Lompat ke isi

Konsep:Hadis sahih

Dari wikishia

Hadis Sahih (Bahasa Arab: الحديث الصحيح), adalah riwayat yang silsilah sanadnya melalui perawi yang tsiqah (dapat dipercaya) dan bermazhab Imami bersambung kepada Maksum (as). Istilah ini di sisi para fakih sebelum abad ke-8 Hijriah digunakan untuk hadis yang mereka yakini berasal dari Maksum (as). Sebagian ulama untuk mendefinisikan sahih, menambahkan kriteria-kriteria seperti: tidak adanya syudzudz, tidak adanya illat (cacat), dan bertemunya perawi dengan marwi anhu (perawi pertama). Sahih, berdasarkan tingkatannya, dibagi menjadi a'la, ausath, dan adna. Mengingat di antara riwayat-riwayat yang ada, terdapat juga hadis-hadis yang tidak benar, para cendekiawan agama membangun dua disiplin ilmu, yaitu Rijal dan Dirayah, berdasarkan prinsip dan standar rasional serta syar'i untuk mengidentifikasi hadis yang dapat dipercaya sebagai dasar pengamalan. Dengan bantuan Ilmu Rijal, sanad hadis dan para perawinya dikaji, dan tingkat kevalidan sanad hadis menjadi jelas, serta diklasifikasikan menjadi hadis sahih, hadis muwatstsaq, hadis hasan, hadis qawi, dan hadis dhaif.

Sahih mudhaf, adalah hadis yang sanadnya sampai kepada orang yang hadis dinukil darinya, adalah sahih, meskipun silsilah sanad dari orang tersebut sampai kepada Maksum, tidak sahih, baik ia mursal atau munqathi' atau selain keduanya. Di hadapan kabar sahih, terdapat kabar dhaif; yakni hadis yang tidak memiliki ciri-ciri hadis sahih, hadis hasan, dan hadis muwatstsaq, atau para perawinya dituduh berbohong atau memiliki akidah yang menyimpang.

Definisi

Definisi hadis sahih di sisi mutaqaddimin dan muta'akhirin adalah berbeda, menurut pandangan mutaqaddimin hadis yang melalui jalan apa pun memberikan keyakinan akan kepastian keluarnya dari Maksum (as), adalah hadis sahih dan tidak ada bedanya apakah keyakinan ini diperoleh melalui kepastian (yaqin) atau dugaan kuat (dzan) dan apakah ditetapkan dari ketsiqahan perawi atau petunjuk-petunjuk lainnya.[1] Namun definisi hadis sahih di sisi muta'akhirin adalah riwayat yang silsilah sanadnya melalui para perawi yang adil dan Syiah Dua Belas Imam di semua tingkatan bersambung kepada Maksum.[2] Di sisi mutaqaddimin, kabar dibagi menjadi maqbul dan ghairu maqbul dan pembagian hadis menjadi sahih, hasan, muwatstsaq, dan dhaif muncul pada masa Allamah Hilli (w. 726 H) atau gurunya Sayid bin Thawus. Tiga jenis pertama yakni sahih, hasan, dan muwatstsaq, di sisi mutaqaddimin dihitung sebagai kabar maqbul.[3]

Sebagian ulama juga menambahkan kriteria lain pada definisi tersebut:

