Konsep:Ibnu Abi al-Awja
| Nama lengkap | Abdul Karim Ibnu Abi al-Awja |
|---|---|
| Terkenal dengan | Mutakallim dan Zindiq terkenal di masa Imam Shadiq as |
| Kerabat termasyhur | Ma'n bin Zaidah al-Syaibani |
| Wafat | Tahun 155 H pada masa Mansur Abbasi |
| Guru-guru | Hasan al-Bashri |
| Aktivitas | Menyebarkan akidah ateis • Pemalsuan Hadis • Menentang Al-Qur'an • Mengolok-olok hukum Ilahi |
Abdul Karim Ibnu Abi al-Awja (bahasa Arab:عبدالکریم ابناَبیالعَوجاء) (Wafat 155 H/772 M) adalah salah satu tokoh kontroversial dan terkenal pada abad ke-2 Hijriah yang diperkenalkan dalam sumber-sumber sejarah, teologi (kalam), dan sekte-sekte Islam sebagai seorang ateis (mulhid), zindiq, atau penganut paham Dahriyah (materialisme). Ia sempat tinggal di Basrah dan menurut laporan, pada awalnya termasuk murid Hasan al-Bashri, namun secara bertahap menjauh dari arus pemikiran yang berlaku dan cenderung mengingkari prinsip-prinsip seperti Tauhid, Kenabian, dan Ma'ad. Ibnu Abi al-Awja terkenal karena banyaknya perdebatan dan argumentasi (ihtijaj) dengan para mutakallim, khususnya dialog-dialognya dengan Imam Ja'far Shadiq as; perdebatan yang banyak direfleksikan dalam sumber-sumber Syiah dan sejarah. Ia secara terbuka mempropagandakan pandangannya dan dituduh oleh banyak ulama agama melakukan pemalsuan hadis dan merusak dasar-dasar akidah Islam. Akhirnya, pada masa kekhalifahan Abbasiyah, ia dihukum mati atas perintah pejabat pemerintah dengan tuduhan zindiq.
Nama dan Nasab
Sebagian besar sumber menyebut nama Ibnu Abi al-Awja sebagai "Abdul Karim", tetapi beberapa referensi menyebutnya dengan nama lain: dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah[1] namanya disebut "Muhammad" dan dalam Al-Fihrist[2] disebut "Nu'man", yang kemungkinan besar keduanya salah. Baladzuri menyebutnya berasal dari kabilah Bakr bin Wa'il[3] dan nama ayahnya adalah Nuwairah[4] yang berasal dari Bani Amr bin Tsa'labah bin Amir bin Dzuhl bin Tsa'labah.[5] Ayahnya pergi ke Khurasan setelah dituduh melakukan pembunuhan di antara kaumnya, dan di sana ia dikenal sebagai Abu al-Awja.[6] Sumber-sumber yang ada tidak menyebutkan waktu kelahiran dan masa awal kehidupannya, tetapi dapat dikatakan bahwa ia berasal dari keluarga besar dan merupakan paman (saudara ibu) dari Ma'n bin Zaidah al-Syaibani.[7]
Kecenderungan pada Ateisme
Abdul Karim awalnya tinggal di Basrah[8] dan sempat menjadi murid Hasan al-Bashri, tetapi setelah beberapa waktu ia memisahkan diri dari gurunya dan menurut satu pendapat, ia murtad dari agama.[9] Dikatakan bahwa alasan perubahan pandangan ini adalah kontradiksi yang ia lihat dalam ucapan Hasan al-Bashri mengenai masalah Jabar (keterpaksaan) dan Ikhtiar (kebebasan memilih), namun perkaranya tidak berhenti di situ dan karena alasan yang tidak diketahui, ia beralih kepada ateisme (ilhad).
