Konsep:Abdullah bin Budail
| Info pribadi | |
|---|---|
| Nama lengkap | Abdullah bin Budail bin Warqa al-Khuza'i |
| Garis keturunan | Kabilah Khuza'ah |
| Kerabat termasyhur | Budail bin Warqa (Ayah) |
| Muhajir/Anshar | Muhajirin |
| Wafat/Syahadah | 37/657 |
| Penyebab Wafat /Syahadah | Di Perang Shiffin di bawah kepemimpinan Imam Ali as |
| Informasi Keagamaan | |
| Memeluk Islam | Masa Penaklukan Mekah |
| Keikutsertaan dalam Ghazwah | Hunain dan Tabuk, Perang Jamal dan Shiffin |
| Peran utama | Utusan Nabi Muhammad saw ke Yaman, Komandan sebagian pasukan Imam Ali as dalam perang Jamal dan Shiffin |
| Aktivitas lain | Berpartisipasi dalam pengepungan dan pembunuhan khalifah ketiga, orasi dalam membuktikan kebenaran Imam Ali as |
Abdullah bin Budail al-Khuza'i adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, pengikut setia Imam Ali as, dan salah satu saksi mata peristiwa Hadis Ghadir. Ia memeluk agama Islam bersama ayahnya pada peristiwa Penaklukan Mekah, turut berpartisipasi dalam Perang Tabuk dan Hunain, serta diutus sebagai duta Nabi Muhammad saw ke Yaman. Sejumlah riwayat juga dinukil darinya melalui perantara Nabi Muhammad saw.
Pada masa Khulafaur Rasyidin, Abdullah bin Budail berkontribusi aktif dalam berbagai gelombang penaklukan Islam; di antaranya adalah penaklukan Isfahan, Kirman, dan Hamadan yang dipimpin langsung olehnya. Secara historis, ia juga tercatat hadir dalam insiden pengepungan dan pembunuhan khalifah ketiga, Utsman bin Affan. Abdullah merupakan salah satu tokoh pelopor yang mengikrarkan baiat kepada Imam Ali as dan senantiasa mendampingi beliau dalam Perang Jamal maupun Perang Shiffin, hingga akhirnya meraih predikat syahid di Perang Shiffin. Pada Perang Jamal, ia sempat berdebat argumentatif dengan Aisyah guna menegaskan kebenaran posisi Imam Ali as. Selanjutnya, pada Perang Shiffin, ia dipercaya untuk mengemban mandat sebagai salah satu komandan pasukan Imam Ali as.
Identitas
Abdullah bin Budail bin Warqa al-Khuza'i diakui secara luas sebagai salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw[1] dan tergolong ke dalam kelompok Muhajirin;[2] meskipun Muhammad bin Umar al-Kassy mengklasifikasikannya ke dalam generasi Tabiin.[3] Ia dikenal sebagai tokoh terkemuka[4] dan figur karismatik di jajaran pengikut setia Imam Ali as.[5]
Dalam catatan literatur, Abdullah bin Budail dideskripsikan sebagai satu dari lima[6] atau enam cendekiawan genius (duhat)[7] sekaligus orator ulung bangsa Arab[8] yang menyandang kedudukan luhur,[9] kemuliaan, serta keagungan martabat.[10]
Nasab Abdullah bersambung hingga Adi bin Amru bin Rabi'ah.[11] Hingga kini, tidak ditemukan informasi historis yang definitif mengenai tahun kelahirannya.[12] Ia gugur sebagai syahid pada tahun 37/657 di medan Perang Shiffin.[13]
Garis keturunan Abdullah menurunkan sejumlah tokoh ternama, di antaranya Abdurrahman al-Naisyaburi,[14] Di'bil al-Khuza'i,[15] dan Abu al-Futuh Razi.[16] Pada perkembangannya, gelar nisbah "Budaili" disematkan kepada siapa saja yang garis nasabnya terhubung dengan Budail bin Warqa, ayah Abdullah.[17]
Memenuhi permintaan Amirul Mukminin Ali as, Abdullah bersama Khuzaimah bin Tsabit, Qais bin Sa'ad bin Ubadah, dan beberapa figur lainnya maju memberikan kesaksian publik atas kebenaran Hadis Ghadir.[18] Momen bersejarah ini kemudian dikenal secara luas dengan sebutan Yaum al-Rukban.[19]
Pada Masa Nabi Muhammad saw
