Konsep:Dhirar bin Dhamrah
| Nama Lengkap | Dhirar bin Dhamrah |
|---|---|
| Sahabat dari | Imam Ali as |
| Gelar | Dhibabi |
| Aktivitas | Pujian terhadap Imam Ali as dalam pertemuan dengan Muawiyah |
Dhirar bin Dhamrah dianggap sebagai salah seorang sahabat khusus dan murni Imam Ali as. Para ahli rijal seperti Abdullah Mamagani memperkenalkannya sebagai pribadi yang berperilaku baik dan pandai berbicara. Sebagian orang juga menganggapnya sebagai salah satu zahid dan ahli ibadah pada zamannya. Dalam berbagai sumber, nama ayahnya terkadang disebutkan Hamzah dan ia dikenal dengan berbagai nisbah serta gelar termasuk Dhibabi, Kinani, Nahsyali, dan Syaibani. Beberapa riwayat akhlak telah dilaporkan darinya yang dinukil dari Imam Ali as.
Dikatakan bahwa pertemuannya yang masyhur dengan Muawiyah bin Abi Sufyan terjadi setelah kesyahidan Imam Ali as dalam acara Haji atau di Syam. Muawiyah memintanya untuk mendeskripsikan Imam as; Dhirar, setelah awalnya menolak, dengan ungkapan yang menyentuh hati mulai menjelaskan keutamaan moral, Zuhud, Keadilan, dan kewibawaan spiritual Imam as. Ucapan ini sedemikian berpengaruh sehingga Muawiyah menangis dan membenarkannya. Selanjutnya, Dhirar mendeskripsikan kesedihannya atas kehilangan Imam as sebagai sesuatu yang sangat dalam, dan Muawiyah pun mengakui bahwa setelahnya, para sahabatnya tidak akan mengenangnya dengan cara seperti itu.
Pengenalan
Dhirar bin Dhamrah dianggap sebagai salah seorang sahabat murni[1] dan sahabat khusus[2] Imam Ali as. Abdullah Mamagani, salah seorang ahli rijal Syiah, dalam kitab Tanqih al-Maqal, mendeskripsikan Dhirar sebagai pribadi yang memiliki perilaku baik dan lisan yang fasih.[3] Sebagaimana sebagian orang menganggapnya sebagai bagian dari para zahid dan ahli ibadah di zamannya.[4]
Dhirar bin Dhamrah dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah disebut sebagai putra Hamzah.[5] Ia diingat dengan gelar dan nisbah seperti "Dhibabi",[6] "Dhibai",[7] "Kinani",[8] "Katani",[9] "Nahsyali",[10] "Sada'i",[11] "Syaibani",[12] dan "Laitsi".[13] Beberapa riwayat akhlak telah dinukil darinya dari Imam Ali as.[14]
Pertemuan dengan Muawiyah
Pertemuan Dhirar bin Dhamrah dengan Muawiyah bin Abi Sufyan dianggap sebagai salah satu kabar masyhur yang disebutkan berulang kali dalam berbagai sumber.[15] Pertemuan ini terjadi dalam acara Haji atau di Syam setelah kesyahidan Imam Ali as.
Dalam pertemuan ini, Muawiyah meminta Dhirar untuk mendeskripsikan Imam Ali as. Masalah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai bagian dari tipu daya Muawiyah untuk memperoleh poin dari Imam Ali as melalui lisan para sahabat beliau guna merusak citra beliau.
