia dinilai abai secara eksistensial jika benar Allah ialah Penjamin Mutlak Rezeki, tidak sewajarnya Syaqiq menghabiskan energi untuk lari ke mancanegara mencari keuntungan dagang. Konfrontasi intelektual ini sukses menyulut pergeseran total dari kompas nurani dan laku eksistensi Syaqiq.[90] Dalam prespektif kronologi tambahan, narasi serupa mencuat mengenai seorang rahib Majusi yang turut mendekonstruksi keserakahan duniawi Syaqiq dengan retorika takdir; meyakinkannya bahwa seluruh keuntungan telah distrukturkan menurut kuota determinisme ilahi, sehingga semua jerih payahnya tak akan mampu melampaui apa yang sudah menjadi rezeki permanennya.[91] Beragam spektrum histori lain juga merekam determinan-determinan paralel di balik titik balik sufistik yang terjadi padanya.[92]
Teori Tawakkul
Syaqiq menginisiasi postulat radikal nan segar dalam diskursus ontologi esoterik tentang tawakkul.[93] Skala impak serta signifikansi dari konseptualisasi ini[94] berkontribusi besar atas hujan apresiasi di ragam referensi klasik.[95] Ia dipersepsikan sebagai pionir doktrin tawakkul[96] bermazhab ortodoksi di Khurasan.
Intensitas tawakkulnya yang berkaliber super[97] yang secara metodologis menjadi tumpuan fondasi manuver spiritual pergerakannya[98] menyulap representasinya sebagai anasir manusia yang memfokuskan eksistensi holistik hidupnya di koridor fatalisme yang konstruktif tersebut.[99] Meski sebagian kolega seperti Sufyan al-Tsauri menuding laku Syaqiq berpotensi mereduksi partisipasi sosial publik untuk memboikot kewajiban interaksi kapital dan hanya mempasrahkan diri ke dalam fatalisme sepihak;[100] Syaqiq menampik segala pelabelan miring ini. Ia menekankan tesis apologetik bahwa dengan bertumpu penuh pada penjaminan universal Allah, individu dapat mengonsentrasikan determinasi spiritualnya bagi pencapaian ukhrawi yang paling asasi.[101]
Guru, Sahabat, dan Murid
Reputasi historis menempatkan Syaqiq al-Balkhi sebagai sang pemelajar fanatik yang sukses mengabsorpsi makrifat dari sangat banyak maestro,[102] yang menurut autobiografi vernakularnya, dikalkulasi setara seribu tujuh ratus instruktur keilmuan.[103] Riwayat biografis komparatif turut memproyeksikannya sebagai sobat intim yang merengkuh ikatan perkawanan kuat dengan figur intelektual elite semacam Ibrahim bin Adham, Abbad bin Katsir, Abu Hanifah,[104] hingga Abu Yusuf al-Qadhi.[105]
Validasi referensi teologis acap mengklaim Ibrahim bin Adham bertindak selaku guru tarekat bagi Syaqiq[106] seraya menegaskan peran Syaqiq selaku perawi riwayat hadisnya;[107] lebih ekspansif, ia didudukkan di singgasana sebagai khalifah suksesi dari Ibrahim bin Adham.[108] Fakta historiografi turut menyanjung supremasinya melampaui posisi Ibrahim bin Adham pada aspek makro zuhud dan aplikasi doktrin futuwwah.[109]
Bersama sejawatnya Abu Yusuf al-Qadhi, Syaqiq rutin berpartisipasi di halakah keilmuan Abu Hanifah[110] guna menimba transferensi transmisi literasi darinya;[111] dengan rujukan ini, para penelaah memposisikan pilar ilmu fikih Syaqiq merupakan derivasi langsung dari fatwa-fatwa Abu Hanifah.[112] Al-Dzahabi melalui ensiklopedi sejarahnya Tarikh al-Islam mengemukakan wawasan tambahan bahwa patronnya dalam diskursus fikih justru bersumber dari Zufar bin Hudzail al-Kufi. Paralel dengan itu, guru spiritualnya pada level pengamalan ibadah ia sebutkan sebagai Abbad bin Katsir, sementara keagungan khusyuk ia asimilisasi dari mentor Israil bin Yunus.[113]
Eksistensinya di kanon historis juga terekam sebagai lokomotif pencetak segudang ilmuwan penerus yang tangguh.[114] Dalam konstelasi riwayat genealogis sufi, tokoh semisal Hatim bin Unwan al-Ashamm dipuja sebagai murid purdana dan perawi utama untuk doktrinnya.[115] Putranya sendiri, Muhammad bin Syaqiq, juga ditasbihkan memegang otoritas meriwayatkan dari sang bapak;[116] walau catatan margin juga menandai percikan diskrepansi intelektual di internal mereka.[117]