Abdullah bin Budail merupakan salah seorang pemuka Kabilah Khuza'ah.[20] Bersama sang ayah, Budail bin Warqa, ia menghadap Nabi Muhammad saw untuk menyatakan keislamannya bertepatan dengan peristiwa Penaklukan Mekah,[21] meskipun beberapa riwayat mengisyaratkan bahwa hal itu terjadi sebelumnya.[22] Kediaman ayahnya sempat ditetapkan sebagai zona aman yang memberikan suaka bagi penduduk Mekah selama proses penaklukan kota suci tersebut.[23] Selain itu, ia bertindak sebagai wasi (pelaksana wasiat) sang ayah yang memegang amanah untuk menjaga manuskrip surat dari Rasulullah saw[24] yang mendokumentasikan apresiasi beliau terhadap kabilah Khuza'ah.[25]
Sebagian sejarawan mengeklaim bahwa Abdullah turut berpartisipasi dalam ikrar Baiat Ridhwan.[26] Ia tercatat menyertai Nabi Islam saw dalam sejumlah kampanye militer krusial, meliputi Thaif, Tabuk, dan Hunain.[27] Abdullah, didampingi saudaranya yang bernama Muhammad[28] atau Abdurrahman[29]—atau menurut riwayat lain, mereka bertiga sekaligus[30]—pernah didelegasikan sebagai duta resmi Rasulullah saw menuju Yaman. Ia juga dikenal meriwayatkan sejumlah sabda Nabi Muhammad saw melalui jalur perantara.[31]
Pada Masa Para Khalifah
Eksistensi Abdullah bin Budail dalam gelombang penaklukan Islam pada era Khulafaur Rasyidin sangatlah signifikan. Ia diangkat sebagai komandan unit perintis di bawah kepemimpinan Abdullah bin Amir dalam operasi militer penaklukan Isfahan pada tahun 29/649-50.[32] Sebagian literatur meyakini bahwa proses penaklukan ini berhasil dicapai melalui jalur diplomasi dan perjanjian damai.[33] Namun, al-Baladzuri mengajukan argumentasi historis bahwa Khalifah Kedua secara langsung mengutus Abdullah ke Isfahan, dan wilayah tersebut berhasil ditundukkannya pada tahun 23/644.[34] Pandangan ini selaras dengan catatan Ya'qubi yang menisbatkan penaklukan Isfahan dan Hamadan kepada manuver militer Ibnu Budail pada kurun tahun yang sama (23/644).[35] Lebih jauh, ekspansi ke wilayah Kirman[36] dan Tabas, yang merupakan gerbang strategis menuju Khorasan, turut dinisbatkan kepadanya.[37]
Al-Baladzuri, seorang historiografer terkemuka dari kalangan Ahlusunah, mengidentifikasi Abdullah sebagai salah satu figur yang terlibat dalam eskalasi pengepungan kediaman Khalifah Ketiga, dan bahkan menuduhnya sebagai salah satu aktor intelektual di balik pembunuhan tersebut.[38] Menurut kesaksian al-Dzahabi, Abdullah-lah yang mengeksekusi khalifah ketiga dengan memutus urat lehernya.[39]
Pada Masa Amirul Mukminin Ali as
Abdullah bin Budail tercatat dalam lembaran sejarah sebagai salah satu eksponen Muhajirin generasi awal yang mengikrarkan baiat setia kepada Imam Ali as.[40] Ia menonjolkan dedikasi militernya dengan terjun langsung ke palagan Perang Jamal maupun Perang Shiffin.[41] Tragedi personal sempat menderanya ketika sang putra tercinta gugur sebagai syahid di medan Perang Jamal.[42] Di tengah kecamuk perang tersebut, ia memprakarsai dialog dengan Aisyah dan berhasil mendesaknya untuk memberikan pengakuan terbuka bahwa ia pernah secara langsung mendengar sabda Nabi Muhammad saw mengenai kebenaran mutlak posisi Imam Ali as.[43]
Sebuah narasi historis juga mengabadikan percakapan strategis antara Ibnu Budail, didampingi saudaranya, Abdurrahman, dengan Imam Ali as; di mana keduanya mendesak dan memotivasi sang Imam agar bertindak tegas memerangi agresi Muawiyah bin Abi Sufyan.[44] Menjelang meletusnya Perang Shiffin, ia ditugaskan oleh Amirul Mukminin Ali as untuk melakukan konsolidasi di Kota Anbar. Melalui sebuah korespodensi resmi, Imam Ali as menginstruksikan Abdullah agar bersikap waspada dalam memantau manuver taktis musuh dan dilarang keras mengambil langkah ofensif tanpa instruksi eksplisit dari beliau.[45]
