Konsep:Had Pencurian
Had Pencurian (Had al-Sirqa) adalah hukuman atas tindak pencurian yang berdasarkan Al-Qur'anul Karim dan riwayat diterapkan dalam empat tahapan, selaras dengan frekuensi pencurian tersebut. Tahap pertama dari hukuman ini, berdasarkan pandangan eksklusif Fikih Imamiyah, adalah pemotongan empat jari tangan kanan (kecuali ibu jari). Pada tahap kedua, pemotongan kaki kiri dari bagian tonjolan punggung kaki; tahap ketiga, penjara seumur hidup; dan tahap keempat adalah eksekusi.
Fukaha Syiah, demi pelaksanaan had pencurian, telah mengemukakan sejumlah syarat bagi pencuri, harta yang dicuri, dan tata cara pembuktian pencurian bagi hakim. Syarat-syarat ini juga disebutkan dalam Hukum Pidana Islam (Iran), dan jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, pencuri akan dikenakan Takzir.
Terkait had pencurian, beberapa karya telah ditulis, di antaranya adalah kitab Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah karya Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafi, salah satu dari marja taklid Syiah.
Pengenalan dan Urgensi
Salah satu hukuman yang dijelaskan dalam Al-Qur'anul Karim dan riwayat-riwayat yang dinukil dari Nabi Islam serta para Imam Syiah adalah hukuman atas tindak pencurian.[1] Mencuri didefinisikan sebagai mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi.[2] Fukaha Syiah telah mengkaji hukuman ini dalam karya-karya mereka.[3] Meskipun dasar hukuman bagi pencuri adalah hal yang disepakati (ijmak) di antara umat Islam, namun terdapat perbedaan dalam detailnya.[4] Fukaha Syiah berdasarkan riwayat-riwayat, secara ijmak mengeluarkan hukum pemotongan jari-jari tangan kanan pada tingkat pencurian pertama.[5] Sayid Murtadha, fakih dan mutakallim Syiah, menganggap pandangan ini khusus bagi Imamiyah.[6]
Murtadha Mutahhari dalam menjelaskan hikmah dari hukum ini menyatakan bahwa tangan tetap berharga selama pemiliknya menjaga nilai tangan tersebut.[7] Jika tangan digunakan untuk berkhianat dan mencuri serta membahayakan keamanan masyarakat, maka tangan tersebut menjadi tidak berharga, dan Islam demi maslahat yang lebih tinggi memerintahkan untuk memotongnya.[8] "Abu al-Ala al-Ma'arri", penyair masyhur, dalam satu bait puisi melontarkan syubhat mengenai "diyat tangan dan pemotongan tangan pencuri" dengan konten berikut: Yadun bi-khamsi mi'ina 'asjadan wudiyat Ma baluha quthi'at fi rub'i dinari Artinya: Tangan yang diyatnya adalah 500 dinar, mengapa bisa dipotong hanya karena mencuri seperempat dinar?!
Sayid Murtadha membalasnya dengan menggubah bait ini: Izzul amanati aghlaha, wa arkhashaha dzullul khiyanati fafham hikmatal bari Kemuliaan amanah telah meninggikannya, dan kehinaan khianat telah merendahkannya; maka pahamilah hikmah Sang Pencipta.[9] Dalam Bab Ketujuh Hukum Pidana Islam pasal 267, yang disahkan pada tahun 1392 HS oleh Majelis Syura Islam, dijelaskan syarat-syarat untuk pelaksanaan had pencurian.[10] Jika syarat-syarat tersebut tidak ada, maka had tidak dijalankan dan pencuri akan dikenakan Takzir.[11]
Ayat dan Riwayat
Templat:Utama Dalam Al-Qur'anul Karim, hukuman atas tindak pencurian dijelaskan dalam ayat 38 Surah Al-Ma'idah yang dikenal sebagai Ayat Had Pencurian.[12] Para fakih menggunakan ayat ini sebagai sandaran untuk membuktikan tingkat pertama had dan hukuman atas tindak pencurian.[13] Allah berfirman dalam ayat ini:
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan (sebagai) siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
Beberapa riwayat terkait hal ini telah dinukil dalam kitab-kitab riwayat Syiah:
- Syekh al-Kulaini dalam kitab al-Kafi memuat 68 riwayat di bawah 10 bab.[14]
- Syekh Saduq dalam Man La Yahdhuruhu al-Faqih memuat 34 riwayat dalam bab dengan judul "Bab Had al-Sirqah".[15]
- Syekh Thusi dalam kitab Tahdzib al-Ahkam memuat 156 riwayat[16] dan dalam kitab al-Istibshar memuat 60 riwayat dengan judul "Abwab al-Sirqah".[17]
