Lompat ke isi

Konsep:Isar

Dari wikishia

Akhlak


Ayat-ayat Akhlak
Ayat-Ayat IfkAyat UkhuwahAyat Istirja'Ayat Ith'amAyat Naba'Ayat Najwa


Hadis-hadis Akhlak
Hadis ''Qurb Nawafil''Hadis Makarim AkhlakHadis MikrajHadis ''junud aql'' dan ''jahl''


Keutamaan-keutamaan Akhlak
Rendah HatiKepuasanDermawanMenahan AmarahIkhlasLembutZuhud


Keburukan-keburukan Moral
CongkakTamakHasudDustaGibahGunjingkikirMendurhakai orang tuaHadis ''Nafs''Besar DiriMengupingMemutus hubungan silaturahmiPenyebaran Kekejian


Istilah-istilah Akhlak
Jihad NafsNafsu LawamahNafsu AmarahJiwa yang tenangPerhitunganMuraqabahMusyaratahDosaPelajaran AkhlakRiadat


Ulama Akhlak
Mulla Mahdi NaraqiMulla Ahmad NaraqiSayid Ali QadhiSayid Ridha BahauddiniDastgheibMuhammad Taqi Bahjat


Sumber Referensi Akhlak

Al-Qur'anNahjul BalaghahMishbah al-Syari'ahMakarim al-AkhlaqAl-Mahajjah al-Baidha' Majmu'atu WaramJami' al-Sa'adatMi'raj al-Sa'adahAl-Muraqabat

Isar (bahasa Arab: إيثار) adalah salah satu keutamaan moral yang berarti mendahulukan orang lain di atas diri sendiri meskipun dalam keadaan membutuhkan. Isar memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam, sedemikian rupa sehingga Al-Qur'an menyebutkan berbagai contoh manifestasinya dan dalam kitab-kitab riwayat Syiah, terdapat bab khusus yang didedikasikan untuk tema ini.

Isar Imam Ali as dalam peristiwa Lailatul Mabit, isar harta Hazrat Khadijah sa di jalan penyebaran Islam, dan isar nyawa oleh Imam Husain as dalam Tragedi Karbala dihitung sebagai contoh-contoh nyata isar dalam sejarah Islam. Selain itu, isar kaum Ansar dalam mendahulukan kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri dalam kekurangan dianggap sebagai salah satu contoh penting isar di awal Islam, dan dikatakan bahwa Ayat Isar turun mengenai pengorbanan kaum Ansar ini.

Beberapa dampak isar dalam dimensi individu dan sosial telah disebutkan, di antaranya adalah "Sakhawah", meraih keridaan Allah, dan terbebas dari keduniawian dalam dimensi individu. Sedangkan dalam dimensi sosial, dampaknya meliputi pengentasan kemiskinan, kasih sayang, tata krama pergaulan yang baik, dan menciptakan solidaritas.

Isar menurut pandangan para fakih adalah hal yang sunnah; namun dalam beberapa contoh menjadi Wajib dan dalam beberapa kasus menjadi Haram. Isar dalam pandangan para sufi Muslim juga memiliki kedudukan istimewa dan disebut sebagai salah satu rukun Tasawuf. Isar juga dianggap sebagai rahasia berdirinya peradaban; oleh karena itu dikatakan bahwa kemenangan Revolusi Islam Iran serta ketahanannya dalam menghadapi peperangan dan sanksi adalah akibat dari budaya isar.

Terminologi

Isar adalah keutamaan manusia yang didefinisikan dengan berbagai makna seperti mendahulukan orang lain di atas diri sendiri meskipun dalam keadaan membutuhkan[1] atau dalam meraih keuntungan atau menolak kerugian.[2] Kata ini dianggap sebagai lawan dari bukhl (kikir)[3] dan berkaitan dengan konsep-konsep seperti sakhawah, Infak, serta Ihsan. Perbedaannya adalah orang yang melakukan isar sendiri sebenarnya membutuhkan apa yang ia berikan.[4]

Para pemikir Islam dengan memperhatikan sebagian ayat Al-Qur'anul Karim membagi isar menjadi dua jenis, yaitu isar harta dan isar jiwa.Templat:Catatan[5]

