Lompat ke isi

Konsep:Menyembunyikan Kesaksian

Dari wikishia

Menyembunyikan Kesaksian atau Ketman Syahadat adalah tindakan menahan diri untuk tidak memberikan kesaksian yang telah disaksikan di hadapan otoritas yang berwenang. Perbuatan ini dianggap sebagai salah satu bentuk penyembunyian kebenaran yang dicela dalam Al-Qur'an dan hadis. Menyembunyikan kesaksian termasuk dalam Dosa-dosa Besar dan hukumnya adalah Haram. Dalam mengistinbatkan hukumnya, para fukaha bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an, riwayat-riwayat yang sampai dari Empat Belas Manusia Suci, serta beberapa kaidah fikih seperti Kaidah La Dharar. Para fukaha menganggap pemberian kesaksian sebagai Wajib Kifayah.

Menurut para pakar hukum, kriminalisasi terhadap perbuatan menyembunyikan kesaksian memiliki latar belakang sejarah lebih dari empat ribu tahun. Statusnya sebagai tindak pidana telah dijadikan undang-undang di beberapa negara.

Definisi dan Urgensi

Menyembunyikan kesaksian (ketman asy-syahadah) didefinisikan sebagai penolakan untuk menyampaikan kesaksian yang telah disaksikan di hadapan otoritas yang berwenang.[1] Templat:Y Menurut pandangan fukaha dan pakar hukum, pemberian kesaksian dalam sistem hukum merupakan cara yang paling nyata untuk membuktikan sebuah klaim.[2] Kewajiban memberikan kesaksian dan konsekuensi keharusan untuk tidak menyembunyikannya dikemukakan dalam konteks hak-hak manusia; sementara dalam hak-hak Allah seperti dosa-dosa seksual, pemberian kesaksian tidak hanya dianggap tidak wajib, melainkan juga dipandang sebagai hal yang tercela.[3] Menyembunyikan kesaksian dalam fikih Syiah dan undang-undang sosial merupakan lawan dari pemberian kesaksian dan berkaitan erat dengan Tahammul asy-Syahadah.[4] Dalam hal ini, pembuat undang-undang menganggap bahwa kapan pun tahammul asy-syahadah itu wajib, maka memberikannya pun menjadi wajib.[5] Al-Qur'an dalam Ayat 106 Surah Al-Ma'idah dan Ayat 140 Surah Al-Baqarah menyebut penyembunyian kesaksian sebagai dosa hati dan kezaliman.[6] Berdasarkan hadis, orang yang menyembunyikan kesaksian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dengan wajah yang gelap.[7] Para peneliti menyatakan bahwa menyembunyikan kesaksian tidak hanya haram menurut pandangan Al-Qur'an dan termasuk Dosa-dosa Besar, tetapi pelakunya juga diancam dengan azab.[8] Dikatakan bahwa dalam fikih Syiah tidak disebutkan hukuman duniawi untuk perbuatan menyembunyikan kesaksian.[9]

Hukum Fikih Menyembunyikan Kesaksian

Para fukaha Syiah terbagi menjadi dua kelompok mengenai hukum syar'i menyembunyikan dan memberikan kesaksian. Sebagian meyakini keharaman menyembunyikannya, sementara yang lain—berdasarkan riwayat-riwayat yang menganggap manusia memiliki pilihan dalam memberikan kesaksian—menerima bahwa perbuatan tersebut tidak haram.[10] Kesaksian yang menimbulkan kerugian (dharar) dan kesulitan (haraj) disepakati oleh para fukaha sebagai hal yang tidak wajib. Dasar dari hukum ini adalah dalil-dalil umum peniadaan dharar dan haraj serta Ayat 283 Surah Al-Baqarah yang menjelaskan tentang tidak bolehnya memberikan kerugian kepada saksi.[11]

Dalil-dalil Fikih Keharaman Menyembunyikan Kesaksian

Dalam melakukan istinbat mengenai haramnya menyembunyikan kesaksian, para fukaha bersandar pada hadis-hadis, Kaidah La Dharar,[12] serta ayat-ayat seperti Ayat 283 Surah Al-Baqarah; Ayat 282 Surah Al-Baqarah;[13] Ayat 135 Surah An-Nisa, dan Ayat 106 Surah Al-Ma'idah. Beberapa peneliti juga menganggap tindakan tidak memberikan kesaksian sebagai contoh dari menyembunyikan hak, dan berargumen dengan ayat-hal yang melarang penyembunyian kebenaran seperti ayat 159 dan Ayat 174 Surah Al-Baqarah.[14]

Perbedaan Fatwa mengenai Keharaman Menyembunyikan Kesaksian

Beberapa pandangan fukaha mengenai hukum syar'i menyembunyikan kesaksian adalah sebagai berikut:

  • Keharaman menyembunyikan kesaksian dan kewajiban untuk memberikannya. Syahid Tsani dalam kitab Masalik al-Afham menisbatkan teori ini kepada seluruh fukaha Syiah.[15]
  • Sebagian fukaha Syiah menganggap keharaman menyembunyikan kesaksian dan kewajiban memberikannya bersifat kondisional, yaitu pada kasus di mana pemilik hak meminta saksi untuk menyaksikan peristiwa tersebut. Namun jika tidak demikian, fukaha terdahulu yang masyhur seperti Syekh Thusi, Abu al-Salah, dan Ibnu Junaid tidak menganggap pemberian kesaksian sebagai hal yang wajib.[16] Sebagian tokoh seperti Shahib al-Riyadh menganggap pemberian kesaksian jika diminta untuk menyaksikan sebagai Wajib Aini, dan jika tidak diminta sebagai Wajib Kifayah.[17] Sayyid Shadiq Rohani dalam kitab Fiqh al-Shadiq juga mewajibkan pemberian kesaksian dalam kondisi saksi mengetahui bahwa dengan penyembunyian tersebut, hak dari pemilik hak akan terabaikan.[18]
  • Pemberian kesaksian adalah wajib kifayah dan hanya menjadi wajib jika dikhawatirkan adanya kerugian pada kebenaran. Ini dianggap sebagai pendapat Allamah Hilli dalam kitab al-Mukhtalaf.[19]
  • Menurut keyakinan Ibnu Barraj, salah seorang murid Syekh Thusi, kewajiban memberikan kesaksian dan keharaman menyembunyikannya berlaku jika saksi diminta untuk bersaksi dan pemberian kesaksian tersebut tidak mengakibatkan kerugian pada agama atau kezaliman terhadap kaum mukminin.[20]

Beberapa peneliti berkeyakinan bahwa jika meninggalkan kesaksian mengakibatkan kerugian dan musnahnya harta, maka saksi dianggap sebagai penanggung jawab (zhamin).[21]

Kriminalisasi Menyembunyikan Kesaksian dalam Hukum

Menurut para pakar hukum, latar belakang pembahasan kriminalisasi menyembunyikan kesaksian merujuk pada masa lebih dari dua ribu tahun sebelum masehi pada masa Hukum Ur-Nammu.[22] Templat:Y Rahim Nobahar, anggota staf pengajar Universitas Syahid Beheshti, menyebutkan kriminalisasi menyembunyikan kesaksian di dunia saat ini di beberapa negara seperti Prancis, Mesir, Maroko, dan Kuwait.[23] Ia meyakini bahwa pada tingkat kriminalisasi, kewajiban memberikan kesaksian adalah untuk membantu penyingkapan kebenaran dan tidak sama dengan penyiksaan untuk mendapatkan informasi.[24] Selain itu, dengan memperhatikan dasar-dasar fikih Syiah untuk kriminalisasi menyembunyikan kesaksian atau kewajiban memberikannya, seseorang dapat bersandar pada alasan seperti keharaman membantu dalam dosa, kewajiban menciptakan penghalang bagi terjadinya hal yang haram, keharusan mencegah kemungkaran, dan kewajiban memberikan kesaksian berdasarkan kemaslahatan sosial.[25]

Beberapa pakar hukum meyakini bahwa meskipun dalam fikih Islam menyembunyikan kesaksian adalah haram, namun terdapat kelalaian dalam kriminalisasinya dalam undang-undang Republik Islam Iran.[26]

