Prioritas: aa, Kualitas: b

Sayid Husain Thabathabai Burujerdi

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Ayatullah Burujerdi)
Lompat ke: navigasi, cari
Sayid Husain Thabathabai Burujerdihttp://en.wikishia.net
بروجردی.jpg
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Sayid Husain Thabathabai Burujerdi
Lakab Marja' Taqlid
Lahir Shafar 1292 H
Tempat lahir Burujerd, Iran
Tempat tinggal Burujerd, Isfahan, Najaf dan Qum
Wafat/Syahadah Syawal 1380
Tempat dimakamkan Qum, Masjid 'Azam
Informasi ilmiah
Guru-guru Sayid Muhamamd Baqir Durchei • Mirza Abul Ma'ali Kalbasi • Sayid Muhamamd Taqi Mudarris • Akhund Kashi • Jahangirkhan Qashqai• Akhund Khurasani • Sayid Muhammad Kazim Yazdi • Syariat Isfahani
Murid-murid Imam Khomaini • Ghulbaigani • Muntazeri • Sistani • Shafi Ghulbaigani • Fadhil Lankarani • Makarim syirazi • syubairi Zanjani
Ijazah Riwayat dari Akhund Khurasani • Syaikh al-Syariah Isfahani • Agha Najafi Isfahani • Sayid Abul Qasim Dehkurdi Isfahani• Agha Buzurgh Tehrani• Alamul Huda Malayiri.
Karya-karya Jamiu Ahadits al-Syiah • Anisul Muqallidin • Shiratun Najah • Taudhihul Masail • Buyut al-Syiah • Hasyiatu Ala Wasailus Syiah dan...
Kegiatan Sosial dan Politik
Politik Perlindungan Palestina • Menentang perubahan garis asli • berjuang melawan sekte Bahai
Sosial Melindungi orang-orang yang tidak mampu • Mendirikan lembaga-lembaga Islam di berbagai negara • mendirikan bangunan-bangunan keagamaan dan keilmuan • Mengirim para mubalig ke luar Iran • Memarakkan hauzah ilmiah Qum • Berupaya untuk melakukan pendekatan mazhab-mazhab Islam

Sayid Husain Thabathabai Burujerdi (bahasa Arab:السيد حسين الطباطبائي البروجردي), termasuk salah seorang marja’ taqlid besar Syiah pada abad keempat belas Hijriah, yang mengemban kepemimpinan Hauzah ilmiah Qom selama 17 tahun dan menjadi marja’ umum dunia Syiah selama 15 tahun.

Ayatullah Burujerdi termasuk salah seorang murid Akhund Khurasani. Sekembali dari Najaf, ia menetap di Borujerd. Beberapa tahun pasca wafatnya pendiri Hauzah ilmiah Qom, ia datang ke Qom dengan udangan para marja’ Qom, (Hujjat, Khansari, Shadr) dan mengemban kepemimpinan Hauzah ilmiah Qom. Pasca wafat Sayid Abul Hasan Isfahani, Burujerdi dikenal sebagai salah seorang marja’ terpenting Syiah dan dianggap sebagai marja’ umum Syiah pada dekade 1951 M.

Pada masa beliau, Hauzah ilmiah Qom mengalami kemajuan pesat dan jumlah pelajar mengalami peningkatan signifikan. Dengan dukungannya, karya-karya hadis dan beragam fikih dihidupkan dan dipublikasikan. Kompilasi besar "Jami Ahadis al-Syiah" disusun di bawah pengawasan beliau.

Burujerdi meyakini pentingnya taqrib antar mazhab Islam dan dalam hal ini, ia mengutus seorang wakil untuk keanggotaan di Darut Taqrib Mesir. Fatwa tersohor Syaikh Mahmud Syaltut untuk mengenalkan secara resmi fikih Syiah di kalangan Ahlusunnah merupakan hasil sejumlah aktivitas Ayatullah Burujerdi.

Pengutusan sejumlah mubalig ke pelbagai kawasan Iran dan luar negeri, membangun markas besar ilmiah dan religi, membangun sejumlah masjid dan sekolah di Iran dan di pelbagai negara, permintaan untuk menyertakan pelajaran ajaran-ajaran agama di jenjang SD sekolah-sekolah Iran dan lain-lain termasuk kinerja penting religi, politik dan sosialnya.

Biografi

Sayid Husain Thabathabai Burujerdi lahir pada bulan Shafar tahun 1292 H di Burujerd. Ayahnya, Sayid Ali Thabathabai termasuk ulama kota dan ibunya Sayidah Agha Beygum adalah putri Sayid Muhammad Ali Thabathabai. [1] Nasabnya bersambung ke Imam Hasan as dengan 32 perantara. [2]

Pernikahan

Ayatullah Burujerdi dari istri pertamanya, memiliki dua orang anak laki-laki dan tiga putri, yang kesemuanya meninggal di usia kecil; kecuali hanya satu putri bernama Agha Nazanin, yang mana selang dua tahun setelah menikah dengan anak pamannya yang bernama Bahauddin Thabathabai, meninggal dunia saat melahirkan. Pernikahan keduanya dengan putri Haji Muhammad Ja’far Roughani Isfahani, dan hasil dari pernikahan ini adalah dua orang anak putri dan dua anak laki-laki.

Istri ketiga Ayatullah Burujerdi juga putri Sayid Abdul Wahid Thabathabai, anak paman beliau. [3]

Berita meninggal dunia Ayatullah Burujerdi di berita koran Kaihan

Keturunan

  • Sayid Muhammad Hasan Thabathabai Burujerdi lahir pada tahun 1304 HS di Burujerd. Penulisan sejumlah urusan istiftaat (permintaan fatwa-fatwa) Ayatullah Burujerdi diemban olehnya. Ia meninggal di kota Qom pada tahun 1356 HS.
  • Sayid Ahmad Thabathabai Burujerdi lahir pada tahun 1316 HS di Burujerd dan meninggal di usia remaja pada tahun 1352 HS.
  • Agha Fatemeh Ahmadi Thabathabai, putri sulung Ayatullah Burujerdi adalah istri Sayid Ja’far Ahmadi, yang meninggal dunia di Qom di usianya yang ke- 80 pada tahun 1372 S.
  • Agha Sakina Ahmadi adalah putri kedua beliau dan lahir pada tahun 1312 HS. Ia adalah istri Sayid Muhammad Husain Alawi Thabathabai Burujerdi.

