Lompat ke isi

Konsep:Perawi hadis

Dari wikishia

Perawi hadis adalah orang yang menukil riwayat dengan menyebutkan sanad dari Imam Maksum (as). Sebagian menyebutkan bahwa selain menukil hadis, kefakihan dan dirayah dalam hadis juga termasuk syarat perawi. Islam, akal, baligh, iman, keadilan, dan dhabith merupakan syarat-syarat diterimanya riwayat seorang perawi. Maksud dari iman adalah bermazhab Syiah Dua Belas Imam dan maksud dari dhabith adalah memiliki kekuatan memori dalam menjaga hadis. Berdasarkan keyakinan para ahli rijal, untuk memercayai atau tidak memercayai sebuah riwayat, diperlukan penguasaan penuh terhadap karakteristik perawi.

Dikatakan bahwa kedudukan perawi lebih rendah daripada muhaddis. Hadis-hadis juga dibagi menjadi empat kategori utama berdasarkan keadaan perawi, yaitu hadis shahih, hadis hasan, hadis muwatstsaq, dan hadis dhaif; di mana masing-masing kategori tersebut juga bercabang menjadi beberapa jenis turunan.

Pendapat seputar seorang perawi berkaitan dengan pujian (madah) atau celaan (dzam), atau keduanya, yang dalam istilah disebut sebagai Jarh dan Ta'dil. Adil, tsiqah, hujah, dan shaleh adalah lafaz-lafaz yang menunjukkan ta'dil, sementara lafaz-lafaz seperti dhaif, kadzdzab (pembohong), ghulat, dan mudhtharib menunjukkan jarh terhadap perawi.

Para ulama Ilmu Rijal dalam kitab-kitab mereka merujuk kepada para perawi dan meneliti keadaan mereka. Abdullah bin Abbas, Ashbagh bin Nubatah, Amir bin Watsilah, Abu Khalid al-Kabuli, Zurarah bin A'yan, Hisyam bin al-Hakam, Aban bin Utsman, Hasan bin Mahbub, Husain bin Sa'id al-Ahwazi, Ali bin Mahziyar al-Ahwazi, dan Muhammad bin al-Hasan al-Saffar al-Qummi termasuk di antara perawi yang dikenal dalam berbagai periode kehadiran para Imam (as). Dikatakan bahwa maksud dari merujuk kepada perawi hadis dalam riwayat Imam Mahdi (aj) adalah para fukaha.

Hubungan antara Perawi dan Muhaddis

Perawi hadis adalah orang yang menukil hadis dengan silsilah sanad dari Maksum.[1] Istilah ini digunakan dalam ilmu dirayah[2] dan Ilmu Rijal.[3] Mengenai definisi dan tugas perawi, terdapat dua pandangan yang dikemukakan:

  • Perawi hanya menukil teks hadis dari para Maksum[4] dan tidak bertanggung jawab atas pengkajian seperti pemahaman makna mendalam hadis, mutlak dan muqayyad, kontradiksi dengan riwayat lain, serta pendahuluan istinbath hukum syara'.[5]
  • Perawi bukan sekadar penukil lafaz hadis, melainkan menukil riwayat disertai pemahaman dan penangkapan kandungannya. Berdasarkan makna ini, perawi memiliki irisan makna dengan fakih dalam istilah umum.[6]

Mamaqani, salah seorang ulama ilmu rijal Syiah, dengan mengisyaratkan lebih rendahnya tingkatan perawi dibandingkan dengan muhaddis (pakar hadis), menganggap perawi sebagai orang yang hanya melakukan penukilan riwayat; oleh karena itu, orang yang hanya mendengar sebuah hadis tidak dihitung sebagai muhaddis.[7]

Kegunaan

Fukaha Imamiyah melakukan penelitian terhadap perawi dan sanad riwayat untuk melakukan istinbath hukum syariat dari khabar wahid.[8] Sebagai contoh, jika perawi bersifat tsiqah dan Imami, maka riwayatnya dihitung sebagai hadis yang valid.[9] Pengetahuan tentang karakteristik dan sifat perawi merupakan dasar bagi penerimaan atau penolakan riwayat.[10] Mengenal perawi diperoleh melalui Ilmu Rijal[11] dan merujuk pada kitab-kitab rijal.[12] Pandangan para ulama rijal mengenai setiap perawi mengarah pada pujian (madah), celaan (dzam), atau keduanya.[13]