Keyakinan Ateisnya
Sebagian besar penulis buku sejarah, kalam, dan sekte-sekte (milal wa nihal) menganggapnya sebagai zindiq (salah satu maknanya adalah Majusi atau orang yang menyembunyikan kekafirannya)[10],[11] dan pembunuhannya juga didasarkan pada tuduhan ini. Baghdadi menyebutnya cenderung kepada Rafidhah[12] namun istilah zindiq dan Rafidhah bukanlah konsep yang terlalu presisi.
Pendapat yang lebih benar adalah bahwa ia seorang tsanawi (dualisme) dan pengikut Mani, dan terdapat bukti-bukti untuk hal ini.[13] Beberapa orang juga menganggapnya sebagai Qadariyah atau Rafidhah.[14] Dapat dikatakan bahwa dalam mazhabnya—apa pun itu—ia adalah seorang pemilik pandangan (shahib al-ra'yi) dan tidak cukup hanya dengan taklid dan mengikuti semata.
Terdapat juga catatan perdebatan (ihtijaj) dari Ibnu Abi al-Awja yang di dalamnya keyakinannya terlihat lebih jelas. Ia berulang kali berdialog dengan Imam Shadiq as dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang secara implisit dapat menunjukkan bagaimana pemikiran dan akidahnya. Apa yang muncul dari perdebatan-perdebatan ini, dalam beberapa kasus tidak sesuai dengan ajaran Manichaeisme dan Tsanawiyah, melainkan lebih menampakkan kecenderungan Dahriyah (materialisme); bahkan Mufadhal bin Umar[15] dan Abu Hayyan[16] menegaskan bahwa ia adalah seorang Dahri.
Dari perdebatan-perdebatan tersebut, tampak bahwa ia tidak meyakini adanya Sang Pencipta,[17] atau ia berdebat dan berselisih mengenai Tuhan[18] dan di suatu tempat ia menganggap Tuhan itu gaib (tidak ada).[19] Dalam sebuah dialog antara dia dan Imam Shadiq as, Imam menuduhnya tidak percaya kepada Tuhan maupun kepada Nabi saw. Abdul Karim pun tidak menyangkal ucapan ini.[20] Bahkan dalam beberapa kasus ia berusaha menafikan keberadaan Sang Pencipta (Shani').[21]
Berbeda dengan penisbatan Ibnu Abi al-Awja kepada Tsanawiyah, ia menampilkan dirinya sebagai seorang materialis. Suatu ketika ia bertanya kepada Imam Shadiq as: "Apa dalil (bukti) atas kebaruan (huduts) benda-benda?"[22] yang dapat menunjukkan keyakinannya pada keabadian (qidam) alam semesta. Dalam dialog lain diketahui bahwa ia meyakini keazalian segala sesuatu[23] atau menyebut dirinya tidak diciptakan (ghairu makhluq).[24]
Dalam sebuah percakapan di hadapan Mufadhal, ia membawa pembicaraan pada penafian penciptaan dan Pencipta, dan mengatakan bahwa segala sesuatu ada karena tuntutan alamiahnya sendiri, tidak ada pengatur (mudabbir) dan tidak ada pencipta (shani'), alam semesta selalu begini dan akan terus begini.[25] Ia beranggapan bahwa setelah kematian tidak ada kebangkitan kembali.[26] Dalam sebuah diskusi, Imam Shadiq as menisbatkan pengingkaran terhadap Kiamat, Surga, dan Neraka kepadanya, dan ia tidak menolak ucapan ini. Ibnu Abi al-Awja mengingkari risalah Nabi Muhammad saw dan nubuwwah secara umum.[27]
Sirah Ilmiah dan Praktis
Ibnu Abi al-Awja sangat gencar mempropagandakan keyakinan dan ajarannya serta mengajak para pemuda ke jalannya.[28] Menurut sumber-sumber Syiah, para ulama menghindari bergaul dengannya karena lisannya yang buruk dan wataknya yang jahat,[29] namun ia melihat keunggulan tertentu pada dirinya dan hanya menganggap para mutakallim yang layak berdiskusi dan berdebat dengannya[30], sebagaimana Abul Faraj al-Isfahani juga[31] menyebutnya sebagai salah satu dari 6 mutakallim masa itu di Basrah dan menyebutkan namanya bersanding dengan Amr bin Ubaid dan Washil bin Atha'.