Wafat

Pusara Ayatullah Burujerdi di pintu masuk Masjid 'Azham

Ayatullah Sayid Husain Burujerdi wafat pada tanggal 13 Syawal 1380 H (30 Maret 1961) dan di bawah pengawasan Ayatullah Behbahani, Muhammad Hasan Thabathabai Burujerdi (putra Ayatullah Burujerdi) yang menyalati jenazah ayahnya dan dimakamkan di masjid 'Azam.

Sejumlah duta dan wakil negara-negara Islam mengungkapkan bela sungkawa atas wafatnya Ayatullah Burujerdi. Negara Uni Soviet, Amerika, dan Inggris mengibarkan bendera setengah tiang di kedutaan dan konsultannya di Iran guna menunjukkan penghormatan mereka kepadanya. [4]

Kehidupan Ilmiah

Sayid Husain Burujerdi di usia 7 tahun memasuki sekolah dan dikarenakan melihat skil kemampuan sang anak yang cukup baik, sang ayah lantas membawanya ke Hauzah ilmiah Nurbakhsh Burujerd. Ia pergi ke Isfahan pada tahun 1310 H guna melanjutkan pelajarannya dan ikut serta dalam kelas Hajj Sayid Muhammad Baqir Durcheh’i, Mirza Abul Ma’ali al-Kalbasi, dan Sayid Muhammad Taqi Mudarris. Ia juga ikut serta dalam kelas filsafat Akhund Kashi (Kashani), dan Jahangirkhan Qashqai. [5] Setelah empat tahun menimba ilmu di Isfahan, ia kembali ke Burujerd pada bulan Rabiul Awal tahun 1359 H.

Menuntut Ilmu di Najaf

Sayid Husain Burujerdi di usia 28 tahun pergi dari Burujerd menuju Najaf dan berpartisipasi di kelas Akhund Khurasani dan menimba ilmu darinya selama sembilan tahun. Di antara pengajar lainnya di Najaf adalah Sayid Kazim Yazdi dan Syariat Isfahani.

Menetap di Najaf

Pada tahun 1345 H, Kepala catatan sipil Burujerd mengangkat tokoh sekte Bahai sebagai wakilnya. Demikian juga, menyelenggarakan sebuah acara dengan dihadiri sejumlah wanita bugil di tingkat kota. Berita ini terdengar sampai ke telinga Ayatullah Burujerdi. Ia melakukan perjalanan ke sejumlah atabah dalam memprotes tindakan tersebut; namun gubernur Burujerd mencopot pengurus kantor catatan sipil tersebut. Meski setelah beberapa bulan akibat dari tindakan-tindakan yang menyalahi syariat para pengurus negara, akhirnya ia pergi ke atabah dan tinggal di Najaf al-Asyraf. [Butuh referensi]

Dalam kasus mogok para ulama di Qom atas tindakan-tindakan Reza Syah Pahlavi, para ulama Najaf bertekad untuk menyampaikan protesnya ke telinga Reza Shah. Dengan demikian, mereka memilih Ayatullah Burujerdi dan Syaikh Ahmad Syahrudi sebagai wakilnya guna melakukan pertemuan dengan sejumlah ulama Qom; namun para ajudan raja ini menangkap dua utusan tersebut di Qasre Shirin dan memindahkan mereka ke Tehran. Saat Reza Syah bertemu dengan Ayatullah Burujerdi, setelah menasehati Syah, ia mengumumkan tekadnya akan pergi ke Masyhad.

Menetap di Masyhad

Pasca peristiwa penangkapan di Qasre Shirin dan pemindahan ke Tehran, ia langsung bergerak dari Tehran menuju Masyhad dan menetap di Masyhad selama 9 bulan. Atas permintaan Ayatullah Muhammad Kafai (putra Akhund Khorasani) dan Ayatullah Sayid Husain Thabathabai Qummi, ia melaksanakan salat berjamaah setiap malam di masjid Goharshad.

Setelah delapan bulan, Ayatullah Burujerdi memutuskan untuk kembali ke Burujerd dan saat di pertengahan jalan, ia singgah di Qom dan Syaikh Abdul Karim Hairi memintanya agar menetap dan mengajar di Qom.

Kembali ke Burujerd

Desakan pelbagai kalangan Burujerd dan permintaan berulang kali Ayatullah Burujerdi untuk kembali ke Burujerd menyebabkan ia memutuskan untuk kembali pulang. Sayid Husain Burujerdi pada tahun 1364 H datang dari Burujerd ke Tehran guna melakukan pengobatan. Saat itu beberapa faqih terkemuka Hauzah ilmiah Qom, khususnya Imam Khomeini mengundang Ayatullah Burujerdi untuk menetap di Qom dan memangku marjaiyyah (kepemimpinan) Syiah dan kepemimpinan Hauzah. [6]

Menetap di Qom

Akhirnya pada tanggal 26 Shafar 1364 H ia memasuki kota Qom dan sebagian para ulama seperti Imam Khomeini, Sayid Muhamamd Muhaqqiq Damad, dan Murtadha Hairi, guna menunjukkan pentingnya pelajaran-pelajaran beliau dan menganjurkan para ulama untuk ikut hadir dalam pelajaran-pelajaran tersebut, bersama sejumlah muridnya hadir di sejumlah majelis-majelis pelajaran beliau. [7]

Demikian juga Sayid Sadruddin Shadr yang melaksanakan salat jamaah di serambi haram Sayidah Maksumah sa, memasrahkan kedudukan salatnya ke Ayatullah Burujerdi. Sayid Muhammad Hujjat menyerahkan kedudukan pengajarannya kepadanya. Sayid Muhammad Taqi Khansari juga untuk menghormati, ikut berpartisipasi dalam pelajarannya. [8]

Karya-karya Ilmiah

Buku-buku Bahasa Arab

  1. Tartîb Asanîd Man La Yahdhuruhul Faqih
  2. Tartîb Rijâl Asanîd Man La Yahdhuruhul Faqih
  3. Tartîb Asanîd Amâli al-Shaqud
  4. Tartîb Asanîd al-Khisal
  5. Tartîb Asanîd ‘Ilal al-Syara’i
  6. Tartîb Asanîd Tahdzib al-Ahkam
  7. Tartîb Rijal Asanîd al-Tahdzib
  8. Tartîb Asanîd al-A’mal wa ‘Iqâb al-A’mâl
  9. Tartîb Asanid ‘Idah Kutub
  10. Tartîb Rijal al-Thusi
  11. Tartîb Asanîd Rijal al-Kasyi
  12. Tartîb Asanîd Rijal al-Najasyi
  13. Tartîb Rijal al-Fihristayan
  14. Buyût al-Syiah
  15. Hasyiyah ‘ala Rijal al-Najasyi
  16. Hasyiyah ‘ala Umdat at-Thalib fi Ansâb Âl Abi Thalib
  17. Hasyiyah ‘ala Minhaj al-Maqal
  18. Hasyiyah ‘ala Wasail al-Syiah
  19. Jami’ Ahadis al-Syiah (31 jilid)
  20. Al-Mahdi (as), fi Kutub Ahlusunnah
  21. Al-Atsâr al-Mandzumah
  22. Hasyiyah ‘ala Majma’ al-Masail
  23. Shirat al-Najat
  24. Majma’ al-Furu’
  25. Hasyiyah ‘ala Tabsyirat al-Muta’allimin
  26. Anis al-Muqalladîn