Meluasnya pembahasan rijal dan munculnya teori-teori baru dalam mengevaluasi ketsiqahan perawi dan validitas sanad, menyebabkan penyusunan kaidah-kaidah umum ilmu rijal dan penulisan banyak mu'jam rijal.[14] Dikatakan bahwa perluasan masalah syarat dan keadaan perawi dimulai sejak masa Allamah Hilli.[15]

Syarat Penerimaan Riwayat Perawi

Penerimaan riwayat diperoleh melalui berbagai cara, yang salah satunya adalah pembuktian ketsiqahan perawi.[16] Untuk penerimaan riwayat, disebutkan beberapa syarat bagi perawi[17] di antaranya adalah Islam, akal, baligh, iman, keadilan, dan dhabith.[18]

  • Iman: Maksud dari iman dianggap adalah bermazhab Syiah Dua Belas Imam; oleh karena itu riwayat Ahlusunah atau pengikut sekte Syiah lainnya tidak diterima.[19] Meskipun demikian, sebagian fukaha menganggap riwayat mereka dapat diterima dalam kondisi riwayat tersebut tidak bertentangan dengan riwayat Syiah dan memenuhi syarat lainnya.[20]
  • Keadilan: Berdasarkan syarat ini, riwayat orang yang fasik tidak diterima.[21] Tentu saja sebagian menganggap sifat dapat dipercaya sudah mencukupi untuk ketsiqahan perawi.[22]
  • Dhabith: Perawi harus memiliki kesadaran dan kemampuan menjaga hadis agar tidak terjadi kesalahan, pengurangan, atau penambahan dalam penukilan hadis.[23] Oleh karena itu, hadis perawi yang sering kali melakukan kesalahan tidaklah diterima.[24] Meskipun demikian, kesalahan yang sedikit tidak menghalangi penerimaan riwayat dan tidak menyebabkan perlemahan (tadh'if) perawi.[25] Syarat ini dianggap sebagai syarat yang mendasar[26] dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.[27]

Dikatakan bahwa mengenal tingkatan dan level para perawi dari sisi takwa, ilmu, dan kemampuan menjaga hadis, adalah wajib bagi fakih untuk mendahulukan satu riwayat atas riwayat lainnya dalam kondisi terjadi kontradiksi dalil.[28] Dalam beberapa kasus, meskipun fukaha sepakat atas kriteria tautoziq (penguatan), terdapat perbedaan pendapat mengenai terwujudnya syarat-syarat tersebut pada beberapa perawi; oleh karena itu, mungkin saja seorang fakih menganggap sebuah riwayat shahih sementara fakih lainnya tidak menerimanya.[29]

Jarh dan Ta'dil Perawi

Istilah jarh perawi digunakan dalam kondisi di mana dalam kitab rijal terdapat celaan terhadap perawi; seperti isyarat bahwa perawi tersebut memiliki penyimpangan akidah atau termasuk ahli ghuluw. Sebaliknya, mengenai perawi yang dipuji, digunakan istilah ta'dil.[30] Dalam ilmu dirayah, sifat yang menyebabkan hilangnya ketsiqahan perawi hadis disebut sebagai jarh.[31] Jika ulama Ilmu Rijal men-ta'dil seorang perawi dan ahli rijal lainnya men-jarh perawi tersebut, terdapat perbedaan pendapat mengenai pendahuluan jarh atas ta'dil atau sebaliknya, atau merujuk kepada faktor-faktor penguat (murajjih).[32]

Lafadz Jarh dan Ta'dil Perawi

Dalam kitab-kitab rijal disebutkan lafaz-lafaz yang menunjukkan ta'dil perawi yang beberapa di antaranya adalah: adil, tsiqah, hujah, shahih al-hadits, mutqan, hafizh, tsabt, saduq, syekh, shaleh, mu'taqad, wajh, dan alim.[33] Sejumlah lafaz yang menunjukkan jarh pula di antaranya adalah: dhaif, kadzdzab (pembohong), ghali (ekstrem), wadhdha' lil hadits (pemalsu hadis), mudhtharib, saqith, matruk al-hadits, dan mukhallith.[34]