Urgensi dan Kedudukan

Murtadha Muthahhari, pemikir dan penulis Syiah, berkeyakinan bahwa isar berakar pada fitrah manusia dan usianya setua usia kehidupan manusia.[6] Beberapa peneliti mengaitkan kemunculan isar dalam agama-agama non-Ilahi dengan masalah pengurbanan[7] dan berkeyakinan bahwa isar telah disebutkan dalam mazhab mistik Yahudi (Kabalah).[8] Para pakar agama menganggap dasar keyakinan agama Kristen terletak pada pemikiran penebusan Nabi Isa as dan isar beliau demi diampuninya dosa-dosa manusia.[9]

Para sejarawan meyakini bahwa sebelum kemunculan Islam di Semenanjung Arab, masyarakat Arab sudah mengenal konsep ini; namun Al-Qur'anul Karim menambah kekayaannya;[10] dan telah berkali-kali membahas masalah ini. Sebagai contoh, Ayat Isar turun mengenai kaum Ansar[11] yang menyebutkan pendahuluan kaum Muhajirin di atas diri mereka sendiri meskipun dalam keadaan membutuhkan.[12] Dalam sebagian kitab riwayat Syiah juga terdapat bab yang didedikasikan untuk tema isar[13] dan menyebutnya dengan judul-judul seperti puncak Ihsan, ibadah terbaik, dan jalan orang-orang baik.[14] Dalam kitab Mizan al-Hikmah, hadis-hadis dengan poros pembahasan isar telah dikumpulkan dan di bawahnya dijelaskan tema-tema seperti isar secara bahasa, isar dalam Al-Qur'an dan hadis, nilai, jenis, faktor, dampak, serta adab isar.[15]

Mulla Ahmad Naraqi, ulama Syiah pada abad ke-13 Hijriah, menyebut isar sebagai derajat kedermawanan yang paling tinggi.[16] Ibnu Khaldun, sejarawan dan sosiolog abad ke-8 Hijriah, juga berkeyakinan bahwa kemunculan peradaban di setiap geografi bergantung pada isar penduduk wilayah tersebut, dan ketiadaan isar akan membawa kehinaan bagi mereka.[17] Muthahhari, filsuf dan pemikir Syiah, menganggap sebagian dari peradaban besar Islam bergantung pada kepatuhan terhadap konsep moral ini.[18] Imam Khomeini menganggap jiwa isar sebagai pendahuluan untuk berkhidmat kepada Islam[19] dan sumber keselamatan kaum Muslim dari dominasi kaum arogan.[20]

Para peneliti berkeyakinan bahwa salah satu komponen utama dalam kemenangan Revolusi Islam Iran dan ketahanannya pada tahun-tahun Perang Irak-Iran serta setelahnya adalah promosi budaya isar.[21] Selain itu dikatakan bahwa masalah penurunan populasi berkaitan dengan masalah kurangnya isar orang tua; keegoisan dan ketiadaan jiwa isar pada mereka menyebabkan mereka tidak memperhatikan kesendirian anak mereka dan hanya memfokuskan diri pada urusan kesejahteraan mereka sendiri.[22]

Contoh-contoh Isar

Para ilmuwan Islam telah mengisyaratkan contoh-contoh isar sepanjang sejarah Islam dalam kitab-kitab mereka, di antaranya:

Dampak Isar

Para peneliti berkeyakinan bahwa dampak dan manfaat isar dengan memperhatikan ayat-ayat serta riwayat-riwayatnya dapat dibagi menjadi dua kategori: dampak individu dan dampak sosial.[31]

Mereka menyebutkan untuk dampak dalam dimensi individu meliputi hal-hal seperti "Sakhawah", "meraih keridaan Allah", "terbebas dari keduniawian", "pembinaan keutamaan moral", "pencarian kebenaran", dan "pembebasan dari hawa nafsu". Sedangkan untuk dampak dalam dimensi sosial, mereka menekankan hal-hal seperti "wafa bil ahd", "meningkatkan budaya Jihad", "memperbaiki perilaku sosial dalam hubungan dengan kedudukan kepemimpinan", "kemantapan dan pengokohan pemerintahan Ilahi", "penghilangan kelalaian serta pemberian kesadaran dalam hubungan sosial", "pengentasan kemiskinan", "kasih sayang", "tata krama pergaulan yang baik", dan "menciptakan solidaritas".[32]