Buku-buku Persia

  1. Taudhih al-Manasik
  2. Taudhih al-Masail
  3. Manasik Hajj

Para Murid

Sebagian murid Ayatullah Sayid Husain Burujerdi adalah sebagai berikut:

  1. Imam Khomeini
  2. Sayid Muhammad Ridha Golpaygani
  3. Murtadha Muthahhari
  4. Hussein Ali Montazeri
  5. Sayid Ali Husaini al-Sistani
  6. Ali Safi Golpaygani
  7. Lotfollah Safi Golpaygani
  8. Muhammad Fadhil Lankarani
  9. Naser Makarem Shirazi
  10. Sayid Mousa Shubairi Zanjani
  11. Ja’far Subhani
  12. Akbar Hasyemi Rafsanjani

Marjaiyyah

Kendati banyak sekali masyarakat dan sejumlah tokoh, selama Ayatullah Burujerdi tinggal di Burujerd, memilihnya sebagai marja’ taklidnya, periode pertama marjaiyyahnya dimulai secara resmi dengan publikasi risalah amaliah.

Sejumlah marja’ setempat yang mengenal Ayatullah Burujerdi juga menganjurkan para muqallidnya agar merujuk kepadanya. [Membutuhkan referensi] Satu tahun setelah menetapnya Ayatullah Burujerdi di Qom dan setelah wafatnya Ayatullah Sayid Abul Hasan Isfahani, mayoritas muqallidnya merujuk ke Ayatullah Burujerdi dan sepeninggal Ayatullah Sayid Husain Thabathabai Qummi, Ayatullah Burujerdi menjadi marja’ tunggal dunia Islam. [Membutuhkan referensi]

Surat Izin

Surat ijin ijtihad diperoleh dari Akhund Khorasai, Syaikh al-Syariat Isfahani, dan Sayid Abul Qasim Dehkurdi. Surat izin riwayat diperoleh dari Akhund Khorasai, Syaikh al-Syariat Isfahani, Syaikh Muhammad Taqi Isfahani yang tersohor dengan Agha Najafi Isfahani, Sayid Abul Qasim Dehkurdi Isfahani, Agha Bozorg Tehrani, dan Alamul Huda Malayeri.

Metode Mengajar

Majelis taklim Sayid Husain Burujerdi di sisi makam suci Qum

Metodenya dalam mengajar ilmu Ushul adalah berbicara sederhana, meringkas pembahasan dan menjahui pembahasan-pembahasan tambahan. Ia demikian juga memiliki komprehensitivitas dan kecakapan dalam ilmu-ilmu Islam seperti para ulama terdahulu semisal Syaikh Mufid, Sayid Murtadha, Syaikh Thusi, Syaikh Thabarsi, dan Allamah Bahrul Ulum. Ia menggunakan metode istinbat dalam fiqih. Disamping itu, melakukan pencarian dalam sejumlah pendapat-pendapat para pendahulu dan pandangan para pendahulu dalam fikih (baik Syiah maupun Ahlusunnah).

Ia memiliki metode tunggal dan inovator dalam ilmu rijal. Ia memisahkan sejumlah sanad hadis buku al-Kafi, Tahdzib, Istibshar dll dari teks-teksnya dan meneliti secara cermat dan kinerja ini merupakan sejumlah prestasi gemilang bagi para peneliti.

Kriteria Akhlak

  • Ikhlas: ia meyakini Allah dengan seluruh wujud, ketika berbicara tentang sejumlah pelayanan-pelayanannya, ia mengatakan, “Khallis al-‘Amal fa inna al-Naqida Bashir”, ikhlaskanlah amal, karena supervisor amal sangat maha melihat. [9]
  • Antusias menimba ilmu: ia tidak pernah lepas dari menimba ilmu dan makrifah sampai akhir hayat. Dinukilkan darinya, saya tidak pernah merasa lelah dari menelaah ilmu, bahkan acapkali ketika lelah dari pekerjaan-pekerjaan lainnya, saya menghilangkan kecapean dan kepenatan tersebut dengan telaah-telaah ilmiah. [10]
  • Lapang dada: disamping kemampuan dan kekuatan, menguasai jiwa, ia tidak mengindahkan kekasaran para penentangnya dengan lapang dada yang menakjubkan dan tidak mempedulikan kesalahan-kesalahan mereka dan ini termasuk salah satu faktor penting nan sangat efektif dalam mengkoordinir kepemimpinan penuh dan tanpa penentangan untuknya. [11]
  • Mempedulikan agama: di akhir hari-hari umurnya ketika diberitakan Profesor Muris spesialis jantung dari Paris datang ke Qom untuk mengobatinya. Ia tidak bersedia hadir dan meminta orang-orang yang menyertainya agar merapikan kamar dan memberikan sisir kepadanya guna merapikan janggutnya dan ketika mereka mengatakan apakah tidak masalah, karena kondisi anda sedang tidak bagus, dikatakan, saya saat ini adalah pemimpin muslim, tidak semestinya saya dalam kondisi semacam ini di depan seorang asing. [12]
  • Memerangi keawaman: terkait masalah berkabung untuk Imam Husain as yang terkadang tercampur dengan perbuatan-perbuatan yang menyalahi syariat dan sebagian orang tidak bersedia memberikan peringatan jamak ke orang-orang ini, ia menjalankan kewajibannya dan sama sekali tidak pernah merasa takut. [13]
  • Menahan Amarah: Ayatullah Borujedi telah berjanji dengan dirinya dalam urusan-urusan dunia, jika marah maka ia akan berpuasa selama satu tahun penuh dan pernah sekali ia marah, maka ia berpuasa selama satu tahun penuh (kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa). [14]
  • Mengharap syahid: Ayatullah Sayid Muhammad Ridha Golpaygani menukilkan, Ayatullah Burujerdi sangat gundah dikarenakan belum mendapatkan tersedianya ranah kesyahidan dan tidak meraih maqom syahadah. [15]
  • Berwawasan Tajam: Syahid Mutahhari mengatakan, salah satu kriteria menonjol Ayatullah Burujerdi yang menjadi wakil pola pemikiran jernihnya adalah kegemarannya untuk mendirikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) baru dibawah pengawasan orang-orang agamis, disamping ilmu juga mengajarkan agama kepada para pelajar. Menurutnya, keberagamaan masyarakat tidak dicari dalam ketiadaan informasi dan kebodohan bahkan ia berkeyakinan jika masyarakat juga alim dan agama juga diajarkan secara sahih dan realistis, maka mereka disamping pandai juga agamis. Apa yang saya tahu, banyak sekali saham Imam semata-mata hanya untuk dipakai mendirikan sebagian SMA. [16]