Hadis Berdasarkan Keadaan Perawi

Para ulama Syiah sejak abad keenam Hijriah dan setelahnya, membagi hadis-hadis berdasarkan keadaan perawi menjadi empat jenis: hadis shahih, hadis hasan, hadis muwatstsaq, dan hadis dhaif.[35] Keempat jenis ini dihitung sebagai bagian dari prinsip pembagian hadis.[36] Para ulama ilmu rijal menganggap pengenalan perawi hadis dari berbagai sisi adalah wajib bagi fakih untuk memisahkan hadis shahih dari hadis dhaif.[37] Sebagian pihak berkata, alasan pembagian hadis menjadi empat jenis tersebut di kalangan mutaakhirin mungkin dikarenakan indikasi-indikasi yang menenangkan akan keshahihan hadis menjadi langka akibat berlalunya waktu. Para ulama mutaakhirin dengan hilangnya banyak prinsip hadis terdahulu yang ditulis oleh penulis tepercaya, tidak memiliki pilihan lain untuk mendiagnosis hadis muktabar dari yang tidak muktabar selain membaginya berdasarkan observasi sanad dan keadaan perawi.[38]

Selain empat kasus utama tersebut, disebutkan pula 26 jenis turunan lainnya.[39] Dari jumlah tersebut, 8 jenis berada dalam lingkup hadis dhaif dan 18 jenis lainnya berada secara bersamaan dalam lingkup keempat jenis utama hadis.[40] Dikatakan bahwa sebagian pihak menyebutkan jumlah ini hingga 45 jenis.[41] Hadis musnad,[42] hadis mursal,[43] hadis majhul,[44] hadis mu'dhal,[45] hadis mudhtharib,[46] hadis maudhu',[47] hadis matruk,[48] hadis mauquf, hadis mudraj, hadis 'ali, dan hadis nazil termasuk di antara jenis turunan hadis berdasarkan keadaan perawi.[49]

Jumlah Perawi

Total perawi yang disebutkan dalam kitab Rijal Syeikh Thusi dari Imam Ali (as) hingga Imam Hasan al-Askari (as) berjumlah 5436 orang, di mana 3217 orang di antaranya adalah perawi Imam Shadiq (as) dan sisanya adalah perawi para Imam (as) lainnya.[50] Imam Ali (as) memiliki 442 perawi, Imam Hasan (as) 41 perawi, Imam Husain (as) 109 perawi, Imam Sajjad (as) 173 perawi, Imam Baqir (as) 466 perawi, Imam al-Kadzim (as) 272 perawi, Imam Ridha (as) 317 perawi, Imam al-Hadi (as) 183 perawi, Imam al-Askari (as) 103 perawi, dan Imam Mahdi (aj) 52 perawi.[51]

Di antara sahabat para Imam juga disebutkan tentang perawi wanita. Jumlah perawi wanita yang tinggi menyebabkan Ibnu Sa'ad dalam kitab at-Thabaqat al-Kubra mengkhususkan satu bab bagi para wanita perawi hadis dari Nabi (saw) atau sahabat.[52]

Perawi Masyhur

Para ulama Ilmu Rijal dalam kitab-kitab mereka dengan mengisyaratkan pada para sahabat dan perawi masa kehadiran para Imam (as) telah melakukan kritik dan penelitian terhadap mereka, di mana beberapa perawi yang dikenal berdasarkan pembagian masa masing-masing Imam Syiah adalah:

Sekelompok perawi yang berada di tingkatan tertinggi ketsiqahan, ditempatkan oleh para ulama ilmu rijal ke dalam satu kelompok bernama Ashabul Ijma'.[91] Para ahli rijal melakukan pengklasifikasian perawi berdasarkan masa dengan berbagai metode untuk mengenal lebih baik sanad riwayat dan mengatasi masalah sanad serta rijal, yang dalam istilah disebut sebagai thabaqat al-ruwat.[92]

