Konsep:Zikir Lisan
Zikir Lisan (Persia: ذکر لفظی; Dzikr Lfadzhi) atau zikir lisan merujuk pada mengingat Allah dengan lidah.[1] Zikir lisan adalah tingkatan pertama dari zikir di mana manusia mengucapkan nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan lidah tanpa memperhatikan konsep-konsepnya secara penuh, seperti orang-orang yang salat yang hanya membaca lafal-lafalnya saja tanpa memahami makna salat.[2] Allamah Majlisi menganggap setiap ucapan yang memiliki arah ketuhanan, seperti doa, Al-Qur'an, zikir asma dan sifat Allah, berita dan riwayat Ahlulbait as, serta pembahasan fikih sebagai zikir lisan.[3] Dalam Al-Qur'an dan riwayat-riwayat juga ditekankan pada zikir lisan, seperti ayat 9 Surah Al-Jumu'ah,[4] ayat 8 Surah Al-Muzzammil,[5] dan riwayat Imam ash-Shadiq as yang menyatakan nasihat Allah kepada Nabi Isa as mengenai menghidupkan ingatan kepada-Nya di lisan dan mengecap lezatnya berbicara dengan-Nya.[6]
Dalam doa-doa Ahlulbait as termasuk Doa Kumail, senantiasa dimohon kepada Allah agar menjalankan zikir-Nya pada lidah mereka "Waj'al lisani bi-dzikrika lahija" (Dan jadikanlah lidahku senantiasa menyebut zikir-Mu).[7] Dalam tasawuf, zikir lisan dikenal sebagai "zikir jali" di mana orang-orang mengulang-ulang zikir dengan suara keras dan dengan gerakan tertentu dalam lingkaran-lingkaran zikir.[8]
Dalam ilmu Akhlak, zikir lisan tidak dianggap tidak efektif; karena merupakan pendahuluan untuk mencapai tahapan zikir yang lebih tinggi dan selalu disertai dengan perhatian secara garis besar, misalnya orang yang salat secara garis besar mengetahui bahwa ia menghadap Allah dan mendirikan Salat untuk-Nya, dan perhatian singkat inilah yang mencegah manusia masuk ke dalam jurang kelalaian.[9]
Para ulama ilmu akhlak berpendapat bahwa dalam zikir lisan, karena lidah sedang sibuk, setidaknya ia menghindari dari melakukan maksiat-maksiat lisan, dan jika zikir lisan menjadi permanen, mungkin akan memberikan pengaruh pada kalbu juga.[10]
Pengaruh lain yang disebutkan untuk zikir lisan adalah bahwa setiap anggota tubuh harus memiliki bagian dari ibadah dan penghambaan kepada Allah, dan bagian lidah dari ibadah adalah mengucapkan zikir Allah. Dalam sebuah riwayat dari Imam al-Baqir as, zikir didefinisikan untuk tujuh bagian tubuh di mana zikir lidah adalah hamd (pujian) dan tsana' (sanjungan).[11]
Untuk zikir lisan, contoh-contohnya telah disebutkan dalam riwayat dan buku-buku agama. Tilawah Al-Qur'an,[12] Zikir Yunusiyah, zikir-zikir seperti "La ilaha illallah", "La haula wala quwwata illa billah", "Ya Hayyu Ya Qayyum", "Subhanallah", mengulang Azan bersama Muazin,[13] dan zikir Selawat adalah di antara contoh-contoh yang disebutkan untuk zikir lisan.[14]
Sebagian meyakini bahwa ketika zikir kalbu telah tercapai, maka zikir lisan tidak lagi diperlukan. Namun pendapat ini ditolak dengan bersandar pada sirah Ahlulbait as; karena mereka senantiasa menganggap zikir lisan itu perlu dan tidak menganggap pencapaian zikir kalbu sebagai penafi zikir lisan.[15]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Qurasyi, Qamus-e Qur'an, 1412 H, jld. 3, hlm. 15.
- ↑ Makarim Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 HS, jld. 1, hlm. 361.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 72, hlm. 32.
- ↑ Musthafawi, Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, 1402 H, jld. 3, hlm. 318.
- ↑ Makarim Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 HS, jld. 1, hlm. 362.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 132-133.
- ↑ Ibnu Thawus, Iqbal al-A'mal, 1376 HS, jld. 1, hlm. 101; jld. 3, hlm. 337.
- ↑ "Jasynegah-e Dzikr-e Lafzhi va Qalbi dar Irfan-e Islami" (Kedudukan Zikir Lisan dan Kalbu dalam Irfan Islam).
- ↑ Makarim Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 HS, jld. 1, hlm. 361.
- ↑ Nassaji, "Dzikr-e Khoda Ilham-bakhsy-e Qolub" (Zikir Allah Pemberi Ilham bagi Kalbu).
- ↑ Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, jld. 2, hlm. 404, dinukil dari Syafi'i, "Dzikr", hlm. 814.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 498-499.
- ↑ Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 288.
- ↑ Khani, "Ayin-ha-ye Dzikr dar Revayat-e Islami va Jasynegah va Karkerd-e Ijtema'i-ye An-ha" (Tradisi Zikir dalam Riwayat Islam serta Kedudukan dan Fungsi Sosialnya), hlm. 73-74.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 499, dinukil dari "Jasynegah-e Dzikr-e Lafzhi va Qalbi dar Irfan-e Islami".
Daftar Pustaka
- Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Iqbal bi al-A'mal al-Hasanah. Korektor: Javad Qayyumi Isfahani. Qom, Daftar-e Tablighat-e Islami, 1376 HS.
- Khani, Hamid. "Ayin-ha-ye Dzikr dar Revayat-e Islami va Jasynegah va Karkerd-e Ijtema'i-ye An-ha" (Tradisi Zikir dalam Riwayat Islam serta Kedudukan dan Fungsi Sosialnya). Jurnal Shahifah Mobin, nomor 53, 1392 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nasir. Akhlaq dar Qur'an (Akhlak dalam Al-Qur'an). Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, 1377 HS.
- Musthafawi, Hasan. Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Markaz al-Kitab li al-Tarjamah va al-Nasyr, 1402 H.
- Nassaji, Zahra. "Dzikr-e Khoda Ilham-bakhsy-e Qolub" (Zikir Allah Pemberi Ilham bagi Kalbu). Jurnal Pasdar-e Islam, nomor 240, 1380 HS.
- Qurasyi, Ali Akbar. Qamus-e Qur'an (Kamus Al-Qur'an). Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1412 H.
- Syafi'i, Said. "Dzikr" (Zikir). Dalam Danesynameh Jahan-e Islam (Ensiklopedia Dunia Islam). Teheran, Bonyad-e Da'irah al-Ma'arif-e Islami, 1392 HS.
- Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Korektor: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Jami'ah al-Mudarrisin, 1362 HS.
- Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Korektor: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Penerbit Islami, 1413 H.