Mazhab dan Ketsiqahan
Menurut pemaparan Ali Namazi Syahrudi, pakar keilmuan Ilmu Rijal mazhab Syiah, leksikon Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi sama sekali absen dalam ensiklopedi referensi periwayatan Syiah.[118] Kendati absennya validasi ini, kompilator teks master Raudhat al-Jannat justru menghipotesiskan prospek tendensi ke-Syiah-an dalam jiwanya, meminjam premis penguasaannya akan irisan tak terhingga dalam gnostik irfan dan makrifat. Hipotesis ini dilandaskan pada kecurigaan bahwa manuver penyensoran identitas yang diduga diarsiteki oleh Ibnu Khallikan menjadi pembenar dari kebungkaman riwayat di fase awal;[119] anomali yang nyatanya ironis mengingat Ibnu Khallikan secara verbal menukil deskripsi riwayat presisi ihwal Syaqiq di monograf Wafayat al-A'yan.[120] Pada lapis konspirasi berlainan, justifikasi martirologi gugurnya Syaqiq justru ditumpukan atas sentimen dan persepsi oposisional keagamaan akibat stigma pro-Rafidhi yang disangkakan padanya.[121]
Paradoks ortodoksi juga menghinggapi nomenklatur nama Syaqiq al-Balkhi yang bertengger kuat selaku saksi transmisi kompilasi riwayat sakral faksi teologis Itsna 'Asyar (Dua Belas Imam).Kesalahan pengutipan: Tag <ref> harus ditutup oleh </ref></ref> Konstelasi ironi ini kian akut jika dihadapkan pada rekaman historis diplomasi teologisnya bersama Harun[122] maupun penguasa elitis Ma'mun[123] dengan melayangkan diskursus apologetik memuja legitimasi hierarki tiga khalifah. Merespons kontradiksi ini, Abdullah Mamaqani mengeksekusi konklusi kategoris di dalam diskursusnya di Tanqih al-Maqal yang melucuti indikasi afiliasi Syiah untuk Syaqiq; menabalkannya sebagai entitas kultural Ahlussunnah berhaluan sentris dan toleran.[124] Doktrin Irfani lantas menyorotinya sebagai representasi figuratis Sunni moderat bereputasi nirmala yang merangkak dari spektrum puritan rasionalis (Ashab al-Ra'yi) menuju kristalisasi teks pada tradisi puritan dogmatis (Ahli Hadis).[125] Sejumput peneliti kontemporer berhaluan analitik menasabkan afiliasi peribadatannya di bawah tenda yurisprudensi fikih Hanafi.[126]
Dalam kacamata takhrij kritikus hadis Khathib al-Baghdadi di literatur ensiklopedisnya Tarikh Baghdad, figuritas Syaqiq diamnestikan dari persekusi moral pemalsuan hadis;[127] akan tetapi dalam alur metodologis yang sejajar, ia mengeksekusi vonis peyoratif untuk men-tadh'if seluruh bangunan riwayat esoteriknya karena disinyalir terkontaminasi susupan elemen riwayat munkar (tidak dikenal) di lokus literasi moral mengenai zuhud dan varian topikal semisal.[128] Pendapat seirama disematkan kritikus Al-Dzahabi dalam kompilasi Mizan al-I'tidal yang secara etis tidak melucuti predikat religius Syaqiq; melainkan menargetkan redaksi riwayat berpredikat munkar itu lahir dari defek kelemahan jalur sanad bawahan orang-orang yang meriwayatkan darinya.[129]
Perjalanan dan Pertemuan
Kapasitas pergerakan horizontal Syaqiq al-Balkhi tergambar secara menakjubkan dari catatan pengembaraan spiritual dan lintas benuanya yang masif, merambah wilayah kosmopolit sekaliber Baghdad,[130] Basra,[131] Qazvin,[132] Ray,[133] hingga jantung urban trans-Timur Samarkand,[134] menjadikannya termasyhur dan meraup penamaan alegoris sebagai sang "Musafir".[135] Sebagaimana disinggung di sebagian fragmen turistik sejarah, satu episentrum perjalanan bahkan dikoreografikan sebagai manifestasi ziarah agung di bawah iringan eskort tiga ratus pengikut setia dari klan zahid.[136]