- Syekh Hurr Amuli dalam kitab Wasail al-Syiah memuat 176 riwayat di bawah 35 bab dengan judul "Abwab Had al-Sirqah".[18]
Salah satu riwayat paling masyhur dalam bab ini adalah riwayat dari Imam Jawad (as) di majelis Al-Mu'tashim al-Abbasi, di mana ketika ulama dari berbagai mazhab Islam berselisih mengenai tempat pemotongan tangan pencuri, beliau dengan memperhatikan ayat 38 Surah Al-Ma'idah dan ayat 18 Surah Al-Jin menyebutkan tempat pemotongannya adalah pada persendian jari-jari.[19]
Pembahasan Fikih
Fukaha Syiah membahas had pencurian dalam enam ranah:[20]
- Syarat Pencuri: Balig, berakal, hilangnya syubhat (pencuri tidak dalam ilusi bahwa harta itu miliknya), hilangnya persekutuan (pencuri bukan mitra dalam harta yang dicuri), merusak hirz (pencuri sendiri atau bersama orang lain membuka tempat di mana harta diletakkan untuk perlindungan), mengeluarkan barang (pencuri sendiri atau bersama orang lain mengeluarkan harta curian dari hirz), pencuri bukan ayah dari pemilik harta yang dicuri, dan pencuri mengambil harta tersebut secara sembunyi-sembunyi.[21]
- Kadar (Nishab) Harta yang Dicuri: Harga harta tersebut harus senilai seperempat dinar (emas murni yang dicetak menjadi koin) atau lebih.[22] Jumlah ini dianggap sebagai pandangan masyhur fukaha Imamiyah dan telah dinukil adanya Ijmak mengenainya dari Syekh Thusi[23], Ibnu Zuhrah[24], dan Ibnu Idris.[25][26]
- Cara Pembuktian Pencurian bagi Hakim: Kesaksian dua saksi adil atau dua kali pengakuan (iqrar) oleh pencuri.[27]
- Had Pencurian: Pemotongan empat jari tangan kanan (kecuali ibu jari).[28]
- Pengulangan Pencurian dan Had-nya: Jika pada pencurian pertama had telah dijalankan dan kemudian ia mencuri lagi, maka had-nya adalah pemotongan kaki kiri dari bawah bagian tonjolan kaki. Pada pencurian ketiga, penjara seumur hidup, dan pada pencurian keempat—meskipun ia mencuri di dalam penjara—ia dijatuhi hukuman mati.[29]
- Masalah Lain yang Berkaitan dengan Had:
- Wajib bagi pencuri untuk mengembalikan harta yang dicuri.[30]
- Jika pencurian dilakukan secara kolektif (patungan), terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah had dijalankan atau tidak.[31]
- Jika seseorang melakukan dua kali pencurian dan belum tertangkap pada pencurian pertama, apakah ia dikenakan had berdasarkan pencurian terakhir atau dikenakan had sesuai jumlah pencurian, hal ini menjadi subjek perbedaan pendapat.[32]
- Pelaksanaan had atas pencuri harus atas tuntutan pemilik harta, dan Hakim Syarak tidak dapat menjalankan had tanpa adanya tuntutan tersebut.[33]
- Jika pencuri mengeluarkan harta dari hirz lalu mengembalikannya ke sana, had tidaklah gugur.[34] Menurut pandangan Imam Khomeini, jika ia mengembalikannya dengan cara yang membuat harta itu kembali kepada pemiliknya, maka had tidak dijalankan.[35]
- Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah pencuri harus mengeluarkan harta dalam satu kali aksi, atau jika ia mengeluarkannya dalam beberapa kali aksi, apakah had tetap dijalankan.[36]
- Jika di dalam hirz ia melakukan sesuatu yang membuat harga barang tersebut menjadi kurang dari nishab (seperempat dinar) lalu mengeluarkannya, maka had tidak dijalankan.[37]
- Jika di dalam hirz ia menelan harta tersebut lalu keluar dari hirz, terdapat perbedaan pendapat apakah had dijalankan atau tidak.[38]
- Pencurian dari tempat umum yang aksesnya bebas bagi khalayak ramai atau kelompok tertentu seperti: masjid, sekolah, tidak dikenakan had pencurian.[39]
- Menurut keyakinan fukaha, pencuri yang mencuri bahan makanan pada masa kekeringan dan kelaparan, tangannya tidak dipotong.[40] Syekh Thusi dalam kitab al-Mabsuth [41] meyakini bahwa hukum ini dikhususkan bagi pencurian darurat (satu-satunya cara mendapatkan makanan); namun dalam kitab al-Khilaf[42] ia menyatakannya secara mutlak dan tidak membedakan antara kondisi darurat dan non-darurat.
