Konsep:Madrasah Kalam Baghdad
Templat:Kotak info madrasah Madrasah Kalam Baghdad adalah salah satu madrasah Kalam Imamiyah yang berbasis pada rasionalisme dan populer di Baghdad dari abad kedua hingga keenam Hijriah. Perbedaan mendasar madrasah ini dengan madrasah kalam lainnya seperti Madrasah Kalam Qom dan Madrasah Kalam Kufah adalah metode rasionalismenya.
Akhir abad kedua Hijriah, awal Ghaibah Shughra, dan abad keempat Hijriah disebut sebagai waktu pembentukan Madrasah Baghdad. Beberapa orang membagi Madrasah Baghdad menjadi Madrasah Baghdad periode awal (mutaqaddim) dan periode akhir (muta'akhir), serta berpendapat bahwa Syekh Mufid adalah pendiri Madrasah Baghdad mutaqaddim dan Sayyid Murtadha adalah pendiri Madrasah Baghdad muta'akhir. Madrasah Baghdad muta'akhir dianggap sebagai madrasah paling rasional dalam Kalam Imamiyah.
Rasionalisme, ketidakhujjahan Khabar Wahid, penolakan terhadap Sahwu al-Nabi, pembelaan terhadap masalah Imamah dan Ghaibah adalah karakteristik lain dari Madrasah Baghdad. Syekh Thusi, Ibnu Abi Aqil al-Umani, Abu Sahl al-Naubakhti, Ibnu Junaid al-Iskafi, Hasan bin Musa al-Naubakhti, dan Abu al-Jaisy al-Balkhi dianggap sebagai tokoh-tokoh penting Madrasah Baghdad.
Hijrahnya Syekh Thusi ke Najaf pada tahun 448 H dianggap sebagai titik awal kemunduran Madrasah Baghdad; namun menurut pandangan sebagian orang, Madrasah Kalam Baghdad muta'akhir secara resmi dianggap sebagai kecenderungan kalam Imamiyah yang paling menonjol hingga pertengahan abad keenam Hijriah. Pada abad-abad berikutnya, ulama seperti Sadiduddin al-Himmsi dan Muhaqqiq al-Hilli juga dianggap terpengaruh oleh madrasah ini.
Latar belakang dan landasan, aliran-aliran, metodologi, dan topik-topik kalam sekolah Kalam Baghdad telah dikaji dalam sebuah buku berjudul Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Baghdad (Studi di Madrasah Kalam Baghdad).
Kedudukan
Dikatakan bahwa madrasah kalamTemplat:Y Baghdad memperoleh kedudukan khusus bersamaan dengan Ghaibah Imam Zaman (af).[1] Keberadaan ulama seperti Hisyam bin HakamTemplat:Y dan para wakil khusus Imam di Baghdad menunjukkan pentingnya madrasah pemikiran di kota ini.[2] Disebutkan bahwa setelah Ghaibah Shughra, arus utama Kalam Imamiyah beraktivitas di kota Baghdad.[3]
Latar Belakang Pembentukan
Faktor-faktor yang berpengaruh dan menjadi landasan dalam pembentukan Madrasah Kalam rasionalis Baghdad dinyatakan sebagai berikut:
- Kesalahan beberapa mutakallim Madrasah Kufah dalam menjelaskan pemikiran kalam para Imam (as) yang menyebabkan reputasi buruk dan pengabaian terhadap mereka;[4]
- Lingkungan geografis kota Baghdad yang selalu menjadi saksi pertikaian intelektual lintas mazhab;[5]
- Kehadiran pengikut berbagai agama dan mazhab di Baghdad yang bercampur dengan filsafat dan pendekatan rasionalis;[6]
- Kehadiran kaum Muktazilah di Baghdad;[7]
- Tidak adanya madrasah hadis yang kuat dan efektif di Baghdad;[8]
- Ghaibah dan tidak adanya Imam Maksum;[9]
- Meluasnya rasionalisme menyusul gerakan penerjemahan dan penerjemahan karya-karya filsafat ke dalam bahasa Arab serta perkenalan mutakallim Muslim dengan filsafat.[10]
Sejarah
Terdapat berbagai pandangan mengenai waktu kemunculan dan kemunduran Madrasah Kalam Baghdad.