Diketahui bahwa ia memiliki murid dan pengikut, dan tampaknya jumlah mereka cukup signifikan, sehingga setelah kekalahannya dalam sebuah perdebatan, sekelompok pengikutnya memeluk Islam dan sekelompok lainnya tetap mengikutinya.[32] Selain pengikut, ia juga menikmati persahabatan dan kekaguman dari orang-orang seperti Ibnu al-Muqaffa'.[33]
Dari kumpulan perdebatan yang dinisbatkan kepadanya, dapat dipahami bahwa ia adalah orang yang berani dan nekat, serta memanfaatkan lingkungan yang relatif bebas pada zamannya untuk mempropagandakan keyakinan kafirnya. Dalam sumber-sumber Syiah, terdapat banyak cerita dan riwayat tentangnya. Berdasarkan sumber-sumber ini, ia sangat teguh pada keyakinannya dan meskipun kalah dalam perdebatan, ia tidak melepaskan pemikirannya dan tetap pada pandangannya hingga akhir hayat.[34] Terkadang ia mendirikan Salat dan beralasan bahwa itu karena kebiasaan tubuh, adat kota, serta untuk memuaskan keluarga dan anak-anak.[35]
Pemalsuan Hadis
Seperti banyak kaum zindiq lainnya, ia juga berusaha merusak dasar-dasar akidah kaum Muslimin, ia sangat bersemangat dalam memalsukan berita dan hadis serta menyebarkannya di tengah masyarakat.[36] Menurut sumber-sumber Syiah, hadis-hadis palsu buatannya semuanya tentang tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk), ta'thil (peniadaan sifat Tuhan), dan sebagian lagi tentang perubahan dan penyimpangan hukum Syariat.[37] Saat kematiannya, ia mengungkapkan perbuatannya ini dan mengumumkan bahwa ia telah memalsukan 4 ribu hadis untuk menghalalkan yang Haram dan mengharamkan yang Halal, dan dengan perbuatan ini khususnya ia mengacaukan perhitungan bulan Ramadhan, merusak validitas rukyatul hilal dan menggantinya dengan perhitungan hari.[38]
Hubungan dengan Imam Shadiq as
Ibnu Abi al-Awja memiliki hubungan ilmiah dengan Imam Shadiq as melalui perdebatan dan ia mengakui bahwa ia telah melihat banyak ilmuwan dan berdebat dengan banyak mutakallim, tetapi kewibawaan yang ada pada Imam Shadiq as tidak ada pada siapa pun.[39] [catatan 1] Meskipun secara lahiriah ia mengaku mencari kebenaran, namun bahkan setelah jawaban atas keraguan dan masalah yang ia ajukan sendiri menjadi jelas, ia tidak bersedia menerima kebenaran. Orang-orang di sekitarnya dan para pengikutnya yang hadir dalam sesi perdebatan berkali-kali beriman dan menerima kebenaran, namun ia sendiri tidak mau tunduk pada kebenaran.[40] Terkadang kebenaran menjadi begitu jelas sehingga para pengikutnya berkata bahwa ia akan masuk Islam, namun Imam Shadiq as yang mengetahui kebutaan hati dan keras kepalanya bersabda: "Ia lebih buta hati daripada (bisa) menerima kebenaran." Dan ketika Imam bertanya tentang kehadirannya di musim haji, ia menjawab bahwa ia datang hanya karena kebiasaan untuk menonton kegilaan orang-orang dalam mencukur kepala dan melempar jumrah.[41] [catatan 2] Dalam sebuah pertemuan, ia menyapa Imam Shadiq as dengan sebutan "Ibnu Rasulillah" (Putra Rasulullah). Imam berkata kepadanya: "Sangat aneh dan menakjubkan bahwa engkau mengingkari Tuhan tetapi memanggilku Ibnu Rasulillah." Ia menjawab: "Ini karena kebiasaan."[42]