Momentum rihlah relijinya ke tanah suci Mekah mengonfrontasikan dirinya dalam dialog diplomatis krusial dengan otoritas kedaulatan Harun[137] atau Al-Ma'mun[138] selaku representasi supremasi politik dinasti khalifah Bani Abbasiyah, sembari melontarkan titah nasihat eskatologis secara langsung.[139] Variasi sirkulasi rekam jejak lain memotret epos historikal bertemunya Syaqiq dengan raksasa moralis sezamannya setingkat Sufyan al-Tsauri[140] dan barisan ulama prestisius lainnya[141] pada interval lawatannya tersebut. Titik balik fenomenal yang ditahbiskan di dalam jurnal rihlahnya adalah persinggungan radikal dengan entitas moral Abdul Aziz bin Abi Dawud; dan ia tidak mereduksi validasi ihwal betapa sentralnya determinasi Abdul Aziz yang berhasil menginstruksikan koreksi metodologis terhadap keseluruhan spektrum gaya hidup Syaqiq dari dua dekade lalu hingga akhir perjalanannya.[142]
Catatan Kaki
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 5, hlm. 434.
- ↑ Abu Nu'aim, Hilyah al-Awliya, Kairo, hlm. 58.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 475; Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 182; Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63.
- ↑ Bamathraf, Al-Jami', Baghdad, jld. 2, hlm. 581.
- ↑ Husaini, Nakhustin Zanan-e Sufi, 1385 HS, hlm. 270.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Husaini, Nakhustin Zanan-e Sufi, 1385 HS, hlm. 270.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96; Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 183; Sya'rani, Al-Thabaqat al-Kubra Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah, 1426 H, jld. 1, hlm. 140.
- ↑ Sebagai contoh: Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96; Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 237; Mamaqani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 35, hlm. 105.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173; Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63; Husaini, Nakhustin Zanan-e Sufi, 1385 HS, hlm. 270.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 228; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131; Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173.
- ↑ Sebagai contoh: Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 475; Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 8, hlm. 133; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131; Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173.
- ↑ Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 187.
- ↑ Syekh Shaduq, Al-Khishal terjemahan Modarres Gilani, 1362 HS, jld. 2, hlm. 314.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 445.
- ↑ Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, 1375 HS, hlm. 138.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 441.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 134; Anshari, Thabaqat al-Shufiyyah, tanpa tahun, hlm. 18.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 6, hlm. 237; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173, 174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105, 106; Ibnu Abi al-Wafa, Al-Jawahir al-Mudhi'ah, Penerbit Muassasah al-Risalah, jld. 2, hlm. 255.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 476; Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Awliya, 1427 H, hlm. 44; Musyar, Muallifin Kutub Chapi Farsi va Arabi, 1340 HS, jld. 3, hlm. 435.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96; Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 55.
- ↑ Nasafi, Raz-e Rabbani, 1378 HS, hlm. 254.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 106; Shadr, Takmilah Amal al-Amil, 1429 H, jld. 3, hlm. 161; Musyar, Muallifin Kutub Chapi Farsi va Arabi, 1340 HS, jld. 3, hlm. 435.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96; Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 55.
