Lompat ke isi

Konsep:Ayat 96 Surah Al-A'raf

Dari wikishia
Ayat 96 Surah Al-A'raf
Informasi Ayat
SurahAl-A'raf
Ayat96
Juz9
Informasi Konten
Tempat
Turun
Makkah
TentangIman dan takwa menjadi sebab turunnya berkah
Ayat-ayat terkaitAyat 66 Surah Al-Ma'idah, Ayat 16 Surah Al-Jinn, Ayat 10–12 Surah Nuh


Ayat 96 Surah Al-A'raf menjelaskan tentang Sunnatullah mengenai pengaruh dan berkah iman serta takwa dalam lingkup sosial yang menurut para mufasir Al-Qur'an, perwujudan sempurnanya berkaitan dengan masa setelah kemunculan Imam Zaman as. Selain menjelaskan pengaruh duniawi dari perbuatan, ayat ini juga menyatakan hakikat bahwa perbuatan mayoritas masyarakat, baik itu baik maupun buruk, akan berdampak pada seluruh anggota masyarakat tersebut.

Mengenai apa makna berkah dan apa yang dimaksud dengan berkah langit dan bumi dalam ayat ini, telah terjadi diskusi di antara para mufasir di mana turunnya hujan, dikabulkannya doa, dan berkah maknawi dianggap sebagai contoh berkah langit, sementara tumbuhnya tanaman, terpenuhinya hajat, dan berkah materi dianggap sebagai bagian dari berkah bumi.

Dalam kitab-kitab tafsir Al-Qur'an, muncul pertanyaan mengapa bangsa-bangsa non-Muslim memiliki kehidupan yang makmur, padahal menurut kandungan ayat ini, kemakmuran tersebut seharusnya menjadi bagian bangsa-bangsa Muslim yang bertakwa? Dalam menjawab pertanyaan ini, poin-poin seperti perbedaan antara kekayaan dan berkah, penyediaan sarana bagi azab melalui kemakmuran (istidraj), serta pemanfaatan prinsip-prinsip kemajuan seperti kedisiplinan dan tanggung jawab telah disebutkan.

Kedudukan Ayat

Menurut penjelasan Naser Makarem Shirazi, mufasir dan fakih Syiah, ayat 96 Surah Al-A'raf adalah kelanjutan dari ayat-ayat yang menjelaskan kisah kaum-kaum seperti kaum Nabi Hud as, Nabi Shalih as, Nabi Syuaib as, Nabi Nuh as, dan Nabi Luth as, serta merupakan penekanan atas hasil dari sejarah mereka yang penuh ibrah.[1]

Beberapa mufasir menganggap perwujudan sempurna dari makna ayat ini dalam penurunan berkah yang melimpah karena iman dan takwa berkaitan dengan masa setelah kemunculan Imam Zaman as.[2] Beberapa peneliti juga menganggap ayat ini, karena menjelaskan hubungan antara perbuatan baik manusia dengan perkembangan alam, sebagai bagian dari ayat-ayat yang berkaitan dengan etika lingkungan hidup.[3]

Sultan Muhammad Gunabadi (wafat: 1327/1909-10) dalam Bayan al-Sa'adah, dengan pendekatan irfani terhadap ayat 96 Surah Al-A'raf, memaknai takwa sebagai suluk di bawah baiat khusus wali Allah.[4] Ia berpandangan bahwa salah satu makna "Ahlul Qura" dalam ayat ini merujuk pada kekuatan, anggota tubuh, dan potensi internal manusia yang jika tunduk dan berserah diri pada pemerintahan akal—yakni akal yang patuh pada wali Allah—maka kebaikan-kebaikan jasmaninya akan melimpah dari bumi dan kebaikan-kebaikan ruhaninya akan melimpah baginya dari langit.[5]

Dan (Tuhan berfirman lagi): Sekiranya penduduk negeri itu, beriman serta bertaqwa, tentulah Kami akan membuka kepada mereka (pintu pengurniaan yang melimpah-limpah) berkatnya, dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (Rasul Kami), lalu Kami timpakan mereka dengan azab seksa disebabkan apa yang mereka telah usahakan.


Penjelasan Sunnatullah dalam Ayat

Menurut para mufasir Al-Qur'an, ayat 96 Surah Al-A'raf menjelaskan setidaknya dua Sunnatullah:

  • Pertama bahwa perbuatan manusia, selain memiliki dampak ukhrawi, juga memiliki dampak natural dan duniawi serta menyediakan sarana perbaikan atau kerusakan dunia.[6]
  • Kedua bahwa setiap kali perbuatan tertentu dilakukan oleh mayoritas anggota masyarakat, maka dampak baik dan buruk dari perbuatan tersebut akan mengenai seluruh anggota masyarakat. Artinya, jika mayoritas masyarakat beriman dan bertakwa, maka berkah materi dan maknawi yang melimpah akan menjadi bagian mereka, dan sebaliknya, mereka akan layak menerima azab Allah swt, bahkan jika ada segelintir orang di masyarakat tersebut yang beriman dan bertakwa.[7]

Hakikat Berkah

Templat:Artikel Utama Menurut para mufasir, kata berkah bermakna segala sesuatu yang melimpah yang ketiadaannya akan menyiapkan sarana ujian dan kekurangan bagi manusia. Seperti keamanan, kenyamanan, kesehatan, harta, dan anak-anak.[8]