Kinerja Religi dan Sosial

Masjid 'Azham Qum yang dibangun berdampingan dengan haram Sayidah Maksumah adalah salah satu hasil upaya dan usaha Ayatullah Burujerdi

Mendukung orang-orang yang membutuhkan: pada tahun-tahun terakhir kehadirannya di Borujerd, dikarenakan Perang Dunia II, harga bahan pokok dan makanan melambung tinggi dan masyarakat berada dalam kesulitan. Karenanya ia mengundang seluruh pemuka kota ke rumahnya dan mendorong agar membantu orang-orang yang membutuhkan, dan bantuan terbanyak disuplai dari dirinya dan apa yang dimiliki oleh ayahnya.

Pendirian Pembangkit Listrik: pada masa kehadirannya, kota Borujerd tidak mendapat akses listrik. Dengan kebijaksanaan dan manajemennya dan juga peninjauan dan dukungan sebagian orang-orang bajik agamis, akhirnya kota ini memiliki pembangkit listrik. Penyebaran Kualitas dan Kuantitas Hauzah Ilmiah Qom: dengan manajemennya, muncul sejumlah perubahan seperti politik, sosial dalam ranah penulisan, penyusunan dan terjemahan, percetakan buku-buku fikih dll dan demikian juga dalam administrasi Hauzah ilmiah dan koordinasinya.

Publikasi majalah dan buku-buku dengan konten agama Islam: majalah ilmiah pertama Hauzah seperti majalah Makbat Islam yang dipublikasikan oleh sejumlah para tokoh dan pemikir, dengan dukungan beliau.

Memperbaharuai Kehidupan Hauzah Ilmiah Burujerdi

Membuat pondasi-pondasi besar mazhabi dan ilmiah: seperti masjid A’dzam Qom, madrasah Najaf, madrasah Karbala, masjid Baghdad, rumah sakit Najaf, Husainiyyah dan kamar mandi Samara, madrasah Kermanshah, masjid besar Tripoli Lebanon, empat masjid besar di Afrika, pemakaman Wadi Salam Qom, madrasah Ayatullah Burujerdi di Qom, rumah sakit Nekooyi Qom, masjid dan markas Islam Hamburgh Jerman, perpustakaan madrasah Najaf, perpustakaan madrasah Kermanshah dll.

Pengutusan Delegasi ke Luar Negeri

Nama Perwakilan Tempat Menetap Aktivitas
Muhammad Muhaqqigi Lahiji Jerman - Markas Islam Hamburgh 1955 M. hingga wafatnya Ayatullah Burujerdi
Mahdi Hairi Yazdi Amerika - Washington Dari sejak 1959.
Abdul Husain Rasyti - Sayid Muhammad Taqi Thaliqani Arab Saudi
Muhammad Taqi Qummi Mesir - Darut Taqrib Bainal Mazahib al-Islamiyah
Sayid Shadruddin Balaghi Inggris
Muhammad Syariat Isfahani Pakistan - Karachi 1952 Hingga datangnya ajal

Ayatullah Burujerdi mengutus sejumlah delegasi ke pelbagai negara. Sebelumya, meski sebagian marja’ seperti Sayid Abul Hasan Isfahani juga mengutus sejumlah delegasi dan mubalig ke pelbagai kawasan seperti India, Zanzibar dan Muscat, namun pengutusan ini amatlah terbatas dan sementara serta hanya dilakukan dalam momen-momen tertentu, namun Ayatullah Burujerdi juga memiliki investasi besar dalam hal ini.

Markas Islam Hamburgh termasuk salah satu kinerja Ayatullah Burujerdi untuk publikasi ma’arif Syiah di Eropa.

Markas Islam Hamburgh: Pendirian markas Islam Hamburgh termasuk salah satu kinerja Ayatullah Burujerdi untuk publikasi ma’arif Syiah di Eropa. Pada tahun 1332 diputuskan untuk mendirikan markas dan rekomendaasi ini diketengahkan lewat sepucuk surat kepada Ayatullah Burujerdi. Disamping menyambut program tersebut, ia juga menyerahkan sepuluh ribu Tuman sebagai nominal pertama untuk melakukan kinerja ini. [17] Pada tahun 1334, Muhammad Muhaqqiqi Lahijani menjadi wakil Ayatullah Burujerdi dan mulai mengimami masjid. Sepeninggal Ayatullah Burujerdi dan kembalinya Muhaqqiqi ke Iran, Sayid Muhammad Husaini Beheshti mengemban kepemimpinan markas ini. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran juga Sayid Muhammad Khatami, Muhammad Mujtahid Shabistari, Ali Moghadam dan Muhammad Baqir Anshari untuk beberapa waktu aktif disitu dan sekarang ini juga markas religi dan budaya ini aktif di Hanburgh. [18] [19]

Amerika: Mahdi Hairi Yazdi putra syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi menjadi wakil di Washington dari pihak Ayatullah Burujerdi sampai kemenangan Revolusi Iran. Disamping berdakwah, ia juga menimba ilmu dan mengajar di sejumlah universitas. [20] [21] Arab Saudi: Sayid Muhammad Taqi Taleghani adalah wakil Ayatullah Burujerdi. Ia setelah menetap di negara tersebut dan peninjauan berulang kali akhirnya dapat membuat ranah pendirian markas di kota Madinah, yang dikarenakan beberapa alasan akhirnya dihentikan. [22] Abdul Husain Faqihi Rashti juga menjadi wakil Ayatullah Burujerdi, setiap tahun menetap di Mekah dan Madinah beberapa bulan dan disamping menjelaskan masalah-masalah syariat, juga memberikan bulanan. Ia menjadi wakil Ayatullah Burujerdi selama 30 tahun dalam urusan jamaah haji. [23]

Mesir: Muhammad Taqi Qummi pergi ke Kairo dari tahun 1317 HS dengan tujuan pendekatan antar mazhab. Disamping mengajar bahasa dan kesusastraan Persia, ia juga berupaya untuk memperkenalkan Syiahologi. Atas prakarsanya dan sebagian para ulama Syiah dan Ahlusunnah, Darut Taqrib baina al-Mazahib al-Islamiyyah didirikan pada tahun 1357 H. Ayatullah Burujerdi menunjuk Qummi sebagai wakilnya di Mesir dan Darul Taqrib dan dengan perantaranya melakukan pengiriman tulisan dengan sejumlah syaikh Al-Azhar.