Waktu Kemunculan
Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kemunculan dan pembentukan Madrasah Baghdad. Periode ini disebut dari akhir abad kedua hingga abad keempat Hijriah. Sebagian menganggap pendirian awal Madrasah Kalam Baghdad adalah dampak dari perjalanan Imam as-Sadiq (as) ke IrakTemplat:Y dan bersamaan dengannya.[11] Mohammad Taqi Sobhani, peneliti kalam kontemporer, menganggap kemunculan Madrasah Baghdad terjadi pada akhir abad kedua Hijriah.[12] Menurut perkataan Wilferd Madelung, Islamolog dan peneliti Syiah asal Jerman, Madrasah Kalam Baghdad muncul pada abad keempat Hijriah.[13] Beberapa peneliti juga meyakini bahwa Madrasah Kalam Baghdad didirikan beberapa dekade setelah kemunduran Madrasah Kalam KufahTemplat:Y dan dimulai sejak awal Ghaibah Shughra dengan penulisan karya-karya kalam oleh mutakallim Naubakhti serta penganut Muktazilah yang menjadi Syiah seperti Ibnu Qubbah al-Razi dan Ibnu Mamlak al-Jurjani, serta mutakallim Imami seperti Abu al-Ahwash al-Bashri (mutakallim Syiah abad ke-3 H) dan Ibnu Jabrawaih (salah satu mutakallim Imami).[14]
Sebagian menganggap kemunculan Madrasah Baghdad bersamaan dengan Syekh Mufid dan meyakini bahwa Kalam Imamiyah dalam rentang waktu Ghaibah Shughra hingga Syekh Mufid tidak memiliki madrasah kalam;[15] namun sejumlah peneliti juga menyertakan mutakallim periode ini seperti Ibnu Abi Aqil dan Ibnu Junaid al-Iskafi sebagai bagian dari mutakallim Madrasah Kalam Baghdad.[16]
Madrasah Baghdad Mutaqaddim dan Muta'akhir
Beberapa orang membagi Madrasah Baghdad menjadi dua periode: Madrasah Baghdad mutaqaddim (awal) dan muta'akhir (akhir).[17] Madrasah Baghdad mutaqaddim terbentuk dengan upaya dan tulisan-tulisan Syekh Mufid.[18] Penamaan madrasah ini sebagai Madrasah Baghdad mutaqaddim dikarenakan pusat utama aktivitas Syekh Mufid berada di kota Baghdad dan pembentukannya juga dari sisi waktu mendahului Madrasah Baghdad muta'akhir (Madrasah Sayyid Murtadha).[19] Karakteristik penting Madrasah Baghdad mutaqaddim disebut sebagai rasionalisme moderat dan pengaruh dari arus kalam Muktazilah Baghdad, khususnya pemikiran Abu al-Qasim al-Ka'bi al-Balkhi.[20]
Sayyid Murtadha dianggap sebagai pendiri Madrasah Kalam Baghdad muta'akhir.[21] Madrasah Kalam Sayyid Murtadha dianggap sebagai madrasah pertama yang menyajikan sistem keyakinan Imamiyah yang terorganisir dan terperinci. Selain itu, madrasah ini dianggap sebagai madrasah paling rasional dalam kalam Imamiyah.[22] Karakteristik utama Madrasah Baghdad muta'akhir dinyatakan sebagai pengaruh dari diskursus kalam Muktazilah Bashri Bahsyami (pengikut Abu Hasyim al-Jubba'i), pendekatan rasionalisme maksimalis, dan penggunaan minimalis dalil-dalil naqli dalam masalah kalam.[23]
Kemunduran
Dikatakan bahwa Madrasah Baghdad mulai mengalami kemunduran seiring dengan hijrahnya Syekh Thusi ke Najaf pada tahun 448 H.[24][25] Menurut perkataan sebagian peneliti, Madrasah Kalam Baghdad mutaqaddim terpinggirkan di bawah pengaruh madrasah Sayyid Murtadha dan setelah wafatnya al-Karajaki (wafat 449 H) yang merupakan murid Syekh Mufid;[26] namun ia dihidupkan kembali oleh Sadiduddin al-Himmsi al-Razi (wafat 585 H) dan para pengikutnya di Madrasah Hillah.[27] Madrasah Kalam Baghdad muta'akhir juga secara resmi dianggap sebagai kecenderungan kalam Imamiyah yang paling menonjol hingga pertengahan abad keenam Hijriah, dan setelah itu ulama seperti Hasan bin Muhammad al-Dailami dan Ali bin Yunus al-Bayadhi al-Amili (wafat 877 H) memiliki kecenderungan pada madrasah ini.[28]
