Lompat ke isi

Konsep:Mengubur Anak Perempuan Hidup-hidup

Dari wikishia

Mengubur Anak Perempuan Hidup-hidup atau Pembunuhan Anak Perempuan (bahasa Arab: وأد البنات) adalah tradisi pada masa Jahiliah yang dilakukan berdasarkan kepercayaan takhayul, ketakutan akan kemiskinan, dan preferensi terhadap anak laki-laki. Islam telah memberantas tradisi ini. Al-Qur'an mengutuk tindakan tersebut dan memberikan peringatan mengenai hukuman akhirat atasnya. Selain itu, sirah (perilaku) Nabi Muhammad saw yang memperlakukan anak-anak perempuan dengan penuh hormat serta anjurannya untuk memuliakan mereka merupakan contoh nyata dari perlawanan terhadap budaya tersebut.

Sejarah dan Asal-usul

Mengubur anak perempuan hidup-hidup (bahasa Arab: وأد البنات) adalah praktik yang umum terjadi pada masa Jahiliah. Berdasarkan catatan sejarah, tradisi ini pertama kali menyebar di kabilah-kabilah Arab seperti Bani Tamim dan Rabi'ah.[1] Al-Qur'an pada ayat 58 dan 59 Surah An-Nahl menyinggung kebiasaan ini dan menggambarkan situasi di mana seorang ayah, ketika mendengar kabar kelahiran anak perempuannya, wajahnya menjadi hitam (muram), dan ia bersembunyi dari kaumnya untuk memikirkan apakah akan memelihara anak tersebut dengan menanggung kehinaan atau menguburnya hidup-hidup.[2]

Mengenai asal-usul tradisi ini, terdapat beberapa riwayat yang berbeda.[3] Berdasarkan sebuah laporan, setelah peperangan antara suku Bani Tamim dan Nu'man bin Mundzir, penguasa Irak, sejumlah anak perempuan dari kabilah tersebut ditawan. Beberapa dari mereka menikah selama masa penawanan. Ketika perdamaian dicapai, para perempuan ini diberi kebebasan untuk memilih apakah akan kembali ke kabilahnya atau tetap bersama suami mereka. Putri Qais bin Ashim memilih untuk tinggal bersama suaminya. Keputusan ini membuat ayahnya sangat marah, dan ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan seorang anak perempuan hidup. Keputusan ini secara bertahap menyebar dan menjadi tradisi di kabilah-kabilah Arab lainnya.[4]

Dalam metode pelaksanaannya, dilaporkan bahwa pada saat melahirkan, para wanita berdiri di atas sebuah lubang. Jika bayi yang lahir adalah perempuan, mereka akan menjatuhkannya ke dalam lubang tersebut dan menguburnya dengan tanah.[5]

Motif-motif Mengubur Anak Perempuan Hidup-hidup

Status Sosial Perempuan yang Lebih Rendah

Pada masa Jahiliah, anak laki-laki memiliki keunggulan sosial atas anak perempuan, sementara status perempuan dianggap lebih rendah.[6] Selain itu, anak perempuan dianggap sebagai penyebab aib dan aib bagi suku karena risiko ditawan dalam perang.[7]

Takut akan Kemiskinan dan Tekanan Ekonomi

Para mufasir, dengan berdasar pada ayat-ayat seperti ayat 31 Surah Al-Isra' dan ayat 151 Surah Al-An'am, menganggap ketakutan akan kemiskinan sebagai salah satu alasan mengubur anak perempuan hidup-hidup.[8] Fakhruddin ar-Razi, seorang mufasir Ahlusunah, mengatakan bahwa orang-orang Arab Jahiliah melakukan tindakan ini karena ketakutan akibat tidak adanya partisipasi perempuan dalam aktivitas ekonomi seperti mencari nafkah dan perampasan.[9] Tentu saja, Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, dalam Tafsir Al-Mizan, dengan memperluas motif ini, menyebutkan bahwa orang-orang Arab Jahiliah membunuh anak-anak mereka—baik perempuan maupun laki-laki—karena kemiskinan atau ketakutan akan kemiskinan.[10]

Kepercayaan Takhayul

Salah satu alasan mengubur anak perempuan hidup-hidup dianggap sebagai adanya kepercayaan takhayul.[11] Berdasarkan kutipan dari buku Kepercayaan dan Mitos Arab Sebelum Islam, ada kemungkinan bahwa praktik ini pada awalnya adalah bentuk pengorbanan manusia untuk menyenangkan para dewa. Seiring berjalannya waktu, motif awal tersebut terlupakan dan berlanjut dalam bentuk ketakutan akan kemiskinan serta perasaan aib dan noda.[12]