Selain itu, dengan memperhatikan riwayat-riwayat Syiah, dapat diisyaratkan pula pada masalah-masalah seperti "meraih pahala-pahala ukhrawi"[33], "dicintai oleh orang lain"[34], dan "mencapai derajat muru'ah (keperwiraan)".[35]

Hukum Fikih Isar

Istilah isar telah dibahas dalam kitab-kitab fikih pada bab-bab seperti Haji, Sedekah, serta Makanan dan Minuman.[36]

Para fakih Syiah menganggap hukum asal isar adalah sunnah,[37] meskipun dalam beberapa kasus menjadi Wajib dan dalam sebagian kasus menjadi Haram:

  • Isar Wajib: Contohnya seperti orang yang haus dalam tingkat yang kurang dari batas darurat, menghadapi orang haus lain yang sedang di ambang kematian.[38]
  • Isar Haram: Contohnya seperti orang yang rasa hausnya sudah mencapai batas darurat, namun ia mendahulukan seorang Kafir di atas dirinya sendiri.[39]

Isar dalam Tasawuf Islam

Istilah isar dalam karya-karya mistik memiliki bab tersendiri. Khwaja Abdullah Ansari, arif abad ke-5 Hijriah, menganggap isar sebagai salah satu maqam spiritual,[40] dan Kalabadzi (wafat: 380 H) menghitungnya sebagai bagian dari rukun tasawuf.[41]

Sebagian sufi Muslim menganggap isar sebagai sebab dan tanda kecintaan serta makrifat Ilahi,[42] dan berkeyakinan bahwa orang yang melakukan isar akan disifati dengan nama-nama Ilahi karena pengorbanannya.[43]

Di kalangan para sufi, isar memiliki tingkatan-tingkatan sebagai berikut:

  1. Lebih memilih orang lain daripada diri sendiri dalam urusan-urusan yang tidak haram.
  2. Mendahulukan rida Allah di atas rida orang lain, meskipun membawa kesulitan dan hambatan.
  3. Tidak melihat diri sendiri dan menganggap isar berasal dari Allah, yang merupakan derajat isar tertinggi.[44]

Sebagian arif mengistilahkan tingkatan ini sebagai Isar Syariat, Isar Tarekat, dan Isar Hakikat.[45]

Imam Khomeini menganggap tingkatan isar bergantung pada keikhlasan seseorang,[46] dan berkeyakinan bahwa jika pelaku isar tidak melihat dirinya dan hanya melihat Allah, ia akan mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari isar.[47] Sedemikian rupa sehingga tidak ada timbangan yang mampu mengukur nilainya.[48]

Abul Hasan al-Hujwiri, salah satu arif abad ke-5, membagi jenis isar menjadi dua macam:

  1. Isar Mahabbah (cinta) yang didefinisikan dalam hubungan dengan Allah dan bermakna mempersembahkan jiwa dalam menjaga Hak Allah serta mendahulukan keinginan-Nya di atas keinginan sendiri.[49]
  2. Isar Shuhbah (persahabatan) yang didefinisikan dalam hubungan dengan orang lain dan bermakna mendahulukan orang lain di atas diri sendiri.[50]

Templat:Kotak kutipan

Isar dalam Sastra Persia

Istilah isar telah menemukan gema yang luas dalam sastra Persia dan menarik perhatian para peneliti. Beberapa karya penelitian dalam tema ini meliputi tesis "Isar wa Fadakari dar Panj Ganj Nizami Ganjavi" (Isar dan Pengorbanan dalam Lima Khazanah Nizami Ganjavi),[51] "Isar dar Matsnawi Maknawi wa Fihi ma Fihi-ye Maulana" (Isar dalam Matsnawi Maknawi dan Fihi ma Fihi Maulana),[52] serta artikel "Jaygah-e Isar wa az Khud-gozasytagi dar Syahnameh-ye Ferdowsi" (Kedudukan Isar dan Pengorbanan dalam Syahnameh Ferdowsi).[53]

Sebagai contoh, gambaran yang diberikan oleh Ferdowsi, penyair epik terbesar Iran, tentang para pahlawan Syahnameh adalah para pemuda ksatria yang dengan menanggung kesulitan dan mempertaruhkan nyawa mereka, berupaya demi kebebasan serta penyelamatan sesama manusia, kerabat, serta sahabat mereka, dan tidak pernah mencari imbalan materi.[54] Templat:Puisi [55]