Awalnya Dhirar menolak untuk mendeskripsikan Imam Ali as; namun atas desakan Muawiyah, ia mulai memuji Imam Ali as. Ucapannya dilaporkan dalam berbagai sumber dengan redaksi yang beragam. Mirza Habibullah Hasyimi Khui dalam kitab Minhaj al-Barahah dengan menukil dari Ibnu Abil Hadid menyebutkan perkataan Dhirar kepada Muawiyah sebagai berikut:
"Demi Allah, beliau adalah orang yang bercita-cita tinggi. Sangat kuat. Berbicara dengan jelas dan tegas. Memerintah dengan adil. Ilmu memancar dari segala penjuru dirinya dan hikmah berbicara di sekelilingnya. Beliau menjauh dari dunia dan gemerlapnya. Beliau akrab dengan malam yang penuh keheningan. Air matanya banyak, renungannya panjang. Beliau menyukai pakaian pendek yang sederhana dan makanan yang kasar. Di tengah-tengah perkumpulan kami, beliau seperti salah satu dari kami. Setiap pertanyaan yang kami ajukan, beliau jawab, dan ketika kami meminta fatwa, beliau memberitahu kami. Demi Allah, meskipun beliau sangat mendekatkan kami kepada dirinya dan kami duduk bersamanya, sering kali karena kewibawaan Ilahi yang beliau miliki, kami tidak berani berbicara dengannya. Beliau memuliakan ahli agama dan mendekatkan orang-orang miskin kepada dirinya. Tidak ada orang kuat yang tamak untuk mendapatkan ketidakadilan yang menguntungkannya dari beliau, dan tidak ada orang lemah yang berputus asa dari keadilan beliau. Aku sendiri bersaksi bahwa aku melihatnya di salah satu tempat saat malam telah melewati pertengahannya dan tirai kegelapan telah menyelimuti dunia serta bintang-bintangnya telah tenggelam di ufuk barat, beliau memegang janggutnya dan meronta seperti orang yang tersengat ular serta menangis seperti orang yang tertimpa musibah sambil berkata: Wahai dunia, tipulah orang lain! Apakah engkau menawarkan dirimu kepadaku? Apakah engkau bersolek dan merayu untukku?! Jauh, jauh sekali, aku telah menalakmu tiga kali yang tidak ada ruju' baginya. Umurmu pendek dan kedudukanmu sedikit. Aduh, sedihnya karena bekal yang sedikit, perjalanan yang jauh, dan jalan yang penuh bahaya."[16]
Muawiyah menangis setelah mendengar perkataan Dhirar; sedemikian hingga air mata mengalir di wajahnya dan para hadirin pun ikut bersedih. Ia sembari membenarkan perkataan Dhirar, mengirimkan rahmat kepada Imam as dan dinukilkan bahwa ia bersumpah demi Allah bahwa Imam Ali as memanglah seperti itu. Muawiyah kemudian bertanya kepada Dhirar seberapa besar kesedihannya atas kehilangan Imam Ali as? Ia menjawab bahwa dirinya seperti seorang ibu yang anak kandungnya disembelih di depan matanya; sebagaimana dalam beberapa sumber disebutkan ia menyepadankan dirinya dengan Ibunda Nabi Musa as dalam kesedihan kehilangan putranya.
Muawiyah kemudian mengungkapkan penyesalannya bahwa setelahnya, para sahabatnya tidak akan mengenangnya seperti itu. Dan ketika ia membandingkan dirinya dengan Imam Ali as tentang apakah setelah dirinya meninggal hal-hal semacam ini akan dikatakan untuknya? Beberapa orang dekatnya yang dikatakan adalah Amru bin Ash, berkata bahwa para pengikut dinilai berdasarkan pemimpin mereka.
Ibrahim bin Muhammad al-Baihaqi menukil ucapan serupa dalam pertemuan Adi bin Hatim al-Tha'i dengan Muawiyah dari penukilan Adi.
Catatan Kaki
- ↑ Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 36, hlm. 180.
- ↑ Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 2, hlm. 421.
- ↑ Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 36, hlm. 180.
- ↑ Hasyimi Khui, Minhaj al-Barahah, 1400 H, jld. 21, hlm. 113.
- ↑ Syarif Radhi, Nahjul Balaghah, 1414 H, hlm. 480.
- ↑ Syarif Radhi, Khasha'ish al-Aimmah (as), 1406 H, hlm. 70; Mamagani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 36, hlm. 180.
- ↑ Syarif Radhi, Nahjul Balaghah, 1414 H, hlm. 480.
- ↑ Abu Nu'aim, Hilyah al-Auliya, Kairo, jld. 1, hlm. 84; Kanz al-Fawa'id, jld. 2, hlm. 160; Mahalli, Al-Hada'iq al-Wardiyyah, 1423 H, jld. 1, hlm. 54.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 24, hlm. 401.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 24, hlm. 402; Qadhi Nu'man, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 2, hlm. 391; Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 624.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1107.
- ↑ Abul Firas, Majmu'ah Warram, 1410 H, jld. 1, hlm. 79.
- ↑ Karajiki, Al-Risalah al-Alawiyyah, 1427 H, mukadimah, hlm. 14; Ibnu Fahd Hilli, Uddat al-Da'i, 1407 H, hlm. 208; Dailami, Irsyad al-Qulub, 1412 H, jld. 2, hlm. 218.
