Lompat ke isi

Konsep:Tahlil Khums

Dari wikishia

Furu'uddin

Salat

Wajib: Salat JumatSalat IdSalat AyatSalat Mayit


Ibadah-ibadah lainnya
PuasaKhumusZakatHajiJihadAmar Makruf dan Nahi MungkarTawalliTabarri


Hukum-hukum bersuci
WudhuMandiTayammumNajasatMuthahhirat


Hukum-hukum Perdata
PengacaraWasiatGaransiJaminanWarisan


Hukum-hukum Keluarga
PerkawinanPerkawinan TemporerPoligamiTalakMaharMenyusuiJimakKenikmatanMahram


Hukum-hukum Yudisial
Putusan HakimBatasan-batasan hukumKisas


Hukum-hukum Ekonomi
Jual Beli (penjualan)SewaKreditRibaPinjaman


Hukum-hukum Lain
HijabSedekahNazarTaklidMakanan dan MinumanWakaf


Pranala Terkait
BalighFikihHukum-hukum SyariatBuku Panduan Fatwa-fatwaWajibHaramMustahabMubahMakruhDua Kalimat Syahadat

Tahlil Khums atau Ibahah Khums (membolehkan tidak bayar khums) yang berarti pemaafan Khums, adalah izin yang diberikan oleh para Imam Syiah kepada pengikutnya (Syiah) untuk tidak membayar khums. Para fakih Syiah memiliki dua pendekatan terhadap riwayat-riwayat tentang Tahlil Khums; sebagian fakih menganggap pembayaran khums tetap wajib dan memandang riwayat-riwayat tentang Tahlil tersebut merujuk pada waktu atau kasus tertentu, sementara sebagian lainnya, berdasarkan zahir riwayat, menetapkan hukum bahwa membayar khums tidak wajib.

Nashir Makarem Syirazi, salah seorang marja taklid Syiah, berpendapat bahwa tidak ada alasan yang dapat diterima untuk Tahlil Khums secara mutlak, dan khums hanya dimaafkan pada uang yang dibayarkan untuk mahar perempuan atau pembelian budak perempuan (hamba sahaya) agar tidak timbul masalah dari segi keabsahan keturunan (halal zadagi) bagi orang-orang Syiah. Selain itu, Sayyid Abu al-Qasim al-Khoei menganggap Tahlil Khums khusus untuk harta yang belum dibayarkan khums-nya dan dipindahkan dari orang lain kepada seseorang.

Berlawanan dengan riwayat-riwayat tentang Tahlil Khums, terdapat riwayat-riwayat yang menunjukkan keharusan membayar khums dan ketididaan rida Ahlulbait as atas penggunaan khums. Riwayat-riwayat ini dikenal sebagai riwayat "Tasydid Khums".

Definisi dan Kedudukan

Tahlil atau Ibahah Khums adalah izin yang diberikan dalam beberapa riwayat dari para Imam Syiah kepada pengikutnya (Syiah) untuk tidak membayar khums.[1] Menurut beberapa peneliti, dasar dari hukum ini semata-mata adalah hadis-hadis yang berasal dari Ahlulbait as.[2] Dalam kitab Wasa'il al-Syi'ah, terdapat 22 riwayat tentang hal ini yang dinukil dari para Imam as, di antaranya ada satu riwayat yang berbentuk tauki' dari Imam Zaman as.[3] Berdasarkan riwayat-riwayat ini, "kesucian keturunan" dan "ketidakadilan mengambil khums dari harta yang telah berpindah ke tangan orang Syiah dan sebelumnya belum dibayar khums-nya" adalah alasan-alasan Tahlil Khums.[4]

Bertentangan dengan teori Tahlil, terdapat riwayat-riwayat yang dikenal sebagai "Tasydid Khums" yang isinya menekankan kewajiban membayar khums dan ketidakhalalan menggunakan khums. Menurut keyakinan Syaikh al-Hurr al-Amili dalam Wasa'il al-Syi'ah, riwayat-riwayat Tasydid Khums berkaitan dengan masa ketika dua hal berikut ini ada: 1. Para Sayyid yang membutuhkan (fakir) yang menjadi kewajiban Imam untuk memenuhi kebutuhan mereka. 2. Kehadiran wakil-wakil para Imam as yang menerima dana tersebut.[5]

Pandangan Para Fakih

Para fakih memberikan penafsiran yang berbeda-beda mengenai riwayat-riwayat Tahlil Khums[6] yang dapat dibagi menjadi tiga kategori.[7]