Kitab Tamhid al-Ushul karya Syekh Thusi yang dianggap sebagai cerminan pemikiran kalam Madrasah Baghdad, menjadi buku teks di hauzah-hauzah ilmiah selama tiga abad dari abad kelima hingga abad kedelapan, dan dengan demikian pemikiran kalam Madrasah Baghdad dikenal sebagai pemikiran Syiah yang lazim.[29] Disebutkan bahwa pengaruh pemikiran madrasah ini dapat ditemukan dalam karya-karya seperti Kanz al-Fawa'id karya al-Karajaki, Mutasyabih al-Qur'an karya Ibnu Syahr Asyub (wafat 588 H), al-Munqidz min al-Taqlid karya Sadiduddin al-Himmsi, dan al-Maslak fi al-Ushul karya Muhaqqiq al-Hilli (wafat 676 H).[30]
Karakteristik
Karakteristik Madrasah Kalam Baghdad disebutkan sebagai berikut:
- Rasionalisme: Metode Madrasah Baghdad dalam menjelaskan hukum dan pengetahuan agama adalah rasionalisme.[31] Rasionalisme dianggap sebagai ciri terpenting madrasah ini.[32] Akal begitu diperhatikan dan dipercaya dalam Madrasah Kalam Baghdad sehingga bahkan ayat-ayat dan hadis pun dianalisis serta dievaluasi dengannya,[33] serta penopang hujjah dan kredibilitasnya dianggap adalah akal dan dalil-dalil akal, dan jika terjadi pertentangan antara dalil akal dengan Dalil Naqli, maka dalil akal lebih diutamakan.[34] Disebutkan bahwa Rasionalisme di madrasah ini dimulai dengan Ibnu Abi Aqil dan Ibnu Junaid al-Iskafi, bertransformasi di tangan Syekh Mufid, dan mencapai puncaknya melalui Sayyid Murtadha.[35]
- Ketidakhujjahan Khabar Wahid: Madrasah Baghdad dan di puncaknya Syekh Mufid[36] serta Sayyid Murtadha[37], tidak hanya tidak menerima otoritas Khabar Wahid dalam keyakinan, melainkan juga tidak membolehkan pengamalannya dalam Fikih.[38] Dari sudut pandang tokoh-tokoh besar madrasah ini, khabar wahid hanya memiliki otoritas dan kredibilitas jika terdapat indikasi (qarunah) eksternal atas kebenarannya.[39] Disebutkan bahwa setelah Syekh Mufid dan Sayyid Murtadha, beberapa tokoh besar madrasah ini seperti Syekh Thusi mulai menganggap khabar wahid memiliki otoritas dalam fikih.[40]
- Penolakan Sahwu al-Nabi: Tokoh-tokoh besar Madrasah Baghdad berbeda dengan Madrasah Qom, mereka tidak membolehkan adanya Sahwu al-Nabi (saw).[41] Dalam menolak Sahwu al-Nabi, terdapat sebuah risalah dengan judul "Adam-e Sahw al-Nabi (saw)" yang dinisbatkan kepada Syekh Mufid.[42]
- Pembelaan terhadap Imamah dan Ghaibah: Madrasah Baghdad merupakan pembela imamah dan ghaibah Imam. Imamah dan ghaibah Imam dianggap sebagai topik kalam terpenting yang dikemukakan di Madrasah Baghdad.[43] Dikarenakan adanya banyak saingan dan penentang imamah pada periode ini, para mutakallim Madrasah Baghdad mulai menjelaskan dasar-dasar imamah dan menolak syubhat serta menulis banyak buku dalam menjelaskan kedudukan imamah dan masalah di sekitarnya.[44]
- Kebebasan Beragama dan Debat Ilmiah: Madrasah Baghdad dikarenakan adanya keragaman keyakinan, agama, dan mazhab di Baghdad, memiliki semangat toleransi dan kebebasan beragama serta dialog dan debat keyakinan di dalamnya dianggap sebagai salah satu karakteristiknya.[45]
- Sentralitas Baghdad dalam Gerakan Penerjemahan dan perkenalan dengan diskursus filosofis,[46] kurangnya perhatian terhadap hadis-hadis batiniah dan takwili,[47] serta pengaruh mutakallim Imamiyah terhadap mutakallim Muktazilah[48]dianggap sebagai karakteristik lain dari madrasah ini.