Dalam formasi militer Perang Shiffin, otoritas komando Abdullah meluas secara variatif; sebagian riwayat menyebutnya sebagai panglima unit infanteri,[46] komandan skuadron kavaleri,[47] pemimpin koalisi beberapa kabilah asal Kufah,[48] hingga jenderal bagi pasukan yang terdiri dari para qari (penghafal Al-Qur'an).[49] Terdapat pula pandangan yang mengeklaim bahwa ia ditugasi untuk mengomandoi sayap kanan (maimanah) laskar Imam Ali as.[50] Di medan tempur, ia tak hanya piawai menggunakan senjata, namun juga melantunkan orasi-orasi patriotik guna membakar nyala moral pasukan Imam Ali as[51] sembari membongkar fasad kemunafikan Muawiyah dan bala tentaranya.[52] Ketangguhannya terukir melegenda berkat keberaniannya yang luar biasa saat bertempur dengan mengayunkan dua pedang sekaligus seraya melindungi diri dengan dua perisai baja.[53]
Syahadah
Abdullah bin Budail menemui cawan syahadahnya pada hari ketujuh[54] atau kesembilan[55] dari rentetan Perang Shiffin. Manakala barisan rekan seperjuangannya banyak yang berguguran dan terluka parah, ia nekat menerjang barikade musuh seorang diri; bahkan ia mengabaikan instruksi Malik al-Asytar yang berupaya menahannya agar tidak memaksakan manuver bunuh diri tersebut.[56] Didorong oleh tekad baja untuk mengeksekusi Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdullah terus merangsek maju menembus hingga mendekati garis pertahanan markas utama lawan, serta berhasil membinasakan sedikitnya sembilan prajurit elite musuh dalam perjalanannya.[57] Lantaran tidak ada seorang pun yang sanggup menumbangkannya dalam duel satu lawan satu, pihak musuh yang dirundung keputusasaan akhirnya mengepung dan merajamnya dengan hujanan batu hingga ia mengembuskan napas terakhirnya.[58]
Berdasarkan dokumentasi historis Ibnu Abil Hadid, seorang kolega dari barisan sahabat Imam Ali as sempat menghampiri tubuh Abdullah yang terkulai pada sakaratulmaut. Di ambang ajalnya, Abdullah mewasiatkan pesan agung agar senantiasa bertakwa dan membela hak Imam Ali as, seraya menitipkan salam perpisahan untuk disanjungkan kepada beliau. Begitu kabar pilu ini sampai ke telinga sang Imam, beliau sontak memberikan pujian tinggi atas kesetiaannya sembari melangitkan doa curahan rahmat untuknya.[59]
Ya'qubi menuturkan bahwa jenazah suci Abdullah kemudian dievakuasi kembali ke kamp pasukan Imam Ali as oleh saudaranya sendiri.[60] Saudara laki-lakinya yang bernama Abdurrahman juga diyakini mereguk predikat syahid dalam palagan Perang Shiffin;[61] kendati terdapat sebuah spekulasi minor yang menyatakan bahwa ia gugur di Perang Jamal.[62]
Pasca syahadahnya, Muawiyah bin Abi Sufyan menaruh niat busuk untuk memutilasi jasad Abdullah. Namun, rencana keji tersebut berhasil digagalkan atas desakan dan intervensi Abdullah bin Amir.[63] Sebagai sebuah ironi historis, bahkan Muawiyah sendiri sempat melontarkan kekaguman atas loyalitas sang pejuang dengan mendeklarasikan: "Kecintaan Kabilah Khuza'ah kepada Ali telah mendarah daging sedemikian rupa, sehingga seandainya para wanita dari kaum ini diperbolehkan berperang, niscaya mereka akan bangkit memerangi para musuh Ali, apalagi kaum lelakinya."[64]
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 9, hlm. 111.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 5, hlm. 164; Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jld. 4, hlm. 19.