- ↑ Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawash, 1418 H, hlm. 143; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1363 HS, jld. 75, hlm. 76.
- ↑ Bahrani, Hilyah al-Abrar, 1411 H, jld. 2, hlm. 214.
- ↑ Hasyimi Khui, Minhaj al-Barahah, 1400 H, jld. 21, hlm. 115.
Daftar Pustaka
- Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahjul Balaghah li Ibni Abil Hadid. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Qom, Perpustakaan Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1404 H.
- Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ash-hab. Riset: Ali Muhammad al-Bijawi. Beirut, Dar al-Jil, 1412 H.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Riset: Ali Syiri. Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Fahd Hilli, Ahmad bin Muhammad. Uddat al-Da'i wa Najah al-Sa'i. Riset: Ahmad Muwahhidi Qummi. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1407 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Shifat al-Shafwah. Riset: Ibrahim Muhammad Ramadan dkk. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1423 H.
- Ibnu Jauzi, Yusuf bin Husamuddin (Sibt bin Jauzi). Qom, Penerbit Al-Syarif al-Radhi, 1418 H.
- Abu Nu'aim, Ahmad bin Abdullah. Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya. Riset: Kamal Yusuf Hut. Kairo, Dar Umm al-Qura, tanpa tahun.
- Amin, Muhsin. A'yan al-Syiah. Beirut, Dar al-Ta'aruf li al-Mathbu'at, 1403 H.
- Bahrani, Sayid Hasyim bin Sulaiman. Hilyah al-Abrar fi Ahwal Muhammad wa Alihi al-Ath-har (as). Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1411 H.
- Baihaqi, Ibrahim bin Muhammad. Al-Mahasin wa al-Masawi. Riset: Adnan Ali. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
- Dailami, Hasan bin Muhammad. Irsyad al-Qulub ila al-Shawab. Qom, Al-Syarif al-Radhi, 1412 H.
- Karajiki, Muhammad bin Ali. Al-Risalah al-Alawiyyah fi Fadhl Amirul Mu'minin 'alaihis salam 'ala Sa'ir al-Bariyyah. Riset: Abdul Aziz Karimi. Qom, Dalil-e Ma, 1427 H.
- Karajiki, Muhammad bin Ali. Kanz al-Fawa'id. Riset: Abdullah Ni'mah. Qom, Dar al-Dzakha'ir, 1410 H.
- Mahalli, Hamid bin Ahmad. Al-Hada'iq al-Wardiyyah fi Manaqib al-Aimmah al-Zaidiyyah. Riset: Murtadha bin Zaid Mahthuri. Sana'a, Maktabah Badr, 1423 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Ath-har. Teheran, Islamiyah, 1363 HS.
- Mamagani, Abdullah. Tanqih al-Maqal fi 'Ilmi al-Rijal. Riset: Muhiyuddin dan Muhammad Reza Mamagani. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as) li Ihya al-Turats, 1431 H.
- Mas'udi, Abul Hasan Ali bin al-Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom, Dar al-Hijrah, cetakan kedua, 1409 H.
- Qadhi Nu'man, Nu'man bin Muhammad al-Tamimi. Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Ath-har (as). Muhammad Husain Husaini Jalali. Qom, Jami'ah Mudarrisin, 1409 H.
- Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran, Kitabchi, cetakan keenam, 1376 HS.
- Syarif Radhi, Muhammad bin Husain. Khasha'ish al-Aimmah (as) (Khasha'ish Amirul Mu'minin). Riset: Muhammad Hadi Amini. Masyhad, Astan Quds Razavi, 1406 H.
- Syarif Radhi, Muhammad bin Husain. Nahjul Balaghah. Riset: Subhi Shalih. Qom, Hejrat, 1414 H.
- Warram bin Abi Firas, Mas'ud bin Isa. Tanbih al-Khawathir wa Nuzhah al-Nawazhir al-Ma'ruf bi Majmu'ah Warram. Qom, Maktabah Faqih, 1410 H.
- Hasyimi Khui, Habibullah. Minhaj al-Barahah fi Syarh Nahjul Balaghah. Riset: Ibrahim Mianji. Penerjemah: Hasan Hasanzadeh Amuli dan Muhammad Baqir Kamareyi. Teheran, Maktabah al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1400 H.