Catatan Kaki

  1. Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Tanpa Tahun, jld. 10, hlm. 47; Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 409.
  2. Jurjani, Al-Ta'rifat, 1370 HS, hlm. 18 dan 104.
  3. Jurjani, Al-Ta'rifat, 1370 HS, hlm. 19.
  4. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, Tanpa Tahun, jld. 1, hlm. 585.
  5. Faidh Kasyani, Al-Wafi, 1417 H, jld. 1, hlm. 78; Naraqi, Jami' al-Sa'adat, 1378 HS, jld. 2, hlm. 122.
  6. Muthahhari, Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Mothahhari, 1386 HS, jld. 22, hlm. 382.
  7. Mansuri Larijani, Az Qiyam ta Qiyam, 1389 HS, hlm. 180.
  8. Mansuri Larijani, Az Qiyam ta Qiyam, 1389 HS, hlm. 173–174.
  9. Hinnells, Rahnamaye Adyan-e Zandeh, 1378 HS, jld. 1, hlm. 263.
  10. Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, 1422 H, jld. 4, hlm. 575–584.
  11. Lihat Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 19, hlm. 20; Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil, 1407 H, jld. 4, hlm. 504.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 23, hlm. 517–518.
  13. Lihat Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 18; Al-Hurr al-Amili, Tafshil Wasa'il al-Syiah ila Tahshil Masayil al-Syari'ah, 1409 H, jld. 9, hlm. 429.
  14. Amidi, Tasnif Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1366 HS, hlm. 395–396.
  15. Nekouian, Danisynameh Mizan al-Hikmah, 1384 HS.
  16. Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 409.
  17. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 1, hlm. 197–199.
  18. Muthahhari, Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Mothahhari, 1386 HS, jld. 14, hlm. 341–342.
  19. Imam Khomeini, Sahifeh, 1389 HS, jld. 19, hlm. 50.
  20. Imam Khomeini, Sahifeh, 1389 HS, jld. 16, hlm. 204, jld. 20, hlm. 207 dan 218.
  21. Nikruz, Ta'tsir-e Farhang-e Isar wa Syahadat bar Amniyat-e Milli-ye Jomhuri-ye Eslami-ye Iran, 1394 HS, hlm. 79.
  22. "Khud-khwahi wa 'Adam-e Isar-e Valideyn 'Amil-e Ashli-ye Kahesy-e Farzand", Situs Balagh.
  23. Lihat Naraqi, Jami' al-Sa'adat, Tanpa Tahun, jld. 2, hlm. 123.
  24. Sebagai contoh lihat Al-Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, Maktabah Ilmiyah Islamiyah, jld. 1, hlm. 101; Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 2, hlm. 183; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1973 M, jld. 2, hlm. 99-100.
  25. Sebagai contoh lihat Al-Hakim al-Nisyaburi, Al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, jld. 3, hlm. 5; Al-Haskani, Syawahid al-Tanzil, 1411 H, jld. 1, hlm. 123-131; Al-Zarkasyi, Al-Burhan, 1957 M, jld. 1, hlm. 206; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 5, hlm. 350.