- ↑ Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 238; Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 108.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 229; Al-Dzahabi, Mizan al-I'tidal, 1382 H, jld. 2, hlm. 279.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 106; Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Awliya, 1427 H, hlm. 44.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 107; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 232; Bamathraf, Al-Jami', Baghdad, jld. 2, hlm. 581.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 6, hlm. 237.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 442.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 186; Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 140; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 106.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192.
- ↑ Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 55; Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 106; Shadr, Takmilah Amal al-Amil, 1429 H, jld. 3, hlm. 161.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 228; Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 238; Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 139.
- ↑ Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63–64; Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81; Ibnu Abi al-Wafa, Al-Jawahir al-Mudhi'ah, Penerbit Muassasah al-Risalah, jld. 2, hlm. 254–255.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 640; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 41, hlm. 163–164.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 640; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 16, hlm. 288; Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 217.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 641; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 46, hlm. 69; Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 217.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 641; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 46, hlm. 303–304.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 640; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 22, hlm. 405.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 443; Modarres Tabrizi, Raihanah al-Adab, 1369 HS, jld. 3, hlm. 229.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 108.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 445.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 445.
- ↑ Shafi Alisyah, Irfan al-Haq, 1371 HS, hlm. 121.
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 219.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 441; Musyar, Muallifin Kutub Chapi Farsi va Arabi, 1340 HS, jld. 3, hlm. 435; Modarres Tabrizi, Raihanah al-Adab, 1369 HS, jld. 3, hlm. 229.
- ↑ Shadr, Takmilah Amal al-Amil, 1429 H, jld. 3, hlm. 161; Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192; Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 441.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 106; Shadr, Takmilah Amal al-Amil, 1429 H, jld. 3, hlm. 161; Modarres Tabrizi, Raihanah al-Adab, 1369 HS, jld. 3, hlm. 229.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Thabari Amoli Shaghir, Dalail al-Imamah, 1413 H, hlm. 317-319; Nawadir al-Mu'jazat, 1427 H, hlm. 317–321; Arbeli, Kasyf al-Ghummah, 1381 H, jld. 2, hlm. 213-214; Syami, Al-Durr al-Nazhim, 1420 H, hlm. 663–664.
- ↑ Ibnu Syahrasyub Mazandarani, Manaqib Aal Abi Thalib as, 1379 H, jld. 4, hlm. 302–303.
- ↑ Shadr, Takmilah Amal al-Amil, 1429 H, jld. 3, hlm. 161.
- ↑ Sayid Haidar Amuli, Jami' al-Asrar, 1368 HS, hlm. 224.
- ↑ Ibnu Abi Jumhur Ahsai, Al-Mujalli, 1329 H, hlm. 376.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105; Musyar, Muallifin Kutub Chapi Farsi va Arabi, 1340 HS, jld. 3, hlm. 435.
- ↑ Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 54.
- ↑ Barqai, Rahnama-ye Danesyuvaran, 1384 HS, jld. 1, hlm. 453.
- ↑ Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 54; Shafi Alisyah, Irfan al-Haq, 1371 HS, hlm. 121.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 106.
- ↑ Tamimi, Al-Thabaqat al-Saniyyah, 1403 H, jld. 4, hlm. 74.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192; Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 441; Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 320.
- ↑ Abu Nu'aim, Hilyah al-Awliya, Kairo, jld. 8, hlm. 58.
- ↑ Al-Dzahabi, Mizan al-I'tidal, 1382 H, jld. 2, hlm. 279.
- ↑ Tamimi, Al-Thabaqat al-Saniyyah, 1403 H, jld. 4, hlm. 74.
- ↑ Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 182; Sya'rani, Al-Thabaqat al-Kubra, 1426 H, jld. 1, hlm. 139; Tamimi, Al-Thabaqat al-Saniyyah, 1403 H, jld. 4, hlm. 74.
- ↑ Bamathraf, Al-Jami', Baghdad, jld. 2, hlm. 581.
- ↑ Modarres Tabrizi, Raihanah al-Adab, 1369 HS, jld. 3, hlm. 229.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 114.
- ↑ Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63; Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 134; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105–106.
- ↑ Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 8, hlm. 133; Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 107; Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyairiyyah, 1374 HS, hlm. 53.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 228; Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 139; Tamimi, Al-Thabaqat al-Saniyyah, 1403 H, jld. 4, hlm. 75.
