Prioritas: b, Kualitas: c
tanpa navbox
tanpa alih

Nabi Adam as

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Nabi Adam)
Lompat ke: navigasi, cari

Nabi Adam as (bahasa Arab: آدم عليه السلام) menurut riwayat adalah manusia pertama dan bapak seluruh umat manusia. Ia dibentuk dan diciptakan langsung oleh Allah swt. Setelah diberi ruh, para malaikat diminta untuk sujud dihadapannya. Istrinya bernama Hawa, yang disebabkan keduanya memakan buah terlarang akhirnya dikeluarkan dari surga. Nabi Adam as adalah khalifah pertama Tuhan di muka bumi dan merupakan nabi yang pertama. Pembahasan mengenai proses penciptaan, ditiupkannya ruh, sujudnya para malaikat, kemaksuman, diturunkannya ke bumi adalah pembahasan kalam dan riwayat.

Asal Muasal Nama Adam

Adam tidak berasal dari Bahasa Arab. Kata ini digunakan dalam kisah penciptaan manusia yang terdapat dalam kitab Taurat. Namun jika mencari akar katanya dari Bahasa Ibrani juga tidak ditemukan kejelasan. Muannats dari kata ini yaitu Adamah ( اَدَمَه ) terdapat dalam Bahasa Ibrani yang artinya tanah. Akar ء د م dalam bahasa Ibrani memiliki arti merah yang menunjukkan warna pada tanah yang dari itu Adam diciptakan.[1]

Sebab Penamaan

Meskipun Adam tidak berasal dari bahasa Arab, namun sebagian Mufassir menyebutkan penyebutan nama ini berdasarkan bahasa Arab. Seperti misalnya, kata Adam diambil dari istilah " ادیم‌الارض ", karena manusia diciptakan berasal dari tanah.[2] Raghib Esfahani menyebutkan 4 alasan penamaan Adam pada manusia pertama:

  • Karena tubuh Adam berasal dari tanah yang diambil dari bumi ( ادیم ).
  • Karena kulitnya berwarna kecoklat-coklatan.
  • Karena ia diciptakan dari beragam unsur dan juga kekuatan yang berbeda-beda. اُدْمهَ artinya kasih sayang dan pencampuran.
  • Karena ia bersumber dari ruh dan wewangian Ilahi. اِدام artinya makanan yang berbau wangi.[3]

Adam dalam Literatur Islam

Pembahasan mengenai Adam dan proses penciptaannya dalam agama Islam memiliki posisi yang penting. Adam dalam pandangan Islam adalah Nabi yang pertama. Karena itu, kaum Muslimin ketika hendak menunjukkan silsilah kenabian menyebutkan dari Adam hingga penutup para Nabi. Setiap pembahasan mengenai Adam dalam kitab tafsir, hadis, sejarah maupun adab selalu disertai dengan penjelasan dari ayat-ayat Alquran. Dalam Alquran, nama Adam disebutkan 25 kali. Penjelasan mengenai proses penciptaannya disebutkan dalam surah al-Baqarah, Al-A’raf, Al-Hijr, Al-Isra', Thaha dan Shad.

Para Mufasir berdasarkan ayat-ayat Alquran mengklasifikasikan pembahasan mengenai Adam dalam beberapa tema bahasan. Diantaranya sebagai berikut:

Khalifah Tuhan

Kata “khalifah” dalam ayat yang ketika Allah swt berfirman, ”Aku akan ciptakan khalifah di muka bumi.”[4] itu artinya apa?. Para Mufassir memiliki pandangan yang beragam mengenai hal tersebut, namun mayoritas mengatakan yang dimaksud khalifah adalah wakil Tuhan di muka bumi. Juga terdapat sejumlah riwayat yang berbeda-beda mengenai hal tersebut, namun para Mufassir lebih menguatkan pendapat yang dimaksud khalifah adalah wakil Tuhan. [5]

