Konsep:Wahyu Tabyini
Wahyu Tabyini (Wahyu Penjelasan) adalah salah satu jenis Wahyu yang bermakna penerimaan hakikat-hakikat mengenai penjelasan dan penafsiran ajaran-ajaran agama. Menurut pandangan Ja'far Subhani, jenis wahyu ini sama dengan Tahdits dan ditujukan bagi selain para nabi as, sementara apa yang diwahyukan kepada para nabi as adalah Wahyu Tasyri'i. Sebaliknya, Behjatpour menganggap wahyu ini sebagai lawan dari wahyu Al-Qur'an dan khusus bagi Nabi Muhammad saw yang diturunkan kepada beliau setelah setiap wahyu Al-Qur'an. Dikatakan bahwa wahyu ini, berbeda dengan wahyu tanzili, diturunkan secara sekaligus dan bukan dalam bentuk lafal.
Dalam menjelaskan perbedaan wahyu ini dengan Wahyu Tasyri'i, dinyatakan bahwa wahyu tasyri'i khusus bagi para nabi as dan telah berakhir dengan berakhirnya kenabian. Selain itu, wahyu tabyini, berbeda dengan wahyu tasyri'i, biasanya diturunkan secara langsung tanpa perantara malaikat wahyu. Poin pembeda wahyu tabyini dengan Wahyu Tasdidi atau ilham adalah bahwa ilham bukan mengenai syariat dan agama, melainkan dalam hal-hal seperti kabar mengenai peristiwa masa depan, pemberian ketenangan, serta instruksi personal maupun sosial yang dibisikkan ke dalam hati orang yang layak.
Pengenalan dan Kedudukan
Wahyu tabyini, bersandingan dengan wahyu tasyri'i dan wahyu tasdidi (ilham), dianggap sebagai salah satu jenis wahyu.[1] Terdapat berbagai pendapat mengenai hakikat dan definisi jenis wahyu ini:
- Ja'far Subhani, salah seorang marja taklid dan teolog Syiah, menganggap jenis wahyu ini ditujukan bagi selain nabi as, sementara wahyu tasyri'i khusus untuk para nabi as.[2] Menurut keyakinannya, dalam jenis wahyu ini, seseorang menerima hakikat dari alam Rububiyah untuk menjelaskan dan menafsirkan apa yang telah diturunkan kepada nabi as melalui wahyu tasyri'i namun karena alasan tertentu belum sempat dijelaskan dan ditafsirkan.[3] Beliau menganggap istilah Muhaddats merujuk pada jenis wahyu ini.[4]
- Abdolkarim Behjatpour, peneliti ilmu Al-Qur'an, meyakini bahwa wahyu tabyini diturunkan untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an dan menyusul setelah turunnya setiap ayat kepada Nabi saw.[5] Untuk membuktikan klaimnya, ia bersandar pada Ayat 18 dan 19 Surah Al-Qiyamah yang menganggap penurunan dan penjelasan ayat Al-Qur'an adalah tanggung jawab Allah.[6] Behjatpour menganggap tingkat pengungkapan wahyu ini oleh Nabi saw bergantung pada kondisi sosial masa itu dan meyakini bahwa dikarenakan kondisi sosial yang belum siap, mungkin saja Nabi saw tidak menjelaskan tabyin wahyu Al-Qur'an tersebut.[7] Dari pandangannya, segala sesuatu yang diperlukan untuk penjelasan wahyu Al-Qur'an telah diturunkan kepada Nabi saw dan beliau telah menitipkannya kepada Ahlulbait as untuk disampaikan pada saat yang tepat.[8]
- Menurut keyakinan beberapa peneliti, wahyu tabyini berada di posisi seberang wahyu tanzili. Wahyu ini diturunkan secara padu dan sekaligus (daf'i) serta bukan dalam jenis lafal.[9]