- ↑ Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 238.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 228; Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 139; Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 186.
- ↑ Tamimi, Al-Thabaqat al-Saniyyah, 1403 H, jld. 4, hlm. 74.
- ↑ Husaini, Nakhustin Zanan-e Sufi, 1385 HS, hlm. 270; Nasafi, Raz-e Rabbani, 1378 HS, hlm. 254.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 228; Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 140; Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 109.
- ↑ Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 139.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 476; Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 8, hlm. 133; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 134–135.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 250–251.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 8, hlm. 133–134; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 134–135; Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Awliya, 1427 H, hlm. 44–45; Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyairiyyah, 1374 HS, hlm. 53–54.
- ↑ Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 8, hlm. 133; Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 475; Sya'rani, Al-Thabaqat al-Kubra, 1426 H, jld. 1, hlm. 139.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105.
- ↑ Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63; Ibnu Khamis, Manaqib al-Abrar, 1427 H, jld. 1, hlm. 182; Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 134; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105.
- ↑ Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63.
- ↑ Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81; Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 54; Anshari, Thabaqat al-Shufiyyah, tanpa tahun, hlm. 18.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 111.
- ↑ Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 320.
- ↑ Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, 1375 HS, hlm. 138.
- ↑ Athar, Tadzkirah al-Awliya, 1430 H, hlm. 251.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96.
- ↑ Ibnu Abi al-Wafa, Al-Jawahir al-Mudhi'ah, Penerbit Muassasah al-Risalah, jld. 2, hlm. 254.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 475; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173; Sulami, Thabaqat al-Shufiyyah, 1424 H, hlm. 63.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131, 133; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105; Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 237.
- ↑ Barqai, Rahnama-ye Danesyuvaran, 1384 HS, jld. 1, hlm. 453.
- ↑ Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 54.
- ↑ Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 55.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173; Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Awliya, 1427 H, hlm. 44.
- ↑ Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 322.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 230.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131; Al-Dzahabi, Mizan al-I'tidal, 1382 H, jld. 2, hlm. 279; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173–174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105; Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 322.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 23, hlm. 131; Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 237.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 173; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 105.
- ↑ Anshari, Thabaqat al-Shufiyyah, tanpa tahun, hlm. 19.
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 4, hlm. 217.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 H, jld. 4, hlm. 107.
- ↑ Ibnu Khallikan, Wafayat al-A'yan, Beirut, jld. 2, hlm. 475-476.
- ↑ Shadr, Takmilah Amal al-Amil, 1429 H, jld. 3, hlm. 161.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 444.
- ↑ Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 322.
- ↑ Mamaqani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 35, hlm. 106.
- ↑ Jami, Nafahat al-Uns, Calcutta, hlm. 54; Anshari, Thabaqat al-Shufiyyah, tanpa tahun, hlm. 19.
- ↑ Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 441.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96.
- ↑ Al-Dzahabi, Mizan al-I'tidal, 1382 H, jld. 2, hlm. 279.
- ↑ Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 21, hlm. 96.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 116.
- ↑ Rafi'i Qazwini, Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, 1408 H, jld. 3, hlm. 81.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 111–112.
- ↑ Nasafi, Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand, 1420 H, hlm. 237.
- ↑ Anshari, Thabaqat al-Shufiyyah, tanpa tahun, hlm. 19.
- ↑ Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 322; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 231.
- ↑ Nasafi, Raz-e Rabbani, 1378 HS, hlm. 254; Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 322.
- ↑ Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 231; Munawi, Thabaqat al-Shufiyyah, 1999 M, jld. 1, Bagian Pertama, hlm. 322.
- ↑ Syirwani, Riyadh al-Siyahah, 1361 HS, jld. 1, hlm. 192; Rahmani Walawi, Tarikh Ulama-ye Balkh, 1386 HS, jld. 1, hlm. 442.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar, 1424 H, jld. 3, hlm. 111.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 174; Ibnu Syakir Kutubi, Fawat al-Wafayat, Beirut, jld. 2, hlm. 106; Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Awliya, 1427 H, hlm. 46–47.