Dialog Tuhan dengan Malaikat mengenai Penciptaan Adam

Pada dialog antara Tuhan dengan malaikat mengenai penciptaan Adam, disebutkan malaikat berkata kepada Allah swt, “Apakah Engkau hendak menciptakan di muka bumi seseorang yang akan berperang dan saling menumpahkan darah?”.[6]

Yang menjadi pertanyaan, darimana para malaikat mengetahui bahwa umat manusia akan terjebak pada situasi saling berperang dan saling membunuh satu sama lain? Mengenai hal ini para Mufassir memiliki pandangan yang beragam dengan menyertakan riwayat masing-masing sebagai penguat.

Thabari dengan menukil banyak riwayat mengajukan beragam pendapat sebagai berikut: Sebagian mengatakan, sebelum manusia diciptakan, telah terlebih dulu ada umat Jin di muka bumi, yang mereka gemar berperang dan saling menumpahkan darah satu sama lain. Melihat itu, para malaikatpun menilai nasib umat manusia juga akan sama dengan umat jin tersebut.

Sebagian juga mengatakan, ketika Allah swt berfirman hendak menciptakan manusia di muka bumi, para malaikat bertanya, bagaimana keadaan mereka kelak? Allah swt menjawab, mereka akan saling berperang dan menumpahkan darah. Karenanya malaikat bertanya, “Untuk apa Engkau menciptakan mereka?”. Allah swt berfirman, “Mengenai takdir umat manusia, baik mengenai kebaikan maupun keburukannya Aku sangat mengetahuinya, yang kalian tidak mengetahuinya.”

Sebagian lagi mengatakan, ketika Allah swt belum menciptakan manusia, Dia menyampaikan informasi mengenai Adam, yang sebagian lainnya Dia rahasiakan, sehingga para malaikat hanya bertanya mengenai informasi yang telah mereka dapatkan.[7]

Thabrisi dalam kitabnya mengajukan tiga pendapat:

  1. Sebelum manusia diciptakan, telah ada umat Jin di muka bumi, yang mereka saling menumpahkan darah, sehingga malaikat menganalogikan nasib umat manusia tidak akan berubah dengan keadaan umat Jin tersebut.
  2. Pertanyaan malaikat berupa keinginan untuk mencari tahu, apakah kehidupan manusia kelak diantara mereka saling menumpahkan darah atau tidak.
  3. Allah swt sendiri yang menyampaikan kepada para malaikat, bahwa nasib manusia kelak akan seperti itu. Namun sebagiannya Allah swt tetap rahasiakan sehingga malaikat tetap yakin pada hikmah dan ilmu Allah swt.[8]

Peniupan Ruh Tuhan pada Jasad Adam

Dalam surah al-Hijr dan Shad, Allah swt menyebutkan ruh-Nya sendiri yang telah ditiupkan-Nya kepada jasad Adam. Demikian pula pada ayat lain, pada proses penciptaan Nabi Isa as, kata "ruh" dinisbatkan kepada Allah swt. Apa maksud dari penisbatan "ruh" kepada Allah?. Mufassir mengemukakan sejumlah pandangan mengenai hal ini.

Disebutkan, yang dimaksud “telah Kutiupkan ruh-Ku padanya” adalah pemberian kehidupan kepada Adam dengan cara memberikan ruh kepadanya. Penyebutan “Ruh-Ku” dimaksudkan sebagai bentuk pemuliaan nabi Adam as.[9]Allah swt menyebut ruh Adam sebagai ruh-Nya untuk memuliakan dan mengagungkan Adam.[10] Sementara maksud kata “meniupkan” yang tersebut dalam ayat adalah ruh itu diberikan kepada jasad manusia bukan sebagaimana masuknya udara kedalam tubuh manusia. [11]

Sujudnya Malaikat atas Adam

Berdasarkan ayat-ayat Alquran, para malaikat sujud kepada Nabi Adam as, sebagaimana perintah Allah swt sendiri. Mengingat sujud yang diyakini kaum Muslimin adalah bentuk ibadah khusus yang sesungguhnya hanya untuk Allah swt dan ketika sujud kepada selain-Nya, maka akan terkategorikan kafir dan musyrik. Bagaimana mensinkronkan hal ini?