Inggris: Sayid Sadruddin Balaghi adalah wakil Ayatullah Burujerdi dalam kebangkitan nasionalisasi minyak. Setelah kebangkitan minyak, ia berangkat menuju Inggris mewakili Ayatullah Burujerdi dan disana ia berdakwah. Dalam sepucuk surat, Ayatullah Burujerdi mengungkapkan kegembiraan atas lawatannya:

Bismillahirrahmanirrashim/ Saya haturkan kepada tuan yang mulia, yang memberitahukan akurasi kesehatan yang bagus, pembahasan yang anda tulis telah berulang kali saya telaah secara seksama, saya sangat gembira akan perjalanan ini guna memperkuat Islam dan saya juga sangat gembira dikarenakan anda juga menyetujui perjalanan saya ke London ini, namun di pertengahan perjalanan saat ini saya bingung, menunggu partisipasi di akademis ataukah Hauzah, sebagaimana yang sudah dituliskan. Hendaklah anda tuliskan yang menurut anda adalah bagus dan dapat menggabungkan antara dua tujuan tersebut. Saya menulis tulisan ke salah seorang saudagar di Tehran agar mereka mencari tahu, mereka memberitahukan dengan baik kondisi tuan yang mulia. Setelah tahu semoga dapat mengkhilangkan kekhawatiran anda dari aspek ini dan sebagaimana apabila anda juga memerlukan, maka informasikanlah alamat lengkap. Saya menganggap perlu perjalanan orang-orang semisal tuan yang mulia ke sebuah nengara yang bisa jadi dapat menyebabkan perkembangan dan penguatan agama suci Islam, namun sampai sekarang saya jarang sekali mengungkapkan tokoh-tokoh yang memiliki kriteria. Saat berdoa, semoga anda tidak melupakan saya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh, 18 Muharram 1380. Hussein al-Thabathabai/ jika memungkinkan kontaklah dengan tuan yang mulia Hujjatul Islam Agha Hajj Agha Mahdi Hairi, meski dengan surat menyurat, menurut saya adalah bermanfaat.

Pakistan: Syaikh Muhammad Syariat Isfahani adalah putra Syaikh al-Syariat Isfahani dan menantu Agha Dhiya’ ‘Araqi. Pada masa kepemimpinan Ayatullah Burujerdi, ia datang dari Najaf menuju Iran. Ia menjalin komunikasi dengan Sayid Muhammad Kazim ‘Assar dan Hussain Ali Rashid. Pada tahun 1331 HS, ia menjadi wakil Ayatullah Burujerdi menuju Karachi [24] dan menetap disana sampai akhir hayat. Ia meninggal pada bulan Farwardin tahun 1357 HS. [25] [26]

Taqrib Mazahib Islami

Ayatullah Burujerdi sangat peduli dengan taqrib dan persatuan antar mazhab Islam. Masalah-masalah internasional dan serangan asing ke kawasan muslim seperti Perang Dunia, segmentasi Ottoman, perang Italia terhadap Libya, pendirian Israel, perang India dan Pakistan dll memiliki peran dalam penciptaan ide taqrib. [27] Burujerdi menimba ilmu ke Sayid Muhammad Baqir Dorcheh’i dan Syariat Isfahani. Dua tokoh ini termasuk pendukung ideologi taqrib. [28]