- ↑ Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 4, hlm. 140; Tamimi, Al-Thabaqat al-Saniyyah, 1403 H, jld. 4, hlm. 75; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 228.
Daftar Pustaka
- Abu Nu'aim, Ahmad bin Abdullah. Hilyah al-Awliya wa Thabaqat al-Ashfiya. Kairo, Dar Umm al-Qura, tanpa tahun.
- Al-Amin, Sayid Haidar. Jami' al-Asrar wa Manba' al-Anwar. Teheran, Pusat Penerbitan Ilmiah dan Budaya, 1368 HS.
- Al-Dzahabi, Muhammad bin Muhammad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdul Salam Tadmuri. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
- Al-Dzahabi, Syamsuddin. Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, 1382 H.
- Anshari, Khawajah Abdullah. Thabaqat al-Shufiyyah. Tanpa penerbit, tanpa tempat, tanpa tahun.
- Arbeli, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Tabriz, Penerbit Bani Hasyimi, 1381 H.
- Athar, Muhammad bin Ibrahim. Tadzkirah al-Awliya. Damaskus, Penerbit Dar al-Maktabi, 1430 H.
- Bahrani Ishfahani, Abdullah bin Nurullah. Awalim al-Ulum wa al-Ma'arif. Qom, Penerbit Muassasah al-Imam al-Mahdi, cetakan kedua, 1382 HS.
- Bahrani, Sayid Hasyim bin Sulaiman. Al-Inshaf fi al-Nash 'ala al-Aimmah al-Itsna 'Asyar. Terjemahan Rasuli Mahalati. Teheran, Penerbit Daftar Nasyr Farhang Eslami, cetakan kedua, 1378 H.
- Bamathraf, Muhammad Abdul Qadir. Al-Jami' (Jami' Syaml A'lam al-Muhajirin al-Muntasibin ila al-Yaman). Baghdad, Penerbit Dar al-Rasyid, tanpa tahun.
- Barqai, Ali Akbar. Rahnama-ye Danesyuvaran. Qom, Penerbit Jami'ah Modarresin, 1384 HS.
- Dailami, Hasan bin Muhammad. Irsyad al-Qulub. Terjemahan Solgi. Qom, Penerbit Nashir, 1376 HS.
- Hujwiri, Abul Hasan Ali. Kasyf al-Mahjub. Teheran, Penerbit Thahuri, cetakan keempat, 1375 HS.
- Husaini, Maryam. Nakhustin Zanan-e Sufi. Teheran, Penerbit Nashr-e Elm, 1385 HS.
- Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid. Syarh Nahj al-Balaghah. Qom, Penerbit Maktabah Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
- Ibnu Abi al-Wafa, Abdul Qadir bin Muhammad. Al-Jawahir al-Mudhi'ah fi Thabaqat al-Hanafiyah. Tanpa tempat, Penerbit Muassasah al-Risalah, cetakan kedua, tanpa tahun.
- Ibnu Abi Jumhur Ahsai, Hasan bin Ibrahim. Al-Mujalli. 1329 H.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Penerbit Dar Shadir, 1385 H.
- Ibnu Atsir, Mubarak bin Muhammad. Al-Mukhtar min Manaqib al-Akhyar. Al-Ain, Penerbit Markaz Zayed, 1424 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Shifah al-Shafwah. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1423 H.
- Ibnu Khallikan, Ahmad bin Muhammad. Wafayat al-A'yan. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Ibnu Khamis, Husain bin Nashr. Manaqib al-Abrar wa Mahasin al-Akhyar. Al-Ain, Penerbit Markaz Zayed, 1427 H.
- Ibnu Mulaqqin, Umar bin Ali. Thabaqat al-Awliya. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1427 H.
- Ibnu Syahrasyub Mazandarani, Muhammad bin Ali. Manaqib Aal Abi Thalib as. Qom, Penerbit Allamah, 1379 H.
- Ibnu Syakir Kutubi, Muhammad. Fawat al-Wafayat. Beirut, Penerbit Dar Shadir, tanpa tahun.
- Jami, Abdurrahman bin Ahmad. Nafahat al-Uns. Calcutta, Penerbit Mathba'ah Lisi, tanpa tahun.
