Lompat ke isi

Konsep:Tihamah

Dari wikishia
Tihamah ditandai dengan warna hijau tua pada peta Arab Saudi.

Tihamah (bahasa Arab: تِهامَة) adalah dataran pantai yang membentang di sepanjang Laut Merah di sebelah barat Semenanjung Arab. Mekah yang merupakan bagian dari wilayah ini juga disebut sebagai Tihamah. Tihamah memiliki gunung-gunung terkenal seperti Radhwa, Abu Qubais, Shafa, Arafah, dan Hira. Pada masa sebelum Islam, Tihamah adalah wilayah independen dan berada di bawah kekuasaan Sasaniyah, menjadi tempat pertempuran antar kabilah Arab, dan pusat penyembahan berhala, terutama oleh Amr bin Luhay. Berhala yang paling penting meliputi "Sa'd", "Al-Munthabiq", dan "Dzul Khalashah".

Pada awal Islam, sebagian penduduk Tihamah berperang melawan kaum muslimin dalam berbagai peperangan (ghazwah), namun sebagian besar dari mereka masuk Islam secara bertahap melalui surat-surat dan utusan Nabi Muhammad saw. Nabi Islam mengirim para komandan dan sahabat seperti Imam Ali as dan Khalid bin Sa'id untuk mengajarkan Islam dan mengelola Tihamah, sehingga Tihamah bergabung ke dalam wilayah kekuasaan Islam.

Setelah kekhalifahan Abu Bakar, sebuah pasukan dikirim untuk menumpas orang-orang murtad di Tihamah, dan sekali lagi para pemberontak dari kabilah Asy'ari dan 'Akk berhasil ditumpas; sebagian dari kabilah tersebut kemudian pergi ke Madinah dan ikut serta dalam penaklukan Islam (futuhat). Tihamah, yang sebelum wafatnya Nabi saw merupakan salah satu mikhlaf (wilayah administratif) Yaman, digabungkan dengan Mikhlaf Jand pada masa Abu Bakar dan kemudian berada di bawah pemerintahan Ali as. Wilayah ini berada di bawah pengawasan para gubernur Umayyah dan Abbasiyah dengan kondisi yang relatif tenang hingga akhir abad kedua.

Pada masa Islam, kabilah dan keluarga terkemuka di Tihamah meliputi Sayid Alawi Bani Ahdal, Asy'ari, Ashbahi, Abi 'Uqamah, dan Bani Zawak, yang darinya muncul beberapa hakim dan ulama terkenal. Tokoh-tokoh besar Tihamah antara lain Abdurrahman Ghafiqi, Abu Qurrah Zabidi, Muhammad Murtadha Zabidi, Ibnu Hathab Zabidi, Abu Bakar bin Isa Asy'ari, serta penyair dan ahli fikih lainnya.

Letak Geografis

Dataran luas Tihamah membentang dari pelabuhan Aqaba di selatan Yordania hingga pantai selatan Semenanjung Arab di dekat Selat Bab al-Mandab, dan dibatasi di sebelah timur oleh pegunungan Madyan dan Sarat serta pegunungan barat Yaman, dan di sebelah barat oleh Laut Merah.[1] Panjangnya lebih dari 2000 kilometer dan lebarnya berkisar antara 60 hingga 120 kilometer,[2] dengan bagian terluasnya terletak di dekat Jeddah.[3] Tihamah memiliki kemiringan yang landai ke arah barat, dan bukti-bukti adanya makhluk laut menunjukkan bahwa wilayah ini dulunya merupakan bagian dari dasar Laut Merah.[4]

Tihamah terbagi menjadi tiga bagian utama:

  • Tihamah Hijaz dengan pusatnya di Mekah di bagian utara. Tihamah juga merujuk pada Mekah, dan karena alasan ini Nabi Muhammad saw disebut sebagai Nabi Tihami.[5]
  • Tihamah 'Asir dengan pusatnya di Abha di bagian tengah.
  • Tihamah Yaman dengan pusatnya di Zabid di bagian selatan, di mana Tihamah Yaman lebih terkenal.[6]