Langkah-langkah untuk Pendekatan

  • Peduli dengan fikih komparatif: Ayatullah Burujerdi sangat peduli dengan masalah-masalah fikih komparatif dalam masalah-masalah perbedaan. Menurutnya, masalah-masalah fikih bukan hanya dalam tingkat mazhab Imamiah semata, bahkan harus dibahas di tingkat seluruh mazhab fikih Islam dan harus menengok argumentasi seluruh mazhab. Karenanya buku Masail al-Khilaf Syaikh Thusi dicetak dan bahkan terkadang membawa buku ini di pertemuan pelajaran. [29] Burujerdi berkeyakinan bahwa fikih Syiah di sela-sela fikih Ahlusunnah dan dengan melihat bahwa pertanyaan-pertanyaan fikih dari para imam dengan melihat masalah-masalah Ahlusunnah, merujuk sejumlah fatwa yang marak dikalangan Ahlusunnah akan dapat membantu dalam memahami riwayat. [30]
  • Peduli dengan penulisan riwayat-riwayat fikih Ahlusunnah dalam buku Jami’ al-Ahadis al-Fiqhiyyah: buku ini merupakan sebuah hadis komprehensif fikih yang ditulis dibawah pengawasan Ayatullah Burujerdi dan dengan upaya sebagian para muridnya. Ia menegaskan di bawah setiap bab ditulis riwayat-riwayat Ahlusunnah. Meski untuk selanjutnya sempat muncul keraguan dikarenakan reaksi para penentang, dan pada akhirnya beranjak dari hal ini. [31]
  • Memberantas masalah-masalah perbedaan: ia memberantas sejumlah masalah-masalah perbedaan. Ia mempertimbangkan masa pemaparan masalah-masalah tersebut dan pertama menentukan batasan kesepakatan dan perselisihan dalam masalah tersebut. Pertama-tama memaparkan pandangan Ahlulbait dan kemudian pendapat Ahlusunnah serta memaparkan pembahasan-pembahasan semacam ini dalam bentuk pembahasan ilmiah, dan bukan dalam bentuk jidal (debat) mazhab. [32]
  • Program asimilasi haji: di akhir-akhir hayatnyanya, ia mengirimkan hadis haji Wada’ (perpisahan) untuk raja Saudi yang datang ke Iran. Lewat riwayat-riwayat haji Wada’ menurut penukilan Ahlusunnah, juga mencatat dua orang imam dan sudah pasti juga hujjah bagi orang-orang Syaih dan yang dipaparkan dalam buku-buku shahih dapat menjadi poin persatuan dalam masalah ini antar kedua kelompok dan menjadikan kaum muslim mengamalkan secara sama dalam ritual haji. [33]
  • Memperkenalkan fikih Syiah ke Ahlusunnah: ditengah-tengah hubungan pendekatan fiqih, Ayatullah Burujerdi menghadiahkan buku al-Mabsuth Syaikh Thusi untuk Syaikh Abdul Majid Salim, salah seorang Syaikh Al-Azhar dan anggota Darut Taqrib baina al-Mazahib al-Islamiyyah.
Burujerdi dari sisi lain peduli bahwa fikih Syiah dapat dikenal dengan riwayat dan dasar-dasar fikih Ahlusunnah dan dari sisi lain, Ahlusunnah juga merujuk ke sejumlah riwayat dan fikih Syiah dan mengetahuinya. Dalam dua hal ini telah berhasil dan mayoritas anggota Darut Taqrib mengenal dengan fikih Syiah sampai pada batas di sebagian masalah seperti syarat kesaksian dua orang adil dalam talak, mengeluarkan fatwa sesuai dengan pendapat Syiah dan dicatat dalam undang-undang sipil Mesir. [34]
Pada hari-hari tersebut, Menteri Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar al-Nafi’, Muhaqqiq Hilli (m 676 M), yang mengupas fikih intensif dengan pendahuluan Menteri Wakaf waktu itu; Syaikh Ahmad Hasan al-Baquri. Al-Baquri datang ke Iran dan bertemu dengan Ayatullah Burujerdi. Pendahuluannya dalam bab komparasi fikih dan persamaan-persamaan fikih Syiah dan Sunnah. [35]
  • Mendukung Darut Taqrib baina al-Mazahib al-Islamiyyah; Darut Taqrib terbentuk pada tahun 1327 HS oleh sejumlah ulama Ahlusunnah dan pelbagai mazhab dan ulama Syiah dan dengan upaya Muhammad Taqi Qummi, yang menetap selama bertahun-tahun di Lebanon dan Mesir dan dengan kesekjenannya. Anggotanya dari para pengajar Al-Azhar seperti Syaikh Abdus Salim, Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Abu Zuhra, Hasan al-Bana dan dari ulama Syiah adalah Muhammad Husein Kasyiful Ghitha di Najaf, Sayid Syarafuddin dan Muhammad Jawad Mughniyah di Lebanon.
Ayatullah Burujerdi memberikan bantuan keuangan ke lembaga ini dan dengan wafatnya beliau, bantuan ini pun terputus dan kinerja Darut Taqrib pun terhenti. [36]
  • Mencegah penistaan terhadap para khalifah dan pemuka Ahlusunnah; Waez-Zadeh Khorasani dalam sebuah kenangan tentang Ayatullah Burujerdi mengingatkan tentang penistaan terhadap para pemuka Ahlusunnah.
Suatu hari hadir dalam pertemuan hadis dan berkata: seseorang yang menulis buku dan sebisanya mengatakan buruk kepada para khalifah, juga mencantumkan nama saya di permulaan buku, saya perintahkan agar mengumpulkan seluruh jilid buku-buku tersebut, kita hidup pada masa apa? Apa manfaat ucapan-ucapan ini selain bahaya dan menciptakan permusuhan? [37]
Demikian juga dikatakan bahwa Ayatullah Burujerdi tidak setuju dengan percetakan jild-jild fitan wa mihan Biral al-Anwar dan tidak dicetak berdasarkan anjurannya. [38]

Aktivitas Politik

Pemberian ijazah berijtihad Akhun Khurasani kepada Ayatullah Burujerdi.
Surat resmi ijazah Akhun Khurasani kepada Ayatullah Burujerdi.

Menentang Perubahan Tulisan Tangan

Sebagian menukilkan bahwa Ayatullah Burujerdi memiliki peran dalam menentang perubahan tulisan khat pada masa Reza Shah. Menurut penukilan tersebut, Reza Khan dengan mengikuti Ataturk, memutuskan untuk merubah tulisan khat dan Ayatullah Burujerdi sangat menentang keputusan tersebut: Tujuan mereka merubah khat ini adalah menjauhkan masyarakat kita dari budaya Islam, selama saya masih hidup saya tidak izinkan untuk merealisasikan hal ini, dimanapun yang ia inginkan akan berakhir. [39]

Majelis Konstitusi dan Melarang Perubahan Agama Resmi

Pada bulan Mei 1949 M, Shah ingin melebarkan otoritasnya melalui majelis konstitusi dan lewat sebagian perubahan-perubahan dalam Undang-Undang Dasar; namun diklaimkan bahwa Shah dengan dalih ingin menghapus mazhab Syiah dan keberagamaan serta memuluskan jalan untuk meresmikan sekte sesat Baha’i. [40] Dalam kondisi ini diklaimkan bahwa Ayatullah Burujerdi menyetujui pembentukan majelis konstitusi. Menindaklanjuti masalah ini, Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Sayid Muhammad Muhaqqiq (menantu), Ayatullah Ruhullah Kamalvand Khorram Abadi dan Ayatullah Murtadha al-Hairi menulis sepucuk surat untuk Ayatullah Burujerdi:

Dikeranakan tersebar tentang berlangsungnya negoisasi terkait majelis konstitusi antara anda dengan para penguasa dan disimpulkan kesepakatan anda dengan pembentukan majelis konstitusi tersebut...tolong jelaskan realita kabar tersebut guna memperjelas taklif syar’i:

Demikian juga diklaimkan bahwa Ayatullah Burujerdi juga memberikan jawaban tertulis:

Diharap para ulama dalam situasi dan kondisi dimana bagian publikasi ini menyalahi realita, hendaklah diri mereka melakukan pembelaan. Tentunya hasrat akan kemaslahatan negara sudah terlihat bagi kesemuanya, tidaklah tepat setiap kinerja diperdengarkan ke masyarakat umum. Karena jangan sampai perubahan-perubahan terkait hal tersebut berimbas dalam urusan-urusan agama.
Sudah berulang kali saya peringatkan sampai akhirnya saya sampaikan bahwa bukan hanya tidak akan menguasai dalam keberagamaan, bahkan akan peduli dalam konsolidasi dan pengokohannya. Naudzubillah di seluruh majelis yang di sekitar permasalahan ini dilakukan negoisasi dimana di sebagian mejelis tersebut dihadiri sejumlah ulama terpandang, terdapat sebuah kalimat yang menunjukkan atau slogan akan kesepakatan tentang hal ini, tidaklah dikeluarkan dari saya. Bagaimana mungkin saya memberikan pandangan dalam perkara penting semacam ini meski sekitarnya tidaklah jelas?