  26. Lihat Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqa'wil fi Wujuh al-Ta'wil, 1407 H, jld. 4, hlm. 670; Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 20, hlm. 132.
  27. Imam Khomeini, Sahifeh, 1389 HS, jld. 5, hlm. 283.
  28. Ibnu A'tsam, Al-Futuh, 1411 H, jld. 5, hlm. 94; Ha'iri, Ma'ali al-Sibthain, 1412 H, jld. 1, hlm. 433; Abi Mikhnaf, Waq'ah al-Thaff, 1427 H, hlm. 220-219.
  29. Lihat Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqa'wil fi Wujuh al-Ta'wil, jld. 4, hlm. 670; Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, jld. 20, hlm. 132.
  30. Imam Khomeini, Sahifeh, 1389 HS, jld. 18, hlm. 86.
  31. Azizi, Syinasayi wa Tahlil-e Mafhum-e Isar dar Ayat wa Riwayat wa Barrasi Atsar-e Tarbiyati-ye An, 1393 HS, hlm. 221–223.
  32. Azizi, Syinasayi wa Tahlil-e Mafhum-e Isar dar Ayat wa Riwayat wa Barrasi Atsar-e Tarbiyati-ye An, 1393 HS, hlm. 221–223.
  33. Kulaini, Al-Kafi, 1365 HS, bab Fadhl Fuqara' al-Muslimin, hadis 15.
  34. Kulaini, Al-Kafi, 1365 HS, bab Al-Ihtimam bi Umur al-Muslimin, hadis 6.
  35. Amidi, Tasnif Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1366 HS, hlm. 396.
  36. Hashemi Shahroudi, Farhang-e Fiqh Mutabiq-e Madzhab-e Ahlulbait as, 1382 HS, jld. 1, hlm. 743.
  37. Syahid Awwal, Al-Durus al-Syar'iyyah, Tanpa Tahun, jld. 1, hlm. 255.
  38. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 12, hlm. 118; Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, Tanpa Tahun, jld. 36, hlm. 433.
  39. Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, Tanpa Tahun, jld. 36, hlm. 433–434.
  40. Ansari, Manazil al-Sa'irin, 1417 H, hlm. 75–76.
  41. Kalabadzi, Al-Ta'arruf, 1371 HS, hlm. 90.
  42. Tustari, Tafsir al-Tustari, 1423 H, hlm. 167; Makki, Qut al-Qulub fi Mu'amalah al-Mahbub, 1423 H, jld. 2, hlm. 90.
  43. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, Tanpa Tahun, jld. 2, hlm. 179.
  44. Ansari, Manazil al-Sa'irin, 1417 H, hlm. 75–76.
  45. Kasyani, Latha'if al-A'lam, 1379 HS, hlm. 128.
  46. Imam Khomeini, Sirr al-Shalah, 1388 HS, hlm. 16; Imam Khomeini, Sahifeh, 1389 HS, jld. 16, hlm. 197–198.
  47. Imam Khomeini, Sahifeh, 1389 HS, jld. 19, hlm. 49.
  48. Imam Khomeini, 1389 HS, Sahifeh, jld. 16, hlm. 198.
  49. Mohseni, Tarikhi Mafhum-e Isar nazd-e Danesymandan-e Mosalman ta Qarn-e Haftom, hlm. 55.
  50. Hujwiri, Kasyaf al-Mahjub, 1375 HS, hlm. 236.
  51. Zohouri Loshani, 1395 HS.
  52. Dashti, 1391 HS.
  53. Gilani, 1398 HS, hlm. 43–57.
  54. Gilani, Kedudukan Isar dan Pengorbanan dalam Syahnameh Ferdowsi, hlm. 43.
  55. Sanai, Hadiqah al-Haqiqah wa Syari'ah al-Thariqah, bagian 62.