- Kelompok Penulis. Jam' al-Maqal fi Itsbat Karamat al-Awliya. Bareilly, Penerbit Dar al-Atsar al-Islamiyyah, 2006 M.
- Khathib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
- Khazzaz Razi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar. Qom, Penerbit Bidar, 1401 H.
- Khwansari, Muhammad Baqir. Raudhat al-Jannat fi Ahwal al-Ulama wa al-Sadat. Qom, Penerbit Ismailiyan, 1390 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Mamaqani, Abdullah. Tanqih al-Maqal fi Ilm al-Rijal. Qom, Penerbit Muassasah Aal al-Bait as, 1431 H.
- Modarres Tabrizi, Muhammad Ali. Raihanah al-Adab. Teheran, Penerbit Khayyam, cetakan ketiga, 1369 HS.
- Munawi, Muhammad Abdurrahman. Thabaqat al-Shufiyyah. Beirut, Penerbit Dar Shadir, 1999 M.
- Musyar, Khan Baba. Muallifin Kutub Chapi Farsi va Arabi. Tanpa penerbit, 1340 HS.
- Namazi Syahrudi, Ali. Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits. Teheran, Penerbit Farzand-e Muallif, 1414 H.
- Namazi Syahrudi, Ali. Mustathrafat al-Ma'ali. Teheran, Penerbit Muassasah Naba', 1422 H.
- Nasafi, Azizuddin. Raz-e Rabbani. Teheran, Penerbit Amir Kabir, 1378 HS.
- Nasafi, Umar bin Muhammad. Al-Qand fi Dzikr 'Ulama Samarqand. Teheran, Penerbit Miras Maktub, 1420 H.
- Qusyairi, Abul Qasim Abdul Karim. Al-Risalah al-Qusyairiyyah. Qom, Penerbit Bidar, 1374 HS.
- Rafi'i Qazwini, Abdul Karim bin Muhammad. Al-Tadwin fi Akhbar Qazwin. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H.
- Rahmani Walawi, Mahdi. Tarikh Ulama-ye Balkh. Masyhad, Penerbit Astan Quds Razavi, 1386 HS.
- Sam'ani, Abdul Karim bin Muhammad. Al-Ansab. Hyderabad, Penerbit Dairah al-Ma'arif al-Utsmaniyyah, 1382 H.
- Shadr, Hasan. Takmilah Amal al-Amil. Beirut, Penerbit Dar al-Muarrikh al-Arabi, 1429 H.
- Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut, Penerbit Dar al-Nasyr, cetakan kedua, 1401 H.
- Shafi Alisyah, Muhammad Hasan. Irfan al-Haq. Teheran, Penerbit Shafi Alisyah, cetakan kedua, 1371 HS.
- Sulami, Muhammad bin Husain. Thabaqat al-Shufiyyah. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan kedua, 1424 H.
- Syami, Yusuf bin Hatim. Al-Durr al-Nazhim. Qom, Penerbit Jami'ah Modarresin, 1420 H.
- Sya'rani, Abdul Wahhab. Al-Thabaqat al-Kubra. Kairo, Penerbit Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1426 H.
- Syekh Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Itsbat al-Hudah. Beirut, Penerbit A'lami, 1425 H.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Terjemahan Modarres Gilani. Teheran, Penerbit Javidan, 1362 HS.
- Syirwani, Zainal Abidin. Riyadh al-Siyahah. Teheran, Penerbit Sa'di, 1361 HS.
- Syusytari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom, Penerbit Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
- Tamimi, Taqiuddin. Al-Thabaqat al-Saniyyah fi Tarajim al-Hanafiyah. Riyadh, Penerbit Dar al-Rifa'i, 1403 H.
- Thabari Amoli Shaghir, Muhammad bin Jarir. Dalail al-Imamah. Qom, Penerbit Bi'tsat, 1413 H.
- Thabari Amoli Shaghir, Muhammad bin Jarir. Nawadir al-Mu'jazat. Qom, Penerbit Dalil-e Ma, 1427 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Penerbit Dar al-Tsaqafah, 1414 H.