Wakil tinggi, penasehat Shah dan Doktor Iqbal, Menteri Negara mewakili pihak Shah menemui Ayatullah Burujerdi, dan dengan gamblang meyakinkan bahwa agama resmi tidak akan diubah dan pada akhirnya juga merasa cukup dengan otoritas lebih yang dimiliki Shah. [41]

Melarang Eksekusi Ayatullah Kashani

Meski pada masa nasionalisasi industri minyak, belum terjalin hubungan harmonis antara Ayatullah Burujerdi dan Ayatullah Kashani, pasca kudeta 28 Mordad, Ayatullah Burujerdi merintangi dan mencegah hukuman dan eksekusi Ayatullah Kashani. [42] [43]

Kebangkitan Nasionalisasi Minyak

Meski Ayatullah Burujerdi diam dalam kebangkitan nasionalisasi minyak seperti Sayid Muhammad Taqi Khansari; namun ia meminta para rohaniawan agar tidak melakukan penentangan. Dinukilkan darinya bahwa:

Saya tidak akan memberikan keputusan dalam permasalahan-permasalahan yang tidak saya geluti, tidak saya ketahui awal dan akhirnya dan saya tidak dapat memprediksikannya. Saya tidak tahu tentang perihal nasionalisasi industri minyak, apa yang akan terjadi dan di masa mendatang akan dipegang oleh siapa. Tentunya rohaniawan sama sekali tidak boleh menentang gerakan ini, dan jika menentang gerakan sipil ini dan gerakan tersebut terhenti, maka akan dicatat dalam sejarah Iran, dimana rohaniawan menjadi penyebab kinerja ini. Karenanya saya menulis kepada tuan Behbahani dan ulama Tehran agar tidak menentang. [44]

Dalam beberapa kasus para oposisi Mossadegh diharap Ayatullah Burujerdi mengambil sikap terhadap Mossadegh [45] , namun Ayatullah Burujerdi tidak melakukan tindakan demikian dan bahkan ada dokumen-dokumen yang menunjukkan akan dukungannya terhadap pemerintah Mossadegh. [46] [47]

Kontradiktif dan Interaksi dengan Fadaiyan-e Islam

Cara non-intrusif Ayatullah Burujerdi tidak selaras dengan metode Navvab Safavi dan Ayatullah Kashani. [48] Navvab dalam buku Rahnemaye Haqayeq meminta para maji’ agar menanggalkan marjaiyyah dengan syarat selama tidak memiliki kecakapan maqom tersebut. [49] Sebaliknya Ayatullah Burujerdi secara apik tidak memperlihatkan kepada Fadaiyan-e (dari segi bahasa berarti orang-orang yang rela berkorban adalah sebuah nama organisasi politik Islam radikal di Iran dan pemimpin organisasi ini adalah Navvab Safavi). Pertama-tama berupaya mencegah mereka dengan nasehat. Dalam pelajarannya, ia berulang kali mengatakan:

Mereka (Fadaiyan-e Islam) adalah para pelajar dan Sayid muda, murka dan marah harus dinasehati. Saya meminta mereka agar tidak mengikuti perbuatan-perbuatan ini. Kita melihat banyak perubahan dalam umur-umur kita. Kita menyaksikan paristiwa revolusi konstitusional dll, bagaimana hal tersebut dimulai dan kemana berakhir. [50]

Tahiri Khorramabadi dan Muhammad Fadhil Lankarani mengganggap efektivitas Fadaiyan-e Islam dari Ayatullah Kashani sebagai salah satu faktor perselisihan dengan Fadaiyan-e Ayatullah Burujerdi. [51] [52] Meski terdapat perselisihan dengan Fadaiyan-e Islam, namun Ayatullah Burujerdi senantiasa membantu mereka. Dalam peristiwa penangkapan Sayid Hussein Amami, Ayatullah Burujerdi mendukungnya dan berupaya keras untuk kebebasannya. Burujerdi, demikian juga terhadap sejumlah orang yang memiliki hubungan dengan Shah, meminta Shah agar tidak menandatangani hukuman eksekusi. Burujerdi setelah mendengar berita eksekusi, maka ia sangat terpengaruh dan gelisah dan meliburkan aktivitas sehari-hari dan mengatakan, dikarenakan kegelisahan saya sekarang tidak memiliki pekerjaan sama sekali. [53]

Memerangi Sekte Bahai’i

Pada tahun 1345 H, ketua kantor pencatatan sipil Borujerd mengangkat seorang sekte Bahaiyyah sebagai wakilnya. Demikian juga melakukan sebuah acara dengan dihadiri para wanita bugil di tingkat kota. Berita ini tersiar sampai ke telinga Ayatullah Burujerdi dan untuk melakukan protes, lalu ia meninggalkan Borujerd menuju atabah aliyah. Gubernur Borujerd dan para pejabat lainnya mencopot pengurus kantor catatan sipil dan wakilnya dan memberikan peringatan dan mengembalikan lagi Ayatullah Burujerdi ke kota lagi; namun ia beberapa bulan kemudian, pergi ke atabah dikarenakan sumpek dan perbuatan-perbuatan menyalahi syariat sejumlah para pejabat dan menetap di Najaf al-Asyraf.

Mendukung Palestina

Sikap Ayatullah Burujerdi terhadap penjajahan Quds oleh rezim penjajah Zionis adalah sebuah sikap yang kokoh. Ia pada tahun 1327 S mengeluarkan sebuah statemen dalam mengecam Zionisme internasional dan para penjajah Palestina dan di situ menjunjung tinggi para jihadis Palestina dan mendoakan kemenangan untuk mereka. [54]

Meminta Penyertaan Pelajaran Agama di Jenjang SD

Pasca pengumuman pemerintah, untuk menjalankan RUU wajib di jenjang SD, Ayatullah Burujerdi meminta agar menyertakan pelajaran yang mengajarkan ajaraan-ajaran agama di jenjang tersebut dan mengutus Muhammad Taqi Falsafi untuk melakukan negoisasi dengan pemerintah. [55]