Tihamah Yaman dibagi menjadi empat bagian berdasarkan kabilah yang mendiaminya: Wilayah Bani Majid (pusat: Al-Syaqaq), Wilayah Asy'ari (pusat: Zabid), Wilayah 'Akk yang merupakan bagian terluas dan terpenting serta mencakup kota-kota seperti Bajil, Bait al-Faqih, dan Hudaidah, serta Wilayah Hakam bin Sa'ad al-'Asyirah (pusat: 'Atsar).[7] Panjang Tihamah Yaman pada masa awal Islam sekitar 615 kilometer dan lebarnya antara enam puluh kilometer di utara hingga kurang dari lima belas kilometer di selatan, mencakup wilayah seperti Aden, Lahij, Al-Mandab, Abyan, Zabid, dan 'Atsar.[8]

Tihamah memiliki gunung-gunung terkenal seperti Radhwa, Abu Qubais, Shafa, Arafah, dan Hira (tempat diutusnya Nabi saw).[9] Sungai-sungai (wadi) pentingnya meliputi Damah, Syuhud, Al-Hamdh, dan Al-Qahah di utara; Marr, Yalamlam, Al-Laits, Hali, dan Bisy di tengah; serta Mawr, Mauzi', Rima', Surdad, Siham, dan Zabid di selatan.[10] Selain itu, terdapat banyak mata air untuk minum dan pertanian.[11]

Tihamah umumnya berpasir dan sangat panas, dengan suhu rata-rata tahunan 26 hingga 30 derajat Celcius. Kelembapan di pantai berkisar 45 hingga 65%, dan Tihamah Yaman lebih lembap dan lebih panas.[12] Angin Samum dan panas yang menyengat menyebabkan karavan lebih banyak melintas di malam hari.[13] Curah hujan rendah: di utara kurang dari 25 mm, di tengah kurang dari 100 mm, dan di selatan sekitar 300 mm per tahun. Tanah di beberapa daerah subur dan tanaman seperti jagung, wijen, kurma, pisang, kunyit, delima, dan biji-bijian ditanam di sana.[14] Sebagian penduduk bekerja di bidang peternakan, perikanan, dan pencarian mutiara.[15]

Jalan utama pantai Tihamah membentang dari barat laut ke tenggara, menghubungkan kota-kota dan pemukiman. Di beberapa kota seperti Dhaba, Jeddah, dan Hudaidah, jalan sekunder barat-timur juga telah dibangun untuk menghubungkan wilayah Tihamah dengan bagian tengah Semenanjung Arab.

Tihamah memiliki banyak kota dan pemukiman. Kota-kota penting meliputi Al-Wajh, Madinah, dan Yanbu' di utara; Mekah dan Jeddah di bagian tengah; serta Jazan (Jizan), Hudaidah, Zabid (kota terpenting Tihamah Yaman pada abad-abad awal Islam), Hais, dan Bait al-Faqih di selatan. Beberapa kota ini, seperti Yanbu', Jazan, dan Hudaidah, merupakan pelabuhan terkenal di Tihamah.[16] Beberapa pemukiman terkenal dan kuno di Tihamah adalah Jabalah (yang tampaknya merupakan pemukiman tertua di Tihamah), Juhfah dekat lokasi Ghadir Khum, Bani Sa'ad tempat Nabi Muhammad saw tinggal sementara waktu di masa kecilnya, dan Hudaibiyah.[17]

Pantai Tihamah

Tihamah pada Masa Pra-Islam

Pada tahun 570 M, penduduk Tihamah memberontak terhadap Muhammad bin Khuza'i, agen Abrahah, dan membunuhnya. Peristiwa ini memicu serangan pasukan Abrahah ke arah Mekah.[18] Pada beberapa periode, terutama akhir abad ke-6 M dan awal kekuasaan Persia (Abna') atas Yaman, Tihamah dianggap sebagai provinsi independen dan tunduk pada raja-raja Sasaniyah hingga munculnya Islam.[19]

Pada masa Sasaniyah, pengelola Tihamah bertugas mengumpulkan pajak (kharaj) dan dipilih oleh Marzban (gubernur perbatasan) wilayah gurun. Wilayah ini juga menjadi tempat pertempuran terkenal antara berbagai kabilah Arab.[20]