Menentang Al-Qur'an
Thabrisi mengatakan bahwa Abu Syakir al-Daishani, Abdul Malik al-Bashri, dan Ibnu al-Muqaffa' atas saran Ibnu Abi al-Awja memutuskan agar masing-masing dari mereka membatalkan (membuat tandingan untuk) seperempat Al-Qur'an, karena dengan cara ini nubuwwah Nabi Muhammad saw dan kemudian Islam akan batal, tetapi mereka tidak mampu melakukannya.[43]
Mengolok-olok Hukum Ilahi
Ibnu Abi al-Awja menganggap hukum-hukum agama tidak valid dan bahkan melakukan penghinaan, seperti terkadang ia mengolok-olok para jemaah haji, merendahkan Manasik Haji, dan menganggap penetapan adab-adab semacam itu tidak pantas.[44] Kesimpulannya, dalam perdebatan-perdebatan, Ibnu Abi al-Awja menunjukkan dirinya bukan sebagai Manichaean atau Tsanawi, melainkan sebagai seorang materialis dan anti-Islam. Meskipun para tokoh agung agama bersikap toleran terhadapnya, namun para pejabat kekhalifahan tidak mentolerir keyakinannya dan membunuhnya.
Kematian
Abu Ja'far Muhammad bin Sulaiman, gubernur Kufah dari pihak Mansur khalifah Abbasiyah, menangkap Ibnu Abi al-Awja — yang telah pindah dari Basrah ke Kufah.[45] Banyak orang memberikan syafaat (pembelaan) untuknya di hadapan Mansur, dan khalifah menulis surat kepada gubernurnya untuk membebaskannya. Karena yakin dengan pengaruh dan kekuasaan para pembelanya, Abdul Karim mengirim pesan kepada Abu Ja'far bahwa ia akan memberinya 100 ribu dirham jika memberinya tangguh selama 3 hari (sampai surat Mansur tiba). Abu Ja'far yang telah melupakan tawanannya, dengan demikian teringat kembali dan sebelum menerima surat Mansur, ia membunuhnya dan menurut Asfarayini, ia menyalibnya.[46]
Menurut riwayat lain dalam sumber Syiah, Abdul Karim meninggal karena sangat kesal setelah kalah dalam sebuah perdebatan.[47] yang kebenarannya tidak dapat dipastikan. Di sisi lain, Mas'udi[48] mengaitkan pembunuhannya dengan masa Mahdi Abbasi (Kekhalifahan: 158-169 H), tetapi riwayat ini tampaknya kacau. Demikian pula riwayat Baghdadi[49] yang mengatakan bahwa Nazzham (Mutakallim Mu'tazilah) bergaul dengannya, tidak mungkin benar, karena Nazzham tidak sezaman dengan Ibnu Abi al-Awja dan hidup setelahnya.
Menurut Thabari, sejarawan Sunni, kematiannya terjadi pada tahun 155 H.[50]
Refleksi dalam Penelitian Berbahasa Inggris
Ibnu Abi al-Awja telah dikaji dalam penelitian kontemporer berbahasa Inggris mengenai sejarah kalam Islam, di bawah topik Zandaqah, Dahriyah, dan aliran kritis non-religius pada abad-abad awal Islam. Dalam karya-karya ini, ia biasanya diperkenalkan sebagai salah satu contoh menonjol dari pendebat non-religius yang pandangannya sampai kepada kita melalui laporan lawan-lawan agamanya.