Sebagian pihak menamakan Madrasah rasionalis Baghdad sebagai kalam Muktazili Imamiyah dikarenakan hubungannya dengan kalam rasional Muktazilah.[49]
Tokoh-tokoh Terkemuka
Mutakallim dan ulama terkemuka Madrasah Kalam Baghdad antara lain:[50]
- Ibnu Abi Aqil al-Umani: Ia adalah seorang Mutakallim dan faqih[51] pada pertengahan pertama abad keempat Hijriah.[52] Ia dianggap sebagai seorang yang Tsiqah.[53] Kitab al-Mutamassik bi-Habli Ali al-Rasul adalah miliknya yang menurut perkataan al-Najasyi sangat masyhur di kalangan Imamiyah.[54] Kitab al-Karr wa al-Farr termasuk di antara karyanya mengenai Imamah.[55]
- Abu Sahl al-Naubakhti (237-311 H): Ia diperkenalkan sebagai tokoh besar mutakallim Imami dan non-Imami.[56] Lebih dari dua puluh buku disebutkan darinya, antara lain al-Istifa' fi al-Imamah, al-Tanbih fi al-Imamah, al-Radd 'ala al-Yahud, al-Radd 'ala al-Ghalat, Kitab al-Tauhid, dan Kitab fi al-Shifat.[57] Upaya Abu Sahl dalam kalam dianggap penting dari dua sisi: pertama, ia selain membela keyakinan Syiah yang terorganisir, juga menggunakan metode Muktazilah dalam menyusun masalah kalam Imamiyah dan berupaya mendekatkan ajaran keduanya satu sama lain; kedua, Abu Sahl termasuk orang-orang pertama yang membawakan dalil akal dalam membuktikan kewajiban Imamah dan menjelaskan sifat-sifat Imam, serta tidak mencukupkan pada dalil-dalil naqli berbeda dengan para mutakallim sebelumnya.[58]
- Syekh Mufid (336 atau 338 - 413 H): Ibnu Nadim memperkenalkannya sebagai pemimpin mutakallim Imamiyah pada masanya.[59] Ia memiliki banyak karya mengenai kalam Syiah khususnya imamah. Disebutkan bahwa al-Najasyi[60] menyebutkan 175 karya dari Syekh Mufid, yang mana setengahnya bertema imamah.[61] Ia memiliki beberapa risalah dalam mengkritik pandangan Muktazilah dan banyak karya dalam mengorganisir ajaran Syiah secara argumentatif serta menghadapi tradisionisme.[62] Kitab Tashih al-I'tiqadat yang mengkritik al-I'tiqadat karya Syekh Saduq, merupakan contoh dari upaya menghadapi kecenderungan tradisionisme.[63]
Syekh Mufid dianggap sebagai perwakilan Madrasah Baghdad dan tokoh paling menonjolnya yang melakukan kritik terhadap pemikiran Madrasah Qom.[64] Dikatakan bahwa madrasah pemikiran Baghdad mencapai puncaknya pada masa Syekh Mufid.[65] Syekh Mufid dianggap bukan pengikut rasionalisme ekstrem maupun pendukung tradisionisme ekstrem; melainkan pendekatannya dianggap sebagai pendekatan moderat.[66]