  • Keharusan membayar khums dan takwil hadis-hadis Tahlil Khums: Seperti yang dinukil oleh Allamah Hilli, Ibnu Junaid al-Iskafi meyakini bahwa Tahlil Khums dari pihak para Imam as secara syariat tidak mungkin. Hal ini dikarenakan tahlil atas harta apa pun harus dilakukan oleh pemiliknya, sedangkan Imam bukanlah pemilik khums dan hanya memiliki hak untuk mengelolanya (hak tasarruf).[8] Selain itu, Sallar al-Dailami menganggap Tahlil khusus untuk Anfal dan menyatakan bahwa pembayaran khums adalah wajib.[9]
  • Tidak wajib membayar khums berdasarkan riwayat-riwayat Tahlil: Menurut keyakinan Al-Bahrani dalam kitab Al-Hada'iq, bertentangan dengan teori yang mewajibkan pembayaran khums, sebagian ulama seperti Muhammad Baqir al-Sabzawari dan Abdullah bin Shalih al-Bahrani—dengan berlandaskan pada riwayat-riwayat yang di dalamnya khums dihalalkan bagi orang-orang Syiah tanpa batasan apa pun—secara mutlak berpendapat bahwa orang-orang Syiah tidak perlu membayar khums.[10]
  • Menerima riwayat-riwayat Tahlil dengan mempertimbangkan batasan dan syarat tertentu: Sejumlah fakih menerima Tahlil Khums dengan menyebutkan batasan dan syarat khusus. Beberapa pandangan mengenai hal ini adalah sebagai berikut:
  1. Tahlil berkaitan dengan masalah pernikahan (manakih), tempat tinggal, dan perniagaan pada masa gaib. Pandangan ini dikaitkan dengan mayoritas fakih yang masyhur, seperti Syaikh al-Thusi[11] dan Syahid Awwal.[12] Menurut Syahid Tsani, yang dimaksud dengan "manakih" (pernikahan) adalah budak-budak perempuan yang dimerdekakan pada masa gaib, uang yang dibayarkan sebagai gantinya, serta mahar perempuan dari keuntungan usaha atau bisnis. Yang dimaksud dengan "tempat tinggal" adalah biaya rumah yang diperoleh dari keuntungan bisnis, sedangkan yang dimaksud dengan "perniagaan" adalah uang yang sampai kepada seseorang dari orang yang tidak meyakini kewajiban khums.[13]
  2. Berdasarkan pemahaman sebagian peneliti dari pernyataan Ibnu Junaid, Tahlil secara khusus berlaku pada masa kehadiran Imam Maksum as. Ia meyakini bahwa setiap Imam dapat menghalalkan harta yang berada di bawah kekuasaannya. Oleh karena itu, hukum Tahlil Khums menjadi tidak berlaku setelah masa kehadiran Imam tersebut.[14]
  3. Syaikh al-Mufid dan Makarem Syirazi meyakini bahwa Tahlil Khums—dengan mempertimbangkan alasan kebersihan kelahiran—dikhususkan untuk budak-budak perempuan dan mahar perempuan.[15]
  4. Menurut Syaikh al-Hurr al-Amili, Tahlil hanya diperbolehkan apabila seseorang tidak mampu membayarkannya kepada Imam dan para sayyid.[16]
  5. Tahlil dikhususkan untuk Saham Imam. Pandangan ini merupakan pilihan dari Sayid Muhammad Musawi Amili, Muhaddits Bahrani, dan Faidh Kasyani.[17]
  6. Mengkhususkan Tahlil pada setiap harta yang belum dibayarkan khums-nya dan dipindahkan kepada orang-orang Syiah. Pandangan ini dipilih oleh Sayyid Abu al-Qasim al-Khoei.[18]