Daftar Pustaka

  • Al-Amidi, Abdul Wahid. Tasnif Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Riset: Mushthafa Darayati. Qom, Penerbit Tablighat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1366 HS.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulum al-Din. Riset: Abdurrahim bin Husain al-Iraqi. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Tanpa Tahun.
  • Al-Haskani, Ubaidullah bin Abdullah. Syawahid al-Tanzil li Qawa'id al-Tafdhil. Riset: Muhammad Baqir Mahmudi. Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan, Cetakan Pertama, 1411 H.
  • Al-Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Tafshil Wasa'il al-Syiah ila Tahshil Masayil al-Syari'ah. Qom, Muassasah Alulbait as, Cetakan Pertama, 1409 H.
  • Al-Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah dan Al-Maktabah al-Islamiyyah, Tanpa Tahun.
  • Al-Zamakhsyari, Mahmoud. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqa'wil fi Wujuh al-Ta'wil. Riset: Mushthafa Husain Ahmad. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1407 H.
  • Al-Zarkasyi, Muhammad bin Abdullah. Al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an. Riset: Muhammad Ibrahim. Beirut, Dar Ihya' al-Kutub al-Arabiyah, Cetakan Pertama, 1957 M.
  • Amidi, Abdul Wahid. Tasnif Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Riset: Mushthafa Darayati. Qom, Penerbit Tablighat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1366 HS.
  • Ansari, Khwaja Abdullah. Manazil al-Sa'irin. Riset: Ali Syirvani. Teheran, Dar al-Ilm, Cetakan Pertama, 1417 H.
  • Azizi, Bita. Syinasayi wa Tahlil-e Mafhum-e Isar dar Ayat wa Riwayat wa Barrasi Atsar-e Tarbiyati-ye An (Identifikasi dan Analisis Konsep Isar dalam Ayat serta Riwayat dan Tinjauan Dampak Edukasinya). Tesis Magister Teologi Konsentrasi Ilmu Al-Qur'an dan Hadis. Teheran, Universitas Syahed, Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora. 1393 HS.
  • Dashti, Somayeh. Isar dar Matsnawi Maknawi wa Fihi ma Fihi-ye Maulana. Tesis Magister. Teheran, Universitas Khawarizmi, Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora. 1391 HS.
  • Gilani, Najmuddin. "Jaygah-e Isar wa az Khud-gozasytagi dar Syahnameh-ye Ferdowsi". Pazh. No. 33. Musim Semi 1398 HS.
  • Hinnells, John R. Rahnamaye Adyan-e Zandeh (Panduan Agama-Agama yang Hidup). Terjemahan: Abdurrahim Gavahi. Qom, Bustan-e Ketab, Cetakan Ketiga, 1378 HS.
  • Hujwiri, Abul Hasan Ali. Kasyaf al-Mahjub. Teheran, Tahuri, 1375 HS.
  • Ibnu A'tsam. Al-Futuh. Beirut, Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Al-Futuhat al-Makkiyyah. Beirut, Dar Sadir, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Tarikh Ibnu Khaldun. Riset: Khalil Syahadah. Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, 1408 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Sahifeh Imam. Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, Cetakan Kelima, 1389 HS.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Sirr al-Shalah (Mi'raj al-Salikin wa Shalah al-'Arifin). Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, Cetakan Ketiga Belas, 1388 HS.
  • Jurjani, Sayyid Syarif. Kitab al-Ta'rifat. Teheran, Nashir Khusraw, Cetakan Keempat, 1370 HS.
  • Kalabadzi, Muhammad bin Ibrahim. Kitab al-Ta'arruf li Madzhab al-Tasawuf. Oleh: Mohammad Javad Shariat. Teheran, Asathir, Cetakan Pertama, 1371 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Makki, Abu Thalib Muhammad bin Ali. Qut al-Qulub fi Mu'amalah al-Mahbub. Koreksi: Basil 'Uyun al-Sud. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1417 H.
  • Mansuri Larijani, Ismail. Az Qiyam ta Qiyam. Qom, Khadim al-Ridha as, Cetakan Pertama, 1389 HS.
  • Mohseni, Mohsen. "Tahlil-e Tatbiqi - Tarikhi-ye Mafhum-e Isar nazd-e Danesymandan-e Mosalman ta Qarn-e Haftom". Pajuhuhesy-nameh Akhlak. No. 33. Musim Gugur 1395 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar-e Ostad Syahid Mothahhari. Teheran, Sadra, 1386 HS.
  • Naraqi, Mulla Ahmad. Mi'raj al-Sa'adah. Riset: Mohammad Naqdi. Qom, Hijrat, Cetakan Keenam, 1378 HS.
  • Naraqi, Mulla Mahdi. Jami' al-Sa'adat. Koreksi: Sayyid Muhammad Kalantar. Beirut, Al-A'lami, Cetakan Keempat, Tanpa Tahun.
  • Nikruz, Hasan. Ta'tsir-e Farhang-e Isar wa Syahadat bar Amniyat-e Milli-ye Jomhuri-ye Eslami-ye Iran. Tesis Magister Ilmu Politik. Yasuj, Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora. 1394 HS.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, 1362 HS.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Jamaluddin Makki. Al-Durus al-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Tanpa Tahun.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1413 H.
  • Tustari, Sahl bin Abdullah. Tafsir al-Tustari. Riset: Basil 'Uyun al-Sud. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1423 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
  • Zohouri Loshani, Fariba. Isar wa Fadakari dar Panj Ganj Nizami Ganjavi. Tesis Magister. Rasht, Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora. 1395 HS.
  • "Khud-khwahi wa 'Adam-e Isar-e Valideyn 'Amil-e Ashli-ye Kahesy-e Farzand", Situs Balagh, Tanggal Posting: 6 Dey 1400 HS, Tanggal Akses: 7 Farvardin 1403 HS.

Templat:Akhlak Templat:Tasawuf Islam