- ↑ Kassy, Rijal al-Kassy, 1409 H, hlm. 69.
- ↑ Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 175.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 3, hlm. 80.
- ↑ Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jld. 4, hlm. 19; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 5, hlm. 338.
- ↑ Ibnu Habib, al-Muhabbar, Beirut, hlm. 184.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 4, hlm. 73.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 872.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 567.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 511; Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1403 H, hlm. 239.
- ↑ Muhammad bin Jarir al-Thabari meyakini bahwa ia berusia 24 tahun saat syahid; (Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 4, hlm. 139) namun di bagian lain bukunya, ia menyebutnya sebagai orang yang hadir dalam penaklukan Mekah serta perang Hunain dan Tabuk. (Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 511).
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 4, hlm. 221.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 33, hlm. 151.
- ↑ Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 361; Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 161.
- ↑ Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, al-Khatimah, 1408 H, jld. 3, hlm. 72.
- ↑ Sam'ani, al-Ansab, 1382 H, jld. 2, hlm. 116.
- ↑ Kassy, Rijal al-Kassy, 1409 H, hlm. 45.
- ↑ Bahrani Isfahani, Awalim al-Ulum, 1382 HS, hlm. 489.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 872; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 3, hlm. 80.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, al-Isti'ab, 1412 H, jld. 1, hlm. 150.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 3, hlm. 80.
- ↑ Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jld. 1, hlm. 409.
- ↑ Ahmadi Miyanaji, Makatib al-Rasul saw, jld. 3, hlm. 127.
- ↑ Waqidi, al-Maghazi, 1409 H, jld. 2, hlm. 749.
- ↑ Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 2, hlm. 32.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, al-Isti'ab, 1412 H, jld. 1, hlm. 150; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 1, hlm. 203.
- ↑ Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 49.
- ↑ Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jld. 4, hlm. 18.
- ↑ Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 70.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 96, hlm. 308.
- ↑ Ibnu Khayyat, Tarikh Khalifah, 1415 H, hlm. 93; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 326.
- ↑ Ibnu A'tsam al-Kufi, al-Futuh, 1411 H, jld. 2, hlm. 314.
- ↑ Baladzuri, Futuh al-Buldan, 1988 M, hlm. 304.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 157.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 2, hlm. 566.
- ↑ Ibnu al-Faqih, al-Buldan, 1416 H, hlm. 611.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 8, hlm. 120.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 567.
- ↑ Mufid, al-Jamal wa al-Nushrah, 1413 H, hlm. 103.
- ↑ Mufid, al-Jamal wa al-Nushrah, 1413 H, hlm. 481.
- ↑ Mufid, al-Jamal wa al-Nushrah, 1413 H, hlm. 342.
- ↑ Mufid, al-Kafiah, 1372 HS, hlm. 35.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 2, hlm. 331.
- ↑ Ahmadi Miyanaji, Makatib al-Aimmah as, 1426 H, jld. 1, hlm. 358.
- ↑ Ibnu Khayyat, Tarikh Khalifah, 1415 H, hlm. 117; Minqari, Waq'ah Shiffin, 1382 H, hlm. 205.
- ↑ Ibnu A'tsam al-Kufi, al-Futuh, 1411 H, jld. 3, hlm. 25.
- ↑ Dinawari, al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 172.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 1, hlm. 522.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 7, hlm. 262.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 1, hlm. 522.
- ↑ Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 3, hlm. 180.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 541.
- ↑ Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 5, hlm. 186.
- ↑ Hasyimi Khui, Minhaj al-Bara'ah, 1400 H, jld. 15, hlm. 258.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 5, hlm. 23.
- ↑ Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 1, hlm. 528.
- ↑ Minqari, Waq'ah Shiffin, 1382 H, hlm. 246.
- ↑ Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 8, hlm. 92-93.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 182.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 3, hlm. 80; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 2, hlm. 384.
