Konsep:Ayat 105 Surah At-Taubah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat 105 Surah At-Taubah |
| Juz | 11 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Pengetahuan Allah, Nabi, dan orang-orang mukmin tentang perbuatan manusia. |
Ayat 105 Surah At-Taubah (bahasa Arab:آیة ۱۰۵ سورة التوبه) menjelaskan tentang pengawasan perbuatan manusia oleh Allah, Nabi Islam saw, dan orang-orang mukmin. Ayat ini meminta kepada Nabi saw untuk memberitahu orang-orang bahwa amal baik dan buruk mereka akan diinformasikan kepada mereka di Hari Kiamat dan mereka akan melihat balasan atau siksaannya.
Berdasarkan riwayat, yang dimaksud dengan orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para Imam Maksum, dan karena alasan inilah, ayat ini dianggap sebagai landasan Al-Qur'an untuk keyakinan tentang Penyodoran Amal kepada Nabi saw dan para Imam as.
Rasa malu (Haya), Takwa, dan pengurangan Kemiskinan adalah di antara dampak pendidikan dan sosial yang disebutkan untuk ayat ini. Menurut Allamah Thabathaba'i, audiens ayat ini adalah seluruh manusia.
Pengenalan, Teks, dan Terjemahan Ayat
Ayat 105 Surah At-Taubah adalah peringatan bagi manusia bahwa apa yang mereka lakukan akan dilihat oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Pengetahuan ini dianggap sebagai pendahuluan bagi pahala atau hukuman di akhirat. Di akhir ayat disebutkan bahwa Allah sebagai saksi atas perbuatan yang tersembunyi dan yang tampak pada Hari Kiamat akan memberitahu kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan.[1]
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah : 105)
Landasan Al-Qur'an Penyodoran Amal
Ayat 105 Surah At-Taubah dianggap sebagai salah satu dokumen Al-Qur'an untuk keyakinan tentang penyodoran amal.[2] Berdasarkan ini, Allah melalui cara-cara khusus menyodorkan amal manusia kepada Nabi dan para Imam Maksum, dan mereka menjadi tahu tentang perbuatan mereka.[3]
Siapakah Orang-orang Mukmin dalam Ayat Ini?
Menurut beberapa mufasir, yang dimaksud dengan orang-orang mukmin dalam ayat ini bukanlah semua orang yang beriman, melainkan kelompok khusus yang atas perintah Allah mengetahui rahasia gaib.[4] Sebagian menganggap misdak (contoh nyata) dari hal itu dalam ayat ini adalah para saksi (syuhada) dan sebagian lainnya adalah malaikat pencatat amal.[5]
Syiah, dengan bersandar pada riwayat-riwayat yang mencapai tingkat mutawatir, meyakini bahwa yang dimaksud dengan orang-orang mukmin yang menyaksikan perbuatan manusia adalah para Imam Maksum yang memegang jabatan penerus Nabi.[6] Dalam Tafsir Itsna Asyari diargumentasikan bahwa penyebutan bersamaan dengan Rasulullah menuntut agar orang-orang mukmin tersebut adalah orang yang setingkat setelah Rasulullah (tali-tilw) dan memiliki kemaksuman, dan karakteristik seperti ini hanya ada pada para Imam.[7]
Dampak Pendidikan dan Sosial Keyakinan akan Pengawasan Amal
Meluasnya ketakwaan, rasa malu (haya), dan masyarakat yang sehat disebutkan sebagai dampak pendidikan dan sosial bagi ayat ini.[8] Menurut Allamah Thabathaba'i dalam Tafsir al-Mizan, meskipun ayat-ayat sebelumnya berkaitan dengan Zakat dan tampaknya ayat ini juga bermaksud mendorong orang-orang mukmin untuk memberikan zakat; namun karena frasa (قُلِ اعْمَلُوا) bersifat mutlak, ayat ini tidak khusus pada zakat dan bahkan tidak khusus pada orang-orang mukmin, melainkan ditujukan kepada seluruh manusia bahkan orang-orang kafir dan munafik atau setidaknya mencakup orang-orang mukmin dan munafik.[9]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1380 HS, jld. 8, hlm. 124; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 9, hlm. 380.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1380 HS, jld. 8, hlm. 127.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1380 HS, jld. 8, hlm. 127.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1380 HS, jld. 8, hlm. 128.
- ↑ Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 5, hlm. 197.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Namunah, 1380 HS, jld. 8, hlm. 124–128; Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 3, hlm. 499.
- ↑ Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 5, hlm. 197.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 9, hlm. 378; Qara'ati, Tafsir Nur, 1375 HS, jld. 3, hlm. 499.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 9, hlm. 378.
Daftar Pustaka
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut: Muassasah al-Wafa', cetakan kedua, 1403 H.
- Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Namunah. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan ke-41, 1380 HS.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran: Markaz-e Farhangi-ye Dars-ha'i az Quran, cetakan pertama, 1388 HS.
- Syah Abdul Azhimi, Husain. Tafsir Itsna Asyari. Teheran: Miqat, 1363 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan ketiga, 1393 H.