Naser Makarem Shirazi meyakini bahwa turunnya berkah akibat iman dan takwa membawa serta kelimpahan anugerah dan nikmat, serta menyebabkan apa yang berada di tangan manusia digunakan untuk keperluan yang bermanfaat dan dibutuhkan. Bukan seperti perlombaan senjata yang menyebabkan terbuangnya kekuatan manusia dan ekonomi.[9]

Hakikat Berkah Langit dan Bumi

Mengenai apa yang dimaksud dengan "berkah langit dan bumi" dalam ayat 96 Surah Al-A'raf, terdapat beberapa pendapat di antara para mufasir:

  • Turunnya hujan (berkah langit) dan tumbuhnya tanaman (berkah bumi).[10]
  • Dikabulkannya doa-doa (berkah langit) dan terpenuhinya hajat-hajat (berkah bumi).[11]
  • Berkah maknawi (berkah langit) dan berkah materi (berkah bumi).[12]

Beberapa mufasir juga tidak memberikan kekhususan pada langit dan bumi sebagai subjek independen, dan meyakini bahwa penyebutan langit dan bumi di sini menunjukkan sifat menyeluruh dan komprehensif dari berkah tersebut.[13] Penulis Tafsir Itsna Asyari juga menganggap langit sebagai "ayah" dan bumi sebagai "ibu" serta berpandangan bahwa dari keduanya, melalui penciptaan dan tadbir Ilahi, segala manfaat dan kebaikan dihasilkan.[14]

Mengapa Bangsa Tanpa Iman Memiliki Kehidupan Makmur?

Dalam menjawab pertanyaan mengapa beberapa masyarakat tidak beriman memiliki kehidupan yang lebih makmur, para mufasir Al-Qur'an menjelaskan beberapa alasan.[15]

  • Kemajuan materi di masyarakat-masyarakat ini mungkin tidak menyebabkan masalah mental dan psikologis meskipun jauh dari iman, sementara masyarakat yang beriman biasanya menikmati ketenangan psikis.
  • Kemakmuran materi tidak serta merta berarti berkah Ilahi dan mungkin bersifat tidak stabil atau merupakan pemborosan sumber daya.
  • Terkadang Allah memberikan nikmat kepada orang-orang kafir agar mereka tenggelam dalam kesombongan mereka (istidraj) dan sarana azab pun terpenuhi.
  • Beberapa masyarakat tidak beriman menerapkan prinsip-prinsip seperti kedisiplinan dan tanggung jawab sehingga mereka menikmati hasil duniawinya, sementara beberapa masyarakat Muslim meskipun memiliki agama, mengabaikan prinsip-prinsip ini dan akibatnya terhalang dari berkah yang nyata.[16]

Catatan Kaki

  1. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 265.
  2. Sadeqi Tehrani, Tarjuman-e Furqan, 1388 HS, jld. 2, hlm. 214; Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 7, hlm. 175; Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 3, hlm. 122.
  3. Najjarzadegan, Peran Sistem Ontologi Al-Qur'an dalam Meningkatkan Etika Lingkungan Hidup, hlm. 85.
  4. Gunabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 2, hlm. 196.
  5. Gunabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 2, hlm. 196.
  6. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 265.
  7. Lihat Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 201; Aqa'i, Mukjizat Sosial Al-Qur'an dengan Penekanan pada Hukum Sosiologi.
  8. Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 201.
  9. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 265.
  10. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 265; Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 7, hlm. 175.
  11. Thabarsi, Majma' al-Bayan, Teheran, jld. 4, hlm. 698.
  12. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 266.
  13. Baidhawy, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 25.
  14. Shah Abdul Azimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 4, hlm. 145.
  15. Untuk tujuan ini lihat Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 268–270; Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 3, hlm. 122; Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 7, hlm. 175.
  16. Lihat Rezai Isfahani, Tafsir Qur'an Mehr, 1387 HS, jld. 7, hlm. 176.

Daftar Pustaka

  • Aqa'i, Muhammad Ridha. I'jaz-e Ijtima'i-ye Qur'an ba Ta'kid bar Qawanin-e Jami'eh-shenasi (Mukjizat Sosial Al-Qur'an dengan Penekanan pada Hukum Sosiologi). Qur'an va Elm, No. 8, Musim Semi dan Panas 1390 HS.
  • Baidhawy, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, 1418 H.
  • Gunabadi, Sultan Muhammad bin Haidar. Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-Ibadah. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1408 H.
  • Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Najjarzadegan, Fathullah. "Naqsy-e Nizham-e Hasti-shenakhti-ye Qur'an dar Iratiqa-ye Akhlaq-e Zist-mohiti" (Peran Sistem Ontologi Al-Qur'an dalam Meningkatkan Etika Lingkungan Hidup). Pazhuhesh-nameh Akhlaq, No. 12, 1390 HS.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Qom, Yayasan Dar Rah-e Haq, 1375 HS.
  • Rezai Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir Qur'an Mehr. Qom, Pusat Riset Tafsir dan Ilmu Al-Qur'an, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Sadeqi Tehrani, Muhammad. Tarjuman-e Furqan. Qom, Syukraneh, cetakan pertama, 1388 HS.
  • Shah Abdul Azimi, Sayyid Husain. Tafsir Itsna Asyari. Teheran, Miqat, cetakan pertama, 1363 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Maktabah al-Ilmiyah al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Maktabah al-Insyar al-Islami, cetakan kelima, 1417 H.