- ↑ Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 9, hlm. 111.
- ↑ Minqari, Waq'ah Shiffin, 1382 H, hlm. 246; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 2, hlm. 388.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 873.
Daftar Pustaka
- Ahmadi Miyanaji, Ali. Makatib al-Aimmah as. Qom: Dar al-Hadits, 1426 H.
- Ahmadi Miyanaji, Ali. Makatib al-Rasul saw. Qom: Dar al-Hadits, 1419 H.
- Bahrani Isfahani, Abdullah bin Nurullah. Awalim al-Ulum wa al-Ma'arif - al-Imam Ali bin Abi Thalib as. Qom: Muassasah al-Imam al-Mahdi af, 1382 HS.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakkar dan Riyadh Zirikli. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Futuh al-Buldan. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1988 M.
- Dinawari, Abu Hanifah Ahmad bin Daud. al-Akhbar al-Thiwal. Riset: Abdul Mun'im Amir. Qom: Mansyurat al-Radhi, 1368 HS.
- Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1413 H.
- Hasyimi Khui, Mirza Habibullah. Minhaj al-Bara'ah fi Syarh Nahj al-Balaghah. Tehran: Maktabah al-Islamiyyah, 1400 H.
- Hilli, Hasan bin Yusuf. Rijal al-Allamah al-Hilli. Najaf: Dar al-Dzakha'ir, 1411 H.
- Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahj al-Balaghah. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'ashi Najafi, 1404 H.
- Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad al-Jazari. Usd al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
- Ibnu A'tsam al-Kufi, Abu Muhammad Ahmad. al-Futuh. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, 1411 H.
- Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashab. Riset: Ali Muhammad al-Bijawi. Beirut: Dar al-Jil, 1412 H.
- Ibnu al-Abri, Grigorios al-Malathi. Tarikh Mukhtashar al-Duwal. Riset: Antun Salihani al-Yasu'i. Beirut: Dar al-Syarq, 1992 M.
- Ibnu al-Faqih, Ahmad bin Muhammad. al-Buldan. Riset: Yusuf al-Hadi. Beirut: Alam al-Kutub, 1416 H.
- Ibnu Habib, Muhammad bin Habib. al-Muhabbar. Riset: Ilse Lichtenstädter. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, t.t.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Riset: Adil Ahmad Abdul Maujud dkk. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athar as. Qom: Jami'ah Mudarrisin, 1409 H.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharah Ansab al-Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1403 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Tarikh Ibnu Khaldun. Riset: Khalil Syihadah. Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H.
- Ibnu Khayyat, Khalifah bin Khayyat. Tarikh Khalifah bin Khayyat. Riset: Fawwaz. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Ibnu Daud, Hasan bin Ali. al-Rijal. Tehran: Universitas Tehran, 1342 HS.
- Ibnu Miskawaih, Abu Ali Miskawaih al-Razi. Tajarub al-Umam. Riset: Abu al-Qasim Emami. Tehran: Soroush, 1379 HS.
- Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib as. Qom: Penerbit Allamah, 1379 H.
- Kassy, Muhammad bin Umar. Rijal al-Kassy - Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal. Masyhad: Universitas Masyhad, 1409 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Mas'udi, Ali bin Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Dar al-Hijrah, 1409 H.
- Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Jamal wa al-Nushrah. Qom: Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
- Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Kafiah fi Ibthal Taubah al-Khathiah. Qom: Kongres Syekh Mufid, 1372 HS.
- Minqari, Nashr bin Muzahim. Waq'ah Shiffin. Riset: Abdussalam Muhammad Harun. Kairo: al-Muassasah al-Arabiyyah al-Haditsah, 1382 H.
- Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1365 HS.
- Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasa'il. Qom: Muassasah Alu al-Bait as, 1408 H.
- Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
- Thusi, Muhammad bin al-Husain. al-Amali. Qom: Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
- Thusi, Muhammad bin al-Husain. Rijal al-Thusi. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1373 HS.
- Waqidi, Muhammad bin Umar. al-Maghazi. Riset: Marsden Jones. Beirut: Muassasah al-A'lami, 1409 H.
- Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qubi. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Sadir, t.t.
- Zirikli, Khairuddin. al-A'lam. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1989 M.