Beberapa peneliti Islam menekankan bahwa label seperti "Zindiq" atau "Tsanawi" dalam sumber-sumber klasik tidak selalu mencerminkan identitas intelektual yang tepat dari individu tersebut, melainkan sering kali merupakan cerminan bahasa polemik para ulama Muslim dalam menghadapi kritikus agama. Dari perspektif ini, Ibnu Abi al-Awja lebih dianggap sebagai contoh kecenderungan kritis dan Dahri dalam suasana intelektual Irak abad ke-2 Hijriah daripada sebagai wakil dari ajaran Tsanawi yang koheren.[51]
Dalam "Encyclopaedia of Islam", Ibnu Abi al-Awja disebutkan sebagai salah satu zindiq terkenal pada periode Abbasiyah dan perannya dalam perdebatan agama, penisbatan pemalsuan hadis kepadanya, serta hubungannya dengan lingkaran intelektual Basrah dan Kufah. Entri ini juga menekankan bahwa pengetahuan kita tentang pandangannya terutama diperoleh melalui karya-karya bantahan (raddiyah) dan perdebatan yang dikutip dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni.[52]
Beberapa peneliti Barat, termasuk Patricia Crone, menganggap aliran Zandaqah pada periode Abbasiyah sebagai reaksi intelektual terhadap konsolidasi otoritas agama dan politik kekhalifahan, dan menganalisis individu seperti Ibnu Abi al-Awja dalam kerangka ini; individu yang karena mengkritik dasar-dasar wahyu, kenabian, dan syariat, menghadapi persekusi politik dan agama.[53]
Penelitian terbaru mengingatkan bahwa laporan mengenai keyakinan Ibnu Abi al-Awja harus dibaca dengan hati-hati; karena laporan-laporan ini sering kali disampaikan dalam konteks perdebatan teologis dan dengan tujuan membantah serta menyalahkannya. Oleh karena itu, merekonstruksi sistem pemikirannya secara akurat tanpa prasangka menghadapi kesulitan yang serius.[54]
Catatan
- ↑ فَإِنِّي شَاهَدْتُ الْعُلَمَاءَ وَ نَاظَرْتُ الْمُتَكَلِّمِينَ فَمَا تَدَاخَلَنِي هَيْبَةٌ قَطُّ مِثْلُ مَا تَدَاخَلَنِي مِنْ هَيْبَتِكَ (Sesungguhnya aku telah menyaksikan para ulama dan berdebat dengan para mutakallim, namun tidak pernah rasa segan merasukiku sama sekali seperti rasa segan yang merasukiku karena kewibawaanmu).
- ↑ هُوَ أَعْمَى مِنْ ذَلِكَ لَا يُسْلِمُ (Dia lebih buta dari itu, dia tidak akan masuk Islam).
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1398 H, jld. 10, hlm. 113.
- ↑ Ibnu Nadim, Al-Fihrist, Dar al-Ma'rifah, hlm. 401.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1398 H, jld. 3, hlm. 105.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1398 H, jld. 3, hlm. 95.
- ↑ Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1418 H, hlm. 316.
- ↑ Akhbar al-Daulah al-Abbasiyah, Dar al-Thali'ah, hlm. 389.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1961 M, jld. 8, hlm. 47 dan 48; Biruni, Al-Atsar al-Baqiyah, 1380 HS, hlm. 67; Asfarayini, Al-Tabshir fi al-Din, 1940 M, hlm. 81.
- ↑ Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 3, hlm. 146.
- ↑ Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 253; Thabrisi, Al-Ihtijaj, 1421 H, jld. 2, hlm. 335.
- ↑ Loghat-nameh Dehkhoda, entri Zindiq.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1398 H, jld. 3, hlm. 96; Biruni, Ma lil-Hind, hlm. 196; Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-Arab, 1418 H, hlm. 316; Jahizh, Rasa'il al-Jahizh, 2002 M, hlm. 145.
- ↑ Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, 1408 H, hlm. 163.
- ↑ Abu Raihan Biruni, Al-Atsar al-Baqiyah, 1380 HS, hlm. 67; Asfarayini, Al-Tabshir fi al-Din, 1940 M, hlm. 81.