- Sayyid Murtadha (355-436 H): Ia adalah murid Syekh Mufid.[67] Syekh Thusi memujinya dan menganggapnya sangat unggul dalam ilmu kalam dan ilmu lainnya seperti Fikih, Ushul Fikih, nahwu, dan bahasa.[68] Sayyid Murtadha memiliki banyak buku, antara lain al-Syafi fi al-Imamah yang ditulis dalam rangka mengkritik bagian imamah dari kitab al-Mughni karya Abdul Jabbar al-Muktazili.[69] Syekh Thusi menganggap buku ini tidak ada bandingannya dalam masalah imamah.[70] al-Dzakhirah fi 'Ilm al-Kalam, Tanzih al-Anbiya', dan Jumal al-Ilm wa al-Amal termasuk di antara karya kalam lainnya miliknya.[71] Menurut pandangan sebagian peneliti, mungkin dapat dikatakan bahwa sistematisasi dan pengategorian pemikiran kalam Syiah dilakukan di tangan Sayyid Murtadha dan disempurnakan oleh Syekh Thusi.[72] Mereka menganggap kitab al-Dzakhirah miliknya sebagai buku Syiah pertama yang secara terorganisir dan argumentatif membahas seluruh topik keyakinan.[73] Selain itu, pembagian lima prinsip Ushuluddin juga dinisbatkan kepada Sayyid Murtadha.[74]
Menurut perkataan Wilferd Madelung, Islamolog dan peneliti Syiah asal Jerman, Sayyid Murtadha sebagaimana kaum Muktazilah meyakini bahwa akal sendirian tanpa bantuan Wahyu, harus menemukan fondasi-fondasi agama.[75] Selain itu, ia dianggap sebagai penganut Imamiyah pertama yang dalam karyanya secara tegas menyatakan kemandirian akal terhadap wahyu dalam hal kognisi.[76]
- Syekh Thusi (385-460 H): Ia lahir di Tus; namun pada usia 23 tahun pergi ke Irak dan berguru kepada Syekh Mufid selama lima tahun.[77] Khalifah Abbasiyah menyerahkan kursi ilmu kalam di Baghdad kepadanya.[78] Ia setelah wafatnya Sayyid Murtadha, memegang kepemimpinan ilmiah dan kepemimpinan (za'amah) Syiah di Baghdad selama dua belas tahun hingga akhirnya kaum Seljuk menyerang Baghdad dan mendudukinya. Syekh Thusi setelah itu pergi ke Najaf dan mendirikan Hauzah Najaf.[79] Beberapa orang menganggap pendekatan Syekh Thusi sebagai jalan tengah antara Madrasah rasionalis Baghdad dan Madrasah tradisionis Qom.[80] Kitab Tamhid al-Ushul dianggap mencerminkan pemikiran kalam Madrasah Baghdad.[81]
Hisyam bin Hakam,[82]Templat:Y Ibnu Junaid al-Baghdadi al-Iskafi (lahir sekitar 290 H), Hasan bin Musa al-Naubakhti, dan Abu al-Jaisy al-Balkhi (wafat 367 H) dianggap sebagai tokoh-tokoh penting Madrasah Baghdad lainnya.[83] Syekh Thusi, Abu al-Salah al-Halabi, Ibnu Barraj, Ibnu Zuhrah, Quthbuddin al-Rawandi, Ibnu Syahr Asyub, dan lain-lain dianggap sebagai pengikut Madrasah Baghdad muta'akhir.[84]
Bibliografi
- Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Baghdad (Studi di Madrasah Kalam Baghdad) ditulis oleh sejumlah peneliti dari Institut Kalam Ahlulbait (as) di bawah pengawasan Mohammad Taqi Sobhani, yang membahas dalam tiga bab mengenai latar belakang dan landasan, arus-arus dan metodologi, serta topik-topik kalam sekolah Kalam Baghdad. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1395 HS oleh Lembaga Ilmu Budaya Darul Hadits.[85]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73.