Sayid Murtadha Askari (wafat: 1386/2007-08), penulis sirah dan sejarawan, dalam menjawab pertanyaan mengenai alasan tidak disebutkannya nama Imam Ali as dalam Al-Qur'an, menekankan keberadaan wahyu bayani (penjelasan) di samping wahyu Al-Qur'an.[10] Menurut keyakinannya, jika nama Imam Ali as disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an, maka Al-Qur'an akan menjadi sasaran serangan dan distorsi oleh para penentang beliau.[11] Oleh karena itu, wilayah dan imamah beliau diturunkan dalam bentuk wahyu bayani, bukan wahyu Al-Qur'an.[12] Beliau meyakini bahwa penjelasan dan keterangan seluruh syariat telah diturunkan kepada Nabi saw dan telah disampaikan oleh beliau kepada Imam Ali as serta para Imam as.[13]
Perbedaan dengan Wahyu Tasyri'i
Wahyu tasyri'i khusus bagi para nabi as yang telah berakhir dengan berakhirnya kenabian.[14] Menurut keyakinan kaum Muslimin, seluruh Al-Qur'an adalah wahyu dan berasal dari sisi Allah.[15] Penggunaan wahyu terbanyak dalam Al-Qur'an dianggap merujuk pada wahyu tasyri'i.[16] Dikatakan bahwa wahyu tasyri'i umumnya diturunkan kepada Nabi saw melalui perantara malaikat wahyu, berbeda dengan wahyu tabyini yang dibisikkan secara langsung ke dalam hati Nabi saw.[17]
Perbedaan dengan Wahyu Tasdidi
Ilham atau wahyu tasdidi adalah penerimaan hakikat non-tasyri'i kepada manusia-manusia yang dekat dengan Allah (muqarrab).[18] Dalam jenis wahyu ini, sebuah hakikat dari sisi Allah dibisikkan ke dalam hati individu yang memiliki kelayakan. Sebagaimana ilham kepada para Imam maksum as[19] dan para wali Allah.[20] Ilham bukan bertujuan untuk menjelaskan syariat; melainkan isinya dapat berupa instruksi personal, panduan sosial, kabar mengenai peristiwa masa depan, pemberian ketenangan, dan hal-hal semacam itu.[21]
Catatan Kaki
- ↑ Ya'qubian, Haqiqat-e Wahyu, 1398 HS, hal. 29.
- ↑ Subhani, Madkhal-e Masayel-e Jadid-e Ilm-e Kalam, 1382 HS, jld. 2, hal. 23; Subhani, "Tabyin-e Wahyu", hal. 7.
- ↑ Subhani, Madkhal-e Masayel-e Jadid-e Ilm-e Kalam, 1382 HS, jld. 2, hal. 23; Subhani, "Tabyin-e Wahyu", hal. 7.
- ↑ Subhani, Madkhal-e Masayel-e Jadid-e Ilm-e Kalam, 1382 HS, jld. 2, hal. 23; Subhani, "Tabyin-e Wahyu", hal. 7.
- ↑ Behjatpour, "Tafawut-e Wahyu-ye Qur'ani wa Wahyu-ye Tabyini", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Behjatpour, "Tafawut-e Wahyu-ye Qur'ani wa Wahyu-ye Tabyini", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Behjatpour, "Tafawut-e Wahyu-ye Qur'ani wa Wahyu-ye Tabyini", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Behjatpour, "Tafawut-e Wahyu-ye Qur'ani wa Wahyu-ye Tabyini", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Zadeh-Hush, Nasiri, dan Mansouri, "Imtiyaz-e Wahyu-ye Tanzil (Ma Unzila) az Wahyu-ye Tabyini (Ma Nazzala)", hal. 140.
- ↑ Askari, "Chera Nam-e Imam Ali (as) dar Qur'an nist?", Situs Markaz al-Allamah al-Askari li al-Dirasat al-Islamiyyah.