  • Ulama Ahlusunah[4] dan sekelompok ulama Imamiyah, [5] menambahkan kriteria tidak adanya syudzudz dan tidak adanya illat (cacat) di dalam definisi tersebut. Yang dimaksud dengan syudzudz adalah riwayat yang menyalahi hal yang masyhur yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah; dan maksud dari illat, adalah cacat tidak kentara yang menyebabkan kelemahan hadis, misalnya sanad secara lahiriah bersambung kepada Maksum namun dengan ketelitian terungkap bahwa di dalam sanad terdapat keterputusan.
  • Sebagian seperti Bukhari dalam Shahih, pertemuan perawi dengan marwi anhu (perawi pertama) juga dijadikan syarat kesahihan, namun syarat ini di sisi Muslim dan yang lainnya dari Ahlusunah dan juga di sisi Imamiyah tidak mu'tabar (berlaku).
  • Syafi'i dan Sakhawi dan dengan mengikuti mereka sekelompok lain dari para imam Ahlusunah, tidak menjadikan mazhab tertentu sebagai syarat diterimanya riwayat dan mereka menerima riwayat-riwayat orang tsiqah dari berbagai mazhab.[6] Khathib Baghdadi menukil dari Ali bin Madini (dari para imam hadis Ahlusunah) yang berkata: jika kita menolak hadis penduduk Kufah karena alasan tasyayyu', niscaya kitab-kitab hadis akan hancur.[7]Templat:یاد

Hujiyyah Kabar Sahih

Hadis sahih adalah salah satu bagian dari Khabar Wahid dan di antara jenis-jenis riwayat berada pada derajat keabsahan dan hujiyyah yang paling baik dan para ulama berdasarkan pandangan hujiyyah khabar wahid telah menghukumi hujiyyah kabar sahih.[8] Tentu saja hujiyyah kabar sahih ini di sisi ulama dapat diterima apabila tidak bertentangan dengan kandungan Al-Qur'an dan Sunnah serta ijma' ulama dan ulama tidak berpaling darinya atau tidak saling bertentangan dengan kabar lain yang lebih kuat darinya.[9] Riwayat-riwayat dari Maksumin (as) juga dinukil dalam menolak hadis-hadis yang bertentangan dengan Al-Qur'an.[10]

Jenis-jenis Hadis Sahih

Sahih, berdasarkan tingkatannya ada tiga jenis: Hadis sahih di sisi muta'akhirin dibagi pada:

  1. Sahih a'la: tersifatinya semua perawi dengan ketsiqahan, bersandar pada ilmu atau pada kesaksian dua orang yang adil.
  2. Sahih ausath: tersifatinya dengan ketsiqahan atas satu orang atau semua perawi sanad hadis, dilakukan dengan perkataan satu orang adil.
  3. Sahih adna: tersifatnya hal tersebut terwujud dengan dzan ijtihadi.Templat:یاد dibagi.[11]

Tingkatan sahih di sisi Ahlusunah dengan urutan sebagai berikut:

  1. Hadis yang dengan adanya syarat-syarat kesahihan telah termuat di dalam kedua sahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan biasanya hadis seperti ini dinamakan muttafaqun 'alaih dan sahih a'la.
  2. Hadis yang hanya disebutkan di dalam Shahih Bukhari.
  3. Hadis yang hanya termuat di dalam Shahih Muslim.
  4. Hadis yang memiliki syarat-syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), namun tidak disebutkan di dalam Shahihain.[12]

Hadis Sahih Mudhaf

Sahih mudhaf, adalah hadis yang sanadnya sampai kepada orang yang hadis dinukil darinya, adalah sahih, meskipun silsilah sanad dari orang tersebut sampai kepada Maksum (as), tidak sahih, baik ia mursal atau munqathi' atau selain keduanya, misalnya dikatakan: Shahihah Ibnu Abi Umair 'an rajul 'an Abi Abdillah (as).[13]