Merujuk kepada Perawi di Era Gaib

Dalam sebuah taukiah dari Imam Mahdi (aj), diperintahkan untuk merujuk kepada para perawi hadis dalam menghadapi peristiwa zaman. Maksud Imam dari perawi hadis dianggap adalah para fukaha[93] yang memiliki kemampuan memahami hadis dan menggunakan hukum Allah;[94] meskipun sebagian menganggap fukaha sebagai salah satu manifestasi dari perawi.[95] Dikatakan sebagai hal yang aksiomatik bahwa Imam (aj) tidak merujuk pengikutnya kepada para perawi lafaz hadis, itupun tanpa ketelitian dan pemahaman mendalam pada kandungannya; karena perawi hanya penghafal lafaz hadis dan para fukahalah yang melakukan tafaqquh dalam riwayat serta memperoleh hukum Ilahi dan pandangan para Imam At-Thahirin (as).[96]

Adab Penukilan Riwayat oleh Perawi

Menurut perkataan beberapa peneliti, jika perawi telah mempelajari hadis dengan syarat-syaratnya, ia dapat meriwayatkannya dari kitabnya sendiri dan dianjurkan (mustahab) untuk menukil sanad hadis terlebih dahulu barulah hadisnya.[97] Perawi dapat mencukupkan pada penukilan kandungan hadis saja dan tidak perlu membawakan persis lafaz yang telah dipelajari; dengan syarat penukilan secara makna (naql bi al-ma'na) tersebut tidak merusak maksud dan tidak mengubah makna hadis. Oleh karena itu, perawi harus mengenal khawas lafaz dan kualitas komposisi yang benar dalam menyampaikan makna dari sisi sastra.[98]