- Pencurian dari harta bersama: Jika seorang sekutu mencuri dari harta yang merupakan milik bersama antara dia dan orang lain, terdapat perbedaan pendapat apakah tangannya dipotong atau tidak. Sebagian seperti Muhaqqiq Hilli berpendapat bahwa jika ia mencuri seukuran bagian miliknya sendiri, tangannya tidak dipotong; namun jika ia mencuri seukuran nishab pemotongan melebihi bagian miliknya, maka tangannya dipotong.[43] Namun Shahib al-Jawahir dalam syarah ucapan Muhaqqiq Hilli berpendapat bahwa jika tindakan ini tidak dilakukan dengan niat mencuri dan hanya dengan niat memisahkan bagian miliknya tanpa izin sekutu; maka di sini karena terdapat syubhat, meskipun ia mengambil harta itu lebih dari bagiannya seukuran nishab pemotongan, tangannya tetap tidak dipotong.[44] Sementara Syahid Tsani berpendapat atas tiadanya pemotongan tangan dikarenakan adanya syubhat; bahkan dalam kondisi adanya niat mencuri dan bahkan jika ia mengambil lebih dari bagiannya seukuran nishab pemotongan.[45]
- Pencurian dari Wakaf: Beberapa fukaha seperti Syahid Tsani[46] dan Muhaqqiq Hilli,[47] membedakan antara Wakaf Khusus dan Wakaf Umum, serta meyakini bahwa tangan pencuri hanya dipotong dalam wakaf khusus saja.[48] Sebaliknya, beberapa fukaha lainnya seperti Shahib al-Jawahir, mengeluarkan hukum pelaksanaan had atas pencuri pada kedua jenis wakaf tersebut.[49]
Monografi

Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafi dalam kitab Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah dalam sebuah pendahuluan dan 5 maqam (pembahasan) mengkaji had pencurian, syarat-syaratnya, dan berbagai masalah terkait hukuman ini.[50]
Catatan Kaki
- ↑ Surah Al-Ma'idah, ayat 38; Hurr Amuli, Tafshil Wasail al-Syiah ila Tahshil Masail al-Syari'ah, 1416 H, jld. 28, hlm. 241-305.
- ↑ Fadhel Jawad, Masalik al-Afham, 1365 HS, jld. 4, hlm. 203.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 159; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 515; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 467-472; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 309.
- ↑ Sayid Murtadha, al-Intishar, 1415 H, hlm. 528-529.
- ↑ Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 316.
- ↑ Sayid Murtadha, al-Intishar, 1415 H, hlm. 528-529.
- ↑ Mutahhari, Sairi dar Sirat-e Nabavi, Sadra, hlm. 146.
- ↑ Mutahhari, Sairi dar Sirat-e Nabavi, Sadra, hlm. 146.
- ↑ Khwansari, Raudhat al-Jannat, 1390 HS, jld. 1, hlm. 271.
- ↑ "Qanun-e Mojazat-e Eslami", Situs Nasional Informasi Hukum dan Peraturan Negara.
- ↑ "Qanun-e Mojazat-e Eslami", Situs Nasional Informasi Hukum dan Peraturan Negara.
- ↑ Fadhel Jawad, Masalik al-Afham, 1365 HS, jld. 4, hlm. 203.
- ↑ Sayid Murtadha, al-Intishar, 1415 H, hlm. 528-529; Syekh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, hlm. 19; Syekh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 5, hlm. 452; Allamah Hilli, Mukhtalif al-Syiah, 1374 HS, jld. 9, hlm. 249.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 7, hlm. 221-234.
- ↑ Syekh Saduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 60-70.
- ↑ Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 10, hlm. 99-136.
- ↑ Syekh Thusi, al-Istibshar fima Ukhtulifa min al-Akhbar, 1390 H, jld. 4, hlm. 238-252.
- ↑ Hurr Amuli, Tafshil Wasail al-Syiah ila Tahshil Masail al-Syari'ah, 1416 H, jld. 28, hlm. 241-305.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 1, hlm. 319-320.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 159; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 515; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 467-472; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 309.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 159-160; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 515-516; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 40-106; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 309-323.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 161; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 518; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 132; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 328-329.
- ↑ Syekh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, hlm. 413.
- ↑ Ibnu Zuhrah, Ghunyah al-Nuzū' ilā 'Ilmay al-Ushūl wa al-Furū', 1417 H, jld. 1, hlm. 430.
- ↑ Ibnu Idris, Mausu'ah Ibn Idris al-Hilli, 1387 HS, jld. 13, hlm. 223.