Penentangan Islam terhadap Penguburan Anak Perempuan Hidup-hidup

Al-Qur'an dalam ayat 59 Surah An-Nahl mengutuk tindakan mengubur anak perempuan hidup-hidup.[13] Selain itu, dalam ayat 8 dan ayat 9 Surah At-Takwir, disebutkan tentang pengadilan pada hari Kiamat bagi mereka yang melakukan tindakan ini.[14]

Berdasarkan laporan para penulis sirah, Nabi Muhammad saw selalu memperlakukan istri-istri dan anak-anak perempuannya dengan kemuliaan dan rasa hormat.[15] Beliau menganjurkan untuk berbuat baik kepada anak-anak perempuan.[16] Dalam riwayat disebutkan bahwa setiap kali Sayidah Fatimah Zahra sa menemui ayahnya, Nabi Muhammad saw berdiri sebagai tanda penghormatan, menyambutnya, menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduk beliau.[17]

Catatan Kaki

  1. Farrukh, Tarikh al-Jahiliyyah, 1384 H, hlm. 157.
  2. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 6, hlm. 168; Salim, Tarikh-e 'Arab Qabl az Eslam, 1383 HS, hlm. 352.
  3. Salim, Tarikh-e 'Arab Qabl az Eslam, 1383 HS, hlm. 353-354.
  4. Alusi, Bulugh al-Arab, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, jld. 3, hlm. 42-43; Subhani, Furugh Abadiyyat, 1385 HS, hlm. 44-45.
  5. Alusi, Bulugh al-Arab, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, jld. 3, hlm. 43.
  6. Farrukh, Tarikh al-Jahiliyyah, 1384 H, hlm. 157; Salim, Tarikh-e 'Arab Qabl az Eslam, 1383 HS, hlm. 350.
  7. Salim, Tarikh-e 'Arab Qabl az Eslam, 1383 HS, hlm. 353; Nasiri dan Zarekar, "Tahlil-e Jame'eh Syenakhti-ye Masaleh-ye Zendeh be Gur Kardan-e Dokhtaran dar Jazirah al-'Arab Asr-e Jahili", hlm. 202.
  8. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 7, hlm. 409; Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 523.
  9. Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 13, hlm. 178.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 7, hlm. 374.
  11. Salim, Tarikh-e 'Arab Qabl az Eslam, 1383 HS, hlm. 355.
  12. Salim al-Hout, Bavarha wa Ostureh-haye 'Arab Pish az Eslam, 1390 HS, hlm. 244.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 6, hlm. 168.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 20, hlm. 214.
  15. Yusufi Gharawi, Al-Mar'ah fi al-Jahiliyyah wa al-Islam, 1426 H, hlm. 9.
  16. Payandeh, Nahj al-Fashahah, 1383 HS, hlm. 472.
  17. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1420 H, jld. 4, hlm. 355.

Daftar Pustaka

  • Abu Dawud, Sulaiman bin Asy'ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H.
  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Bulugh al-'Arab fi Ma'rifah Ahwal al-'Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1420 H.
  • Farrukh, Umar. Tarikh al-Jahiliyyah. Beirut: Dar al-'Ilm lil Malayin, 1384 H.
  • Mirzaei, Puran dan Nahleh Gharavi Naeini. "Negaresyi Nau be Hadits Dafn al-Banat min al-Makrumat". Ulum-e Hadits, No. 2, Musim Panas 1394 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Beirut: Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Nasiri, Mohammad dan Hossein Zarekar. "Tahlil-e Jame'eh Syenakhti-ye Masaleh-ye Zendeh be Gur Kardan-e Dokhtaran dar Jazirah al-'Arab Asr-e Jahili". Pajouhesy-haye Tarikhi-ye Iran wa Eslam, No. 20, Shahrivar 1396 HS.
  • Payandeh, Abul Qasim. Nahj al-Fashahah. Qom: Intisyarat Esmailiyan, 1383 HS.
  • Salim al-Hout, Mahmoud. Bavarha wa Ostureh-haye 'Arab Pish az Eslam. Terjemahan Manijeh Abdullahi dan Hossein Kiani. Teheran: Intisyarat Elm, 1390 HS.
  • Salim, Abdul Aziz. Tarikh-e 'Arab Qabl az Eslam. Terjemahan Baqir Sadrinia. Teheran: Intisyarat Ilmi wa Farhangi, 1383 HS.
  • Subhani, Ja'far. Furugh Abadiyyat. Qom: Muassasah Bustan-e Ketab, 1385 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1415 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1393 H.
  • Yusufi Gharawi, Muhammad Hadi. Al-Mar'ah fi al-Jahiliyyah wa al-Islam. Qom: Majma' Jahani Ahlulbait as, cetakan pertama, 1426 H.