- ↑ Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 171.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 162-163.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 165; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 10-11.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 166; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 11.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 166-167.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 167.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 169.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 179-182.
- ↑ Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 72.
- ↑ Sobhani, "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha", hlm. 30.
- ↑ Madelung, Mazhab-mazhab Islam, 1381 HS, hlm. 135.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 159.
- ↑ Mousavi Tanyani, "Mutakalliman-e Nasyenakhte-ye Imami dar Baghdad az Ghaibat-e Shughra ta دوران Syekh Mufid", hlm. 209.
- ↑ Lihat: Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 51-52; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 11-14; Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 21.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 22.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 22.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 22.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 26.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 26.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 26.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat A'lam asy-Syiah, 1430 H, jld. 2, hlm. 162.
- ↑ Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 41.
- ↑ Lihat: Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 25.
- ↑ Lihat: Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 25.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 26.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 106.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 106.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 57; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 16.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 57.
- ↑ Abidi, Madrasah-ye Kalam-e Qom, 1384 HS, hlm. 41.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 16-17.
- ↑ Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73-74.
- ↑ Syekh Mufid, Awa'il al-Maqalat, 1413 H, hlm. 122.
- ↑ Sayyid Murtadha, Rasail al-Syarif al-Murtadha, 1405 H, jld. 1, hlm. 203.
- ↑ Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 20-23.
- ↑ Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 21.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 60; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 24.
- ↑ Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 27.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 17, hlm. 122.
- ↑ Radhawi, "Hauze-ye Elmiyeh" (Bagian Baghdad), hlm. 380.
- ↑ Radhawi, "Hauze-ye Elmiyeh" (Bagian Baghdad), hlm. 380-381.
- ↑ Lihat: Pakatchi, "Baghdad", bagian Ilmiah dan Pengetahuan Agama, hlm. 321; Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 74.
- ↑ Pakatchi, "Baghdad", bagian Ilmiah dan Pengetahuan Agama, hlm. 321.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 60.
- ↑ Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 21.
- ↑ Lihat: Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 51-55; Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 11-15; Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 48.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 51.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 48.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 48.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 48.
- ↑ Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 31; al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 31.
- ↑ Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 31-32; al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 31-32.
- ↑ Radhawi, "Hauze-ye Elmiyeh" (Bagian Baghdad), hlm. 379-380.
- ↑ Ibnu Nadim, al-Fihrist, 1417 H, hlm. 244.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 399-402.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 54.
- ↑ Radhawi, "Hauze-ye Elmiyeh" (Bagian Baghdad), hlm. 380.
- ↑ Radhawi, "Hauze-ye Elmiyeh" (Bagian Baghdad), hlm. 380.
- ↑ Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 14-15.
- ↑ Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 15.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 61; Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 198-199.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat A'lam asy-Syiah, 1430 H, jld. 2, hlm. 121.
- ↑ Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 288.
- ↑ Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 288.
- ↑ Syekh Thusi, al-Fihrist, 1420 H, hlm. 288.
- ↑ al-Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 270.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 108.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 108.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 107-108.
- ↑ Madelung, Mazhab-mazhab Islam, 1381 HS, hlm. 135.
- ↑ Hossein-zadeh Khezrabad, "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad", hlm. 160.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat A'lam asy-Syiah, 1430 H, jld. 2, hlm. 161.
- ↑ Agha Buzurg Tehrani, Thabaqat A'lam asy-Syiah, 1430 H, jld. 2, hlm. 161.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 56.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 105.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hlm. 106.
- ↑ Jebraili, Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah, 1389 HS, hlm. 73.
- ↑ Lihat: Jafari, "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hlm. 11-14.
- ↑ Ata'i Nazari, "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani", hlm. 28.
- ↑ "Ketab-e Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Baghdad Montasyer Syod", Situs Pusat Riset Al-Qur'an dan Hadis.
Catatan
Daftar Pustaka
- Abidi, Ahmad. Madrasah-ye Kalam-e Qom. Qom, Astana Muqaddasah Qom, Penerbit Za'ir, cetakan pertama, 1384 HS.
- Agha Buzurg Tehrani, Mohammad Muhsin. Thabaqat A'lam asy-Syiah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1430 H.