Catatan Kaki

  1. Beigi, "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran", hlm. 147.
  2. Sajjadi-nezhad, "Adaye Syahadat dar Feqh va Huquq", hlm. 140.
  3. Sajjadi-nezhad, "Adaye Syahadat dar Feqh va Huquq", hlm. 140.
  4. Al-Amili, Al-Istilahat al-Fiqhiyyah, hlm. 13; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 14, hlm. 263.
  5. Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 110.
  6. Sajjadi-nezhad, "Adaye Syahadat dar Feqh va Huquq", hlm. 140.
  7. Al-Kulaini, Al-Kafi, cetakan Islamiyyah, jld. 7, hlm. 380.
  8. Beigi, "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran", hlm. 153.
  9. Ashrafi, Rezai, "Syahadat-e Dorugh va Ketman-e Syahadat dar Huquq-e Beyn-on-Nahrain va Iran-e Bastan", hlm. 125.
  10. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 14, hlm. 263; Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 41, hlm. 180; Rohani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 25, hlm. 339.
  11. Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 119.
  12. Beigi, "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran", hlm. 151-156; Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 14, hlm. 263; Fuladvand, Terjemahan Al-Qur'an, 1418 H; Sajjadi-nezhad, "Adaye Syahadat dar Feqh va Huquq", hlm. 144; Rohani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 25, hlm. 338.
  13. Khoei, Mausu'ah, 1418 H, jld. 41, hlm. 170; Fuladvand, Terjemahan Al-Qur'an, 1418 H.
  14. Beigi, "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran", hlm. 152; Sajjadi-nezhad, "Adaye Syahadat dar Feqh va Huquq", hlm. 141.
  15. Syahid Tsani, Masalik al-Afham, 1413 H, jld. 14, hlm. 263.
  16. Rohani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 25, hlm. 340.
  17. Rohani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 25, hlm. 340.
  18. Rohani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 25, hlm. 340.
  19. Rohani, Fiqh al-Shadiq as, 1412 H, jld. 25, hlm. 340.
  20. Ibnu Barraj, al-Muhadzdzab, 1406 H, jld. 2, hlm. 560.
  21. Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 126; Ashrafi, Rezai, "Syahadat-e Dorugh va Ketman-e Syahadat dar Huquq-e Beyn-on-Nahrain va Iran-e Bastan", hlm. 125; Hashemi, "Barresi-ye Didgah-e Fariqain nesbat be Hormat-e Ketman-e Syahadat va Vujub-e Adaye an", hlm. 6.
  22. Ashrafi, Rezai, "Syahadat-e Dorugh va Ketman-e Syahadat dar Huquq-e Beyn-on-Nahrain va Iran-e Bastan", hlm. 125; Beigi, "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran", hlm. 150.
  23. Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 96-97.
  24. Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 96-97.
  25. Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 126-139.
  26. Ashrafi, Rezai, "Syahadat-e Dorugh va Ketman-e Syahadat dar Huquq-e Beyn-on-Nahrain va Iran-e Bastan", hlm. 128; Nobahar, "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari", hlm. 151-152; Beigi, "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran", hlm. 149.

Catatan

Templat:Y

Daftar Pustaka

  • Al-Amili, Yasin Isa. Al-Istilahat al-Fiqhiyyah fi al-Rasail al-Amaliyyah. Beirut, Dar al-Balaghah li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi', cetakan pertama, 1413 H.
  • Al-Braj, Abdul Aziz. Al-Muhadzdzab. Qom, Penerbit Kantor Publikasi Islam, cetakan pertama, 1406 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Ashrafi, Arsalan; Rezai, Gholamhossein. "Syahadat-e Dorugh va Ketman-e Syahadat dar Huquq-e Beyn-on-Nahrain-e Bastan, Iran va Islam" (Kesaksian Palsu dan Penyembunyian Kesaksian dalam Hukum Mesopotamia Kuno, Iran dan Islam). Faslnamah Ghazavat, nomor 89, 1396 HS.
  • Beigi, Jamal. "Jerm-angari-ye Ketman-e Syahadat va Chalesy-haye an dar Huquq-e Iran" (Kriminalisasi Penyembunyian Kesaksian dan Tantangannya dalam Hukum Iran). Dofaslnamah Amuzesy-haye Huquq-e Keyfari, nomor 14, 1396 HS.
  • Fuladvand, Mohammad Mahdi. Terjemahan Al-Qur'an. Teheran, Daftar-e Mutala'at-e Tarikh va Ma'arif-e Islami, cetakan ketiga, 1418 H.
  • Hashemi, Mohammad Isa. "Barresi-ye Didgah-e Fariqain nesbat be Hormat-e Ketman-e Syahadat va Vujub-e Adaye an" (Tinjauan Pandangan Dua Pihak terhadap Keharaman Menyembunyikan Kesaksian dan Kewajiban Memberikannya). Dofaslnamah Yafte-haye Huquqi, nomor 1, 1400 HS.
  • Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mausu'ah al-Imam al-Khoei. Qom, Muassasah Ihya al-Atsar al-Imam al-Khoei, cetakan pertama, 1418 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarayi' al-Islam. Beirut, Dar al-Ihya li al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Nobahar, Rahim. "Barresi-ye Feqhi-ye Elzam be Adaye Syahadat dar Da'avi-ye Keyfari" (Tinjauan Fikih Kewajiban Memberikan Kesaksian dalam Kasus Pidana). Dofaslnamah Tahqiqat-e Huquqi, nomor 40, 1383 HS.
  • Rohani, Sayyid Muhammad Shadiq. Fiqh al-Shadiq. Qom, Dar al-Kitab Madrasah Imam Shadiq as, cetakan pertama, 1412 H.
  • Sajjadi-nezhad, Sayyid Ahmad. "Adaye Syahadat dar Feqh va Huquq (Iran va Cand Kesyvar-e Gharbi va Arabi)" (Pemberian Kesaksian dalam Fikih dan Hukum - Iran dan Beberapa Negara Barat serta Arab). Amuzesy-haye Feqh-e Madani, periode 4, nomor 6, 1391 HS.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masalik al-Afham ila Tanqih Syarayi' al-Islam. Qom, Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1413 H.