Pada zaman Jahiliyah, Amr bin Luhay dari kabilah Azdi menyebarkan penyembahan berhala di Tihamah seperti di bagian lain Semenanjung Arab.[21] Berhala-berhala terpenting dari kaum 'Akk dan Asy'ari meliputi "Sa'd", "Al-Munthabiq" (yang konon setelah Islam ditemukan sebuah pedang di dalamnya dan Nabi saw menamainya "Makhdzam" serta mengambilnya untuk dirinya sendiri), dan "Dzul Khalashah" yang dihancurkan oleh Jarir bin Abdullah Bajali.[22]

Islam di Tihamah dan Penyebarannya

Pada awal periode Islam, sebagian penduduk Tihamah berperang melawan kaum muslimin dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq,[23] namun sebagian besar penduduk secara bertahap masuk Islam melalui surat-surat dan utusan Nabi Muhammad saw.[24]

Pada tahun ke-6 Hijriah, Islam didakwahkan di Tihamah, dan pada tahun ke-7, sekelompok dari kabilah Asy'ari dan 'Akk masuk Islam.[25] Pada tahun ke-8, Nabi saw mengirim Khalid bin Walid untuk mengajak penduduk Yaman di selatan Tihamah, namun ia membunuh anggota kabilah Bani Jadhimah dan memicu kemarahan Nabi saw.[26] Di bagian selatan Tihamah, "Badzan", gubernur Sasaniyah di Yaman, masuk Islam dan Tihamah seperti wilayah Yaman lainnya bergabung dengan wilayah kekuasaan Islam. Setelah itu, Nabi saw menjadikan Badzan sebagai penguasa seluruh Yaman, termasuk Tihamah.[27]

Setelah tersebarnya Islam di Tihamah, Nabi saw mengirim sejumlah Sahabat dan tokoh Yaman, termasuk Imam Ali as, Khalid bin Sa'id bin 'Ash, dan Farwah bin Musaik Muradi untuk mengajarkan prinsip-prinsip Islam dan mengumpulkan zakat atau sebagai agen beliau ke wilayah ini.[28]

Tihamah Setelah Pemantapan Islam

Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, pasukan di bawah pimpinan Suwaid bin Muqarrin dan Khalid bin Usaid dikirim ke Tihamah untuk menumpas orang-orang murtad dan penentang.[29] Sekali lagi, sejumlah penduduk Tihamah, terutama dari kabilah Asy'ari dan 'Akk, murtad, namun pasukan Islam di bawah pimpinan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah Makhzumi dan Thahir bin Abi Halah berhasil menumpas mereka.[30] Setelah penumpasan ini, sekelompok dari kabilah 'Akk, Madzhij, dan Asy'ari pergi ke Madinah dan ikut serta dalam penaklukan Islam.[31]

Tihamah, yang hingga wafatnya Nabi saw merupakan satu dari tiga mikhlaf Yaman, pada masa kekhalifahan Abu Bakar digabungkan dengan Mikhlaf Jand, dan kemudian Ali as menempatkan seluruh Yaman termasuk Tihamah di bawah satu pemerintahan (wilayah).[32] Hingga akhir abad kedua Hijriah, Tihamah merupakan bagian dari Yaman dan berada di bawah pengawasan para gubernur Umayyah dan kemudian Abbasiyah. Karena jauh dari pusat kekhalifahan, wilayah ini biasanya menikmati stabilitas politik dan ketenangan yang relatif.[33]

Keluarga Terkenal

Pada masa Islam, beberapa kabilah dan keluarga memiliki kedudukan khusus di tanah ini, seperti Sayid Alawi Bani Ahdal, Kabilah Asy'ari yang tinggal di wilayah luas di Tihamah, dan Kabilah Ashabih yang mana Malik bin Anas Ashbahi (Imam Mazhab Maliki) dinisbatkan kepadanya.[34] Selain itu, Keluarga Abi 'Uqamah termasuk keluarga paling terkenal di tanah ini dan bermazhab Syafi'i, di mana sejumlah hakim Tihamah muncul dari kalangan mereka,[35] serta Kabilah Bani Zawak yang merupakan Sayid Husaini.[36]

Tokoh-Tokoh Tihamah

Banyak tokoh besar muncul dari Tihamah, di antaranya yang paling terkenal adalah:

  1. Hushain bin Nadhlah, dikenal sebagai Kahin (dukun/peramal), yang pada masa Jahiliyah terkenal sebagai tokoh besar penduduk Tihamah.
  2. Abdurrahman Ghafiqi Tihami (w. 114 H), penakluk sebagian wilayah Prancis.[37]
  3. Abu Qurrah Musa bin Thariq Zabidi, murid Malik bin Anas dan penulis musnad hadis pertama di Tihamah.[38]

Tokoh-tokoh lain yang dinisbatkan ke Zabid adalah:

  1. Abdurrahman bin Ali Daiba' Zabidi, sejarawan abad ke-10 H dan penulis Qurrah al-'Uyun bi Akhbar al-Yaman al-Maimun serta Bughyah al-Mustafid bi Akhbar Madinah Zabid.
  2. Muhammad Murtadha Husaini Zabidi, penulis Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus.
  3. Muhammad bin Abi Bakar, dikenal sebagai Ibnu Hathab Zabidi, seorang ahli fikih.
  4. Ali bin Abdurrahman Haddad, penyebar tarekat Qadiriyah.
  5. Ali bin Umar bin Da'sin, penyebar tarekat Syadziliyah di Tihamah.[39]
  6. Abu Bakar bin Isa bin Utsman Asy'ari, dikenal sebagai Ibnu Hankas, ahli fikih Hanafi besar di Tihamah.[40]
  7. Abul Hasan Ali bin Muhammad Tihami (W. 410 atau 416 H), penyair Arab terkenal.[41]
  8. Hasan bin Muhammad Tihami, penyair abad ke-4 dan ke-5.[42]
  9. Husain bin Ali Qumi dikenal sebagai Ibnu Qum, penyair Dinasti Shulaihi.[43]

Selain itu, para sahabat, muhadis, ahli fikih, dan teolog yang dikenal dengan sebutan Asy'ari (misalnya Abu Musa al-Asy'ari, Abul Hasan Asy'ari, dan Sa'ad bin Abdullah Asy'ari) semuanya dinisbatkan ke Tihamah.