- ↑ Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, 1408 H, hlm. 163.
- ↑ Abu Muhammad, Tauhid Mufadhal, 1388 HS, hlm. 8.
- ↑ Abu Hayyan Tauhidi, Al-Imta' wa al-Mu'anasah, 1424 H, jld. 2, hlm. 20.
- ↑ Abu Muhammad, Tauhid Mufadhal, 1388 HS, hlm. 6.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 96; Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 253.
- ↑ Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 254; Thabrisi, Al-Ihtijaj, 1421 H, jld. 2, hlm. 335; Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah, 1381 HS, jld. 2, hlm. 388.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76; Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 296, 297.
- ↑ Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 295, 296.
- ↑ Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 297, 298.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76, 77.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Abu Muhammad, Tauhid Mufadhal, 1388 HS, hlm. 6.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Jahizh, Rasa'il al-Jahizh, 2002 M, hlm. 145.
- ↑ Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 3, hlm. 147.
- ↑ Thabrisi, Al-Ihtijaj, 1421 H, jld. 2, hlm. 335.
- ↑ Abu Muhammad, Tauhid Mufadhal, 1388 HS, hlm. 7.
- ↑ Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, 1414 H, jld. 3, hlm. 146.
- ↑ Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 296, 297.
- ↑ Alam al-Huda, Amali al-Murtadha, 1998 M, jld. 1, hlm. 135.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 74-78; Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 126, 253, 254, 293-298; Thabrisi, Al-Ihtijaj, 1421 H, jld. 2, hlm. 335-337; Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah, 1381 HS, jld. 2, hlm. 388.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1398 H, jld. 3, hlm. 106.
- ↑ Jahizh, Rasa'il al-Jahizh, 2002 M, hlm. 145.
- ↑ Alam al-Huda, Amali al-Murtadha, 1998 M, jld. 1, hlm. 137.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1961 M, jld. 8, hlm. 48; Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, 1408 H, hlm. 163 dan 164; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1398 H, jld. 3, hlm. 96; Alam al-Huda, Amali al-Murtadha, 1998 M, jld. 1, hlm. 128.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 76.
- ↑ Thabrisi, Al-Ihtijaj, 1421 H, jld. 2, hlm. 377.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 100; Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, 1416 H, hlm. 253; Thabrisi, Al-Ihtijaj, 1421 H, jld. 2, hlm. 335; Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah, 1381 HS, jld. 2, hlm. 388.
- ↑ Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 3, hlm. 147.
- ↑ Asfarayini, Al-Tabshir fi al-Din, 1940 M, hlm. 81; Bandingkan: Thabari, Tarikh al-Thabari, 1961 M, jld. 8, hlm. 48; Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, 1408 H, hlm. 164; Alam al-Huda, Amali al-Murtadha, 1998 M, jld. 1, hlm. 127, 128.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 78.
- ↑ Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 224.
- ↑ Baghdadi, Al-Milal wa al-Nihal, 1992 M, hlm. 91.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1961 M, jld. 8, hlm. 48.
- ↑ van Ess, Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert Hidschra, vol. 1, Berlin: Walter de Gruyter, 1991, pp. 415–420.
- ↑ “Ibn Abī al-ʿAwjāʾ”, in: Encyclopaedia of Islam, 2nd ed., Leiden: Brill.
- ↑ Crone, Patricia. The Nativist Prophets of Early Islamic Iran. Cambridge: Cambridge University Press, 2012, pp. 22–25.
- ↑ Cook, Michael. Early Muslim Dogma. Cambridge: Cambridge University Press, 1981, pp. 176–178.
Daftar Pustaka
- Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Al-Tauhid. Korektor: Hasyim Husaini Tehrani. Qom: Muassasah Nasyr Islami, 1416 H.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Jamharah Ansab al-Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1418 H.
- Ibnu Khallikan. Wafiyat al-A'yan. Disunting oleh Ihsan Abbas. Beirut: 1968 M.