Catatan Kaki

  1. al-Tahanawi, Kasysyaf Ishtilahat al-Funun wa al-'Ulum, Beirut, jld. 1, hlm. 37.
  2. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  3. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 160.
  4. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  5. Musawi Khalkhali, al-Hakimiyyah fi al-Islam, 1425 H, hlm. 426.
  6. Syuqair, "Pazhuheshi darbareh-ye Towqi'-e Syarif-e Imam-e Zaman (aj) beh Ishaq bin Ya'qub", hlm. 205.
  7. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 3, hlm. 49.
  8. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 160.
  9. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 113.
  10. Musawi Gorgani, "Ta'ammoli dar Syiveh-haye Syenakht-e Taklif", hlm. 52.
  11. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 160.
  12. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 72.
  13. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  14. Hashemi Shahroudi, "Maktab-e Feqhi-ye Ahl-e Bayt (as)", hlm. 68.
  15. Habibullah, "Allameh Helli wa Risyeh-haye Syekl-giri-ye Maktab-e Sanad...", hlm. 139.
  16. Makarem Syirazi, Daira al-Ma'arif al-Fiqh al-Muqaran, 1427 H, hlm. 313.
  17. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  18. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 114; Habibullah, "Allameh Helli wa Risyeh-haye Syekl-giri-ye Maktab-e Sanad...", hlm. 154.
  19. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  20. Syahid Tsani, ar-Ri'ayah fi Ilm ad-Dirayah, 1408 H, hlm. 90.
  21. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 114.
  22. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  23. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35; Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 114.
  24. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 4, hlm. 35.
  25. Amili, Ma'alim al-Din, Qom, jld. 1, hlm. 203.
  26. Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 114.
  27. Amili, Ma'alim al-Din, Qom, jld. 1, hlm. 203.
  28. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 593.
  29. Makarem Syirazi, Daira al-Ma'arif al-Fiqh al-Muqaran, 1427 H, hlm. 357.
  30. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 72.
  31. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 71.
  32. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 72.
  33. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 593-594.
  34. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 594.
  35. Makarem Syirazi, Daira al-Ma'arif al-Fiqh al-Muqaran, 1427 H, hlm. 175.
  36. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 430.
  37. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 593.
  38. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 430.
  39. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 430.
  40. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 430.
  41. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 430.
  42. Naraqi, Anis al-Mujtahidin, 1388 HS, jld. 1, hlm. 266; Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 271.
  43. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1411 H, jld. 1, hlm. 338.
  44. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 269; Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 168.
  45. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 273.
  46. Sadr, Nihayah ad-Dirayah, Penerbit Masy'ar, hlm. 224; Mamaqani, Miqbas al-Hidayah fi Ilm ad-Dirayah, 1411 H, jld. 1, hlm. 386.
  47. Mamaqani, Miqbas al-Hidayah, 1385 HS, jld. 1, hlm. 398.
  48. Subhani, Ushul al-Hadits, 1426 H, hlm. 95.
  49. Untuk informasi lebih lanjut rujuk: Syahid Tsani, al-Bidayah fi Ilm ad-Dirayah, 1421 H, hlm. 26-39; Jannati Syahroudi, Manabi-ye Ejtehad, 1370 HS, hlm. 169-170.
  50. Hashemi Shahroudi, "Maktab-e Feqhi-ye Ahl-e Bayt (as)", hlm. 34-35.
  51. Hashemi Shahroudi, "Maktab-e Feqhi-ye Ahl-e Bayt (as)", hlm. 34-35.
  52. Untuk informasi lebih lanjut rujuk: Ibnu Sa'ad, at-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 11.
  53. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, jld. 1, hlm. 271.
  54. Taqiyuddin Hilli, al-Rijal, 1342 HS, hlm. 213; Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 3, hlm. 142.
  55. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, jld. 1, hlm. 184-185.
  56. Astrabadi, Manhaj al-Maqal, 1422 H, jld. 2, hlm. 377-381.
  57. Husaini Hilli, Zubdah al-Aqwal, 1428 H, hlm. 83.
  58. Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 4, hlm. 72; Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, bagian kedua, hlm. 42.
  59. Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 22, hlm. 47.
  60. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, bagian kedua, hlm. 117.
  61. Barqi, al-Rijal, 1342 HS, hlm. 61.
  62. Syeikh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 99.
  63. Syustari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 12, al-Alqab al-Mansubah, hlm. 313.
  64. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, jld. 2, hlm. 455-458.
  65. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, jld. 1, hlm. 336.
  66. Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 9, hlm. 138.
  67. Syeikh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 337.
  68. Namazi Shahroudi, Mustadrakat Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 3, hlm. 377.
  69. Syeikh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 137.
  70. Kasy-syi, Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, 1404 H, jld. 2, hlm. 526.
  71. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 10; Sanad al-Bahrani, Buhuts fi Mabani Ilm ar-Rijal, 1429 HS, hlm. 58.
  72. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 198.
  73. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 13.
  74. Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 5, hlm. 122.
  75. Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 7, hlm. 223.
  76. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 197.
  77. Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 6, hlm. 96.
  78. Syeikh Thusi, al-Fihrist, Najaf, hlm. 123.
  79. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, bagian kedua, hlm. 151.
  80. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 326.
  81. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, bagian kedua, hlm. 178.
  82. Allamah Hilli, al-Rijal, 1402 H, hlm. 49.
  83. Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 4, hlm. 223-226.
  84. Syeikh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 388.
  85. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, tanpa tahun, jld. 2, bagian kedua, hlm. 9.
  86. Syeikh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 387.
  87. Syeikh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 388.
  88. Allamah Hilli, al-Rijal, 1402 H, hlm. 12.
  89. Syeikh Thusi, al-Fihrist, Najaf, hlm. 408.
  90. Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1413 H, jld. 3, hlm. 149.
  91. Mar'i, Muntaha al-Maqal, 1417 H, hlm. 191.
  92. Untuk informasi lebih lanjut rujuk: Hashem, Thabaqat al-Ruwat, tanpa tahun, hlm. 125.
  93. Qumi, Muntaha al-Amal, 1379 HS, jld. 3, hlm. 2147-2148; Musawi Khalkhali, al-Hakimiyyah fi al-Islam, 1425 H, hlm. 390; Hamed-nia, Dowlat-e Yar, 1384 HS, hlm. 99.
  94. Musawi Khalkhali, al-Hakimiyyah fi al-Islam, 1425 H, hlm. 390.
  95. Rafii, Zendegi-ye A'immeh, Tehran, hlm. 323.
  96. Musawi Khalkhali, al-Hakimiyyah fi al-Islam, 1425 H, hlm. 390; Hamed-nia, Dowlat-e Yar, 1384 HS, hlm. 99.
  97. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 593.
  98. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jld. 3, hlm. 593.