Catatan Kaki

  1. Abdullahi dkk., "Nigaresyi bar Akhbar-e Tahlil, Nafi-e Dhiman-e Khums-e Sabiq bar Milkiyyat-e Syi'ah", hlm. 114.
  2. Abdullahi dkk., "Nigaresyi bar Akhbar-e Tahlil, Nafi-e Dhiman-e Khums-e Sabiq bar Milkiyyat-e Syi'ah", hlm. 115.
  3. Abdullahi dkk., "Nigaresyi bar Akhbar-e Tahlil, Nafi-e Dhiman-e Khums-e Sabiq bar Milkiyyat-e Syi'ah", hlm. 115.
  4. Hurr al-'Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1409 H, jld. 9, hlm. 545.
  5. Hurr al-'Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1409 H, jld. 9, hlm. 542-543.
  6. Nourmofidi, "Barresi-ye Akhbar-e Tahlil-e Khums", Situs Informasi Sayid Mujtaba Nourmofidi; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 16, hlm. 152.
  7. Nourmofidi, "Barresi-ye Akhbar-e Tahlil-e Khums", Situs Informasi Sayid Mujtaba Nourmofidi.
  8. Hilli (Allamah), Mukhtalaf al-Syi'ah, 1413 H, jld. 3, hlm. 340.
  9. Sallar, Al-Marasim al-'Alawiyyah, 1404 H, hlm. 140; Abdullahi; Qaramaliki; Momeni; Imam, "Nigaresyi bar Akhbar-e Tahlil, Nafi-e Dhiman-e Khums-e Sabiq bar Milkiyyat-e Syi'ah", hlm. 142.
  10. Bahrani, Al-Hada'iq al-Nadhirah, 1405 H, jld. 12, hlm. 438.
  11. Hilli, Mukhtalaf al-Syi'ah, 1413 H, jld. 3, hlm. 339.
  12. Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 2, hlm. 80.
  13. Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 2, hlm. 80.
  14. Abdullahi; Qaramaliki; Momeni; Imam, "Nigaresyi bar Akhbar-e Tahlil, Nafi-e Dhiman-e Khums-e Sabiq bar Milkiyyat-e Syi'ah", hlm. 119.
  15. Mufid, Al-Muqni'ah, 1413 H, hlm. 285; Makarem Syirazi, "Istifta dar Maurid-e Bakhsyideh Syodan-e Khums dar Zaman-e Ghaibat", Situs Informasi Kantor Ayatullah Naser Makarem Syirazi.
  16. Hurr al-'Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1409 H, jld. 9, hlm. 543.
  17. Nourmofidi, "Barresi-ye Akhbar-e Tahlil-e Khums", Situs Informasi Sayid Mujtaba Nourmofidi.
  18. Khui, Mausu'ah al-Imam al-Khui, 1418 H, jld. 25, hlm. 353.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Yusuf. Al-Hada'iq al-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah al-Thahirah. Qom: Penerbit Jami'ah Mudarrisin, cetakan pertama, 1405 H.
  • Mufid, Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom: Penerbit Kongres Sedunia Milenium Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
  • Hilli, Yusuf. Mukhtalaf al-Syi'ah fi Ahkam al-Syari'ah. Qom: Penerbit Jami'ah Mudarrisin, cetakan kedua, 1413 H.
  • Khui, Sayid Abul Qasim. Mausu'ah al-Imam al-Khui. Qom: Muassasah Ihya' al-Atsar al-Imam al-Khui, cetakan pertama, 1418 H.
  • Dailami, Sallar. Al-Marasim al-'Alawiyyah wa al-Ahkam al-Nabawiyyah fi al-Fiqh al-Imami. Qom: Mansyurat al-Haramain, cetakan pertama, 1404 H.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah. (Diberi catatan pinggir oleh Kalantar). Qom: Dawari, cetakan pertama, 1410 H.
  • Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il al-Syi'ah. Qom: Muassasah Al al-Bait alaihimussalam, cetakan pertama, 1409 H.
  • Abdullahi, Hamidah; Ali Qaramaliki; Abidin Momeni; Sayid Muhammad Ridha Imam. "Nigaresyi bar Akhbar-e Tahlil, Nafi-e Dhiman-e Khums-e Sabiq bar Milkiyyat-e Syi'ah" [Tinjauan atas Berita-Berita Tahlil, Penafian Tanggungan Khums Sebelumnya atas Kepemilikan Syiah]. Jurnal Dwi-tahunan Studi Islam Fikih dan Ushul, tahun ke-41, nomor seri 83/1, Musim Gugur dan Musim Dingin 1388 HS.
  • Makarem Syirazi, Naser. "Istifta dar Maurid-e Bakhsyideh Syodan-e Khums dar Zaman-e Ghaibat (Istifta mengenai Pemaafan Khums di Masa Gaib)". Situs Informasi Kantor Ayatullah Naser Makarem Syirazi, tanggal akses: 6 Khordad 1402 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Koreksi oleh Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Nourmofidi, Mujtaba. "Barresi-ye Akhbar-e Tahlil-e Khums (Tinjauan Berita-Berita Tahlil Khums)". Situs Informasi Sayid Mujtaba Nourmofidi, tanggal dimuatnya materi: 18 Farvardin 1393 HS, tanggal akses: 6 Khordad 1402 HS.