Konsep:Cincin Sulaiman
Cincin Sulaiman merupakan salah satu tanda dan simbol Kenabian serta kekuatan Nabi Sulaiman (as), dan termasuk dalam warisan kenabian yang diyakini oleh kaum Syiah telah berpindah kepada para nabi setelahnya dan akhirnya sampai ke tangan Para Imam Syiah. Menurut keyakinan Syiah, cincin ini sekarang berada di tangan Imam Mahdi (af) dan beliau akan membawanya saat kemunculannya (zhuhur). Dalam buku-buku sejarah, kisah para nabi, dan tafsir, terdapat materi mengenai cincin ini yang dianggap sebagai bagian dari Israiliah.
Karakteristik Fisik
Dalam riwayat Syiah dan Sunni, terdapat penjelasan mengenai bahan, bentuk, dan ukiran pada cincin ini, di antaranya bahwa lingkarannya terbuat dari perak, [1] batunya berasal dari langit, [2] merupakan batu Yakut [3] dan berbentuk segi delapan. [4]
Dalam sebuah riwayat dari Imam Ridha (as), disebutkan bahwa pada cincin Nabi Sulaiman (as) tertulis: "Maha Suci Dzat yang mengekang jin dengan kalimat-kalimat-Nya." (Subhana man aljama al-jinna bi-kalimatihi). [5] Selain itu, dalam kitab Yanabi' al-Muwaddah, disebutkan bahwa ukiran cincin Sulaiman adalah Ism al-A'zham dan tersusun dari huruf-huruf muqatta'ah Al-Qur'an. [6] Ibnu Asakir menyebutkan ukiran cincin tersebut adalah "La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, Muhammad Rasulullah". [7]
Karakteristik Spiritual
Dalam riwayat-riwayat, disebutkan beberapa karakteristik untuk cincin ini, seperti: 1. Dinukil dari Imam Shadiq (as) bahwa Allah meletakkan kekuasaan Sulaiman pada cincinnya. Ketika beliau mengenakannya, jin, manusia, setan (syayathin), dan seluruh burung serta binatang liar (hewan padang pasir) akan hadir di hadapannya dan menaatinya. [8] Dalam sebuah riwayat, ketika beliau menuliskan doa untuk kesembuhan seseorang yang demamnya menyebabkan warna kulitnya menjadi kuning, beliau membubuhkan stempel Nabi Sulaiman (ukiran cincin Sulaiman) sebanyak tujuh kali di bawah surat tersebut kemudian melipatnya. [9] 2. Cincin Nabi Sulaiman merupakan salah satu tanda Kenabian dan pemerintahannya, seperti halnya Tongkat Musa, namun kenabian dan pemerintahannya tidak bergantung padanya. 3. Cincin ini adalah bagian dari warisan kenabian yang berada di tangan para Imam maksum, dan terkadang mereka berargumen (ihtijaj) dengannya untuk membuktikan kebenaran Imamah mereka. Hosain bin Musa bin Ja'far berkata: Suatu hari di tangan Imam Ridha (as) aku melihat sebuah cincin perak yang sudah tipis. Aku bertanya: Apakah orang seperti Anda mengenakan cincin semacam ini? Beliau bersabda: "Ini adalah cincin Sulaiman bin Dawud." [10] 4. Cincin ini berada di tangan Imam Mahdi (af) dan akan nampak pada saat kemunculannya. [11] Dan Imam maksum akan membedakan serta memisahkan orang-orang kafir dan mukmin sejati dengannya. [12]
Dalam Puisi
Banyak penyair yang mengungkapkan berbagai makna mengenai cincin Sulaiman dalam bentuk syair mereka, yang sebagai contoh di antaranya adalah:
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1390 H, jld. 26, hlm. 222.
- ↑ al-Haitami, Majma' al-Zawa'id, 1408 H, jld. 5, hlm. 152.
- ↑ Bahrani, Madinah al-Ma'ajiz, 1413 H, jld. 1, hlm. 245; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1390 H, jld. 27, hlm. 34.
- ↑ Ibnu Syahrasyub, Manaqib Alu Abi Thalib, 1376 H, jld. 3, hlm. 444.
- ↑ Syekh Saduq, Uyun Akhbar al-Ridha, 1404 H, jld. 1, hlm. 60.
- ↑ Qunduzi, Yanabi' al-Muwaddah, Muasasah al-A'lami lil Mathbu'at, jld. 3, bab 97, hlm. 54.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 22, hlm. 245.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1390 H, jld. 14, hlm. 99.
- ↑ Thabarsi, Makarem al-Akhlaq, 1370 HS, hlm. 402.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1390 H, jld. 26, hlm. 222.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1390 H, jld. 52, hlm. 194; Ibnu Majah, Sunan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 2, b. 31, hlm. 1351, h. 4066; Tirmidzi, Sunan, 1403 H, jld. 5, hlm. 21.
- ↑ Allamah Majlisi, Haqq al-Yaqin, Penerbit Islamiyah, jld. 2, hlm. 336.
Daftar Pustaka
- al-Haitami, Ali bin Abi Bakar. Majma' al-Zawa'id wa Manba' al-Fawa'id. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H.
- Bahrani, Sayid Hasyim. Madinah al-Ma'ajiz. Riset: Ezzatullah Maula'i Hamadani. Qom: Muasasah Ma'arif Islami, 1413 H.
- Gharawi Isfahani, Mohammad Hosain. Diwan-e Sye'r. Tanpa penerbit, tanpa tempat, 1385 HS.
- Hafiz, Syamsuddin Mohammad. Diwan-e Hafiz. Teheran: Perusahaan Cetak dan Terbit Internasional, tanpa tahun.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq al-Kabir. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Majah, Mohammad bin Yazid Qazwini. Sunan. Riset: Mohammad Fu'ad Abdul Baqi. Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Ibnu Syahrasyub, Mohammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Riset: Komite dari para profesor Najaf al-Asyraf. Najaf: Mathba'ah al-Haidariyah, 1376 H.
- Kulaini, Mohammad bin Ya'qub. al-Ushul min al-Kafi. Teheran: Maktabah al-Saduq, 1381 H.
- Majlisi, Mohammad Baqer. Bihar al-Anwar. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1390 H.
- Qunduzi, Sulaiman. Yanabi' al-Muwaddah. Beirut: Muasasah al-A'lami lil Mathbu'at, tanpa tahun.
- Saffar, Mohammad bin Hasan. Bashair al-Darajat. Teheran: Muasasah al-A'lami, 1362 HS.
- Syekh Saduq, Mohammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1404 H.
- Tehrani, Mohammad Hosain. Ma'ad-syenasi. Masyhad: Nur-e Malakut-e Qur'an, 1385 HS/1427 H.
- Thabarsi, Hasan bin Fadhl. Makarem al-Akhlaq. Qom: al-Syarif al-Radhi, 1370 HS.
- Tirmidzi, Mohammad bin 'Isa. Sunan. Koreksi: Abdurrahman Mohammad Utsman. Beirut: Dar al-Fikr, 1403 H.
- Allamah Majlisi, Mohammad Baqer. Haqq al-Yaqin. Qom: Penerbit Islamiyah, tanpa tahun.