Catatan Kaki

  1. Wasfi Zakaria, hlm. 80.
  2. Wasfi Zakaria, hlm. 80.
  3. Mahjub, di bawah kata Tihamah.
  4. Wasfi Zakaria, hlm. 80-81.
  5. Ibnu Khallikan, jld. 3, hlm. 381; Himyari, hlm. 141-142.
  6. Hamzah, hlm. 18; Wasfi Zakaria, hlm. 80; bandingkan Kahhalah, 1384, hlm. 1213; Jauf atau Yamamah; Ibnu Sa'id Maghribi, jld. 1, hlm. 145.
  7. Lihat: Ba'kar, hlm. 323-324; Abdullah Abdussalam Haddad, hlm. 41.
  8. Lihat: Syuja', 1408, hlm. 49-51; Hajari Yamani, jld. 1, bagian 1, hlm. 156-158.
  9. Sulami, hlm. 396, 418-419.
  10. Sungai terpenting di Tihamah Yaman dengan luas daerah aliran sungai 7.900 kilometer persegi; Atlas al-Mamlakah al-'Arabiyyah al-Sa'udiyyah, hlm. 39; Al-Mausu'ah al-Yamaniyah, di bawah kata "Al-Awdiyah".
  11. Lihat: Sulami, hlm. 398; Ibnu Mujawir, hlm. 64.
  12. Atlas al-Mamlakah al-'Arabiyyah al-Sa'udiyyah, hlm. 47; Hamzah, hlm. 65; Wahbah, hlm. 5.
  13. Wasfi Zakaria, hlm. 82.
  14. Bawazir, hlm. 178; Wasfi Zakaria, hlm. 81, 118-119, 131; Hajari Yamani, jld. 1, bagian 1, hlm. 162.
  15. Wasfi Zakaria, hlm. 82; Untuk informasi lebih lanjut lihat: Muqhafi, di bawah kata Tihamah; Al-Mausu'ah al-Yamaniyah, di bawah kata Tihamah.
  16. Untuk informasi lebih lanjut lihat: Ibnu Mujawir, hlm. 53, 90-94.
  17. Lihat: Sulami, hlm. 408, 410-411.
  18. Thabari, jld. 2, hlm. 131, 134.
  19. Sulami, Mukadimah Abdussalam Muhammad Harun, hlm. 375; Jarafi Yamani, hlm. 79-80; Piotrovsky, hlm. 80.
  20. Ibnu Khurdadzbih, hlm. 128.
  21. Ibnu Kalbi, hlm. 58.
  22. Ibnu Kalbi, hlm. 34-36; Ibnu Habib, 1361, hlm. 318; Ibnu Duraid, jld. 1, hlm. 56.
  23. Thabari, jld. 2, hlm. 500, 570.
  24. Syuja', 1408, hlm. 149.
  25. Ibnu Sa'd, jld. 1, bagian 2, hlm. 79; Ibnu Qasim, bagian 1, hlm. 69, 71; Sayid, hlm. 41.
  26. Thabari, jld. 3, hlm. 66.
  27. Ibnu Khaldun, jld. 4, hlm. 270; Wasfi Zakaria, hlm. 49.
  28. Lihat: Abu Makhramah, jld. 2, hlm. 67; Ibnu Qasim, bagian 1, hlm. 70-72.
  29. Thabari, jld. 3, hlm. 249, 319.
  30. Thabari, jld. 3, hlm. 320-321; Ibnu Khaldun, jld. 2, hlm. 492-493; Ibnu Qasim, bagian 1, hlm. 75.
  31. Jarafi Yamani, hlm. 88; Haddad, jld. 1, hlm. 173.
  32. Syuja', 1408, hlm. 241-242; Abdullah Abdussalam Haddad, hlm. 51.
  33. Al-Mausu'ah al-Yamaniyah, di bawah "Tarikh al-Yaman fi Zhill al-Daulah al-Umawiyah wa al-Abbasiyah"; Sayid, hlm. 42, 52.
  34. Lihat: Ibnu Haik, 1403, hlm. 85; Jarafi Yamani, hlm. 62, 64; Muqhafi, di bawah "Banu al-Ahdal".
  35. Lihat: 'Umarah Yamani, hlm. 233-236.
  36. Sebagai contoh lihat: Zubarah Yamani, bagian 5, sub-bagian 2, hlm. 16, 108, 143.
  37. Ba'kar, hlm. 164, 203-207.
  38. Abu Makhramah, jld. 2, hlm. 259-260; Ba'kar, hlm. 325.
  39. Ba'kar, hlm. 325.
  40. Ba'kar, hlm. 422-423.
  41. Ibnu Khallikan, jld. 3, hlm. 378-381.
  42. Kahhalah, 1957-1961, jld. 3, hlm. 278.
  43. 'Umarah Yamani, hlm. 194.