Daftar Pustaka

  • Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah. Aqabuzurg Tehrani, Muhammad Muhsin. Beirut, Dar al-Adhwa, cetakan kedua, 1403 H.
  • Al-Fihrist. Thusi, Muhammad bin Hasan. Najaf, Maktabah al-Murtadhawiyyah, tanpa tahun.
  • Al-Hakimiyyah fi al-Islam. Musawi Khalkhali, Sayid Muhammad Mahdi. Qom, Majma' Andisheh-ye Eslami, 1425 H.
  • Al-Kafi. al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • al-Rijal. Taqiyuddin Hilli, Hasan bin Ali. Tehran, Penerbit Universitas Tehran, 1342 HS.
  • al-Rijal. Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Qom, al-Syarif al-Radhi, cetakan kedua, 1402 H.
  • al-Rijal. Barqi, Ahmad bin Muhammad. Tehran, Penerbit Universitas Tehran, 1342 HS.
  • ar-Ri'ayah fi Ilm ad-Dirayah. Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Mar'asyi, 1408 H.
  • at-Thabaqat al-Kubra. Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Buhuts fi Mabani Ilm ar-Rijal. Sanad al-Bahrani, Muhammad. Qom, Madyan, cetakan kedua, 1429 HS.
  • Daira al-Ma'arif al-Fiqh al-Muqaran. Makarem Syirazi, Nasir. Qom, Penerbit Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1427 H.
  • Dowlat-e Yar. Hamed-nia, Rasul. Qom, Kantor Nasyr-e Ma'arif, 1384 HS.
  • Farhang-e Fiqh Sesuai Mazhab Ahlulbait (as). Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam. Di bawah pengawasan Hashemi Shahroudi. Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 HS.
  • Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal. Kasy-syi, Muhammad bin Umar. Dengan catatan Mirdamad al-Astrabadi. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1404 H.
  • Kasysyaf Ishtilahat al-Funun wa al-'Ulum. al-Tahanawi, Muhammad Ali. Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, tanpa tahun.
  • "Maktab-e Feqhi-ye Ahl-e Bayt (as)". Hashemi Shahroudi, Sayid Mahmud. dalam Majalah Feqh-e Ahl-e Bayt (as), nomor 32.
  • Manabi-ye Ejtehad az Didgah-e Madzahib-e Eslami. Jannati Syahroudi, Muhammad Ebrahim. Tehran, Kayhan, 1370 HS.
  • Manhaj al-Maqal fi Tahqiq Ahwal al-Rijal. Astrabadi, Muhammad bin Ali. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1422 H.
  • Miqbas al-Hidayah fi Ilm ad-Dirayah. Mamaqani, Abdullah. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as), 1411 HS.
  • Muntaha al-Amal. Qumi, Abbas. Qom, Penerbit Dalil-e Ma, 1379 HS.
  • Muntaha al-Maqal fi al-Dirayah wa al-Rijal. Mar'i, Husain Abdullah. Beirut, Muassasah al-'Urwah al-Wutsqa, 1417 H.
  • Mu'jam Rijal al-Hadits wa Tafshil Thabaqat al-Ruwat. Khu'i, Sayid Abu al-Qasim. Tanpa tempat, tanpa penerbit, 1413 H.
  • Naqd al-Rijal. Tafresyi, Mushthafa bin Husain. Qom, Muassasah Al al-Bayt (as) li Ihya al-Turats, 1377 HS.
  • Qamus al-Rijal. Syustari, Muhammad Taqi. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Rijal al-Najasyi. Najasyi, Ahmad bin Ali. Qom, Jami'ah al-Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan keenam, 1365 HS.
  • Rijal al-Thusi. Syeikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan ketiga, 1373 HS.
  • Syarh al-Bidayah fi Ilm ad-Dirayah. Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Riset: Sayid Muhammad Ridha Husaini Jalali. Qom, Penerbit Mahallati, cetakan pertama, 1421 H.
  • Tanqih al-Maqal fi Ilm al-Rijal. Mamaqani, Abdullah. Tanpa tempat, tanpa penerbit, tanpa tahun.
  • Thabaqat al-Ruwat Dirasah wa Tahlil. Hashem. Tanpa tempat, tanpa penerbit, tanpa tahun.
  • Ushul al-Hadits wa Ahkamuhu fi Ilm ad-Dirayah. Subhani, Ja'far. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1426 H.
  • "Ta'ammoli dar Syiveh-haye Syenakht-e Taklif". Musawi Gorgani, Sayid Muhsin. dalam Majalah Feqh-e Ahl-e Bayt (as), nomor 31.
  • Zubdah al-Aqwal fi Khulashah al-Rijal. Husaini Hilli, Husain bin Kamaluddin Abraz. Qom, Muassasah Dar al-Hadits, 1428 H.