Catatan Kaki

  1. Sayid Ali Thabathabai lahir pada tahun 1252 H di Burujerd dan meninggal pada tahun 1329 H. Ia dimakamkan di pemakaman datuknya, Sayid Muhammad.
  2. Dawani, Mafakhir, jild. 12, hlm. 69-95.
  3. Ibid., hlm. 538.
  4. Ibid., hlm. 532.
  5. Tamri, hlm. 20.
  6. Waez-Zadeh, hlm. 53.
  7. Ali Abadi, hlm. 44; Nasyriyyah (Majalah) Hauzah, No. 23, hlm. 42.
  8. Alawi, hlm. 119 dan 120.
  9. Kalimat ini merupakan penggalan hadis Qudsi, Ya Ibna Adam! Aktsir min al-Zâd fa Inna al-Tharîq Ba’îdun Ba’îdun, wa Jaddid al-Safinah fa inna al-Bahra ‘Amîqun wan Akhlis al-‘Amal fa inan al-Naqid Bashîrun Bashîrun wa Akkhir Naumaka ila al-Qabri wa Fakhraka ila al-Mîzan wa Syahwataka ila al-Jannah wa Rahataka ila al-Âkhirah... (Kalimatullah, karya Sayid Hasan Shirazi, hlm. 471).
  10. Majalah Hauzah, no. 43 dan 44, hlm. 262.
  11. Markas Intisyarat, hlm. 30.
  12. Alawi, Sayid Muhammad Hussain, Khaterat-e Zandegani Ayatullah Burujerdi, Intisyarat Ithtila’at, Khordad, 1341, hlm. 36.
  13. Majalah Hauzah, no. 43- 44, hlm. 267.
  14. Ibid., hlm. 268 dan 66.
  15. Markas Intisyarat, hlm. 28.
  16. Muthahhari, hlm. 264.
  17. Tarikhceh-e Bunyangozari wa Marahil Banaye Markas.
  18. Rujuklah, Zendegi Ayatullah al-Uzma Burujerdi, hlm. 72.
  19. Tarikhceh-e Bunyangozari wa Marahil Banaye Markas.
  20. Rujuklah, Zendegi Ayatullah al-Uzma Burujerdi, hlm. 72.
  21. Khaterat-e Doktor Mahdi Hairi Yazdi, hlm. 28, 39, dan 41.
  22. Majalah Hauzah, no: 43-44, hlm.117.
  23. HaftehNameh Naqsh Qalam (majalah propinsi Gilan), 27 Aban 1369, makalah Muhammad Ali Faqihi Zadeh Gilani.
  24. Tazkirah Ulama Imamiyyah, hlm. 312.
  25. Baigani Mu’assasah Muthala’ah wa Pazyuheshhaye Siasi, Sind, no. 1123, tanggal 21/1/2538.
  26. Tentang Syaikh Muhammad Syariat Isfahani.
  27. Tatbiq Andisheh Taqrib az Manzare Imam Khomeini wa Ayatullah Burujerdi, Fashlnameh Ilmi- Pazyuhesyi Inqilabe Islami, tahun 2, no. 5, Zamestan 91, hlm. 104.
  28. Wahdat wa Insijame Islami az Negahe Ayatullah Burujerdi, Muhammad Waez-Zadeh Khorasani, Kaihan Farhanggi, no. 257, Isfand, 86, hlm. 21.
  29. Ibid.,
  30. Ibid.,
  31. Ibid., hlm. 25.
  32. Ibid., hlm. 22.
  33. Ibid., hlm. 23.
  34. Ibid.,
  35. Ibid., hlm. 24.
  36. Ibid., hlm. 25.
  37. Ibid.,
  38. Nasyriyyah (majalah) Hauzah, no. 43, wawancara dengan Muhammad Waiz-Zadeh Khorasani.
  39. Chesm wa Ceragh-e Marjaiyyah, wawancara khusus majalah Hauzah, dengan para murid Ayatullah Burujerdi, hlm. 29.
  40. Dawani, Mafakhir Islam, jild. 12, hlm. 242-243.
  41. Muhammad Hasan Rajabi (Dawani), Zendeginameh Siasi Imam Khomeini (Beografi politik Imam Khomeini), Tehran, Nasyr Mutahhar, hlm. 142.
  42. Majalah Hauzah, no. 43-44 (khusus surat Ayatullah Burujerdi), wawancara dengan Ayatullah Safi Golpaygani.
  43. Husain Makki; Khaterat-e Siasi Husain Makki, cet. 1, Tehran, 1368, hlm. 572-576.
  44. Chesm wa Ceragh-e Marjaiyyah, wawancara dengan Ayatullah Sultani Thabathabai, hlm. 42.
  45. Ali Rahnema, Niruhaye Mazhabi bar Bastare Harakate Nehzate Melli, hlm. 995-999.
  46. Majalah Hauzah, wawancara dengan Waiz-Zadeh Khorasani, no. 43-44, hlm. 226.
  47. Ahmad Ali Rajai dan Mahin Sarvari, Asnad Sokhan Miguyad, jild. 1, hlm. 339.
  48. Sirah Amali Ayatullah al-Uzma Burujerdi dar Sahate Siasat, majalah ilmu politik, Paiz, 1389, no. 51, hm. 125.
  49. Navvab Safavi, Rahnemaye Haqayeq, hlm. 58.
  50. Ali Rahnema, Niruhaye Mazhabi bar Bastare Harakate Nehzate Melli, hlm. 58.
  51. Hasan Tahiri Khoramabadi, Khaterat-e Ayatullah Tahiri Khoramabadi, jild. 1, hlm. 83-84.
  52. Majalah Hauzah, no. 43-44, wawancara dengan Ayatullah Fadhil Lankarani, hlm. 156.
  53. Cesm wa Ceragh-e Marja’iyyah, hlm. 103 dan 104.
  54. Dawani, Mafakhir, jild. 12, hlm. 362.
  55. Ibid., hlm. 189-191.

Daftar Pustaka

  • Alawi, Sayid Muhammad Hussein, Khaterate Zendegani Ayatullah Burujerdi, Intisyarate Ittila’ate Tehran, 1341 S.
  • Ali Abadi, Muhammad, Ulguye Zeamat, Intisyarate Hanaris.
  • Dawani, Ali, Khaterat wa Mubarezate Hujjatul Islam Falsafi, Markas Asnad Inqilabe Islami, Tehran, 1376 S.
  • Dawani, Mafakhir Islam, Bunyad Farhanggi Imam Ridha (As), Tehran.
  • Majalah Hauzah, no. 43-44.
  • Markas Intisyarat Daftar Tablighat Islami Hauzah Ilmiah Qom, Shukuhe Faqâhat, Qom, 1379 S.
  • Muthahhari, Murtadha, Mazaya wa Khadamat Ayatullah Burujerdi, Intisyarat Sadra, Tehran, 1380 S.
  • Shirazi, Sayid Hasan, Kalimatullah, Beirut, Dar al-Shâdiq, 1389/1969.
  • Tamri, Muhammad Reza, Shukuhe Syiah Markas Asnad Inqilabe Islami, Tehran, 1387 S.
  • Waiz-Zadeh Khorasani, Muhammad, Zendegi Ayatullah Burujerdi, Nasyr Majma’ Taqrib Mazahib Islami, Tehran, 1379 S.