- Ibnu Thaqthaqi, Muhammad. Tarikh Fakhri. Terjemahan Muhammad Wahid Gulpaigani. Teheran: 1360 HS.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Peneliti: Khalil Syahadah. Beirut: Dar al-Fikr, 1398 H.
- Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq. Al-Fihrist li Ibn al-Nadim. Beirut: Dar al-Ma'rifah, Tanpa Tahun.
- Abu Hayyan Tauhidi, Ali bin Muhammad. Al-Imta' wa al-Mu'anasah. Beirut: Al-Maktabah al-Ashriyah, 1424 H.
- Abu Raihan Biruni, Muhammad bin Ahmad. Al-Atsar al-Baqiyah an al-Qurun al-Khaliyah. Teheran: Miras Maktub, 1380 HS.
- Abul Faraj Isfahani, Ali bin Husain. Al-Aghani. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
- Abu Muhammad, Mufadhal bin Umar. Tauhid Mufadhal. Penerjemah: Muhammad Baqir Majlisi. Qom: Nasyr Baqiyatullah (aj), 1388 HS.
- Akhbar al-Daulah al-Abbasiyah. Beirut: Nasyr Dar al-Thali'ah, Tanpa Tahun.
- Irbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Tabriz: Bani Hasyimi, 1381 H.
- Asfarayini, Syahfur bin Thahir. Al-Tabshir fi al-Din wa Tamyiz al-Firqah al-Najiyah an al-Firaq al-Halikin. Korektor: Muhammad Zahid Kautsari. Kairo: Al-Maktabah al-Azhariyah lil Turats, 1940 M.
- Baghdadi, Abdul Qahir bin Thahir. Al-Farq bain al-Firaq wa Bayan Firqah al-Najiyah minhum. Beirut: Dar al-Jabl, 1408 H.
- Baghdadi, Abdul Qahir bin Thahir. Al-Milal wa al-Nihal. Disunting oleh Albert Nashri Nadir. Beirut: 1986 M.
- Baladzuri, Ahmad. Ansab al-Asyraf. Disunting oleh Abdul Aziz al-Duri. Beirut: 1398 H.
- Biruni, Abu Raihan. Tahqiq Ma lil-Hind. Beirut: 1403 H/1983 M.
- Tsa'alibi, Abdul Malik. Tsimar al-Qulub. Kairo: Mathba'ah al-Zhahir.
- Jahizh, Amr. Rasa'il al-Jahizh. Disunting oleh Hasan Sandubi. Kairo: 1352 H/1933 M.
- Thabrisi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1421 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari: Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Peneliti: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Tanpa Penerbit, 1961 M.
- Alam al-Huda, Ali. Amali al-Murtadha. Disunting oleh Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Kairo: 1373 H/1954 M.
- Qadhi Abdul Jabbar. Al-Mughni. Disunting oleh Mahmud Muhammad Khudhairi dan lainnya. Kairo: 1965 M.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Ushul al-Kafi. Disunting oleh Ali Akbar Ghaffari. Teheran: 1363 HS.
- Mas'udi, Ali. Muruj al-Dzahab. Disunting oleh Yusuf As'ad Daghir. Beirut: 1385 H, 1965 M.
- Maqdisi, Muthahhar. Al-Bad' wa al-Tarikh. Disunting oleh Clement Huart. Paris: 1899-1906 M.
- van Ess, Josef. Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert Hidschra. Vol. 1. Berlin: Walter de Gruyter, 1991.
- Crone, Patricia. The Nativist Prophets of Early Islamic Iran. Cambridge: Cambridge University Press, 2012.
- Cook, Michael. Early Muslim Dogma: A Source-Critical Study. Cambridge: Cambridge University Press, 1981.
- “Ibn Abī al-ʿAwjāʾ”. Encyclopaedia of Islam. Second Edition. Leiden: Brill