- ↑ Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 132.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 163; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 521; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 259-260; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 348.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 163; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 522; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 315; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 354-355.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 163; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 522; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 315; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 354-355.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 165; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 403; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 369.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 165; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 524; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 414; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 370.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 165; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 524; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 430; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 371.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 165; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 524; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 438; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 374.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 166; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 450-451; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 376.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 524.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 166; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 525; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 455; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 378.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 166; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 525; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 472; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 378.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, 1408 H, jld. 4, hlm. 166; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 525; Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 461; Tabrizi, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, 1376 HS, hlm. 379.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 461.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 9, hlm. 236; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 507.
- ↑ Syekh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 8, hlm. 33.
- ↑ Syekh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 5, hlm. 432.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam, 1409 H, jld. 4, hlm. 952.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 483.
- ↑ Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah, 1410 H, jld. 9, hlm. 226.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 14, hlm. 505.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jld. 4, hlm. 162.
- ↑ Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 14, hlm. 505.
- ↑ Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 41, hlm. 512.
- ↑ Mar'asyi, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, 1382 HS, hlm. 467-472.
Daftar Pustaka
- Ibn Idris, Mohammad bin Ahmad, Mausu'ah Ibn Idris al-Hilli, Qom, Dalil-e Ma, 1387 HS.
- Ibnu Zuhrah, Hamzah bin Ali, Ghunyah al-Nuzū' ilā 'Ilmay al-Ushūl wa al-Furū', Qom, Muasasah Imam Shadiq (as), 1417 H.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Teheran, Muasasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini (ra), 1392 HS.
- "Barresi-ye Tathbiqi-ye Mojazat-e Serqat dar Jawahir al-Kalam, Syarh-e Lum'ah wa Qawanin-e Mowdhu'eh", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- "Barresi-ye Fiqhi wa Keifari-ye Jorm-e Serqat", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- "Barresi-ye Qanun-e Serqat: Jorm-syenasi-ye Serqat wa Motale'e-ye Tathbiqi-ye an dar Fiqh wa Qawanin-e Mowdhu'eh", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- Tabrizi, Javad, Usus al-Hudud wa al-Ta'zirat, Qom, tanpa penerbit, 1376 HS.
- "Jorm-e Serqat dar Ravesy-e Dad-gah-ha", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- "Cyigounegi-ye Mojazat-e Serqat (be Hamrah-e Porsesy-ha wa Pasokh-ha-ye Piramun-e an)", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- Hurr Amuli, Mohammad bin Hasan, Tafshil Wasail al-Syiah ila Tahshil Masail al-Syari'ah, Qom, Muasasah Alu al-Bait alaihissalam, 1416 H.
- Khwansari, Mohammad Baqer, Raudhat al-Jannat, Penerbit Isma'iliyyan, Qom, cetakan pertama, 1390 HS.
- "Serqat-e Haddi dar Fiqh-e Moqaran wa Qanun-e Mojazat-e Eslami", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- "Serqat dar Hoquq-e Keifari-ye Iran (Motale'at-e Tathbiqi)", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1410 H.
- Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali, Masalik al-Afham ila Tanqih Syara'i' al-Islam, Qom, Muasasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1412 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Khilaf, Qom, Daftar-e Nasyr-e Eslami, 1407 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Istibshar fima Ukhtulifa min al-Akhbar, Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1390 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, Tahdzib al-Ahkam, Teheran, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1407 H.
- Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan, al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah, Teheran, Maktabah al-Murtadhawiyyah, 1387 H.
- Syekh Saduq, Mohammad bin Ali, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Qom, Kantor Penerbitan Islami berafiliasi dengan Jami'ah al-Modarresin, 1413 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Mukhtalif al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1374 HS.
- Sayid Murtadha, Ali bin al-Hosain, al-Intishar, Qom, Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1415 H.
- Ayyasyi, Mohammad bin Mas'ud, Tafsir al-Ayyasyi, Teheran, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, 1380 H.
- Fadhel Jawad, Jawad bin Said, Masalik al-Afham ila Ayat al-Ahkam, Teheran, Martadhawi, 1365 HS.
- "Qanun-e Mojazat-e Eslami", Situs Nasional Informasi Hukum dan Peraturan Negara.
- Kulaini, Mohammad bin Ya'qub, al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- "Mabani-ye Ejra-ye Had-e Serqat", Situs Khaneh Ketab wa Adabiyat-e Iran.
- Muhaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan, Syarayi' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram, Qom, Muasasah Isma'iliyyan, 1408 H.
- Mar'asyi Najafi, Sayid Syihabuddin, Ahkam al-Sirqah 'ala Dhau' al-Qur'an wa al-Sunnah, Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1382 HS.
- Mutahhari, Murtadha, Sairi dar Sirat-e Nabavi, Teheran, Sadra, tanpa tahun.