- ↑ Askari, "Chera Nam-e Imam Ali (as) dar Qur'an nist?", Situs Markaz al-Allamah al-Askari li al-Dirasat al-Islamiyyah.
- ↑ Askari, "Chera Nam-e Imam Ali (as) dar Qur'an nist?", Situs Markaz al-Allamah al-Askari li al-Dirasat al-Islamiyyah.
- ↑ Askari, Wilayat-e Ali (as) dar Qur'an Karim wa Sonnat-e Payambar, 1381 HS, hal. 48.
- ↑ Subhani, Madkhal-e Masayel-e Jadid-e Ilm-e Kalam, 1382 HS, jld. 2, hal. 23; Subhani, "Tabyin-e Wahyu", hal. 7; Ya'qubian, Haqiqat-e Wahyu, 1398 HS, hal. 29.
- ↑ Jawadi Amuli, Wahyu wa Nobowwat dar Qur'an, 1385 HS, hal. 55.
- ↑ Ya'qubian, Haqiqat-e Wahyu, 1398 HS, hal. 29.
- ↑ Nouri, "Wahyu-ye Qur'ani wa Pasokh beh Syobahat-e an", hal. 118.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hal. 373.
- ↑ Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, 1422 H, jld. 1, hal. 446
- ↑ Shadr al-Muta'allihin, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, hal. 100; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 7, hal. 393.
- ↑ Jawadi Amuli, Adab-e Fanay-e Moqarraban, 1388 HS, jld. 1, hal. 141.
Daftar Pustaka
- Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Karim. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Amuli, Sayid Haidar. Tafsir al-Muhith al-A'zham wa al-Bahr al-Khidhim. Teheran, Percetakan dan Publikasi Kementerian Bimbingan Islam, Cetakan Ketiga, 1422 H.
- Askari, Sayid Murtadha. "Chera Nam-e Imam Ali (as) dar Qur'an nist?". Situs Markaz al-Allamah al-Askari li al-Dirasat al-Islamiyyah.
- Askari, Sayid Murtadha. Wilayat-e Ali (as) dar Qur'an Karim wa Sonnat-e Payambar. Teheran, Munir, 1381 HS.
- Behjatpour, Abdolkarim. "Tafawut-e Wahyu-ye Qur'ani wa Wahyu-ye Tabyini". Situs Kantor Berita Mehr, 24 Syahrivar 1395 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Adab-e Fanay-e Moqarraban. Qom, Nasyr-e Esra, Cetakan Kelima, 1388 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Wahyu wa Nobowwat dar Qur'an. Qom, Nasyr-e Esra, 1385 HS.
- Nouri, Shahla. "Wahyu-ye Qur'ani wa Pasokh beh Syobahat-e an". Jurnal Bayyinat, No. 4, Tahun 23, Musim Dingin 1395 HS.
- Sadegh al-Muta'allihin, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Nasyr-e Bidar, Cetakan Kedua, 1366 HS.
- Subhani, Ja'far. "Tabyin-e Wahyu". Kalam-e Eslami, No. 26, Musim Panas 1377 HS.
- Subhani, Ja'far. Madkhal-e Masayel-e Jadid-e Ilm-e Kalam. Qom, Muassasah Imam Sadiq as, 1382 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Nasyr Jami'ah Mudarrisin, Cetakan Kelima, 1417 H.
- Ya'qubian, Mohammad Hossein. Haqiqat-e Wahyu ba Takid bar Didgah-e Falasifeh. Teheran, Lembaga Riset Budaya dan Pemikiran Islam, 1398 HS.
- Zadeh-Hush, Meisam dkk. "Imtiyaz-e Wahyu-ye Tanzili (Ma Unzila) az Wahyu-ye Tabyini (Ma Nazzala) wa Naqsy-e an dar Adam-e Tahrif-e Qur'an". Jurnal Qur'an, Farhang wa Tamaddun, No. 3, Tahun Ketiga, Musim Gugur 1401 HS.