- al-Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Qom, Daftare Nasre Islami, cetakan keenam, 1365 HS.
- Ata'i Nazari, Hamid. "Negahi be Advar va Mazahib-e Kalam-e Imamiyah dar Qurun-e Miyani". Dua-bulanan Ayene-ye Pajuhish, nomor 171, Mordad dan Syahrivar 1397 HS.
- Farmanian, Mahdi dan Sadeqi Kasjani, Mostafa. Negahi be Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah; az Aghaz ta Zuhur-e Safaviyah. Qom, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, cetakan pertama, 1394 HS.
- Hossein-zadeh Khezrabad. "Avamel-e Syakl-giri-ye Madrasah-ye Kalam-e Baghdad". Dalam Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Baghdad, di bawah pengawasan Mohammad Taqi Sobhani. Qom, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1395 HS.
- Ibnu Nadim, Mohammad bin Ishaq. al-Fihrist. Riset: Ibrahim Ramadan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan kedua, 1417 H.
- Jafari, Ya'qub. "Moqayese-i miyan-e do Madrasah-ye Fekri-ye Syiah dar Qom va Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri". Dalam Maqalat-e Farsi (Majmu'ah Maqalat-e Kongre-ye Syekh Mufid, jld. 69). Qom, al-Mu'tamar al-Alami li-Alfiyah al-Syekh al-Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
- Jebraili, Mohammad Safar. Seir-e Tatavvor-e Kalam-e Syiah. Daftar kedua: Dari Era Ghaibah hingga Khwajah Nasir Thusi. Teheran, Penerbit Institut Riset Kebudayaan dan Pemikiran Islam, cetakan pertama, 1389 HS.
- "Ketab-e Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Baghdad Montasyer Syod". Situs Pusat Riset Al-Qur'an dan Hadis, tanggal kunjungan: 16 Bahman 1399 HS.
- Madelung, Wilferd. Mazhab-mazhab Islam. Terjemahan: Abul Qasim Seri. Teheran, Asathir, cetakan kedua, 1381 HS.
- Majlisi, Mohammad Taqi. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Muzhaffar. al-Imam al-Shadiq. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
- Mousavi Tanyani. "Mutakalliman-e Nasyenakhte-ye Imami dar Baghdad az Ghaibat-e Shughra ta دوران Syekh Mufid". Dalam Jostari-hayi dar Madrasah-ye Kalam-e Baghdad, di bawah pengawasan Mohammad Taqi Sobhani. Qom, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1395 HS.
- Pakatchi, Ahmad. "Baghdad". Dalam Dairatul Ma'arif Bozorg-e Islami, jld. 12. Teheran, Markaz-e Dairatul Ma'arif Bozorg-e Islami, cetakan pertama, 1383 HS.
- Radhawi, Sayyid Abbas. "Hauze-ye Elmiyeh (Bagian Baghdad)". Dalam Danesynama-ye Jihan-e Islam (jld. 14). Teheran, Bonyad-e Dairatul Ma'arif-e Islami, cetakan pertama, 1389 HS.
- Sayyid Murtadha, Ali bin al-Husain. Rasail al-Syarif al-Murtadha. Riset: Sayyid Mahdi Raja'i. Qom, Dar al-Qur'an al-Karim, cetakan pertama, 1405 H.
- Sobhani, Mohammad Taqi. "Kalam-e Imamiyah; Risye-ha va Ruyesy-ha". Faslnamah Naqd va Nazar, nomor 65, musim semi 1391 HS.
- Syekh Mufid, Mohammad bin Mohammad. Awa'il al-Maqalat fi al-Mazahib wa al-Mukhtarat. Qom, al-Mu'tamar al-Alami li-asy-Syekh al-Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin al-Hasan. al-Fihrist. Riset: Abdul Aziz Thabathaba'i. Qom, Maktabah al-Muhaqqiq al-Thabathaba'i, cetakan pertama, 1420 H.
- Thaliqani, Sayyid Hasan. "Madrasah-ye Kalam-e Qom". Faslnamah Naqd va Nazar, nomor 65, musim semi 1391 HS.