Para Mufassir mengatakan, sujud yang diperintahkan Allah swt kepada para malaikat untuk melakukannya dihadapan Nabi Adam as, bukanlah sujud penyembahan, melainkan sujud penghormatan. Sujud yang para malaikat lakukan untuk Nabi Adam as adalah salam penghormatan dan bentuk pemuliaan mereka atas ciptaan Allah swt tersebut.

Hawa

Pada kisah mengenai Nabi Adam as sering disebutkan nama istrinya Hawa. Dalam Alquran mendapatkan khitab tiga kali bahwa Allah menciptkan kalian dari diri yang satu, dan dari padanya Dia menciptakan istrinya.[12]

Surga Adam

Surga Adam adalah tempat kediaman pertama Adam as dan Hawa pada awal peciptaan mereka. Surga Adam disebutkan tiga kali dalam Alquran.[13] Di dalam surga ini, Adam dan Hawa mendapatkan segala bentuk kenikmatan, namun mereka bedua diperingatkan supaya jangan mendekati satu pohon dan jangan makan buahnya. Adam dan Hawa atas rayuan setan memakan buhan pohon terlarang tersebut dan akibatnya mereka dikeluarkan dari surga.[14]

Terkait posisi surga Adam ada tida pendapat; kebun di bumi,[15]surga barzah di langit[16] dan surga mau'ud (yang dijanjikan).[17]

Turun

"Hubuth" secara linguistik berarti "turun secara terpaska".[18] dan dalam istilah adalah kisah keluarnya Adam dan Hawa dari surga. Dalam beberapa ayat, Allah mengisyaratkan tentang kisah tersebut: "Turunlah kamu!sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".[19] Mengenai "hubuth" ini terdapat beragam pendapat di antara para ulama dan mufassir. sebagian mereka meyakini bahwa makna "hubuth" (turun) ini bukan jasmani melainkan hubuth maqami (turun secara kedudukan).[20]

Pohon Terlarang

Allah swt mengizinkan Adan dan Hawa untuk memakan buah dari setiap pohon kecuali satu pohon. Thabari menukil riwayat yang beragam dari Ibnu Abbas, Abu Malik, Abu ‘Athiah, Qatadah dan perawi lainnya, bahwa pohon terlarang itu adalah gandum. Pada riwayat lain disebutkan buah terlarang tersebut adalah anggur atau pohon tin. Thusi selain juga menukil riwayat bahwa pohon tersebut adalah gandum, anggur dan tin, juga menukil riwayat dari Imam Ali As yang menyebut pohon tersebut adalah pohon Kamfor (kapur).[21]

Akhirnya, dengan rayuan setan Adam dan Hawa memakan buah pohon terlarang tersebut dan dikeluarkan dari surga.

Kemaksuman Nabi Adam as

Kisah penciptaan Nabi Adam as berhubungan erat dengan kemaksuman para nabi. Berdasarkan akidah kaum muslimin, dikarenakan para nabi adalah penyampai pesan Ilahi kepada umat dan bertanggungjawab atas semua permasalahan duniawi dan ukhrawi umat manusia, maka sudah semestinya mereka itu terbebas dari dosa dan kesalahan.

Namun terkait kisah penciptaan Adam dan kehidupannya terdapat beberapa ayat yang jika dipandang dari sisi kemaksuman para nabi mesti dibahas. Ayat-ayat yang menyebut, “Syaitan telah menjerumuskan Adam dan Hawa sehingga dikeluarkan dari surga.”[22] atau, “Adam mengakui kesalahannya dan mengaku telah terpedaya yang dengan itu mengatakan kepada Allah swt, “aku telah menzalimi diriku sendiri.”[23]atau “Syaitan telah meniupkan rasa was-was kepada keduanya, sehingga keduanya melanggar perintah Tuhan dan menjadi tersesat.”[24]dan pada ayat-ayat lainnya.