Daftar Pustaka

  • Abdullah Abdussalam Haddad. Madinah Hais al-Yamaniyah: Tarikhuha wa Atsaruha al-Diniyah. Kairo, 1419/1999.
  • Abu Makhramah, Abdullah Thayyib bin Abdullah. Tarikh Tsaghr 'Aden. Cetakan Oscar Lofgren, Leiden, 1936-1950 M.
  • Al-Mausu'ah al-Yamaniyah. Di bawah pengawasan Ahmad Jabir 'Afif dkk. Sana'a, 1412/1992.
  • Atlas al-Mamlakah al-'Arabiyyah al-Sa'udiyyah. Riyadh, Wizarah al-Ta'lim al-'Ali, 1420/2000.
  • Ba'kar, Abdurrahman. Kawakib Yamaniyah fi Sama' al-Islam. Beirut, 1410/1990.
  • Bawazir, Sa'id 'Awadh. Ma'alim Tarikh al-Jazirah al-'Arabiyyah. Aden, 1385/1966.
  • Haddad, Muhammad Yahya. Tarikh al-Yaman al-Siyasi. Beirut, 1407/1986.
  • Hamzah, Fuad. Qalb Jazirah al-'Arab. Riyadh, 1352/1933.
  • Himyari, Muhammad bin Abdullah. Al-Raudh al-Mi'thar fi Khabar al-Aqthar. Cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1984.
  • Ibnu Duraid. Al-Isytiqaq.
  • Ibnu Habib. Kitab al-Muhabbar. Cetakan Ilse Lichtenstadter, Hyderabad Deccan, 1361/1942.
  • Ibnu Habib. Kitab al-Munammaq fi Akhbar Quraisy. Cetakan Khurshid Ahmad Fariq, Hyderabad Deccan, 1384/1964.
  • Ibnu Haik. Kitab al-Iklil. Jld. 2, Cetakan Muhammad bin Ali Akwa', Kairo, 1386/1966.
  • Ibnu Haik. Shifah Jazirah al-'Arab. Cetakan Muhammad bin Ali Akwa', Sana'a, 1403/1983.
  • Ibnu Kalbi. Kitab al-Asnam. Cetakan Ahmad Zaki Pasha, Kairo, 1332/1914.
  • Ibnu Khaldun. Al-'Ibar.
  • Ibnu Khallikan. Wafayat al-A'yan.
  • Ibnu Khurdadzbih. Al-Masalik wa al-Mamalik.
  • Ibnu Mujawir. Shifah Bilad al-Yaman wa Makkah wa Ba'dh al-Hijaz, al-Musammah Tarikh al-Mustabshir. Cetakan Oscar Lofgren, Beirut, 1407/1986.
  • Ibnu Qasim. Ghayah al-Amani fi Akhbar al-Quthri al-Yamani. Cetakan Sa'id Abdulfattah 'Asyur, Kairo, 1388/1968.
  • Ibnu Sa'd. Al-Thabaqat al-Kubra.
  • Ibnu Sa'id Maghribi. Nasywah al-Tharab fi Tarikh Jahiliyah al-'Arab. Cetakan Nushrat Abdurrahman, Amman, 1402/1982.
  • Jarafi Yamani, Abdullah. Al-Muqtathaf min Tarikh al-Yaman. Beirut, 1407/1987.
  • Jawad Ali. Al-Mufhashshal fi Tarikh al-'Arab qabla al-Islam. Baghdad, 1413/1993.
  • Kahhalah, Umar Ridha. Jughrafiyah Syibh Jazirah al-'Arab. Cetakan Ahmad Ali, Mekah, 1384/1964.
  • Kahhalah, Umar Ridha. Mu'jam al-Mu'allifin. Damaskus, 1957-1961.
  • Mahjub, Fathimah Muhammad. Al-Mausu'ah al-Dzahabiyah li al-'Ulum al-Islamiyah. Jld. 10, Kairo, Dar al-Fikr al-Arabi.
  • Muqhafi, Ibrahim Ahmad. Mu'jam al-Buldan wa al-Qabail al-Yamaniyah. Sana'a, 1422/2002.
  • Piotrovsky, Mikhail B. Al-Yaman qabla al-Islam wa al-Qurun al-Ula li al-Hijrah. Terjemahan Muhammad Syu'aibi, Beirut, 1987.
  • Sayid, Aiman Fuad. Tarikh al-Madzahib al-Diniyah fi Bilad al-Yaman hatta Nihayah al-Qarn al-Sadis al-Hijri. Kairo, 1408/1988.
  • Sulami. Tabaqat al-Sufiyyah (atau karya relevan lainnya sesuai konteks sumber).
  • Syuja', Abdurrahman Abdulwahid. Al-Yaman fi 'Uyun al-Rahhalah. Beirut, 1413/1993.
  • Syuja', Abdurrahman Abdulwahid. Al-Yaman fi Shadr al-Islam: min al-Bi'tsah al-Muhammadiyah hatta Qiyam al-Daulah al-Umawiyah. Damaskus, 1408/1987.
  • Thabari. Tarikh al-Umam wa al-Muluk.
  • 'Umarah Yamani. Tarikh al-Yaman, al-Musamma al-Mufid fi Akhbar Sana'a wa Zabid. Cetakan Muhammad bin Ali Akwa', Sana'a, 1985.
  • Wasfi Zakaria, Ahmad. Rihlati ila al-Yaman. Damaskus, 1406/1986.
  • Yamani, Muhammad bin Ahmad Hajari. Majmu' Buldan al-Yaman wa Qabailuha. Cetakan Ismail bin Ali Akwa', Sana'a, 1416/1996.

Pranala Luar