Catatan Kaki

  1. Jadidi Nezhad, Mu'jam Musthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, 1380 HS, hlm. 89.
  2. Jabal Amili, Muntaqa al-Juman, 1362 HS, jil. 1, hlm. 4; Jadidi Nezhad, Mu'jam Musthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, 1380 HS, hlm. 87; Nashiri, Asyina-yi ba Ulum Hadits, 1396 HS, hlm. 24 & 25; Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang Fiqh, 1426 H, jil. 3, hlm. 265.
  3. Pusat Informasi dan Dokumentasi Islam, Farhang-nameh Ushul Fiqh, 1389 HS, jil. 1, hlm. 441.
  4. Ibnu Hajar al-Asqalani, Syarh Nukhbah al-Fikar fi Musthalah al-Atsar, 1430 H, hlm. 12; Nawawi Syafi'i, Al-Taqrib, 1406 H, hlm. 14.
  5. Hasyimi Syahrudi, Farhang Fiqh Farsi, 1426 H, jil. 3, hlm. 265.
  6. Qasimi, Qawaid al-Tahdits, Muassasah al-Risalah Nasyirun, Beirut, hlm. 164.
  7. Khathib Baghdadi, Al-Kifayah fi 'Ilm al-Riwayah, 1405 H, hlm. 129; Mudir Shanehchi, Dirayah al-Hadits, 1387 HS, hlm. 69.
  8. Bahai Amili, Wushul al-Akhyar, 1360 HS, hlm. 93 dan 94.
  9. Bahai Amili, Wushul al-Akhyar ila Ushul al-Akhbar, 1360 HS, hlm. 80; Mudir Shanehchi, Kazim, Ilmu Hadits, terkait pertentangan dua kabar.
  10. Syekh Hurr Amili, Wasail al-Syiah, 1414 H, jil. 18, hlm. 78 dan 79.
  11. Hariri, Farhang Isthilahat Hadits, 1381 HS, hlm. 83. Pusat Informasi dan Dokumentasi Islam, Farhang-nameh Ushul Fiqh, 1389 HS, jil. 1, hlm. 441.
  12. Mudir Shanehchi, Dirayah al-Hadits, 1387 HS, hlm. 71.
  13. Mudir Shanehchi, Dirayah al-Hadits, 1387 HS, hlm. 70.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali, Syarh Nukhbah al-Fikar fi Musthalah al-Atsar, Riyadh Arab Saudi, Dar al-Mughni, 1430 H.
  • Jabal Amili, Jamaluddin Hasan (putra Syahid Tsani), Muntaqa al-Juman, Qom, Muassasah Nasyr Islami, 1362 HS.
  • Jadidi Nezhad, Muhammad Reza, Mu'jam Musthalahat al-Rijal wa al-Dirayah, Qom, Dar al-Hadits, 1380 HS.
  • Hurr Amili, Muhammad bin Hasan, Wasail al-Syiah, Qom, Alul Bait, 1414 H.
  • Hariri, Muhammad Yusuf, Farhang Istilahat Hadits, Qom, Penerbit Hijrat, 1381 HS.
  • Khathib Baghdadi, Abu Bakar Ahmad bin Ali, Al-Kifayah fi 'Ilm al-Riwayah, Beirut, cetakan Ahmad Umar Hasyim, [t.t].
  • Amili, Husain bin Abdushamad, muhaqqiq: Husaini Kohkamari, Abdullathif, Wushul al-Akhyar ila Ushul al-Akhbar, Qom, Majma' al-Dzakha'ir al-Islamiyah, 1360 HS.
  • Farhang-nameh Ushul Fiqh, disusun oleh Pusat Informasi dan Dokumentasi Islam, Qom, Baqiri, 1389 HS.
  • Qasimi, Muhammad Jamaluddin, Qawaid al-Tahdits min Funun Musthalah al-Hadits, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, [t.t].
  • Mudir Shanehchi, Kazim, Dirayah al-Hadits, Qom, Daftar Intisyarat Islami, 1387 HS.
  • Nashiri, Ali, Asyina-yi ba Ulum Hadits, Qom, Markaz Modiriyat Hauzah Ilmiyah, 1396 HS.
  • Nawawi Syafi'i, Yahya bin Syarafuddin, Al-Taqrib wa al-Taysir li Ma'rifati Sunan al-Basyir al-Nadzir fi Ushul al-Hadits, Beirut, Dar al-Jinan, 1406 H.
  • Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang Fiqh Mutha biq Mazhab Ahlulbait (as), di bawah pengawasan: Sayid Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, 1426 H.