Jawaban singkat dan sederhana dari Mufassir terkait kejanggalan ini adalah, ketika Adam melakukan kesalahan ia berada di surga dan tidak ada taklif (kewijaban) di sana[25]atau saat itu ia belum memiliki kedudukan kenabian, atau apa yang dilakukan Nabi Adam as saat itu adalah meninggalkan yang lebih utama, bukan dosa.[26]

Catatan Kaki

  1. Judaika, jld. 2, hlm. 235; Hastings, jld. 1. Hlm. 84.
  2. Judaika, jld. 2, hlm. 235; Hastings, jld. 1. Hlm. 84.
  3. Jld. 1, hlm. 38.
  4. Qs. Al-Baqarah: 30.
  5. Syaikh Thusi, jld. 2, hlm. 165.
  6. Qs. Al-Baqarah: 30.
  7. Thabari, Jami' al-Bayan, jld. 1, hlm. 157-166.
  8. Thabrisi, Majma' al-Bayan, Jld. 1, hlm. 74.
  9. Thusi, al-Tibyan, jld. 6, hlm. 323.
  10. Fakhrurazi, al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib), jld. 19, hlm. 182.
  11. Thabathabai, al-Mizan, jld. 12, hlm. 154.
  12. Qs. An-Nisa: 1; Qs. Al-A’raaf: 189; Qs. Az-Zumar: 6.
  13. Q.S. Al-Baqarah: 35; Al-A'raf: 19 dan 20; Thaha: 115, 117 dan 120
  14. Lihat:Surah Al-Baqarah: 35; Al-A'raf:19 dan 20; Thaha: 115, 117 dan 120
  15. Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, hlm.452
  16. Thabathabai, al-Mizan, jld.1, 132
  17. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.11, hlm.143
  18. Raghib Isfahani, Mufradat Alfazh Quran, hlm.832
  19. Q.S. Al-Baqarah: 36
  20. Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, jld.1, hlm.99
  21. Jld. 1, hlm. 157.
  22. Qs. Al-Baqarah: 36.
  23. Qs. Al-A’raaf: 22 dan 23.
  24. Qs. Thaha: 120 dam 121.
  25. Makarim Syirazi, Tafsir Nimuneh, jld.13, hlm.318; lihat juga: Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, jld,.11, hlm. 519
  26. Thabathabai, al-Mizan, jld.14, hlm.222

Daftar Pustaka

  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali, Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, diteliti oleh Abdul qadir Syaibah al-Hamad. Riyad: Maktabah Malik al-Fahd, 1421.
  • Azhari, Muhammad bin Ahmad. Tahdzib al-Lughah. Beirut: Dar Ihya al-Arabi, 1421 H.
  • Judaika, pada item Adam.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat al-Fazh al-Quran. Beirut: Dar al-Syamiyah, 1412 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar alRidha as. Tehran: Nasyr Shaduq, 13 72 HS.
  • Zubaidi Muhammad Murtadha, Taj al-‘Arus.
  • Thabathabai, Muhammad Husain. Al-Mizān fi Tafsir al-Quran. Beirut: Muassasah al-‘Ilmi, 1973.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma’ al-Bayān. Qom: Kitab Khaneh Ayatullah Mara’asyi, 1403 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārikh. Riset: Yan Dakhviah, Leiden, 1879-1881.
  • Thabari, Muhammad bin Jariri. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Quran (Tafsir Thabari). Beirut: Dar al-Makrifah, 1412 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tanpa tahun.
  • Fakhrurazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H.
  • Qurasyi, Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Tehran: Nasyr Bi'tsat, 1377 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: al-Wafa, 1403 H.
  • Hastings, item Adam.