Lompat ke isi

Ayat 150 Surah An-Nisa

Dari wikishia
Ayat 150 Surah An-Nisa
Informasi Ayat
SurahAn-Nisa'
Ayat150
Juz6
Informasi Konten
TentangMengenai Ahli Kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani, di antara mereka ada yang menerima dan mengakui kenabian para nabi, tetapi ada pula sebagian dari mereka yang mengingkari dan menolak para nabi tersebut.


Ayat 150 Surah An-Nisa mencela Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang menerima sebagian Para Nabi dan mengingkari sebagian lainnya.[1] Orang-orang Yahudi menerima para nabi sebelum Nabi Musa as, namun mengingkari Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw. Demikian pula orang-orang Kristen menerima hingga Nabi Isa as, namun menolak untuk menerima kenabian Nabi Muhammad saw.[2]

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

"Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir) di antara yang demikian itu,"



Surah An-Nisa':150


Allah dalam berbagai ayat sebelumnya seperti Ayat 137 Surah An-Nisa hingga Ayat 141 Surah An-Nisa, menjelaskan keadaan dan perbuatan kaum musyrikin dan orang-orang munafik dan dalam ayat ini juga mengisyaratkan pada sebagian perilaku buruk Ahli Kitab. Selain itu, dalam ayat ini dan Ayat 151 Surah An-Nisa, Ahli Kitab dianggap Kafir karena kekafiran mereka dan dijanjikan azab yang pedih bagi mereka.[3]

Menurut Abdullah Jawadi Amuli, penulis Tafsir Tasnim, Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) beriman pada prinsip Kenabian, namun mereka bertindak selektif dalam menerima para nabi.[4] Mereka tidak berperilaku seperti kaum musyrikin yang tidak menerima satu nabi pun, dan tidak pula seperti kaum Muslimin yang beriman kepada semua nabi.[5]

Menurut keyakinan Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi, penulis Tafsir Min Huda al-Quran, Ahli Kitab hanya menerima nabi yang sejalan dengan kepentingan mereka dan menolak para nabi yang bertentangan dengan keinginan mereka.[6] Nashir Makarim Syirazi, penulis Tafsir Nemuneh juga menyebut hawa nafsu, fanatisme jahiliah, dan kedengkian sebagai faktor-faktor pengingkaran terhadap sebagian nabi.[7]

Makarim Syirazi meyakini bahwa iman sejati bukan berarti manusia hanya menerima apa yang sesuai dengan keinginannya dan menolak apa yang bertentangan dengan seleranya; perilaku semacam ini adalah sejenis penyembahan hawa nafsu, bukan penyembahan Tuhan.[8] Oleh karena itu, manusia wajib beriman kepada semua nabi,[9] karena membeda-bedakan para nabi dan mengingkari sebagian dari mereka bermakna mengingkari Allah[10] dan orang-orang seperti itu dikenal sebagai Kafir mutlak;[11] sebab seluruh nabi adalah pembawa pesan Allah.[12] Dan seluruh nabi menapaki jalan yang satu, karena risalah kenabian adalah arus yang tak terputus dan selaras. Mereka hadir sebagai pembimbing dan pendidik umat manusia di setiap jenjang peradaban.[13] Dengan demikian, beriman kepada sebagian nabi dan mengingkari sebagian lainnya tidak dapat diterima.[14]

Dalam Tafsir Qummi, ayat ini dita’wilkan (diterapkan) pada para pengingkar wilayah Imam Ali as; orang-orang yang menerima kenabian Nabi saw, namun mengingkari Wilayah Imam Ali as.[15]

Catatan Kaki

  1. Jafari, Tafsir Kowthar, 1398 HS, jld. 3, hlm. 9; Lihat juga: Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 3, hlm. 374.
  2. Sebagai contoh lihat: Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 3, hlm. 374; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 203.
  3. Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 262 dan 265.
  4. Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 262.
  5. Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 259.
  6. Mudarrisi, Min Huda al-Quran, 1419 H, jld. 2, hlm. 238.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 189.
  8. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 189.
  9. Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 4, hlm. 356.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 5, hlm. 126.
  11. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 5, hlm. 126; Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 260.
  12. Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 263.
  13. Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 4, hlm. 356.
  14. Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 4, hlm. 356.
  15. Qomi, Tafsir al-Qomi, 1404 H, jld. 1, hlm. 157.

Daftar Pustaka

  • Jafari, Ya'qub. Tafsir Kautsar. Qom: Hijrat, 1398 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tasnim. Qom, Isra, cetakan ke-4, Musim Gugur 1394 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Quran. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Tahqiq: Thayyib Musawi Jazairi. Qom: Dar al-Kitab, cetakan ke-3, 1404 H.
  • Rezai Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir Qur'an Mehr. Qom: Pazhuhesy-ha-ye Tafsir wa Ulum-e Qur'an, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftar-e Intisyarat-e Eslami, cetakan ke-5, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, riset: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran: Nashir Khusro, cetakan ke-3, 1372 HS.