Lompat ke isi

Konsep:Jahiziyyah

Dari wikishia

Harta sesan (atau perlengkapan pengantin) merujuk pada sekumpulan peralatan dan perabot rumah tangga yang dibawa oleh pengantin wanita ke kediaman suaminya sebagai bekal untuk memulai kehidupan berumah tangga.[1] Secara umum, harta sesan dapat berwujud uang, barang, maupun properti; namun, di berbagai masyarakat, istilah ini lebih lazim digunakan untuk merujuk pada perlengkapan rumah tangga.[2][3] Dalam sejumlah riwayat Syiah, disebutkan bahwa Nabi Islam saw menyerahkan sebagian dari Mahar Sayidah Fatimah sa kepada Abu Bakar dan Ammar bin Yasir guna membelikan perabotan dasar rumah tangga bagi Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa.[4]

Dalam diskursus fikih, topik mengenai harta sesan dibahas secara mendalam pada pelbagai bab, seperti nikah, Talak,[5] dan Khumus.[6] Berdasarkan prinsip fikih Islam, penyediaan perabot yang esensial untuk kehidupan berumah tangga merupakan tanggung jawab penuh pihak laki-laki, sehingga tidak ada kewajiban hukum bagi pihak wanita untuk menyediakan perlengkapan tersebut.[7]   Menurut pandangan para fakih, apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri perihal kepemilikan perabot rumah tangga, pembuktian akan didasarkan pada kesaksian. Jika salah satu pihak mampu menghadirkan saksi guna menguatkan klaimnya, maka pernyataan pihak tersebutlah yang akan diterima secara hukum. Namun, apabila tidak ada saksi yang dapat dihadirkan, menurut pendapat masyhur, perabot yang lazim digunakan oleh wanita ditetapkan sebagai hak milik istri, sementara perlengkapan yang lazim digunakan oleh pria ditetapkan sebagai hak milik suami. Adapun perlengkapan yang sifatnya umum atau digunakan secara bersama-sama akan dibagi secara merata di antara keduanya.[8]

Lebih lanjut, apabila harta sesan yang disiapkan dinilai sepadan dengan kedudukan dan status sosial sang wanita, maka harta tersebut tidak dikenai kewajiban khumus.[9]

Catatan Kaki

  1. Moin, Farhang-e Moin, 1363 HS, hlm. 1257.
  2. Katirayi, Az Khesyt ta Khesyt, 1345 HS, hlm. 4.
  3. Harta sesan, atau jahaz, adalah harta tertentu yang dibawa oleh anak perempuan pada saat Pernikahan yang berasal dari harta keluarga atau kelompok garis keturunannya menuju kediaman suami beserta keluarga atau kelompok garis keturunan suami. Jahaz juga kerap dipandang sebagai bentuk mahar terbalik; dalam artian, pada masyarakat dengan populasi wanita yang minim, suami membayar sejumlah harta yang disebut mahar kepada pihak keluarga perempuan, sedangkan pada masyarakat dengan populasi pria yang minim, ayah mertua (dari pihak perempuan) membayarkan sesuatu yang dikenal sebagai jahaz. harta sesan
  4. Syaikh Thusi, Al-Amali, 1388 HS, jld. 1, hlm. 93.
  5. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 30, hlm. 119-120.
  6. Borujerdi, Al-Mustanad fi Syarh al-'Urwah al-Wutsqa, 1421 H, hlm. 330; Makarem Shirazi, Anwar al-Fiqahah, 1416 H, hlm. 483.
  7. Mughniyah, Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Khamsah, 1421 H, jld. 2, hlm. 356.
  8. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 40, hlm. 493-494.
  9. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1379 HS, jld. 1, hlm. 359.

Daftar Pustaka

  • Borujerdi, Murtadha. Al-Mustanad fi Syarh al-'Urwah al-Wutsqa. Laporan pelajaran Ayatullah Khoei. Qom, Muassasah Ihya Atsar al-Imam al-Khoei, 1421 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Dar al-Ilm, 1379 HS.
  • Katirayi, Mahmoud. Az Khesyt ta Khesyt (Dari Bata ke Bata). Teheran, Lembaga Studi dan Penelitian Sosial, 1345 HS.
  • Makarem Shirazi, Naser. Anwar al-Fiqahah. Qom, Penerbit Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, 1416 H.
  • Moin, Mohammad. Farhang-e Farsi (Kamus Persia). Teheran, Penerbit Amirkabir, cetakan keempat, 1363 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Khamsah. Beirut, Dar al-Tayyar al-Jadid, 1421 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Tashih: Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Penerjemah: Sadeq Hasanzadeh. Qom, Penerbit Andisheh Hadi, 1388 HS.